Belanda, Total Football dan Masalah-masalahnya

Ah, hal apa lagi yang lebih mengasyikkan di dalam alam pikiran manusia jika bukan ingatan akan masa lalu? Masa lalu, sejarah dan nostalgia adalah sesuatu yang mahal, lagipula merawat ingatan tak bisa dinilai dengan materi apapun.

Entah suka atau duka, masa lalu akan senantiasa membersamai hidup manusia hingga masa depan. Jika ingin bukti, lihatlah apa yang terjadi dengan tim nasional Belanda saat ini.

Belanda sebagai negeri sepakbola, sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Kalau sampai anda tidak tahu apa itu Total Football di dunia sepakbola, saya rasa anda ibarat menyelami lautan, tetapi urung melihat dengan seksama seperti apa keindahan terumbu karang didalamnya.

Total Football, permainan yang menitikberatkan pada penguasaan permainan, keindahan permainan dan kolektivitas tim baik itu saat menyerang dan bertahan, telah melejit di era 70an dan memang menjadi ciri khas dari sepakbola Belanda. Semenjak munculnya gaya permainan itu, Belanda menapaki tiga kali final Piala Dunia dan menuai satu kampiun Piala Eropa di tahun 1988.

Dalam Total Football, meski terlibat dalam kolektivitas, setiap pemain dibekali teknik individu yang baik. Karena untuk menyajikan permainan mempesona dan sedap dipandang mata, tentu diperlukan olah bola yang baik pula.

Pada mulanya, Rinus Michels si penemu Total Football, meramu filosofi bermain itu di Ajax. Kesuksesan klub dari Amsterdam itu merajai Belanda dan Eropa diawal era 70an, membuat Michels pada akhirnya ditunjuk menangai timnas Belanda. Sang pelatih kemudian menginjeksi Total Football di tubuh skuat Oranje.

Keberhasilan Michels menerapkan sepakbola menyerang itu juga harus diakui memang berkat dominasi pemain Ajax di timnas Belanda. Jika Michels adalah jenderal penyusun stategi perang, maka Johan Cruyff, juga anak didiknya di Ajax, ialah komandannya di lapangan.

Berkat Total Football yang legendaris itu, sepakbola Belanda begitu disegani.
Selama bertahun-tahun, gaya Total Football menjadi cetak biru bagaimana sepakbola Belanda dibangun. Selain permainan yang enak dilihat, buah darinya, banyak pesepakbola sangat berkualitas lahir dari sepakbola negeri kincir angin.

Siapa tak kenal pemain Belanda generasi 80an semacam Van Basten, Gullit dan Rijkaard. Kemudian generasi 90an seperti Bergkamp, Koeman, De Boer atau Seedorf hingga generasi mulai melejit di milenium 2000 seperti Van Persie, Robben dan Sneijder.

Namun, sehebat apapun pencapaian manusia, tetap saja ada sedikit cela didalamnya. Total Football ala Belanda selain menarik disaksikan dan begitu menjiwai sepakbolanya, tetapi disisi lain juga menyimpan duka bersamanya.

Di era keemasan Belanda, meski dipuja-puji setinggi langit, mereka haruslah tetap menginjakkan kaki di bumi. Di Piala Dunia, mereka terjungkal dari efektifitas ala Jerman di 1974, harus kalah dari sepakbola menawan lain bernama “Menottisimo” di 1978 dan justru dilumat Spanyol di 2010, yang ironisnya Tiki-taka adalah evolusi dari Total Football itu sendiri.

Selain efek positif, Total Football bisa juga berefek negatif bagi Belanda. Positifnya, banyak pemain dari Belanda yang berkemampuan individu istimewa. Tempaan dari ideologi itu mau tidak mau menggiring mereka untuk mengeksplorasi teknik bermain sedemikian rupa, karena memang dibutuhkan ketrampilan ekstra dalam menampilkan sepakbola yang “baik” dan dominan seperti Total Football.

Tetapi, filosofi yang sudah sangat mengakar di pesepakbolaan Belanda itu, lambat laun menumbuhkan buah pemikiran dan mentalitas yang bisa dikatakan buruk. Para pelaku sepakbola dari sana entah secara sadar atau tak sadarkan diri, seakan lebih mengedepankan bagaimana bermain (menguasai) sepakbola dengan baik, daripada bagaimana bermain agar memenangi pertandingan.

Hal itu semacam penyakit. Manchester United pernah merasakan bagaimana timnya serasa didikte “how to play good (possesion ball) football”, daripada “how to win the game” ketika seorang meneer Belanda, Loius Van Gaal melatih klub tersebut. Yang lebih parah ketika itu, dengan materi yang tak mendukung untuk “Total Football”, bukannya menguasai bola dan permainan indah didapat, justru permainan menjemukan karena terlalu berlama-lama dengan bola dituai.

Hal yang sama diperoleh Everton musim 2017/18 ini. Ronald Koeman yang sukses di Southampton justru gagal di Everton pada musim keduanya ini. Setali tiga uang, Frank De Boer, yang coba menyegarkan penglihatan suporter Crystal Palace dengan possesion football-nya yang sukses di Ajax, justru menemui kekecewaan total di Inggris.

Satu hal yang tidak hilang dari setiap pelatih Belanda adalah “penguasaan bola”. Tentu hal itu tak dapat dipungkiri lagi, akibat dari jiwa pesepakbolaan Belanda yang sangat dipengaruhi oleh Total Football sejak dari dahulu kala.

Lalu, bisa kah mengatakan mental “yang penting menguasai laga” daripada “yang penting memenangi laga” ini adalah faktor utama kemerosotan sepakbola Belanda? Bisa dikatakan iya, namun tidak tunggal.

Belanda juga bermasalah dengan regenerasi pemain. Andai kata penghuni timnas akhir-akhir ini adalah pemain-pemain yang lebih berkualitas, tentu mereka mampu lebih banyak memberikan perlawanan berarti untuk melaju ke Rusia. Tetapi lihatlah skuat saat ini.

Hanya ada segelintir andalan timnas yang berasal dari klub besar Eropa. Jasper Cillessen (Barcelona), Daley Blind (Manchester United), Giorginio Wijnaldum (Liverpool), Kevin Strootman (Roma) dan Arjen Robben (Bayern Muenchen). Itu saja dengan situasi; Cillessen menghangatkan bangku cadangan Barca, Blind dirotasi dengan Matteo Darmian, Strootman dan Wijnaldum bolak-balik cedera dan Robben dimakan usia.

Netherlands' forward Arjen Robben acknow
Robben pensiun dari timnas, ketika Belanda sedang dalam masa-masa terpuruknya.

Memphis Depay memang bagus musim ini, tetapi dia sedang di Lyon, bukan Manchester United lagi. Sneijder sudah menua. Kini harapan Belanda dipanggul pemain semacam Quincy Promes dan Davy Propper. Anda belum tahu siapa mereka? Promes adalah sayap dari Spartak Moskow dan Propper itu gelandang Brighton & Hove Albion, ya.

Jika kebanyakan diisi pemain dari klub medioker dan minim pemain bintang, bisa Anda bayangkan sendiri kenapa melawan tim seperti Islandia dan Swedia saja, Belanda kesulitan bersaing.

Ketika dahulu banyak pemain Belanda menjadi andalan klub besar, kenapa sekarang banyak pemain muda Belanda yang bertebaran di klub semenjana? Tentu itu harus dijawab dengan penelitian dan kajian serius nan mendalam tentang masalah pada Belanda.

Tetapi misalnya satu contoh masalah, tentang pemain muda Belanda masa kini yang terlalu gampangnya mereka mengiyakan tawaran untuk merantau terlalu dini. Anda harusnya ingat kejadian Ricardo Kishna atau Anwar El Ghazi yang dijuluki “The Next Ronaldo”.

El Ghazi, semenjak keluar dari Ajax, kini mentok bersama Lille di Prancis. Kishna malahan kini bermain di ADO Den Haag, klub semenjana di Eredivisie Belanda, setelah gagal di Lazio. Belum lagi menghitung Luuk De Jong, Siem De Jong, Leroy Fer atau Jordy Clasie, yang sempat digadang menjadi andalan masa depan Belanda, namun kini semuanya menghilang dari radar.

Kapten Ajax musim lalu, Davy Klaassen kini terpaksa meratapi nasib menjadi “ban serep” di Everton. Bagaimana dengan Vincent Janssen? Kini dia dibuang oleh Tottenham ke Fenerbahce.

Memangnya klub-klub di Belanda tidak bisa memproduksi pemain-pemain berkualitas? Tentu saja bisa, tetapi apakah kualitas dan mental mereka terasah dengan baik, hal itu belum pasti.

Kompetisi sepakbola Belanda bukanlah yang paling kompetitif di Eropa. Selain itu, prestasi klub-klub Belanda (dengan pemain-pemain Belanda di dalamnya) di kompetisi Eropa juga surut akhir-akhir ini. Ajax, PSV dan Feyenoord tak mampu menuai sesuatu berarti di level benua.

Benang merahnya, bagaimana timnas Belanda beprestasi kalau rata-rata pemainnya ada di klub medioker dan berada di klub lokal yang minim daya kompetitifnya di Eropa? Mungkin ini bisa dijawab dengan: strategi pelatih bisa menuntaskan masalah tersebut. Tetapi, lagi-lagi Belanda juga bermasalah pada kursi kepelatihan dan manajemen organisasi KNVB.

Dalam kurun tiga tahun terakhir (semenjak ditinggal Van Gaal), De Oranje sudah tiga kali berganti nahkoda kapal. Bergonta-ganti pelatih tentu membuat stabilitas tim menuai pertanyaan besar.

Belum lagi Belanda terlalu gegabah dengan menunjuk seorang minim pengalaman seperti Danny Blind. Kesalahan juga ada di KNVB atau PSSI-nya Belanda. Mereka dituding tidak punya visi jelas, yang berujung chaos di timnas Belanda dalam kurun waktu empat-tiga tahun terkahir.

Kalau dikerucutkan, permasalahan Belanda adalah begini kiranya. Pertama, Total Football yang mulai usang dan hanyalah kejayaan masa lalu. Lagipula, permainan indah itu juga terbarengi dengan ironi Belanda diantara kehebatan dan kepahitan sejarah. Sudah saatnya Belanda move on dari nostalgia akan masa lalunya.

Kedua, Total Football yang terlanjur mempengaruhi pola pikir dan mental pesepakbolaan Belanda. Pola pikir mementingkan bagaimana memainkan sepakbola yang baik, daripada bagaimana memperoleh kemenangan, menjadi semacam penyakit tujuh turunan.

Lain daripada itu, meski pada akhirnya menghasilkan individu berbakat, mentalitas pemenang tidak tumbuh pada skuat Belanda, yang secara alam bawah sadar terbiasa mementingkan permainan bagus daripada hasil yang bagus.

Ketiga, soal regenerasi. Padahal saya yakin banyak sekali pemain muda potensial dari Belanda. Tetapi masalahnya, kompetisi di Belanda ketinggalan jauh dari negara-negara lain. Tak heran, kenapa para pemain mudanya terlalu gegabah mencoba kerasnya dunia luar, padahal disisi lain skill dan mental mereka belum siap sepenuhnya untuk itu.

Disamping godaan gaji yang lebih berlimpah jika bermain diluar Belanda. Lain daripada itu, klub-klub di Belanda juga tak kompetitif untuk ukuran Eropa, itulah kenapa Belanda tetap saja ringsek meski mengandalkan pemain-pemain andalan dari Ajax, PSV dan Feyenoord atau klub Belanda lainnya.

Soal adaptasi dengan dunia luar, pemain Belanda juga punya kekurangan. Dalam mengembangkan pesepakbola, Belanda sangat mementingkan kualitas setiap individu pemain muda. Maka tak heran, Belanda selalu bisa menelurkan bakat-bakat muda potensial. Tetapi soal materi taktik bagi pemain muda, lain lagi. Rasanya dalam mengembangkan pemain muda, otoritas disana kurang memberi porsi lebih tentang taktik.

Bisa jadi karena terpacu demam Total Football, disana pemain U-18 masih saja dijejali porsi “ball mastery” atau penguasaan teknik-teknik bermain bola yang baik. Disatu sisi edukasi teknikal semacam itu membuat kemampuan individu pemain terasah, tetapi tanpa edukasi taktik yang memadai justru menjadi blunder tersendiri. Maka tidak heran, pemain Belanda alumni Piala Dunia 2014 banyak yang tenggelam saat ini, meski performa bagus mereka membuat Belanda finis peringkat tiga.

Keempat, terlalu seringnya berganti pelatih dan tak jelasnya visi dari KNVB dalam membangun pesepakbolaan Belanda, tentu ikut berdampak pada kehancuran mereka saat ini.

Total Football memang indah, kawan. Saya bukan membenci, tetapi realistis saja. Untuk apa berkompetisi dengan menendang kulit bulat, kalau kemenangan bukan tujuan akhir?

Tak perlu lah sekiranya Belanda bermain catenaccio hanya demi memperoleh hasil. Ada contoh seperti Spanyol, yang mampu mengharmonisasikan permainan indah dengan kemenangan. Kalau dulu Spanyol sudi belajar dari Belanda tentang Total Football, harusnya sekarang mereka tak malu untuk berbalik dan belajar dari Spanyol tentang Tiki-taka, kenapa tidak?

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Jalannya hanya satu, mereka harus belajar dan sadar diri tak lagi menjadi kekuatan besar. Bahkan kini mereka tertinggal jauh dari Belgia, tetangga mereka yang dulu mereka remeh-temehkan karena kesulitan lolos turnamen besar.

Hakim Ziyech menolak panggilan Belanda dan lebih memilih timnas Maroko. Pilihan itu dikritik Van Basten sebagai pilihan tak masuk akal, karena Belanda, katanya sang legenda jauh lebih besar dari Maroko. Namun, kini Van Basten sendiri harus melihat Ziyech dan kolega bertarung di Rusia nanti, manakala dia meratapi diri tak akan melihat kaus Oranje disana pada 2018.

marco-van-basten independet
Andai kritik Van Basten untuk Hakim Ziyech terjadi delapan atau sepuluh tahun lalu, itu benar. Tetapi untuk sekarang, justru kritiknya menjadi semacam ironi tersendiri kalau tidak ingin disebut “dagelan”.

Dahulu kala, rasanya mustahil ada pemain sepakbola menolak panggilan dari timnas bereputasi besar seperti Belanda. Namun, peristiwa Ziyech menjadi gambaran bahwa, Belanda sudah tak dianggap lagi oleh pemain potensial sebagai timnas yang “besar”. Bisa jadi hal ini akan memicu pemain-pemain keturunan Belanda lainnya untuk menolak berseragam Oranje.

