Tak ada Rotan, Akar pun jadi versi AS Roma

Bagi sebuah klub sepakbola, menggunakan jasa direktur olahraga sudah bukan rahasia lagi. Meski urusan transfer bisa dibebankan kepada pelatih, pos direktur olahraga dirasa semakin penting dalam sepakbola modern kini yang penuh kerumitan dalam birokrasi. Jabatan direktur olahraga (sporting director) dalam struktur manajemen akan diberi tupoksi untuk mengurusi lalu lintas transfer pemain.

Bila berbicara direktur olahraga, salah satu yang disebut-sebut sangat mumpuni adalah sosok yang disebut “Monchi”. Pria asal Spanyol bernama asli Ramon Rodriguez Vardejo itu menjabat direktur olahraga AS Roma kali ini. Pernah santer dirumorkan bakal digamit oleh klub besar seperti Real Madrid dan Liverpool, tentu menunjukan kalau orang ini bukan nama direktur olahraga sembarangan.

Sebelum ke AS Roma, karir Monchi sebagai direktur olahraga mulai benderang di Sevilla sejak 2000. Klub asal wilayah Andalusia inilah klub pertama yang merasakan servis Monchi sebagai direktur olahraga. Kecemerlangan Monchi sudah teruji dengan mendatangkan banyak pemain harga miring namun dijual mahal beberapa tahun kemudian setelah tampil bagus di Sevilla.

Sebut saja Daniel Alves, Adriano, Ivan Rakitic, Carlos Bacca, Gregorz Krychowiak, Geoffrey Kondogbia atau Kevin Gameiro. Nama-nama diatas yang direkrut semasa Monchi menjabat direktur olahraga Sevilla, menghasilkan pundi-pundi euro yang banyak bagi klub. Itu pun masih ditambah kesuksesan Monchi menaikan harga pemain-pemain potensial dari akademi seperti Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos dan Jesus Navas dengan harga yang selangit.

Selain jaringan pemandu bakat yang sangat luas, keberadaan master transfer seperti Monchi sangat krusial bagi Sevilla yang tak punya kondisi finansial hebat seperti klub-klub besar. Monchi adalah jaminan bagi Sevilla untuk tetap kompetitif dengan pemain bagus, namun yang berharga murah. Empat trofi Liga Europa yang Sevilla rengkuh dengan pemain-pemain hasil kerja transfer Monchi adalah bukti tak terbantahkan lagi.

Saat ini kepindahan Monchi ke AS Roma tentu memicu antusiasme tinggi dari fans. Sudah sangat lama trofi scudetto belum singgah lagi ke ibukota Italia, sejak terakhir kali pada tahun 2001 lalu. Kedatangan Monchi memicu gairah baru yang seakan menandakan Roma siap menjadi penantang serius gelar juara.

Bergabungnya sosok yang menjadi kiper sebelum pensiun ini diharapkan mampu memberi kestabilan bagi Roma, terutama dalam usahanya meraih berbagai trofi prestisius dan juga membangun reputasi sebagai klub yang mapan. Tetapi membaca gelagat kedatangan Monchi ke AS Roma, sebenarya harapan menjadi juara dan terutamanya Serie A, belum akan datang dalam beberapa musim kedepan.

Seperti diketahui, AS Roma dibawah presiden orang AS berdarah Italia, James Pallotta, sedang melancarkan proyek pembangunan stadion baru. Tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merampungkan hal itu.

Jika dirunut, maka pertemuan Monchi yang punya rekam jejak pencari pemain murah untuk dijual mahal dengan Roma yang sedang butuh dana pembangunan stadion akan menghasilkan sebuah premis bahwa; Monchi didatangkan untuk menstabilkan keuangan AS Roma terlebih dahulu, bukan langsung menargetkan trofi.

Bukti awal sudah kentara, ketika pilar inti seperti Mohamed Salah dilego ke Liverpool dengan mahar 39 juta pounds. Tak cuma itu, pemain-pemain penting lain juga santer sedang dipertimbangakan untuk dijual. Kostantinos Manolas dan Antonio Ruediger masing-masing diisukan ke Zenit St. Petersburg dan Internzionale dan Chelsea. Yang juga membuat miris, Radja Nainggolan kabarnya akan direkrut Manchester United. Jika kesemua berita itu benar-benar terealisasikan, akan benar-benar menjadi kehilangan besar bagi AS Roma.

Tugas Monchi disinyalir akan meneruskan tradisi direktur olahraga Roma sebelumnya, Walter Sabatini untuk mencari pemain muda yang murah dan kemudian dijual semahal mungkin seperti Erik Lamela, Marquinhos, dan Miralem Pjanic.

Peluang demikian semakin kentara ditambah faktor pelatih baru Roma, Eusebio Di Francesco yang menggantikan Luciano Spalletti, adalah orang yang mengorbitkan talenta-talenta hebat “tak bertuan” semasa di Sassuolo. Nama-nama didikan Di Francesco yaitu Domenico Berardi, Nicola Sansone, Gregoire Defrel, Matteo Politano dan Lorenzo Pellegrini.

Melihat kabar mercato sejauh ini (6 Juli 2017), pemain-pemain yang sudah didatangkan ke Roma juga bukan nama besar. Perjudian besar Monchi lakukan jika Hector Moreno (PSV) dan Rick Karsdrop dari Feyenoord jadi menggantikan Manolas dan Ruediger, yang sudah sangat nyetel di Serie A. Kontrak Wojciech Szczesny juga belum punya kepastian karena Roma masih punya kiper internasional Polandia yang lain, Lukasz Skorupski (dipinjamkan ke Empoli).

Untuk menggantikan Mohamed Salah, Roma dikabarkan menghubungi sayap andalan Stoke City, Xherdan Shaqiri. Tetapi melihat reputasinya, Shaqiri bukanlah pengganti sepadan Salah, lagipula Shaqiri pernah gagal ketika di Italia bersama Internazionale.

