Upin & Ipin dan Tsubasa; Otokritik Tayangan Bola Anak di Indonesia

Serial animasi anak-anak Upin & Ipin populer tidak hanya di tempat asalnya, Malaysia tetapi juga di negeri kita, Indonesia. Cerita dalam Upin & Ipin ini pun tidak terlalu berat, karena hanya berkutat latar kehidupan sehari-hari seperti bersekolah, beribadah ataupun anak-anak yang bermain.

Upin & Ipin mudah digemari karena cerita yang kontekstual dengan kegiatan sehari-hari anak-anak dan juga hal-hal jenaka didalamnya. Animasi garapan rumah produksi Les’ Copaque yang mulai dirilis pada 2007 ini bernuansa pedesaan dan menggunakan bahasa Melayu serta menonjolkan berbagai kebudayaan khas Malaysia.

Demi menembus pangsa Asia Tenggara dan salah satunya untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak Indonesia, dimasukkan lah karakter anak asal Jakarta, Susanti yang sering berbahasa Indoesia dan menonjolkan hal yang identik ke-Indonesia-an. Maka jadilah Upin & Ipin semakin mendapatkan tempatnya dalam benak pikiran orang, terutama anak-anak Indonesia.

Selain bahasa Melayu yang membuat Upin & Ipin ini unik dimata orang Indonesia, serial kartun ini juga tidak ketinggalan menyisipkan nilai budi pekerti dan semangat mengejar cita-cita. Padahal, hal-hal seperti itu sudah jarang dirasakan, terutama tontonan untuk anak-anak Indonesia. Tergerusnya tontonan khusus anak secara gradual beberapa tahun ini, harus menjadi catatan penting untuk kita semua. Anak-anak di Indonesia pada saat ini, sebenarya kurang tontonan berkualitas yang sarat akan nilai positif dalam membentuk karakter.

Demi mengejar rating televisi, banyak tontonan anak di Indonesia yang dikurangi serta tergantikan tontonan berkonten dewasa. Terkait dengan dunia sepakbola, serial anime anak-anak seperti Upin & Ipin pun bisa dijadikan sebagai otokritik (kritik atau refleksi diri) untuk tayangan anak-anak di Indonesia, khususnya yang bertema sepakbola.

Dalam sebuah serial season 4 pada salah satu bagian di episode “Anak Harimau” bagian pertama, ada cerita dimana karakter-karakter dalam Upin & Ipin itu heboh membicarakan tentang sepakbola, khususnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang mengena dari cerita tersebut adalah bagaimana animasi Upin & Ipin, mengkonstruksi rasa nasionalisme untuk sepakbola Malaysia (beserta kritiknya). Kemudian tayangan itu mengedukasi anak untuk bercita-cita menjadi pemain timnas Malaysia. Tak lupa di episode ditampilkan cerita lain yang berkaitan dengan hal-hal berbau sepakbola yang bertujuan menyambut event olahraga empat tahunan tersebut.

Ceritanya di episode tersebut, ketika para orang-orang dewasa bertemu di warung Paman Mutu, mereka membicarakan Piala Dunia di Afrika Selatan yang hampir dimulai. Ketika berdialog tentang siapa yang akan menjuarai Piala Dunia, Upin & Ipin kompak menyebut Malaysia. Sontak saja kelakar mereka ditertawai oleh Wak Dalang, kakeknya Upin & Ipin sendiri. Wak mengatakan bahwa timnas sepakbola Malaysia belum mampu masuk Piala Dunia, mentok hanya sampai Olimpiade saja, kata dia.

Akibat pernyataan sang kakek itu, Upin & Ipin jadi bingung dan penasaran kenapa Malaysia tidak mampu masuk Piala Dunia. Kemudian hal itu begitu terngiang dikepala mereka, hingga kemudian diceritakan begitu sampai di sekolah, yang sampai-sampai membuat heboh suasana kelas.

Apa yang Upin & Ipin dkk bicarakan lalu didengar oleh Cek Gu (guru kelas), sesaat ketika dia akan datang guna mentertibkan kelas. Cek Gu mengatakan bahwa anak-anak tak perlu kecewa karena tak dapat ke Afrika Selatan, toh bisa nonton Piala Dunia di tv tanpa harus kesana.

Kemudian Cek Gu berujar bahwa jika anak-anak tekun belajar dan bersungguh-sungguh menjadi pemain bola, mereka bisa bermain untuk timnas Malaysia suatu kelak. Anak-anak pun berteriak penuh semangat dan bergumam ingin menjadi pebola hebat kelak suatu hari nanti. Ini adalah bentuk penanaman nilai bagi penonton (anak-anak) bila mereka rajin belajar dan serius menggapai cita-cita, masa depan (sebagai pebola akan cerah dikemudian hari). Kemudian bergantilah scene ketika Upin & Ipin cs bermain sepakbola dengan kertas.

Apa yang diceritakan di Upin & Ipin pada season 4 “Anak Harimau” bagian pertama seharusnya dijadikan otokritik untuk indoktrinasi cinta sepakbola bagi anak-anak di Indonesia. Daripada Indonesia hanya tertegun akan kelucuan dan keunikan Upin & Ipin, seharusnya bangsa ini (melalui film, kartun atau animasi anak-anak) juga bisa melakukan hal yang sama untuk sepakbola Indonesia, sepeti apa yang Upin & Ipin lakukan terhadap sepakbola Malaysia; mengedukasi anak-anak dengan sepakbola sejak dini.

Dalam episode 4 “Anak Harimau” itu, anak-anak diajak oleh Upin & Ipin untuk menyadari fakta tentang ketertinggalan sepakbola mereka (sebuah kritik sosial tentunya) dan berusaha membangkitkan kecintaan akan sepakbola dengan sembari menanamkan rasa nasionalisme terhadap negaranya, Malaysia. Upaya Upin & Ipin untuk membentuk kesadaran dan kecintaan anak-anak pada sepakbola, pun ditambahi dengan menampilkan adegan anak-anak bermain sepakbola kertas di kelas akibat demam Piala Dunia.

Otokritik bagi kita adalah menyadari bahwa hal-hal semacam yang ada di Upin & Ipin episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu sudah jarang muncul di Indonesia. Sekalipun ada beberapa tontonan anak bertema “sepakbola” seperti Ronaldowati dan Si Madun. Penanaman cinta pada sepakbola yang dibalutkan nasionalisme melalui tontonan anak hampir mustahil ditemui akhir-akhir ini.

Untuk membentuk karakter generasi bangsa yang sadar jiwa nasionalisme dan cinta sepakbola, seyogyanya dimulai sejak di usia dini. Toh, patut disadari dalam membentuk kepribadian seorang anak, harus pula dimulai ketika seseorang masih kecil sehingga proses indoktrinasi lebih kuat.

Melihat kondisi terkini, tontonan bertema sepakbola untuk anak-anak sangat jarang ada. Ronaldowati dan Si Madun sudah tidak ada dan Tsubasa sudah jarang muncul di layar kaca. Itupun kalau boleh jujur, tontonan seperti Ronaldowati atau Si Madun hanya menonjolkan kesan action semata, kurang maknawi akan penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta sepakbola, seperti apa yang ditunjukkan Upin & Ipin dan juga Captain Tsubasa.

Upin & Ipin, meski adalah tontonan anak-anak yang sangat ringan, tetapi melalui tayangan dalam episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu, jelas menjadi gambaran bagaimana Malaysia punya keinginan kuat membangkitkan sepakbola. Caranya? Dimuali dengan mengedukasi anak-anak agar peduli dan cinta sepakbola sekaligus negaranya dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian beralih ke anime Jepang dengan simulasi karakter Captain Tsubasa Ozora yang begitu semangat nan gigih meniti karir sepakbola setinggi langit. Hal ini juga mencerminkan besarnya semangat bangsa Jepang (seperti Tsubasa) untuk menunjukan kekuatan sepakbola mereka pada dunia.

Dalam tontonan sepakbola anak Indonesia seperti Ronaldowati dan Si Madun, sebenarnya tetap ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran penting. Namun itu tidak sebanding dan sering tertutupi dengan aksi-aksi tak logis dalam cerita (yang konon lebih penting untuk rating tv semata).

Selain terkadang valueless, Ronaldowati dan Si Madun dalam ceritanya juga lebih sering memainkan sepakbola “antar kampung” (tarkam). Berbeda dengan Tsubasa yang menampilkan gambaran kenyataan nan alami dalam sepakbola seperti; bermain di sekolah, kemudian di tingkat klub, pindah ke luar negeri, main di timnas Jepang dan masuk Piala Dunia. Tsubasa mengajarkan untuk berani bercita-cita melanglang buana ke dunia, karena sepakbola itu global.

Ketika anak-anak Jepang diinspirasi oleh “karir cemerlang” Tsubasa sebagai pebola yang mendunia, disatu sisi layakkah anak-anak di Indonesia (dalam cita-citanya menjadi pesepakbola) terinspirasi juga oleh “karir” Madun yang cuma main sepakbola antar kampung?

Bahkan (parah) sampai-sampai menyelam ke lautan dan membongkar harta karun yang tak ada kaitan dengan kenyataan dalam dunia sepakbola? Apakah mindset yang kurang berani “mengglobal” ini, juga merupakan cerminan khas pemain-pemain Indonesia yang tidak betahan dan terlihat kurang endurabilitas-nya ketika main di luar negeri?