Kegagalan Belanda harusnya dimaknai sebagai alarm bagi mereka untuk segera berbenah, bahwa Total Football dan segala dampak pemikiran dan mentalitasnya tidak seratus persen salah, tetapi harus ada inovasi sesuai perkembangan zaman.

Lain daripada itu, ternyata federasi sepakbola mereka, KNVB juga bermasalah dan perlu segera berbenah. Kalau tidak, mungkin saja Belanda akan terhapuskan namanya dari sepak bola suatu saat nanti.

Sumber foto dari independent.co.uk dan metro.co.uk.


Advertisements

Mengenal Massimiliano Allegri: Sosok yang Progresif

Tiga pelatih asal Italia merajai tiga liga top Eropa di musim 2016/17 lalu. Antonio Conte di Chelsea (Inggris), Carlo Ancelotti bersama Bayern Muenchen (Jerman) dan Massimiliano Allegri, Juventus (Italia) berhasil juarai liga masing-masing. Untuk Allegri, mungkin keberhasilannya dipandang suatu hal yang biasa saja. Selain berada di tanah sendiri, lagipula Juventus pun begitu mendominasi Serie A beberapa musim terakhir.

Namun tetap saja sosok ini Allegri patut diberi apresiasi tersendiri. Selama tiga musim melatih Juventus, dirinya dua kali hampir membawa Juventus memenangi Liga Champions, jika tidak ditumbangkan oleh dua klub terhebat dunia di final, Barcelona dan Real Madrid.

Koleksi gelar bergengsi pelatih kelahiran Livorno 49 tahun lalu ini pun, terhitung banyak selama karirnya menjadi allenatore. Empat scudetti, tiga Coppa Italia dan dua Supercopa Italia menjadi bukti kapasitasnya sebagai pelatih jempolan di Italia.

Bicara lebih jauh tentang Allegri dengan melihat dari rekam jejaknya, barangkali catatan gemilangnya selama sampai sekarang ini merupakan cerminan dari “progresifitas” yang ada pada dirinya. Allegri ternyata merupakan pelatih yang berpikiran maju (progresif) dalam merumuskan taktik dan strategi bermain untuk timnya. Rekam jejak semenjak melatih klub-klub Serie A, akan jadi bukti bahwa Allegri memang demikian.

Debut melatih di Serie A bersama Cagliari

Massimiliano Allegri memulai petualangan di Serie A, dengan menukangi Cagliari pada musim 2008/09. Melatih klub medioker tak membuat nyali Allergi kecut dengan memainkan sepakbola bertahan. Jiwa dan pemikiran progresif ia iwujudkan melalui permainan menyerang nan atraktif, hingga membuat Cagliari finis di posisi sembilan.

Permainan menyerang di Italia terhitung suatu yang langka. Sebagai pusatnya Cattenaccio, tentu Italia tidak jauh-jauh kesannya dari sepakbola bertahan (terkadang membosankan), efisien dan efektif.

Jikapun ada tim yang bermain menyerang, hal ini lebih sering dilakukan oleh kesebelasan yang besar. Kesebelasan semenjana pada umumnya bermain defensif agar aman dari degradasi. Menggunakan strategi menyerang, bagi kesebelasan kecil di Italia, meski kadang membahayakan bagi diri mereka sendiri, tetapi disisi lain hal ini bisa dikatakan sebagai langkah yang progresif atau “berkemajuan” dibelantika sepakbola negeri asalnya pizza tersebut.

Cagliari bermain ofensif plus enak disaksikan. Meski tidak menyamai kegilaan Zemanlandia, permainan menyerang bagi tim asal pulau Sardinia itu patut diapresiasi. Berkat prestasi membawa Cagliari menembus 10-besar melalui permainan ofensif, Allegri diganjar Panchina d’Oro musim 2008/09. Gelar itu adalah penghargaan pelatih terbaik di Italia versi asosiasi pelatih sepakbola Italia.

Allegri di Cagliari
Bakat Allegri sebagai pelatih hebat mulai terbukti, ketika pernah dinobatkan menjadi pelatih terbaik di Italia walau hanya melatih klub kecil seperti Cagliari.

Merubah Milan

Sesudah di Cagliari beberapa musim, Allegri naik pangkat melatih di klub sebesar AC Milan, pada musim 2010/11. Melatih tim merah hitam, Allegri kembali melakukan langkah yang sangat progresif. Menyadari bahwa AC Milan saat itu dihuni pemain-pemain “tua” dan tidak tangguh secara fisik, Allegri melakukan perubahan yang bisa dikatakan “radikal”.

Milan yang sebelumnya sangat ofensif dengan racikan fantasia (4-2-4) ditangan pelatih Leonardo (Brasil), dikembalikan ke 4-3-1-2, seperti zaman Ancelotti. Namun bedanya Allegri tidak mengharapkan Pirlo sebagai deep-lying playmaker. Lain daripada itu, satu pemain dibelakang dua stiker, ternyata bukanlah trequrtista sungguhan.

Milan ala Allegri di musim 2010/11 bermain lebih mengutamakan keseimbangan dan tentu lebih psychical, alih-alih berteknik tinggi. Sesuatu yang sudah pasti akan mereduksi atraktifitas permainan dan menjadikan mereka kesebelasan yang pragmatis.

Allegri kala itu gemar memainkan Kevin-Prince Boateng di pos penyerang lubang atau trequartista dibelakang duet striker. Yang menarik, pemikiran progesif Allegri membawa khasanah taktikal baru bagi sepakbola Italia, terutama terkait penempatan dan peran Boateng. Pemian Ghana ini dari segi struktrur formasi dan posisi memang bermain dibelakang dua penyerang, akan tetapi di lapangan dia juga berfungsi sebagai “tameng serangan”.

Ketika Milan menyusun serangan, Boateng menjadi attacking midfileder, namun ketika Milan diserang, Boateng melakukan fungsi defensifnya guna memberi pressing dan merebut bola dari lawan, sedari lini pertahanan lawan itu sendiri.

Terkait peran unik Boateng ini, pada 2012 sepmat muncul istilah “Finto Trequartista” atau gelandang serang palsu. Saat itu media gazzeta.it melabeli peran khas Boateng dengan nama tersebut dan sekaligus juga merekomendasikan itu ke timnas Italia sebagai ekstra strategi yang bisa digunakan pada laga kontra Inggris di Euro 2012.

Gaya main Boateng pada dasarnya berbeda dari trequartista yang penuh tekhnik bermain. Walau bisa menggocek, namun harus disadari bahwa skill olah bola Ricardo Kaka atau Wesley Sneidjer, jelas lebih hebat dari Boateng. Dengan determinasi tinggi, bertenaga dan tentu unggul secara fisik, Boateng sukses jalankan peran ganda dalam satu posisi, yakni satu peran ofensif dan satu peran defensif.

Seperti yang disebutkan di buku Sepakbola Seribu Tafsir karya Edward S. Kennedy, Boateng cenderung bermain seperti gelandang serang Inggris yang punya determinasi tinggi, semacam Steven Gerrard dan Frank Lampard, diibaratkan seperti powerful dart. Kebetulan baik Gerrard dan Lampard, memang tipe pemain yang demikian. Mereka bisa menjalankan tugas bertahan dengan baik meski naluri menyerang dan power kedua pemain ini sangat diandalkan timnya.

Selain gelandang serangnya adalah “tukang rebut bola”, tiga gelandang tengah dibelakang Boateng juga diisi oleh gelandang pekerja keras seperti Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, Clarence Seedorf atau Mathieu Flamini. Maka dari itu Andrea Pirlo kian tersisihkan di musim pertama Allegri. Terlebih Milan merekrut Mark Van Bommel yang lebih berkarakter petarung, pada pertengahan musim 2010/11 itu juga.

Untuk menanggulangi ketiadaan kreator permainan ulung seperti Pirlo, selain berharap pada Seedorf atau Boateng ketika memulai permainan, Allegri juga membebankan kreativitas serangan pada duet striker yang salah satunya diisi Ibrahimovic.

Progresifitas Allegri yang lain saat itu, juga nampak pada pemanfaatan Ibrahimovic sebagai “papan pantul”. Bola usaha Ibra di udara bisa dimanfaatkan oleh striker tandemnya dan juga Boateng ketika melancarkan serangan. Milan dengan Allegri di musim pertama sukses juara Serie A 2010/2011, setelah terakhir kali scudetti pada 2003/04. Penantian panjang tentunya bagi klub besar sekelas Milan.

Tetapi bulan madu Allegri hanya sesaat. Musim kedua (11/12), disamping telah menepikan Pirlo dari skema permainan, Allegri juga telah melakukan dosa besar lain. Dosa itu adalah “menyerahkan” Pirlo ke Juventus.

Dibawah komando Antonio Conte, Juve langsung juara Serie A di musim 2011/12 dan yang unik justru Andrea Pirlo menjadi salah satu kunci kebangkitan Juve. Lucunya ketika Juventus kembali merajai Serie A berkat andil besar Pirlo, disisi lain Milan justru “kolaps” bagai kapal terombang ambing yang tenggelam di tengah samudera.

Ternyata setelah Pirlo pergi dan diikuti veteran lain seperti Nesta, Seedorf, Inzaghi, Gattuso, Oddo dan Zambrotta musim-musim berikutnya, Milan memasuki periode kelam. Diperparah krisis finansial yang mendera, mereka pun terpaksa menjual dua aset paling berharga saat itu, Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic.

Setelah gemilang hanya di musim perdana, Milan dibawah naungan Allegri perlahan menjauh dari persaingan juara di musim-musim selanjutnya. Klimaksnya yakni pertengahan musim 2013/2014, setelah serangkain hasil buruk, Allegri dipecat oleh Milan pada bulan Januari 2014.

Memberi Kestabilan di Juventus

Ibarat ketiban durian runtuh, hanya sampai di pertengahan tahun 2014 dirinya didapuk menjadi allenatore Juventus. Allegri ditunjuk menggantikan Conte, yang melatih timnas Italia. Publik sepakbola, khususnya fans Juventus mengernyitkan dahi, terlebih melihat track record Allegri yang kurang mulus selama di Milan.

Juventuni pun dibikin khawatir dengan nasib Pirlo, yang kadung menjadi pemain krusial bagi La Vecchia Signora. Semua orang tahu, yang menjadi penyebab Pirlo minggat dari Milan, adalah salah satunya akibat “ulah” dari Allegri.

Tetapi di klub asal Turin itu, Allegri kembali berpikir secara progresif. Sadar Pirlo masihlah metronom permainan Juve, Allegri tidak gegabah dengan kembali membuangnya. Saat itu peran Pirlo justru semakin kuat di musim 2014/15, musim perdana Allegri membesut Juventus.

Selain tetap mengandalkan Pirlo, Allegri yang lebih “kalem” dalam melakukan pendekatan psikologi daripada Conte yang berapi-api, juga memberlakukan fleksibilitas dalam skema permainan tim. Formasi tiga bek (biasanya 3-5-2) warisan Conte masih digunakan, tetapi Allegri juga memainkan 4-3-1-2 sebagai variasi.

Dengan preferensi formasi sama (4-3-1-2), jelas “Boateng role” tetap ada. Arturo Vidal menjadi Boateng-nya Juventus. Lalu, tiga gelandang dibelakang Vidal adalah Pirlo, sebagai pengatur tempo permainan serta Pogba dan Marchisio, yang saling bergantian dalam menyerang dan bertahan. Sementara pos depan diisi duet Carlos Tevez dan Alvaro Morata atau Fernando Llorente.

Meski tiga gelandang tengah dalam formasi 4-3-1-2, tidak semuanya bertipe gelandang petarung murni, pertahan Juve tetaplah kuat dan rapat karena diisi oleh bek-bek top timnas Italia seperti Barzagli, Bonucci dan Chiellini. Hal inilah yang sangat memembedakan Milan dan Juve dibawah Allegri. Dengan kuatnya pertahanan Juve, membuat Allegri bisa menyediakan ruang depan garis pertahan agar Pirlo bebas “menari-nari” dan berkreasi di lapangan.

Permainan Juve meningkat dan Allegri hampir bawa Juve raih treble-winners musim 2014/15, andai tidak kalah dari Barca di final Berlin. Di musim kedua Allegri, meski Juventus sempat menurun karena gugur di fase 16-besar Liga Champions, mereka tetap merajai Serie A dan Coppa Italia 2015/16.

Musim kemarin (2016/17), mereka kembali bangkit dan hampir saja meriah tri gelar andai tidak dikandaskan Real Madrid. Pencapaian Juve musim lalu juga tidak lepas salah satunya berkat progresifitas Allegri. Setelah kehilangan Pirlo, Vidal dan Pogba secara berturut-turut, akhirnya Allegri membagi-bagi tugas playmaking ke beberapa pemain.

Dengan formasi andalan baru: 4-2-3-1, tugas membagi dan mengalirkan bola diamanahkan ke pivot ganda yang diisi oleh Miralem Pjanic dan Claudio Marchisio/Sami Khedira. Pjanic sejatinya adalah mezzala atau gelandang yang berkarakter lebih aktif menyerang .

Tetapi oleh Allegri dia ditarik kebelakang dan menjalani peran “Pirlo”, yakni pengalir bola dari belakang ke tengah atau langsung ke depan, tergantung situasi permainan. Selain dibantu oleh duetnya (Khedira/Marchisio), Pjanic juga dibantu oleh Leonardo Bonucci, bek tengah yang punya visi bermain dan akurasi umpan layaknya seorang gelandang.

Dalam 4-2-3-1, untuk mengisi tiga gelandang dibelakang satu penyerang, maka dibutuhkan dua sayap dan satu gelandang serang. Sadar hanya ada satu pemain yang kompatibel menjadi winger (Cuadrado di kanan), Allegri kembali melakukan langkah progresif dengan menempatkan striker tengah, Mario Mandzukic di pos sayap kiri. Meski ditempatkan di posisi itu, bukan berarti Mandzukic harus meliuk-liuk melewati lawan seperti pemain sayap pada umumnya.

Mandzukic justru menjadi alternatif dalam kekayaan taktik Juve. Seperti Ibra di Milan, Mandzukic sang Mister No Good, disamping menjadi penyelesai peluang selain Higuain, dia juga dijadikan “papan pemantul” untuk pemain Juve yang lain.

