Mengenal Massimiliano Allegri: Sosok yang Progresif

Tiga pelatih asal Italia merajai tiga liga top Eropa di musim 2016/17 lalu. Antonio Conte di Chelsea (Inggris), Carlo Ancelotti bersama Bayern Muenchen (Jerman) dan Massimiliano Allegri, Juventus (Italia) berhasil juarai liga masing-masing. Untuk Allegri, mungkin keberhasilannya dipandang suatu hal yang biasa saja. Selain berada di tanah sendiri, lagipula Juventus pun begitu mendominasi Serie A beberapa musim terakhir.

Namun tetap saja sosok ini Allegri patut diberi apresiasi tersendiri. Selama tiga musim melatih Juventus, dirinya dua kali hampir membawa Juventus memenangi Liga Champions, jika tidak ditumbangkan oleh dua klub terhebat dunia di final, Barcelona dan Real Madrid.

Koleksi gelar bergengsi pelatih kelahiran Livorno 49 tahun lalu ini pun, terhitung banyak selama karirnya menjadi allenatore. Empat scudetti, tiga Coppa Italia dan dua Supercopa Italia menjadi bukti kapasitasnya sebagai pelatih jempolan di Italia.

Bicara lebih jauh tentang Allegri dengan melihat dari rekam jejaknya, barangkali catatan gemilangnya selama sampai sekarang ini merupakan cerminan dari “progresifitas” yang ada pada dirinya. Allegri ternyata merupakan pelatih yang berpikiran maju (progresif) dalam merumuskan taktik dan strategi bermain untuk timnya. Rekam jejak semenjak melatih klub-klub Serie A, akan jadi bukti bahwa Allegri memang demikian.

Debut melatih di Serie A bersama Cagliari

Massimiliano Allegri memulai petualangan di Serie A, dengan menukangi Cagliari pada musim 2008/09. Melatih klub medioker tak membuat nyali Allergi kecut dengan memainkan sepakbola bertahan. Jiwa dan pemikiran progresif ia iwujudkan melalui permainan menyerang nan atraktif, hingga membuat Cagliari finis di posisi sembilan.

Permainan menyerang di Italia terhitung suatu yang langka. Sebagai pusatnya Cattenaccio, tentu Italia tidak jauh-jauh kesannya dari sepakbola bertahan (terkadang membosankan), efisien dan efektif.

Jikapun ada tim yang bermain menyerang, hal ini lebih sering dilakukan oleh kesebelasan yang besar. Kesebelasan semenjana pada umumnya bermain defensif agar aman dari degradasi. Menggunakan strategi menyerang, bagi kesebelasan kecil di Italia, meski kadang membahayakan bagi diri mereka sendiri, tetapi disisi lain hal ini bisa dikatakan sebagai langkah yang progresif atau “berkemajuan” dibelantika sepakbola negeri asalnya pizza tersebut.

Cagliari bermain ofensif plus enak disaksikan. Meski tidak menyamai kegilaan Zemanlandia, permainan menyerang bagi tim asal pulau Sardinia itu patut diapresiasi. Berkat prestasi membawa Cagliari menembus 10-besar melalui permainan ofensif, Allegri diganjar Panchina d’Oro musim 2008/09. Gelar itu adalah penghargaan pelatih terbaik di Italia versi asosiasi pelatih sepakbola Italia.

Allegri di Cagliari
Bakat Allegri sebagai pelatih hebat mulai terbukti, ketika pernah dinobatkan menjadi pelatih terbaik di Italia walau hanya melatih klub kecil seperti Cagliari.

Merubah Milan

Sesudah di Cagliari beberapa musim, Allegri naik pangkat melatih di klub sebesar AC Milan, pada musim 2010/11. Melatih tim merah hitam, Allegri kembali melakukan langkah yang sangat progresif. Menyadari bahwa AC Milan saat itu dihuni pemain-pemain “tua” dan tidak tangguh secara fisik, Allegri melakukan perubahan yang bisa dikatakan “radikal”.

Milan yang sebelumnya sangat ofensif dengan racikan fantasia (4-2-4) ditangan pelatih Leonardo (Brasil), dikembalikan ke 4-3-1-2, seperti zaman Ancelotti. Namun bedanya Allegri tidak mengharapkan Pirlo sebagai deep-lying playmaker. Lain daripada itu, satu pemain dibelakang dua stiker, ternyata bukanlah trequrtista sungguhan.

Milan ala Allegri di musim 2010/11 bermain lebih mengutamakan keseimbangan dan tentu lebih psychical, alih-alih berteknik tinggi. Sesuatu yang sudah pasti akan mereduksi atraktifitas permainan dan menjadikan mereka kesebelasan yang pragmatis.

Allegri kala itu gemar memainkan Kevin-Prince Boateng di pos penyerang lubang atau trequartista dibelakang duet striker. Yang menarik, pemikiran progesif Allegri membawa khasanah taktikal baru bagi sepakbola Italia, terutama terkait penempatan dan peran Boateng. Pemian Ghana ini dari segi struktrur formasi dan posisi memang bermain dibelakang dua penyerang, akan tetapi di lapangan dia juga berfungsi sebagai “tameng serangan”.

Ketika Milan menyusun serangan, Boateng menjadi attacking midfileder, namun ketika Milan diserang, Boateng melakukan fungsi defensifnya guna memberi pressing dan merebut bola dari lawan, sedari lini pertahanan lawan itu sendiri.

Terkait peran unik Boateng ini, pada 2012 sepmat muncul istilah “Finto Trequartista” atau gelandang serang palsu. Saat itu media gazzeta.it melabeli peran khas Boateng dengan nama tersebut dan sekaligus juga merekomendasikan itu ke timnas Italia sebagai ekstra strategi yang bisa digunakan pada laga kontra Inggris di Euro 2012.

Gaya main Boateng pada dasarnya berbeda dari trequartista yang penuh tekhnik bermain. Walau bisa menggocek, namun harus disadari bahwa skill olah bola Ricardo Kaka atau Wesley Sneidjer, jelas lebih hebat dari Boateng. Dengan determinasi tinggi, bertenaga dan tentu unggul secara fisik, Boateng sukses jalankan peran ganda dalam satu posisi, yakni satu peran ofensif dan satu peran defensif.

Seperti yang disebutkan di buku Sepakbola Seribu Tafsir karya Edward S. Kennedy, Boateng cenderung bermain seperti gelandang serang Inggris yang punya determinasi tinggi, semacam Steven Gerrard dan Frank Lampard, diibaratkan seperti powerful dart. Kebetulan baik Gerrard dan Lampard, memang tipe pemain yang demikian. Mereka bisa menjalankan tugas bertahan dengan baik meski naluri menyerang dan power kedua pemain ini sangat diandalkan timnya.

Selain gelandang serangnya adalah “tukang rebut bola”, tiga gelandang tengah dibelakang Boateng juga diisi oleh gelandang pekerja keras seperti Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, Clarence Seedorf atau Mathieu Flamini. Maka dari itu Andrea Pirlo kian tersisihkan di musim pertama Allegri. Terlebih Milan merekrut Mark Van Bommel yang lebih berkarakter petarung, pada pertengahan musim 2010/11 itu juga.

Untuk menanggulangi ketiadaan kreator permainan ulung seperti Pirlo, selain berharap pada Seedorf atau Boateng ketika memulai permainan, Allegri juga membebankan kreativitas serangan pada duet striker yang salah satunya diisi Ibrahimovic.

Progresifitas Allegri yang lain saat itu, juga nampak pada pemanfaatan Ibrahimovic sebagai “papan pantul”. Bola usaha Ibra di udara bisa dimanfaatkan oleh striker tandemnya dan juga Boateng ketika melancarkan serangan. Milan dengan Allegri di musim pertama sukses juara Serie A 2010/2011, setelah terakhir kali scudetti pada 2003/04. Penantian panjang tentunya bagi klub besar sekelas Milan.

Tetapi bulan madu Allegri hanya sesaat. Musim kedua (11/12), disamping telah menepikan Pirlo dari skema permainan, Allegri juga telah melakukan dosa besar lain. Dosa itu adalah “menyerahkan” Pirlo ke Juventus.

Dibawah komando Antonio Conte, Juve langsung juara Serie A di musim 2011/12 dan yang unik justru Andrea Pirlo menjadi salah satu kunci kebangkitan Juve. Lucunya ketika Juventus kembali merajai Serie A berkat andil besar Pirlo, disisi lain Milan justru “kolaps” bagai kapal terombang ambing yang tenggelam di tengah samudera.

