Upin & Ipin dan Tsubasa; Otokritik Tayangan Bola Anak di Indonesia

Serial animasi anak-anak Upin & Ipin populer tidak hanya di tempat asalnya, Malaysia tetapi juga di negeri kita, Indonesia. Cerita dalam Upin & Ipin ini pun tidak terlalu berat, karena hanya berkutat latar kehidupan sehari-hari seperti bersekolah, beribadah ataupun anak-anak yang bermain.

Upin & Ipin mudah digemari karena cerita yang kontekstual dengan kegiatan sehari-hari anak-anak dan juga hal-hal jenaka didalamnya. Animasi garapan rumah produksi Les’ Copaque yang mulai dirilis pada 2007 ini bernuansa pedesaan dan menggunakan bahasa Melayu serta menonjolkan berbagai kebudayaan khas Malaysia.

Demi menembus pangsa Asia Tenggara dan salah satunya untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak Indonesia, dimasukkan lah karakter anak asal Jakarta, Susanti yang sering berbahasa Indoesia dan menonjolkan hal yang identik ke-Indonesia-an. Maka jadilah Upin & Ipin semakin mendapatkan tempatnya dalam benak pikiran orang, terutama anak-anak Indonesia.

Selain bahasa Melayu yang membuat Upin & Ipin ini unik dimata orang Indonesia, serial kartun ini juga tidak ketinggalan menyisipkan nilai budi pekerti dan semangat mengejar cita-cita. Padahal, hal-hal seperti itu sudah jarang dirasakan, terutama tontonan untuk anak-anak Indonesia. Tergerusnya tontonan khusus anak secara gradual beberapa tahun ini, harus menjadi catatan penting untuk kita semua. Anak-anak di Indonesia pada saat ini, sebenarya kurang tontonan berkualitas yang sarat akan nilai positif dalam membentuk karakter.

Demi mengejar rating televisi, banyak tontonan anak di Indonesia yang dikurangi serta tergantikan tontonan berkonten dewasa. Terkait dengan dunia sepakbola, serial anime anak-anak seperti Upin & Ipin pun bisa dijadikan sebagai otokritik (kritik atau refleksi diri) untuk tayangan anak-anak di Indonesia, khususnya yang bertema sepakbola.

Dalam sebuah serial season 4 pada salah satu bagian di episode “Anak Harimau” bagian pertama, ada cerita dimana karakter-karakter dalam Upin & Ipin itu heboh membicarakan tentang sepakbola, khususnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang mengena dari cerita tersebut adalah bagaimana animasi Upin & Ipin, mengkonstruksi rasa nasionalisme untuk sepakbola Malaysia (beserta kritiknya). Kemudian tayangan itu mengedukasi anak untuk bercita-cita menjadi pemain timnas Malaysia. Tak lupa di episode ditampilkan cerita lain yang berkaitan dengan hal-hal berbau sepakbola yang bertujuan menyambut event olahraga empat tahunan tersebut.

Ceritanya di episode tersebut, ketika para orang-orang dewasa bertemu di warung Paman Mutu, mereka membicarakan Piala Dunia di Afrika Selatan yang hampir dimulai. Ketika berdialog tentang siapa yang akan menjuarai Piala Dunia, Upin & Ipin kompak menyebut Malaysia. Sontak saja kelakar mereka ditertawai oleh Wak Dalang, kakeknya Upin & Ipin sendiri. Wak mengatakan bahwa timnas sepakbola Malaysia belum mampu masuk Piala Dunia, mentok hanya sampai Olimpiade saja, kata dia.

Akibat pernyataan sang kakek itu, Upin & Ipin jadi bingung dan penasaran kenapa Malaysia tidak mampu masuk Piala Dunia. Kemudian hal itu begitu terngiang dikepala mereka, hingga kemudian diceritakan begitu sampai di sekolah, yang sampai-sampai membuat heboh suasana kelas.

Apa yang Upin & Ipin dkk bicarakan lalu didengar oleh Cek Gu (guru kelas), sesaat ketika dia akan datang guna mentertibkan kelas. Cek Gu mengatakan bahwa anak-anak tak perlu kecewa karena tak dapat ke Afrika Selatan, toh bisa nonton Piala Dunia di tv tanpa harus kesana.

Kemudian Cek Gu berujar bahwa jika anak-anak tekun belajar dan bersungguh-sungguh menjadi pemain bola, mereka bisa bermain untuk timnas Malaysia suatu kelak. Anak-anak pun berteriak penuh semangat dan bergumam ingin menjadi pebola hebat kelak suatu hari nanti. Ini adalah bentuk penanaman nilai bagi penonton (anak-anak) bila mereka rajin belajar dan serius menggapai cita-cita, masa depan (sebagai pebola akan cerah dikemudian hari). Kemudian bergantilah scene ketika Upin & Ipin cs bermain sepakbola dengan kertas.

Apa yang diceritakan di Upin & Ipin pada season 4 “Anak Harimau” bagian pertama seharusnya dijadikan otokritik untuk indoktrinasi cinta sepakbola bagi anak-anak di Indonesia. Daripada Indonesia hanya tertegun akan kelucuan dan keunikan Upin & Ipin, seharusnya bangsa ini (melalui film, kartun atau animasi anak-anak) juga bisa melakukan hal yang sama untuk sepakbola Indonesia, sepeti apa yang Upin & Ipin lakukan terhadap sepakbola Malaysia; mengedukasi anak-anak dengan sepakbola sejak dini.

Dalam episode 4 “Anak Harimau” itu, anak-anak diajak oleh Upin & Ipin untuk menyadari fakta tentang ketertinggalan sepakbola mereka (sebuah kritik sosial tentunya) dan berusaha membangkitkan kecintaan akan sepakbola dengan sembari menanamkan rasa nasionalisme terhadap negaranya, Malaysia. Upaya Upin & Ipin untuk membentuk kesadaran dan kecintaan anak-anak pada sepakbola, pun ditambahi dengan menampilkan adegan anak-anak bermain sepakbola kertas di kelas akibat demam Piala Dunia.

Otokritik bagi kita adalah menyadari bahwa hal-hal semacam yang ada di Upin & Ipin episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu sudah jarang muncul di Indonesia. Sekalipun ada beberapa tontonan anak bertema “sepakbola” seperti Ronaldowati dan Si Madun. Penanaman cinta pada sepakbola yang dibalutkan nasionalisme melalui tontonan anak hampir mustahil ditemui akhir-akhir ini.

Untuk membentuk karakter generasi bangsa yang sadar jiwa nasionalisme dan cinta sepakbola, seyogyanya dimulai sejak di usia dini. Toh, patut disadari dalam membentuk kepribadian seorang anak, harus pula dimulai ketika seseorang masih kecil sehingga proses indoktrinasi lebih kuat.

Melihat kondisi terkini, tontonan bertema sepakbola untuk anak-anak sangat jarang ada. Ronaldowati dan Si Madun sudah tidak ada dan Tsubasa sudah jarang muncul di layar kaca. Itupun kalau boleh jujur, tontonan seperti Ronaldowati atau Si Madun hanya menonjolkan kesan action semata, kurang maknawi akan penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta sepakbola, seperti apa yang ditunjukkan Upin & Ipin dan juga Captain Tsubasa.

Upin & Ipin, meski adalah tontonan anak-anak yang sangat ringan, tetapi melalui tayangan dalam episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu, jelas menjadi gambaran bagaimana Malaysia punya keinginan kuat membangkitkan sepakbola. Caranya? Dimuali dengan mengedukasi anak-anak agar peduli dan cinta sepakbola sekaligus negaranya dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian beralih ke anime Jepang dengan simulasi karakter Captain Tsubasa Ozora yang begitu semangat nan gigih meniti karir sepakbola setinggi langit. Hal ini juga mencerminkan besarnya semangat bangsa Jepang (seperti Tsubasa) untuk menunjukan kekuatan sepakbola mereka pada dunia.

Dalam tontonan sepakbola anak Indonesia seperti Ronaldowati dan Si Madun, sebenarnya tetap ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran penting. Namun itu tidak sebanding dan sering tertutupi dengan aksi-aksi tak logis dalam cerita (yang konon lebih penting untuk rating tv semata).

Selain terkadang valueless, Ronaldowati dan Si Madun dalam ceritanya juga lebih sering memainkan sepakbola “antar kampung” (tarkam). Berbeda dengan Tsubasa yang menampilkan gambaran kenyataan nan alami dalam sepakbola seperti; bermain di sekolah, kemudian di tingkat klub, pindah ke luar negeri, main di timnas Jepang dan masuk Piala Dunia. Tsubasa mengajarkan untuk berani bercita-cita melanglang buana ke dunia, karena sepakbola itu global.

Ketika anak-anak Jepang diinspirasi oleh “karir cemerlang” Tsubasa sebagai pebola yang mendunia, disatu sisi layakkah anak-anak di Indonesia (dalam cita-citanya menjadi pesepakbola) terinspirasi juga oleh “karir” Madun yang cuma main sepakbola antar kampung?

Bahkan (parah) sampai-sampai menyelam ke lautan dan membongkar harta karun yang tak ada kaitan dengan kenyataan dalam dunia sepakbola? Apakah mindset yang kurang berani “mengglobal” ini, juga merupakan cerminan khas pemain-pemain Indonesia yang tidak betahan dan terlihat kurang endurabilitas-nya ketika main di luar negeri?

Selain kurang luas dalam mengkesplorasi cakrawala dunia sepakola, adegan-adegan dalam cerita di dua film anak sepakbola Indonesia itu pun terlalu sering mengada-ngada dan terlalu jauh kesannya dengan “sepakbola”. Terkadang fantasi pada tontonan sepakbola anak di Indonesia berlebihan.

Bisa diperbandingkan, ketika Jepang mendidik ingatan dan semangat anak-anak terhadap sepakbola dengan tontonan perjuangan pantang menyerag ala Tsubasa yang bercita-cita main diluar negeri serta membela timnas Jepang, sedangkan Malaysia mengemas propaganda nasionalisme dan sepakbola melalui serial animasi macam Upin & Ipin untuk budak-budak (anak-anak) di negeri jiran itu, bagaimana dengan Indonesia?

Saya bukan tidak suka dengan tayangan (Ronaldowati dan Si Madun) itu, karena saya pun pernah menonton dan terhibur karenanya. Tetapi sebatas terhibur, itu saja. Tak ada nilai-nilai kehidupan yang benar-benar coba disuguhkan pada generasi muda kita, selain aksi sepakbola magis atau sihir (sangat hiperbola) saja didalamya. Pun fakta tak menyenangkannya lagi, sangat jarang ada tontonan bola anak saat ini dari stasiun-stasiun televisi Indonesia.

Gairah sepakbola Indonesia harusnya digerak-bangunkan sejak usia dini melalui tontonan sepakbola anak, untuk membentuk generasi Indonesia yang benar-benar menjiwai sepakbola plus rasa nasionalisme secara disaat yang bersamaan.

Melalui Upin & Ipin dan Captain Tsubasa, sejenak menjadi cerminan kalau bangsa ini perlu membentuk kesadaran dan kecintaan pada sepakbola dan rasa nasionalisme sejak dini melalui tontonan berkualitas. Semoga dengan menyadari antusiasme tinggi bangsa Indonesia akan sepakbola, akan segera muncul tontonan sepakbola anak yang “layak”, bagi generasi baru bangsa ini. Semoga.

Sumber foto: Republika.co.id

Advertisements

Dua Raksasa

Spanyol sedang dalam masa kejayaan sepakbola, dalam dekade belakangan ini baik itu tim nasional ataupun klub asal Spanyol sama-sama mampu mendominasi Eropa atau bahkan juga dunia.

Tim nasional Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, tidak ada tim nasional lain yang mampu menyamai rekor juara beruntun seperti itu dimanapun. Sejak 2006 hingga 2016 (sudah 10 musim terakhir ini), sudah 6 kali pula Liga Champions dikuasai tim dari Spanyol dengan rincian; Barcelona 4 dan Real Madrid 2 juara.

Begitu juga di kompetisi kasta kedua, Europa League dimana Spanyol terlalu tangguh untuk tim dari negara lain, tercatat sejak musim 2005-2006 hingga 2015-2016, tujuh kali yang menjadi juara adalah klub Spanyol. Atletico Madrid dua kali sementara Sevilla lima kali yang bahkan tiga dari lima trofi tersebut diraih dalam tiga musim akhir ini. Luar biasa, Spanyol benar-benar dalam puncak kejayaan.

Apa yang menjadikan Spanyol begitu menkutkan dalam dunia sepakbola akhir-akhir ini? Jawabannya tidak lain karena duo Clasico, Real Madrid dan Barcelona, persaingan antar rival abadi penuh sejarah ini menjadikan sepakbola Spanyol begitu hebat. Harus diakui, Madrid dan Barca adalah dua tim terbaik dunia, kerja keras dua tim tersebut untuk selalu mendominasi satu sama lain berdampak positif bagi Spanyol.

Pemain berkualitas bintang dunia selalu hadir mengisi skuad kedua tim tersebut, keberadaan pemain Spanyol di dua tim tersebut juga menguntungkan tim nasional Spanyol. Ketika menjuarai Euro 2008, Euro 2012 dan Piala Dunia 2010 juga berkat keberadaan pemain-pemain dari dua tim ini.

Imbas lain adalah meningkatnya level permainan tim lain diluar El Clasico, tim seperti Atletico, Sevilla, Villareal, dan tim-tim lain saling berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu kenyaman Madrid dan Barcelona.

Hal itu justru tidak terasa membuat banyak tim Spanyol lain mengalami kenaikan level kualitas. Bersaing dengan dua tim yang “terbaik dunia” di liga, membuat mereka mau tidak mau harus terus meningkat secara kualitas jika tidak ingin hanya menjadi penonton di liga. Dampaknya begitu terasa, meski di liga hanya Atletico yang mampu juara selain Madrid-Barca dalam kurum 10 tahun ini dan itupun hanya sekali (musim 2013-2014). Tetapi peningkatan level tim Spanyol diluar Madrid-Barca terlihat ketika beraksi di kompetisi Eropa beberapa tahun terakhir.

Atletico bisa muncul dua kali di final Liga Champions dalam tiga tahun terkahir, tentu ini pencapaian luar biasa bagi klub seperti Atletico. Terkurung dalam bayang-bayang El Clasico di La Liga, tak membuat nyali Atleti di Liga Champions ikut menciut. Sevilla juga begitu, meski jarang finis di peringkat empat besar (zona Liga Champions) dalam 10 tahun terakhir, klub Andalusia tersebut sudah menjadi raja Liga Eropa selama tiga musim ini berturut-turut, rekor!