Selain itu Roma dikabarkan memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo. Calon gelandang masa depan Italia ini merupakan produk akademi AS Roma. Kedatangan Pellegrini terhitung penting disamping penambahan kualitas tim. Pellegrini akan mengguatkan kembali komposisi putra asli Roma, yang saat ini hanya ada dua di tim; Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi pasca kepergian il capitano Francesco Totti.

Cenderung adem ayem tidak mengincar nama besar di bursa transfer dan justru akan menjual aset-aset terbaiknya, menjadi bukti bagaimana kejelasan rencana Roma bersama Monchi; menuai profit dari pasar transfer. Pembangunan stadion yang memakan dana besar menjadi alasan kuat AS Roma membutuhkan seorang juru transfer seperti Monchi. Diharapkan orang ini mencari bakat yang tidak terlalu terekspos (harga murah) kemudian menjual mahal beberapa tahun kemudian.

Bagi fans AS Roma, tentu muncul rasa kecewa dengan langkah klub dalam bursa transfer di pertengahan tahun 2017 ini. Bukannya memperkuat tim yang sudah mulai stabil, justru kembali bongkar pasang susunan pemain yang terjadi.

Sulit bagi Roma mengulang prestasi musim lalu (runner-up), belum lagi musim depan Roma kembali berlaga di Liga Champions. Dengan langkah transfer yang sangat jauh dari memuaskan sampai saat ini, apakah Roma akan tetap bertaji di Serie A sekaligus di Eropa? Sepertinya sulit terjadi, walau sekedar hanya membayangkan.

Kalau hanya mencari pemain murah yang kemudian dijual mahal, tak perlu repot mengkontrak Monchi sebagai direktur olahraga, Walter Sabatini saja sudah cukup bagi Roma. Erik Lamela, Marquinhos, Pablo Osvaldo dan Miralem Pjanic bukan primadona transfer kala didatangkan Sabatini, namun nyatanya kemudian berhasil dijual dengan harga yang terhitung mahal.

Kevin Strootman, Radja Nainggolan, Kostantinos Manolas, dan Antonio Ruediger “belum pemain jadi” ketika didatangkan, namun yang pasti saat ini, untuk merekrut mereka dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu Sabatini juga berhasil menemukan bibit-bibit muda menjanjikan semacam Leandro Paredes dan Emerson Palmieri.

Pada akhirnya, antusiasme yang muncul ketika awal kedatangan Monchi akan menguap begitu saja dengan melihat gelagat Roma di pasar transfer saat ini. Impian untuk menyaingi Juve dalam perburuan scudetto harus kembali dipendam oleh tifosi Roma, apalagi berbuat banyak di Liga Champions.

Scudetto sepertinya belum akan bertambah di lemari trofi AS Roma, meski baru saja kedatangan direktur olahraga baru yang sangat mumpuni. Pertautan antara si jenius Monchi dalam mencari pemain murah untuk dijual mahal, dengan Roma yang butuh dana pembangunan stadion dalam jangka waktu panjang, menjadi argumentasi logis untuk meragukan Roma bakal scudetti dalam beberapa musim kedepan.

Setidaknya jika tifosi Roma sukar untuk berharap pada cita-cita scudetto, masih ada trofi lain yang sering mantan klubnya Monchi dapatkan, yakni Liga Europa. Sevilla pernah empat kali menyabet gelar juara Liga Europa dengan pemain-pemain rekrutan Monchi dahulu kala. Bagi Roma barangkali peribahasa “tak ada rotan, akar pun jadi” dengan keberadaan Monchi seharusnya berarti “tak ada scudetto, Liga Europa pun jadi”.

Sumber foto dari Gazzetta.it

Image

Dua Sisi Berlawanan RB Leipzig

Skuad Leipzig 2016/17
Meski punya potensi untuk bisa menandingi dominasi Muenchen, namun RB Leipzig dibenci oleh hampir seantero Jerman.

Rassen Ballsport Leipzig atau biasa disingkat RB Leipzig adalah klub asal Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita belakangan ini. Meski baru pada musim 2016-2017 ini promosi ke Bundesliga 1, tetapi pemberitaan tentang mereka sudah menjamur di berbagai media-media sepakbola.

Setidaknya ada dua hal kenapa RB Leipzig sering menjadi sorotan dalam berita sepakbola, khususnya bagi publik Jerman. Yang pertama, berbagai elemen terutama suporter klub-klub di Jerman menuding RB Leipzig telah merusak “tradisi” dalam sepakbola Jerman. Mereka dicerca karena dianggap hanya sebagai ladang bisnis dari perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull.

Dulu klub ini bernama SSV Markrandstadt. Andai saja di Jerman tidak ada aturan 50+1 menyoal kepemilikan klub sepakbola, mungkin nama mereka suah berganti Red Bull Leipzig. Yang mengingatkan kita akan klub Red Bull lain semacam; Red Bull Salzburg atau New York Red Bull yang juga dikuasai perusahan milik Dietrich Mateschitz tersebut.

Saking dalamnya intervensi bisnis mereka, bahkan tak cukup nama klub saja, nama stadion, sampai-sampai logo klub pun tidak lepas dari embel-embel dua banteng merah yang jadi ciri khas Red Bull.

Kisah RB Leipzig dimulai tatkala SSV Markrandstadt, klub divisi lima asal Leipzig, Saxony, wilayah timur Jerman dibeli oleh Red Bull. Meski RB Leipzig terhitung muda (berdiri pada 19 Mei 2009), hanya dalam kurun waktu tujuh musim, dengan cepat RB Leipzig melesat dari kasta kelima menuju pentas tertinggi Bundesliga 1.