Ternyata setelah Pirlo pergi dan diikuti veteran lain seperti Nesta, Seedorf, Inzaghi, Gattuso, Oddo dan Zambrotta musim-musim berikutnya, Milan memasuki periode kelam. Diperparah krisis finansial yang mendera, mereka pun terpaksa menjual dua aset paling berharga saat itu, Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic.

Setelah gemilang hanya di musim perdana, Milan dibawah naungan Allegri perlahan menjauh dari persaingan juara di musim-musim selanjutnya. Klimaksnya yakni pertengahan musim 2013/2014, setelah serangkain hasil buruk, Allegri dipecat oleh Milan pada bulan Januari 2014.

Memberi Kestabilan di Juventus

Ibarat ketiban durian runtuh, hanya sampai di pertengahan tahun 2014 dirinya didapuk menjadi allenatore Juventus. Allegri ditunjuk menggantikan Conte, yang melatih timnas Italia. Publik sepakbola, khususnya fans Juventus mengernyitkan dahi, terlebih melihat track record Allegri yang kurang mulus selama di Milan.

Juventuni pun dibikin khawatir dengan nasib Pirlo, yang kadung menjadi pemain krusial bagi La Vecchia Signora. Semua orang tahu, yang menjadi penyebab Pirlo minggat dari Milan, adalah salah satunya akibat “ulah” dari Allegri.

Tetapi di klub asal Turin itu, Allegri kembali berpikir secara progresif. Sadar Pirlo masihlah metronom permainan Juve, Allegri tidak gegabah dengan kembali membuangnya. Saat itu peran Pirlo justru semakin kuat di musim 2014/15, musim perdana Allegri membesut Juventus.

Selain tetap mengandalkan Pirlo, Allegri yang lebih “kalem” dalam melakukan pendekatan psikologi daripada Conte yang berapi-api, juga memberlakukan fleksibilitas dalam skema permainan tim. Formasi tiga bek (biasanya 3-5-2) warisan Conte masih digunakan, tetapi Allegri juga memainkan 4-3-1-2 sebagai variasi.

Dengan preferensi formasi sama (4-3-1-2), jelas “Boateng role” tetap ada. Arturo Vidal menjadi Boateng-nya Juventus. Lalu, tiga gelandang dibelakang Vidal adalah Pirlo, sebagai pengatur tempo permainan serta Pogba dan Marchisio, yang saling bergantian dalam menyerang dan bertahan. Sementara pos depan diisi duet Carlos Tevez dan Alvaro Morata atau Fernando Llorente.

Meski tiga gelandang tengah dalam formasi 4-3-1-2, tidak semuanya bertipe gelandang petarung murni, pertahan Juve tetaplah kuat dan rapat karena diisi oleh bek-bek top timnas Italia seperti Barzagli, Bonucci dan Chiellini. Hal inilah yang sangat memembedakan Milan dan Juve dibawah Allegri. Dengan kuatnya pertahanan Juve, membuat Allegri bisa menyediakan ruang depan garis pertahan agar Pirlo bebas “menari-nari” dan berkreasi di lapangan.

Permainan Juve meningkat dan Allegri hampir bawa Juve raih treble-winners musim 2014/15, andai tidak kalah dari Barca di final Berlin. Di musim kedua Allegri, meski Juventus sempat menurun karena gugur di fase 16-besar Liga Champions, mereka tetap merajai Serie A dan Coppa Italia 2015/16.

Musim kemarin (2016/17), mereka kembali bangkit dan hampir saja meriah tri gelar andai tidak dikandaskan Real Madrid. Pencapaian Juve musim lalu juga tidak lepas salah satunya berkat progresifitas Allegri. Setelah kehilangan Pirlo, Vidal dan Pogba secara berturut-turut, akhirnya Allegri membagi-bagi tugas playmaking ke beberapa pemain.

Dengan formasi andalan baru: 4-2-3-1, tugas membagi dan mengalirkan bola diamanahkan ke pivot ganda yang diisi oleh Miralem Pjanic dan Claudio Marchisio/Sami Khedira. Pjanic sejatinya adalah mezzala atau gelandang yang berkarakter lebih aktif menyerang .

Tetapi oleh Allegri dia ditarik kebelakang dan menjalani peran “Pirlo”, yakni pengalir bola dari belakang ke tengah atau langsung ke depan, tergantung situasi permainan. Selain dibantu oleh duetnya (Khedira/Marchisio), Pjanic juga dibantu oleh Leonardo Bonucci, bek tengah yang punya visi bermain dan akurasi umpan layaknya seorang gelandang.

Dalam 4-2-3-1, untuk mengisi tiga gelandang dibelakang satu penyerang, maka dibutuhkan dua sayap dan satu gelandang serang. Sadar hanya ada satu pemain yang kompatibel menjadi winger (Cuadrado di kanan), Allegri kembali melakukan langkah progresif dengan menempatkan striker tengah, Mario Mandzukic di pos sayap kiri. Meski ditempatkan di posisi itu, bukan berarti Mandzukic harus meliuk-liuk melewati lawan seperti pemain sayap pada umumnya.

Mandzukic justru menjadi alternatif dalam kekayaan taktik Juve. Seperti Ibra di Milan, Mandzukic sang Mister No Good, disamping menjadi penyelesai peluang selain Higuain, dia juga dijadikan “papan pemantul” untuk pemain Juve yang lain.

Dengan postur 190 cm, dia akan sering menerima umpan dari belakang dan sayap Juve guna menanduk bola ke gawang dan/atau memantulkan ke pemain-pemain Juve disekelilingnya. Dia adalah wide target man seperti yang disebutkan pada permainan Football Manager.

Selain itu, Mandzukic juga melakukan peran bagi penyerang yang di sepakbola modern saat ini makin ditekankan, bertahan. Peran tambahan bagi Mandzukic yaitu menjadi “pemain bertahan kiri”, ketika lawan melancarkan serangan dari sisi kanan Juve.

Untuk posisi gelandang serang, karena Pjanic yang harusnya menjalankan peran itu sudah dimainkan di pos lain, maka Allegri memilih Paulo Dybala. Meski Dybala diposisikan sebagai gelandang serang, namun dia tidak seratus persen mengkreasi serangan layaknya gelandang serang alami.

Dybala bergerak dinamis, fluid serta menjadi senjata gol selain Gonzalo Higuain. Selain itu kadang La Joya pun muncul dari lini kedua untuk mencetak gol, karena posisinya yang agak kebelakang. Ditambah kemampuan long range shoot yang keras nan akurat, ini lah kenapa Dybala sering beroperasi sedikit diluar kotak penalti demi mencoba tendangan jarak jauh.

Formasi 4-2-3-1 juga punya varian lain. Alves menggantikan Cuadrado, bek kanan diisi Barzagli. Ketika bertahan, formasi ini bisa menjadi 4-4-1-1, Mandzukic juga turun menjadi gelandang kiri, melapisi Alex Sandro di sisi kiri pertahanan dan Alves sebagai gelandang kanan akan melapisi Barzagli.

Hasilnya kita tahu, meski kembali gagal menjuarai Liga Champions, Juve setidaknya sudah sangat diperhitungkan di Eropa. Kini, Juventus sedikit demi sedikit menjelma dan menyejajarkan diri untuk menyamakan level dengan Real Madrid dan Barcelona.

Kelemahan dari Allegri

Meski sosok yang progesif, Allegri tetap mempunyai kelemahan yakni terlalu lunak terhadap manajemen bilamana urusan transfer datang. Ketika di Milan, kepergian Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic hanya dikompensasi Cristian Zapata dan Mario Balotelli atau Giampaolo Pazzini.

Setali tiga uang, kepergian beberapa gelandang senior seperti Seedorf, Ambrosini atau Gattuso kurang dari cukup jika hanya diganti oleh Nocerino, Montolivo atau Poli. Terlebih untuk menggantikan legenda-legenda itu, didatangakan pula pemain antah berantah seperti Bakaye Traore, Kevin Constant, Valter Birsa atau sesama old crack macam Michael Essien dan Sulley Muntari.

Di Juve, Allegri masih diuntungkan ketika kepergian Pirlo, Vidal dan Pogba disubtitusi oleh Khedira dan Pjanic. Bahkan perginya Tevez dan Morata diganti pemain yang tidak kalah berkualitas, Higuain dan Dybala. Di Juve pun, Allegri mendapat bonus tambahan berkat popularitas Juve makin naik hingga berhasil menarik minat pemain sarat akan “DNA” Eropa, seperti Patrice Evra dan Daniel Alves.