Setidaknya dalam lima musim terakhir, hampir selalu ada wakil Spanyol di semifinal kejuaraan Eropa bahkan hingga ke final, baik itu Liga Champions atau Liga Eropa. Tren ini menjadi bukti, klub dari La Liga memang lebih bagus daripada kompetisi negara lain, bahkan lebih baik dari Premier League yang disebut-sebut sebagai liga dengan klub-klub terbaik di dunia.

Sudah terbukti bahwa klub asal Spanyol paling superior jika bermain di pentas Eropa dan disadari atau tidak kualitas mereka terkerek naik karena mau tidak mau dengan penuh tenaga harus mengimbangi kualitas Madrid-Barca, yang memang tiada tandingnya di liga, jadi ketika klub Spanyol tersebut bertemu klub negara lain yang bahkan secara reputasi lebih besar, mereka mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan.

Musim lalu contohnya, Atletico mampu mengalahkan Munchen yang notabene disebut sudah satu level dengan Madrid-Barca, sedangkan Sevilla mengubur impian Liverpool di Liga Eropa, padahal reputasi Liverpool jauh lebih diatas dari Sevilla.

Efek persaingan di liga dengan Madrid-Barca terbukti berdampak signifikan bagi klub Spanyol lain, meski mereka babak belur di liga ternyata ketika bertanding di Eropa, kualitas dan mentalitas mereka mampu menandingi dan bahkan mengalahkan tim-tim kuat di Eropa karena “sudah terbiasa” berjibaku melawan dua tim terbaik dunia di liga sendiri.

Bahkan efek dua klub ini benar-benar meresap di Spanyol, jika ada klub mempunyai nama “real” dan atau mempunyai lambang mahkota di logo-nya, dapat dipastikan klub itu adalah klub pendukung kerajaan seperti Real Madrid. Jika ada klub berlogo “belang-belang” maka itu adalah klub yang berideologi pada kemerdekaan suku-suku dari kerajaan, klub dari Basque, Valencia, dan paling vokal dalam hal ini tentu klub asal Catalan paling sukses dekade ini, Barcelona.

Kembali ke persaingan juara, keberadaan Madrid-Barca membuat La Liga terasa lumayan membosankan. Namun hal ini dapat dimaklumi karena kesenjangan tersebut bukan karena blunder, inkonsistensi atau atau kemalasan klub lain berbenah, hal ini lebih karena perbedaan kualitas yang terlalu jauh antara Madrid-Barca dengan klub Spanyol lain.

Selain mempunyai tradisi kuat, pendapatan kedua klub tersebut juga sangat tinggi dibandingkan klub lain, maka dari tahun ke tahun makin kuat sajalah materi pemain Madrid-Barca karena kekuatan ekonomi duo ini tidak tertandingi klub Spanyol lain.

Setiap musim yang muncul dalam prediksi berbagai media adalah siapa yang akan juara, Madrid atau Barca? Klub lain seperti hanya ditakdirkan maksimal hanya untuk merebut jatah tiket ke Eropa dan tidak untuk juara liga, paling hanya Atletico yang punya potensi mengejutkan, namun kekuatan mereka sering digerus, karena seringnya Atletico tergoda menjual pemain bintangnya.

Musim ini juga tidak banyak berubah, Madrid-Barca masih terlalu kuat bagi klub lain, hal itu dapat dilihat dari Atlas-Bajas (lalu lintas transfer pemain) musim panas ini. Barcelona sangat jor-joran membelanjakan uang-nya, kedatangan Paco Alcacer, Andre Gomes, Denis Suarez, Lucas Digne, Samuel Umtiti, dan Jasper Cillessen menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Yang menjadi pertanyaan, tetaspi apakah terlalu mahal untuk hanya sekedar dijadikan pelapis bagi pemain inti? Alcacer bermain ketika salah satu dari trio MSN tidak bermain, Denis Suarez dan Gomes akan bermain ketika Iniesta atau Rakitic tidak dapat merumput dan juga masih ada Arda Turan yang bisa menjadi pelapis MSN dan Iniesta-Rakitic, Digne sebagai pelapis Jordi Alba, Umtiti menjadi pelapis duet bek tengah Mascherano-Pique dan Cillessen pilihan nomor dua dibawah mistar setelah Marc-Andre Ter Stegen. Memang mahal bagi pemain yang diproyeksikan sebagai pelapis tim utama, namun  ini menunjukkan bahwa Barca ingin mempunyai skuad yang dalam dengan materi tidak terlalu jauh jarak kualitasnya antara pemain inti dan cadangan.

Madrid musim ini tidak seperti biasa, uang yang mereka keluarkan sangat sedikit, 30 juta euro saja. Ada apa dengan Madrid? Padahal mereka biasanya boros dalam bursa transfer, tetapi musim ini mereka terhitung irit sekali. Uang 30 juta euro praktis sekali habis digunakan untuk mengaktifkan klausul pembelian mantan alumni cantera Madrid yang dijual ke Juventus dua tahun lalu, Alvaro Morata. Transfer lain adalah Marco Asensio, pemain muda yang musim lalu dipinjamkan ke Espanyol, sebelumnya dia dibeli dari Mallorca pada 2014.

Apakah gejala aneh Madrid di bursa transfer mungkin terkait dengan embargo transfer yang menghukum mereka? Namun itu sebenarnya bukan alasan, karena musim panas ini hukuman tersebut belum dilaksanakan, dan efektif baru akan terjadi pada dua periode transfer mendatang, seharusnya musim panas ini Madrid masih bisa belanja banyak, namun ternyata tidak.

Walau tanpa banyak pemain baru, kekuatan Madrid masih tetap besar, trio BBC masih dalam usia emas, Modric, Kroos, dan Ramos juga masih menampilkan performa terbaik, tambahan pemain muda macam Morata dan Asensio akan memperdalam kekuatan tim.

Klub Spanyol lain juga ikut memperkuat tim masing-masing, Atletico sibuk dalam hal ini. Kevin Gameiro, Nico Gaitan dan Sime Vrsaljko menjadi transfer mahal ke Vicente Calderon, Villareal membeli mantan wonderkid Alexandre Pato, dua pemain muda potensial Italia; Roberto Soriano dan Nicola Sansone akan menjajal petualangan baru di El Madrigal.

Sevilla yang meski kehilangan banyak pemain penting, melalui kecermatan direktur olahraga Monchi, bisa menghasilkan transfer bagus untuk dimaksimalkan pelatih baru, Jorge Sampaoli. Franco Vazquez, Luciano Vietto, Pablo Sarabia, Paulo Ganso, Wissam Ben Yadder, Hiroshi Kiyotake, Samir Nasri, dan Salvatore Sirigu menjadi beberapa transfer brilian Sevilla musim ini.

Valencia yang terpuruk musim lalu mencoba kembali bangkit dengan meminjam Eliaquim Mangala, Mario Suarez, Ezequiel Garay, dan Munir El Haddadi, tak lupa mereka juga telah meyakinkan deputi Cristiano Ronaldo di tim nasional Portugal, Luis Carlos Almeida da Cunha “Nani” untuk bergabung musim ini.

Klub kecil juga ikut bergeliat, seperti dua nama besar seperti Giuseppe Rossi dan Kevin-Prince Boateng yang mau bermain di Spanyol. Rossi kembali ke La Liga dengan menerima tawaran dari Celta Vigo, sementara Boateng memiliki destinasi karir baru di klub asal kepulauan Canaria, UD Las Palmas. Semakin gemerlap La Liga musim ini, ya setidaknya dari dimensi transfer pemain menunjukkan hal tersebut.

Tetapi jika berbicara juara liga, jangan jauh-jauh dari Madrid-Barca, namun patut ditunggu apakah ada kejutan musim ini? Semoga saja ada, Atletico atau mungkin klub lain, siapa tahu hal itu benar-benar terjadi diakhir musim nanti, hanya keajaiban yang akan membantu itu terwujud.

Brexit Jilid 2.0

Brexit adalah istilah yang populer di Inggris dan Britania Raya untuk penamaan dari pihak yang ingin agar seluruh Britania Raya dan khususnya Inggris keluar dari Uni Eropa, penamaan ini “Brexit” adalah singkatan dari Britain Exit.

Singkatan ini berdengung di seantero Britania Raya manakala adanya peristiwa politik kenegaraan, yaitu referendum masyarakat Britania Raya untuk menentukan apakah Britania Raya tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar pada tanggal 23 Juni 2016 ini.

Hasilnya kita ketahui bersama, Brexit menang dan mengharuskan Britania Raya menyudahi hubungannya dan resmi keluar dari Uni Eropa. Mengejutkan sekali hasil yang didapat dalam referendum ini, dan menurut berbagai analisis dari pengamat politik internasional, Brexit bisa menimbulkan efek domino bagi negara-negara lain yang tergabung di Uni Eropa.

Namun tidak hanya sampai disitu, diluar urusan politik pun Britania Raya juga sedang dikejutkan dengan “Brexit Jilid 2” yang tak lain aktornya adalah tim nasional sepakbola Inggris.

Inggris sebagai pemimpin Britania Raya adalah negara paling dominan dalam persemakmuran Britania Raya, begitu juga dalam hal sepakbola Inggris sudah lama dikenal sebagai yang terbaik diantara negara-negara lain di Britania Raya.

Namun peristiwa tak menyenangkan terjadi dan kali ini ketika sepakbola Inggris sedang berjuang di Euro 2016 di Perancis. Mereka untuk kedua kalinya “keluar” dari Eropa, ya mereka  gugur di fase 16 besar dan gagal mencapai target awal yakni menjadi juara Euro. Mereka terdepak setelah secara mengejutkan dikalahkan oleh tim non-unggulan, Islandia dengan skor 1-2.

Padahal materi pemain antara Inggris vs Islandia jelas seperti langit dan bumi, Inggris diperkuat oleh pemain-pemain kelas atas di Premier League sedangkan Islandia hanya diperkuat oleh pemain biasa saja. Tersingkirnya Inggris dari Euro 2016 memunculkan kredo baru “Brexit Jilid 2” bagi kalangan pemerhati sepakbola diseluruh dunia, karena untuk kedua kalinya Inggris keluar dari zona Eropa (dalam hal ini adalah turnamen sepakbola antar negara se-Eropa atau Euro).

Pasti kekalahan ini membuat seluruh warga Inggris kecewa berat, apalagi tim nasional negara tetangga yang berada dibawah persemakmuran Britania, Wales berhasil melaju hingga perempat final dan sudah pasti hal ini membuat luka hati orang Inggris semakin dalam ketika persaingan antar dua tim ini sedang panas-panasnya namun justru harus melihat Inggris tersingkir dan Wales lebih hebat dari mereka.

Hasil ini semakin menegaskan bahwa sepakbola Inggris hanya bagus di level klub saja, prestasi tim nasional-nya kita tahu sendiri hanya pernah sekali juara turnamen besar, Piala Dunia 1966 dan itupun diselenggarakan di negara mereka sendiri.

Sebenarnya ada apa dengan Inggris? Padahal dari segi materi pemain mereka salah satu yang terbaik di dunia tetapi mengapa hasilnya selalu saja sama; mengecewakan. Kompetisi sepakbola mereka adalah yang terbaik di dunia, English Premier League menjadi pusat perhatian dunia dengan keberadaan pemain-pemain hebat-nya, tetapi mengapa prestasi tim nasional Inggris selalu saja begini? Jangankan menjuarai turnamen besar, lolos semifinal saja sepertinya sulit sekali mereka capai.

Banyak pengamat sepakbola mengatakan, problem tim nasional Inggris ada banyak, yang pertama adalah kurangnya pelatih berkualitas asli Inggris, karena kebanyakan tim di Liga Inggris juga menggunakan jasa pelatih asing.

Kedua karena banyaknya pemain asing di Liga sehingga menghambat perkembangan pemain muda lokal, memang sudah menjadi fakta sangat banyak sekali pemain asing di Liga Inggris.

Ketiga,ekspektasi yang sangat tinggi untuk selalu berprestasi di turnamen besar, memang demikian mengingat mereka bermaterikan pemain-pemain bintang, banyak yang berekspektasi seperti itu yang justru menjadi beban berat tersendiri tim nasional Inggris untuk menyuguhkan yang terbaik di panggung internasional.

Terakhir yang keempat adalah sentimen antar klub di Inggris yang berakibat pada ketidakkompakan pemain-pemainnya saat bermain bersama di tim nasional.

Dari segi pelatih memang sangat kurang, untuk mencari pelatih asli Inggris yang punya kualitas apalagi masih muda sangatlah sulit. Pengganti Roy Hodgson yang mundur pasca kalah dari Islandia pun sepertinya sudah tua, Alan Pardew.

Namun pengalaman melatihnya sangat minim berada di tim besar, mungkin akan lebih baik Harry Redknapp saja yang menjadi pengganti Hodgson meski juga sama tua dan berpengalaman, namun dia pernah berada di tim besar seperti Tottenham dan membawa mereka mentas di Liga Champions.

Kurangnya pelatih berkualitas sebenarnya pernah disiasati FA dengan mengontrak pelatih asing hebat seperti Sven-Goran Eriksson (Swedia) dan Fabio Capello (Italia), namun hasilnya sama saja.

Kalau melihat pemain asing sebagai faktor penghalang kemunculan pemain lokal berkualitas yang membuat tim nasional sulit berprestasi juga kurang tepat, FA telah mengakali banyaknya pemain asing dengan peraturan home-grown players yang membuat pemain lokal tetap punya tempat di Liga Inggris.

Ekspektasi yang besar sudah pasti menjadi beban bagi Inggris, namun tidak hanya Inggris saja yang punya beban itu. Negara lain yang punya tradisi hebat dalam sepakbola juga punya ekspektasi yang tidak kalah besarnya seperti; tim nasional Spanyol, Italia, Brasil, Jerman atau Argentina juga merasakan hal yang sama dengan Inggris ketika bermain di turnamen besar internasional, mereka dibebani untuk memperoleh prestasi setinggi-tingginya.

Faktor terakhir adalah sentimen antar klub, hal ini terjadi karena atmosfer sepakbola Inggris yang begitu bergelora. Hampir setiap kota meski itu adalah kota kecil pasti mempunyai klub sepakbola dan bahkan kadang lebih dari satu.

Atmosfer sepakbola disana begitu besar, no football no party, seluruh wilayah mempunyai tim andalan masing-masing dan tak heran ini membuat animo rakyat Inggris terhadap sepakbola begitu besar, namun dari sini muncul masalah yang berdampak besar skuad The Three Lions.

Orang Inggris fanatik terhadap sepakbola dan otomatis terhadap masing-masing klub kesukaannya, selain kepada tim nasional juga dan hal ini rupanya juga terjadi pada pemain-pemain di klub-klub tersebut, fanatisme mereka kepada klub sangat kuat.

Dengan atmosfer dan animo sepakbola yang tinggi membuat fanatisme terhadap klub tumbuh tidak hanya di lingkungan suporter saja tetapi juga merembet ke pemain dan memunculkan sentimen antar klub.