Begitu cepatnya mereka menuai prestasi tentu tidak lepas dari uang yang digelontokan Red Bull. Sokongan mereka membantu klub merenovasi Zentralstadion dan membangun fasilitas latihan modern, selain juga uang mereka yang dimanfaatkan untuk membeli pemain.

Tetapi meroketnyaa RB Leipzig malahan dibenci oleh publik sepakbola Jerman. RB Leipzig dianggap “plastic club” yang tidak punya nilai historis dalam diri mereka dan hanya dijadikan kepentingan bisnis semata.

Fakta yang terjadi di lapangan sungguh mencerminkan tingginya kebencian terhadap RB Leipzig. Kalangan suporter lah yang paling tegas dalam menyatakan kebencian itu. Mulai dari penolakan untuk nonton langsung timnya saat awayday ke kandang Leipzig, aksi bisu 10 menit pertama saat kesebelasan idola mereka jumpa Leipzig, spanduk kecaman/caci-maki untuk Leipzig dan bahkan lemparan “kepala banteng penuh darah” oleh oknum suporter klub-klub yang sangat benci RB Leipzig.

Berbagai aksi-aksi itu mengkonfirmasi betapa besar kebencian publik Jerman terhadap Leipzig yang telah “murtad” dari nilai-nilai, kebiasaan ataupun tradisi klub Jerman pada umumnya. Tradisi di Jerman, klub adalah milik anggota (fans) dengan aturan 50+1. Aturan ini pada intinya mengatakan 51% saham klub harus dipegang oleh anggota dan sisanya kemudian bisa dimilik oleh investor dari luar klub.

Meski aturan itu tidak berlaku secara baku untuk Wolfsburg dan Leverkusen yang telah lama begitu lekat dengan perusahan otomotif VW dan perusahaan farmasi Bayer.

Aturan 50+1 secara cerdik disiasati oleh Red Bull. Meski tidak melanggar aturan itu, tetapi dengan cara yang sedemikian rupa, mereka mengakali aturan karena bertujuan untuk memegang kendali penuh terhadap RB Leipzig.

Memang secara legal Red Bull hanya punya 49% saham di RB Leipzig. Akan tetapi dari sebelas anggota klub yang ada di tubuh RB Leipzig, semuanya adalah orang-orang yang bekerja di Red Bull. Jadilah mereka pasti selalu “menganggukan kepala” dengan apapun yang kebijakan yang diinginkan oleh Red Bull didalam tubuh RB Leipzig.

Akibat ulah Red Bull ini, tentulah suara fans akan klub kesayangannya akan tereduksi atau bahkan mungkin saja hilang. Dengan kongkalikong dibelakang layar ini, tentu sulit mengharapkan ada suara anggota atau fans yang bisa berdampak secara langsung dalam tubuh kepengurusan sebuah klub. Disamping komersialisasi sepakbola oleh sebuah perusaahan, tertutupnya suara anggota atau fans untuk klubnya itu jua lah yang membuat RB Leipzig sangat dibenci.

Jurnalis asal Jerman, Christoph Biermann pun menuliskan betapa piciknya mereka mengakali aturan yang ada di media. Katanya “sulit membayangkan bagaimana secara gamblang Leipzig melanggar aturan 50+1 tersebut.” dalam majalah 11 Freunde. Red Bull dalam hal ini memang telah keluar jalur dan tidak lagi berpegang pada tradisi klub-klub Jerman selama ini.

Namun ibarat bilah pisau yang bisa “melukai”, pisau juga punya segi yang bermanfaat. Sisi buruk RB Leipzig tentu karena keberadaan Red Bull dalam klub yang merusak tradisi sepakbola Jerman dan menguasai klub hanya untuk untuk jualan minuman.

Tetapi RB Leipzi pun punya tujuan positif dan tentu hal ini baik karena Bundesliga 1 semakin berwarna, inilah hal kedua yang juga menjadikan nama tetap menjadi sorotan

RB Leipzig sering mengedepankan pemain-pemain muda didalam timnya. Mereka pun menetapkan batas usia yang tidak lebih dari 24 tahun, bagi pemain yang akan mereka beli. Dengan skuad muda itu pun mereka sanggup nangkring di papan atas klasemen Bundesliga 1.

Bahkan dikala Bayern masih linglung diawal musim ini, mereka lah yang memuncaki klasemen liga, padahal status mereka ini hanya klub promosi. Selain itu, mereka pun dari Jerman timur, wilayah yang selama ini tertinggal dari segi sepakbolanya dari Jerman bagian barat. Dengan adanya RB Leipzig, gelora sepakbola Jerman timur sedikit banyak akan kembali bergairah kembali, setelah wakil dari sana terakhir kali untuk Bundesliga 1 adalah Energie Cottbus pada 2009.

Bakat-bakat pemain muda RB Leipzig juga diakui kualitasnya. Musim ini nama-nama seperti Emil Forsberg, Timo Werner atau Naby Keita menjadi buah bibir yang dikait-kaitkan dengan berita transfer ke klub-klub besar Eropa. Mereka juga diperkuat oleh Oliver Burke, wonderkid Skotlandia yang sebelumnya memperkuat Nottingham Forest.

Keberadan tim yang dilatih Ralph Hasenhüttl ini pun semacam penyegaran. Setelah bosancuma disuguhi perlawanan Dortmund terhadap dominasi Bayern, kini keberadaan Leipzig yang menyeruak ke papan atas tentu jadi pemandangan indah bagi para pengidam liga yang kompetitif. Apalagi kalau RB Leipzig sukses juara, tentu makin serulah Bundesliga 1 nanti, terlepas dari “keburukan” yang dilabelkan kepada mereka selama ini.