Progresif dalam sepakbola modern

Progresifitas Allegri dalam menyiasati taktik yang tepat dan sesuai dengan ketersediaan pemain, sangat menguntungkan Juventus. Meski hampir selalu ditinggal pemain-pemain penting di setiap musimnya, Juve tetap mampu juara Serie A, Coppa Italia dan bahkan dua kali menjadi runner-up Liga Champions selama tiga musim terakhir dibawah kendali Allegri.

Mungkin ada semacam “norma” bahwa sepakbola yang terbaik adalah yang mempertahankan idealisme (seperti istiqomah-nya Barcelona dengan tiki-taka). Tetapi Barca kini pun tak bulat dalam menjaga idealismenya. Terkadang mereka juga “berkhianat”, dengan sesekali memainkan operan-operan panjang langsung ke depan saat bermain.

Dalam sepakbola modern yang didalamnya memunculkan banyak kompleksitas, berpikir progresif seperti Allegri terkadang sangat diperlukan. Mencerna berbagai ide dan merangkum segala posibilitas demi menuai target yang diinginkan, kenapa tidak?

Sumber foto: goal.com dan zimbio.net

Advertisements

Conte yang Dibayangi Ancaman Deja Vu

Chelsea musim 2016-17 adalah jawara Premier League. Puja dan puji dialamatkan untuk Antonio Conte, selaku juru taktik The Blues. Meski sempat tersendat dengan formasi 4-2-3-1, Conte menyulap Chelsea menjadi tim pemenang pasca merubah formasi. Taktik racikan Conte membawa kenyamanan dalam ritme permainan tim semenjak beralih ke formasi tiga bek; 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Disamping taktik, kesuksesan Chelsea juga berkat faktor teknis pemain di lapangan. Conte melakukan pembelian cerdas, N’golo Kante adalah holding midfielder terbaik dunia saat ini. Dia melindungi pertahanan dengan baik dan idem ditto ketika mengalirkan bola. Permainan apik dari Kante itu menuntunnya pada gelar pemain terbaik versi PFA, FWA dan Liga.

Dibawah rezim Antonio Conte, Eden Hazard kembali menjadi sesuatu yang “Hazardous” bagi lawan. Hazard mengkreasi 79 key passes dan lima asis. Performa Hazard meningkat, seakan menuju ke level permainan terbaiknya di dua musim silam. Sementara itu si tukang pukul Diego Costa, menjadi lebih jinak dan kalem dibawah kendali Conte, meski tanpa menghilangkan keberingasannya didepan gawang. Costa cetak 20 gol di Premier league.

Conte tak lupa menciptakan kejutan, yakni dua outsider yang menjadi pilar inti. Marcos Alonso yang awalanya dikritik terlalu lamban dan tidak istimewa, menjadi bek sayap kiri yang begitu menjanjikan. Yang paling tidak disangka tentu bangkitnya Victor Moses. Mantan pemain Wigan yang sebelumnya tak punya kejelasan nasib, mendadak diandalkan sebagai bek sayap kanan. Alonso dan Moses membuat kedua sayap Chelsea hidup, serta seimbang dalam menyerang dan bertahan.

Di belakang, inovasi brilian Conte adalah menggeser Cesar Azpillicueta menjadi bek tengah sebelah kanan dan terbukti permainannya begitu solid. Pemain Spanyol ini sangat diandalkan di lini belakang, dia menyapu bersih seluruh gameweek dan tampil penuh di setiap laga.

Kemudian, Conte sukses “mendewasakan” permainan David Luiz, yang sebenarnya merupakan pembelian agak mengejutkan diawal musim. Selain mendekati uzur, gaya main Luiz juga bisa membuat jantung berdebar bagi fans Chelsea dimanapun.

Dengan bakat Brasil yang mengalir, bukan kendala bagi Luiz untuk bermain stylish meski berposisi bek tengah. Dia tipikal pemain yang berani berlama-lama dengan bola, meski disisi lain itu juga bisa beresiko tinggi bagi pertahanan timnya sendiri. Saat ini memang terkadang Luiz masih membawa bola terlalu lama, namun dibawah Conte, dirinya sedikit berubah. Pria kribo itu tidak lagi gampang blunder serta bermain lebih disiplin, daripada David Luiz yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, Conte jeli memanfaatkan potensi-potensi pemain dari bangku cadangan, meski sebenarnya mereka ini pemain bereputasi besar. Cesc Fabregas memang kalah bersaing dengan N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Meski tidak selalu dimainkan sejak menit pertama, jebolan La Masia ini beberapa kali menjadi pemecah kebutuntuan. 10 asis-nya adalah catatan tertinggi diantar pemain Chelsea lain di liga.

Begitu juga Willian yang harus menjadi back-up bagi Pedro serta Michy Batshuayi, striker 40 juta euro yang menjadi penghangat bangku cadangan. Meski begitu, baik Willian dan Batshuayi tetap punya kontribusi untuk Chelsea. Willian mengemas 8 gol musim ini meski berstatus pemain cadangan. Batshuayi jarang bikin gol, karena toh jarang pula diturunkan. Tetapi golnya di laga melawan West Brom, pekan 37 termasuk vital karena mengunci gelar Premier League untuk Chelsea.

Tetapi yang sedikit mengherankan, kecemerlangan Chelsea bersama Conte musim 2016/17 lalu, tak serta membuat klub yang bermarkas di Stamford Bridge ini kembali dijagokan back to back menjuarai Premier League. Lihatlah kenyataannya beberapa rumah taruhan justru menjagokan Manchester City, yang yang lebih berpeluang besar untuk juara musim 2017/18 nanti, daripada Chelsea.

Kebetulan yang sempurna, Manchester City memang menjadi tim besar Inggris dengan gerakan tercepat untuk urusan transfer. The Citizens saat ini telah resmi mengumumkan akuisisi beberapa pemain muda menjanjikan seperti Bernardo Silva (Monaco) dan Ederson Moraes (Benfica). Selain itu City juga dirumorkan mengincar nama-nama beken lain seperti Leonardo Bonucci, Virgil Van Dijk, Kyle Walker dan Benjamin Mendy.

The Citizens akan belanja besar-besaran demi merombak kerangka tim seperti yang diingikan oleh Pep Guardiola. Dengan komposisi tim yang sesuai pikiran mantan pelatih Barca itu, serta Guardiola sendiri pun sudah punya cukup waktu beradaptasi dengan sepakbola Inggris, inilah yang membuat City diunggulkan oleh banyak pihak.

Disisi lain, salah satu alasan kenapa Chelsea tidak diunggulkan menjuarai liga musim depan, selain karena geliat Manchester City, juga karena bongkar pasang skuad musim ini.

Akibat dari geliat City dan aktivitas transfer mereka sendiri yang cenderung sedang, Chelsea beserta pelatih Conte harus pula waspada dengan ancaman-ancaman deja vu setelah menjuarai Premier League.

* Penurunan performa, semusim pasca juara

Deja Vu pertama yakni, manakala juara Premier League justru langsung babak belur begitu musim berganti. Fenomena ini muncul dalam dua musim belakang. Chelsea yang menjadi juara Premier League musim 2014/15, secara mengejutkan berubah layaknya tim medioker di musim 2015/16. Saat itu ditengarai konflik Mou versus dokter medis Chelsea, Eva Carniero yang menjadi pemicu awal terganggunya konsentrasi para pemain.

Terlebih hobi Mourinho bermain psy-war dengan manajer lain dan gemar mengkritik pemain-pemainnya sendiri, serasa membuat sorotan tajam selalu terarah ke Chelsea saat itu hingga pemain tak mampu jaga konsentrasi. Mereka terlempar dari persaingan juara dan bahkan sempat berada di papan bawah musim itu. Di arena lain seperti Liga Champions, FA Cup dan League Cup, nasib mereka setali tiga uang.

Kemudian, klub kedua yang menurun drastis pasca juara adalah Leicester City. Memang banyak yang memprediksikan performa mereka di 2016/17, tidak akan segalak ketika berhasil juara (2015/16). Tetapi terjembab di papan bawah juga tidak masuk ekspektasi banyak pengamat sebelumnya.

Penjualan N’golo Kante disebut menjadi biang keladi penyebab penampilan Leicester memburuk. Ketika performa tim menurun, pelatih menjadi orang paling bertanggung jawab dan Claudio Ranieri merasakan hal itu (dipecat), meski banyak pihak menyayangkan pemecatan ini.

