Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Advertisements

Müller vs Dante

Pemain-pemain Bayern München memang sedang dalam top performa pada musim 2012/2013. Thomas Müller, yang merupakan pemain asli didikan München ini termasuk yang berperan besar pada musim penuh sukses tersebut.

Pemain yang dianggap lembek oleh legenda Argnetina,Diego Maradona ini mencetak banyak gol, assist dan memotori permainan The Bavarian. Selain itu Müller juga multifungsi, bisa menjadi penyerang utama, sayap kanan, dan juga gelandang serang, versatilitas Müller itu sangat menguntungkan bagi peracik strategi Bayern kala itu Jupp Heynckes,

Müller tergolong cepat meledak bersama timnas Jerman di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Itu adalah turnamen debutnya di timnas senior dan Muller menjadi top skor di event tersebut dengan lima gol, ditambah dia pula yang dinobatkan pemain muda terbaik di ajang empat tahunan tersebut.

Setelah itu, dia menjadi andalan Jerman dan masih menjadi andalan hingga Piala Dunia 2014 Brasil kemarin, dimana Jerman keluar sebagai juara.

Kembali pada musim 2012-2103, München membeli Dante Bonfim dari Borussia Moenchengladbach. Dante adalah bek asal Brasil yang penampilan yang solidnya menjaga lini belakang Gladbach, membuat München membelinya kala itu

di musim pertamanya itu, Dante langsung jadi bek tengah utama dan ikut berperan besar terhadap treble winners yang dicapai musim tersebut (juara di Liga Champions, Bundesliga dan DFB Pokal). Kini Dante telah pindah dari München sejak awal musim 2015-2014, berlabuh ke VFL Wolfsburg dan sekarang (musim 2016-2017) bermain di OGC Nice, klub Ligue 1 Perancis.

Penampilan impresif bersama Bayern München, membawanya perkuat skuad timnas Brasil. Tetapi meski solid menjaga lini belakang München, tidak membuat Dante menjadi pemain inti karena Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil kala itu lebih menyukai duet Thiago Silva-David Luiz untuk tim Samba. Dante pun termasuk nama pemain yang ada di daftar skuad timnas Brasil untuk Piala Dunia 2014.

Bicara tentang Müller dan Dante, teringat sepenggal kisah unik diantara dua orang  yang pernah bahu-membahu dalam satu tim ini. Kisah tersebut muncul setelah Piala Dunia 2014 Brasil digelar dan Jerman keluar sebagai juara. Berikut kronologi kisah Müller dan Dante yang terjadi pasca turnamen besar tersebut.

World Cup 2014 Brazil, menyisakan cerita yang pedih bagi rakyat Brasil. Harapan juara meninggi seiring ajang 4 tahunan itu digelar di tanah sendiri, rekor pun tercipta. Tetapi rekor yang dimaksud bukanlah yang membanggakan, justru sangat memalukan.

Kalah dengan skor 1-7 dari Jerman sangat menyedihkan bagi Brasil. Pertandingan itu menjadi rekor sebagai semifinal dengan gol terbanyak sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia.

Hasil pertandingan itu ibarat obituari (berita kematian) secara umum di Brasil, meski sudah dua tahun berlalu sepertinya akan jadi kenangan yang begitu lama diingat. Saking pahitnya, bahkan konon di tanah Brasil sana sangat tabu untuk berkata “1-7, 7-1” atau juga mengulik-ngulik lagi peristiwa semifinal tersebut.

Tidak hanya di bumi Brasil saja, sepertinya membicarakan semifinal tersebut dengan orang Brasil dimanapun mereka berada, juga akan melukai hati mereka.

Meski kadang bertujuan sebagai bahan candaan, terkadang hal itu sangat menyentil apalagi terhadap pemain Brasil itu sendiri yang tergabung dalam skuad Piala Dunia 2014 lalu.

Kejadian ini rupanya ada di kubu klub asal Jerman, Bayern München. Sempat tersiar kabar bahwa terjadi ketidakharmonisan ruang ganti Bayern München akibat Thomas Müller sering menggunakan peristiwa “1-7” sebagai joke, bahan candaan.

Sudah tentu yang jadi sangat jengkel akibat ulah Müller adalah Dante Bonfim, mantan bek München yang juga pernah menjadi bek tengah timnas Brasil tersebut.