Kini tinggal bagaimana kita memandang Rassen Ballsport Leipzig. Melihat klub ini bagaikan paradoks karena punya dua sisi berlawanan, ada sisi baik dan buruknya. Dari sisi negatif mereka jelas terkait erat akan kapitalisme Red Bull yang terlalu dalam. Hal positif merek yakni menjadi klub kawah candradimuka pemain muda dan tentu saja perjuangan mendongkel dominasi Bayern Muenchen untuk membuat  makin kompetitifnya liga Jerman.

Kalau sudah begini, bagaimana anda memandang RB Leipzig?

Foto: bundesligafanatic.com dan worldfootbal.net

Paradoks Saint Totteringham’s Day

Di babak 16 besar Liga Champions, Bayern München menghadapi Arsenal. Sudah ditebak, Meriam London kembali melempem sumbunya ketika bersua The Bavarian di panggung Eropa. Kali ini dengan agregat telak 10-2, meski Arsenal gugur di 16 besar adalah pemandangan yang sebenarnya tak aneh dalam beberapa tahun terkahir.

Rival sekota mereka, Tottenham Hotspurs juga terjungkal dihadapan klub Belgia, KAA Gent dengan agregat 1-2. Bedanya Spurs melakoni laga itu di babak 32-besar Liga Europa, kasta Eropa yang lebih rendah.

Bagi setiap elemen yang ada di Arsenal, pasti sangat berat hati apabila melihat klub-klub pesaing berat, finis lebih tinggi dari mereka di setiap akhir musim atau melangkah lebih jauh di sebuah cup competitions.

Apalagi jika posisi rival satu kota seperti Chelsea atau terlebih-lebih Tottenham, yang lebih tinggi dari Arsenal di akhir sebuah musim Liga Inggris atau melaju lebih jauh di gelaran turnamen. Tapi musim ini Arsenal terseok-seok masuk empat besar, sedangkan Tottenham sangat stabil aman di zona tersebut.

Khusus terhadap sesama klub London Utara, Tottenham Hotspurs, Arsenal selalu finis diatas mereka sejak 1994/95 hingga musim 2015/16 lalu. Sudah dua dekade ini mereka selalu lebih superior terhadap tetangga terdekatnya tersebut hingga melahirkan istilah unik, Saint Totteringham’s Day.

Saint Totteringham’s Day adalah hari dimana pendukung Arsenal atau yang biasa disebut Gooners, bersuka cita mana kala tau bahwa tim idola mereka dipastikan finis diatas Spurs. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh situs Arseneweb.com pada 2002.

Musim lalu Saint Totteringham’s Day sangatlah epik. Di gameweek terkahir, Tottenham dilumat 5-1 oleh Newcastle sedangkan disisi lain Arsenal menang 4-0 atas Aston Villa.

Arsenal yang hampir selalu dibawah Tottenham (terutama paruh kedua musim lalu), secara dramatis mendahului Tottenham pada pekan terkahir tersebut. Meski gagal juara dan hanya nangkring di posisi dua, hasil itu setidaknya masih menyisakan senyum di bibir para pendukung setia Arsenal.

Tidak hanya suporter, dari pemain hingga mantan pemain Arsenal juga tidak luput ikut merayakan Saint Totteringham’s Day lewat sosial media musim lalu itu. Saint Totteringham’s Day sendiri biasa diperingati Mei atau April, waktu dimana kompetisi biasanya mendekati pekan-pekan akhir.

Tapi itu hal yang paradoks, Saint Totteringham’s Day ibarat “prestasi” namun disaat bersamaan juga tak berarti apa-apa, rasanya semu sekali. Lagian, semisal mengungguli Tottenham di Premier League, itu tidak berarti spesial. Toh selama ini Tottenham juga tidak pernah juara Liga Inggris sejak 1961. Ya, kan?

Arsenal sendiri, terakhir juara yakni musim 2003/2004, dimana saat itu Arsenal masih jadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Inggris. Selanjutnya, tak pernah ada lagi kapten Arsenal yang angkat trofi liga diakhir tiap musim sampai saat ini.

Okelah, mungkin berkilah Arsenal terlalu sering menjual pemain bintang, yang dijadikan kambing hitam surutnya prestasi Arsenal. Hal ini karena kebutuhan uang untuk mengimbangi hutang pembangunan stadion. Tetapi itu sudah berlalu, pembangunan stadion sudah selesai sejak lama dan keuangan klub sudah membaik.

Saat ini bahkan Arsenal bukan lagi klub penjual, melainkan pembeli pemain-pemain bintang harga mahal. Mesut Özil dibeli seharga 42 juta poundsterling dari Real Madrid pada 2013, Alexis Sanchez diboyong dari Barcelona musim 2014-2015 dengan banderol 31 juta pounds.

Musim ini Arsenal juga royal membelanjakan dana di bursa transfer. Total, perekrutan Granit Xhaka, Skhodran Mustafi dan Lucas Perez menghabiskan kas Arsenal sebanyak 82 juta poundsterling. Disamping itu, kualitas skuad makin mengkilap dengan munculnya pemain muda seperti Alex Iwobi dan semakin matangnya Hector Bellerin atau Aaron Ramsey.

Kalau begitu muncul pertanyaan, kenapa dengan skuad yang sudah bagus, Arsenal tetap begini-begini saja? Lalu apa? Banyak yang mengatakan, Arsenal bermain indah dan sedap dipandang mata, tetapi lemah dari agresifitas dan kurang punya mentalitas yang kuat.

Soal gaya permainan, Arsenal mengandalkan umpan pendek dan kombinasi satu-dua guna membongkar pertahanan lawan. Sekilas menyerupai ticqui-taka, namun karena bermain di Inggris, Arsenal wajib memiliki gelandang bertahan yang “kejam” seperti Patrick Vieira.

Permainan keras khas seperti Vieira tentu dibutuhkan guna melindungi lini tengah dan belakang, terutama dari serangan balik yang rentan menghantui tim seperti Arsenal, yang gemar menguasai bola dan terapkan garis pertahanan tinggi.

