Bisakah Kita Memimpikan “Leicester Jilid Kedua” di Prancis?

Ligue 1 Prancis makin ramai sesak akan perhatian musim ini. Tak lain tak bukan adalah Paris Saint-Germain yang menjadi garda sentral akan hal tersebut. Mereka merekrut pemain muda penuh bakat seperti Kylian Mbappe dan tentu saja megabintang sepak bola, Neymar Jr. Pemain asal Brasil itu bahkan memecahkan rekor sebagai pesepak bola termahal sejaga raya saat ditebus dengan harga 222 juta euro, dari Barcelona di bursa transfer musim panas lalu.

Selain gegap gempita dari klub ibukota itu, Liga Prancis masih punya cerita-cerita lain. Masih Lyon, AS Monaco atau Marseille, yang harap-harap cemas menanti Paris Saint-Germain dengan bodohnya tergelincir dari pekan ke pekan.

Jika masih ingin lebih menikmati Liga Prancis lebih mendalam, bisalah kita menemukan Mario Balotelli di Nice yang terkadang satu laga cetak gol, kemudian laga selanjutnya kartu merah atau ikuti saja akan seperti apa perjalanan Cludio Ranieri di FC Nantes.

Berbicara tentang sosok Claudio Ranieri, tentu ingatan kita semua belum jauh-jauh dari keajaibannya membawa Leicester City juara Premier League musim 2014/15 lalu. Ketika itu, dengan skuat biasa saja atau mungkin bisa dikatakan “medioker”, Ranieri membawa klub berjuluk The Foxes itu mengangkangi klub besar seperti Chelsea, Manchester City, Manchester United dan Tottenham dalam perburuan gelar juara.

Peristiwa sangat mengejutkan seperti Leicester memang terlampau sukar diulangi kembali, tetapi kemustahilan dalam sepak bola tak pernah seratus persen terjadi. Maka dari itu berharap kembali memang tidak salah, toh manusia juga merupakan tempatnya harapan dipendar.

Claudio Ranieri.
Ranieri semoga adalah rencana jangka panjang di Nantes.

Dan kali ini meski tidak begitu besar, Claudio Ranieri masih punya peluang untuk melakukan hal magis semacam di Leicester dahulu pada klubnya kini, Nantes.

Untuk menjadi raja di Liga Prancis saat ini jelas sulit, karena ada Paris Saint-Germain yang materi skuatnya dibangun dengan kekuatan finansial yang seolah tak ada batasnya. Belum lagi ada keberadaan poros lain seperti AS Monaco, Lyon atau Marseille yang secara tradisi dan prestasi, lebih mengakar di pesepakbolaan Prancis daripada klub seperti Nantes. Tetapi untuk sekedar merecoki pergulatan menuju papan atas, skuat berjuluk Les Canaris itu masih sangat berpeluang mewujudkannya.

Claudio Ranieri memang baru menukangi Emiliano Sala dan kolega awal musim ini. Meski begitu, sebenarnya pencapaian Nantes di musim 2016/17 lalu terhitung lumayan apik. Mereka mengakhiri musim lalu dengan menduduki peringkat ketujuh klasemen. Padahal pada musim lalu itu, mereka pernah terjemabab di nomor dua terbawah klasemen pada tujuh pekan awal liga.

Datangnya Sérgio Conceição menggantikan René Girard di posisi entraîneur atau pelatih, membawa angin segar. Di bawah pelatih yang satu kebangsaan dengan Cristiano Ronaldo itu, Nantes bangkit hingga menembus tujuh besar pada musim lalu. Namun sialnya, kecemerlangan Conceição membuat dirinya dilirik banyak klub yang lebih besar dari Nantes.

Maka, hadirlah FC Porto yang meminang mantan pemain Lazio tersebut di awal musim ini, setelah raksasa Portugal itu berpisah dengan pelatih sebelumya, Nuno Espirito Santo.

Namun penggemar Nantes tak perlu kecewa, perginya Conceição justru melapangkan jalan The Tinkerman, julukan yang lekat pada Ranieri akibat seringnya menggonta-ganti formasi dan komposisi pemain pada masa lalu karir kepelatihannya itu, mendarat di Stade La Beaujoire-Louis Fonteneau, markas Nantes.

Musim 2017/18 ini skuatnya memang tidak banyak mengalami perubahan. Selain minim bujet, deklarasi Ranieri bahwa dirinya tak lagi seorang Tinkerman sejak menukangi Leicester beberapa musim lalu ternyata memang demikian.

Tidak ada perubahan berarti di skuat Nantes. Dan yang pasti, gaya bermain Nantes besutan mantan pelatih Roma dan Inter itu juga masih terasa mirip ala Leicester 2015/16. Nantes sering bermain direct dan mengandalkan dua sayap untuk eksploiotasi serangan. Tentu gaya bermain seperti itu sedikit merepotkan bagi kontestan liga Prancis dan mungkin belum terlalu terbaca. Buktinya sepanjang musim Nantes sukses awet untuk tak jauh-jauh dari lima besar klamesen.