* Pelatih Italia yang dipecat, semusim pasca juara

Deja vu bentuk kedua yakni seolah muncul tradisi bahwa pelatih asal Italia yang berhasil membawa timnya juara Premier League, akan terkena PHK musim selanjutya. Hal ini sudah dimulai dari era Carlo Ancelotti, yang kini sedang menangani raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Don Carletto yang dikontrak Chelsea pada musim 2009/10, langsung juara Premier League dan FA Cup di musim perdana itu juga. Dia adalah orang Italia pertama yang sukses menjuarai liga Inggris. Musim selanjutnya, 2010/11, ekspektasi tinggi menggelayuti Chelsea untuk bisa lebih berprestasi, termasuk di Eropa. Sialnya, Ancelotti gagal mempertahankan gelar Premier League dan mereka juga gugur di perempat final Liga Champions. Ancelotti pun disingkirkan Abramovich pada Mei 2011.

Roberto Mancini, yang memanajeri Manchester City sejak 2009, berperan besar atas kisah dramatis klub itu juara Premier League 2011/12. Tetapi mantan pelatih Inter ini juga tidak luput dari pemecatan satu musim kemudian, 2012/13. Beberapa faktor seperti jeblok di Liga Champions serta gagal mempertahankan gelar liga, disinyalir menjadi penyebab kenapa Mancio ditendang oleh manajemen The Citizens.

Italiano ketiga yang didepak semusim pasca juara liga, siapa lagi kalau bukan Claudio Ranieri. Mantan pelatih Valencia ini sebelumnya berhasil menggoreskan sejarah bak cerita dongeng yang legendaris. Claudio membawa tim antah-berantah, Leicester City menjuarai Premier League musim 2015/16. Pujian mengalir begitu deras untuk dirinya. Claudio bahkan dianugerahi Ordo Merit oleh pemerintah Italia, atas jasanya mengharumkan nama negeri itu dibelantika sepakbola.

Musim 2016/17, Ranieri di bebas tugaskan secara resmi oleh Leicester pada 2 Februari 2017, walaupun pada bulan Januari sebelumnya mendapat gelar FIFA Best Men’s Coach. Ranieri didepak atas penurunan performa secara drastis The Foxes di liga. Kekalahan di 16-besar Liga Champions leg pertama melawan Sevilla, seakan hanya jadi penegas hantaman “godam” pemecatan bagi Ranieri.

* Musim Mourinho

Antonio Conte sendiri mengatakan tidak ingin merasakan deja vu “musim Mourinho”, yang ia anaolgikan sendiri sebagai penurunan tajam performa setelah juara. Apakah ia sendiri merasa khawatir kejadian yang menimpa Mourinho di musim terakhirnya bersama Chelsea akan menjangkitinya juga?

Kalau dilihat dari awal musim, kejadian itu bisa jadi akan terulang. Mereka kalah di ajang Community Shield 2017 dari Arsenal, yang dipandang sebagai tanda-tanda awal menurunnya performa Chelsea.

Mourinho juga merasakan suasana tidak nyaman di musim 2015/16 lalu. Mereka kalah dari Arsenal di Community Shield dan di pekan pertama mereka ditahan Swansea 2-2 beserta konflik Mourinho versus Eva Carneiro yang menambah runyam hari-hari di awal musim Chelsea sebagai juara bertahan kala itu. dia akhir musim 2015/16 itu, Chelsea babak belur.

* Menghindari Deja Vu

Musim 17/18 ini Conte wajib menghindari tiga deja vu sekaligus. Pertama, dalam dua musim terakhir, juara Premier League selalu amburadul di musim selanjutnya (saat berstatus juara bertahan). Lalu, dia juga harus menghindari kutukan deja vu lain, berupa manajer Italia yang dipecat, hanya semusim pasca membawa timnya memenangi Premier League.

Celakanya sebagai tim besar yang haus akan trofi, maka tak cukup puas bagi sang bos, Roman Abramovich jika Chelsea hanya jago kandang (di kompetisi Inggris) saja. Conte harus mendorong Chelsea untuk berbuat banyak di Liga Champions Eropa, sebisa mungkin juara.

Ini yang menjadi tanda tanya. Sebagai pelatih di level klub, Conte memiliki riwayat bagus untuk kompetisi lokal, namun tidak ketika mentas di Eropa. Juventus dibawah kendalinya tidak memuaskan selama di Liga Champions. Pernah sampai semifinal kompetisi Eropa, tetapi bukan di Liga Champions, mekainkan Liga Europa tepatnya musim 2013/14.

Identik dengan tiga bek adalah momen dimana Juve a la Conte yang jago di kandang (di Serie A), namun loyo di kompetisi Eropa. Kebetulan Chelsea-nya Conte juga mengandalkan skema tiga bek.

Sedikit kolotnya Conte dengan skema tiga bek menjadi salah satu faktor kenapa Juve tak berdaya di Eropa. Terbukti ketika beralih ke Allegri, yang sering menggunakan formasi empat bek untuk mengarungi Liga Champions, Juve sampai dua kali masuk final dalam tiga musim terakhir. Conte kali ini sudah seharusnya belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelum ini.

Roberto Di Matteo, pelatih Italia kelahiran Swiss ini saja didepak, walau belum genap semusim pasca membawa Chelsea merengkuh trofi Liga Champions (pertama dalam sejarah klub) dan FA Cup 2011/12.

Dipecatnya pelatih asal Italia seperti Ancelotti, Mancini atau Ranieri selain karena gagal mempertahankan trofi Premier League, juga disebabkan pula oleh buruknya performa tim-tim asuhan mereka di Liga Champions. Sepakbola modern memang kejam, sedikit saja kurang memuaskan, maka pemecatan pelatih bukan menjadi barang langka lagi.

Conte seharusnya bisa menghapus dua deja vu laten di Chelsea tersebut beserta deja vu musim Mourinho, yang bisa setiap saat membuat dirinya kehilangan jabatan manajer Chelsea. Memperkuat lini belakang menjadi langkah pertama Conte. Trio Azpillicueta-Luiz-Cahill perlu diberi saingan pemain berkualitas, setelah Kurt Zouma, Nathan Ake dan John Terry meninggalkan klub.

Wing-back dikedua sisi juga perlu pelapis yang sepadan dengan Alonso dan Moses, mengingat dua posisi ini juga vital bagi permainan Chelsea. Dengan berharap Abramovich mengucurkan dana besar untuk operasi pasar transfer.

Pemain baru seperti Alvaro Morata, Antonio Ruediger dan Timoue Bagayoko belum cukup meningkatkan kualitas Chelsea. Lihat saja daftar yang pergi; Diego Costa, Nemanja Matic, Nathan Ake, Kurt Zouma dan John Terry. Kedatangan pemain baru hanya menambal lubang saja, belum meningkatatkan kualitas Chelsea secara signifikan.

Selain memperdalam skuad, memperkaya pilihan taktik juga perlu direncanakan Conte. Sukses mereka musim 2016-17 lalu, sudah jelas membuat lawan yang menghadapi mereka akan menyiapkan segenap tenaga untuk mengalahkan juara bertahan.

Tugas Conte tambah berat di musim 2017/18. Selain Premier League semakin kompetitif, konsentrasi Chelsea terbagi di empat ajang sekaligus. The Blues akan menjajal jadwal super padat karena berlaga di Premier League, Liga Champions, Piala FA dan Piala Liga.

Kini tinggal bagaimana pintar-pintarnya Conte saja dalam mengelola Chelsea di musim 2017-18 depan. Sepertinya, prestasi minimal Conte musim depan adalah mempertahankan status juara liga, demi menghindari pemecatan. Untuk langsung juara Liga Champions, terhitung sulit mengingat sudah satu musim Chelsea absen dari serunya pertarungan di Eropa.

Sebagai orang yang kenyang asam garam di dunia kepelatihan, terlebih juga pernah menangani sebuah timnas, tentu pengalaman dan kekayaan taktik Conte saat ini jauh lebih baik sedari ketika masih di Juventus dahulu. Jadi, sudah siapkah menghapus deja vu dan musim Mourinho itu, Antonio?

Sumber foto: express.co.uk

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

Image

Sukses? Tergantung Pelatih

Ketika kita menonton sebuah pertandingan sepakbola, maka kita akan memuji penampilan bagus yang ditunjukkan oleh pemain. Ada pula gol, dribel pemain maupun penyelamatan kiper yang membuat decak kagum dan seakan tujuan kita menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai tontonan namun juga kesenangan dalam hidup.