Vieira tidak hanya garang dalam menghentikan serangan atau jago merebut bola, namun juga lihai mengalirkan bola kedepan, sehingga tetap cocok dengan The Arsenal Way yang memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki. Dia punya agresifitas baik ketika bertahan atau juga saat menyerang.

Di skuad musim ini ada Francis Coquelin, Granit Xhaka dan Mohammed Elneny yang bisa berperan sebagai gelandang jangkar. Antara ketiga pemain ini, berdasar data situs whoscored.com, Coquelin dari 21 kali tampil di Premier League, dia menonjol dari sisi defensif dengan rerata 2,9 tekel sukses dan 2,3 intersep di setiap laga.

Coquelin pun tidak buruk dalam mengoper bola karena punya catatan akurasi 88%. Sedangkan angka untuk Xhaka yaitu catatan 2,7 tekel, 1,7 intersep, akurasi umpan 89,4 %. Lalu Elneny punya 1,5 tekel, 0,5 intersep dan pass succes percentage 92,6 perlaga.

Bahkan menurut Squawka, Coquelin punya jumlah umpan sukses sebanyak 298 kali di final-third area atau area dalam pertahanan lawan, angka tersebut lebih unggul dari gelandang top dunia semacam Toni Kroos atau Marco Verratti sekalipun.

Coquelin tinggal mengasah teknik agar lebih komplit dan menjaga kebugaran, karena dia seringkali terlilit cedera yang tentu akan menyulitkan kinerja lini tengah Arsenal bila dia tidak bermain. Bermain keras pun harus dia praktekan, agar semakin mendekati atribut yang dimiliki Patrick Vieira.

Selain urusan agresifitas, hal penting lain yang juga dibutuhkan oleh pasukan Arsene Wenger yaitu pemain dengan aura kepemimpinan berkarisma juara. Pemimpin yang karismatik, besar kemungkinan mampu memotivasi dan mengangkat mental rekan-rekannya, terutama di saat-saat genting atau dalam pertandingan besar.

Sepeninggal Vieira atau Henry, belum ada lagi kapten Arsenal yang melebihi atau bahkan sekedar menyamai aura karismatik duo Perancis ini. Maka dari itulah, Arsenal sering melempem di situasi-situasi penting atau di laga bertensi besar akibat kurangnya pemain-pemain berkaratker juara dan bermental baja.

Kapten saat ini, Laurent Koscielny memang tidak punya aura besar seperi Henry dan Vieira. Namun gaya main yang anti kompromi dalam menghalau bola atau menjegal pemain, menjadi gambaran kepada lawan bahwa Arsenal masih punya nyali yang kuat dalam bertanding, meski levelnya belum seperti zaman The Invicible sedia kala.

Pemain seperti Vieira memang dibutuhkan, karakter permainannya penting sebagai pelindung lini tengah yang bisa melapis lini belakang, selain juga jiwa kepemimpinan tinggi yang sangat dibutuhkan di tim seperti Arsenal.

Dengan skuad yang penuh kualiatas teknik seperti sekarang ini, andai ditambah keberadaan holding midfielder tangguh serta adanya pemimpin berkarakter, mungkin Arsenal bisa melaju lebih dari yang saat ini.

Contoh tersaji pada leg pertama kemarin lawan Bayern, ketika Laurent Koscielny ditarik diawal babak kedua akibat cedera, pertahanan Arsenal langsung kelimpungan. Gabriel mudah sekali dieksploitasi Lewandowski dan Thiago Alcantara. Ditambah, duet Coquelin-Xhaka kurang begitu baik melapisi pertahanan.

Agresifitas menyerang juga sangat kurang, saking menggelikannya, bahkan umpan yang dibuat oleh playmaker seperti Mesut Özil tidak lebih banyak dari apa yang dibuat kiper lawan, Manuel Neuer. Özil hanya buat 24 umpan, angka yang sama dengan yang Neuer buat.

Keluarnya kapten Koscielny juga barangkali ikut sedikit banyak mereduksi kekuatan mental pemain Arsenal di laga super penting tersebut. Terlebih lagi ban kapten justru dililitkan ke Kieran Gibbs, yang jangankan jadi panutan pemain lain akan karisma darinya, rutin bermain pun jarang ia dapati musim ini.

Arsenal jelas membawa misi hampir mustahil lolos 16 besar Liga Champions 2016/2017 kali ini. Di liga juga sama, inkonsistensi Wenger Boys di setiap pekan makin menjauhkan mereka dari Chelsea, plus persaingan peringat dua hingga enam juga sangat ketat musim ini.

Di percaturan liga Inggris musim ini, Arsenal sebenarnya sudah menunjukan mental lebih baik ketika partai besar, namun sering tiba-tiba terjungkal seperti kalah 1-2 dari Watford di Emirates Stadium. Hal semacam inilah yang menjadi duri kenapa Arsenal gagal juara musim lalu dan tetap kesulitan bersaing di Premier League musim ini.

Flash back musim lalu, disaat klub-klub besar lain loyo seharusnya kesempatan Arsenal juara terbuka lebar, namun apa daya Arsenal justru ikut-ikutan lembek dan gelar juara pun diserobot Leicester City. Setali tiga uang di Liga Champions, mereka dilumat Barcelona, juga di babak 16 besar yang memang kramat bagi Arsenal beberapa tahun ini.

Musim ini Arsenal harus selalu solid, karena klub besar lain juga menunjukkan perbaikan demi perbaikan. Seharusnya dengan skuad yang sudah bagus kali ini, Arsenal mampu berbuat sesuatu yang lebih daripada musim-musim sebelumnya, setidaknya di Premier League, jika asa untuk mengalahkan Bayern memang sudah sirna.