Dengan postur 190 cm, dia akan sering menerima umpan dari belakang dan sayap Juve guna menanduk bola ke gawang dan/atau memantulkan ke pemain-pemain Juve disekelilingnya. Dia adalah wide target man seperti yang disebutkan pada permainan Football Manager.

Selain itu, Mandzukic juga melakukan peran bagi penyerang yang di sepakbola modern saat ini makin ditekankan, bertahan. Peran tambahan bagi Mandzukic yaitu menjadi “pemain bertahan kiri”, ketika lawan melancarkan serangan dari sisi kanan Juve.

Untuk posisi gelandang serang, karena Pjanic yang harusnya menjalankan peran itu sudah dimainkan di pos lain, maka Allegri memilih Paulo Dybala. Meski posisi aslinya adalah penyeran dan bukan gelandang serang, namun Dybala bisa mengkreasi serangan layaknya trequartista.

Dybala bergerak dinamis, fluid serta menjadi senjata gol selain Gonzalo Higuain. Selain itu kadang La Joya pun muncul dari lini kedua untuk mencetak gol, karena posisinya yang agak kebelakang. Ditambah kemampuan long range shoot yang keras nan akurat, ini lah kenapa Dybala sering beroperasi sedikit diluar kotak penalti demi mencoba tendangan jarak jauh.

Formasi 4-2-3-1 juga punya varian lain. Alves menggantikan Cuadrado, bek kanan diisi Barzagli. Ketika bertahan, formasi ini bisa menjadi 4-4-1-1, Mandzukic juga turun menjadi gelandang kiri, melapisi Alex Sandro di sisi kiri pertahanan dan Alves sebagai gelandang kanan akan melapisi Barzagli.

Hasilnya kita tahu, meski kembali gagal menjuarai Liga Champions, Juve setidaknya sudah sangat diperhitungkan di Eropa. Kini, Juventus sedikit demi sedikit menjelma dan menyejajarkan diri untuk menyamakan level dengan Real Madrid dan Barcelona.

Kelemahan dari Allegri

Meski sosok yang progesif, Allegri tetap mempunyai kelemahan yakni terlalu lunak terhadap manajemen bilamana urusan transfer datang. Ketika di Milan, kepergian Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic hanya dikompensasi Cristian Zapata dan Mario Balotelli atau Giampaolo Pazzini.

Setali tiga uang, kepergian beberapa gelandang senior seperti Seedorf, Ambrosini atau Gattuso kurang dari cukup jika hanya diganti oleh Nocerino, Montolivo atau Poli. Terlebih untuk menggantikan legenda-legenda itu, didatangakan pula pemain antah berantah seperti Bakaye Traore, Kevin Constant, Valter Birsa atau sesama old crack macam Michael Essien dan Sulley Muntari.

Di Juve, Allegri masih diuntungkan ketika kepergian Pirlo, Vidal dan Pogba disubtitusi oleh Khedira dan Pjanic. Bahkan perginya Tevez dan Morata diganti pemain yang tidak kalah berkualitas, Higuain dan Dybala. Di Juve pun, Allegri mendapat bonus tambahan berkat popularitas Juve makin naik hingga berhasil menarik minat pemain sarat akan “DNA” Eropa, seperti Patrice Evra dan Daniel Alves.

Progresif dalam sepakbola modern

Progresifitas Allegri dalam menyiasati taktik yang tepat dan sesuai dengan ketersediaan pemain, sangat menguntungkan Juventus. Meski hampir selalu ditinggal pemain-pemain penting di setiap musimnya, Juve tetap mampu juara Serie A, Coppa Italia dan bahkan dua kali menjadi runner-up Liga Champions selama tiga musim terakhir dibawah kendali Allegri.

Mungkin ada semacam “norma” bahwa sepakbola yang terbaik adalah yang mempertahankan idealisme (seperti istiqomah-nya Barcelona dengan tiki-taka). Tetapi Barca kini pun tak bulat dalam menjaga idealismenya. Terkadang mereka juga “berkhianat”, dengan sesekali memainkan operan-operan panjang langsung ke depan saat bermain.

Dalam sepakbola modern yang didalamnya memunculkan banyak kompleksitas, berpikir progresif seperti Allegri terkadang sangat diperlukan. Mencerna berbagai ide dan merangkum segala posibilitas demi menuai target yang diinginkan, kenapa tidak?

Sumber foto: goal.com dan zimbio.net

Tak ada Rotan, Akar pun jadi versi AS Roma

Bagi sebuah klub sepakbola, menggunakan jasa direktur olahraga sudah bukan rahasia lagi. Meski urusan transfer bisa dibebankan kepada pelatih, pos direktur olahraga dirasa semakin penting dalam sepakbola modern kini yang penuh kerumitan dalam birokrasi. Jabatan direktur olahraga (sporting director) dalam struktur manajemen akan diberi tupoksi untuk mengurusi lalu lintas transfer pemain.

Bila berbicara direktur olahraga, salah satu yang disebut-sebut sangat mumpuni adalah sosok yang disebut “Monchi”. Pria asal Spanyol bernama asli Ramon Rodriguez Vardejo itu menjabat direktur olahraga AS Roma kali ini. Pernah santer dirumorkan bakal digamit oleh klub besar seperti Real Madrid dan Liverpool, tentu menunjukan kalau orang ini bukan nama direktur olahraga sembarangan.

Sebelum ke AS Roma, karir Monchi sebagai direktur olahraga mulai benderang di Sevilla sejak 2000. Klub asal wilayah Andalusia inilah klub pertama yang merasakan servis Monchi sebagai direktur olahraga. Kecemerlangan Monchi sudah teruji dengan mendatangkan banyak pemain harga miring namun dijual mahal beberapa tahun kemudian setelah tampil bagus di Sevilla.

Sebut saja Daniel Alves, Adriano, Ivan Rakitic, Carlos Bacca, Gregorz Krychowiak, Geoffrey Kondogbia atau Kevin Gameiro. Nama-nama diatas yang direkrut semasa Monchi menjabat direktur olahraga Sevilla, menghasilkan pundi-pundi euro yang banyak bagi klub. Itu pun masih ditambah kesuksesan Monchi menaikan harga pemain-pemain potensial dari akademi seperti Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos dan Jesus Navas dengan harga yang selangit.

Selain jaringan pemandu bakat yang sangat luas, keberadaan master transfer seperti Monchi sangat krusial bagi Sevilla yang tak punya kondisi finansial hebat seperti klub-klub besar. Monchi adalah jaminan bagi Sevilla untuk tetap kompetitif dengan pemain bagus, namun yang berharga murah. Empat trofi Liga Europa yang Sevilla rengkuh dengan pemain-pemain hasil kerja transfer Monchi adalah bukti tak terbantahkan lagi.

Saat ini kepindahan Monchi ke AS Roma tentu memicu antusiasme tinggi dari fans. Sudah sangat lama trofi scudetto belum singgah lagi ke ibukota Italia, sejak terakhir kali pada tahun 2001 lalu. Kedatangan Monchi memicu gairah baru yang seakan menandakan Roma siap menjadi penantang serius gelar juara.

Bergabungnya sosok yang menjadi kiper sebelum pensiun ini diharapkan mampu memberi kestabilan bagi Roma, terutama dalam usahanya meraih berbagai trofi prestisius dan juga membangun reputasi sebagai klub yang mapan. Tetapi membaca gelagat kedatangan Monchi ke AS Roma, sebenarya harapan menjadi juara dan terutamanya Serie A, belum akan datang dalam beberapa musim kedepan.

Seperti diketahui, AS Roma dibawah presiden orang AS berdarah Italia, James Pallotta, sedang melancarkan proyek pembangunan stadion baru. Tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merampungkan hal itu.

Jika dirunut, maka pertemuan Monchi yang punya rekam jejak pencari pemain murah untuk dijual mahal dengan Roma yang sedang butuh dana pembangunan stadion akan menghasilkan sebuah premis bahwa; Monchi didatangkan untuk menstabilkan keuangan AS Roma terlebih dahulu, bukan langsung menargetkan trofi.

Bukti awal sudah kentara, ketika pilar inti seperti Mohamed Salah dilego ke Liverpool dengan mahar 39 juta pounds. Tak cuma itu, pemain-pemain penting lain juga santer sedang dipertimbangakan untuk dijual. Kostantinos Manolas dan Antonio Ruediger masing-masing diisukan ke Zenit St. Petersburg dan Internzionale dan Chelsea. Yang juga membuat miris, Radja Nainggolan kabarnya akan direkrut Manchester United. Jika kesemua berita itu benar-benar terealisasikan, akan benar-benar menjadi kehilangan besar bagi AS Roma.

Tugas Monchi disinyalir akan meneruskan tradisi direktur olahraga Roma sebelumnya, Walter Sabatini untuk mencari pemain muda yang murah dan kemudian dijual semahal mungkin seperti Erik Lamela, Marquinhos, dan Miralem Pjanic.

Peluang demikian semakin kentara ditambah faktor pelatih baru Roma, Eusebio Di Francesco yang menggantikan Luciano Spalletti, adalah orang yang mengorbitkan talenta-talenta hebat “tak bertuan” semasa di Sassuolo. Nama-nama didikan Di Francesco yaitu Domenico Berardi, Nicola Sansone, Gregoire Defrel, Matteo Politano dan Lorenzo Pellegrini.

Melihat kabar mercato sejauh ini (6 Juli 2017), pemain-pemain yang sudah didatangkan ke Roma juga bukan nama besar. Perjudian besar Monchi lakukan jika Hector Moreno (PSV) dan Rick Karsdrop dari Feyenoord jadi menggantikan Manolas dan Ruediger, yang sudah sangat nyetel di Serie A. Kontrak Wojciech Szczesny juga belum punya kepastian karena Roma masih punya kiper internasional Polandia yang lain, Lukasz Skorupski (dipinjamkan ke Empoli).

Untuk menggantikan Mohamed Salah, Roma dikabarkan menghubungi sayap andalan Stoke City, Xherdan Shaqiri. Tetapi melihat reputasinya, Shaqiri bukanlah pengganti sepadan Salah, lagipula Shaqiri pernah gagal ketika di Italia bersama Internazionale.

Selain itu Roma dikabarkan memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo. Calon gelandang masa depan Italia ini merupakan produk akademi AS Roma. Kedatangan Pellegrini terhitung penting disamping penambahan kualitas tim. Pellegrini akan mengguatkan kembali komposisi putra asli Roma, yang saat ini hanya ada dua di tim; Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi pasca kepergian il capitano Francesco Totti.

Cenderung adem ayem tidak mengincar nama besar di bursa transfer dan justru akan menjual aset-aset terbaiknya, menjadi bukti bagaimana kejelasan rencana Roma bersama Monchi; menuai profit dari pasar transfer. Pembangunan stadion yang memakan dana besar menjadi alasan kuat AS Roma membutuhkan seorang juru transfer seperti Monchi. Diharapkan orang ini mencari bakat yang tidak terlalu terekspos (harga murah) kemudian menjual mahal beberapa tahun kemudian.

Bagi fans AS Roma, tentu muncul rasa kecewa dengan langkah klub dalam bursa transfer di pertengahan tahun 2017 ini. Bukannya memperkuat tim yang sudah mulai stabil, justru kembali bongkar pasang susunan pemain yang terjadi.

Sulit bagi Roma mengulang prestasi musim lalu (runner-up), belum lagi musim depan Roma kembali berlaga di Liga Champions. Dengan langkah transfer yang sangat jauh dari memuaskan sampai saat ini, apakah Roma akan tetap bertaji di Serie A sekaligus di Eropa? Sepertinya sulit terjadi, walau sekedar hanya membayangkan.

Kalau hanya mencari pemain murah yang kemudian dijual mahal, tak perlu repot mengkontrak Monchi sebagai direktur olahraga, Walter Sabatini saja sudah cukup bagi Roma. Erik Lamela, Marquinhos, Pablo Osvaldo dan Miralem Pjanic bukan primadona transfer kala didatangkan Sabatini, namun nyatanya kemudian berhasil dijual dengan harga yang terhitung mahal.

Kevin Strootman, Radja Nainggolan, Kostantinos Manolas, dan Antonio Ruediger “belum pemain jadi” ketika didatangkan, namun yang pasti saat ini, untuk merekrut mereka dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu Sabatini juga berhasil menemukan bibit-bibit muda menjanjikan semacam Leandro Paredes dan Emerson Palmieri.

Pada akhirnya, antusiasme yang muncul ketika awal kedatangan Monchi akan menguap begitu saja dengan melihat gelagat Roma di pasar transfer saat ini. Impian untuk menyaingi Juve dalam perburuan scudetto harus kembali dipendam oleh tifosi Roma, apalagi berbuat banyak di Liga Champions.

Scudetto sepertinya belum akan bertambah di lemari trofi AS Roma, meski baru saja kedatangan direktur olahraga baru yang sangat mumpuni. Pertautan antara si jenius Monchi dalam mencari pemain murah untuk dijual mahal, dengan Roma yang butuh dana pembangunan stadion dalam jangka waktu panjang, menjadi argumentasi logis untuk meragukan Roma bakal scudetti dalam beberapa musim kedepan.

Setidaknya jika tifosi Roma sukar untuk berharap pada cita-cita scudetto, masih ada trofi lain yang sering mantan klubnya Monchi dapatkan, yakni Liga Europa. Sevilla pernah empat kali menyabet gelar juara Liga Europa dengan pemain-pemain rekrutan Monchi dahulu kala. Bagi Roma barangkali peribahasa “tak ada rotan, akar pun jadi” dengan keberadaan Monchi seharusnya berarti “tak ada scudetto, Liga Europa pun jadi”.

Sumber foto dari Gazzetta.it

Upin & Ipin dan Tsubasa; Otokritik Tayangan Bola Anak di Indonesia

Serial animasi anak-anak Upin & Ipin populer tidak hanya di tempat asalnya, Malaysia tetapi juga di negeri kita, Indonesia. Cerita dalam Upin & Ipin ini pun tidak terlalu berat, karena hanya berkutat latar kehidupan sehari-hari seperti bersekolah, beribadah ataupun anak-anak yang bermain.

Upin & Ipin mudah digemari karena cerita yang kontekstual dengan kegiatan sehari-hari anak-anak dan juga hal-hal jenaka didalamnya. Animasi garapan rumah produksi Les’ Copaque yang mulai dirilis pada 2007 ini bernuansa pedesaan dan menggunakan bahasa Melayu serta menonjolkan berbagai kebudayaan khas Malaysia.