Apalagi sepakbola juga membawa identitas daerah ataupun nasional yang membuat kita semakin semangat dalam menikmati cerita-cerita dari si kulit bundar, lalu ditambah intrik-intrik baik didalam maupun luar lapangan hijau membuat sepakbola begitu digemari diseluruh dunia.

Jika kita mengatakan sepakbola maka itu tidak lepas dari permainan sebuah tim, namun tidak hanya itu saja karena ada sosok lain dalam sepakbola yang sangat menentukan jalannya pertandingan sepakbola, tak lain dia adalah seorang pelatih.

Ya, peran pelatih begitu penting dalam sepakbola, karena dialah yang akan meramu dan menentukan skema permainan timnya. Bagaimana sebuah tim bermain akan tergantung dari pola yang diterapkan pelatih, dialah yang menyatukan bakat-bakat pemain dengan berbagai macam sifat dan karakter itu menjadi suatu bentuk kerjasama di lapangan hijau yang tujuannya adalah untuk memenangi pertandingan.

Saat ini pelatih yang berkualitas adalah faktor penting dalam tim apabila ingin meraih prestasi, karena sehebat apapun pemainnya jika si pelatih tak mampu meramu strategi permainan yang pas dan menyatukan pemain dengan sifat dan karakter yang berbeda maka tim tersebut tidak akan tampil maksimal.

Contohnya adalah Steve Mclaren yang gagal meloloskan Inggris ke Euro 2008, padahal semua lini tim nasional Inggris dihuni pemain berkualitas, namun Mclaren gagal memanfaatkan potensi pemain-pemain yang ada.

Disatu sisi meski pemain di dalam tim tersebut kualitasnya biasa saja, namun apabila pelatihnya dapat merancang strategi permainan dengan baik dan memanfaatkan talenta pemain dengan kekayaan strateginya, tim tersebut bisa berbuat sesuatu yang lebih walaupun kualitas pemain-pemain itu biasa saja.

Bahkan tak jarang performa dan potensi pemain yang standar tersebut akan ikut terdongkrak berkat kejeniusan pelatih dalam meracik taktik permainan dalam sebuah tim.

Contohnya adalah fenomena Leicester City musim 2015-2016, dilatih oleh pelatih yang kaya pengalaman dalam dunia sepakbola, Claudio Ranieri.

Leicester menjelma menjadi tim kuda hitam dan mampu bersaing di papan atas English Premier League, padahal jika menilik kualitas tim, The Fox diprediksi hanya akan bersaing di papan bawah. Namun ternyata tangan dingin pelatih asal Italia tersebut mampu mengangkat performa tim.

Dan hasil dari kejeniusan Ranieri tidak hanya mengangkat posisi Leicester ke papan atas, beberapa performa pemain mereka juga ikut terangkat karena permainan tim yang bagus, contohnya adalah Riyad Mahrez, N’Golo Kante Jamie Vardy.

Bahkan Jamie Vardy membuat rekor dengan mencetak gol dalam sebelas laga tanpa putus di Premier League, dan memecahkan rekor milik mantan bomber United, Ruud van Nistelrooy yang cetak gol dalam 10 laga beruntun.

Pelatih berkualitas adalah dia yang mampu membuat timnya berprestasi, jika tim yang dilatih adalah Barcelona, Madrid, Bayern, atau Juventus wajar apabila mampu berprestasi karena keberadaan pemain yang secara kualitas diatas rata-rata daripada klub lain.

Tapi apabila yang dilatih adalah tim seperti Atletico, Dortmund, Porto, atau bahkan tim yang lebih kecil lagi seperti Leicester namun bisa memperoleh prestasi, kredit positif pantas diberi untuk pelatih tersebut mengingat kualitas dan reputasi yang belum satu level dengan klub besar Eropa lain.

Itu menunjukkan bahwa peran pelatih adalah krusial bagi sebuah tim, meski materi pemain dan reputasi tidak terlalu mentereng, namun dengan kemampuan mengelola tim yang baik seorang pelatih mampu mengangkat timnya untuk bersaing di jajaran atas Eropa.

Contohnya adalah Jose Mourinho semasa di Porto, dengan materi yang bukan kelas atas, dia mampu menghadirkan gelar Piala UEFA (Liga Eropa) dan Liga Champions. Sudah jelas bahwa skill dia dalam melatih klub sepakbola tidaklah sembarangan, memberikan tim seperti FC Porto dengan gelar bergengsi macam Liga Champions adalah hal yang sangat luar biasa.

Karena itu pula kualitas Porto diakui dan pemain-pemainnya menjadi komoditi laris bagi klub besar, beberapa anak didik Mourinho yang dibeli tim besar adalah Ricardo Carvalho, Paulo Ferreira, dan Deco.

Maka tak heran dia pun menjadi incaran beberapa klub untuk dilatihnya akhirnya yang beruntung adalah Chelsea dan ditambah dengan semangat baru pasca kehadiran Roman Abramovich yang membawa banyak uang, berevolusilah Chelsea menjadi klub papan atas Eropa sejak saat itu. Beberapa tahun terakhir juga muncul beberapa pelatih hebat yang mampu menghancurkan dominasi tim mapan, yang pertama adalah Jurgen Klopp.

Dibawah asuhan dia, Borussia Dortmund yang sebelumnya adalah tim biasa saja disulap dengan gaya khas Gegen pressing menjadi tim yang mampu menjungkalkan raksasa Bundesliga, Bayern Munich dan menjadi juara Liga Jerman pada musim 2010-2011 dan 2011-2012.

Tentu hal itu sangat mengejutkan selain karena Bayern adalah penguasa Jerman dan mempunyai dana berlimpah, Dortmund pun hanya diperkuat pemain-pemain muda seperti Mats Hummels, Neven Subotic, Shinji Kagawa, Mario Goetze, Lucas Barrios, Robert Lewandowski dan Nuri Sahin.

Apalagi dengan skuad muda tersebut, Klopp mampu membawa Dortmund main di Final Liga Champions musim 2012-2013. Sungguh itu adalah pencapaian luar biasa bagi tim seperti Dortmund yang secara finansial dan kualitas kalah dari Bayern, namun dengan kecerdikan Klopp, Dortmund mampu meraih berbagai prestasi membanggakan.

Tidak hanya itu, berkat kejelian Klopp memaksimalkan potensi pemain pula, muncul nama-nama pemain berkualitas di Dortmund, sebut Kagawa, Sahin, Hummels, Goetze, dan Lewandowski.

Contoh selanjutnya adalah pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Pria asal Argentina ini melatih Los Rojiblancos sejak 2011. Meski sebelum mengambil alih kuasa sebagai komando di Vicente Calderon dia bukanlah pelatih dengan prestasi yang mencolok. Sebelum datang, pengalaman dia paling banyak ketika di Argentina, dan satu-satunya pengalamannya melatih klub Eropa adalah kala menjadi pelatih klub semenjana Italia, Catania pada 2011.

Rekam jejaknya di Eropa dulu hanya bertahan setengah musim sebelum kembali ke mantan klub yang dulu ia latih, Racing Club pada pertengahan tahun 2011 itu. Dan baru pada Desember 2011 dia ditunjuk oleh Atletico untuk menggantikan Gregorio Manzano yang dianggap gagal oleh manajemen setelah serangkaian hasil buruk Atleti dibawah kendali Manzano.

Dia pun ditunjuk bukan karena track record selama karirnya menjadi pelatih, namun lebih karena kedekatan sebagai mantan pemain Atletico, namun tak disangka justru dibawah asuhannya itulah Atletico berubah tidak hanya menjadi batu sandungan, namun menjadi pembunuh dua kutub utama sepakbola Spanyol, Madrid dan Barcelona.

Jika Dortmund mampu melumpuhkan salah satu klub terbaik dunia, Bayern Munich maka Atletico lebih hebat lagi dengan sekaligus membuat dua klub megabintang dan terbaik dunia sekelas Madrid dan Barcelona kelimpungan.

Di musim pertama dia raih gelar Europa League dengan mengalahkan sesama klub Spanyol, Athletic Bilbao 3-0 di final. Lalu musim selanjutnya (2012-2013) dia sukses mengantar Atletico kampiun Piala Super Eropa (mengalahkan juara Liga Champions 2011-2012, Chelsea) dan gelar Copa del Rey dengan membekuk rival sekota, Real Madrid.

Dan sudah tentu yang paling fenomenal adalah pada musim 2013-2014, Diego Simeone berhasil memimpin pasukannya merebut title juara La Liga dan secara mengejutkan berhasil melaju hingga partai Final Liga Champions sebelum kalah secara dramatis oleh Madrid.