Bahkan perolehan 33 poin klub asal barat Prancis itu pada pekan 19 merupakan raihan yang sama persis di pekan sama pada musim 2000/01, ketika waktu itu Nantes beroleh gelar juara liga pada akhir musimnya. Hanya saja itu cerita dahulu kala. Kini apa yang dilakukan Nantes tak begitu berarti, akibat situasi liga Prancis beberapa tahun terakhir lebih terdominasi klub tertentu, daripada tujuh belas tahun lalu yang masih sangat kompetitif.

Namun setidaknya apa yang dilakukan Ranieri di Nantes patut kita apresiasi bersama. Kekhawatiran dan prediksi bahwa Ligue 1 akan semakin menjemukan akibat Paris Saint-Germain semakin kuat, memang tidak meleset. Tetapi persaingan tetap berwarna karena selain keberadaan Monaco, Lyon, Marseille atau Nice, Nantes pun kembali menggeliat ke permukaan.

Bagi Ranieri, pencapaian spesialnya musim ini semakin mempertebal reputasinya sebagai pembawa prestasi bagi tim non-unggulan. Musim 1995/96 dia membawa Fiorentina memenangi Coppa Italia, musim1998/99 dia membuat Valencia merajai Copa del Rey dan tentunya juara kompetisi paling bergengsi saat ini, Premier League pada musim 2015/16.

Padahal perjalanan seroang Claudio Ranieri justru timbul tenggelam di klub besar semacam Chelsea, Roma, Inter dan tak lupa ketika dia hanya lima bulan menangani timnas Yunani pada tahun 2014 lalu.

Tetapi dengan apa yang ia lakukan sekarang di Nantes, semoga saja kejutan seperti yang ia lakukan di Leicester mampu terulang kembali. Mungkin musim ini masih sulit untuk menanti keajaiban tersebut (juara liga Prancis), namun tak ada yang benar-benar mustahil di masa depan sepak bola.

Maka dari itu ada baiknya kita selalu berdoa, berharap dan bermimpi. Mungkin Nantes juara Prancis terkesan terlalu dramatik, namun bukannya mimpi adalah hak setiap yang pernah tertidur? Semoga Claudio Ranieri mampu menjadikan Nantes sebagai ‘‘Leicester jilid kedua’’, entah musim depan atau musim-musim selanjutnya lagi. Ya, semoga saja.

Sumber foto dari eurosport dan getty images.

Advertisements

Upin & Ipin dan Tsubasa; Otokritik Tayangan Bola Anak di Indonesia

Serial animasi anak-anak Upin & Ipin populer tidak hanya di tempat asalnya, Malaysia tetapi juga di negeri kita, Indonesia. Cerita dalam Upin & Ipin ini pun tidak terlalu berat, karena hanya berkutat latar kehidupan sehari-hari seperti bersekolah, beribadah ataupun anak-anak yang bermain.

Upin & Ipin mudah digemari karena cerita yang kontekstual dengan kegiatan sehari-hari anak-anak dan juga hal-hal jenaka didalamnya. Animasi garapan rumah produksi Les’ Copaque yang mulai dirilis pada 2007 ini bernuansa pedesaan dan menggunakan bahasa Melayu serta menonjolkan berbagai kebudayaan khas Malaysia.

Demi menembus pangsa Asia Tenggara dan salah satunya untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak Indonesia, dimasukkan lah karakter anak asal Jakarta, Susanti yang sering berbahasa Indoesia dan menonjolkan hal yang identik ke-Indonesia-an. Maka jadilah Upin & Ipin semakin mendapatkan tempatnya dalam benak pikiran orang, terutama anak-anak Indonesia.

Selain bahasa Melayu yang membuat Upin & Ipin ini unik dimata orang Indonesia, serial kartun ini juga tidak ketinggalan menyisipkan nilai budi pekerti dan semangat mengejar cita-cita. Padahal, hal-hal seperti itu sudah jarang dirasakan, terutama tontonan untuk anak-anak Indonesia. Tergerusnya tontonan khusus anak secara gradual beberapa tahun ini, harus menjadi catatan penting untuk kita semua. Anak-anak di Indonesia pada saat ini, sebenarya kurang tontonan berkualitas yang sarat akan nilai positif dalam membentuk karakter.

Demi mengejar rating televisi, banyak tontonan anak di Indonesia yang dikurangi serta tergantikan tontonan berkonten dewasa. Terkait dengan dunia sepakbola, serial anime anak-anak seperti Upin & Ipin pun bisa dijadikan sebagai otokritik (kritik atau refleksi diri) untuk tayangan anak-anak di Indonesia, khususnya yang bertema sepakbola.