Demi menembus pangsa Asia Tenggara dan salah satunya untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak Indonesia, dimasukkan lah karakter anak asal Jakarta, Susanti yang sering berbahasa Indoesia dan menonjolkan hal yang identik ke-Indonesia-an. Maka jadilah Upin & Ipin semakin mendapatkan tempatnya dalam benak pikiran orang, terutama anak-anak Indonesia.

Selain bahasa Melayu yang membuat Upin & Ipin ini unik dimata orang Indonesia, serial kartun ini juga tidak ketinggalan menyisipkan nilai budi pekerti dan semangat mengejar cita-cita. Padahal, hal-hal seperti itu sudah jarang dirasakan, terutama tontonan untuk anak-anak Indonesia. Tergerusnya tontonan khusus anak secara gradual beberapa tahun ini, harus menjadi catatan penting untuk kita semua. Anak-anak di Indonesia pada saat ini, sebenarya kurang tontonan berkualitas yang sarat akan nilai positif dalam membentuk karakter.

Demi mengejar rating televisi, banyak tontonan anak di Indonesia yang dikurangi serta tergantikan tontonan berkonten dewasa. Terkait dengan dunia sepakbola, serial anime anak-anak seperti Upin & Ipin pun bisa dijadikan sebagai otokritik (kritik atau refleksi diri) untuk tayangan anak-anak di Indonesia, khususnya yang bertema sepakbola.

Dalam sebuah serial season 4 pada salah satu bagian di episode “Anak Harimau” bagian pertama, ada cerita dimana karakter-karakter dalam Upin & Ipin itu heboh membicarakan tentang sepakbola, khususnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang mengena dari cerita tersebut adalah bagaimana animasi Upin & Ipin, mengkonstruksi rasa nasionalisme untuk sepakbola Malaysia (beserta kritiknya). Kemudian tayangan itu mengedukasi anak untuk bercita-cita menjadi pemain timnas Malaysia. Tak lupa di episode ditampilkan cerita lain yang berkaitan dengan hal-hal berbau sepakbola yang bertujuan menyambut event olahraga empat tahunan tersebut.

Ceritanya di episode tersebut, ketika para orang-orang dewasa bertemu di warung Paman Mutu, mereka membicarakan Piala Dunia di Afrika Selatan yang hampir dimulai. Ketika berdialog tentang siapa yang akan menjuarai Piala Dunia, Upin & Ipin kompak menyebut Malaysia. Sontak saja kelakar mereka ditertawai oleh Wak Dalang, kakeknya Upin & Ipin sendiri. Wak mengatakan bahwa timnas sepakbola Malaysia belum mampu masuk Piala Dunia, mentok hanya sampai Olimpiade saja, kata dia.

Akibat pernyataan sang kakek itu, Upin & Ipin jadi bingung dan penasaran kenapa Malaysia tidak mampu masuk Piala Dunia. Kemudian hal itu begitu terngiang dikepala mereka, hingga kemudian diceritakan begitu sampai di sekolah, yang sampai-sampai membuat heboh suasana kelas.

Apa yang Upin & Ipin dkk bicarakan lalu didengar oleh Cek Gu (guru kelas), sesaat ketika dia akan datang guna mentertibkan kelas. Cek Gu mengatakan bahwa anak-anak tak perlu kecewa karena tak dapat ke Afrika Selatan, toh bisa nonton Piala Dunia di tv tanpa harus kesana.

Kemudian Cek Gu berujar bahwa jika anak-anak tekun belajar dan bersungguh-sungguh menjadi pemain bola, mereka bisa bermain untuk timnas Malaysia suatu kelak. Anak-anak pun berteriak penuh semangat dan bergumam ingin menjadi pebola hebat kelak suatu hari nanti. Ini adalah bentuk penanaman nilai bagi penonton (anak-anak) bila mereka rajin belajar dan serius menggapai cita-cita, masa depan (sebagai pebola akan cerah dikemudian hari). Kemudian bergantilah scene ketika Upin & Ipin cs bermain sepakbola dengan kertas.

Apa yang diceritakan di Upin & Ipin pada season 4 “Anak Harimau” bagian pertama seharusnya dijadikan otokritik untuk indoktrinasi cinta sepakbola bagi anak-anak di Indonesia. Daripada Indonesia hanya tertegun akan kelucuan dan keunikan Upin & Ipin, seharusnya bangsa ini (melalui film, kartun atau animasi anak-anak) juga bisa melakukan hal yang sama untuk sepakbola Indonesia, sepeti apa yang Upin & Ipin lakukan terhadap sepakbola Malaysia; mengedukasi anak-anak dengan sepakbola sejak dini.

Dalam episode 4 “Anak Harimau” itu, anak-anak diajak oleh Upin & Ipin untuk menyadari fakta tentang ketertinggalan sepakbola mereka (sebuah kritik sosial tentunya) dan berusaha membangkitkan kecintaan akan sepakbola dengan sembari menanamkan rasa nasionalisme terhadap negaranya, Malaysia. Upaya Upin & Ipin untuk membentuk kesadaran dan kecintaan anak-anak pada sepakbola, pun ditambahi dengan menampilkan adegan anak-anak bermain sepakbola kertas di kelas akibat demam Piala Dunia.

Otokritik bagi kita adalah menyadari bahwa hal-hal semacam yang ada di Upin & Ipin episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu sudah jarang muncul di Indonesia. Sekalipun ada beberapa tontonan anak bertema “sepakbola” seperti Ronaldowati dan Si Madun. Penanaman cinta pada sepakbola yang dibalutkan nasionalisme melalui tontonan anak hampir mustahil ditemui akhir-akhir ini.

Untuk membentuk karakter generasi bangsa yang sadar jiwa nasionalisme dan cinta sepakbola, seyogyanya dimulai sejak di usia dini. Toh, patut disadari dalam membentuk kepribadian seorang anak, harus pula dimulai ketika seseorang masih kecil sehingga proses indoktrinasi lebih kuat.

Melihat kondisi terkini, tontonan bertema sepakbola untuk anak-anak sangat jarang ada. Ronaldowati dan Si Madun sudah tidak ada dan Tsubasa sudah jarang muncul di layar kaca. Itupun kalau boleh jujur, tontonan seperti Ronaldowati atau Si Madun hanya menonjolkan kesan action semata, kurang maknawi akan penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta sepakbola, seperti apa yang ditunjukkan Upin & Ipin dan juga Captain Tsubasa.

Upin & Ipin, meski adalah tontonan anak-anak yang sangat ringan, tetapi melalui tayangan dalam episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu, jelas menjadi gambaran bagaimana Malaysia punya keinginan kuat membangkitkan sepakbola. Caranya? Dimuali dengan mengedukasi anak-anak agar peduli dan cinta sepakbola sekaligus negaranya dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian beralih ke anime Jepang dengan simulasi karakter Captain Tsubasa Ozora yang begitu semangat nan gigih meniti karir sepakbola setinggi langit. Hal ini juga mencerminkan besarnya semangat bangsa Jepang (seperti Tsubasa) untuk menunjukan kekuatan sepakbola mereka pada dunia.

Dalam tontonan sepakbola anak Indonesia seperti Ronaldowati dan Si Madun, sebenarnya tetap ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran penting. Namun itu tidak sebanding dan sering tertutupi dengan aksi-aksi tak logis dalam cerita (yang konon lebih penting untuk rating tv semata).

Selain terkadang valueless, Ronaldowati dan Si Madun dalam ceritanya juga lebih sering memainkan sepakbola “antar kampung” (tarkam). Berbeda dengan Tsubasa yang menampilkan gambaran kenyataan nan alami dalam sepakbola seperti; bermain di sekolah, kemudian di tingkat klub, pindah ke luar negeri, main di timnas Jepang dan masuk Piala Dunia. Tsubasa mengajarkan untuk berani bercita-cita melanglang buana ke dunia, karena sepakbola itu global.

Ketika anak-anak Jepang diinspirasi oleh “karir cemerlang” Tsubasa sebagai pebola yang mendunia, disatu sisi layakkah anak-anak di Indonesia (dalam cita-citanya menjadi pesepakbola) terinspirasi juga oleh “karir” Madun yang cuma main sepakbola antar kampung?

Bahkan (parah) sampai-sampai menyelam ke lautan dan membongkar harta karun yang tak ada kaitan dengan kenyataan dalam dunia sepakbola? Apakah mindset yang kurang berani “mengglobal” ini, juga merupakan cerminan khas pemain-pemain Indonesia yang tidak betahan dan terlihat kurang endurabilitas-nya ketika main di luar negeri?

Selain kurang luas dalam mengkesplorasi cakrawala dunia sepakola, adegan-adegan dalam cerita di dua film anak sepakbola Indonesia itu pun terlalu sering mengada-ngada dan terlalu jauh kesannya dengan “sepakbola”. Terkadang fantasi pada tontonan sepakbola anak di Indonesia berlebihan.

Bisa diperbandingkan, ketika Jepang mendidik ingatan dan semangat anak-anak terhadap sepakbola dengan tontonan perjuangan pantang menyerag ala Tsubasa yang bercita-cita main diluar negeri serta membela timnas Jepang, sedangkan Malaysia mengemas propaganda nasionalisme dan sepakbola melalui serial animasi macam Upin & Ipin untuk budak-budak (anak-anak) di negeri jiran itu, bagaimana dengan Indonesia?

Saya bukan tidak suka dengan tayangan (Ronaldowati dan Si Madun) itu, karena saya pun pernah menonton dan terhibur karenanya. Tetapi sebatas terhibur, itu saja. Tak ada nilai-nilai kehidupan yang benar-benar coba disuguhkan pada generasi muda kita, selain aksi sepakbola magis atau sihir (sangat hiperbola) saja didalamya. Pun fakta tak menyenangkannya lagi, sangat jarang ada tontonan bola anak saat ini dari stasiun-stasiun televisi Indonesia.

Gairah sepakbola Indonesia harusnya digerak-bangunkan sejak usia dini melalui tontonan sepakbola anak, untuk membentuk generasi Indonesia yang benar-benar menjiwai sepakbola plus rasa nasionalisme secara disaat yang bersamaan.

Melalui Upin & Ipin dan Captain Tsubasa, sejenak menjadi cerminan kalau bangsa ini perlu membentuk kesadaran dan kecintaan pada sepakbola dan rasa nasionalisme sejak dini melalui tontonan berkualitas. Semoga dengan menyadari antusiasme tinggi bangsa Indonesia akan sepakbola, akan segera muncul tontonan sepakbola anak yang “layak”, bagi generasi baru bangsa ini. Semoga.

Sumber foto: Republika.co.id

Menjiwai Kampanye Support Your Local Club dengan Bijak

Ketimpangan pembangunan antara pusat-pusat pemerintahan dan daerah begitu terasa. Terlebih ketika sebuah negara dikelola dengan sistem yang sentralistik, zaman Orba bisa dikatakan seperti itu. Dahulu kala daerah tidak memiliki banyak ruang untuk mengekspolarasi diri mereka karena semua dikendalikan oleh pusat.

Namun seiring bergantinya rezim dan munculnya era baru, reformasi, arah pembangunan nasional mengalami semacam “deflected”. Daerah pun kini menjadi tumpuan dalam pembangunan bangsa Indonesia ini.

Diberlakukanya otonomi daerah dengan payung hukum UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta UU nomor 11 tahun 2014 tentang Desa, setidaknya menjadi semacam katalis bagi daerah agar dapat mengelola “dirinya sendiri”, begitu juga desa dengan besarnya gelontoran dana desa saat ini.

Bagai terilhami, semangat reformasi bernuasa demokratis dan menjadikan daerah sebagai pilar pembangunan bangsa ini, juga sepertinya meresap dalam relung dunia sepakbola tanah air. Munculnya kampanye “Support Your Local Club” barangkali dijadikan padanan-nya.

Seruan “Support Your Local Club”, begitu nyaring terdengar akhir-akhir ini. Tidak lain berujuan demi membangun dan menyemarakkan sepakbola Indonesia di level nasional, maka sepakbola juga harus dibangun, disadari, dirasakan dan dinikmati eksistensinya di tingkat daerah-daerah.

Meski, terkadang orang mengekspresikan jiwa sepakbolanya, bukan dengan jalan mendukung klub daerahnya. Bahkan ada yang cenderung lebih memilih bereuforia dengan membanggakan klub-klub luar negeri, tidak mengapa karena itu pilihan. Lagipula seperti apa kata Bob Marley,  football is freedom.

Terkait kampanye ini, maka sepakbola wajarnya diinisiasi dari daerah, karena seperti apa bentuk dan wajah sepakbola (nasional) Indonesia ini, juga sangat bergantung dari bagaimana-nya perkembangan sepakbola di daerah. Linier, seperti konsepsi atau wacana tentang pembangunan nasional yang berorientasi daerah, bukan?

“Support Your Local Club” atau bahasa Indonesia-nya, dukunglah klub daerah/asal mu, kini memantik masyarakat di daerah untuk antusias pada klub asal daerahnya sendiri.

Dengan menjadikan klub daerahnya sebagai apa yang sering dinamai “kebanggan”, membuat orang saat ini hari demi hari, makin peduli pada identitas klub kebanggaan daerahnya sendiri.

Seruan untuk mendukung klub asalmu itu muncul dikalangan suporter. Harapan yang diapungkan dari hal ini yaitu dengan mengkonstruksikan rasa bangga, cinta dan peduli pada klub (sepakbola) lokal, maka perkembangan sepakbola “dirumah sendiri” bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Dalam hal ini suporter bisa berekspresi dan mengaspirasikan apa yang mereka rasakan dan inginkan untuk kebaikan klub.

Secara positif, disisi lain ada efek domino pula dari seruan ini, yaitu adanya kemungkinan seruan ini yang secara tidak langsung, bisa mengedukasi para suporter untuk juga peduli pada apa saja dinamika yang terjadi di daerahnya sendiri.

Toh, urusan sepakbola pun tidak melulu bersangkut paut hanya dengan olahraga saja. Ada aspek lain seperti kebijakan daerah ataupun perihal sisi ekonomi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat awam.

Kini berkat kampanye yang menyerukan “support your local club”, daerah dengan kultur sepakbola yang sebelumnya tidak begitu kental seperti Wonosobo, misalnya. Secara perlahan mulai bangkit dan bertumbuh komunitas-komunitas lokal disana, untuk menunjukkan dukungannya pada identitas klub kebanggaan daerah tersebut, PSIW Wonosobo.

Meski sangat bagus untuk perkembangan sepakbola di keseluruhan wilayah yang ada di republik ini, untuk menjiwai seruan kampanye itu, harus pula dengan bijak. Jangan sampai dalam menjiwai dan memaknai seruan kampanye tersebut, kita justru terjerumus pada tribalisme kedaerahan yang bisa bersifat ultra-ekslusif ataupun membentuk sikap primordialitas (kedaerahan) yang berlebihan.