Maka tak heran di di Liga Inggris sering terjadi psy-war antar pemain, dan friksi di lapangan juga sering terjadi, biasanya hal ini muncul ketika pertandingan derbi satu kota atau antar klub yang mempunyai tradisi kuat dan saling bermusuhan.

Mantan pemain Manchester United dan tim nasional Inggris, Paul Scholes membenarkan bahwa ketidakmampuan Inggris berprestasi di level tim intenasional adalah salah satunya karena sentimen antar klub yang begitu kuat diantara pemain-pemain di tim nasional Inggris.

Dia menggambarkan seperti ini “ketika berada di tim nasional pasti semua pemain yang tergabung akan bekerja sama satu sama lain, namun sejatinya dalam hati tidak mungkin seorang Manchester mau bekerja sama dengan Scouse (Liverpool), begitu juga sebaliknya.

Hal ini juga berlaku bagi pemain-pemain lain dalam tim”. Terbongkar sudah rahasia kenapa Inggris selalu kandas dalam turnamen besar, tidak ada rasa persatuan antar pemain!.

Sentimen tersebut menjadi masalah akut bagi Inggris, mengingat pemain-pemain andalan mereka pasti mayoritas berada di klub besar yang sudah tentu saling menjadi rival. Jika sudah begini bagaimana solusinya? Mungkin kali ini, Inggris sebagai si “penemu sepakbola” harus belajar hal terkait sepakbola dari tempat lain untuk meredakan sentimentalitas antar pemain Inggris.

Mereka bisa belajar dari Spanyol, dulu disana Iker Casillas sebagai kapten tim nasional berani mengambil sikap untuk menjalin hubungan dekat dengan Carles Puyol dan Xavi Hernandez. Casillas melakukan itu guna meredakan sentimen el clasiso dan tidak membawa semua hal tentang itu ketika berada di tim nasional.

Hasilnya kita tahu, 2 gelar Piala Eropa dan satu Piala Dunia diraih Spanyol dalam rentang waktu 2008 hingga 2012. Sama seperti Inggris, pemain Spanyol juga sangat berkualitas namun tanpa adanya kompromi seperti itu rasanya sulit bagi mereka mampu meraih Piala Eropa dan Piala Dunia, karena sentimen antar pemain Spanyol juga sangat tinggi mengingat mayoritas diperkuat pemain Madrid dan Barcelona.

Melihat Inggris saat ini apakah mereka bisa mencontoh Spanyol? Sebenarnya bisa, apalagi Rooney sebagai kapten juga orang yang inklusif (bahkan dia berteman baik dengan Joe Hart, kiper City) dan terkesan mengesampingkan kepentingan klub demi tim nasional.

Namun kedepannya masih perlu pendekatan yang komprehensif dari sang skipper untuk menyatukan seluruh elemen dalam tim nasional Inggris, apalagi saat ini bukan hanya United dan City saja yang menyumbangkan pemain ke tim nasional, ada pula pemain dari Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham.

Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati dari orang yang berpengaruh di ruang ganti (kapten) untuk menurunkan ego dan sentimen klub yang dibawa dan berusaha merangkul untuk dekat semua yang ada didalam tim.

Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan Casillas juga harus ditiru Rooney atau kapten Inggris dimasa depan, karena ini lah salah satu cara jitu untuk menyatukan tim nasional; menjalin kedekatan dengan seluruh pemain meski mereka adalah rival di level klub.

Jika dalam hati sudah mau bersatu di tim nasional (meski saling bermusuhan di level klub), semua akan lebih mudah bagi Inggris, inilah cara yang harus dicoba ditengah kondisi atmosfer dan animo tinggi yang memang berujung pada sentimen antar klub. Segera mencoba Inggris, semoga beruntung di turnamen selanjutnya.

dailymail1-2 Iceland

Foto dari dailymail.co.uk

Dilly-Ding Dilly-Dong!, Kunci Leicester City Juara : Passion Bermain

Seringkali kita mengatakan bahwa kualitas pemain dan nama besar menentukan prestasi sebuah klub, memang benar adanya beberapa klub dengan pemain berkualitas membuktikannya.

Kita dapat melihat contoh pada Barcelona, Madrid, Bayern, Chelsea ataupun Juventus dan klub besar lain yang mampu bersaing dalam percaturan sepakbola Eropa. Gelar juara dan menapaki tingkat tinggi dalam sebuah kompetisi bergengsi menjadi hal yang lumrah bagi klub-klub besar dan ditambah dengan dukungan keuangan yang besar pula hal tersebut dapat dipertahankan bahkan untuk bertahun-tahun.

Tetapi sebenarnya tidak hanya; kualitas pemain, nama besar klub dan uang saja yang membuat mereka mampu mencapkan dominasi terhadap klub-klub lain, ternyata diluar faktor tersebut ada satu hal yang mampu membuat dominasi mereka awet yaitu “gairah” atau passion bermain.

Gairah dalam bermain sepakbola sangatlah penting dalam menjaga hasrat pemain-pemain yang bisa menjaga performa dan tetap selalu berusaha untuk bersaing dalam perburuan gelar juara.

Ya, gairah bermain sepakbola sangat fundamental bagi kestabilan tim meraih kemenangan demi kemenangan setiap pertandingan yang dapat berujung raihan gelar juara.

Gairah begitu penting, analoginya adalah ketika sebuah klub memperoleh gelar juara yang ditargetkan, mereka bisa mengalami rasa puas terhadap pencapaian, sehingga di musim-musim selanjutnya gairah dalam bermain tersebut akan mampu menjaga “rasa lapar” untuk selalu meraih prestasi demi prestasi.

Setiap tim memiliki target masing-masing entah dengan status juara bertahan, pengejar titel juara ataupun tim dengan tujuan lain, pasti mereka akan berusaha sekuat tenaga demi mencapai target-target tersebut.

Gairah untuk mencapai target-target tersebut haruslah selalu ada, karena logikanya bagaimana mungkin sebuah klub akan terus berjuang demi target mereka, jika mereka sendiri tidak punya gairah untuk mewujudkan target tersebut?

Disini jelas bahwa gairah bermain sepakbola tersebut akan menjaga “api” semangat dalam jiwa pemain  untuk tetap berjuang tanpa lelah dalam arena pertarungan di lapangan demi menggapai target yang diinginkan.

Kenyataan tersebut menjadi fenomena di berbagai liga musim ini, gairah bermain yang sebenarnya adalah faktor non-teknis malah menjadi pembeda dalam perjalan berbagai klub musim ini.

Yang paling menjadi sorotan adalah Liga Inggris 2015-2016 ini, beberapa tim mengalami periode yang tidak biasa dan ada tim “asing” yang tidak hanya sekedar bersaing memperebutkan tiket Eropa, namun dengan luar biasanya justru menjadi kandidat juara.

Tim yang dimaksud adalah Leicester City dan Tottenham Hotspur, ketika nama besar seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal dan bahkan juara bertahan Chelsea mengalami musim yang dikatakan buruk, The Foxes dan Lily Whites mengambil kesempatan untuk menguasai peta persaingan menjadi nomor satu di Inggris.

Padahal jika dilihat dari kualitas pemain, dua tim ini bukanlah “tempatnya” berada di papan atas apalagi untuk Leicester, kualitas pemain mereka dibawah rata-rata mengingat mereka musim lalu adalah kandidat degradasi, namun sangat mengejutkan ketika mereka menjadi kandidat juara musim yang baru saja berakhir ini.

Kalau yang berada di puncak adalah Tottenham mungkin banyak yang menganggap “sedikit wajar”, ketika tim-tim besar berada dalam situasi paceklik dan dengan kualitas yang terhitung tidak beda jauh dengan tim besar, membuat Tottenham mampu berbuat banyak dengan pemain-pemain berkualitas seperti Harry Kane, Bamidele Alli, Christian Eriksen, Jan Vertonghen, dan Hugo Lloris.

Namun yang berada di puncak bukanlah mereka tetapi justru tim yang kualitasnya berada jauh dibawah mereka, Leicester City, yang sebenarnya kualitas tim ini tidak lebih baik dari tim-tim pejuang jeratan degradasi macam Newcastle atau Aston Villa.

Tetapi dengan berbagai hasil yang diraih selama ini menunjukkan bahwa kualitas pemain bukanlah faktor utama yang menjadikan Leicester City seperti ini, dan hal tersebut adalah gairah atau passion yang besar dalam bermain sepakbola yang dimiliki pemain-pemain yang dimanejeri oleh pelatih kaya pengalaman asal Italia, Claudio Ranieri.

Ranieri yang datang di awal musim setelah pemecatan Nigel Pearson akibat kasus anaknya (James Pearson) berhasil menyuntikkan keceriaan dan semangat bermain bagi tim. Sehingga gairah bermain serdadu Leicester selalu berapi-api disetiap game musim ini, lihat saja permainan Riyadh Mahrez dan rekan di lapangan, meski dari segi teknis mereka kalah namun dengan gairah tersebut semangat mereka tak pernah padam untuk selalu berjuang di lapangan.

Apalagi sitem permainan ramuan The Tinkerman tidaklah muluk-muluk, permainan simpel dengan serangan balik khas Italia dipadu dengan  power and speed ala Inggris membuat Leicester sering menyulitkan tim manapun, entah itu tim besar ataupun kecil mereka bisa dikalahkan.

Ranieri juga menekankan kolektifitas permainan entah siapapun yang diturunkan di lapangan, sehingga berdasar pada skema yang simpel dan kekompakkan bisa membuat kualitas pemain yang biasa akan tertutupi dengan permainan kolektif tim.

Selain itu gairah mereka dalam bermain sepakbola sangatlah tinggi, terbukti banyak hasil bagus pertandingan musim ini yang diraih ketika waktu hampir habis, selain itu mereka juga beberapa kali melakukan comeback untuk mengamankan hasil atau juga mencuri kemenangan.

Tanpa gairah yang tinggi disetiap jiwa pemain Leicester, tentu kemengan dengan late goal maupun membalikkan keadaan akan sulit direalisasikan apalagi jika melawan tim besar yang secara kualitas berbeda jauh dari Leicester.

Gairah tinggi itulah faktor kunci yang mampu menjadikan Leicester melambung kali ini, mereka memanfaatkan momen disaat klub lain seperti Chelsea atau MU sedang lesu dan seperti “kehilangan” gairah bermain bola sehingga tercecer papan tengah klasemen.

Gairah, semangat, kolektifitas dan keriangan bermain bola itulah yang juga membuat Leicester bermain lepas dan tanpa beban disetiap pertandingan, tidak ada target tinggi yang dicapai. Ketika mulai sering berada level atas, Ranieri berujar target timnya hanya 40 poin (aman dari degradasi), ketika Premier League sudah berlangsung lebih dari 20 pekan lebih, dia tetap mengatakan targetnya hanya untuk berada di papan tengah.

Baru setelah menyentuh 30an laga, Ranieri mengatakan suporter Leicester dipersilakan untuk bermimpi lebih jauh dan dalam meski disatu sisi dia tetap mengatakan, Tottenham adalah favorit juara.

Apa yang dikatakan Ranieri dengan tetap merendah meski sedang berada di puncak performa hanyalah bertujuan untuk melepaskan beban disetiap pundak pemain dan tetap memposisikan Leicester sebagai underdog.

Menjaga aura dan pesona underdog memang harus dilakukan Ranieri demi menjauhkan tim dari ekspektasi berlebih yang justru mampu melimpahkan beban dan ekspektasi itu kepada tim-tim dibawah mereka.

Keberadaan Leicester sebagai nomor satu di klasemen hingga musim ini berakhir pasti membuat seluruh penikmat Liga Inggris khususnya dan sepakbola pada umumnya tak bisa mengalihkan pandangan dari hal tersebut.

Yang juara musim ini adalah Leicester, mungkin keberhasilan itu akan membuat seluruh Britania dan “dunia” ikut bahagia, bagaimana mungkin tim yang miskin, pemain yang standar dan reputasi klub yang tidak bersinar sama sekali dan musim kemarin “hampir terdegradasi” justru menjadi juara musim ini?

Ya, sesuai dengan julukan Si Rubah (The Foxes), mengejutkan adalah karakter hewan tersebut yang kini bertransformasi dalam wujud Leicester City, dengan passion yang sangat bergelora mereka terus membuat kejutan demi kejutan. Dan kini hasilnya kita semua tahu bahwa Leicester kampiun Inggris!!!

Tentu merupakan hal yang sangat menarik melihat kapten Wes Morgan (yang baru merasakan Premier League musim lalu) mengangkat trofi Liga dan melihat Mahrez, Vardy, Kante, Drinkwater, dan Schmeichel bertarung di Liga Champions untuk musim depan dengan status  sebagai “JUARA” dari Inggris. Dilly-Ding Dilly-Dong, Come on the Foxes!!

Foto dari theguardian.couk

Image

Aneh dan Anomali-nya Madridistas

Suporter sepakbola adalah sekelompok orang yang menyatakan, menyuarakan, menunjukkan identitasnya sebagai orang-orang yang mendukung dan mencintai klub sepakbola tertentu.

Keberadaan suporter itu penting bagi klub sepakbola, karena tanpa suporter maka stadion akan sepi dan tidak ada pemberi semangat bagi pemain yang berlaga di lapangan.

Mereka pun selain dibutuhkan untuk mendukung pemain agar performa mereka di lapangan selalu baik, mereka juga menjadi “pengawas”  performa tim dengan sering melemparkan kritik kepada klub sendiri ketika tim bermain buruk.

Hal ini sudah wajar dimana-mana, ketika tim bermain baik suporter memuji, ketika bermain buruk suporter mencela tim mereka, namun akhir-akhir ini ada kumpulan suporter yang dikategorikan terlalu “tega” terhadap tim dan pemain klub yang mereka dukung  dan suporter tersebut adalah Madridistas, pendukung setia Real Madrid ini justru menjadi kendala bagi beberapa pemain penting di Real Madrid beberapa tahun terkahir.

Madridistas suporter yang sangat mencintai Real, sudah menjadi kodrat mereka mendukung Madrid kapan pun dan dimana pun, tidak hanya itu kenginan mereka untuk melihat Madrid berjaya disemua kompetisi yang diikuti juga membuat pemain Real Madrid tidak akan pernah kehabisan tambahan semangat di setiap pertandingan yang dilalui, loyalitas mereka salah satu yang terbaik.

Tetapi keinginan melihat Madrid untuk selalu berjaya memunculkan obsesi tersendiri, apalagi rivalitas abadi dengan Barcelona membuat Madridistas terobsesi melihat Madrid selalu diatas Barcelona dari segi prestasi disetiap musim.

Selain itu Madridistas juga ingin melihat Cristiano Ronaldo dan rekan bermain dengan indah yang tidak kalah dengan gaya ticqui-taka khas Barcelona, kesimpulannya sudah tentu bahwa Madridistas membenci Barcelona.