Selain kurang luas dalam mengkesplorasi cakrawala dunia sepakola, adegan-adegan dalam cerita di dua film anak sepakbola Indonesia itu pun terlalu sering mengada-ngada dan terlalu jauh kesannya dengan “sepakbola”. Terkadang fantasi pada tontonan sepakbola anak di Indonesia berlebihan.

Bisa diperbandingkan, ketika Jepang mendidik ingatan dan semangat anak-anak terhadap sepakbola dengan tontonan perjuangan pantang menyerag ala Tsubasa yang bercita-cita main diluar negeri serta membela timnas Jepang, sedangkan Malaysia mengemas propaganda nasionalisme dan sepakbola melalui serial animasi macam Upin & Ipin untuk budak-budak (anak-anak) di negeri jiran itu, bagaimana dengan Indonesia?

Saya bukan tidak suka dengan tayangan (Ronaldowati dan Si Madun) itu, karena saya pun pernah menonton dan terhibur karenanya. Tetapi sebatas terhibur, itu saja. Tak ada nilai-nilai kehidupan yang benar-benar coba disuguhkan pada generasi muda kita, selain aksi sepakbola magis atau sihir (sangat hiperbola) saja didalamya. Pun fakta tak menyenangkannya lagi, sangat jarang ada tontonan bola anak saat ini dari stasiun-stasiun televisi Indonesia.

Gairah sepakbola Indonesia harusnya digerak-bangunkan sejak usia dini melalui tontonan sepakbola anak, untuk membentuk generasi Indonesia yang benar-benar menjiwai sepakbola plus rasa nasionalisme secara disaat yang bersamaan.

Melalui Upin & Ipin dan Captain Tsubasa, sejenak menjadi cerminan kalau bangsa ini perlu membentuk kesadaran dan kecintaan pada sepakbola dan rasa nasionalisme sejak dini melalui tontonan berkualitas. Semoga dengan menyadari antusiasme tinggi bangsa Indonesia akan sepakbola, akan segera muncul tontonan sepakbola anak yang “layak”, bagi generasi baru bangsa ini. Semoga.

Sumber foto: Republika.co.id

Menjiwai Kampanye Support Your Local Club dengan Bijak

Ketimpangan pembangunan antara pusat-pusat pemerintahan dan daerah begitu terasa. Terlebih ketika sebuah negara dikelola dengan sistem yang sentralistik, zaman Orba bisa dikatakan seperti itu. Dahulu kala daerah tidak memiliki banyak ruang untuk mengekspolarasi diri mereka karena semua dikendalikan oleh pusat.

Namun seiring bergantinya rezim dan munculnya era baru, reformasi, arah pembangunan nasional mengalami semacam “deflected”. Daerah pun kini menjadi tumpuan dalam pembangunan bangsa Indonesia ini.

Diberlakukanya otonomi daerah dengan payung hukum UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta UU nomor 11 tahun 2014 tentang Desa, setidaknya menjadi semacam katalis bagi daerah agar dapat mengelola “dirinya sendiri”, begitu juga desa dengan besarnya gelontoran dana desa saat ini.

Bagai terilhami, semangat reformasi bernuasa demokratis dan menjadikan daerah sebagai pilar pembangunan bangsa ini, juga sepertinya meresap dalam relung dunia sepakbola tanah air. Munculnya kampanye “Support Your Local Club” barangkali dijadikan padanan-nya.

Seruan “Support Your Local Club”, begitu nyaring terdengar akhir-akhir ini. Tidak lain berujuan demi membangun dan menyemarakkan sepakbola Indonesia di level nasional, maka sepakbola juga harus dibangun, disadari, dirasakan dan dinikmati eksistensinya di tingkat daerah-daerah.

Meski, terkadang orang mengekspresikan jiwa sepakbolanya, bukan dengan jalan mendukung klub daerahnya. Bahkan ada yang cenderung lebih memilih bereuforia dengan membanggakan klub-klub luar negeri, tidak mengapa karena itu pilihan. Lagipula seperti apa kata Bob Marley,  football is freedom.

Terkait kampanye ini, maka sepakbola wajarnya diinisiasi dari daerah, karena seperti apa bentuk dan wajah sepakbola (nasional) Indonesia ini, juga sangat bergantung dari bagaimana-nya perkembangan sepakbola di daerah. Linier, seperti konsepsi atau wacana tentang pembangunan nasional yang berorientasi daerah, bukan?

“Support Your Local Club” atau bahasa Indonesia-nya, dukunglah klub daerah/asal mu, kini memantik masyarakat di daerah untuk antusias pada klub asal daerahnya sendiri.

Dengan menjadikan klub daerahnya sebagai apa yang sering dinamai “kebanggan”, membuat orang saat ini hari demi hari, makin peduli pada identitas klub kebanggaan daerahnya sendiri.

Seruan untuk mendukung klub asalmu itu muncul dikalangan suporter. Harapan yang diapungkan dari hal ini yaitu dengan mengkonstruksikan rasa bangga, cinta dan peduli pada klub (sepakbola) lokal, maka perkembangan sepakbola “dirumah sendiri” bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Dalam hal ini suporter bisa berekspresi dan mengaspirasikan apa yang mereka rasakan dan inginkan untuk kebaikan klub.

Secara positif, disisi lain ada efek domino pula dari seruan ini, yaitu adanya kemungkinan seruan ini yang secara tidak langsung, bisa mengedukasi para suporter untuk juga peduli pada apa saja dinamika yang terjadi di daerahnya sendiri.

Toh, urusan sepakbola pun tidak melulu bersangkut paut hanya dengan olahraga saja. Ada aspek lain seperti kebijakan daerah ataupun perihal sisi ekonomi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat awam.

Kini berkat kampanye yang menyerukan “support your local club”, daerah dengan kultur sepakbola yang sebelumnya tidak begitu kental seperti Wonosobo, misalnya. Secara perlahan mulai bangkit dan bertumbuh komunitas-komunitas lokal disana, untuk menunjukkan dukungannya pada identitas klub kebanggaan daerah tersebut, PSIW Wonosobo.

Meski sangat bagus untuk perkembangan sepakbola di keseluruhan wilayah yang ada di republik ini, untuk menjiwai seruan kampanye itu, harus pula dengan bijak. Jangan sampai dalam menjiwai dan memaknai seruan kampanye tersebut, kita justru terjerumus pada tribalisme kedaerahan yang bisa bersifat ultra-ekslusif ataupun membentuk sikap primordialitas (kedaerahan) yang berlebihan.

Tribalisme adalah paham yang mendewakan kesukuan/kedaerahan/primordialitas, serta disisi lain menganggap rendah etnis atau identitas daerah lain.

Sepakbola, dengan perubahan yang begitu cepatnya ini sedari dulu juga tidak lepas dari tribalisme dan nilai-nilai primoridalistik yang berkelindan bersamanya. Sepakbola di tanah Eropa (kiblatnya sepakbola) yang jauh disana juga sedikit banyak berkembang dengan identitas tribal atau primordialitasnya.

Sebagai contoh, bagaimana Bilbao adalah cerminan eksklusifitas Basque, Barcelona dengan identitas Catalonia atau Liverpool FC yang merupakan klubnya scouser -orang yang bicara medok (dialeg) khas Liverpool-.

Hal ini karena tidak lepas sepakbola itu sendiri yang banyak berkembang dengan membawa identitas kedaerahan pada awal mula evolusinya. Maka tidak heran, sekalipun menyebar lewat globalisasi, sepakbola tetap terkunci dengan “khitoh-nya” sebagai identitas yang bersifat kedaerahan masing-masing.

Sepakbola memang menjadi materi pergaulan global, tetapi juga menumbuhkan solidaritas di tingkat nasional maupun daerah-daerah.

Terkhusus di Indonesia pun, bahkan terbentuknya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga tidak lepas dari peranan sepakbola yang bersifat kedaerahan. Bagaimana dulu sepakbola dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta bersatu padu menamamkan benih perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan membentuk PSSI pada 1930 lalu.

Kembali ke pembahasan awal, kampanye Support Your Local Club harus dimaknai dengan bijak. Saat identitas sepakbola daerah harus dijunjung tinggi, namun disatu sisi merealisasikan seruan kampanye ini juga tidak berarti harus menganggap sepakbola daerah lain itu rendah, hina dan harus dimusuhi.

Tribalisme negatif telah muncul dalam sepakbola, manakala memuja identitas sepakbola lokal dan disisi lain begitu merendahkan/menjelek-jelekkan rival sepakbola dari daerah lain, entah apapun yang terjadi.

Kasus oknum suporter di Indonesia yang menghina-hina pemain timnas hanya karena dia merupakan pemain dari klub rival harus menjadi perhatian bersama. Meski saya yakin, kasus semacam ini bisa terjadi dibelahan dunia manapun. Selain itu, tribalisme mengakar dapat memicu situasi tegang antar daerah yang suporter klub sepakbolanya bertentangan.

Sepakbola tanpa rivalitas bagaimana? Pada dasarnya rivalitas dalam sepakbola itu bagus, karena sepakbola tidak akan sampai menarik seperti ini kalau tidak ada rivalitas didalamnya. Tetapi kalau rivalitas itu sudah berubah wujud menjadi permusuhan, maka perpecahan menjadi takdir yang tak bisa dihindarkan.

Mewabahnya tribalisme atau juga prasangka primordial, kalau tidak dimenejemen dengan baik bisa berubah menjadi musibah. Kalau-kalau hal itu muncul dikalangan suporter, sudah tidak asing lagi. Toh, perbedaan-perbedaan itu sudah menjadi keniscayaan kenapa suporter berdiri untuk mendukung klub kebanggaannya masing-masing.