Saint Totteringham’s Day. Berpesta karena lebih hebat dari arch-rival, namun sang rival itu sendiri sebenarnya bukan klub yang benar-benar hebat, paradoks. Kalau Madrid berpesta karena unggul dari Barcelona, itu wajar, karena baik itu Barca atau Madrid selalu bersaing mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia.

Lagipula inikan Tottenham? Trofi terakhir kali yang didapatkan tim ini pun sekedar League Cup 2007-2008, yang bahkan tak lebih bergengsi dari trofi FA Cup, yang Arsenal raih 2014-2015 lalu.

Sah-sah saja musim ini tradisi Saint Totteringham’s Day bisa tetap diwujudkan, tetapi sungguh semu sekali rasa jika bisa menunjukan superioritas dari Tottenham, namun tetap saja Arsenal tidak mampu untuk jadi juara Inggris, apalagi Liga Champions. Ditambah musim ini, bisa jadi puncak saga dari pertanyaan besar, apakah Wenger akan bertahan atau angkat kaki dari Arsenal? Hanya waktulah yang akan menjawabnya.

Foto; independet.co.uk

 

Alergi Klub Premier League Diawal Tahun Ganjil

Sejatinya, klub ataupun suporter tentu akan bangga apabila pemain kesayangannya tidak hanya mampu untuk unjuk gigi di klub, namun hingga ke tim nasional. Ketika para pemainnya dipanggil tim nasional dan bermain baik, terlebih lagi di pertandingan turnamen besar, ada beberapa keuntungan.

Bagi klub, ketika pemain semakin terkenal akan kualitasnya, maka harganya bisa naik tajam. Lalu jika makin banyak pemain yang berkualitas, tenar dan populer, maka sponsor-sponsor akan mulai berdatangan. Dan jikapun ingin dijual, patokan harga tinggi bisa dikenakan karena performa bagus si pemain di sebuah turnamen besar.

Bagi suporter, mungkin mereka tidak merasakan impak secara wujud nyata. Namun dari sisi emosional dan psikologis, ketika pemain idolanya di klub tersebut juga bermain bagus bersama timnasnya di ajang besar, tetap ada rasa kebanggaan tersendiri.

Tetapi apakah selamanya klub dan suporter senang, jika pemain andalan mereka mendapat panggilan bermain di tim nasional masing-masing untuk turnamen antar negara? Ternyata tidak selamanya begitu, apalagi bagi klub Premier League jika sudah memasuki Januari di tahun ganjil.

Ya, tahun ganjil identik dengan turnamen sepakbola kontinental benua Afrika. Edisi kali ini adalah Piala Afrika 2017 di negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Piala Afrika, dimainkan di bulan Januari tahun ganjil. Itulah, penyebab klub-klub Premier League tidak suka dengan hal ini.

Kok tidak suka? Meski begutu, ketidaksenangan mereka wajar apabila melihat kompetisi liga tahun ini yang begitu ketat. Sudah pasti keberadaan pemain-pemain asal benua Afrika yang menjadi andalan di klub-klub Inggris tersebut sangat dibutuhkan, terlebih pada awal tahun ini dimana jadwal padat menggentayangi klub-klub Inggris.

Berkaitan dengan Piala Afrika pada bulan Januari 2017 ini, kebetulan ada beberapa klub besar yang akan kehilangan pemain andalan selama Januari hingga awal Februari ini. Pertama adalah Liverpool, kepergian Sadio Mane untuk memperkuat timnas Senegal akan menjadi beban pikiran lebih dalam laig untuk arsitek The Reds, Jürgen Klopp.

Mane salah satu pemain kunci Liverpool musim ini. Dia menjadi top skor sementara Liverpool dengan mengemas 9 gol dan juga mengukir 4 assist dalam kurun 19 partai liga yang ia lakoni. Tidak sebatas itu, Mane juga sudah mulai klop dan membentuk trisula padu bersama Coutinho dan Firmino di lini depan The Anfield Gang’s.

Pergerakan yang dinamis, cepat, membuka ruang untuk rekan serta ketajaman mencetak gol dari Mane, untuk ementara tidak akan dirasakan Liverpool Januari ini, dan bertambah lagi hingga Februari jika Senegal sampai masuk final Piala Afrika. Sedangkan Joël Matip, andalan lini belakang Liverpool yang satu ini tidak ikut ke Piala Afrika karena menolak panggilan dari timnas Kamerun.

Chelsea, sang pucuk klasemen hingga gameweek 20 ini tidak terdampak Piala Afrika. Victor Moses sebagai wing-back kanan utama andalan tim racikan Antonio Conte, akan tetap di Inggris karena Nigeria gagal lolos kualifikasi Piala Afrika 2017. Tottenham, yang ikut meramaikan zona 6-besar liga musim ini juga tidak akan terganggu Piala Afrika. Itu karena Kenya, negara gelandang bertahan Victor Wanyama, gagal lolos ke putaran final.

Sementara rival sekota Chelsea, Arsenal akan kehilangan Mohammed Elneny yang tampil bersama timnas Mesir. Nasib Arsenal lebih baik dari Liverpool, karena pemain yang dipanggil (Elneny) hanya sebatas pemain pelapis Arsenal dan bukan pemain penting seperti Mane di Liverpool. Untung pula Nigeria tidak lolos kali ini, jika iya maka Alex Iwobi yang sering bermain akhir-akhir ini akan membuat Arsenal kekurangan pilihan di lini tengah akibat tugas negara bagi sang pemain.

Nasib baik juga mengiringi Manchester City, Yaya Toure sudah pensiun dari tim nasional Pantai Gading. Lalu, Kelechi Iheanacho terhindar karena Nigeria gagal lolos ke Piala Afrika 2017 di Gabon tersebut. Sementara itu, Manchester United akan kehilangan Eric Bailly yang senegara dengan Toure. Bailly akan bahu-membahu rekannya hingga Pantai Gading melangkah sejauh mungkin di turnamen dua tahunan tersebut.