Disatu sisi sepakbola adalah olahraga yang tidak bisa ditebak sehingga tidak selamanya Madrid berprestasi, kadang tidak selamanya juga keinginan Madridistas terpenuhi. Apalagi performa pemain bintang Madrid juga ada pasang-surutnya dan tidak selamanya dalam bentuk terbaik.

Seharusnya suporter seperti Madridistas hadir sebagai “malaikat” bagi tim ataupun pemain yang tengah mengalami masa sulit, namun ternyata tidak selamanya Madridistas berada diposisi itu karena terkadang mereka justru mencaci tim dan pemain-pemain Madrid.

Memang terkadang tidak hanya dukungan yang bisa membuat semangat tim atau pemain naik, kritik dari suporter juga bisa membuat tim dan pemain terlecut untuk menampilkan permainan yang bagus dan Madridistas juga tidak hanya mendukung namun juga mengkritik performa tim dan pemain Madrid yang bermain buruk.

Namun hal “aneh” terjadi beberapa tahun ini, kritik yang diberikan Madridistas untuk tim dan beberapa pemain Madrid bisa dikatakan berlebihan dan begitu kejam, lalu mereka disisi lain juga tidak malu-malu memuji pemain Barcelona padahal semua orang di dunia tahu bahwa rivalitas Madrid-Barca sangat keras dan mereka juga membenci Barcelona.

Sungguh hal itu membuat siapapun yang suka sepakbola dan memperhatikan rivalitas Madrid-Barca menjadi heran dan bingung dengan perilaku Madridistas tersebut.

          Dulu mereka dengan tega membuat legenda hidup sekelas Iker Casillas begitu tertekan dengan perilaku Madridistas itu sendiri. Ada sebuah kronologi yang melatarbelakangi yaitu ditahun terkahir keberadaan Jose Mourinho sebagai pelatih (2012-2013), Casillas disingkirkan sebagai kiper utama Madrid.

Alasan Mourinho adalah penurunan performa Casillas dan sering melakukan blunder sehingga dia dijadikan cadangan yang membuat Diego Lopez menjadi kiper utama, akan tetapi beredar rumor bahwa yang membuat Casillas dicadangkan adalah kedekatan personal dia dengan dua pemain Barca, Carles Puyol dan Xavi Hernandez.

Awalnya Mourinho mengkritik kedekatan tersebut karena demi mewujudkan cita-cita meruntuhkan Barcelona, The Special One ingin semangat anti-Barca juga diresapi oleh seluruh pemain Madrid sehingga kedekatan dengan pemain Barca adalah sesuatu yang haram apalagi itu dilakukan oleh kapten Madrid, Casillas.

Sehingga muncul friksi antar Mou vs Casillas dan sang kapten pun berkilah bahwa kedekatan tersebut demi menjaga harmonisasi tim nasional Spanyol namun tetap saja hal itu tidak disukai Mourinho dan dia pun terpaksa dicadangkan.

Performa buruk Casillas disepanjang musim lalu membuat kritikan dari Madridistas yang sebenarnya sangat sedikit sekali justru menjadi terang-terangan, mereka mulai dengan tega menyiuli Casillas ketika bermain.

Sontak saja simpati Madridisitas untuk Casillas hilang total dan cemoohan untuk Casillas semakin keras dan keras hingga akhir musim. Apalagi ditambah rumor transfer David De Gea ke Madrid membuat Casillas semakin tertekan dan dia terpaksa pindah ke FC Porto di akhir musim.

Awalnya Casillas tetap mendapat simpati Madridistas meski dia dekat dengan Puyol dan Xavi, dan setelah Mourinho pergi, Carlo Ancelotti mengubah status Casillas lebih baik dengan menjadi kiper utama Madrid di Liga Champions, sedangkan di Liga Spanyol tetaplah untuk Diego Lopez.

Di musim tersebut (2013-2014), musim pertama Ancelotti datang) Madrid meraih La Decima atau gelar ke 10 Liga Champions, namun simpati tersebut terhenti di musim berikutnya ketika performa Casillas menurun di Liga Champions 2015-2016 (salah satu contoh ketika leg kedua semifinal Liga Champions versus Juventus) dan di seluruh perjalanan musim tersebut secara keseluruhan.

Apa yang dilakukan Madridistas mungkin dapat dipahami, karena Casillas adalah pemain Madrid yang sudah sewajibnya tidak dekat dengan pemain Barca, meski kedekatan dengan Puyol dan Xavi adalah untuk alasan profesional (Spanyol) dan secara personal tetap saja itu tidak bisa diterima Madridistas, apalagi dia adalah kapten klub.

Namun menghujat secara berlebihan pemain yang sudah masuk kategori legenda seperti Casillas juga merupakan hal yang tidak baik dilakukan oleh suporter sendiri, apalagi tidak ada seremoni perpisahan untuk Casillas dan hanya sebuah press conference yang diiringi tangis sedih dari Santo Iker ketika menyatakan kepindahannya ke Porto.

Apa yang dilakukan oleh Madridsitas terhitung kejam padahal berbagai gelar yang pernah diraih Madrid juga berkat kontribusi besar dari seorang seperti Casillas. Madridistas menjadi suporter yang tidak menghargai jasa-jasa pemain Madrid itu sendiri, padahal mereka punya begitu banyak jasa selama berada di Santiago Bernabeau.

Musim ini (2015-2016) hal itu berlanjut dan target berikutnya adalah Cristiano Ronaldo, yang mendapat kritik cemooh dari Madridistas. Ronaldo yang sudah berusia 31 tahun tidaklah seperti dulu lagi, tidak ada gerakan eksplosif melewati lawan yang ada hanya penempatan posisi yang oportunis untuk mencetak gol.

Ternyata performa dia yang menurun berdampak bagi Madrid dan ditambah Gareth Bale yang sering cedera, otomatis membuat Madrid hanya bergantung pada Ronaldo.

Apalagi pelatih yang ditunjuk menggantikan Ancelotti adalah Rafa Benitez yang tidak disukai pemain dan Madridistas, sehingga membuat Madrid bermain tidak konsisten dan yang paling parah adalah kekalahan 0-4 dari Barcelona di Santiago Bernabeau.

Selain kelincahannya yang berkurang, koleksi gol dia pun yang umumnya hanya muncul ketika melawan tim kecil disamping itu kestabilan performa Messi yang membantu Barca tetap melaju kencang musim ini membuat cemoohan Madridistas untuk Ronaldo terus bermunculan disetiap pertandingan.

 Ketidakmampuan mengangkat dan menstabilkan performa Los Blancos (selain karena faktor dari Benitez) membuat Ronaldo pun sering diejek dan yang paling mengherankan adalah ketika disebuah laga Copa del Rey, seorang Madridistas membentangkan jersey Real bertuliskan “Messi” dan nomor punggung 10.

Tentu hal tersebut membuat Ronaldo sangat kesal padahal semua tahu bahwa rivalitas Ronaldo vs Messi juga tinggi, sudah pasti CR7 kecewa dengan aksi seorang suporter Madrid tersebut.

Hal ini lah yang membuat rumor ketidakbetahan Ronaldo di Madrid semakin terdengar nyaring dan isu tersebut membuat berbagai spekulasi kepindahan menuju Manchester United atau PSG semakin sering menjadi isi berita berbagai media, apa yang dilakukan Madridistas sungguh terasa berlebihan.

Padahal Ronaldo adalah andalan Madrid dilima musim terakhir dan dia juga berperan besar terhadap raihan La Decima bagi Madrid, tentu hal tersebut adalah “aneh” dilakukan oleh suporter terhadap tim dan pemain sebuah klub yang mereka dukung.

Selain keanehan, anomali atau ketidakbiasaan juga dipertunjukkan Madridistas selama ini, mereka tidak segan untuk memberi pujian bagi pemain Barcelona!. Tercatat beberapa pemain Barcelona pernah mendapat standing ovation (tepuk tangan dengan berdiri) saat pertandingan Madrid vs Barca di Santiago Bernabeau.

Dulu di era 90an iego Maradona pernah mendapatkan itu lalu Ronaldinho juga mendapatkannya ketika menjadi aktor utama dibalik skor Madrid 0-3 Barcelona pada 2006. Dia membuat dua gol spektakuler yang membuat mayoritas Madridistas di Santiago Bernabeau tidak tahan duduk dan memberikan tepuk tangan untuk Ronaldinho, pernah pula seorang Lionel Messi menerima itu pada tahun 2009.

Dan terbaru dari pemain Barca adalah Andres Iniesta, yang menjadi aktor utama kekalahan 0-4 Madrid di Santiago Bernabeau musim ini, dia mendapat standing ovation dari suporter Madrid ketika digantikan menjelang pertandingan usai.

Sebuah anomali karena disatu sisi mereka kejam terhadap pemain dan bahkan legenda sendiri, namun disisi lain mereka tidak malu memberikan salute untuk pemain lain bahkan meskipun itu dari Barcelona.

Mereka juga tercatat pernah memberikan standing ovation kepada pemain non-Barca seperti Alessandro Del Piero, Steven Gerrard, Andrea Pirlo dan Francesco Totti. Apa yang dilakukan Madridistas terhadap pemain Barcelona dan beberapa pemain lain menunjukkan sebuah kesan dan wujud nyata sebagai penghormatan terhadap kualitas pemain yang berkelas dunia dan melegenda.

Tentu sangat aneh dan sebuah anomali bagi nalar kita, bagaimana mungkin Madridistas menghujat keras pemain Madrid sendiri dan memberikan standing ovation kepada pemain-pemain lawan yang bahkan itu pemain Barca?

Namun itu lah Madridistas, suporter dengan tingkah laku diluar dugaan yang menurut saya justru akan membuat cerita pertarungan El Clasico, Madrid vs Barca semakin menarik untuk senantiasa dinikmati hari demi hari.

Foto: republika.co.id

Image

Sukses? Tergantung Pelatih

Ketika kita menonton sebuah pertandingan sepakbola, maka kita akan memuji penampilan bagus yang ditunjukkan oleh pemain. Ada pula gol, dribel pemain maupun penyelamatan kiper yang membuat decak kagum dan seakan tujuan kita menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai tontonan namun juga kesenangan dalam hidup.

Apalagi sepakbola juga membawa identitas daerah ataupun nasional yang membuat kita semakin semangat dalam menikmati cerita-cerita dari si kulit bundar, lalu ditambah intrik-intrik baik didalam maupun luar lapangan hijau membuat sepakbola begitu digemari diseluruh dunia.

Jika kita mengatakan sepakbola maka itu tidak lepas dari permainan sebuah tim, namun tidak hanya itu saja karena ada sosok lain dalam sepakbola yang sangat menentukan jalannya pertandingan sepakbola, tak lain dia adalah seorang pelatih.

Ya, peran pelatih begitu penting dalam sepakbola, karena dialah yang akan meramu dan menentukan skema permainan timnya. Bagaimana sebuah tim bermain akan tergantung dari pola yang diterapkan pelatih, dialah yang menyatukan bakat-bakat pemain dengan berbagai macam sifat dan karakter itu menjadi suatu bentuk kerjasama di lapangan hijau yang tujuannya adalah untuk memenangi pertandingan.

Saat ini pelatih yang berkualitas adalah faktor penting dalam tim apabila ingin meraih prestasi, karena sehebat apapun pemainnya jika si pelatih tak mampu meramu strategi permainan yang pas dan menyatukan pemain dengan sifat dan karakter yang berbeda maka tim tersebut tidak akan tampil maksimal.

Contohnya adalah Steve Mclaren yang gagal meloloskan Inggris ke Euro 2008, padahal semua lini tim nasional Inggris dihuni pemain berkualitas, namun Mclaren gagal memanfaatkan potensi pemain-pemain yang ada.

Disatu sisi meski pemain di dalam tim tersebut kualitasnya biasa saja, namun apabila pelatihnya dapat merancang strategi permainan dengan baik dan memanfaatkan talenta pemain dengan kekayaan strateginya, tim tersebut bisa berbuat sesuatu yang lebih walaupun kualitas pemain-pemain itu biasa saja.

Bahkan tak jarang performa dan potensi pemain yang standar tersebut akan ikut terdongkrak berkat kejeniusan pelatih dalam meracik taktik permainan dalam sebuah tim.

Contohnya adalah fenomena Leicester City musim 2015-2016, dilatih oleh pelatih yang kaya pengalaman dalam dunia sepakbola, Claudio Ranieri.

Leicester menjelma menjadi tim kuda hitam dan mampu bersaing di papan atas English Premier League, padahal jika menilik kualitas tim, The Fox diprediksi hanya akan bersaing di papan bawah. Namun ternyata tangan dingin pelatih asal Italia tersebut mampu mengangkat performa tim.

Dan hasil dari kejeniusan Ranieri tidak hanya mengangkat posisi Leicester ke papan atas, beberapa performa pemain mereka juga ikut terangkat karena permainan tim yang bagus, contohnya adalah Riyad Mahrez, N’Golo Kante Jamie Vardy.

Bahkan Jamie Vardy membuat rekor dengan mencetak gol dalam sebelas laga tanpa putus di Premier League, dan memecahkan rekor milik mantan bomber United, Ruud van Nistelrooy yang cetak gol dalam 10 laga beruntun.

Pelatih berkualitas adalah dia yang mampu membuat timnya berprestasi, jika tim yang dilatih adalah Barcelona, Madrid, Bayern, atau Juventus wajar apabila mampu berprestasi karena keberadaan pemain yang secara kualitas diatas rata-rata daripada klub lain.

Tapi apabila yang dilatih adalah tim seperti Atletico, Dortmund, Porto, atau bahkan tim yang lebih kecil lagi seperti Leicester namun bisa memperoleh prestasi, kredit positif pantas diberi untuk pelatih tersebut mengingat kualitas dan reputasi yang belum satu level dengan klub besar Eropa lain.

Itu menunjukkan bahwa peran pelatih adalah krusial bagi sebuah tim, meski materi pemain dan reputasi tidak terlalu mentereng, namun dengan kemampuan mengelola tim yang baik seorang pelatih mampu mengangkat timnya untuk bersaing di jajaran atas Eropa.

Contohnya adalah Jose Mourinho semasa di Porto, dengan materi yang bukan kelas atas, dia mampu menghadirkan gelar Piala UEFA (Liga Eropa) dan Liga Champions. Sudah jelas bahwa skill dia dalam melatih klub sepakbola tidaklah sembarangan, memberikan tim seperti FC Porto dengan gelar bergengsi macam Liga Champions adalah hal yang sangat luar biasa.

Karena itu pula kualitas Porto diakui dan pemain-pemainnya menjadi komoditi laris bagi klub besar, beberapa anak didik Mourinho yang dibeli tim besar adalah Ricardo Carvalho, Paulo Ferreira, dan Deco.