Akantetapi jika tribalisme sepakbola, yang didalamnya membawa rivalitas dan sering kebablasan menjadi permusuhan secara sosio-kultural itu telah menular secara kronis hingga menyebar ke elemen seperti pemain di klub-klub, alarm bahaya bagi sebuah tim nasional.

Untuk meraih prestasi setinggi mungkin, sebuah timnas harus berisikan pemain yang menyatu dan saling bekerjasama dengan baik. Permusuhan yang muncul akibat rivalitas terlalu mendalam di level klub, bisa merusak harmonisasi sebuah timnas.

Spanyol dan Inggris pernah merasakan hal ini. Jika Spanyol punya Iker Casillas-Xavi yang mampu mempersatukan pemain-pemain Madrid dan Barcelona di skuad La Furia Roja, kapten-kapten Inggris tidak mampu meredam perbedaan itu di skuad The Jack Union. Intensitas sepakbola yang begitu tinggi bergairah-nya di Inggris seperti bukan hanya dialami suporter saja, hal itu pun telah dirasakan pemain yang memperkuat timnas Inggris.

Dikatakan oleh Paul Scholes, “ada rivalitas yang sangat besar diantara klub di negara ini (Inggris) dan itu tidak sehat untuk timnas”. Dia pun menambahkan “bahwa kami tidak sekedar bermain sepakbola, kami mencintai klub masing-masing kami berada dan rivalitas itu selalu ada bersamanya”, dilansir dari telegraph.co.uk

Masih menurut Scholes, rivalitas kental antara Manchester United dan Liverpool pernah membuat retak persatuan timnas Inggris dizamannya, yang saat itu masih diperkuat banyak pemain asli lokal dari akademi. Itu pun belum menghitung tambahan rivalitas dengan klub-klub lain.

Inilah salah satu faktor kenapa Inggris selalu kesulitan bermain apik di level internasional. Mencintai identitas klub daerahnya dan justru terlalu larut pada rivalitas sengit antar daerah yang melebar ke permusuhan, buat mereka tidak padu saat berada di timnas.

Disini dapat dikatakan, kebanggan pada sepakbola daerah (klub) sendiri, justru disisi lain memunculkan sentimen negatif pada rival yang tak mampu diredam, padahal kepentingan timnas butuh diutamakan prioritasnya.

Di Indonesia untung saja sentimen itu belum merambah dan masuk ranah pemain yang berada di timnas. Kemunculan berita tentang sentimen ini baru di level suporter, ketika ada oknum suporter dari sebuah klub yang mencaci pemain timnas hanya karena dia bermain bagi klub rivalnya.

Bagaimana jadinya kalau pemain timnas Indonesia kita, tidak akur karena rivalitas klub masing-masing. Sementara dengan situasi adem ayem antar pemain saat ini pun, prestasi timnas kita masih begini-begini saja?

Mungkin banyak pihak berkilah, apa yang dilakukan supoter itu wajar dan merupakan bagian dari kehidupan sepakbola. Tetapi sekali lagi, menjiwai support your local club juga harus dengan dengan prasangka yang objektif dan bijak.

Jangan sampai karena terlalu gegap gempita dalam menjiwai kampanye ini, lalu mengaburkan rasionalitas berpikir dan perasaan kita pada timnas. Menjiwai kampanye yang sangat positif ini hanya akan terlihat elegan apabila di lokasi, waktu dan momen/suasana yang tepat.

Lagipula sepakbola kita yang masih jalan ditempat dengan kekerasan suporter yang masih sering terjadi, timnasnya tak mampu berprestasi dengan gemilang, klub tak mampu gaji pemain, profesionalitas federasi (PSSI) yang masih tanda tanya.

Hal-hal diatas itu yang seharusnya juga, menjadi problem yang tak boleh dilupakan para suporter dan coba untuk diaspirasikan suaranya dengan solusi konstruktif. Disamping hanya mengutamakan urusan rivalitas antar klub, padahal saya yakin, harusnya para suporterlah yang menjadi kunci penggerak untuk perbaikan sepakbola Indonesia ini.

Melalui kampanye Support Your Local Club, besar harapannya suporter akan peduli pada dunia sepakbola yang ada di daerah masing-masing, selain juga teredukasi untuk lebih dewasa dan berpikir kritis mengenai perkembangan sepakbola kita pada umumnya.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan atau mendukung klub X atau klub Y, tetapi untuk kesadaran bersama saja. Rivalitas antar klub memang alamiah dalam sebuah kompetisi/persaingan dan itu justru yang menarik dalam sepakbola.

Setiap klub beserta para suporter, intinya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik daripada yang lain. Sehingga dalam sebuah kompetisi akan muncul rivalitas, hal yang wajar. Namun artian dari kata rival yaitu pesaing, bukan musuh. Karena toh semua elemen sepakbola kita pada akhirnya akan menjunjung panji-panji yang sama, Indonesia.

Bangkitnya suporter, bangkitnya sepakbola Indonesia!

Sumber foto: Redbubble.net

Sepakbola Bukan Lagi Olahraga Buruh/Pekerja?

Quote Cantona tentang Working Class
Dukungan Eric Cantona untuk working class atau golongan pekerja/buruh dalam dunia sepakbola.

Hidup kaum buruh! Kita pekikkan bersama atas diperingatinya hari buruh sedunia di setiap tanggal 1 Mei.

Sudah seyogyanya kita perduli nasib kaum buruh/pekerja, walau berkat tangan-tangan mereka ini membuat kebutuhan sehari-hari manusia bisa terpenuhi, terkadang mereka diekspoitasi terlalu dalam oleh kaum pemodal.

Banyak para buruh pun berkeluh kesah tentang apa yang mereka alami, meski tak bisa meninggalkan peraduannya itu, karena hanya dari sana mereka coba gantungkan hidup dirinya atau keluarga selama ini. Sungguh betapa malangnya mereka para buruh di negeri ini.

Saya bukan pecinta gagasan yang bermateri kekirian, atau dikatakan biasa saja. Terlebih, pun belum banyak literatur leftish yang sudah saya baca selama ini. Tetapi memang kita sering mendengar sendiri bagaimana kurang diperhatikannya hak-hak buruh/pekerja kita selama ini.

Apalagi ketika mendengar rekan yang bercerita tentang sutuasi-kondisi pekerjaan, yang kadang tak setimpal dengan beratnya beban kerja serta resiko kerja yang harus dihadapi. Setidaknya muncul rasa simpati dan ikut berempati. Toh, seperti apa yang dikatakan oleh Che Guevara “Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka engkaulah kawanku”.

***

Beribu-ribu mil yang jauh dari Indonesia, pada abad 18 lalu di Inggris raya sana, dimulailah perkembangan sebuah dimensi kehidupan yang kelak akan menyedot atensi banyak umat manusia sejagad, hal itu adalah sepakbola.

Ya, terlepas dari kontreversi siapa yang lebih dahulu menemukan sepakbola, tak bisa dipungkiri kalau sepakbola modern yang kita tonton sampai detik ini berasal dari Inggris. When football were invented in England, demikian orang Inggris dengan bangga ketika menyebut sepakbola “berasal” dari tanah meraka.

Pada masa-masa awal evolusinya, sepakbola identik dengan sebutan working class, apa itu? Bagi yang belum tahu, istilah itu adalah untuk penyebutan golongan kelas pekerja atau buruh di Inggris.

Lapisan masyarakat kelas pekerja itu mulai banyak bermunculan ketika Inggris memasuki era revolusi industri. Definisi dari revolusi industri adalah perubahan corak dari perekonomian berbasis agrikultur/pertanian menjadi pada ekonomi dengan orientasi sektor industri.

Kebetulan, revolusi industri juga dimulai abad 18, dimana sepakbola juga “ditemukan” pada sekitaran abad yang sama. Maka tidak heran, sepakbola yang awal tumbuh kembangnya hampir bersamaan dengan masa revolusi industri, pun bersinggungan dan menghasilkan interkasi budaya dengan kaum pekerja yang populasinya meningkat pesat kala itu.

Meminjam istilah khas milenial; “jadian” atau berpacarannya antara sepakbola dan kaum pekerja dahulu kala inilah, yang menghasilkan kesan bahwa sepakbola adalah olahraga yang dekat dengan kalangan pekerja/buruh.

Memang faktanya banyak klub, lapangan-lapangan bola atau stadion yang didirikan dekat dengan kawasan/kota industri. Maka tidak heran hal itulah yang menyebabkan nuansa kental akan sepakbola begitu menjangkiti wilayah industri di Inggris, seperti contohnya di Liverpool atau Manchester.

Sepakbola pun melekat sebagai olahraganya working class, karena sepakbola sangat lumrah dijadikan sebagai rekreasi atau wahana hiburan oleh kaum pekerja saat itu. Bahwa ada alasan logis dibalik kenapa pertandingan sepakbola sering dimaikan pada akhir pekan, tak lain adalah untuk menarik antusiasme para buruh yang umumnya mendapat waktu libur/rehat pada akhir pekan.

***

Dengan catatan bahwa kaum pekerja dan kelas menengah-bawah jauh lebih banyak populasinya di dalam struktrur masyarakat, maka sepakbola pun perlahan menjadi hal populer nan jamak bagi masyarakat kebanyakan. Bahkan olahraga “si pekerja” ini, gaungnya sampai menembus lapisan masyarakat menengah keatas yang ikut-ikutan pula terhipnotis akan magi olahraga ini.

Namun animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap sepakbola, disamping lebih banyak berdampak positif, ternyata menghasilkan efek negatif pula.