Keberhasilan menjuarai liga dan melaju ke final kompetisi tertinggi Eropa adalah sesuatu yang sangat spesial bagi Atletico, apalagi jika melihat kualitas pemain dan reputasi mereka yang berada dibawah bayang-bayang Madrid dan Barcelona.

Namun kejelian Simeone meramu strategi dan karakter kerja keras yang dia terapkan sangat berpengaruh bagi skuadnya, dan itulah salah satu faktor yang membuat Atletico bermain luar biasa dan pantang menyerah sepanjang laga.

Dan dibawah sentuhan tangan dingin dia pula potensi pemain-pemain Atletico yang dulunya adalah pemain biasa saja dan tak terlalu menonjol berubah menjadi pemain papan atas seperti; Thibaut Courtois, Diego Godin, Joao Miranda, Juanfran, Koke, Arda Turan, Adrian, Raul Garcia, Filipe Luis hingga Diego Costa.

Jose Mourinho (saat di FC Porto), Jurgen Klopp saat melatih Dortmund dan Diego Simeone yang mampu mengangkat reputasi Atletico adalah bukti bahwa keberadaan manajer atau pelatih adalah penting bagi sebuah tim yang ingin meraih prestasi meski materi pemain tidaklah sehebat klub-klub besar Eropa lainnya.

Mereka memberi kita contoh; uang, reputasi, dan kualitas pemain saja belum tentu menjadi jaminan akan sebuah prestasi.

Diperlukan pula kejeniusan taktik strategi dan skill kepemimpinan yang hebat dari seorang pelatih agar bisa menjadikan sebuah tim  sebagai pemenang dan juara, dan ini lah yang membuat sepakbola menjadi permainan yang unpredictable game, karena tak selamanya kualitas pemain, reputasi dan uang selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan.

Sumber foto, mirror.co.uk

Jekyll dan Hyde seorang Allegri

Jekyll dan Hyde adalah dua nama tokoh dalam novel karya Robert Louis Stevenson dari Skotlandia, dengan judul Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang diterbitkan pada 1886.

Gambaran umum cerita novel ini adalah tentang kepribadian ganda seseorang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya. Dampak dari film tersebut sangatlah kuat hingga dalam bahasa psikologi frasa “Jekyll” dan “Hyde” menjadi penyebutan untuk karakter orang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya.

Lalu apa kaitanya dengan Massimiliano Allegri, manajer Juventus saat ini? Disini Allegri bisa digambarkan karakternya seperti frasa “Jekyll” dan “Hyde” dalam karir kepelatihannya, terutama ketika berada di dua tim terakhir yang dia tangani, AC Milan dan Juventus.

Massimiliano Allegri, pria kelahiran Livorno 48 tahun silam adalah pelatih Italia yang berbakat, bagaimana tidak dia dianugrahi gelar Panchina d’Oro (Golden Bench) di musim 2008-2009 saat mengarsiteki Cagliari, klub yang terhitung medioker, pemain yang standar, minim bintang, dan dana transfer kecil.

Meski begitu dia mampu menyulap I Rossoblu berubah menjadi tim menyerang yang atraktif dan menjadi kerikil bagi tim-tim besar Serie-A.

Tak hanya itu, dibawah kendalinya Cagliari mampu menjadi produsen pemain berbakat bagi tim nasional Italia seperti kiper Federico Marchetti, bek muda Davide Astori, trequartista Andrea Cossu, dan striker Alessandro Matri dan karena itulah nama Cagliari dan Sardinia mulai akrab di telinga tifosi Serie A pada sekitar tahun 2008 hingga 2010.

Namun layaknya klub kecil yang sedang berkembang, pemain-pemain Cagliari pun mulai dilirik klub besar, ditambah ketidaksabaran manajemen terhadap tim yang tak kunjung lolos ke zona Eropa, Allegri justru berpisah dengan Cagliari di tahun 2010 meski mampu mempertahankan tim di Serie A.

Kepergiannya disusul dengan beberapa perpindahan bintang dari stadion Sant’Elia, Marchetti pindah ke Lazio dan disusul Matri yang hijrah ke Juventus pada 2011. Sekarang ini malang justru menimpa Cagliari yang bermain di Serie B karena terdegradasi dari Serie A musim lalu.

Karir Massimiliano Allegri semakin naik ketika dia ditunjuk menjadi pelatih AC Milan pada 2010 pasca dipecat oleh Cagliari. Dimusim pertamanya menangani I Rossoneri, dia langsung sukses tancap gas dengan memperoleh scudetto.

Allegri mulai dipandang sebagai pelatih hebat, karena mampu meramu komposisi tim dengan isi pemain-pemain macam; pemain atas yang terkadang mempunyai ego tersendiri seperti Zlatan Ibrahimovic dan Antonio Cassano, pemain senior yang menjadi legenda klub seperti Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Fillipo Inzaghi, Clarence Seedorf, dan Massimo Ambrosini.

Tak ketinggalan pemain bertalenta seperti bek tangguh Thiago Silva, wonderkid Alexandre Pato, striker lincah Robinho hingga gelandang energik seperti Kevin-Prince Boateng, mereka semua bermain padu dengan skema yang diterapkan Allegri yang berbuah gelar juara liga diakhir musim.

Namun selepas kehebatan di musim 2010-2011, dimusim selanjutnya AC Milan dibawah kendali Allegri seperti kapal yang terombang-ambing di lautan, performa Milan menurun di musim kedua dan gelar juara terpaksa direbut oleh Juventus, disamping karena kelalaian Allegri membiarkan Pirlo ke Juventus.

Di bursa transfer musim panas 2012-2013, kegagalan dia memaksa manajemen Milan agar tak menjual Ibrahimovic dan Thiago Silva menghasilkan petaka dan ditambah perginya sejumlah legenda klub seperti Nesta, Seedorf dan Gattuso membuat Milan dimusim tersebut hancur lebur. Allegri sebagai pelatih tidak mampu mengatur siasat transfer sesuai kehendak dia sendiri, dia tunduk pada manajemen Milan.

Dan hasilnya Allegri hanya terima nasib pemain sekaliber Thiago Silva digantikan bek raja blunder dari Villareal, Cristian Zapata yang jelas saja membuat pertahanan Milan amburadul, ditambah perginya Nesta, duet Zapata dan Phillipe Mexes (free transfer dari Roma sejak musim 2011-2012) dijantung pertahanan sangat rentan ditembus penyerang lawan.

Lini tengah juga kurang dari kualitas yang sepadan, kedatangan kapten Fiorentina, Riccardo Montolivo, Andrea Poli dari Sampdoria, Nigel De jong dari Manchester City, dan dua pemain medioker Bakaye Traore dari Nancy dan Kevin Constant dari Chievo untuk menggantikan pemain berkelas seperti Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf dan Mark van Bommel.

Jelas itu tidak cukup dari segi kualitas, apalagi mengingat lini tengah Milan hanya tinggal diisi oleh Sulley Muntari, Michael Essien, Massimo Ambrosini, dan Antonio Nocerino. Untuk pos striker, meski ada nama Giampaolo Pazzini, Alexandre Pato, Robinho, youngster Stephan El Shaarawy dan Mbaye Niang, dirasa kurang mengingat kepergian Ibrahimovic terasa berpengaruh bagi ketajaman lini depan Rossoneri, kedatangan Mario Balotelli di paruh kedua musim itu pun dirasa terlambat untuk menyelamatkan peluang AC Milan bersaing merebut scudetto.

Sebelum musim 2012-2013 berakhir, Allegri dipecat oleh manajemen AC Milan setelah kekalahan 4-3 di kandang Sassuolo dan serangkaian hasil buruk sebelum laga tersebut, Milan hancur dimusim itu.

Performa yang berbanding terbalik dari saat juara di musim debutnya lalu melempem di dua musim selanjutnya membuat reputasi Allegri sebagai pelatih hebat mulai dipertanyakan.

Performa Milan yang bagus dimusim pertama lalu jelek dimusim-musim selanjutnya memperlihatkan Allegri bukanlah pelatih yang mampu menjaga konsistensi tim-nya untuk bersaing dipapan atas, Allegri pun menganggur setelah dipecat Milan hingga peristiwa summer 2014-2015 pun terjadi.

Musim panas 2014, adalah Antonio Conte legenda dan mantan kapten Juventus yang melatih I Bianconeri sejak musim 2011-2012 hingga pertengahan tahun 2014 yang sukses menyuntikkan kembali aura Lo Spirito Juve kedalam setiap hati pemain dan membuat Juventus meraih hattrick scudetto dari 2011 hingga 2014.