Maka tak heran dia pun menjadi incaran beberapa klub untuk dilatihnya akhirnya yang beruntung adalah Chelsea dan ditambah dengan semangat baru pasca kehadiran Roman Abramovich yang membawa banyak uang, berevolusilah Chelsea menjadi klub papan atas Eropa sejak saat itu. Beberapa tahun terakhir juga muncul beberapa pelatih hebat yang mampu menghancurkan dominasi tim mapan, yang pertama adalah Jurgen Klopp.

Dibawah asuhan dia, Borussia Dortmund yang sebelumnya adalah tim biasa saja disulap dengan gaya khas Gegen pressing menjadi tim yang mampu menjungkalkan raksasa Bundesliga, Bayern Munich dan menjadi juara Liga Jerman pada musim 2010-2011 dan 2011-2012.

Tentu hal itu sangat mengejutkan selain karena Bayern adalah penguasa Jerman dan mempunyai dana berlimpah, Dortmund pun hanya diperkuat pemain-pemain muda seperti Mats Hummels, Neven Subotic, Shinji Kagawa, Mario Goetze, Lucas Barrios, Robert Lewandowski dan Nuri Sahin.

Apalagi dengan skuad muda tersebut, Klopp mampu membawa Dortmund main di Final Liga Champions musim 2012-2013. Sungguh itu adalah pencapaian luar biasa bagi tim seperti Dortmund yang secara finansial dan kualitas kalah dari Bayern, namun dengan kecerdikan Klopp, Dortmund mampu meraih berbagai prestasi membanggakan.

Tidak hanya itu, berkat kejelian Klopp memaksimalkan potensi pemain pula, muncul nama-nama pemain berkualitas di Dortmund, sebut Kagawa, Sahin, Hummels, Goetze, dan Lewandowski.

Contoh selanjutnya adalah pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Pria asal Argentina ini melatih Los Rojiblancos sejak 2011. Meski sebelum mengambil alih kuasa sebagai komando di Vicente Calderon dia bukanlah pelatih dengan prestasi yang mencolok. Sebelum datang, pengalaman dia paling banyak ketika di Argentina, dan satu-satunya pengalamannya melatih klub Eropa adalah kala menjadi pelatih klub semenjana Italia, Catania pada 2011.

Rekam jejaknya di Eropa dulu hanya bertahan setengah musim sebelum kembali ke mantan klub yang dulu ia latih, Racing Club pada pertengahan tahun 2011 itu. Dan baru pada Desember 2011 dia ditunjuk oleh Atletico untuk menggantikan Gregorio Manzano yang dianggap gagal oleh manajemen setelah serangkaian hasil buruk Atleti dibawah kendali Manzano.

Dia pun ditunjuk bukan karena track record selama karirnya menjadi pelatih, namun lebih karena kedekatan sebagai mantan pemain Atletico, namun tak disangka justru dibawah asuhannya itulah Atletico berubah tidak hanya menjadi batu sandungan, namun menjadi pembunuh dua kutub utama sepakbola Spanyol, Madrid dan Barcelona.

Jika Dortmund mampu melumpuhkan salah satu klub terbaik dunia, Bayern Munich maka Atletico lebih hebat lagi dengan sekaligus membuat dua klub megabintang dan terbaik dunia sekelas Madrid dan Barcelona kelimpungan.

Di musim pertama dia raih gelar Europa League dengan mengalahkan sesama klub Spanyol, Athletic Bilbao 3-0 di final. Lalu musim selanjutnya (2012-2013) dia sukses mengantar Atletico kampiun Piala Super Eropa (mengalahkan juara Liga Champions 2011-2012, Chelsea) dan gelar Copa del Rey dengan membekuk rival sekota, Real Madrid.

Dan sudah tentu yang paling fenomenal adalah pada musim 2013-2014, Diego Simeone berhasil memimpin pasukannya merebut title juara La Liga dan secara mengejutkan berhasil melaju hingga partai Final Liga Champions sebelum kalah secara dramatis oleh Madrid.

Keberhasilan menjuarai liga dan melaju ke final kompetisi tertinggi Eropa adalah sesuatu yang sangat spesial bagi Atletico, apalagi jika melihat kualitas pemain dan reputasi mereka yang berada dibawah bayang-bayang Madrid dan Barcelona.

Namun kejelian Simeone meramu strategi dan karakter kerja keras yang dia terapkan sangat berpengaruh bagi skuadnya, dan itulah salah satu faktor yang membuat Atletico bermain luar biasa dan pantang menyerah sepanjang laga.

Dan dibawah sentuhan tangan dingin dia pula potensi pemain-pemain Atletico yang dulunya adalah pemain biasa saja dan tak terlalu menonjol berubah menjadi pemain papan atas seperti; Thibaut Courtois, Diego Godin, Joao Miranda, Juanfran, Koke, Arda Turan, Adrian, Raul Garcia, Filipe Luis hingga Diego Costa.

Jose Mourinho (saat di FC Porto), Jurgen Klopp saat melatih Dortmund dan Diego Simeone yang mampu mengangkat reputasi Atletico adalah bukti bahwa keberadaan manajer atau pelatih adalah penting bagi sebuah tim yang ingin meraih prestasi meski materi pemain tidaklah sehebat klub-klub besar Eropa lainnya.

Mereka memberi kita contoh; uang, reputasi, dan kualitas pemain saja belum tentu menjadi jaminan akan sebuah prestasi.

Diperlukan pula kejeniusan taktik strategi dan skill kepemimpinan yang hebat dari seorang pelatih agar bisa menjadikan sebuah tim  sebagai pemenang dan juara, dan ini lah yang membuat sepakbola menjadi permainan yang unpredictable game, karena tak selamanya kualitas pemain, reputasi dan uang selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan.

Sumber foto, mirror.co.uk

Image

Apakah Benar Belgia Pantas?

Juni 2009 mereka masih terpaku di posisi 71, akan tetapi saat ini Belgia secara mengejutkan menjadi tim teratas dalam ranking tim nasional yang dirilis FIFA berdasarkan tanggal 5 november 2015.

Pencapaian ini berkat performa stabil mereka selama menjalani kualifikasi Euro 2016, ditambah selama Piala Dunia 2014 mereka bermain baik.

Peringkat pertama dalam rangking FIFA adalah sejarah tersendiri yang sangat hebat bagi Belgia, apalagi mereka juga belum pernah memenangi gelar internasional, prestasi mereka pun belum secemerlang negeri sepakbola lain seperti Inggris, Argentina, Spanyol, Perancis atau Brazil. Jadi naiknya Belgia ke posisi puncak daftar rangking FIFA adalah suatu hal yang sangat menyita perhatian dunia sepakbola saat ini.

Jika ditelisik secara prestasi, naiknya Belgia memang bisa dipertanyakan, biasanya tim yang menjadi pemuncak daftar adalah tim yang baru saja menjuarai Piala Dunia atau Piala Eropa, masuk ke babak final, atau minimal stabil meraih prestasi tinggi di tiap kejuaraan internasional yang diikuti.

Meski belum pernah menjadi juara atau prestasi besar di ajang internasional akan tetapi secara kestabilan performa tim, Belgia memang sedang on form. Setelah sukses meraih posisi di perempat final Piala Dunia, keberhasilan mereka lolos ke Euro 2016 juga menjadi faktor yang membuat kenapa Belgia bisa naik ke peringkat satu tersebut.

Apalagi tim nasional Belgia memang sedang dalam “masa keemasan” dengan dihuni oleh pemain-pemain hebat bertalenta yang bermain di berbagai klub besar di Eropa.

Dulu kita memandang tim nasional Belgia hanya dengan sebelah mata, mereka bukanlah tim yang menjanjikan apalaga dikategorikan sebagai tim kuat di daratan Eropa. Pemain yang tenar pun sangat jarang, paling hanya duo Emile dan Mbo Mpenza (era 2000’an) dan itupun tidak terlalu cemerlang.

Bahkan sejak 2004 hingga 2012 mereka tidak pernah lolos ke Piala Eropa ataupun Piala Dunia, dan barulah pada 2014 mereka lolos ke ajang besar seperti Piala Dunia dan sukses mencapai babak perempat final.

Dari segi kualitas pemain, mereka jelas kalah dengan negara tetangga Belanda yang di setiap ajang internasional masuk dalam bursa kandidat juara. Namun itu dulu, saat ini Belgia lebih superior dibanding Belanda dari segi kualitas pemain dan itupun terbukti dengan lolosnya Belgia ke Euro 2016 Perancis, sedangkan Belanda harus terima nasib menonton tetangganya yang dulu inferior, namun sekarang lebih hebat dari mereka sendiri.

         Mulai dari sektor paling belakang, penjaga gawang Belgia saat ini dikuasai oleh Thibaut Courtois. Pemain yang menjadi andalan Chelsea ini memang masih muda akan tetapi kaya pengalaman. Dia pernah menjuarai Liga Spanyol, Copa del Rey, Liga Inggris dan bahkan pernah bermain di final Liga Champions.

Tentu dia adalah aset berharga bagi masa depan Chelsea dan Belgia. Courtois mendapat pesaing terkuat dalam diri Simon Mignolet, kiper nomor satu Liverpool. Dia juga bermain baik untuk The Kop, dan akan membuat Courtois selalu waspada dan menjaga konsistensi permainan demi tetap menjadi andalan di sektor vital ini.

Belum lagi masih ada nama kiper veteran Jean-Francois Gillet (dari Machelen) yang pernah malang melintang di Serie A dan terhitung masih mumpuni meski usianya sudah tidak lagi muda.

         Untuk lini belakang, Belgia dihuni bermacam bek berkualitas. Bek tengah dihuni pemain yang sangat kokoh, yaitu Vincent Kompany. Kapten Manchester City sekaligus kapten tim Belgia adalah batu karang dilini belakang yang akan membuat pemain lawan susah menembus pertahanan Belgia.

Selain Kompany ada sosok duo Tottenham Hotspurs, Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld yang bermain baik disana. Selain itu ada mantan kapten Arsenal yang kini berseragam Barcelona, Thomas Vermaelen, kualitasnya masih ada meski sering cedera beberapa musim akhir ini.

Belum lagi ada nama pemain Dedryck Boyata mantan pemain Manchester City yang sekarang bermain di Glasgow Celtic dan pemain muda Jason Denayer, yang kini bermain di Galatasaray.

Untuk pos bek kanan ada Louis Pedro Cavanda meski hanya bermain di Trabzonspor, dia pernah menjadi andalan Lazio, ditambah Anthony Vanden Borre (Anderlecht) dan Thomas Meunier (Club Brugge), belum lagi Alderweireld juga bisa dimainkan sebagai bek kanan. Untuk posisi bek kiri ada nama pemain West Bromwich Albion, Sebastien Pocognoli dan adik Romelu Lukaku, Jordan Lukaku (Oostende). Untuk bek kiri juga bisa memakai Vermaelen, Alderwiereld dan Vertonghen di posisi ini.

Lini tengah Belgia lah yang menjadi kunci bagaimana mereka bermain baik, disini berjejal pemain berkualitas yang membuat Marc Wilmots tidak kesulitan menerapkan strateginya. Mulai dari gelandang bertahan, ada nama gelandang keturunan Indonesia, Radja Nainggolan.

Gelandang berstamina kuda ini mempunyai tugas memotong aliran serangan lawan, namun dia juga dibekali kemampuan memberi umpan yang baik dan agresifitas tinggi, sehingga dia juga bisa bermain sebagai box-to-box midfielder.

Gelandang lain adalah Axel Witsel, naturalnya dia adalah gelandang sentral, namun dia dibekali kreatifitas yang baik sehingga mampu berperan sebagai ­deep-playmaker, sehingga wajar apabila pemain Zenit St. Petersburg diincar klub top Eropa seperti AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid.

Ada juga nama gelandang eksentrik Manchester United, Marouane Fellaini. Fisiknya yang menjulang dan versatilitasnya bermain di pos gelandang bertahan, gelandang tengah, gelandang serang dan bahkan menjadi striker sangat berguna bagi Belgia. Lalu ada nama Steven Defour, mantan pemain FC Porto yang kini berada di Anderlecht yang juga bisa dikedepankan sebagai pilihan di lini tengah.

Untuk posisi attacking midfielder dan winger, Belgia sangat beruntung karena pemain di posisi-posisi tersebut sangat berkualitas. Yang paling menjadi perhatian adalah Eden Hazard, dia lah yang menjadi “metronom” inti permainan The Red Devils, julukan Belgia.

Pemain dengan kualitas terbaik di tim nasional Belgia saat ini adalah Hazard, dengan kecepatan, eksplosifitas, dribble, passing, akselerasi dan kemampuannya mencetak gol, dialah pemimpin Belgia dari segi teknis permainan, apalagi dia bisa dipasang sebagai gelandang serang atau pun sayap.

Pemain yang kemampuannya mendekati Hazard adalah Kevin De Bruyne, teknik dia bagus apalagi dia tipe gelandang serang yang mampu mengkreasi peluang dengan passing akuratnya, sehingga pemain Manchester City ini juga merupakan bagian penting bagi Belgia.

Lalu ada nama Moussa Dembele dari Tottenham yang bisa bermain disemua posisi lini tengah hingga lini depan yang tentu sangat menguntungkan bagi Marc Wilmots. Selain itu ada nama sayap-sayap eksplosif lain seperti Yannick Ferreira-Carrasco (Atletico Madrid), Kevin Mirallas (Everton), Nacer Chadli (Tottenham), Dries Martens (Napoli), tiga youngster; Adnan Januzaj (Manchester United), Youri Tielemans dan Dennis Praet (Anderlecht) yang bisa diandalkan sebagai sayap dan gelandang serang.

Posisi penggedor gawang lawan juga dahsyat, ada duo ujung tombak Merseyside; Romelu Lukaku dan Christian Benteke. Mereka berdua adalah penyerang yang bertubuh besar dan jago dalam duel udara.

Mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi pilihan utama di tim nasional Belgia, apalagi mereka membela dua kubu yang berseberangan dan menjadi rival abadi, Lukaku di Everton dan Benteke di Liverpool.

Jadilah persaingan mereka untuk merebut posisi sebagai striker utama Belgia akan semakin panas karena mereka juga membela klub yang saling bermusuhan satu sama lain. Untuk opsi lain di lini depan ada nama Divock Origi (Liverpool), namun dia tidak terlalu menonjol dan hanya menjadi pelapis di Liverpool. Selain itu, pos depan juga bisa diisi oleh Marouane Fellaini atau Mousa Dembele, yang mempunyai versatilitas tinggi.

Membludaknya talenta hebat di tim nasional Belgia juga tak bisa dilepaskan dari peran klub-klub Liga Belanda.