Hal positif adanya sepakbola, selain juga membuka banyak lapangan kerja, dapat pula menjadi perlambang identitas dan entitas harga diri sebuah daerah atau masyarakat dan bahkan kebanggan nasional. Kemudian hiburan yang sangat fantastis ini juga menghasilkan sesuatu yang begitu besar, yakni popularitas.

Sadar bahwa dengan popularitas yang tinggi, sepakbola bisa dikelola sedemikian rupa menjadi pundi-pundi penghasilan, lalu mulailah para pebisnis dengan tumpukan modalnya mengobok-obok sepakbola. Kapitalisme masuk dunia sepakbola, inilah efek buruk akibat animo tinggi masyarakat akan pada sepakbola yang sangat-sangat mudah sekali menghasilkan popularitas ditengah masyarakat.

Dengan popularitasnya, sepakbola diintip oleh para pemodal untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Toh selama sistem perekonomian dunia ini masih kapitalisme, yang dikendalikan oleh permodalan atau kapital sebagai corong utama, maka akan begini juga lah terus sepakbola.

Salah satu faktor pelicin kesuksesan bisnis adalah dengan mendompleng popularitas. Sepakbola dengan popularitasnya, menawarkan sesuatu yang amat berharga dimata para kaum pemilik modal. Meski bisnis di sepakbola tidak selalu untung dari sisi finansial, terkadang adapula yang mencari kepopuleran untuk kepentingan politik atau mungkin sekedar memperoleh pengaruh tertentu saja.

Tetapi yang aneh bahwa selama ini kekerasan akibat sepakbola lebih difokuskan menjadi sasaran kritik terhadap olahraga ini. Seperti juga bagaimana Inggris pernah “sedikit” benci olahraga ini pada tahun 80an akibat hoologanisme yang tak tertahan nan brutal.

Padahal, kapitalisme dalam sepakbola jagu harus mendapat porsi kritik yang sama, atau bahkan harusnya lebih karena kapitalisme itu sendiri telah mengencingi sepakbola, yang ironinya adalah olahraga yang “diciptakan” kaum pekerja.

Harus disadari, semakin modernnya dunia dengan kapitalisme yang menyentuh berbagai sendi kehidupan, termasuk sepakbola, maka kapitalisme telah mengubah pula esensi sepakbola itu sendiri yang pada intinya punya nilai suci sebagai olahraga buruh/pekerja atau wong cilik.

Kini sepakbola menjadi olahraga yang mahal dan tidak mudah untuk menikmatinya. Mungkin bisa melalui piranti teknologi seperti tv atau internet, tetapi jauh berbeda dan akan seribu kali lipat lebih bermakna jika menikmatinya secara langsung. Apalagi menikmati sepakbola dengan teknologi mutakhir juga terkadang harus merogoh kocek yang dalam.

Tak hanya kenikmatan menyaksikan sepakbola saja, segala hal yang berkaitan dengan sepakbola masa kini juga harus ditebus dengan nominal yang terkadang begitu tinggi bagi masyarakat golongan mengengah-kebawah, seperti kelas pekerja.

Kini untuk masuk ke stadion, bisa mengeluarkan uang mulai dari puluhan, ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah. Kalau pekerja dengan rerata gaji perbulan tak sampai satu juta, bagaimana akan melampiaskan gairah sepakbola mereka disetiap minggunya? Belum tentu setiap saat mereka bisa.

Selain menikmati sepakbola kini harus dengan “uang” yang kadang tidak sedikit, beberapa waktu yang lalu muncul pula resistensi terhadap rencana jadwal pertandingan sebuah liga tingkat kedua di Indonesia yang dimainkan tengah pekan. Demi mengakomodir pertandingan liga yang lebih tinggi kasta (yang lebih menjual), pihak pengelola pun liga memilih menggelar liga kedua itu di midweek bukan pada weekend.

Sontak reaksi negatif bermunculan dari kalangan suporter. Untuk mendukung tim kebanggan, mereka jadi terbebani karena sulit membagi waktu untuk ke stadion dan bekerja jika ada pertandingan pada tengah pekan.

Padahal, kalau melihat antusiasme suporter yang kebanyakan adalah kaum pekerja, harusnya pihak pengelola liga tetap mengkondisikan untuk pertandingan akhir pekan. Jika stadion sepi karena klub main di tengah pekan, pemasukan dari tiket stadion juga akan menipis.

Kalau sebuah klub kesulitan mendapat income akibat stadion sepi karena laga justru digelar ditengah pekan, yang kemudian berdampak juga pada tertunda atau bahkan tidak terbayarnya gaji para pemain, bagaimana? Pihak pengelola liga musti memikirkan segala hal dengan alur yang visioner dan bijak.

Untungnya kini penggemar sepakbola makin cerdas, mereka tak mudah dibohongi dan disetir. Sudah banyak dari mereka yang teredukasi.

Contohnya di Eropa, beberapa kali terjadi aksi protes dari suporter terkait kenaikan harga tiket masuk stadion. Di Indonesia, bermunculan penolakan terhadap jadwal liga yang bergulir ditengah pekan dan tidak akomodatif terhadap suporter. Ini bukti penggemar sepakbola juga sudah mulai kritis dalam berlogika hari ini.

Gerakan AMF atau Against Modern Football, telah bergema akibat salah satunya karena makin mahal saja cara untuk menikmati sepakbola ke stadion. Selain itu gerakan tersebut juga mengkritisi sepakbola saat ini yang terlalu dikekang oleh intensitas bisnis dan kapitalistik. Meski disisi lain, banyak pula muncul suara pro-kontra terhadap progresifitas gerakan ini.

Protes dan resistensi suporter atau penggemar sepakbola (yang kebanyakan pekerja atau kelas menengah kebawah), menunjukan masih ada orang-orang yang ingin menjaga “kesucian” sepakbola sebagai olahraga working class.

Begitu juga refleksi untuk pemerhati sepakbola dengan spanduk bertuliskan “Football create by poor, stolen by rich” di laga ketika sebuah klub di Tunisia menjamu Paris Saint-Germain (yang dikuasai kapital Timur Tengah). Betapa memang sepakbola yang awalnya diciptakan untuk kelas menengah-bawah kini pun dikuasai kaum elit.

Padahal disisi lain pernah muncul berita tentang betapa kurang diperhatikannya hak para pekerja-pekerja kasar dalam proyek pembangunan stadion untuk Piala Dunia di Qatar. Betapa miris, jika dahulu kala sepakbola diciptakan oleh kaum pekerja, kini justru demi apa yang dikatakan “sepakbola”, para pekerja (baca: working class) diperlakukan dengan tidak layak demi sepakbola.

***

Sepakbola kini seakan menjadi wahana pertaruhan harga diri. Apakah sepakbola masih akan menyimpan sisa kesucian sebagai olahraga untuk working class  dan menjadi arena rekreasi mereka atau akan tergerus roda kapitalisme yang menguasai dunia? Hanya waktu yang akan menjawab.

Tetapi pada akhirnya, terimakasih dan rasa hormat pantas disematkan pada buruh dan pekerja. Karena berkat mereka lah kini seluruh umat manusia bisa menikmati olahraga terindah sepanjang masa, sepakbola.

Sumber foto: relatably.com dan detik.net

 

Müller vs Dante

Pemain-pemain Bayern München memang sedang dalam top performa pada musim 2012/2013. Thomas Müller, yang merupakan pemain asli didikan München ini termasuk yang berperan besar pada musim penuh sukses tersebut.

Pemain yang dianggap lembek oleh legenda Argnetina,Diego Maradona ini mencetak banyak gol, assist dan memotori permainan The Bavarian. Selain itu Müller juga multifungsi, bisa menjadi penyerang utama, sayap kanan, dan juga gelandang serang, versatilitas Müller itu sangat menguntungkan bagi peracik strategi Bayern kala itu Jupp Heynckes,

Müller tergolong cepat meledak bersama timnas Jerman di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Itu adalah turnamen debutnya di timnas senior dan Muller menjadi top skor di event tersebut dengan lima gol, ditambah dia pula yang dinobatkan pemain muda terbaik di ajang empat tahunan tersebut.

Setelah itu, dia menjadi andalan Jerman dan masih menjadi andalan hingga Piala Dunia 2014 Brasil kemarin, dimana Jerman keluar sebagai juara.

Kembali pada musim 2012-2103, München membeli Dante Bonfim dari Borussia Moenchengladbach. Dante adalah bek asal Brasil yang penampilan yang solidnya menjaga lini belakang Gladbach, membuat München membelinya kala itu

di musim pertamanya itu, Dante langsung jadi bek tengah utama dan ikut berperan besar terhadap treble winners yang dicapai musim tersebut (juara di Liga Champions, Bundesliga dan DFB Pokal). Kini Dante telah pindah dari München sejak awal musim 2015-2014, berlabuh ke VFL Wolfsburg dan sekarang (musim 2016-2017) bermain di OGC Nice, klub Ligue 1 Perancis.

Penampilan impresif bersama Bayern München, membawanya perkuat skuad timnas Brasil. Tetapi meski solid menjaga lini belakang München, tidak membuat Dante menjadi pemain inti karena Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil kala itu lebih menyukai duet Thiago Silva-David Luiz untuk tim Samba. Dante pun termasuk nama pemain yang ada di daftar skuad timnas Brasil untuk Piala Dunia 2014.

Bicara tentang Müller dan Dante, teringat sepenggal kisah unik diantara dua orang  yang pernah bahu-membahu dalam satu tim ini. Kisah tersebut muncul setelah Piala Dunia 2014 Brasil digelar dan Jerman keluar sebagai juara. Berikut kronologi kisah Müller dan Dante yang terjadi pasca turnamen besar tersebut.