Tribalisme adalah paham yang mendewakan kesukuan/kedaerahan/primordialitas, serta disisi lain menganggap rendah etnis atau identitas daerah lain.

Sepakbola, dengan perubahan yang begitu cepatnya ini sedari dulu juga tidak lepas dari tribalisme dan nilai-nilai primoridalistik yang berkelindan bersamanya. Sepakbola di tanah Eropa (kiblatnya sepakbola) yang jauh disana juga sedikit banyak berkembang dengan identitas tribal atau primordialitasnya.

Sebagai contoh, bagaimana Bilbao adalah cerminan eksklusifitas Basque, Barcelona dengan identitas Catalonia atau Liverpool FC yang merupakan klubnya scouser -orang yang bicara medok (dialeg) khas Liverpool-.

Hal ini karena tidak lepas sepakbola itu sendiri yang banyak berkembang dengan membawa identitas kedaerahan pada awal mula evolusinya. Maka tidak heran, sekalipun menyebar lewat globalisasi, sepakbola tetap terkunci dengan “khitoh-nya” sebagai identitas yang bersifat kedaerahan masing-masing.

Sepakbola memang menjadi materi pergaulan global, tetapi juga menumbuhkan solidaritas di tingkat nasional maupun daerah-daerah.

Terkhusus di Indonesia pun, bahkan terbentuknya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga tidak lepas dari peranan sepakbola yang bersifat kedaerahan. Bagaimana dulu sepakbola dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta bersatu padu menamamkan benih perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan membentuk PSSI pada 1930 lalu.

Kembali ke pembahasan awal, kampanye Support Your Local Club harus dimaknai dengan bijak. Saat identitas sepakbola daerah harus dijunjung tinggi, namun disatu sisi merealisasikan seruan kampanye ini juga tidak berarti harus menganggap sepakbola daerah lain itu rendah, hina dan harus dimusuhi.

Tribalisme negatif telah muncul dalam sepakbola, manakala memuja identitas sepakbola lokal dan disisi lain begitu merendahkan/menjelek-jelekkan rival sepakbola dari daerah lain, entah apapun yang terjadi.

Kasus oknum suporter di Indonesia yang menghina-hina pemain timnas hanya karena dia merupakan pemain dari klub rival harus menjadi perhatian bersama. Meski saya yakin, kasus semacam ini bisa terjadi dibelahan dunia manapun. Selain itu, tribalisme mengakar dapat memicu situasi tegang antar daerah yang suporter klub sepakbolanya bertentangan.

Sepakbola tanpa rivalitas bagaimana? Pada dasarnya rivalitas dalam sepakbola itu bagus, karena sepakbola tidak akan sampai menarik seperti ini kalau tidak ada rivalitas didalamnya. Tetapi kalau rivalitas itu sudah berubah wujud menjadi permusuhan, maka perpecahan menjadi takdir yang tak bisa dihindarkan.

Mewabahnya tribalisme atau juga prasangka primordial, kalau tidak dimenejemen dengan baik bisa berubah menjadi musibah. Kalau-kalau hal itu muncul dikalangan suporter, sudah tidak asing lagi. Toh, perbedaan-perbedaan itu sudah menjadi keniscayaan kenapa suporter berdiri untuk mendukung klub kebanggaannya masing-masing.

Akantetapi jika tribalisme sepakbola, yang didalamnya membawa rivalitas dan sering kebablasan menjadi permusuhan secara sosio-kultural itu telah menular secara kronis hingga menyebar ke elemen seperti pemain di klub-klub, alarm bahaya bagi sebuah tim nasional.

Untuk meraih prestasi setinggi mungkin, sebuah timnas harus berisikan pemain yang menyatu dan saling bekerjasama dengan baik. Permusuhan yang muncul akibat rivalitas terlalu mendalam di level klub, bisa merusak harmonisasi sebuah timnas.

Spanyol dan Inggris pernah merasakan hal ini. Jika Spanyol punya Iker Casillas-Xavi yang mampu mempersatukan pemain-pemain Madrid dan Barcelona di skuad La Furia Roja, kapten-kapten Inggris tidak mampu meredam perbedaan itu di skuad The Jack Union. Intensitas sepakbola yang begitu tinggi bergairah-nya di Inggris seperti bukan hanya dialami suporter saja, hal itu pun telah dirasakan pemain yang memperkuat timnas Inggris.

Dikatakan oleh Paul Scholes, “ada rivalitas yang sangat besar diantara klub di negara ini (Inggris) dan itu tidak sehat untuk timnas”. Dia pun menambahkan “bahwa kami tidak sekedar bermain sepakbola, kami mencintai klub masing-masing kami berada dan rivalitas itu selalu ada bersamanya”, dilansir dari telegraph.co.uk

Masih menurut Scholes, rivalitas kental antara Manchester United dan Liverpool pernah membuat retak persatuan timnas Inggris dizamannya, yang saat itu masih diperkuat banyak pemain asli lokal dari akademi. Itu pun belum menghitung tambahan rivalitas dengan klub-klub lain.

Inilah salah satu faktor kenapa Inggris selalu kesulitan bermain apik di level internasional. Mencintai identitas klub daerahnya dan justru terlalu larut pada rivalitas sengit antar daerah yang melebar ke permusuhan, buat mereka tidak padu saat berada di timnas.

Disini dapat dikatakan, kebanggan pada sepakbola daerah (klub) sendiri, justru disisi lain memunculkan sentimen negatif pada rival yang tak mampu diredam, padahal kepentingan timnas butuh diutamakan prioritasnya.

Di Indonesia untung saja sentimen itu belum merambah dan masuk ranah pemain yang berada di timnas. Kemunculan berita tentang sentimen ini baru di level suporter, ketika ada oknum suporter dari sebuah klub yang mencaci pemain timnas hanya karena dia bermain bagi klub rivalnya.

Bagaimana jadinya kalau pemain timnas Indonesia kita, tidak akur karena rivalitas klub masing-masing. Sementara dengan situasi adem ayem antar pemain saat ini pun, prestasi timnas kita masih begini-begini saja?

Mungkin banyak pihak berkilah, apa yang dilakukan supoter itu wajar dan merupakan bagian dari kehidupan sepakbola. Tetapi sekali lagi, menjiwai support your local club juga harus dengan dengan prasangka yang objektif dan bijak.

Jangan sampai karena terlalu gegap gempita dalam menjiwai kampanye ini, lalu mengaburkan rasionalitas berpikir dan perasaan kita pada timnas. Menjiwai kampanye yang sangat positif ini hanya akan terlihat elegan apabila di lokasi, waktu dan momen/suasana yang tepat.

Lagipula sepakbola kita yang masih jalan ditempat dengan kekerasan suporter yang masih sering terjadi, timnasnya tak mampu berprestasi dengan gemilang, klub tak mampu gaji pemain, profesionalitas federasi (PSSI) yang masih tanda tanya.

Hal-hal diatas itu yang seharusnya juga, menjadi problem yang tak boleh dilupakan para suporter dan coba untuk diaspirasikan suaranya dengan solusi konstruktif. Disamping hanya mengutamakan urusan rivalitas antar klub, padahal saya yakin, harusnya para suporterlah yang menjadi kunci penggerak untuk perbaikan sepakbola Indonesia ini.

Melalui kampanye Support Your Local Club, besar harapannya suporter akan peduli pada dunia sepakbola yang ada di daerah masing-masing, selain juga teredukasi untuk lebih dewasa dan berpikir kritis mengenai perkembangan sepakbola kita pada umumnya.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan atau mendukung klub X atau klub Y, tetapi untuk kesadaran bersama saja. Rivalitas antar klub memang alamiah dalam sebuah kompetisi/persaingan dan itu justru yang menarik dalam sepakbola.

Setiap klub beserta para suporter, intinya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik daripada yang lain. Sehingga dalam sebuah kompetisi akan muncul rivalitas, hal yang wajar. Namun artian dari kata rival yaitu pesaing, bukan musuh. Karena toh semua elemen sepakbola kita pada akhirnya akan menjunjung panji-panji yang sama, Indonesia.

Bangkitnya suporter, bangkitnya sepakbola Indonesia!

Sumber foto: Redbubble.net

Sepakbola Bukan Lagi Olahraga Buruh/Pekerja?

Quote Cantona tentang Working Class
Dukungan Eric Cantona untuk working class atau golongan pekerja/buruh dalam dunia sepakbola.

Hidup kaum buruh! Kita pekikkan bersama atas diperingatinya hari buruh sedunia di setiap tanggal 1 Mei.

Sudah seyogyanya kita perduli nasib kaum buruh/pekerja, walau berkat tangan-tangan mereka ini membuat kebutuhan sehari-hari manusia bisa terpenuhi, terkadang mereka diekspoitasi terlalu dalam oleh kaum pemodal.

Banyak para buruh pun berkeluh kesah tentang apa yang mereka alami, meski tak bisa meninggalkan peraduannya itu, karena hanya dari sana mereka coba gantungkan hidup dirinya atau keluarga selama ini. Sungguh betapa malangnya mereka para buruh di negeri ini.

Saya bukan pecinta gagasan yang bermateri kekirian, atau dikatakan biasa saja. Terlebih, pun belum banyak literatur leftish yang sudah saya baca selama ini. Tetapi memang kita sering mendengar sendiri bagaimana kurang diperhatikannya hak-hak buruh/pekerja kita selama ini.

Apalagi ketika mendengar rekan yang bercerita tentang sutuasi-kondisi pekerjaan, yang kadang tak setimpal dengan beratnya beban kerja serta resiko kerja yang harus dihadapi. Setidaknya muncul rasa simpati dan ikut berempati. Toh, seperti apa yang dikatakan oleh Che Guevara “Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka engkaulah kawanku”.

***

Beribu-ribu mil yang jauh dari Indonesia, pada abad 18 lalu di Inggris raya sana, dimulailah perkembangan sebuah dimensi kehidupan yang kelak akan menyedot atensi banyak umat manusia sejagad, hal itu adalah sepakbola.

Ya, terlepas dari kontreversi siapa yang lebih dahulu menemukan sepakbola, tak bisa dipungkiri kalau sepakbola modern yang kita tonton sampai detik ini berasal dari Inggris. When football were invented in England, demikian orang Inggris dengan bangga ketika menyebut sepakbola “berasal” dari tanah meraka.

Pada masa-masa awal evolusinya, sepakbola identik dengan sebutan working class, apa itu? Bagi yang belum tahu, istilah itu adalah untuk penyebutan golongan kelas pekerja atau buruh di Inggris.

Lapisan masyarakat kelas pekerja itu mulai banyak bermunculan ketika Inggris memasuki era revolusi industri. Definisi dari revolusi industri adalah perubahan corak dari perekonomian berbasis agrikultur/pertanian menjadi pada ekonomi dengan orientasi sektor industri.

Kebetulan, revolusi industri juga dimulai abad 18, dimana sepakbola juga “ditemukan” pada sekitaran abad yang sama. Maka tidak heran, sepakbola yang awal tumbuh kembangnya hampir bersamaan dengan masa revolusi industri, pun bersinggungan dan menghasilkan interkasi budaya dengan kaum pekerja yang populasinya meningkat pesat kala itu.

Meminjam istilah khas milenial; “jadian” atau berpacarannya antara sepakbola dan kaum pekerja dahulu kala inilah, yang menghasilkan kesan bahwa sepakbola adalah olahraga yang dekat dengan kalangan pekerja/buruh.

Memang faktanya banyak klub, lapangan-lapangan bola atau stadion yang didirikan dekat dengan kawasan/kota industri. Maka tidak heran hal itulah yang menyebabkan nuansa kental akan sepakbola begitu menjangkiti wilayah industri di Inggris, seperti contohnya di Liverpool atau Manchester.

Sepakbola pun melekat sebagai olahraganya working class, karena sepakbola sangat lumrah dijadikan sebagai rekreasi atau wahana hiburan oleh kaum pekerja saat itu. Bahwa ada alasan logis dibalik kenapa pertandingan sepakbola sering dimaikan pada akhir pekan, tak lain adalah untuk menarik antusiasme para buruh yang umumnya mendapat waktu libur/rehat pada akhir pekan.

***

Dengan catatan bahwa kaum pekerja dan kelas menengah-bawah jauh lebih banyak populasinya di dalam struktrur masyarakat, maka sepakbola pun perlahan menjadi hal populer nan jamak bagi masyarakat kebanyakan. Bahkan olahraga “si pekerja” ini, gaungnya sampai menembus lapisan masyarakat menengah keatas yang ikut-ikutan pula terhipnotis akan magi olahraga ini.

Namun animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap sepakbola, disamping lebih banyak berdampak positif, ternyata menghasilkan efek negatif pula.

Hal positif adanya sepakbola, selain juga membuka banyak lapangan kerja, dapat pula menjadi perlambang identitas dan entitas harga diri sebuah daerah atau masyarakat dan bahkan kebanggan nasional. Kemudian hiburan yang sangat fantastis ini juga menghasilkan sesuatu yang begitu besar, yakni popularitas.

Sadar bahwa dengan popularitas yang tinggi, sepakbola bisa dikelola sedemikian rupa menjadi pundi-pundi penghasilan, lalu mulailah para pebisnis dengan tumpukan modalnya mengobok-obok sepakbola. Kapitalisme masuk dunia sepakbola, inilah efek buruk akibat animo tinggi masyarakat akan pada sepakbola yang sangat-sangat mudah sekali menghasilkan popularitas ditengah masyarakat.

Dengan popularitasnya, sepakbola diintip oleh para pemodal untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Toh selama sistem perekonomian dunia ini masih kapitalisme, yang dikendalikan oleh permodalan atau kapital sebagai corong utama, maka akan begini juga lah terus sepakbola.

Salah satu faktor pelicin kesuksesan bisnis adalah dengan mendompleng popularitas. Sepakbola dengan popularitasnya, menawarkan sesuatu yang amat berharga dimata para kaum pemilik modal. Meski bisnis di sepakbola tidak selalu untung dari sisi finansial, terkadang adapula yang mencari kepopuleran untuk kepentingan politik atau mungkin sekedar memperoleh pengaruh tertentu saja.

Tetapi yang aneh bahwa selama ini kekerasan akibat sepakbola lebih difokuskan menjadi sasaran kritik terhadap olahraga ini. Seperti juga bagaimana Inggris pernah “sedikit” benci olahraga ini pada tahun 80an akibat hoologanisme yang tak tertahan nan brutal.