Memang wajar apabila banyak klub Belanda mengambil pemain muda dari Belgia, mengingat dua negara itu bersebelahan dan orang-orang Belgia juga bisa berbahasa Belanda, sehingga adaptasi bisa lebih cepat karena kultur dua negara itu pun tidak jauh berbeda.

Akan tetapi ini menjadi blunder bagi sepakbola Belanda itu sendiri, apalagi ketika pemain-pemain Belgia mampu menunjukkan penampilan yang memikat dan dibeli klub besar Eropa.

Contohnya adalah Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, Thomas Vermaelen, Nacer Chadli, Mousa Dembele, dan Dries Martens, nama mereka diminati klub besar Eropa sejak menapaki karir di Belanda.

 Sehingga kualitas tim nasional Belgia akan naik meski Liga di Belgia itu sendiri tidak terlalu bagus dibanding Eredivisie.

Artinya klub-klub Belanda seperti Ajax, PSV, Twente dan Feyenoord justru berperan dalam peningkatan kualitas tim nasional Belgia dengan banyak mengambil pemain dari negara tetangga mereka tersebut dan popularitas Belgia sebagai negeri penghasil pemain muda berkualitas pun semakin terdongkrak.

Dengan semakin terkenalnya Belgia sebagai negeri pemain muda berkualitas, membuat klub-klub Eropa juga tak jarang untuk langsung mengarahkan pandangannya ke Liga Belgia tanpa harus melalui Liga Belanda, sehingga saat ini banyak juga pemain muda dari Liga Belgia yang direkrut oleh klub-klub Eropa.

Seperti perpindahan Courtois, Fellaini, Witsel, Hazard dan De Bryune yang langsung menuju klub besar Eropa tanpa bermain di Belanda terlebih dahulu.

Sebuah ironi, disaat tim nasional Belgia berprestasi karena ada faktor “bantuan” klub-klub Belanda, tim nasional Belanda sendiri malah mengalami penurunan kualitas, karena pemain-pemainnya yang tidak terlalu kompetitif dan sebagian besar tidak bermain di klub besar Eropa (sudah dibahas di artikel sebelumnya, lihat juga artikel “Dutchman yang “Tenggelam”) dan prestasi Belgia tentu adalah kesegaran tersendiri bagi pecinta sepakbola.

Munculnya tim “baru” yang berkualitas ditataran sepakbola Eropa akan membuat persaingan di Euro 2016 nanti semakin menarik.

Belgia saat ini sedang dalam masa terkuatnya dengan dihuni berbagai pemain andalan di klub-klub besar Eropa, karena memang benar bahwa Belgia sedang dalam masa “keemasan”, mari kita tunggu gebrakan apa yang akan mereka buat di Euro nanti, masuk semifinal? Final? Ataukah mampu menjadi juara? Patut kita saksikan dengan seksama aksi Hazard dan kawan-kawan di Euro 2016 nanti.

Foto dari isportimes.com

Pemain “Kedua Belas”

Dalam sepakbola ada beberapa hal yang sangat menarik terkait perjalanan drama-drama didalamnya. Ada pemain, ada pelatih, dan ada juga suporter. Kehidupan sepakbola tidak dapat dipisahkan dari suporter, karena tanpa mereka sepakbola tidak akan dinamis.

Bayangkan pertandingan sepakbola dari awal musim hingga akhir musim tidak diramaikan oleh bising nyanyian, tepuk tangan, sorak sorai, ekspresi-ekspresi ketika terciptanya sebuah gol.

Bahkan umpatan dan siulan dari suporter tim di dalam stadion, apakah kamu rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi untuk menonton pertandingan bola tersebut?

Tentu jawaban pastinya adalah tidak. Suporter adalah elemen penting dalam pertandingan sepakbola, tanpa keberadaan mereka yang berteriak-teriak dan bernyanyi dalam stadion, sebuah pertandingan sebesar final Piala Dunia pun tentu akan kalah menarik dibanding dengan acara demo memasak ditelevisi.

Suporter jelas menjadi magnet tersendiri, pertama bagi pemain-pemain dalam sebuah klub dukungan dari mereka sepanjang pertandingan menjadi faktor penambah semangat.

Bagi pemain ketika menjalani sebuah pertandingan, para suporter juga bisa menjadi pihak yang memberi tekanan pada pemain klub lawan, siulan, ejekan dan bahkan umpatan mereka pada pemain musuh terkadang mampu merusak mentalitas pemain musuh tersebut sehingga itu akan menguntungkan pemain tuan rumah.

Yang kedua tentu saja bagi klub, mereka adalah sumber pendapatan dengan membeli tiket untuk menonton pertandingan di stadion, selain itu klub juga menjadikan suporter sebagai lahan pemasaran merchandise atau pernak pernik terkait klub seperti jersey, topi, atau pun pernak-pernik lainnya yang dapat memberi keuntungan bagi pihak klub.

Dan masih banyak pihak lainnya baik itu di dalam ataupun luar sepakbola yang terkena dampak positif karena keberadaan suporter sepakbola.

 Penonton sepakbola itu sendiri ada berbagai macam, ada yang menjadikan sepakbola dan menonton langsung ke stadion hanya karena sebagai pemanfaatan waktu luang untuk sekedar hang-out atau karena memang sengaja datang karena punya kepentingan tertentu

Ada yang datang ke stadion hanya karena senang terhadap sepakbola, ada yang datang ke stadion karena memang benar-benar mendukung tim yang diidolainya dan ada berbagai macam lagi niatan seorang datang ke stadion untuk menonton sepakbola.

Jadi munculah istilah tertentu untuk orang yang datang ke stadion untuk menonton sepakbola, untuk orang yang datang hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan menonton sepakbola atau karena punya kepentingan tertentu seperti menonton keluarga, teman atau relasi lainnya yang bermain bola, mereka dapat dikatakan sebagai penonton biasa.

Biasanya mereka kurang tertarik terhadap sepakbola, namun karena punya waktu luang, ingin mencari hiburan/rekreasi atau punya relasi dengan orang yang bermain sepakbola, sehingga mereka pun datang untuk menonton ke stadion.

Yang kedua adalah orang yang senang dengan sepakbola, mereka datang ke stadion karena memang benar-benar suka dengan sepakbola. Mereka bisa jadi mendukung tim tuan rumah atau tim lawan, atau bisa juga karena sepakbola adalah hal yang dia sukai. Mereka yang merupakan jenis kedua ini bisa disebut sebagai fans.

Mereka bisa saja mendukung tim tertentu atau juga ke stadion hanya karena senang dengan sepakbola, kedatangan mereka ke stadion juga tak mesti setiap saat ada, tidak seperti jenis ketiga dan yang paling penting keberadaannya di dalam stadion, mereka adalah supporter  bertransformasi dari kata supporting yang artinya mendukung.

Jenis penonton sepakbola yang datang ke stadion dan dinamakan suporter inilah yang membuat kehebohan, semarak, dan keriuahan dalam stadion. Mereka yang dinamakan suporter akan datang ke stadion entah kandang atau tandang demi menonton tim yang kesayangannya.

Dapat dikatakan mereka adalah orang-orang “die hard” diantara seluruh isi stadion. Mereka biasanya membentuk kelompok atau grup yang mencirikan identitas mereka sebagai pendukung tim.

Merekalah yang tiada henti sepanjang pertandingan menyemangati dan menyanyi untuk tim kesayangannya. Mereka juga lah yang selalu berusaha membuat mental pemain lawan jatuh dengan ejekan-ejekan, siulan, dan umpatan-umpatannya.

Yang membuat koreografi unik, menyalakan flare, bernyanyi, berteriak-teriak dan berbagai aksi-aksi lainnya mereka itulah yang disebut sebagai suporter, terkadang suporter juga bisa menjadi perwujudan wajah humanis klub kepada publik.

Dalam berbagai hal seperti perayaan hari penting ataupun ketika ada peristiwa yang dunia yang menyita perhatian, seringkali suporter menjadi garda terdepan dalam menyampaikan hal tersebut ataupun menyampaikan simpati terhadap suatu peristiwa.

Dengan perilaku tersebut, citra sebuah klub di publik dan masyarakat otomatis diuntungkan. Akan tetapi tak jarang mereka juga berani mengkritik kebijakan klub atau pemainan tim melalui spanduk-spanduk atau banner dalam stadion, bisa juga mereka mendatangi dan menekan pemain ketika latihan karena permainan buruk timnya. Intinya suporter adalah elemen penting bagi klub, sebagai penyedia sumber pemasukan bagi klub, pendukung pemain, pengritik klub maupun pemain.

Saat ini penamaan suporter klub berbeda-beda tiap negara, di Inggris orang yang total dalam mendukung klubnya dikatakan Hooligans¸ lalu di Italia suporter disebut dengan Tifosi, bahkan ada penyebutan lain untuk suporter garis keras (yang benar-benar cinta mati kepada klub) dengan sebutan Ultras.

Suporter menjadi bagian tak terpisahkan dari sepakbola, tanpa mereka sepakbola kuranglah sedap untuk dinikmati. Dan apalagi bagi pemain yang sedang berlaga dilapangan, dukungan mereka sangatlah penting.

Bahkan saking pentingnya dukungan suporter bagi permainan sebuah tim sampai-sampai memunculkan julukan baru untuk suporter yaitu “pemain ke dua belas” bagi sebuah tim. Dan juga semoga kerusuhan antar suporter bisa berkurang hari demi hari, amin.

Sumber foto: bola.com

Hazard, “The Next” Juan Mata?

Musim 2014-2015 dilewati Chelsea dengan baik, mereka menjuarai English Premier League dibawah manajer Jose Mourinho, apalagi salah satu pemainnya memperoleh gelar PFA Player’s Player of the Year atau penghargaan pemain terbaik di Inggris oleh asosiasi pemain professional dan Premier League Player of the Season dari FA yang tak lain nama yang meraih gelar itu adalah Eden Hazard.

Ya, permainan spektakuler Hazard di musim itu sangat membantu Chelsea, berposisi sebagai winger ataupun juga bisa sebagai gelandang serang, kecepatan dribel dan akselerasinya ketika bermain sangat berbahaya bagi para bek lawan, apalagi ditambah kelihaian memberi assist dan mampu menjadi pemecah kebuntuan dengan mencetak gol, pantaslah jika penampilannya musim lalu diapresiasi dengan gelar sebagai pemain terbaik.

Lahir dengan nama lengkap Eden Michael Hazard di La Louviere, Belgia 7 januari 1991, darah sepakbola memang sudah mengalir alami menjadi bakatnya. Hazard dibesarkan dari keluarga pesepakbola, ayahnya yang bernama Thierry adalah pemain semi profesional yang bermain sebagai gelandang bertahan di La Louviere, Divisi Dua Liga Belgia.

Sedangkan ibunya bermain sebagai striker yang pernah bermain di Divisi Utama Liga Belgia Wanita, namun dia berhenti bermain bola setelah mengandung Eden kecil tiga bulan. Hazard mempunyai tiga adik yang semuanya adalah pesepakbola, adik pertama adalah Thorgan Hazard, yang sekarang bermain di Jerman bersama Borussia Moenchengladbach, adik kedua Kylian Hazard bermain di klub Hungaria, Ujpest, sedangkan adiknya yang terkahir Ethan Hazard masih berada di akademi Tubize.

Meski berasal dari Belgia, nama Hazard justru populer ketika berada di Perancis, bersama Lille OSC nama Hazard mulai dikenal banyak orang. Eden sendiri memulai karir sebagai pesepakbola saat usia empat tahun di klub amatir lokal daerahnya, Royal Stade Brainois, setelah itu pada 2003 dia pindah ke Tubize dan disinilah talentanya tercium pemandu bakat Lille ketika berlaga di sebuah turnamen lokal.

Pada 2005 dia diangkut ke Lille, menghabiskan waktu di akademi dua tahun dan meski sudah merasakan debut profesional tahun 2007, namun Hazard baru benar-benar menjadi bagian utama tim Lille pada musim 2008-2009, ketika itu pelatihnya adalah Rudi Garcia.

Musim-musim selanjutnya menit bermain Hazard semakin banyak dan perannya dalam permainan semakin besar, dan performa hebatnya mengakibatkan dia diganjar penghargaan pemain muda terbaik pada 2009 dan 2010.

Dia juga dua kali berturut-turut meraih penghargaan pemain terbaik di Perancis 2010-2011 dan 2011-2012, puncaknya adalah ketika membawa Lille meraih double winners dengan merengkuh juara Ligue 1 Chammpionat dan Coupe de France di musim 2010-2011.

Berdasarkan peningkatan performa dan konsistensi permainan, namanya pun menjadi rebutan banyak klub-klub besar Eropa, hingga akhirnya Chelsea berhasil meyakinkan Hazard untuk pindah ke London dengan biaya transfer sebesar 32 juta poundsterling.

Berada di klub sebesar Chelsea tentu adalah tantangan tersendiri bagi Hazard, beban sebagai pembelian yang mahal dan banyaknya pesaing di tim yang juga berkualitas tentu butuh usaha ekstra keras dari Hazard.

Namun meski begitu harga mahal Hazard memang terbukti dengan kualitasnya, dia mampu bersaing dan menjadi pemain kunci The Blues. Puncak permainan Hazard adalah musim lalu ketika ikut membawa Chelsea meraih gelar juara Liga Inggris dan menjadi pemain terbaik di Inggris musim lalu.

Setelah itu kemampuan dia pun mulai diperbandingkan dengan mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi oleh banyak pelatih dan pengamat sepakbola, jadi andai pada musim selanjutnya (2015-2016) dia mampu menjaga konsistensi atau bahkan menunjukkan peningkatan performa, anggapan banyak pengamat sepakbola bahwa skill Hazard sudah selevel Ronaldo dan Messi pun benar adanya, namun apa yang terjadi adalah kebalikannya.

Performa Hazard musim ini dibilang menurun drastis, entah apa yang terjadi dengan Hazard musim ini, dia seolah-olah tidak lagi menjadi “Hazardous things” bagi pemain lawan, aksi melewati bek musuh jarang sekali kita lihat, dribel dan umpan-umpannya tidak se-magis musim lalu.

Memang yang namanya pemain bagus selalu dikawal ketat oleh lawan dan terbukti dia adalah pemain yang paling sering dilanggar di Premier League, dan hal itu bahkan sudah dialami Hazard musim lalu.

Ini artinya peningkatan kewaspadaan pemain lawan terhadap Hazard semakin meningkat, tentunya Hazard harus lebih ekstra dalam bermain sembari menjaga fisiknya agar lebih kokoh dibanding musim lalu, dan peningkatan pengawasan terhadap kebugaran Hazard juga harus ditingkatkan oleh staf pelatih dan tim medis Chelsea untuk menjaga fisik Hazard.