World Cup 2014 Brazil, menyisakan cerita yang pedih bagi rakyat Brasil. Harapan juara meninggi seiring ajang 4 tahunan itu digelar di tanah sendiri, rekor pun tercipta. Tetapi rekor yang dimaksud bukanlah yang membanggakan, justru sangat memalukan.

Kalah dengan skor 1-7 dari Jerman sangat menyedihkan bagi Brasil. Pertandingan itu menjadi rekor sebagai semifinal dengan gol terbanyak sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia.

Hasil pertandingan itu ibarat obituari (berita kematian) secara umum di Brasil, meski sudah dua tahun berlalu sepertinya akan jadi kenangan yang begitu lama diingat. Saking pahitnya, bahkan konon di tanah Brasil sana sangat tabu untuk berkata “1-7, 7-1” atau juga mengulik-ngulik lagi peristiwa semifinal tersebut.

Tidak hanya di bumi Brasil saja, sepertinya membicarakan semifinal tersebut dengan orang Brasil dimanapun mereka berada, juga akan melukai hati mereka.

Meski kadang bertujuan sebagai bahan candaan, terkadang hal itu sangat menyentil apalagi terhadap pemain Brasil itu sendiri yang tergabung dalam skuad Piala Dunia 2014 lalu.

Kejadian ini rupanya ada di kubu klub asal Jerman, Bayern München. Sempat tersiar kabar bahwa terjadi ketidakharmonisan ruang ganti Bayern München akibat Thomas Müller sering menggunakan peristiwa “1-7” sebagai joke, bahan candaan.

Sudah tentu yang jadi sangat jengkel akibat ulah Müller adalah Dante Bonfim, mantan bek München yang juga pernah menjadi bek tengah timnas Brasil tersebut.

Kebetulan Dante yang berduet dengan David Luiz di semifinal itu karena Thiago Silva tidak bisa bermain. Dibentengi oleh Dante dan David Luiz, Brasil justru dipermak habis oleh Jerman dengan skor 1-7 kala itu.

Disini Müller yang berperan besar, dirinya memang sosok yang humoris dan menjadi pelawak di ruang ganti dan tentu lawakan dia diterima mayoritas pemain München. Kekalahan terburuk Brasil tersebut sering menjadi bahan lelucon oleh pemain-pemain München yang mayoritas pemain timnas Jerman. Padahal di klub itu ada dua orang Brasil, Dante dan Rafinha.

Entah mungkin hanya bercanda atau memang berniat mengejek, Müller sering berkelakar dengan topik “1-7” ketika sedang berada di ruang ganti pemain. Hal ini membuat Dante, bek tengah yang sangat rapuh kala semifinal itu begitu naik darahnya akibat guyonan Müller.

Pada musim 2014/2015 atau musim setelah Piala Dunia di Brasil, Dante pernah berujar ke media-media bahwa. Kata dia, ada masanya seseorang tidak suka dengan topik candaan yang selalu sama, apalagi bisa membuat sakit hati pihak lain.  Dante pun sempat berkeinginan menjotos Müller, jika ia tidak berhenti dan mengganti topik “1-7” dengan topik bercandaan lain.

Tetapi pada waktu itu jelas saja ruang ganti Munchen santai menanggapi joke dari Thomas Müller. Selain banyak punggawa timnas Jerman disana, Müller memang dikenal orang yang humoris sejak dahulu kala. Jadi pemain-pemain di München dan juga timnas Jerman sudah tahu akan karakter Müller itu.

Namun namanya juga manusia, wajar Dante berhak untuk marah. Secara tidak langsung dia yang menjadi “korban” utama bullying Müller, karena dia sendiri yang menjadi bek pada semifinal Piala Dunia yang paling memalukan bagi Brasil tersebut.

Kabar tidak harmonis tersebut pasti membuat  ruang ganti sedikit terganggu dan benar saja akhirnya pada musim setelah Piala Dunia tersebut (2014/2015), München hanya memperoleh satu gelar juara, yakni Bundesliga. Dante pada akhir musim itu pindah ke Wolfsburg, yang dimungkinkan juga karena hal efek lelucon “1-7” tersebut ditambah media-media Jerman yang sering mempertanyakan performa buruknya di semifinal Piala Dunia 2014 tersebut.

Dante pernah mengatakan seseorang bisa saja “meledak” jika tidak senang dengan lelucon yang diarahkan kepadanya. Meski tidak senang dengan Müller, Dante mengaku ucapan itu hanya sebatas dimulut saja dan tetap menganggap Müller, mantan rekannya di Munchen itu sebagai teman.

Terkadang kita bergurau untuk orang lain, tetapi justru orang tersebut menganggap itu serius. Sebaliknya, terkadang maksud serius kita dianggap sebagai bercandaan oleh orang lain.

Dante mencontohkan perilaku terpuji dengan tetap menganggap Muller sebagai teman, meski pernah menyakiti hatinya akibat lelucon yang Müller lontarkan. Mungkin bagi Dante, prinsip satu musuh sudah terlalu banyak namun 1000 teman terlalu sedikit berlaku bagi dirinya.

Foto dari metro.co.uk

Image

Menjadi Pelatih Bola? Mudah.

Bagi yang benar-benar suka dengan sepakbola, pastilah tau game bernama Football Manager. Dalam permainan virtual yang umumnya di PC ini, anda akan merasakan sensasi seakan-akan anda menjadi pelatih sepakbola sesungguhnya. Ya, dalam game yang dikembangkan oleh SEGA ini anda tidak hanya mengurusi taktik bermain atau menggonta-ganti pemain saja.

Lebih dari itu anda bisa melakukan transfer pemain, mengembangkan pemain akademi, dan merekut staf kepelatihan termasuk fisioterapi, juga mengontrak scout (pemandu bakat) pun bisa anda lakukan sendiri. Masih kurang?

Anda bisa juga berkomunikasi dengan manajemen klub perihal meminta budget transfer dinaikkan, mengubah pola perekrutan pemain junior, sampai mengajukan renovasi dan bahkan membuat stadion baru! Anda benar-benar menjadi super manager di Football Manager.

Football Manager memang memuaskan hasrat, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan menjadi manajer di sebuah klub, apalagi anda bisa melatih klub besar secara langsung dari awal ketika memulai game ini.

Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan strategi permainan, memonitor player’s development, atau memantau harga pemain yang diincar rasanya tetap senang-senang saja.

Tetapi lebih menyenangkan lagi apabila kita memulai dengan berjuang menggunakan klub kecil dan mampu membawa klub itu juara dimana-mana, kepuasan dan kebanggan sudah pasti bercampur jadi satu.

Dalam FM, interaksi dibuat seperti kenyataan. Terdapatnya emosi-emosi yang berbeda tiap individu akan menentukan keberlangsungan permainan, ketika itu terjadi interaksi antar pelatih dengan pemain, dengan agen, dengan sesama pelatih ataupun dengan manajemen. Game ini begitu realistis menampilkan hal-hal yang seperti pada kenyataan. Segalanya yang anda inginkan sebagai pelatih sepakbola ada di dalam game Football Manager atau yang biasa disebut dengan FM ini.

Meski sudah dibuat senyata mungkin seperti kenyataan, pada akhirnya yang namanya permainan tetap saja permainan, bukan kenyataan. Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah yang dilakukan di FM. Tekanan yang dirasakan pasti berbeda, interaksi yang terjadi antar elemen dalam sepakbola juga berbeda.

Menghadapi pemain dalam kenyataan tentu berbeda dari sekedar permainan. Persiapan dan intensitas dalam latihan juga berbeda jauh antara game dan kenyataan. Menjadi pelatih betulan, kita belum tentu bisa meminta ini itu segampang seperti di FM.

Berarti kesimpulannya, menjadi pelatih bola itu sangat mudah, tetapi dalam game. Sedangkan pada kenyataan, menjadi pelatih itu gampang-gampang susah atau mungkin lebih banyak susahnya daripada yang mudah-mudah.

Football Manager
Kini semua orang bisa jadi “pelatih”, bahkan “manajer”.

Di sisi lain ketika kita berbicara game, maka tidak lupa pula bahwa game itu mudah dimanipulasi alias bisa dimainkan dengan cara yang tidak fair. Dalam FM, pasti semua sudah tau ketika akan menjalani pertandingan kita akan save dulu. Jika menang kita lanjutkan game, dan jika imbang apalagi kalah, kadang-kadang kita loading ulang kan?

Nah, hal inilah yang tidak mungkin dalam kejadian nyata dunia kepelatihan yang memang riil. Satu pertandingan bisa sangat krusial dalam dunia nyata, sementara dalam permainan PC hal ini bisa diutak-atik untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah dalam permainan seperti FM. Namun setidaknya game ini bisa menjadi pelepas dahaga bagi orang yang sangat ingin merasakan sensasi “memberi instruksi” bagi para pemain dari pinggir lapangan. Meski itu hanya dari dimensi virtual game, yang bernama Football Manager.

Foto: CNN.com dan Football Manager

Apakah Anda Gila, Mister Presiden?

Setiap klub pasti menginginkan dilatih oleh orang yang tepat. Yang dimaksud tepat adalah pelatih yang bisa membawa klub itu mencapai target yang diinginkan oleh klub. Maka sebuah kewajaran apabila pelatih gagal memenuhi keinginan klub apalagi berselisih paham dengan manajemen, maka dia akan diberhentikan.