Tiba-tiba Conte secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih Juventus yang kemudian menjadi pelatih tim nasional Italia menggantikan Cesare Prandelli.

Namun tidak hanya Conte saja yang membuat kejutan, manajemen Juventus pun tak kalah hebohnya dengan mendatangkan pelatih yang reputasinya tidak terlalu cemerlang dan terhitung gagal, Massimiliano Allegri.

Ya, Allegri pun datang melatih Juventus pada musim 2014-2015, dan inilah kejutan terbesar di sepakbola Italia setelah pengunduran diri Antonio Conte atau bahkan mungkin lebih heboh dari berita pengunduran diri Conte tersebut.

Sontak saja keberadaan Allegri sebagai pelatih membuat peluang Juventus mempertahankan gelar juara dipertanyakan, apalagi Juventus dikomandoi oleh Andrea Pirlo, yang dulu semasa di AC Milan Pirlo tidak terlalu diandalkan Allegri yang membuat dia dibuang ke Juventus musim 2011-2012.

Dengan segala hal itu membuat publik ragu Juventus dibawah kendali Allegri mampu berprestasi baik di Italia maupun Eropa. Namun Allegri seperti mengalami deja vu ketika menjadi pelatih tim besar, sama seperti ketika debutnya sebagai pelatih AC Milan, dia sukses bersama Juventus pada musim pertamanya.

Tidak tanggung-tanggung, Juventus dibawanya hampir meraih treble winners di musim pertamanya! Di Serie-A Juventus mantap meraih scudetto dengan unggul jauh dari AS Roma diposisi dua, lalu di Coppa Italia dengan mengalahkan Lazio 2-1 di partai final, dan di final Liga Champions mereka memang kurang beruntung karena dikalahkan Barcelona dengan skor 3-1.

Tentu saja segudang prestasi di musim pertama sebagai pelatih Juventus membuat dia dipuja-puji oleh publik Italia, reputasinya sebagai pelatih hebat kembali pulih dengan cepat.

Di musim tersebut Allegri memang sangat brilian, allenatore berani mencoba varian taktik baru dan tidak hanya mengandalkan formasi 3-5-2 ala Conte, dia bereksperimen dengan 4-3-1-2 yang terbukti jitu diterapkan bagi pemain Juventus.

Di lini belakang, kapten Gianluigi Buffon masihlah sebagai kiper andalan, Gigi yang merupakan pembelian termahal Juventus (52 juta euro), tidak tergantikan posisinya dan hal itu pun sama dengan apa yang terjadi di tim nasional Italia.

Posisi empat pemain belakang ditempati Stephan Lichtsteiner sebagai bek kanan, jantung pertahanan La Vecchia Signora dikawal oleh Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang memang menjadi bek terbaik di Italia, lalu ada Patrice Evra disebelah kiri, sebenarnya pembelian Evra diragukan, mengingat masih ada Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie.

Namun Juventus pintar membeli Evra, dilihat dari segi permainan, Evra sudah tua dan tidak terlalu cepat lagi sebagai bek sayap, namun dari sisi kepemimpinan dan pengalamannya di Liga Champions lah yang memang diincar Juventus pada diri Evra.

Apalagi dia bisa berbicara dengan semua bahasa Latin, sehingga transfer ilmu dan sharing pengalaman dari dirinya berjalan mulus terutama kepada pemain yang masih minim pengalaman di Liga Champions Eropa.

Untuk pelapis bek, diposisi kanan ada nama Romulo, pinjaman dari Hellas Verona yang bermain baik disana sebelumnya, lalu di posisi bek tengah ada bek senior Andrea Barzagli (sebagai pelapis utama Bonucci dan Chiellini), adapula bek keturunan Nigeria; Angelo Ogbonna serta bek serba bisa Martin Caceres, di pos bek kiri dilapisi oleh Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie, dan bahkan Simone Padoin pun bisa bermain di posisi ini.

Di lini tengah Andrea Pirlo masih sebagai regista atau deep-lying playmaker, umpan-umpan terukur dan visi bermainnya adalah yang terbaik di Italia dan bahkan dunia.

Dia sangat nyaman sekali bermain Juventus saat itu, tidak seperti saat di Milan ketika dia dipaksa bermain sebagai gelandang kiri, Claudio Marchisio dan Paul Pogba menjadi gelandang penyeimbang dimana mereka saling bergantian dalam menyerang dan membantu pertahanan.

Marchisio adalah gelandang yang seimbang dalam bertahan dan menyerang, teknik dan umpannya juga bagus, dia adalah jenderal kedua di lini tengah setelah Pirlo dan menjadi partner ideal bagi Pirlo sementara itu Pogba bermain dengan agresifitas, daya jelajah tinggi dan teknik-nya yang terasa dampaknya dengan sesekali membuat gol maupun assist yang penting bagi tim.

Selain itu dengan postur tubuh yang kokoh juga membuat Pogba mudah memenangi duel merebut bola dari lawan ketika membantu pertahanan dan menyerang.

Sementara itu posisi gelandang yang tepat berada di belakang penyerang diisi oleh Arturo Vidal, dia tidak berperan sebagai playmaker, akan tetapi dia adalah mediano (gelandang yang tugas utamanya merebut bola dari lawan) yang menyaring serangan lawan sejak di pertahanan lawan, mirip seperti peran Boateng di AC Milan saat Allegri disana.

Namun meski begitu Vidal juga dibekali dengan kemampuan melepas umpan yang baik, sehingga tak jarang dia membuat assist bagi pemain lainnya. Sementara untuk pelapis lini tengah juga tak bisa diremehkan, ada dua pemain dengan versatilitas tinggi Simone Padoin dan Roberto Pereyra yang berguna disaat gelandang inti cedera atau skorsing, pemain muda berprospek cerah seperti Stefano Sturaro, hingga pemain gaek Simone Pepe.

 Untuk penyerang ada empat pemain, yang pertama dan utama adalah Carlos Tevez. Dia adalah pemain inti entah bermain melawan klub mana pun, skill dan kengototan Tevez memang berguna bagi tim, dia sering menjadi pemecah kebuntuan dengan gol-golnya, dan dia cocok dipasangkan dengan siapapun di depan.

Setelah Tevez ada striker jangkung dari Spanyol, Fernando Llorente yang sangat unggul dalam duel bola udara, gol-gol dari sundulan pun sering hadir dari dia, namun penurunan konsistensinya dalam mencetak gol di paruh musim kedua membuatnya rela digusur sebagai pendamping utama Tevez.

Penggusur posisinya tidak lain adalah sesama pemain Spanyol, Alvaro Morata yang ditransfer dari Real Madrid dengan harga 20 juta euro, meski masih muda pengalamannya bermain di Madrid sangatlah berguna apalagi ketika berhadapan dengan El Real di semifinal Liga Champions, Morata dua kali membobol gawang mantan klubnya tersebut.

Morata adalah striker dengan kemampuan lengkap, selain tubuh tinggi yang membuatnya jago di udara dia juga dibekali positioning yang baik, dribel yang lumayan dan mampu menahan bola dengan lama, mirip seperti permainan mantan striker Spanyol, Fernando Morientes.

Striker cadangan lain adalah Alessandro Matri, andalan Allegri saat masih melatih Cagliari dulu, meski jarang diturunkan namun golnya di final Coppa Italia adalah penentu kemenangan di laga tersebut yang mungkin masih banyak diingat oleh Juventini hingga saat ini. Dan diakhir musim tersebut Juventus meraih gelar juara di Serie A dan Piala Italia plus mampu lolos ke final Liga Champions, nama Allegri pun kembali populer di Italia, prestasi Allegri segera dengan cepat menghapus tangis dan kekecewaan Juventini akan kepergian Antonio Conte, namun musim selanjutnya nuansa akan déjà vu Allegri seperti ketika menangani Milan, kembali muncul.

             Sama seperti saat di Milan, di Juventus dia mampu berprestasi dimusim pertama, dimusim kedua ini (2015-2016) Juventus dibawah Allegri mengalami penurunan, tidak perkasa seperti Juventus musim-musim sebelumnya, saat ini hingga Giornata ke 9 mereka berada di papan tengah klasemen Serie-A.

Walau di Liga Chammpions mereka meraih hasil baik, penampilan mereka tak begitu meyakinkan, penyebab penurunan performa sama seperti AC Milan-nya Allegri dulu kehilangan pemain kunci dalam tim. Lagi-lagi Allegri tunduk dan patuh pada manajemen klub terkait kebijakan transfer pemain.