Klub lain diluar zona enam besar juga tak luput ikut kena efek Piala Afrika ditegah berjalannya liga. Contohnya, juara bertahan Leicester City, yang harus kehilangan beberapa pemain penting seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani (Aljazair) dan Daniel Amartey bermain untuk Ghana. Tentu makin menyulitkan langkah The Foxes yang terseok-seok sejak awal musim ini.

Lalu kenapa bisa dikatakan klub Premier League seakan “alergi” dengan Piala Afrika? Pertama, kepergian pemain ketika musim liga sedang berlangsung dan ditengah jadwal yang padat. Sepakbola di Inggris memang terkenal padat jadwal dan keberadaan Piala Afrika diawal tahun sangat tidak menguntungkan klub, apalagi mereka yang sedang bersaing dipapan atas dan kompetisi Eropa.

Kedua, terkait kemungkinan cederanya pemain dalam turnamen tersebut. Arsene Wenger, ketika Arsenal masih diperkuat pemain-pemain dari benua Afrika seperti Kolo Toure, Emmanuel Adebayor aaau Alex Song pernah mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Piala Afrika yang digelar pada awal tahun dan “menggangu” liga.

Tidak dipungkiri memang, bahwa pemain yang membela timnas dalam ajang tersebut punya kemungkinan pulang ke klub dengan membawa cedera. Jika sudah begini, maka klub lah yang kebakaran jenggot dan mengalami kerugian dari sisi materi pemain.

Apalagi jika melihat kompetisi Liga Inggris musim ini. Banyak klub punya ambisi untuk juara. Musim 2016/17, Premier League bisa disebut lebih mewah dari musim sebelumnya.

Pelatih-pelatih top dunia mewarnai Premier League musim ini. Mulai dari yang berpengalaman lama di Inggris seperti Arsene Wenger atau Jose Mourinho hingga pelatih jempolan yang lebih muda macam Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp atau Mauricio Pochettino.

Tak lupa, pemain-pemain dengan reputasi besar juga datang untuk memanaskan persaingan disana. Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba menjadi komoditi berita utama dalam bursa transfer musim panas 2016 lalu. Mereka akan menambah gemerlap Premier League, yang memang jadi liga paling mendapat sorotan dalam 10 tahun terakhir.

Foto: thesun.co.uk

statistik dari Opta

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

Dilly-Ding Dilly-Dong!, Kunci Leicester City Juara : Passion Bermain

Seringkali kita mengatakan bahwa kualitas pemain dan nama besar menentukan prestasi sebuah klub, memang benar adanya beberapa klub dengan pemain berkualitas membuktikannya.

Kita dapat melihat contoh pada Barcelona, Madrid, Bayern, Chelsea ataupun Juventus dan klub besar lain yang mampu bersaing dalam percaturan sepakbola Eropa. Gelar juara dan menapaki tingkat tinggi dalam sebuah kompetisi bergengsi menjadi hal yang lumrah bagi klub-klub besar dan ditambah dengan dukungan keuangan yang besar pula hal tersebut dapat dipertahankan bahkan untuk bertahun-tahun.

Tetapi sebenarnya tidak hanya; kualitas pemain, nama besar klub dan uang saja yang membuat mereka mampu mencapkan dominasi terhadap klub-klub lain, ternyata diluar faktor tersebut ada satu hal yang mampu membuat dominasi mereka awet yaitu “gairah” atau passion bermain.

Gairah dalam bermain sepakbola sangatlah penting dalam menjaga hasrat pemain-pemain yang bisa menjaga performa dan tetap selalu berusaha untuk bersaing dalam perburuan gelar juara.

Ya, gairah bermain sepakbola sangat fundamental bagi kestabilan tim meraih kemenangan demi kemenangan setiap pertandingan yang dapat berujung raihan gelar juara.

Gairah begitu penting, analoginya adalah ketika sebuah klub memperoleh gelar juara yang ditargetkan, mereka bisa mengalami rasa puas terhadap pencapaian, sehingga di musim-musim selanjutnya gairah dalam bermain tersebut akan mampu menjaga “rasa lapar” untuk selalu meraih prestasi demi prestasi.

Setiap tim memiliki target masing-masing entah dengan status juara bertahan, pengejar titel juara ataupun tim dengan tujuan lain, pasti mereka akan berusaha sekuat tenaga demi mencapai target-target tersebut.

Gairah untuk mencapai target-target tersebut haruslah selalu ada, karena logikanya bagaimana mungkin sebuah klub akan terus berjuang demi target mereka, jika mereka sendiri tidak punya gairah untuk mewujudkan target tersebut?

Disini jelas bahwa gairah bermain sepakbola tersebut akan menjaga “api” semangat dalam jiwa pemain  untuk tetap berjuang tanpa lelah dalam arena pertarungan di lapangan demi menggapai target yang diinginkan.

Kenyataan tersebut menjadi fenomena di berbagai liga musim ini, gairah bermain yang sebenarnya adalah faktor non-teknis malah menjadi pembeda dalam perjalan berbagai klub musim ini.

Yang paling menjadi sorotan adalah Liga Inggris 2015-2016 ini, beberapa tim mengalami periode yang tidak biasa dan ada tim “asing” yang tidak hanya sekedar bersaing memperebutkan tiket Eropa, namun dengan luar biasanya justru menjadi kandidat juara.

Tim yang dimaksud adalah Leicester City dan Tottenham Hotspur, ketika nama besar seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal dan bahkan juara bertahan Chelsea mengalami musim yang dikatakan buruk, The Foxes dan Lily Whites mengambil kesempatan untuk menguasai peta persaingan menjadi nomor satu di Inggris.