Untuk urusan ini, banyak klub yang terkenal akan pemberhentian atau biasa disebut pemecatan pelatih. Klub seperti Real Madrid, Chelsea, Manchester City, Inter, dan AC Milan sering berganti pelatih dalam kurun 10 tahun terakhir.

Klub-klub besar seakan mendominasi “tren” pemecatan pelatih yang dianggap gagal. Tetapi pada fakta sebenarnya bukan hanya klub besar, klub-klub kecil atau semenjana juga sering gonta-ganti pelatih. Untuk klub kecil, biasanya mereka berganti pelatih karena tidak bisa menghindarkan mereka dari zona degradasi, selain juga konflik dengan manajemen klub.

Kabar berita pemecatan pelatih klub medikoer seperti ini relatif tidak seheboh dengan apa yang terjadi di klub besar. Maka wajar saja kabar pemecatan tersebut tidak terlalu menjadi perhatian utama bagi publik pecinta sepakbola. Namun tetap ada saja sensasi jika kita cermati seksama dalam dua tahun belakangan, pelakunya adalah klub Serie A, Palermo.

Klub asal pulau Sisilia, di wilayah selatan Italia ini sangat gemar memecat pelatih akhir-akhir ini. Aktor dibalik ini tentu saja sosok super kontroversial, Maurizio Zamparini. Sosok “gila” sebagai preseiden klub Palermo ini lah yang memegang kendali utama roda kebijakan klub berjuluk Rosaneri itu.

Maurizio Zamparini, berlatar belakang sebagai pebisnis di berbagai bidang dengan bisnis retail supermarket, Emmezata yang menjadi andalan pria asal provinsi Udine ini. Sukses menjadi pebisnis, Zamparini masuk ke dunia sepakbola pada 1987 dengan membeli klub dari kota air, Venezia. Saat itu Venezia hampir bangkut dan berada di Serie C, lalu meski lama, Venezia berhasil promosi ke Serie A musim 1998-1999.

Kecewa lantaran keinginannya merenovasi stadion Pierluigi Penzo ditolak pemerintah lokal, Zamparini menjual Venezia dan lalu membeli Palermo pada tahun 2002. Dibawah komando presiden Zamparini, Palermo melakukan evolusi dalam tubuhnya. Pada saat Zamparini datang, Palermo masih berkubang di Serie B.

Hanya butuh dua tahun bagi Rosaneri komando Zamparini untuk kembali ke Serie A pada 2004/2005. Mereka kembali ke kasta tertinggi pertama kali sejak 1973 sebagai juara Serie B musim 2003/2004. Zamparini jelas sangat berjasa dan tentu nama Zamparini sangat dicintai oleh publik Palermo berkat uluran tangannya memoles Palermo hingga kini.

Meski jasa Zamparini banyak, dia juga termasuk orang kontroversial apalagi jika berurusan dengan pelatih. Zamparini mungkin disebut sebagai presiden klub yang paling tega memecat pelatih di dunia ini. Selama menjabat sebagai pemilik sekaligus presiden Palermo, sudah banyak nama yang keluar masuk stadion Renzo Barbera sebagai pelatih.

Selama dipimpin Zamparini, total 29 nama pelatih (termasuk yang bolak-balik ditunjuk pelatih) yang pernah menangani Palermo hanya sejak 2002 hingga 2016! Angka itu lebih banyak dari jumlah musim Palermo dibawah kepemilikan Zamparini sejak awal hingga kini. Dua puluh sembilan nama pelatih berbeda selama 14 tahun terkahir, menunjukkan betapa entengnya palu pemecatan dari Zamparini dilayangkan kepada pelatih-pelatih Palermo tersebut.

Pelatih pertama yang pergi pada zaman Zamparini adalah Roberto Pruzzo. Legenda AS Roma ini bahkan hanya bertahan lima hari di Palermo. Setelah itu hilir mudik pelatih masuk dan dipecat seringkali terjadi di Palermo. Bahkan Francesco Guidolin, yang membawa Palermo naik ke Serie A 2004 juga tidak bisa mengelak dari pemecatan Zamparini.

Musim pemecatan pelatih paling parah terjadi di musim 2015/2016 lalu. Total ada delapan pergantian pelatih pada musim tersebut, gila? Namun hal itu biasa saja bagi orang anti mainstream seperti Zamparini. Di musim lalu, Palermo mengawali kompetisi dibawah pelatih Giuseppe Iachini, namun didepak pada November 2015 karena konflik dengan Zamparini.

Davide Ballardini masuk sebagai pengganti, namun performa Palermo justru merosot hingga Ballardini juga didepak pada Januari 2016. Tugas Ballardini untuk sementara dilanjutkan oleh pelatih teknik, Fabio Viviani. Dia akan menjadi caretaker guna mengisi kekosongan pelatih, sembari Palermo mencari pelatih yang baru.

Disinilah kontroversi kembali muncul. Untuk menggantikan Ballardini, Zamparini tunjuk mantan pemain timnas Argentina, Guillermo Barros Schelotto guna menjadi arsitek tim yang baru. Tetapi ternyata, Barros Schelotto dicekal oleh untuk melatih di Italia. Alasan UEFA, karena lisensi kepelatihan Barros Schelotto belum memenuhi kualifikasi untuk menjadi pelatih profesional di liga-liga Eropa semacam Serie A.

Tak kehilangan akal, Palermo menyiasati ini dengan mengembalikan Viviani (yang bertahan tidak sampai 2 minggu) ke posisi staf teknik dan menunjuk Giovanni Tedesco sebagai pelatih. Tedesco mempunyai lisensi UEFA, jadi dia bisa melatih tim Serie A. Barros Schelotto akan menjadi pelatih sesungguhnya meski “dari tribun” penonton.

Sedangkan Tedesco yang akan berada di area teknik pinggir lapangan, tapi sebagai pelatih formalitas saja. Hal ini dilakukan sambil menunggu upaya Palermo untuk mengurus perizinan Schelotto di birokrasi sepakbola Eropa yang memang sedikit banyak memakan waktu.

Lisensi ditolak UEFA, Barros Schelotto pun mengundurkan diri sebagai “pelatih” Palermo. Hal sama juga terjadi pada Giovanni Tedesco, namun kemudian dia ditarik ke posisi staf teknik Palermo. Barros Schelotto secara de facto melatih Palermo sejak 11 Januari hingga 10 Februari 2016. Begitu juga Tedesco yang secara de jure tercatat “melatih” Palermo pada saat yang sama. Entah kenapa bisa serumit ini manajemen Palermo dalam menunjuk pelatih.

Setelah kasus Schelotto, Zamparini menunjuk Giovanni Bosi, pelatih tim junior atau Primavera untuk menjadi pelatih tim inti. Tetapi dia hanya bertahan “satu laga” dan langsung dipecat setelahnya. Kekacauan Palermo masih berlanjut, Giuseppe Iachini yang kembali dengan menggantikan Bosi juga dipecat pada bulan Maret, hanya bertahan satu bulan.

Iachini digantikan Walter Novellino, namun hasil yang buruk kembali membuat Zamparini marah dan memecat Novellino pada April. Palermo kembali menunjuk mantan pelatihnya, Davide Ballardini senagai allenatore baru. Dia sukses mengamankan Palermo dari jeratan degradasi ke Serie B. Ballardini tetap melatih Palermo diawal 2016/217

Memasuki musim baru 2016/2017, ternyata Ballardini kembali dipecat. Penyebab dia dipecat adalah konflik dengan manajemen, terutama dengan Zamparini yang memang dimana sang patron ingin pelatih tunduk padanya. September 2016 setelah Ballardini pergi, Palermo menunjuk pelatih muda, Roberto De Zerbi sebagai nahkoda baru.

Namun lagi-lagi sumbu pendek Zamparini memakan korban. De Zerbi, yang semasa dulu pernah bermain di Napoli ini dipecat bulan November lalu. Hasil buruk menjadi preferensi kenapa De Zerbi dipecat dan diganti oleh Eugenio Corini. Corini menjadi orang ke 29 atau pelatih ke 38 kalinya semenjak Zamparini berkuasa di Palermo.

Apa yang dilakukan oleh Zamparini pantas disebut gila. Temperamen dalam diri Zamparini ikut berpengaruh dalam pengambilan keputusan klub, dan parahnya Palermo yang terkena imbas. Sebuah tim jadi tidak stabil dan terlebih psikologis pemain sedikit banyak terganggu akibat dari seringnya pelatih berganti.

Mister Zampa bahkan diberi julukan mangiallenatori atau pemakan pelatih oleh media di Italia. Julukan tersebut diberikan karena ulahnya yang sangat sering memecat pelatih jika tidak puas dengan hasil pertandingan atau tidak tunduk pada dirinya. Meski begitu beberapa pelatih seperti tidak kapok menjadi pelatih Palermo, walau pernah juga pada masa lalunya dipecat oleh Zamparini.

Francesco Guidolin, Giuseppe Iachini, Davide Ballardini, Delio Rossi, atau Stefano Colantuono mereka adalah contoh orang-orang yang pernah di-PHK oleh Zamparini, namun juga tidak kapok untuk melatih Palermo lagi. Guidolin bahkan empat kali merasakan pemecatan ala Zamparini.

Punya nama besar juga tidak berarti disegani oleh Zamparini. Legenda AC Milan dan Italia, Gennaro Gattuso yang memulai karir kepelatihan di Italia pertama kali dengan melatih Palermo, juga tidak bisa mengelak dari pemecatan oleh Zamparini. Gatusso bahkan tidak melatih hingga 2 bulan di Palermo.