Dalam sebuah serial season 4 pada salah satu bagian di episode “Anak Harimau” bagian pertama, ada cerita dimana karakter-karakter dalam Upin & Ipin itu heboh membicarakan tentang sepakbola, khususnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang mengena dari cerita tersebut adalah bagaimana animasi Upin & Ipin, mengkonstruksi rasa nasionalisme untuk sepakbola Malaysia (beserta kritiknya). Kemudian tayangan itu mengedukasi anak untuk bercita-cita menjadi pemain timnas Malaysia. Tak lupa di episode ditampilkan cerita lain yang berkaitan dengan hal-hal berbau sepakbola yang bertujuan menyambut event olahraga empat tahunan tersebut.

Ceritanya di episode tersebut, ketika para orang-orang dewasa bertemu di warung Paman Mutu, mereka membicarakan Piala Dunia di Afrika Selatan yang hampir dimulai. Ketika berdialog tentang siapa yang akan menjuarai Piala Dunia, Upin & Ipin kompak menyebut Malaysia. Sontak saja kelakar mereka ditertawai oleh Wak Dalang, kakeknya Upin & Ipin sendiri. Wak mengatakan bahwa timnas sepakbola Malaysia belum mampu masuk Piala Dunia, mentok hanya sampai Olimpiade saja, kata dia.

Akibat pernyataan sang kakek itu, Upin & Ipin jadi bingung dan penasaran kenapa Malaysia tidak mampu masuk Piala Dunia. Kemudian hal itu begitu terngiang dikepala mereka, hingga kemudian diceritakan begitu sampai di sekolah, yang sampai-sampai membuat heboh suasana kelas.

Apa yang Upin & Ipin dkk bicarakan lalu didengar oleh Cek Gu (guru kelas), sesaat ketika dia akan datang guna mentertibkan kelas. Cek Gu mengatakan bahwa anak-anak tak perlu kecewa karena tak dapat ke Afrika Selatan, toh bisa nonton Piala Dunia di tv tanpa harus kesana.

Kemudian Cek Gu berujar bahwa jika anak-anak tekun belajar dan bersungguh-sungguh menjadi pemain bola, mereka bisa bermain untuk timnas Malaysia suatu kelak. Anak-anak pun berteriak penuh semangat dan bergumam ingin menjadi pebola hebat kelak suatu hari nanti. Ini adalah bentuk penanaman nilai bagi penonton (anak-anak) bila mereka rajin belajar dan serius menggapai cita-cita, masa depan (sebagai pebola akan cerah dikemudian hari). Kemudian bergantilah scene ketika Upin & Ipin cs bermain sepakbola dengan kertas.

Apa yang diceritakan di Upin & Ipin pada season 4 “Anak Harimau” bagian pertama seharusnya dijadikan otokritik untuk indoktrinasi cinta sepakbola bagi anak-anak di Indonesia. Daripada Indonesia hanya tertegun akan kelucuan dan keunikan Upin & Ipin, seharusnya bangsa ini (melalui film, kartun atau animasi anak-anak) juga bisa melakukan hal yang sama untuk sepakbola Indonesia, sepeti apa yang Upin & Ipin lakukan terhadap sepakbola Malaysia; mengedukasi anak-anak dengan sepakbola sejak dini.

Dalam episode 4 “Anak Harimau” itu, anak-anak diajak oleh Upin & Ipin untuk menyadari fakta tentang ketertinggalan sepakbola mereka (sebuah kritik sosial tentunya) dan berusaha membangkitkan kecintaan akan sepakbola dengan sembari menanamkan rasa nasionalisme terhadap negaranya, Malaysia. Upaya Upin & Ipin untuk membentuk kesadaran dan kecintaan anak-anak pada sepakbola, pun ditambahi dengan menampilkan adegan anak-anak bermain sepakbola kertas di kelas akibat demam Piala Dunia.

Otokritik bagi kita adalah menyadari bahwa hal-hal semacam yang ada di Upin & Ipin episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu sudah jarang muncul di Indonesia. Sekalipun ada beberapa tontonan anak bertema “sepakbola” seperti Ronaldowati dan Si Madun. Penanaman cinta pada sepakbola yang dibalutkan nasionalisme melalui tontonan anak hampir mustahil ditemui akhir-akhir ini.

Untuk membentuk karakter generasi bangsa yang sadar jiwa nasionalisme dan cinta sepakbola, seyogyanya dimulai sejak di usia dini. Toh, patut disadari dalam membentuk kepribadian seorang anak, harus pula dimulai ketika seseorang masih kecil sehingga proses indoktrinasi lebih kuat.