Namun memang apa yang terjadi diawal musim ini memang tidak terlalu baik bagi Chelsea, mulai dari “hobi” Jose Mourinho yang selalu melakukan psy-war kepada Arsene Wenger, kemarahan The Special One kepada staf medis Eva Carneiro saat Hazard mendapat terjangan dalam laga melawan Swansea, gagalnya Chelsea meregenerasi lini belakang dengan membeli John Stones, transfer panic buying Pedro Rodriguez yang terbukti gagal, dan hasil minor saat Community Shield yang menular diawal musim liga membuat Chelsea berada dibawah tekanan.

Disaat kondisi seperti itu, peran bintang seperti Hazard sangat dibutuhkan, aksi-aksi briliannya dapat menginspirasi rekan setim untuk bereaksi positif terhadap hasil buruk diawal musim, akan tetapi performa Eden justru meredup, entah apa yang membuat performa Hazard seperti itu, padahal perubahan didalam tim tidaklah begitu besar sehingga perubahan permainan Chelsea tidak lah terlalu besar.

Lalu jika melihat faktor eksternal tim, peningkatan level waspada lawan ketika menghadapi Hazard juga pastinya sudah dipahami oleh Mourinho dan Hazard sendiri, sehingga kontra strategi untuk menyiasati hal itu pasti akan dilakukan.

Pertanyaannya adalah apakah ekspektasi yang besar terhadap Hazard begitu membebani mental sang pemain?

Atau konflik antara Mou dan Eva membuat Hazard khawatir terhadap penanganan cederanya tak maksimal andai suatu saat cedera, mengingat selama ini Eva lah yang merawat Hazard karena terjangan kasar pemain-pemain di liga? Atau karena siasat permainan Hazard untuk lebih menghindari terjangan lawan justru membuat keberaniannya berduel menurun dan berdampak dengan permainannya?

Atau karena taktik yang diterapkan Mourinho yang menekankan semua pemain supaya ikut membantu pertahanan berpengaruh besar bagi Hazard? Atau karena kedatangan pemain baru (Pedro)?

Atau justru karena tidak adanya pesaing yang “sepadan” di posisinya membuat permainannya menurun? Atau karena performa pemain lain seperti Cesc Fabregas, Oscar, Diego Costa, dan Nemanja Matic yang menurun ikut berpengaruh pada performa Hazard? Atau karena keinginan Mourinho menurunkan performa Hazard?

Semua hal diatas memang bisa mempengaruhi kinerja Hazard dalam bermain, namun beruntungnya musim ini baru awal bergulir dan kesempatan untuk memperbaiki performa di musim ini masih panjang baginya, kesempatan untuk menyelamatkan muka sebagai pemain terbaik Inggris musim lalu masih terbuka lebar.

Dia harus membalik keterpurukannya diawal musim menjadi penampilan impresif di semua laga musim ini dan sekaligus mengangkat performa Chelsea, jika tidak nasibnya akan seperti mantan rekan setimnya dulu di Chelsea, Juan Mata yang dibuang oleh Mourinho meski menjadi pilar utama yang sangat penting bagi permainan Chelsea.

Juan Mata dibeli dari Valencia (dengan harga 23 juta euro) pada 2011-2012 dan langsung menjadi pemain andalan The Pensioners. Mata bisa bermain sebagai pemain sayap maupun pengatur serangan bagi timnya, total 33 gol dan 58 assist dia sumbangkan selama berada di Chelsea yang menghasilkan gelar bergengsi seperti Piala FA, Liga Champions dan Liga Eropa.

Di Chelsea dia mempunyai peran penting sebagai playmaker tim, alur serangan tim bergantung pada kejeniusan Mata melepas umpan dan mengkreasi peluang, dan karena penampilan hebatnya tersebut dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Chelsea berturut-turut yaitu pada musim 2011-2012 dan 2012-2013, dia juga masuk kedalam Premier League PFA Team of the Year 2012-2013.

          Seharusnya dengan pencapaian seperti itu membuat Mata menjadi andalan siapapun pelatih Chelsea, termasuk ketika Jose Mourinho masuk menggantikan Rafael Benitez musim 2013-2014. Akan tetapi diluar dugaan banyak pihak, alih-alih menjadikan trio Hazard-Oscar-Mata sebagai tumpuan bermain Chelsea, Mourinho justru membuat keputusan aneh membeli Willian Borges dari Shaktar Donetsk.

Dan rupanya pembelian Willian memang bermaksud untuk menggeser Mata dari tim inti dan menjadikan Oscar sebagai playmaker utama di Chelsea, dan Mata pun mulai sering dicadangkan di musim tersebut.

Mourinho berkelit bahwa alasannya mencadangkan Mata karena kemampuan bertahannya yang lebih buruk dari pada pemain depan lain, sehingga dia lebih memilih memainkan Hazard-Oscar-Willian/Schurrle sebagai gelandang penopang striker di musim tersebut, akhirnya Mata tersingkir dari tim utama.

Memang Juan Mata terlihat tidak klop dengan gaya permainan yang diusung Mourinho dimana dia menginstruksikan seluruh pemain mempunyai berkontribusi terhadap pertahanan, tidak ada pemain yang mendapat kebebasan, semua harus membantu pertahanan meskipun itu striker atau gelandang serang.

Gaya main itulah yang mematikan Mata, permainannya menurun, entah memang Mourinho yang menginginkan Mata seperti ini atau karena Mata kesulitan beradaptasi, namun dengan label pemain kelas dunia yang pernah menjuarai Liga Champions dan Piala Eropa serta kaya pengalaman seharusnya merubah gaya permainan dengan menambah sisi defensif tidaklah sulit bagi Mata.

Namun, musim ini “untung” bagi Hazard karena sekarang Chelsea sedang dalam tren yang negatif, jadi performa buruk yang Chelsea tunjukan lebih publik sasarkan kepada kesalahan Mourinho ketimbang individu pemain sehingga peluang Hazard untuk bangkit di musim ini masih sangat terbuka lebar.

Jalan satu-satunya Hazard untuk bangkit dari performa flop-nya adalah “mengangkat” kembali performa Chelsea menjadi stabil seperti musim lalu dengan aksi-aksi briliannya melewati lawan, memberi assist, maupun mencetak gol-gol yang dapat menginspirasi dan membangkitkan moral rekan-rekan tim lainnya. Atau tidak dia akan dibuang seperti Juan Mata meski dia adalah andalan tim.

Sumber gambar: chelseaseason.com

Jekyll dan Hyde seorang Allegri

Jekyll dan Hyde adalah dua nama tokoh dalam novel karya Robert Louis Stevenson dari Skotlandia, dengan judul Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang diterbitkan pada 1886.

Gambaran umum cerita novel ini adalah tentang kepribadian ganda seseorang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya. Dampak dari film tersebut sangatlah kuat hingga dalam bahasa psikologi frasa “Jekyll” dan “Hyde” menjadi penyebutan untuk karakter orang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya.

Lalu apa kaitanya dengan Massimiliano Allegri, manajer Juventus saat ini? Disini Allegri bisa digambarkan karakternya seperti frasa “Jekyll” dan “Hyde” dalam karir kepelatihannya, terutama ketika berada di dua tim terakhir yang dia tangani, AC Milan dan Juventus.

Massimiliano Allegri, pria kelahiran Livorno 48 tahun silam adalah pelatih Italia yang berbakat, bagaimana tidak dia dianugrahi gelar Panchina d’Oro (Golden Bench) di musim 2008-2009 saat mengarsiteki Cagliari, klub yang terhitung medioker, pemain yang standar, minim bintang, dan dana transfer kecil.

Meski begitu dia mampu menyulap I Rossoblu berubah menjadi tim menyerang yang atraktif dan menjadi kerikil bagi tim-tim besar Serie-A.

Tak hanya itu, dibawah kendalinya Cagliari mampu menjadi produsen pemain berbakat bagi tim nasional Italia seperti kiper Federico Marchetti, bek muda Davide Astori, trequartista Andrea Cossu, dan striker Alessandro Matri dan karena itulah nama Cagliari dan Sardinia mulai akrab di telinga tifosi Serie A pada sekitar tahun 2008 hingga 2010.

Namun layaknya klub kecil yang sedang berkembang, pemain-pemain Cagliari pun mulai dilirik klub besar, ditambah ketidaksabaran manajemen terhadap tim yang tak kunjung lolos ke zona Eropa, Allegri justru berpisah dengan Cagliari di tahun 2010 meski mampu mempertahankan tim di Serie A.

Kepergiannya disusul dengan beberapa perpindahan bintang dari stadion Sant’Elia, Marchetti pindah ke Lazio dan disusul Matri yang hijrah ke Juventus pada 2011. Sekarang ini malang justru menimpa Cagliari yang bermain di Serie B karena terdegradasi dari Serie A musim lalu.

Karir Massimiliano Allegri semakin naik ketika dia ditunjuk menjadi pelatih AC Milan pada 2010 pasca dipecat oleh Cagliari. Dimusim pertamanya menangani I Rossoneri, dia langsung sukses tancap gas dengan memperoleh scudetto.

Allegri mulai dipandang sebagai pelatih hebat, karena mampu meramu komposisi tim dengan isi pemain-pemain macam; pemain atas yang terkadang mempunyai ego tersendiri seperti Zlatan Ibrahimovic dan Antonio Cassano, pemain senior yang menjadi legenda klub seperti Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Fillipo Inzaghi, Clarence Seedorf, dan Massimo Ambrosini.

Tak ketinggalan pemain bertalenta seperti bek tangguh Thiago Silva, wonderkid Alexandre Pato, striker lincah Robinho hingga gelandang energik seperti Kevin-Prince Boateng, mereka semua bermain padu dengan skema yang diterapkan Allegri yang berbuah gelar juara liga diakhir musim.

Namun selepas kehebatan di musim 2010-2011, dimusim selanjutnya AC Milan dibawah kendali Allegri seperti kapal yang terombang-ambing di lautan, performa Milan menurun di musim kedua dan gelar juara terpaksa direbut oleh Juventus, disamping karena kelalaian Allegri membiarkan Pirlo ke Juventus.

Di bursa transfer musim panas 2012-2013, kegagalan dia memaksa manajemen Milan agar tak menjual Ibrahimovic dan Thiago Silva menghasilkan petaka dan ditambah perginya sejumlah legenda klub seperti Nesta, Seedorf dan Gattuso membuat Milan dimusim tersebut hancur lebur. Allegri sebagai pelatih tidak mampu mengatur siasat transfer sesuai kehendak dia sendiri, dia tunduk pada manajemen Milan.

Dan hasilnya Allegri hanya terima nasib pemain sekaliber Thiago Silva digantikan bek raja blunder dari Villareal, Cristian Zapata yang jelas saja membuat pertahanan Milan amburadul, ditambah perginya Nesta, duet Zapata dan Phillipe Mexes (free transfer dari Roma sejak musim 2011-2012) dijantung pertahanan sangat rentan ditembus penyerang lawan.

Lini tengah juga kurang dari kualitas yang sepadan, kedatangan kapten Fiorentina, Riccardo Montolivo, Andrea Poli dari Sampdoria, Nigel De jong dari Manchester City, dan dua pemain medioker Bakaye Traore dari Nancy dan Kevin Constant dari Chievo untuk menggantikan pemain berkelas seperti Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf dan Mark van Bommel.

Jelas itu tidak cukup dari segi kualitas, apalagi mengingat lini tengah Milan hanya tinggal diisi oleh Sulley Muntari, Michael Essien, Massimo Ambrosini, dan Antonio Nocerino. Untuk pos striker, meski ada nama Giampaolo Pazzini, Alexandre Pato, Robinho, youngster Stephan El Shaarawy dan Mbaye Niang, dirasa kurang mengingat kepergian Ibrahimovic terasa berpengaruh bagi ketajaman lini depan Rossoneri, kedatangan Mario Balotelli di paruh kedua musim itu pun dirasa terlambat untuk menyelamatkan peluang AC Milan bersaing merebut scudetto.

Sebelum musim 2012-2013 berakhir, Allegri dipecat oleh manajemen AC Milan setelah kekalahan 4-3 di kandang Sassuolo dan serangkaian hasil buruk sebelum laga tersebut, Milan hancur dimusim itu.

Performa yang berbanding terbalik dari saat juara di musim debutnya lalu melempem di dua musim selanjutnya membuat reputasi Allegri sebagai pelatih hebat mulai dipertanyakan.

Performa Milan yang bagus dimusim pertama lalu jelek dimusim-musim selanjutnya memperlihatkan Allegri bukanlah pelatih yang mampu menjaga konsistensi tim-nya untuk bersaing dipapan atas, Allegri pun menganggur setelah dipecat Milan hingga peristiwa summer 2014-2015 pun terjadi.

Musim panas 2014, adalah Antonio Conte legenda dan mantan kapten Juventus yang melatih I Bianconeri sejak musim 2011-2012 hingga pertengahan tahun 2014 yang sukses menyuntikkan kembali aura Lo Spirito Juve kedalam setiap hati pemain dan membuat Juventus meraih hattrick scudetto dari 2011 hingga 2014.

Tiba-tiba Conte secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih Juventus yang kemudian menjadi pelatih tim nasional Italia menggantikan Cesare Prandelli.

Namun tidak hanya Conte saja yang membuat kejutan, manajemen Juventus pun tak kalah hebohnya dengan mendatangkan pelatih yang reputasinya tidak terlalu cemerlang dan terhitung gagal, Massimiliano Allegri.

Ya, Allegri pun datang melatih Juventus pada musim 2014-2015, dan inilah kejutan terbesar di sepakbola Italia setelah pengunduran diri Antonio Conte atau bahkan mungkin lebih heboh dari berita pengunduran diri Conte tersebut.

Sontak saja keberadaan Allegri sebagai pelatih membuat peluang Juventus mempertahankan gelar juara dipertanyakan, apalagi Juventus dikomandoi oleh Andrea Pirlo, yang dulu semasa di AC Milan Pirlo tidak terlalu diandalkan Allegri yang membuat dia dibuang ke Juventus musim 2011-2012.

Dengan segala hal itu membuat publik ragu Juventus dibawah kendali Allegri mampu berprestasi baik di Italia maupun Eropa. Namun Allegri seperti mengalami deja vu ketika menjadi pelatih tim besar, sama seperti ketika debutnya sebagai pelatih AC Milan, dia sukses bersama Juventus pada musim pertamanya.

Tidak tanggung-tanggung, Juventus dibawanya hampir meraih treble winners di musim pertamanya! Di Serie-A Juventus mantap meraih scudetto dengan unggul jauh dari AS Roma diposisi dua, lalu di Coppa Italia dengan mengalahkan Lazio 2-1 di partai final, dan di final Liga Champions mereka memang kurang beruntung karena dikalahkan Barcelona dengan skor 3-1.

Tentu saja segudang prestasi di musim pertama sebagai pelatih Juventus membuat dia dipuja-puji oleh publik Italia, reputasinya sebagai pelatih hebat kembali pulih dengan cepat.