Meski berada ditangan orang yang mudah naik pitam layaknya Zamparini, Palermo pernah beberapa kali menjadi perbincangan dari sisi “positif”. La Rosa pernah menyodok hingga ke zona Eropa, meski hanya Europa League. Selain itu dibawah Zamparini, Palermo beberapa kali sukses memoles pemain muda jadi pemain bintang.

Mulai dari pemain yang pernah memperkuat timnas Italia seperti Andrea Barzagli, Marco Amelia, Antonio Nocerino, Federico Balzaretti, Carvalho Amauri, Salvatore Sirigu hingga Franco Vazquez. Selain Italia, ada pemain timnas negara lain seperti Edinson Cavani (Uruguay), Simon Kjaer (Denmark), lalu dua pemain Argentina; Javier Pastore dan Paulo Dybala.

Palermo juga terkenal karena kepintaran mereka menemukan penyerang berpotensi besar, meski dari zona antah berantah yang jarang terekspos. Edinson Cavani (Danubio), Javier Pastore (Huracan), Franco Vazquez (Belgrano) dan Paulo Dybala dari Instituto Cordoba. Musim ini hal itu berlanjut dengan sosok Ilija Nestorovski, striker Makedonia yang dibeli dari klub Kroasia, Inter Zapresic.

Zamparini, sosok nomor satu di tubuh Palermo yang memang sangat temperamental, namun begitulah sepakbola. Dengan adanya karakter super unik layaknya Maurizio Zamparini maka sepakbola semakin menarik untuk dibicarakan, terutama sepakbola Italia. Tinggal kita tunggu saja Palermo hingga akhir musim ini, mau memecat berapa pelatih lagi, Pak Presiden?

Foto: calcio.web.eu

Karir Unik Pesepakbola Setelah Pensiun

Menjadi pesepakbola profesional sangat didambakan oleh banyak orang. Ketika menjadi pebola profesional, ketenaran bisa kita rasakan andai mampu meraih puncak karir tertinggi. Meski begitu, punya pekerjaan dibidang olahraga seperti menjadi pesepakbola memang tidak menjamin setiap saat.

Maka dari itu, lazimnya ketika pesepakbola memutuskan pensiun, kemudian mereka tetap bekerja diruang lingkup olahraga yang tidak jauh-jauh dari sepakbola. Banyak pilihan bagi pensiunan pemain bola untuk tetap berkarya dalam dunia bola.

Mulai dari menjadi pelatih, komentator pertandingan, agen pemian, manajemen klub, mendirikan sekolah sepakbola, mendirikan klub bola, membeli klub bola, dan juga bisa masuk dunia politik organisasi sepakbola semacam UEFA atau FIFA. Semua ini bisa dilakukan oleh orang pensiunan dari dunia kulit bundar.

Hal tersebut lazim dilakukan, karena selain masih cinta dengan sepakbola, pengalaman dan nama pensiunan pebola yang kadung sudah melekat di ranahnya akan memudahkan dia dalam melanjutkan karir di dunia sepakbola, meski sudah tidak lagi menjadi pemain sepakbola. Namun fenomena akhir-akhir ini terlihat unik, banyak pesepakbola yang “melenceng” dari kiblat yang seharusnya.

Kini mulai banyak mantan pesepakbola melanjutkan karir olahraga yang tidak ada sangkut-pautnya dengan sepakbola. Mulai dari atlet gulat, jiu-jitsu, hingga pebalap. Meski terbilang aneh, kita patut hargai pilihan mereka karena terkadang pesepakbola juga punya hobi, minat atau kesenangan diluar sepakbola. Dan justru inilah yang membuat dunia ini semakin warna-warni.

Bagi penikmat Premier League pada medio 2000an, pasti sangat mafhum terhadap sosok plontos yang menjadi tembok terakhir Manchester United kala itu, Fabien Barthez. Mantan penjaga gawang timnas Perancis ini, menjadi pebalap motorsport pada 2008, setelah pensiun dari sepakbola pada 2007. Karir Barthez lumayan, pada 2013 dia sempat juara podium di French GT Championship dengan mobil dari produsen asal Italia, Ferrari.

Mantan bek Bayern Munchen asal Perancis yang keturunan Basque, Bixente Lizarazu beralih menjadi atlet profesional jiu-jitsu ala Brasil. Pemain yang identik dengan angka 69 karena tinggi 169 cm, berat 69 kilogram dan bernomor punggung 69 ini bahkan pernah juara kelas Blue Belt Senior 1 Light Division 2009 di kompetisi jiu-jitsu Eropa.

Dari cabang gulat ada mantan kiper Burton Albion, Stuart Tomlinson. Tidak terlalu sukses sebagai pemain sepakbola ditengarai menjadi alasan Tom untuk banting setir ke dunia pergulatan. Pada 2014 dia memeluai debut sebagai pegulat dibawah naungan WWE di Amerika Serikat, dia turun dengan nama ring Hugo Knox. Tetapi karirnya sebagai pegulat tidak berlanjut karena kontak habis dan kini ia menjadi model.

Setelah Tomlinson, ada pesepakbola lain yang lebih terkenal yaitu Tim Wiese. Mendapat tawaran kontrak dari WWE, dia pensiun dari sepakbola setelah sepakat memustuskan kontrak bersama klub terakhrinya, Hoffenheim. Padahal Wiese termasuk kiper berkualitas di Jerman, nama Tim Wiese yang kini berusia 34 tahun ini sangat melekat dengan Werden Bremen, tim yang ia bela sejak 2005 hingga 2012. Penampilan solid di Bremen itulah yang membuat ia sering dipanggil ke skuad timnas Jerman.

Tim Wiese
Tim Wiese, dahulu menangkap bola kini membelit lawan di ring tanding.

Selain tetap berkutat dalam dunia olahraga non-sepakbola, banyak pesepakbola yang ketika pensiun beralih ke profesi lain dan bukan ranah olahraga. Pemain bengal Italia kelahian Argentina, Pablo Osvaldo dikabarkan menolak tawaran kontrak dari klub Chievo demi fokus dalam karir baru sebagai musisi.

Klub terakhir Osvaldo adalah Boca Junior sejak Januari 2016, namun kontrak dia diputus akibat berseteru dengan pelatih pada Mei 2016. Musim panas ini Chievo menawarkan kesempatan dia merevitalisasi karir di Serie A, namun ditolak. Sangat disayangkan, karir pemain ini berantakan, akibat perangai buruk dalam dirinya. Padahal dia sempat mengisi skuad timnas Italia sejak 2012 hingga 2014.

Selain Osvaldo, ada Gaizka Mandieta yang populer di medio 2000an. Mantan pemain Lazio dan Middlesbrough itu kini menjalani profesi sebagai DJ. Jose Manuel Pinto, kiper gondrong nan eksentrik Barcelona yang sudah pensiun, kini dia menjadi produser musik.

Adapula yang menjadi aktor, sebut saja Eric Cantona, Frank Lebouf dan Paul Gascoigne. Mantan gelandang tengah Real Madrid dan tim nasional Denmark, Thomas Gravesen kini menjadi pemain poker profesional di Las Vegas. Ada juga yang berkarir dalam bidang politik umum seperti George Weah yang pernah menjadi kandidat Presiden Liberia. Roman Pavlyuchenko yang dulu pernah lumayan sukses bersama Tottenham Hotspurs, kini bergabung dengan parpol Presiden Russia berkuasa saat ini, Vladimir Putin.

Karir mantan bek AC Milan asal Georgia lebih keren. Kakhaber Kaladze yang memang aktif berbisnis investasi di berbagai negara, kini sudah punya karir politik yang mapan. Dia menjadi wakil perdana menteri Gerogia sekaligus menjabat menteri sumber daya energi Georgia sejak 2012 hingga kini.

Banyaknya jalan karir mantan pesepakbola membuktikan bahwa pesepakbola tidak hanya “hidup” dengan sepakbola semata, hal-hal lain terkadang bisa mereka lakukan dan pikirkan disamping memikrikan sepakbola. Ada yang beralih ke olahraga lain, ada yang berbisnis, ada yang berpolitik dan ada juga yang bahkan menjadi dosen di perguruan tinggi.

Jadi bagi anda yang ingin menjadi pesepakbola profesional, jangan khawatir karena banyak pilihan hidup yang bisa anda pilih setelah pensiun nanti. Semua bisa dilakukan asal ada niat, usaha keras, dan tidak takut mengambil resiko. Justru, dengan makin banyak mantan perumput lapangan hijau yang sukses diluar dunia sepakbola, hal ini semakin menambahkan rasa bangga pada sepakbola itu sendiri. Iya kan?

Foto: metro.co.uk dan independet.co.uk

Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com

Inspirative’s Story: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Tidak semua orang terlahir dengan kondisi “beruntung”. Ada yang berada di keluarga kaya ada pula yang berada dalam keluarga yang hanya berkecukupan atau bahkan dikategorikan miskin.

Manusia terlahir di lingkungan keluarga kaya atau miskin itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan, namun merubah situasi dan keadaan hidup atas sebuah nasib diri sendiri, keluarga dan lingkungannya adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung dengan kemauan dan usaha  dari manusia itu sendiri.

Tak terkecuali dalam ranah sepakbola, beberapa pemain ada yang ditakdirkan lahir dikeluarga kurang mampu, namun berkat usaha pantang menyerah dan doa, mereka mampu merubah nasib hidup melalui sepakbola.

Beberapa bintang sepakbola dunia pernah dalam kondisi kesusahan pada masa lalunya. Kisah perjalanan hidup tersebut sangatlah menginspirasi dan mengajarkan kita akan sebuah makna perjuangan hidup dan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, berikut adalah beberapa pemain tersebut.