Melihat kondisi terkini, tontonan bertema sepakbola untuk anak-anak sangat jarang ada. Ronaldowati dan Si Madun sudah tidak ada dan Tsubasa sudah jarang muncul di layar kaca. Itupun kalau boleh jujur, tontonan seperti Ronaldowati atau Si Madun hanya menonjolkan kesan action semata, kurang maknawi akan penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta sepakbola, seperti apa yang ditunjukkan Upin & Ipin dan juga Captain Tsubasa.

Upin & Ipin, meski adalah tontonan anak-anak yang sangat ringan, tetapi melalui tayangan dalam episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu, jelas menjadi gambaran bagaimana Malaysia punya keinginan kuat membangkitkan sepakbola. Caranya? Dimuali dengan mengedukasi anak-anak agar peduli dan cinta sepakbola sekaligus negaranya dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian beralih ke anime Jepang dengan simulasi karakter Captain Tsubasa Ozora yang begitu semangat nan gigih meniti karir sepakbola setinggi langit. Hal ini juga mencerminkan besarnya semangat bangsa Jepang (seperti Tsubasa) untuk menunjukan kekuatan sepakbola mereka pada dunia.

Dalam tontonan sepakbola anak Indonesia seperti Ronaldowati dan Si Madun, sebenarnya tetap ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran penting. Namun itu tidak sebanding dan sering tertutupi dengan aksi-aksi tak logis dalam cerita (yang konon lebih penting untuk rating tv semata).

Selain terkadang valueless, Ronaldowati dan Si Madun dalam ceritanya juga lebih sering memainkan sepakbola “antar kampung” (tarkam). Berbeda dengan Tsubasa yang menampilkan gambaran kenyataan nan alami dalam sepakbola seperti; bermain di sekolah, kemudian di tingkat klub, pindah ke luar negeri, main di timnas Jepang dan masuk Piala Dunia. Tsubasa mengajarkan untuk berani bercita-cita melanglang buana ke dunia, karena sepakbola itu global.

Ketika anak-anak Jepang diinspirasi oleh “karir cemerlang” Tsubasa sebagai pebola yang mendunia, disatu sisi layakkah anak-anak di Indonesia (dalam cita-citanya menjadi pesepakbola) terinspirasi juga oleh “karir” Madun yang cuma main sepakbola antar kampung?

Bahkan (parah) sampai-sampai menyelam ke lautan dan membongkar harta karun yang tak ada kaitan dengan kenyataan dalam dunia sepakbola? Apakah mindset yang kurang berani “mengglobal” ini, juga merupakan cerminan khas pemain-pemain Indonesia yang tidak betahan dan terlihat kurang endurabilitas-nya ketika main di luar negeri?

Selain kurang luas dalam mengkesplorasi cakrawala dunia sepakola, adegan-adegan dalam cerita di dua film anak sepakbola Indonesia itu pun terlalu sering mengada-ngada dan terlalu jauh kesannya dengan “sepakbola”. Terkadang fantasi pada tontonan sepakbola anak di Indonesia berlebihan.

Bisa diperbandingkan, ketika Jepang mendidik ingatan dan semangat anak-anak terhadap sepakbola dengan tontonan perjuangan pantang menyerag ala Tsubasa yang bercita-cita main diluar negeri serta membela timnas Jepang, sedangkan Malaysia mengemas propaganda nasionalisme dan sepakbola melalui serial animasi macam Upin & Ipin untuk budak-budak (anak-anak) di negeri jiran itu, bagaimana dengan Indonesia?

Saya bukan tidak suka dengan tayangan (Ronaldowati dan Si Madun) itu, karena saya pun pernah menonton dan terhibur karenanya. Tetapi sebatas terhibur, itu saja. Tak ada nilai-nilai kehidupan yang benar-benar coba disuguhkan pada generasi muda kita, selain aksi sepakbola magis atau sihir (sangat hiperbola) saja didalamya. Pun fakta tak menyenangkannya lagi, sangat jarang ada tontonan bola anak saat ini dari stasiun-stasiun televisi Indonesia.

Gairah sepakbola Indonesia harusnya digerak-bangunkan sejak usia dini melalui tontonan sepakbola anak, untuk membentuk generasi Indonesia yang benar-benar menjiwai sepakbola plus rasa nasionalisme secara disaat yang bersamaan.

Melalui Upin & Ipin dan Captain Tsubasa, sejenak menjadi cerminan kalau bangsa ini perlu membentuk kesadaran dan kecintaan pada sepakbola dan rasa nasionalisme sejak dini melalui tontonan berkualitas. Semoga dengan menyadari antusiasme tinggi bangsa Indonesia akan sepakbola, akan segera muncul tontonan sepakbola anak yang “layak”, bagi generasi baru bangsa ini. Semoga.

Sumber foto: Republika.co.id