Di musim tersebut Allegri memang sangat brilian, allenatore berani mencoba varian taktik baru dan tidak hanya mengandalkan formasi 3-5-2 ala Conte, dia bereksperimen dengan 4-3-1-2 yang terbukti jitu diterapkan bagi pemain Juventus.

Di lini belakang, kapten Gianluigi Buffon masihlah sebagai kiper andalan, Gigi yang merupakan pembelian termahal Juventus (52 juta euro), tidak tergantikan posisinya dan hal itu pun sama dengan apa yang terjadi di tim nasional Italia.

Posisi empat pemain belakang ditempati Stephan Lichtsteiner sebagai bek kanan, jantung pertahanan La Vecchia Signora dikawal oleh Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang memang menjadi bek terbaik di Italia, lalu ada Patrice Evra disebelah kiri, sebenarnya pembelian Evra diragukan, mengingat masih ada Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie.

Namun Juventus pintar membeli Evra, dilihat dari segi permainan, Evra sudah tua dan tidak terlalu cepat lagi sebagai bek sayap, namun dari sisi kepemimpinan dan pengalamannya di Liga Champions lah yang memang diincar Juventus pada diri Evra.

Apalagi dia bisa berbicara dengan semua bahasa Latin, sehingga transfer ilmu dan sharing pengalaman dari dirinya berjalan mulus terutama kepada pemain yang masih minim pengalaman di Liga Champions Eropa.

Untuk pelapis bek, diposisi kanan ada nama Romulo, pinjaman dari Hellas Verona yang bermain baik disana sebelumnya, lalu di posisi bek tengah ada bek senior Andrea Barzagli (sebagai pelapis utama Bonucci dan Chiellini), adapula bek keturunan Nigeria; Angelo Ogbonna serta bek serba bisa Martin Caceres, di pos bek kiri dilapisi oleh Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie, dan bahkan Simone Padoin pun bisa bermain di posisi ini.

Di lini tengah Andrea Pirlo masih sebagai regista atau deep-lying playmaker, umpan-umpan terukur dan visi bermainnya adalah yang terbaik di Italia dan bahkan dunia.

Dia sangat nyaman sekali bermain Juventus saat itu, tidak seperti saat di Milan ketika dia dipaksa bermain sebagai gelandang kiri, Claudio Marchisio dan Paul Pogba menjadi gelandang penyeimbang dimana mereka saling bergantian dalam menyerang dan membantu pertahanan.

Marchisio adalah gelandang yang seimbang dalam bertahan dan menyerang, teknik dan umpannya juga bagus, dia adalah jenderal kedua di lini tengah setelah Pirlo dan menjadi partner ideal bagi Pirlo sementara itu Pogba bermain dengan agresifitas, daya jelajah tinggi dan teknik-nya yang terasa dampaknya dengan sesekali membuat gol maupun assist yang penting bagi tim.

Selain itu dengan postur tubuh yang kokoh juga membuat Pogba mudah memenangi duel merebut bola dari lawan ketika membantu pertahanan dan menyerang.

Sementara itu posisi gelandang yang tepat berada di belakang penyerang diisi oleh Arturo Vidal, dia tidak berperan sebagai playmaker, akan tetapi dia adalah mediano (gelandang yang tugas utamanya merebut bola dari lawan) yang menyaring serangan lawan sejak di pertahanan lawan, mirip seperti peran Boateng di AC Milan saat Allegri disana.

Namun meski begitu Vidal juga dibekali dengan kemampuan melepas umpan yang baik, sehingga tak jarang dia membuat assist bagi pemain lainnya. Sementara untuk pelapis lini tengah juga tak bisa diremehkan, ada dua pemain dengan versatilitas tinggi Simone Padoin dan Roberto Pereyra yang berguna disaat gelandang inti cedera atau skorsing, pemain muda berprospek cerah seperti Stefano Sturaro, hingga pemain gaek Simone Pepe.

 Untuk penyerang ada empat pemain, yang pertama dan utama adalah Carlos Tevez. Dia adalah pemain inti entah bermain melawan klub mana pun, skill dan kengototan Tevez memang berguna bagi tim, dia sering menjadi pemecah kebuntuan dengan gol-golnya, dan dia cocok dipasangkan dengan siapapun di depan.

Setelah Tevez ada striker jangkung dari Spanyol, Fernando Llorente yang sangat unggul dalam duel bola udara, gol-gol dari sundulan pun sering hadir dari dia, namun penurunan konsistensinya dalam mencetak gol di paruh musim kedua membuatnya rela digusur sebagai pendamping utama Tevez.

Penggusur posisinya tidak lain adalah sesama pemain Spanyol, Alvaro Morata yang ditransfer dari Real Madrid dengan harga 20 juta euro, meski masih muda pengalamannya bermain di Madrid sangatlah berguna apalagi ketika berhadapan dengan El Real di semifinal Liga Champions, Morata dua kali membobol gawang mantan klubnya tersebut.

Morata adalah striker dengan kemampuan lengkap, selain tubuh tinggi yang membuatnya jago di udara dia juga dibekali positioning yang baik, dribel yang lumayan dan mampu menahan bola dengan lama, mirip seperti permainan mantan striker Spanyol, Fernando Morientes.

Striker cadangan lain adalah Alessandro Matri, andalan Allegri saat masih melatih Cagliari dulu, meski jarang diturunkan namun golnya di final Coppa Italia adalah penentu kemenangan di laga tersebut yang mungkin masih banyak diingat oleh Juventini hingga saat ini. Dan diakhir musim tersebut Juventus meraih gelar juara di Serie A dan Piala Italia plus mampu lolos ke final Liga Champions, nama Allegri pun kembali populer di Italia, prestasi Allegri segera dengan cepat menghapus tangis dan kekecewaan Juventini akan kepergian Antonio Conte, namun musim selanjutnya nuansa akan déjà vu Allegri seperti ketika menangani Milan, kembali muncul.

             Sama seperti saat di Milan, di Juventus dia mampu berprestasi dimusim pertama, dimusim kedua ini (2015-2016) Juventus dibawah Allegri mengalami penurunan, tidak perkasa seperti Juventus musim-musim sebelumnya, saat ini hingga Giornata ke 9 mereka berada di papan tengah klasemen Serie-A.

Walau di Liga Chammpions mereka meraih hasil baik, penampilan mereka tak begitu meyakinkan, penyebab penurunan performa sama seperti AC Milan-nya Allegri dulu kehilangan pemain kunci dalam tim. Lagi-lagi Allegri tunduk dan patuh pada manajemen klub terkait kebijakan transfer pemain.

Dia tak mampu membuat manajemen Juventus menahan pemain penting seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal hingga Carlos Tevez, padahal mereka adalah pemain yang begitu berpengaruh bagi permainan Juventus dimusim 2014-2015.

Sama seperti di AC Milan, di Juventus pun Allegri seperti hanya terima nasib begitu saja ketika pemain-pemain kunci-nya diganti dengan pemain yang kelasnya berada dibawah mereka. 

Pengganti Andrea Pirlo (yang pindah ke New York City) adalah Hernanes yang terhitung sebagai panic buying karena dibeli dipenghujung bursa transfer setelah manajemen mengetahui tim Allegri minim kreatifitas permainan. Mungkin 2-3 tahun lalu dia adalah playmaker bagus di Serie-A namun performa dia selama di Inter tidak lah begitu menonjol, dan kalah bersaing dengan pemain muda, Mateo Kovacic.

Tentu sangat riskan jika peran sentral Pirlo yang begitu penting dalam permainan digantikan oleh Hernanes, dan itupun terlihat musim ini pada permainan Juventus yang tetap saja kurang kreatifitas dan lebih banyak permainan direct meski sudah ada Hernanes di Juventus, dan sekarang peran Pirlo akhirnya digantikan Claudio Marchisio yang bermain sebagai regista utama bagi Juventus.

Pengganti Arturo Vidal adalah pemain gratisan dari Real Madrid, Sami Khedira yang oleh banyak media dianggap transfer sia-sia karena dia adalah pemain kaki kaca yang sangat rentan cedera, dan itupun terbukti diawal kiprahnya bersama Juventus yang langsung cedera selama satu bulan.

Tentu berbeda jauh dengan Vidal yang kuat secara fisik dan lebih unggul teknik dibanding Khedira, dan transfer lainnya untuk menambal kepergian Vidal adalah pemain pinjaman asal Gabon dari Marseille, Mario Lemina yang mungkin manajemen Juventus berharap Lemina akan bersinar layaknya Paul Pogba, namun permainan Lemina sendiri tak terlalu bagus dan hanya menjadi pelapis gelandang lainnya.

Untuk posisi pengganti Tevez, Allegri lebih beruntung. Tevez digantikan empat pemain sekaligus, Paulo Dybala yang dibeli dari Palermo seharga 32 juta euro, Mario Mandzukic yang diangkut dari Atletico Madrid dengan mahar sebesar 19 juta euro dan Simone Zaza dari Sassuolo dengan biaya 18 juta euro dan pemain pinjaman dari Chelsea, Juan Guillermo Cuadrado. 

Ini adalah bentuk keseriusan manajemen untuk menambal dan memperkuat lini depan pasca kepergian Tevez. Akan tetapi kedatangan Mandzukic lebih tepat sebagai pengganti Fernando Llorente yang pindah ke Sevilla dan dia didatangkan untuk menjadi pesaing yang sepadan bagi Alvaro Morata.

Sementara itu pemain dengan gaya permaiman yang bisa menggantikan peran Tevez adalah Dybala, Zaza dan Cuadrado. Paulo Dybala adalah permata baru Argentina, musim lalu dia bermain sangat baik bagi Palermo dan kombinasinya di depan bersama Franco Vazquez begitu elegan dan mampu membuat Palermo bertahan di Serie-A.

Sedangkan aksi-aksi brilian Zaza membuat Sassuolo menjadi tim yang atraktif untuk ditonton meski Sassuolo bukanlah tim besar, dan berkat performa-nya yang bagus itulah dia dipanggil ke untuk memperkuat Gli Azzurri.

Akan tetapi mereka adalah pemain “baru” dalam tataran sepakbola Eropa, bila dibandingkan dengan Tevez, konsistensi performa dan catatan gol mereka berdua belum teruji, apalagi mereka baru beberapa tahun berkiprah di Serie-A dan bahkan belum pernah sama sekali merasakan atmosfer Liga Champions.

Tentu mereka berdua dan terlebih lagi untuk Paulo Dybala, masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola permainan Juventus, tentu beban yang ditumpukan kepada mereka untuk menggantikan peran Tevez harus dicermati dengan baik oleh Allegri, mengingat usia mereka berdua yang masih muda dan minim pengalaman Eropa, jangan sampai berpengaruh negatif bagi penampilan mereka karena mereka merupakan aset masa depan Juventus.

Sedangkan Juan Cuadrado lebih alami bermain sebagai winger, dan kedatangannya juga diragukan akan berdampak besar bagi daya serang tim karena performanya yang menurun sejak dibeli Chelsea dari Fiorentina musim lalu.

Momen keterpurukan Allegri pasca bersinar di musim pertamanya bahkan memunculkan kredo baru “Allegri’s Syndrom”, dimana tim yang ditanganinya hebat dimusim pertama dan melempem dimusim selanjutnya.

Namun kali ini Allegri mendapat sedikit keberuntungan, ketika di Milan dia tidak terlalu didukung dana klub yang memadai, sementara Juventus saat ini adalah klub yang sehat secara finansial.

Sehingga keterpurukan karena perbedaan kualitas yang diakibatkan perginya pemain kunci tidak terlalu berdampak karena pengganti yang disediakan oleh manajemen Juventus untuk menggantikan Pirlo, Tevez dan Vidal lebih baik dengan apa yang dulu diberikan manajemen AC Milan untuk menggantikan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alessandro Nesta, Clarence Seedorf yang pergi ketika Allegri menjadi allenatore di San Siro saat itu.

Meski begitu Allegri juga selalu mempunyai “landmark” bagi tim yang ditanganinya yaitu kemampuannya memaksimalkan pemain muda. Saat melatih Cagliari dia mampu memunculkan nama-nama seperti Alessandro Matri, Andrea Cossu, Federico Marchetti, dan Davide Astori kepermukaan.

Saat di AC Milan pun dia sukses membuat youngster Italia seperti Stephan El Sharaawy, dan bahkan pemain Milan primavera seperti Bryan Cristante dan Mattia De Sciglio tampil memikat di tim utama AC Milan.

Begitu juga saat melatih La Fidanza d’Italia, dia mampu memanfaatkan potensi pemain muda yang terbukti mampu memberi pengaruh bagi Juventus, contohnya adalah keberanian Allegri memainkan Stefano Sturaro di semifinal pertama Liga Champions Eropa untuk menggantikan Pogba yang absen dan terbukti Sturaro bermain impresif dilaga tersebut.

Lalu dia juga memberi Roberto Pereyra dan Kingsley Coman menit bermain yang cukup dan dibalas dengan permainan bagus mereka dilapangan ketika diberi kesempatan bermain.

Peristiwa yang dialami oleh Allegri mengingatkan kita pada cerita novel Case Strange of DR. Jekyll and Mr. Hyde.

Komparasi-nya adalah jika dalam novel tersebut “kepribadian” seseorang yang berubah dengan cepat dalam satu situasi ke situasi lainnya, maka apa yang terjadi pada Massimiliano Allegri adalah perubahan yang cepat terkait dengan konsistensi raihan prestasi klub yang dilatihnya (khususnya AC Milan dan Juventus).

Ketika mampu membawa AC Milan scudetti dimusim 2010-2011, dia begitu dipuji kemampuannya namun dua musim selanjutnya dia membawa Milan kedalam masa yang buruk, begitu pula saat menangani Juventus dia begitu hebat dimusim pertamanya ketika nyaris meraih treble winners, namun tanda –tanda kehancuran Juventus terlihat ketika mereka justru terseok-seok diawal Serie-A bergulir musim ini.

Musim 2015-2016 masih panjang dan belumlah berakhir, lalu apakah Allegri mampu melepaskan diri dari cerminan “Jekyll and Hyde” dan kredo “Allegri’s Syndrom” yang melekat pada dirinya dan mampu meraih prestasi secara konsisten? Atau justru déjà vu seperti saat di AC Milan akan kembali terjadi padanya?

Kita tidak tahu akan hal itu, karena sepakbola itu bukan matematika, lagipula “bola itu bundar” sehingga kemungkinan apapun selalu bisa terjadi dalam  dunia sepakbola.

Ya, akan tetapi mungkin hanya waktulah yang akan menjawab pertanyaan itu dan justru ”dinamika sepakbola” tersebut lah membuat publik negeri Spaghetti tertarik dan akan selalu menanti kiprah allenatore Massimiliano Allegri bersama Si Nyonya Tua musim ini.

Foto: skysports.com