Terlahir dengan nama lengkap Carlos Alberto Bacca Ahumada di Puerto Colombia, Bacca terhitung telat muncul sebagai pemain bola profesional. Baru pada usia 20 tahun dia merasakan atmosfer sepakbola “sesungguhnya” ketika bergabung dengan klub divisi utama liga Kolombia, Atletico Junior.

Setelah bargabung ke Junior pada 2006, dia  pun tidak langsung merasakan debut di liga teratas Kolombia tersebut, melainkan harus dipinjamkan ke klub kasta bawah seperti Barranquilla (divisi 2 Kolombia) dan bahkan sempat dipinjamkan ke Minerven, klub kasta kedua di liga Venezuela. Jadi selama 2006 hingga 2008 dia belum atmosfer sepakbola yang benar-benar kompetitif karena berada di kompetisi level bawah. Peruntungan Carlitos mulai berubah pada 2009 ketika kembali ke Atletico Junior.

Setelah sukses merengkuh status top skor Copa Colombia 2009, lalu pada 2010 dan 2011 dia sukses mengantar Atletico Junior menjadi juara liga teratas Kolombia, Categoria A dengan sekaligus menjadi top skor liga di kedua tahun tersebut. Pada awal tahun 2012, dia direkrut oleh klub Belgia, Club Brugge dan impian bermain di Eropa menjadi kenyataan bagi pria religius ini.

Setengah musim tidak terlalu cemerlang, namun pemain yang dibeli dengan harga 1,5 juta euro ini meledak di musim 2012-2013. Dia menjadi top skor Jupiler Pro League dan sekaligus terpilih menjadi pemain terbaik di Belgia pada musim itu. Sejak datang pada awal 2012 hingga akhir musim 2012-2013 dia telah mengemas total 28 gol dari 45 penampilan di liga dan 3 gol di ajang Europa League.

Performa yang bagus dalam waktu singkat di Belgia membuat klub Spanyol, Sevilla mentransfer Bacca dengan biaya 7 juta euro untuk musim 2013-2014. Musim pertama di Spanyol dilalui dengan gemilang. Sukses menjuarai Liga Eropa, kemudian dilabeli transfer terbaik 2013-2014 dan diberi penghargaan sebagai pemain Amerika Latin terbaik di Spanyol oleh asosiasi pengelola liga, LFP.

Musim selanjutnya pada 14/15 Bacca tetap mempesona, dengan koleksi 28 gol disemua ajang. Pada musim itu pula lagi-lagi dia mengantarkan Sevilla mempertahankan status juara Europa League, dimana dia mencetak dua gol dalam final melawan Dnipro Dniproprtrovsk yang berakhir 3-2.

Kemudian raksasa Italia, AC Milan memenuhi klausul pelepasan kontrak Carlos Bacca senilai 30 juta euro, demi memulai sebuah proyek baru untuk kebangkitan mereka pada 2015-2016. Meski I Rossonerri gagal memenuhi ekspektasi lolos ke Liga Champions, performa Bacca tetap oke dengan menjadi top skor Milan di Serie A (18 gol), dan hingga kini tetap menjadi andalan Milan dilini depan.

Di tim nasional Kolombia dia juga mulai diandalkan, seiring penurunan performa Radamel Falcao dan Jackson Martinez, ruang untuk Bacca selalu terbuka asal dia mampu menjaga konsistensi permainan. Dia ada dalam daftar skuad Kolombia di Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016.

Bacca sekarang beda dengan yang dulu, Bacca memang terlahir dari keluarga yang miskin, dia pernah nyambi kerja paruh waktu sebagai penjual tiket bus dan juga kernet atau biasa disebut kondektur bus ketika di Barranquilla. Kehidupan dia sangat susah, dia juga sempat menjadi nelayan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bermain sepakbola awalnya sekedar hobi, meski dia pada dasarnya sangat ingin dan bermimpi merubah nasib dengan menjadi pemain sepakbola. Namun tanpa disangka, tekad yang begitu kuat merubah nasib hidupnya jauh lebih baik. Berkat kemauan mencoba “cari hidup” lewat bola, kerja keras dan keberuntungan yang menghinggapi dirinya, saat ini dia menjadi menjadi salah satu striker tajam yang berharga mahal di Eropa.

Alexis Sanchez, anda seharusnya tahu siapa dia. Bisa bermain diposisi mana saja di lini depan, dribel bola yang ciamik, dan cepat serta dibekali insting mencetak gol yang baik. Memulai karir profesional di Cobreloa, 18 Maret 2005 sudah melakukan debut di tim senior meski usia masih 16 tahun.

Aksi impresif pada musim pertama di Cobreloa membuat salah satu klub Italia paling ekonomis, Udinese membelinya seharga 1,7 juta poundsterling. Tidak langsung bergabung dengan Udinese, Sanchez muda berturut-turut dipinjamkan ke Colo-Colo (2006-2007) dan River Plate (2007-2008), baru pada pertengahan 2008 dia terbang ke Italia untuk memulai petualangan bersama klub asal kota Udine tersebut.

Disini dia sukses menjelma sebagai pemain spesial dan berduet bersama pemain senior, Antonio Di Natale. Di kota Udine reputasinya mulai meroket seiring kemampuan yang sering dikomparasikan dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Meski hanya mencetak 21 gol dari 112 total pertandingan, gaya bermain dia sukses membuat salah satu klub terbaik dunia, Barcelona merekrutnya dengan harga 26 juta euro pada pertengahan 2011.

Menjadi andalan Barcelona selama tiga musim, dia terhitung lumayan sukses dengan lima trofi selama di Barcelona. Akan tetapi bursa transfer musim panas 2014 terhitung pelik bagi pemain berjuluk El Nino Maravilla (The Wonder Kid) ini.

Arsenal-Barcelona tertarik pada Luis Suarez yang bermain fantastis di Liverpool dahulu. Rencana awal, Arsenal akan merekrut Suarez dan jika gagal maka Sanchez adalah penggantinya. Barcelona juga punya rencana yang berkaitan, bila berhasil mendatangkan Suarez maka Sanchez akan pergi, tetapi jika Suarez gagal ke Camp Nou maka Sanchez akan tetap di Barcelona.

Suarez akhirnya pindah ke Barcelona, dipengaruhi faktor ingin juara Liga Champions dia juga tidak tahan dengan media-media di Inggris yang selalu memberi stigma negatif pada dia. Meski menjadi rencana cadangan dalam strategi transfer atas Suarez, Sanchez menbuktikan diri kualitasnya memang mumpuni, dia bermain bagus di Chile, Argentina, Italia, Spanyol dan kini di Inggris bersama Arsenal.

Dia menjadi tulang punggung Arsenal dengan Mesut Ozil sebagai partner dia. Ketajaman dia justru meningkat, dengan mencetak 25 gol pada musim perdana, lalu 17 gol di musim keduanya bersama Arsenal.

Musim ini tidak berbeda, dan justru peran dia semakin krusial karena dipasang sebagai penyerang di depan. Arsenal kini sangat menjadikan Sanchez sebagai sumber inspirasi untuk mendulang kemenangan. Mengenai nasib hidup, Sanchez saat ini menerima gaji setidaknya 130 ribu poundsterling tiap pekan, tentu nominal yang sangat tinggi.

Tetapi dia tidak mendaptakan ini dengan mudah, perjuangan yang keras adalah jawaban mengapa dia bisa sampai pada level ini. Dia lahir di daerah Tocopilla, 19 Desember 1988 dimana tempat kelahiran Alexis merupakan salah satu daerah yang miskin di Chile. Kehidupan dia dahulu kala serba susah, apalagi sudah ditinggal ayah sejak kecil.

Alexis pernah bekerja serabutan seperti menjadi pencuci mobil. Kakaknya Humberto pun menceritakan jika Sanchez tidak menjadi pesepakbola, dia hanya akan menjadi pekerja tambang seperti dirinya. Dulu jangankan hidup mewah, sekedar untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja dia tidak mampu.

Bahkan sepatu bola pertama yang dia punya adalah pemberian walikota setempat, setelah ibunya meminta hal itu secara langsung kepada sang walikota Tocopilla. Tetapi pemberian walikota terhadap Sanchez kecil tidak sia-sia. Karena hingga sekarang dia tidak cuma membanggakan kota kelahiran saja namun juga tanah airnya, Chile yaitu dengan sukses dua kali juara Copa America. Sekarang dia menjadi idola publik La Roja dan termasuk salah satu penyerang terbaik dunia.

Banyak pesepakbola yang mempunyai kisah hidup memilukan seperti Bacca dan Sanchez. Seperti Luis Suarez kecil, yang tidak mampu membeli sepatu sepakbola dan bermain bola selalu di jalanan, itulah masa lalu El Pistollero. Ramires mantan pemain Chelsea yang kini bermain di Liga China, bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan akibat kesulitan dari segi ekonomi.

Bahkan pemain terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo, juga tergolong hidup dalam keluarga kurang mampu semasa kecilnya. Para pesepakbola tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa tiada yang tidak mungkin jika ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Syarat yang wajib dipenuhi jika ingin merubah nasib hidup adalah kerja keras tiada henti, tidak lelah untuk menaruh harapan dan berdoa semoga keberuntungan menaungi.

Pahitnya pengalaman hidup membentuk mental para bintang dunia tersebut hingga sekuat sekarang ini. Jika sudah begini, benar adanya seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa andai kita benar-benar berusaha keras maka usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil dikemudian hari.

Foto dari pulse.org

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.