Padahal, kapitalisme dalam sepakbola jagu harus mendapat porsi kritik yang sama, atau bahkan harusnya lebih karena kapitalisme itu sendiri telah mengencingi sepakbola, yang ironinya adalah olahraga yang “diciptakan” kaum pekerja.

Harus disadari, semakin modernnya dunia dengan kapitalisme yang menyentuh berbagai sendi kehidupan, termasuk sepakbola, maka kapitalisme telah mengubah pula esensi sepakbola itu sendiri yang pada intinya punya nilai suci sebagai olahraga buruh/pekerja atau wong cilik.

Kini sepakbola menjadi olahraga yang mahal dan tidak mudah untuk menikmatinya. Mungkin bisa melalui piranti teknologi seperti tv atau internet, tetapi jauh berbeda dan akan seribu kali lipat lebih bermakna jika menikmatinya secara langsung. Apalagi menikmati sepakbola dengan teknologi mutakhir juga terkadang harus merogoh kocek yang dalam.

Tak hanya kenikmatan menyaksikan sepakbola saja, segala hal yang berkaitan dengan sepakbola masa kini juga harus ditebus dengan nominal yang terkadang begitu tinggi bagi masyarakat golongan mengengah-kebawah, seperti kelas pekerja.

Kini untuk masuk ke stadion, bisa mengeluarkan uang mulai dari puluhan, ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah. Kalau pekerja dengan rerata gaji perbulan tak sampai satu juta, bagaimana akan melampiaskan gairah sepakbola mereka disetiap minggunya? Belum tentu setiap saat mereka bisa.

Selain menikmati sepakbola kini harus dengan “uang” yang kadang tidak sedikit, beberapa waktu yang lalu muncul pula resistensi terhadap rencana jadwal pertandingan sebuah liga tingkat kedua di Indonesia yang dimainkan tengah pekan. Demi mengakomodir pertandingan liga yang lebih tinggi kasta (yang lebih menjual), pihak pengelola pun liga memilih menggelar liga kedua itu di midweek bukan pada weekend.

Sontak reaksi negatif bermunculan dari kalangan suporter. Untuk mendukung tim kebanggan, mereka jadi terbebani karena sulit membagi waktu untuk ke stadion dan bekerja jika ada pertandingan pada tengah pekan.

Padahal, kalau melihat antusiasme suporter yang kebanyakan adalah kaum pekerja, harusnya pihak pengelola liga tetap mengkondisikan untuk pertandingan akhir pekan. Jika stadion sepi karena klub main di tengah pekan, pemasukan dari tiket stadion juga akan menipis.

Kalau sebuah klub kesulitan mendapat income akibat stadion sepi karena laga justru digelar ditengah pekan, yang kemudian berdampak juga pada tertunda atau bahkan tidak terbayarnya gaji para pemain, bagaimana? Pihak pengelola liga musti memikirkan segala hal dengan alur yang visioner dan bijak.

Untungnya kini penggemar sepakbola makin cerdas, mereka tak mudah dibohongi dan disetir. Sudah banyak dari mereka yang teredukasi.

Contohnya di Eropa, beberapa kali terjadi aksi protes dari suporter terkait kenaikan harga tiket masuk stadion. Di Indonesia, bermunculan penolakan terhadap jadwal liga yang bergulir ditengah pekan dan tidak akomodatif terhadap suporter. Ini bukti penggemar sepakbola juga sudah mulai kritis dalam berlogika hari ini.

Gerakan AMF atau Against Modern Football, telah bergema akibat salah satunya karena makin mahal saja cara untuk menikmati sepakbola ke stadion. Selain itu gerakan tersebut juga mengkritisi sepakbola saat ini yang terlalu dikekang oleh intensitas bisnis dan kapitalistik. Meski disisi lain, banyak pula muncul suara pro-kontra terhadap progresifitas gerakan ini.

Protes dan resistensi suporter atau penggemar sepakbola (yang kebanyakan pekerja atau kelas menengah kebawah), menunjukan masih ada orang-orang yang ingin menjaga “kesucian” sepakbola sebagai olahraga working class.

Begitu juga refleksi untuk pemerhati sepakbola dengan spanduk bertuliskan “Football create by poor, stolen by rich” di laga ketika sebuah klub di Tunisia menjamu Paris Saint-Germain (yang dikuasai kapital Timur Tengah). Betapa memang sepakbola yang awalnya diciptakan untuk kelas menengah-bawah kini pun dikuasai kaum elit.

Padahal disisi lain pernah muncul berita tentang betapa kurang diperhatikannya hak para pekerja-pekerja kasar dalam proyek pembangunan stadion untuk Piala Dunia di Qatar. Betapa miris, jika dahulu kala sepakbola diciptakan oleh kaum pekerja, kini justru demi apa yang dikatakan “sepakbola”, para pekerja (baca: working class) diperlakukan dengan tidak layak demi sepakbola.

***

Sepakbola kini seakan menjadi wahana pertaruhan harga diri. Apakah sepakbola masih akan menyimpan sisa kesucian sebagai olahraga untuk working class  dan menjadi arena rekreasi mereka atau akan tergerus roda kapitalisme yang menguasai dunia? Hanya waktu yang akan menjawab.

Tetapi pada akhirnya, terimakasih dan rasa hormat pantas disematkan pada buruh dan pekerja. Karena berkat mereka lah kini seluruh umat manusia bisa menikmati olahraga terindah sepanjang masa, sepakbola.

Sumber foto: relatably.com dan detik.net

 

Image

Si Nomor Dua yang Buktikan Diri

“Selamat, anda melakukan pekerjaan (bermain) hebat”, itulah kalimat yang meluncur dari mulut Jose Mourinho ketika mendatangi soeroang pemain, sesaat setelah usainya pertandingan. Akan tetapi mourinho bukan memuji pemain Manchester United yang menang di final EFL Cup di Wembley, 26 Februari 2017 tersebut. Melainkan untuk lawan mereka, pemain Southampton yang baru datang di bursa transfer musim dingin terbaru ini, Manolo Gabbiadini.

Gabbiadini sebenarnya bisa lebih spektakuler lagi dengan mencetak hat-trick di final tersebut, apabila hakim garis lebih jeli dalam memantau situasi laga. Andai gol yang dianulir itu disahkan, barangkali jalannya laga akan berbeda, meski pada akhinya Manchester United menang 3-2 atas Southampton, dengan kesemua gol Southampton dicetak oleh Gabbiadini di laga itu.

Gabbiadini memang sedang on fire, dia telah mencetak 6 gol sejauh ini (artikel terbit 15 April 2017) bersama Southampton, sejak bergabung pada Februari lalu dari klub Italia, Napoli. Apa yang ia perbuat di Inggris selama ini memang diluar dugaan, karena Manolo Gabbiadini sebelumnya hanya seorang yang dianggap sebagai striker kacangan dan “nomor dua”.

Kedatangan Gabbiadini ke Southmapton pun sebenarnya diliputi sedikit rasa keraguan di kalangan fans Southampton. Untuk striker yang selalu dinomorduakan (khususnya semenjak di Napoli ), harga 14 juta paun dirasa begitu mahal. Gabbiadini juga dinilai bukan sebuah urgensi, karena di lini depan Soton, sebutan lain untuk Southampton, sudah ada Charlie Austin dan Shane Long.

Walau begitu, sebenarnya Gabbiadini tidaklah terlalu buruk. Dia sudah pernah bermain untuk timnas senior Italia yang bahkan ia sudah mencatat debut pada game Inggris v Italia 2012. Lalu catatan golnya termasuk lumayan impresif di Napoli dengan kemasan 25 gol dari 3.114 menit bermain.

Artinya dia mencetak 1 gol untuk Napoli di setiap 124,56 menitnya Gabbiadini merumput di lapangan. Padahal Selama tiga musim di Napoli, statistik yang ia bukukan itu dijalani Gabbiadini ketika menjadi striker nomor dua. Ya, memang Gabbiadini selama di Napoli akrab dengan perlakuan yang dinomorduakan.

Alasan kenapa pemain kelahiran Calcinate dan berpostur 186 cm ini sering menjadi pilihan kedua pun rumornya beragam. Mulai dari kompetitor yang lebih baik, taktik pelatih di Napoli yang tidak mengakomodir talenta dia hingga persepsi tentang karakter Gabbiadini yang tidak punya karisma dan mentalitas yang tak mampu memikul beban tinggi.

Cerita berawal ketika Napoli membeli Gabbiadini pada musim dingin 2015, akibat permainan apiknya di Sampdoria. Gabbiadini direkrut untuk menjadi pesaing sekaligus pelapis Gonzalo Higuaín, yang sudah mapan sebagai prima punta Napoli sejak musim 2013-2014. Pada dasarnya Gabbiadini itu serba bisa, selain penyerang tengah dia bisa juga dimainkan sebagai winger kanan dan striker bayangan.

Versatilitas Gabbiadini jelas terbukti sejak ia di Sampdoria, yang kala itu lini depan Il Samp diisi oleh trio Edér-Okaka-Gabbiadini. Selain sisi kanan, kadang kala Gabbiadini juga diplot di tengah ketika Okaka absen atau cedera. Dia pun sering menjadi second striker, terutama ketika sebelumnya bermain di Bologna.

Meski serba bisa, pemain berkaki kidal yang juga adik dari pesepakbola timnas Italia wanita, Melania Gabbiadini ini harus terima nasib karena allenatore Napoli kala itu, Rafa Benítez tidak mungkin mencadangkan Higuaín dan mengganti José Callejón dari pos sayap kanan dalam formasi 4-2-3-1 hanya untuk memberi ruang untuk Gabbiadini.

Dua musim itu telah berlalu sejak awal Gabbiadini datang dan tepat di musim ini menjadi momentum dirinya untuk bangkit, karena Gonzalo Higuaín pindah ke Juventus. Tetapi entah apakah Napoli, dengan pelatihnya saat ini, Maurizio Sarri yang kurang percaya pada kemampuan Gabbiadini atau karena ingin mencari pengganti sepadan untuk Higuaín, hingga mereka membeli Arkadiusz Milik dari Ajax Amsterdam dengan biaya 35 juta euro.

Kedatangan Milik pun otomatis mengembalikan Gabbiadini menjadi pilihan kedua sebagai penyerang utama. Milik memang terbukti moncer diawal musim ini sebelum cedera lutut parah, Anterior Cruciate Ligament (ACL) memaksanya absen hingga baru bisa kembali bermain awal Maret. Cederanya Milik justru disisi lain kembali membuka kesempatan kedua untuk Gabbiadini.

Namun meski terbantu absensi Milik akibat cedera, Gabbiadini yang sering mengisi slot penyerang tengah selama dua-tiga bulan lalu gagal membuktikan diri hingga Sarri menyingkirkan Gabbiaini, lalu bereksperimen tanpa menempatkan striker tengah murni dalam balutan formasi 4-3-3. Hasil eksperimen itu adalah memindahkan winger kiri, Dries Mertens menjadi false nine dan ternyata dia mampu mencetak gol-gol yang sangat dibutuhkan Napoli pasca kepergian Higuaín.

Situasi bagi Gabbiadini makin suram saja, karena Napoli mendapatkan tanda tangan Leonardo Pavoletti dari Genoa pada bursa transfer musim dingin lalu. Kalau dulu hanya menjadi nomor dua ketika masih ada Higuaín, kelanjutnya Gabbiadini saat itu malahan turun pangkat jadi opsi keempat setelah Mertens, Milik dan Pavoletti untuk menjadi ujung tombak I Partenopei.

Padahal dengan adanya Higuaín dulu dan Milik, Mertens atau Pavoletti kini, mencoba duetkan dengan Gabbiadini yang bisa main lebih kedalam dan melebar pun tidak mengapa. Tapi sayang hal itu jarang atau hampir tidak pernah dilakukan oleh Benítez atau Sarri hingga Gabbiadini pergi.

Sadar tidak ada tempat lagi di klub yang pernah menjadi tempat berjayanya legenda sepakbola Diego Maradona itu, Gabbiadini pindah ke Southampton mendekati window transfer 2016-2017 berakhir. Lagipula bagaimanapun Maurizio Sarri juga sudah tidak lagi percaya kemampuan dia, lebih-lebih setelah mendapat penyerang baru dalam diri Leonardo Pavoletti.

Seakan ingin membuktikan diri bahwa Napoli dan Sarri telah salah menilai dirinya, Gabbiadini menjelma jadi sosok striker tajam begitu hijrah dari Stadio San Paolo ke Saint Merry’s Stadium.

Gabbiadini berubah bak penyerang oportunis yang kerap kali pas dalam menempatkan diri di dalam kotak penalti lawan. Sesuatu yang sebenarnya Napoli juga rindukan layaknya penampilan Higuaín dulu hingga beroleh capocannoniere atau top skor Serie A musim kemarin.

Musim lalu Higuaín bisa menggila dan mencetak banyak gol ketika di awal musim 2015-2016 itu karena mendapat sentilan. Pipita, julukan Higuaín, dimotivasi oleh Sarri dengan sindiran keras yang maksud intinya; “Higuaín sebenarnya bisa menjadi penyerang tengah terbaik di dunia, jika bisa merubah sikap dan tidak lagi malas”.

Hasilnya? Higuaín mencetak 36 gol dari 35 kali dia bermain di Serie A musim lalu dan sang pemain sendiri berterimakasih atas “motivasi” awal musim dari Sarri tersebut. Andai untuk Higuaín saja bisa, kenapa Gabbiadini tidak bisa “dibegitukan” oleh Maurizio Sarri?

Sepertinya Napoli, baik itu dari rezim Benítez hingga Sarri tak pernah benar-benar percaya pada kemampuan Gabbiadini, pemain yang juga merupakan produk akademi Atalanta ini.

Mungkin Sarri berageming dengan sembuhnya Milik, makin tajamnya Mertens sebagai false nine dan kedatangan Pavoletti sudah cukup untuk mengarungi seluruh sisa laga musim ini dan tidak perlu lagi tenaga pria bernama Manolo Gabbiadini dan lalu menjualnya. Entahlah apa yang terjadi sebenarnya dibelakang layar, namun melihat performa Gabbiadini sampai saat ini, sepertinya “intuisi” Sarri terbukti kurang tepat.

Bocah yang sebenarnya punya talenta namun terabaikan dulu kala, kini sedang berusaha keras buat mantan klubnya, Napoli menepuk jidat karena telah melepas dirinya dan hanya memberi sedikit waktu untuk buktikan diri.