Dia tak mampu membuat manajemen Juventus menahan pemain penting seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal hingga Carlos Tevez, padahal mereka adalah pemain yang begitu berpengaruh bagi permainan Juventus dimusim 2014-2015.

Sama seperti di AC Milan, di Juventus pun Allegri seperti hanya terima nasib begitu saja ketika pemain-pemain kunci-nya diganti dengan pemain yang kelasnya berada dibawah mereka. 

Pengganti Andrea Pirlo (yang pindah ke New York City) adalah Hernanes yang terhitung sebagai panic buying karena dibeli dipenghujung bursa transfer setelah manajemen mengetahui tim Allegri minim kreatifitas permainan. Mungkin 2-3 tahun lalu dia adalah playmaker bagus di Serie-A namun performa dia selama di Inter tidak lah begitu menonjol, dan kalah bersaing dengan pemain muda, Mateo Kovacic.

Tentu sangat riskan jika peran sentral Pirlo yang begitu penting dalam permainan digantikan oleh Hernanes, dan itupun terlihat musim ini pada permainan Juventus yang tetap saja kurang kreatifitas dan lebih banyak permainan direct meski sudah ada Hernanes di Juventus, dan sekarang peran Pirlo akhirnya digantikan Claudio Marchisio yang bermain sebagai regista utama bagi Juventus.

Pengganti Arturo Vidal adalah pemain gratisan dari Real Madrid, Sami Khedira yang oleh banyak media dianggap transfer sia-sia karena dia adalah pemain kaki kaca yang sangat rentan cedera, dan itupun terbukti diawal kiprahnya bersama Juventus yang langsung cedera selama satu bulan.

Tentu berbeda jauh dengan Vidal yang kuat secara fisik dan lebih unggul teknik dibanding Khedira, dan transfer lainnya untuk menambal kepergian Vidal adalah pemain pinjaman asal Gabon dari Marseille, Mario Lemina yang mungkin manajemen Juventus berharap Lemina akan bersinar layaknya Paul Pogba, namun permainan Lemina sendiri tak terlalu bagus dan hanya menjadi pelapis gelandang lainnya.

Untuk posisi pengganti Tevez, Allegri lebih beruntung. Tevez digantikan empat pemain sekaligus, Paulo Dybala yang dibeli dari Palermo seharga 32 juta euro, Mario Mandzukic yang diangkut dari Atletico Madrid dengan mahar sebesar 19 juta euro dan Simone Zaza dari Sassuolo dengan biaya 18 juta euro dan pemain pinjaman dari Chelsea, Juan Guillermo Cuadrado. 

Ini adalah bentuk keseriusan manajemen untuk menambal dan memperkuat lini depan pasca kepergian Tevez. Akan tetapi kedatangan Mandzukic lebih tepat sebagai pengganti Fernando Llorente yang pindah ke Sevilla dan dia didatangkan untuk menjadi pesaing yang sepadan bagi Alvaro Morata.

Sementara itu pemain dengan gaya permaiman yang bisa menggantikan peran Tevez adalah Dybala, Zaza dan Cuadrado. Paulo Dybala adalah permata baru Argentina, musim lalu dia bermain sangat baik bagi Palermo dan kombinasinya di depan bersama Franco Vazquez begitu elegan dan mampu membuat Palermo bertahan di Serie-A.

Sedangkan aksi-aksi brilian Zaza membuat Sassuolo menjadi tim yang atraktif untuk ditonton meski Sassuolo bukanlah tim besar, dan berkat performa-nya yang bagus itulah dia dipanggil ke untuk memperkuat Gli Azzurri.

Akan tetapi mereka adalah pemain “baru” dalam tataran sepakbola Eropa, bila dibandingkan dengan Tevez, konsistensi performa dan catatan gol mereka berdua belum teruji, apalagi mereka baru beberapa tahun berkiprah di Serie-A dan bahkan belum pernah sama sekali merasakan atmosfer Liga Champions.

Tentu mereka berdua dan terlebih lagi untuk Paulo Dybala, masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola permainan Juventus, tentu beban yang ditumpukan kepada mereka untuk menggantikan peran Tevez harus dicermati dengan baik oleh Allegri, mengingat usia mereka berdua yang masih muda dan minim pengalaman Eropa, jangan sampai berpengaruh negatif bagi penampilan mereka karena mereka merupakan aset masa depan Juventus.

Sedangkan Juan Cuadrado lebih alami bermain sebagai winger, dan kedatangannya juga diragukan akan berdampak besar bagi daya serang tim karena performanya yang menurun sejak dibeli Chelsea dari Fiorentina musim lalu.

Momen keterpurukan Allegri pasca bersinar di musim pertamanya bahkan memunculkan kredo baru “Allegri’s Syndrom”, dimana tim yang ditanganinya hebat dimusim pertama dan melempem dimusim selanjutnya.

Namun kali ini Allegri mendapat sedikit keberuntungan, ketika di Milan dia tidak terlalu didukung dana klub yang memadai, sementara Juventus saat ini adalah klub yang sehat secara finansial.

Sehingga keterpurukan karena perbedaan kualitas yang diakibatkan perginya pemain kunci tidak terlalu berdampak karena pengganti yang disediakan oleh manajemen Juventus untuk menggantikan Pirlo, Tevez dan Vidal lebih baik dengan apa yang dulu diberikan manajemen AC Milan untuk menggantikan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alessandro Nesta, Clarence Seedorf yang pergi ketika Allegri menjadi allenatore di San Siro saat itu.

Meski begitu Allegri juga selalu mempunyai “landmark” bagi tim yang ditanganinya yaitu kemampuannya memaksimalkan pemain muda. Saat melatih Cagliari dia mampu memunculkan nama-nama seperti Alessandro Matri, Andrea Cossu, Federico Marchetti, dan Davide Astori kepermukaan.

Saat di AC Milan pun dia sukses membuat youngster Italia seperti Stephan El Sharaawy, dan bahkan pemain Milan primavera seperti Bryan Cristante dan Mattia De Sciglio tampil memikat di tim utama AC Milan.

Begitu juga saat melatih La Fidanza d’Italia, dia mampu memanfaatkan potensi pemain muda yang terbukti mampu memberi pengaruh bagi Juventus, contohnya adalah keberanian Allegri memainkan Stefano Sturaro di semifinal pertama Liga Champions Eropa untuk menggantikan Pogba yang absen dan terbukti Sturaro bermain impresif dilaga tersebut.

Lalu dia juga memberi Roberto Pereyra dan Kingsley Coman menit bermain yang cukup dan dibalas dengan permainan bagus mereka dilapangan ketika diberi kesempatan bermain.

Peristiwa yang dialami oleh Allegri mengingatkan kita pada cerita novel Case Strange of DR. Jekyll and Mr. Hyde.

Komparasi-nya adalah jika dalam novel tersebut “kepribadian” seseorang yang berubah dengan cepat dalam satu situasi ke situasi lainnya, maka apa yang terjadi pada Massimiliano Allegri adalah perubahan yang cepat terkait dengan konsistensi raihan prestasi klub yang dilatihnya (khususnya AC Milan dan Juventus).

Ketika mampu membawa AC Milan scudetti dimusim 2010-2011, dia begitu dipuji kemampuannya namun dua musim selanjutnya dia membawa Milan kedalam masa yang buruk, begitu pula saat menangani Juventus dia begitu hebat dimusim pertamanya ketika nyaris meraih treble winners, namun tanda –tanda kehancuran Juventus terlihat ketika mereka justru terseok-seok diawal Serie-A bergulir musim ini.

Musim 2015-2016 masih panjang dan belumlah berakhir, lalu apakah Allegri mampu melepaskan diri dari cerminan “Jekyll and Hyde” dan kredo “Allegri’s Syndrom” yang melekat pada dirinya dan mampu meraih prestasi secara konsisten? Atau justru déjà vu seperti saat di AC Milan akan kembali terjadi padanya?

Kita tidak tahu akan hal itu, karena sepakbola itu bukan matematika, lagipula “bola itu bundar” sehingga kemungkinan apapun selalu bisa terjadi dalam  dunia sepakbola.

Ya, akan tetapi mungkin hanya waktulah yang akan menjawab pertanyaan itu dan justru ”dinamika sepakbola” tersebut lah membuat publik negeri Spaghetti tertarik dan akan selalu menanti kiprah allenatore Massimiliano Allegri bersama Si Nyonya Tua musim ini.

Foto: skysports.com