Padahal jika dilihat dari kualitas pemain, dua tim ini bukanlah “tempatnya” berada di papan atas apalagi untuk Leicester, kualitas pemain mereka dibawah rata-rata mengingat mereka musim lalu adalah kandidat degradasi, namun sangat mengejutkan ketika mereka menjadi kandidat juara musim yang baru saja berakhir ini.

Kalau yang berada di puncak adalah Tottenham mungkin banyak yang menganggap “sedikit wajar”, ketika tim-tim besar berada dalam situasi paceklik dan dengan kualitas yang terhitung tidak beda jauh dengan tim besar, membuat Tottenham mampu berbuat banyak dengan pemain-pemain berkualitas seperti Harry Kane, Bamidele Alli, Christian Eriksen, Jan Vertonghen, dan Hugo Lloris.

Namun yang berada di puncak bukanlah mereka tetapi justru tim yang kualitasnya berada jauh dibawah mereka, Leicester City, yang sebenarnya kualitas tim ini tidak lebih baik dari tim-tim pejuang jeratan degradasi macam Newcastle atau Aston Villa.

Tetapi dengan berbagai hasil yang diraih selama ini menunjukkan bahwa kualitas pemain bukanlah faktor utama yang menjadikan Leicester City seperti ini, dan hal tersebut adalah gairah atau passion yang besar dalam bermain sepakbola yang dimiliki pemain-pemain yang dimanejeri oleh pelatih kaya pengalaman asal Italia, Claudio Ranieri.

Ranieri yang datang di awal musim setelah pemecatan Nigel Pearson akibat kasus anaknya (James Pearson) berhasil menyuntikkan keceriaan dan semangat bermain bagi tim. Sehingga gairah bermain serdadu Leicester selalu berapi-api disetiap game musim ini, lihat saja permainan Riyadh Mahrez dan rekan di lapangan, meski dari segi teknis mereka kalah namun dengan gairah tersebut semangat mereka tak pernah padam untuk selalu berjuang di lapangan.

Apalagi sitem permainan ramuan The Tinkerman tidaklah muluk-muluk, permainan simpel dengan serangan balik khas Italia dipadu dengan  power and speed ala Inggris membuat Leicester sering menyulitkan tim manapun, entah itu tim besar ataupun kecil mereka bisa dikalahkan.

Ranieri juga menekankan kolektifitas permainan entah siapapun yang diturunkan di lapangan, sehingga berdasar pada skema yang simpel dan kekompakkan bisa membuat kualitas pemain yang biasa akan tertutupi dengan permainan kolektif tim.

Selain itu gairah mereka dalam bermain sepakbola sangatlah tinggi, terbukti banyak hasil bagus pertandingan musim ini yang diraih ketika waktu hampir habis, selain itu mereka juga beberapa kali melakukan comeback untuk mengamankan hasil atau juga mencuri kemenangan.

Tanpa gairah yang tinggi disetiap jiwa pemain Leicester, tentu kemengan dengan late goal maupun membalikkan keadaan akan sulit direalisasikan apalagi jika melawan tim besar yang secara kualitas berbeda jauh dari Leicester.

Gairah tinggi itulah faktor kunci yang mampu menjadikan Leicester melambung kali ini, mereka memanfaatkan momen disaat klub lain seperti Chelsea atau MU sedang lesu dan seperti “kehilangan” gairah bermain bola sehingga tercecer papan tengah klasemen.

Gairah, semangat, kolektifitas dan keriangan bermain bola itulah yang juga membuat Leicester bermain lepas dan tanpa beban disetiap pertandingan, tidak ada target tinggi yang dicapai. Ketika mulai sering berada level atas, Ranieri berujar target timnya hanya 40 poin (aman dari degradasi), ketika Premier League sudah berlangsung lebih dari 20 pekan lebih, dia tetap mengatakan targetnya hanya untuk berada di papan tengah.

Baru setelah menyentuh 30an laga, Ranieri mengatakan suporter Leicester dipersilakan untuk bermimpi lebih jauh dan dalam meski disatu sisi dia tetap mengatakan, Tottenham adalah favorit juara.

Apa yang dikatakan Ranieri dengan tetap merendah meski sedang berada di puncak performa hanyalah bertujuan untuk melepaskan beban disetiap pundak pemain dan tetap memposisikan Leicester sebagai underdog.

Menjaga aura dan pesona underdog memang harus dilakukan Ranieri demi menjauhkan tim dari ekspektasi berlebih yang justru mampu melimpahkan beban dan ekspektasi itu kepada tim-tim dibawah mereka.

Keberadaan Leicester sebagai nomor satu di klasemen hingga musim ini berakhir pasti membuat seluruh penikmat Liga Inggris khususnya dan sepakbola pada umumnya tak bisa mengalihkan pandangan dari hal tersebut.

Yang juara musim ini adalah Leicester, mungkin keberhasilan itu akan membuat seluruh Britania dan “dunia” ikut bahagia, bagaimana mungkin tim yang miskin, pemain yang standar dan reputasi klub yang tidak bersinar sama sekali dan musim kemarin “hampir terdegradasi” justru menjadi juara musim ini?

Ya, sesuai dengan julukan Si Rubah (The Foxes), mengejutkan adalah karakter hewan tersebut yang kini bertransformasi dalam wujud Leicester City, dengan passion yang sangat bergelora mereka terus membuat kejutan demi kejutan. Dan kini hasilnya kita semua tahu bahwa Leicester kampiun Inggris!!!

Tentu merupakan hal yang sangat menarik melihat kapten Wes Morgan (yang baru merasakan Premier League musim lalu) mengangkat trofi Liga dan melihat Mahrez, Vardy, Kante, Drinkwater, dan Schmeichel bertarung di Liga Champions untuk musim depan dengan status  sebagai “JUARA” dari Inggris. Dilly-Ding Dilly-Dong, Come on the Foxes!!

Foto dari theguardian.couk