Kali ini dia malahan tampil apik dengan gol-golnya justru ketika berada di tim (Southampton) yang secara teknis masih kalah kualitas dari Napoli dan berada di Premier League, liga yang jauh lebih kompetitif dibanding Serie A.

Gabbiadini sedang memulai karir bagus di klub barunya, Southampton. Semoga, lesakan gol-gol belum akan berhenti diukir oleh sosok tinggi agak kerempeng dan berwajah sedikit pucat yang pernah tercampa dan dinomorduakan oleh Napoli ini. Dialah Manolo Gabbiadini, yang tidak menyerah untuk membuktikan kualitas sesungguhnya.

*data angka dari Opta

Foto: telegraph.co.uk

Image

Dua Sisi Berlawanan RB Leipzig

Skuad Leipzig 2016/17
Meski punya potensi untuk bisa menandingi dominasi Muenchen, namun RB Leipzig dibenci oleh hampir seantero Jerman.

Rassen Ballsport Leipzig atau biasa disingkat RB Leipzig adalah klub asal Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita belakangan ini. Meski baru pada musim 2016-2017 ini promosi ke Bundesliga 1, tetapi pemberitaan tentang mereka sudah menjamur di berbagai media-media sepakbola.

Setidaknya ada dua hal kenapa RB Leipzig sering menjadi sorotan dalam berita sepakbola, khususnya bagi publik Jerman. Yang pertama, berbagai elemen terutama suporter klub-klub di Jerman menuding RB Leipzig telah merusak “tradisi” dalam sepakbola Jerman. Mereka dicerca karena dianggap hanya sebagai ladang bisnis dari perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull.

Dulu klub ini bernama SSV Markrandstadt. Andai saja di Jerman tidak ada aturan 50+1 menyoal kepemilikan klub sepakbola, mungkin nama mereka suah berganti Red Bull Leipzig. Yang mengingatkan kita akan klub Red Bull lain semacam; Red Bull Salzburg atau New York Red Bull yang juga dikuasai perusahan milik Dietrich Mateschitz tersebut.

Saking dalamnya intervensi bisnis mereka, bahkan tak cukup nama klub saja, nama stadion, sampai-sampai logo klub pun tidak lepas dari embel-embel dua banteng merah yang jadi ciri khas Red Bull.

Kisah RB Leipzig dimulai tatkala SSV Markrandstadt, klub divisi lima asal Leipzig, Saxony, wilayah timur Jerman dibeli oleh Red Bull. Meski RB Leipzig terhitung muda (berdiri pada 19 Mei 2009), hanya dalam kurun waktu tujuh musim, dengan cepat RB Leipzig melesat dari kasta kelima menuju pentas tertinggi Bundesliga 1.

Begitu cepatnya mereka menuai prestasi tentu tidak lepas dari uang yang digelontokan Red Bull. Sokongan mereka membantu klub merenovasi Zentralstadion dan membangun fasilitas latihan modern, selain juga uang mereka yang dimanfaatkan untuk membeli pemain.

Tetapi meroketnyaa RB Leipzig malahan dibenci oleh publik sepakbola Jerman. RB Leipzig dianggap “plastic club” yang tidak punya nilai historis dalam diri mereka dan hanya dijadikan kepentingan bisnis semata.

Fakta yang terjadi di lapangan sungguh mencerminkan tingginya kebencian terhadap RB Leipzig. Kalangan suporter lah yang paling tegas dalam menyatakan kebencian itu. Mulai dari penolakan untuk nonton langsung timnya saat awayday ke kandang Leipzig, aksi bisu 10 menit pertama saat kesebelasan idola mereka jumpa Leipzig, spanduk kecaman/caci-maki untuk Leipzig dan bahkan lemparan “kepala banteng penuh darah” oleh oknum suporter klub-klub yang sangat benci RB Leipzig.

Berbagai aksi-aksi itu mengkonfirmasi betapa besar kebencian publik Jerman terhadap Leipzig yang telah “murtad” dari nilai-nilai, kebiasaan ataupun tradisi klub Jerman pada umumnya. Tradisi di Jerman, klub adalah milik anggota (fans) dengan aturan 50+1. Aturan ini pada intinya mengatakan 51% saham klub harus dipegang oleh anggota dan sisanya kemudian bisa dimilik oleh investor dari luar klub.

Meski aturan itu tidak berlaku secara baku untuk Wolfsburg dan Leverkusen yang telah lama begitu lekat dengan perusahan otomotif VW dan perusahaan farmasi Bayer.

Aturan 50+1 secara cerdik disiasati oleh Red Bull. Meski tidak melanggar aturan itu, tetapi dengan cara yang sedemikian rupa, mereka mengakali aturan karena bertujuan untuk memegang kendali penuh terhadap RB Leipzig.

Memang secara legal Red Bull hanya punya 49% saham di RB Leipzig. Akan tetapi dari sebelas anggota klub yang ada di tubuh RB Leipzig, semuanya adalah orang-orang yang bekerja di Red Bull. Jadilah mereka pasti selalu “menganggukan kepala” dengan apapun yang kebijakan yang diinginkan oleh Red Bull didalam tubuh RB Leipzig.

Akibat ulah Red Bull ini, tentulah suara fans akan klub kesayangannya akan tereduksi atau bahkan mungkin saja hilang. Dengan kongkalikong dibelakang layar ini, tentu sulit mengharapkan ada suara anggota atau fans yang bisa berdampak secara langsung dalam tubuh kepengurusan sebuah klub. Disamping komersialisasi sepakbola oleh sebuah perusaahan, tertutupnya suara anggota atau fans untuk klubnya itu jua lah yang membuat RB Leipzig sangat dibenci.

Jurnalis asal Jerman, Christoph Biermann pun menuliskan betapa piciknya mereka mengakali aturan yang ada di media. Katanya “sulit membayangkan bagaimana secara gamblang Leipzig melanggar aturan 50+1 tersebut.” dalam majalah 11 Freunde. Red Bull dalam hal ini memang telah keluar jalur dan tidak lagi berpegang pada tradisi klub-klub Jerman selama ini.

Namun ibarat bilah pisau yang bisa “melukai”, pisau juga punya segi yang bermanfaat. Sisi buruk RB Leipzig tentu karena keberadaan Red Bull dalam klub yang merusak tradisi sepakbola Jerman dan menguasai klub hanya untuk untuk jualan minuman.

Tetapi RB Leipzi pun punya tujuan positif dan tentu hal ini baik karena Bundesliga 1 semakin berwarna, inilah hal kedua yang juga menjadikan nama tetap menjadi sorotan

RB Leipzig sering mengedepankan pemain-pemain muda didalam timnya. Mereka pun menetapkan batas usia yang tidak lebih dari 24 tahun, bagi pemain yang akan mereka beli. Dengan skuad muda itu pun mereka sanggup nangkring di papan atas klasemen Bundesliga 1.

Bahkan dikala Bayern masih linglung diawal musim ini, mereka lah yang memuncaki klasemen liga, padahal status mereka ini hanya klub promosi. Selain itu, mereka pun dari Jerman timur, wilayah yang selama ini tertinggal dari segi sepakbolanya dari Jerman bagian barat. Dengan adanya RB Leipzig, gelora sepakbola Jerman timur sedikit banyak akan kembali bergairah kembali, setelah wakil dari sana terakhir kali untuk Bundesliga 1 adalah Energie Cottbus pada 2009.

Bakat-bakat pemain muda RB Leipzig juga diakui kualitasnya. Musim ini nama-nama seperti Emil Forsberg, Timo Werner atau Naby Keita menjadi buah bibir yang dikait-kaitkan dengan berita transfer ke klub-klub besar Eropa. Mereka juga diperkuat oleh Oliver Burke, wonderkid Skotlandia yang sebelumnya memperkuat Nottingham Forest.

Keberadan tim yang dilatih Ralph Hasenhüttl ini pun semacam penyegaran. Setelah bosancuma disuguhi perlawanan Dortmund terhadap dominasi Bayern, kini keberadaan Leipzig yang menyeruak ke papan atas tentu jadi pemandangan indah bagi para pengidam liga yang kompetitif. Apalagi kalau RB Leipzig sukses juara, tentu makin serulah Bundesliga 1 nanti, terlepas dari “keburukan” yang dilabelkan kepada mereka selama ini.

Kini tinggal bagaimana kita memandang Rassen Ballsport Leipzig. Melihat klub ini bagaikan paradoks karena punya dua sisi berlawanan, ada sisi baik dan buruknya. Dari sisi negatif mereka jelas terkait erat akan kapitalisme Red Bull yang terlalu dalam. Hal positif merek yakni menjadi klub kawah candradimuka pemain muda dan tentu saja perjuangan mendongkel dominasi Bayern Muenchen untuk membuat  makin kompetitifnya liga Jerman.

Kalau sudah begini, bagaimana anda memandang RB Leipzig?

Foto: bundesligafanatic.com dan worldfootbal.net

Inilah Kylian Mbappé, Henry Baru

Kylian Mbappé melesakan gol ke gawang Willy Caballero di babak pertama, skor menjadi 1-2 untuk tim tamu AS Monaco. Meski first leg 16 besar Liga Champions (22 Februari) itu pada akhirnya dimenangkan si empunya Stadion Etihad, Manchester City dengan skor 5-3, aksi Mbappé tetap mendapat sorotan tersendiri, apalagi dia masih terhitung anak bau kencur, 18 tahun.

Kecepatan lah salah satu senjata pemain bernama lengkap Kylian Mbappé Lottin ini. Pada laga versus Manchester City itu dia mencetak gol, setelah menerima sodoran bola panjang dari tengah dan mengungguli sprint duet bek mahal Manchester City, John Stones-Nicolas Otamendi yang kalah cepat. Mbappé pun mencetak gol pada leg kedua yang berakhir denagn skor 3-1 untuk kemenangan Monaco.

Mbappé adalah fenomena terkini dari sepakbola Perancis. Dia memulai debut di Les Monéguesqes, julukan AS Monaco, pada laga Ligue 1 antara Monaco melawan Caen, 2 Desember 2015. Otomatis dia jadi pemain termuda AS Monaco yang tampil di pertandingan profesional dalam usia 16 tahun 347 hari, unggul dari legenda Perancis Thierry “Titi” Henry yang memulai debut senior di Monaco pada usia 17 tahun 14 hari.

Dia juga memecahkan rekor lain Henry dengan menjadi pencetak gol termuda AS Monaco ketika menyumbangkan satu gol melawan Troyes pada musim 2015-2016, saat itu Mbappé masih berumur 17 tahun 25 hari. Henry sendiri baru mencetak gol profesional pertamanya pada pertandingan versus Lens 1995 ketika usianya sudah 17 tahun 245 hari.

Belum cukup, pemain yang lahir di Bondy, wilayah dekat Paris pada tanggal 20 Desember 1998 ini, juga mencuri perhatian berkat mencetak hat-trick pertamanya pada laga 16 besar Coupe de Ligue saat melawan Rennes. Laga pada 14 Desember 2016 itu berakhir manis 7-0 untuk Monaco. Dia adalah kreator hat-trick termuda AS Monaco dalam sejarah dan pemain pertama yang mencetak tiga gol dalam satu laga untuk AS Monaco, sejak terkahir kali hal itu dilakukan Sonny Anderson, tahun 1997.

Masih kurang, Mbappé kembali mencetak trigol kedua sepanjang karirnya ketika Monaco menjamu Metz di Stade Louis II dalam lanjutan Liga Perancis. Pertandingan yang digelar pada 11 Februari 2017 ini menjadi saksi calon striker hebat dunia itu menunjukkan kebolehannya. Selain mencetak tiga gol, dia juga bikin 1 asssit di laga tersebut. Situs Whoscored.com pun memberi memberi nilai 10 untuk penampilan fantastisnya di laga tersebut. Kylian Mbappé pun kini sudah masuk skuad senior Perancis.

Munculnya talenta brilian Kylian Mbappé buat raksasa Spanyol, Real Madrid kepincut. Banyak media merumorkan Madrid sudah melakukan pendekatan dan akan merekrut dia pada akhir musim nanti. Hal ini mengingatkan kita pada usaha El Real dahulu ketika akan mencomot striker muda AS Monaco pada 1996, siapa lagi kalau itu bukan Thierry Henry.

Namun upaya Real Madrid kala itu gagal, mereka mencoba jalin perjanjian pra-kontrak dengan Henry, yang waktu itu dia belum mendapat kontrak profesional karena belum berusia 18 tahun. Henry tetap di Monaco, karena ternyata Madrid mendekati Henry justru melalui agen pemain yang belum resmi terdaftar di FIFA, sehingga perjanjian tersebut batal.

Kembali ke Mbappé, jika mampu menjaga kestabilan performa bukan tidak mungkin kedepannya dia benar-benar menjadi Henry baru. Asal berada ditangan yang tepat dan menemukan tempat yang sesuai, Mbappé akan melesat tajam. Sewajarnya pengalaman Henry berikut ini bisa dijadikan referensi berharga bagi dirinya.

Dulu ketika sedang menanjak bersama Monaco dan tim senior Perancis, Henry menerima pinangan Juventus pada 1999. Tapi sayangnya, Henry gagal bersinar karena tidak mampu menghadapi betapa ketat dan disiplinya bek-bek di Italia. Karakter permainan Henry yang stylish justru buatnya tidak mampu berbuat banyak di negeri sepakbola Catenaccio itu.

Malahan mantan pasangan duetnya di Monaco, David Trezeguet yang lebih cocok dalam skema Juventus dan gaya sepakbola Italia. Tidak lain dan tidak bukan, Trezeguet adalah tipe striker penunggu yang oportunistik di depan gawang, seperti gaya striker Italia pada umumya kala itu macam Inzaghi atau Vieri. Adapun Trezeguet baru pindah ke Juve pada 2000, untuk menggantikan Henry yang pergi ke Arsenal pada 1999.

Henry yang gagal di Juve lalu bereuni dengan orang yang telah mengorbitkannya di AS Monaco, Arsene Wenger, namun kali ini di klub Inggris, Arsenal. Henry yang sebelum-sebelumnya adalah winger, oleh Arsene Wenger digeser menjadi penyerang tengah ketika di Arsenal.

Pergeseran posisi itu berbuah sejarah dalam dunia sepakbola, khususnya bagi Premier League dan timnas Les Blues karena Henry bertransformasi jadi striker tajam haus gol. Henry pun hingga kini dikenal sebagai salah satu striker tajam dan salah satu yang terhebat di dunia (catatan 360 gol di semua klub yang pernah ia singgahi) beserta deretan trofi yang ia raih semasa bermain.

Jika ingin menjadi bintang hebat di masa depan, Kylian Mbappé wajib belajar pula dari karir Thierry Henry. Jangan sampai salah pilih klub kedepannya, karena itu sangat vital bagi jalan masa depan pemain yang bersangkutan itu sendiri. Dan juga harus berada di bawah asuhan pelatih yang tepat.

Untung saja, Mbappé kini ditangani pelatih asal Portugal, Leonardo Jardim. Orang ini memang doyan pakai tenaga muda dalam skuadnya. Lihat saja, musim ini pun Monaco pun dipenuhi bakat-bakat muda macam Bernardo Silva, Fabinho, Djibril Sidibé, Benjamin Mendy, Gabriel Boschilla atau Jemerson.

Melejitnya Mbappé juga seolah pertanda, bahwa Monaco memang pintar memoles striker muda. Selain Henry atau Trezeguet, ada pula nama-nama besar seperti George Weah, Ludovic Giuly, Jeremy Menez, dan juga Anthony Martial yang mempesona setelah bergabung dengan Monaco.

Beberapa waktu lalu tidak lupa Arsene Wenger, orang yang menyulap Henry hingga jadi “orang besar”, juga menyampaikan sesuatu perihal Mbappé. Katanya “Dia mirip seperti Henry, punya talenta besar, bermain di Monaco juga seperti Henry” kata bos The Gunners itu, dikutip dari express.co.uk terbitan 3 Februari 2017. Sanjungan yang berakhir dengan pindahnya Mbappé ke Arsenal? Mari kita tunggu.

Dengan karir melesat sejak muda bersama AS Monaco dan memecahkan rekor-rekor Thierry Henry, Mbappé kini dianggap akan menjadi titisannya Henry dimasa depan. Hal lain yang membuat dia layak dinarasikan bagai titisan Henry, tidak lain karena dia tidak hanya bisa bermain di satu posisi. Kalau Henry mahir bermain sebagai winger kiri dan striker tengah, Mbappé malahan lebih baik karena bisa mengisi semua pos lini depan.

Terakhir, Thierry Henry sendiri mengakui bakat yang ada pada memang Mbappé begitu besar. Lalu Mbappé perlu belajar dari pengalaman yang terjadi pada Henry, jangan sampai salah pilih klub dan harus berada dibawah naungan pelatih yang tepat, agar peristiwa seperti Henry yang Juventus tidak terulang. Dan kini waktu pun akan menjawab, apakah Mbappé akan bersinar terang seperti Thierry Henry sediakala.

Sumber foto: metro.co.uk

*Statistik angka dari Opta

Paradoks Saint Totteringham’s Day

Di babak 16 besar Liga Champions, Bayern München menghadapi Arsenal. Sudah ditebak, Meriam London kembali melempem sumbunya ketika bersua The Bavarian di panggung Eropa. Kali ini dengan agregat telak 10-2, meski Arsenal gugur di 16 besar adalah pemandangan yang sebenarnya tak aneh dalam beberapa tahun terkahir.

Rival sekota mereka, Tottenham Hotspurs juga terjungkal dihadapan klub Belgia, KAA Gent dengan agregat 1-2. Bedanya Spurs melakoni laga itu di babak 32-besar Liga Europa, kasta Eropa yang lebih rendah.

Bagi setiap elemen yang ada di Arsenal, pasti sangat berat hati apabila melihat klub-klub pesaing berat, finis lebih tinggi dari mereka di setiap akhir musim atau melangkah lebih jauh di sebuah cup competitions.

Apalagi jika posisi rival satu kota seperti Chelsea atau terlebih-lebih Tottenham, yang lebih tinggi dari Arsenal di akhir sebuah musim Liga Inggris atau melaju lebih jauh di gelaran turnamen. Tapi musim ini Arsenal terseok-seok masuk empat besar, sedangkan Tottenham sangat stabil aman di zona tersebut.

Khusus terhadap sesama klub London Utara, Tottenham Hotspurs, Arsenal selalu finis diatas mereka sejak 1994/95 hingga musim 2015/16 lalu. Sudah dua dekade ini mereka selalu lebih superior terhadap tetangga terdekatnya tersebut hingga melahirkan istilah unik, Saint Totteringham’s Day.

Saint Totteringham’s Day adalah hari dimana pendukung Arsenal atau yang biasa disebut Gooners, bersuka cita mana kala tau bahwa tim idola mereka dipastikan finis diatas Spurs. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh situs Arseneweb.com pada 2002.

Musim lalu Saint Totteringham’s Day sangatlah epik. Di gameweek terkahir, Tottenham dilumat 5-1 oleh Newcastle sedangkan disisi lain Arsenal menang 4-0 atas Aston Villa.

Arsenal yang hampir selalu dibawah Tottenham (terutama paruh kedua musim lalu), secara dramatis mendahului Tottenham pada pekan terkahir tersebut. Meski gagal juara dan hanya nangkring di posisi dua, hasil itu setidaknya masih menyisakan senyum di bibir para pendukung setia Arsenal.

Tidak hanya suporter, dari pemain hingga mantan pemain Arsenal juga tidak luput ikut merayakan Saint Totteringham’s Day lewat sosial media musim lalu itu. Saint Totteringham’s Day sendiri biasa diperingati Mei atau April, waktu dimana kompetisi biasanya mendekati pekan-pekan akhir.

Tapi itu hal yang paradoks, Saint Totteringham’s Day ibarat “prestasi” namun disaat bersamaan juga tak berarti apa-apa, rasanya semu sekali. Lagian, semisal mengungguli Tottenham di Premier League, itu tidak berarti spesial. Toh selama ini Tottenham juga tidak pernah juara Liga Inggris sejak 1961. Ya, kan?

Arsenal sendiri, terakhir juara yakni musim 2003/2004, dimana saat itu Arsenal masih jadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Inggris. Selanjutnya, tak pernah ada lagi kapten Arsenal yang angkat trofi liga diakhir tiap musim sampai saat ini.

Okelah, mungkin berkilah Arsenal terlalu sering menjual pemain bintang, yang dijadikan kambing hitam surutnya prestasi Arsenal. Hal ini karena kebutuhan uang untuk mengimbangi hutang pembangunan stadion. Tetapi itu sudah berlalu, pembangunan stadion sudah selesai sejak lama dan keuangan klub sudah membaik.

Saat ini bahkan Arsenal bukan lagi klub penjual, melainkan pembeli pemain-pemain bintang harga mahal. Mesut Özil dibeli seharga 42 juta poundsterling dari Real Madrid pada 2013, Alexis Sanchez diboyong dari Barcelona musim 2014-2015 dengan banderol 31 juta pounds.

Musim ini Arsenal juga royal membelanjakan dana di bursa transfer. Total, perekrutan Granit Xhaka, Skhodran Mustafi dan Lucas Perez menghabiskan kas Arsenal sebanyak 82 juta poundsterling. Disamping itu, kualitas skuad makin mengkilap dengan munculnya pemain muda seperti Alex Iwobi dan semakin matangnya Hector Bellerin atau Aaron Ramsey.

Kalau begitu muncul pertanyaan, kenapa dengan skuad yang sudah bagus, Arsenal tetap begini-begini saja? Lalu apa? Banyak yang mengatakan, Arsenal bermain indah dan sedap dipandang mata, tetapi lemah dari agresifitas dan kurang punya mentalitas yang kuat.

Soal gaya permainan, Arsenal mengandalkan umpan pendek dan kombinasi satu-dua guna membongkar pertahanan lawan. Sekilas menyerupai ticqui-taka, namun karena bermain di Inggris, Arsenal wajib memiliki gelandang bertahan yang “kejam” seperti Patrick Vieira.

Permainan keras khas seperti Vieira tentu dibutuhkan guna melindungi lini tengah dan belakang, terutama dari serangan balik yang rentan menghantui tim seperti Arsenal, yang gemar menguasai bola dan terapkan garis pertahanan tinggi.

Vieira tidak hanya garang dalam menghentikan serangan atau jago merebut bola, namun juga lihai mengalirkan bola kedepan, sehingga tetap cocok dengan The Arsenal Way yang memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki. Dia punya agresifitas baik ketika bertahan atau juga saat menyerang.

Di skuad musim ini ada Francis Coquelin, Granit Xhaka dan Mohammed Elneny yang bisa berperan sebagai gelandang jangkar. Antara ketiga pemain ini, berdasar data situs whoscored.com, Coquelin dari 21 kali tampil di Premier League, dia menonjol dari sisi defensif dengan rerata 2,9 tekel sukses dan 2,3 intersep di setiap laga.

Coquelin pun tidak buruk dalam mengoper bola karena punya catatan akurasi 88%. Sedangkan angka untuk Xhaka yaitu catatan 2,7 tekel, 1,7 intersep, akurasi umpan 89,4 %. Lalu Elneny punya 1,5 tekel, 0,5 intersep dan pass succes percentage 92,6 perlaga.

Bahkan menurut Squawka, Coquelin punya jumlah umpan sukses sebanyak 298 kali di final-third area atau area dalam pertahanan lawan, angka tersebut lebih unggul dari gelandang top dunia semacam Toni Kroos atau Marco Verratti sekalipun.

Coquelin tinggal mengasah teknik agar lebih komplit dan menjaga kebugaran, karena dia seringkali terlilit cedera yang tentu akan menyulitkan kinerja lini tengah Arsenal bila dia tidak bermain. Bermain keras pun harus dia praktekan, agar semakin mendekati atribut yang dimiliki Patrick Vieira.

Selain urusan agresifitas, hal penting lain yang juga dibutuhkan oleh pasukan Arsene Wenger yaitu pemain dengan aura kepemimpinan berkarisma juara. Pemimpin yang karismatik, besar kemungkinan mampu memotivasi dan mengangkat mental rekan-rekannya, terutama di saat-saat genting atau dalam pertandingan besar.

Sepeninggal Vieira atau Henry, belum ada lagi kapten Arsenal yang melebihi atau bahkan sekedar menyamai aura karismatik duo Perancis ini. Maka dari itulah, Arsenal sering melempem di situasi-situasi penting atau di laga bertensi besar akibat kurangnya pemain-pemain berkaratker juara dan bermental baja.

Kapten saat ini, Laurent Koscielny memang tidak punya aura besar seperi Henry dan Vieira. Namun gaya main yang anti kompromi dalam menghalau bola atau menjegal pemain, menjadi gambaran kepada lawan bahwa Arsenal masih punya nyali yang kuat dalam bertanding, meski levelnya belum seperti zaman The Invicible sedia kala.

Pemain seperti Vieira memang dibutuhkan, karakter permainannya penting sebagai pelindung lini tengah yang bisa melapis lini belakang, selain juga jiwa kepemimpinan tinggi yang sangat dibutuhkan di tim seperti Arsenal.

Dengan skuad yang penuh kualiatas teknik seperti sekarang ini, andai ditambah keberadaan holding midfielder tangguh serta adanya pemimpin berkarakter, mungkin Arsenal bisa melaju lebih dari yang saat ini.

Contoh tersaji pada leg pertama kemarin lawan Bayern, ketika Laurent Koscielny ditarik diawal babak kedua akibat cedera, pertahanan Arsenal langsung kelimpungan. Gabriel mudah sekali dieksploitasi Lewandowski dan Thiago Alcantara. Ditambah, duet Coquelin-Xhaka kurang begitu baik melapisi pertahanan.

Agresifitas menyerang juga sangat kurang, saking menggelikannya, bahkan umpan yang dibuat oleh playmaker seperti Mesut Özil tidak lebih banyak dari apa yang dibuat kiper lawan, Manuel Neuer. Özil hanya buat 24 umpan, angka yang sama dengan yang Neuer buat.

Keluarnya kapten Koscielny juga barangkali ikut sedikit banyak mereduksi kekuatan mental pemain Arsenal di laga super penting tersebut. Terlebih lagi ban kapten justru dililitkan ke Kieran Gibbs, yang jangankan jadi panutan pemain lain akan karisma darinya, rutin bermain pun jarang ia dapati musim ini.

Arsenal jelas membawa misi hampir mustahil lolos 16 besar Liga Champions 2016/2017 kali ini. Di liga juga sama, inkonsistensi Wenger Boys di setiap pekan makin menjauhkan mereka dari Chelsea, plus persaingan peringat dua hingga enam juga sangat ketat musim ini.

Di percaturan liga Inggris musim ini, Arsenal sebenarnya sudah menunjukan mental lebih baik ketika partai besar, namun sering tiba-tiba terjungkal seperti kalah 1-2 dari Watford di Emirates Stadium. Hal semacam inilah yang menjadi duri kenapa Arsenal gagal juara musim lalu dan tetap kesulitan bersaing di Premier League musim ini.

Flash back musim lalu, disaat klub-klub besar lain loyo seharusnya kesempatan Arsenal juara terbuka lebar, namun apa daya Arsenal justru ikut-ikutan lembek dan gelar juara pun diserobot Leicester City. Setali tiga uang di Liga Champions, mereka dilumat Barcelona, juga di babak 16 besar yang memang kramat bagi Arsenal beberapa tahun ini.

Musim ini Arsenal harus selalu solid, karena klub besar lain juga menunjukkan perbaikan demi perbaikan. Seharusnya dengan skuad yang sudah bagus kali ini, Arsenal mampu berbuat sesuatu yang lebih daripada musim-musim sebelumnya, setidaknya di Premier League, jika asa untuk mengalahkan Bayern memang sudah sirna.

Saint Totteringham’s Day. Berpesta karena lebih hebat dari arch-rival, namun sang rival itu sendiri sebenarnya bukan klub yang benar-benar hebat, paradoks. Kalau Madrid berpesta karena unggul dari Barcelona, itu wajar, karena baik itu Barca atau Madrid selalu bersaing mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia.

Lagipula inikan Tottenham? Trofi terakhir kali yang didapatkan tim ini pun sekedar League Cup 2007-2008, yang bahkan tak lebih bergengsi dari trofi FA Cup, yang Arsenal raih 2014-2015 lalu.

Sah-sah saja musim ini tradisi Saint Totteringham’s Day bisa tetap diwujudkan, tetapi sungguh semu sekali rasa jika bisa menunjukan superioritas dari Tottenham, namun tetap saja Arsenal tidak mampu untuk jadi juara Inggris, apalagi Liga Champions. Ditambah musim ini, bisa jadi puncak saga dari pertanyaan besar, apakah Wenger akan bertahan atau angkat kaki dari Arsenal? Hanya waktulah yang akan menjawabnya.

Foto; independet.co.uk