Kebetulan Dante yang berduet dengan David Luiz di semifinal itu karena Thiago Silva tidak bisa bermain. Dibentengi oleh Dante dan David Luiz, Brasil justru dipermak habis oleh Jerman dengan skor 1-7 kala itu.

Disini Müller yang berperan besar, dirinya memang sosok yang humoris dan menjadi pelawak di ruang ganti dan tentu lawakan dia diterima mayoritas pemain München. Kekalahan terburuk Brasil tersebut sering menjadi bahan lelucon oleh pemain-pemain München yang mayoritas pemain timnas Jerman. Padahal di klub itu ada dua orang Brasil, Dante dan Rafinha.

Entah mungkin hanya bercanda atau memang berniat mengejek, Müller sering berkelakar dengan topik “1-7” ketika sedang berada di ruang ganti pemain. Hal ini membuat Dante, bek tengah yang sangat rapuh kala semifinal itu begitu naik darahnya akibat guyonan Müller.

Pada musim 2014/2015 atau musim setelah Piala Dunia di Brasil, Dante pernah berujar ke media-media bahwa. Kata dia, ada masanya seseorang tidak suka dengan topik candaan yang selalu sama, apalagi bisa membuat sakit hati pihak lain.  Dante pun sempat berkeinginan menjotos Müller, jika ia tidak berhenti dan mengganti topik “1-7” dengan topik bercandaan lain.

Tetapi pada waktu itu jelas saja ruang ganti Munchen santai menanggapi joke dari Thomas Müller. Selain banyak punggawa timnas Jerman disana, Müller memang dikenal orang yang humoris sejak dahulu kala. Jadi pemain-pemain di München dan juga timnas Jerman sudah tahu akan karakter Müller itu.

Namun namanya juga manusia, wajar Dante berhak untuk marah. Secara tidak langsung dia yang menjadi “korban” utama bullying Müller, karena dia sendiri yang menjadi bek pada semifinal Piala Dunia yang paling memalukan bagi Brasil tersebut.

Kabar tidak harmonis tersebut pasti membuat  ruang ganti sedikit terganggu dan benar saja akhirnya pada musim setelah Piala Dunia tersebut (2014/2015), München hanya memperoleh satu gelar juara, yakni Bundesliga. Dante pada akhir musim itu pindah ke Wolfsburg, yang dimungkinkan juga karena hal efek lelucon “1-7” tersebut ditambah media-media Jerman yang sering mempertanyakan performa buruknya di semifinal Piala Dunia 2014 tersebut.

Dante pernah mengatakan seseorang bisa saja “meledak” jika tidak senang dengan lelucon yang diarahkan kepadanya. Meski tidak senang dengan Müller, Dante mengaku ucapan itu hanya sebatas dimulut saja dan tetap menganggap Müller, mantan rekannya di Munchen itu sebagai teman.

Terkadang kita bergurau untuk orang lain, tetapi justru orang tersebut menganggap itu serius. Sebaliknya, terkadang maksud serius kita dianggap sebagai bercandaan oleh orang lain.

Dante mencontohkan perilaku terpuji dengan tetap menganggap Muller sebagai teman, meski pernah menyakiti hatinya akibat lelucon yang Müller lontarkan. Mungkin bagi Dante, prinsip satu musuh sudah terlalu banyak namun 1000 teman terlalu sedikit berlaku bagi dirinya.

Foto dari metro.co.uk

Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com

Tamparan untuk Brasil!

Maksud judul diatas bukanlah tamparan dalam arti sebenarnya atau perlakuan fisik seperti tamparan pada umumnya. Yang dimaksud penulis dengan “Tamparan untuk Brasil!” adalah wujud dari rasa kegelisahan, kekhawatiran dan sedikit emosi yang bercampur menjadi satu ketika melihat wajah persepakbolaan Brasil saat ini.

Tersingkirnya Brasil dari Copa America Centenario 2016 ini dengan tidak mampu lolos dari fase grup adalah titik kulminasi mengapa Brasil menjadi bahan untuk diulas kali ini. Brasil sekarang dalam kondisi krisis, Brasil sekarang bukanlah seperti yang dulu lagi.

Jika dulu dalam dunia sepakbola kita mengatakan “Brasil”, maka yang muncul dalam pikiran adalah nama besar para bintang, keindahan permainan, atau skill menawan pemainnya.

Melihat permainan Brasil ibarat seperti melihat orang sedang menari Samba di lapangan, tarian penuh keceriaan namun berwujud teknik olah bola indah di lapangan, wahhh pasti sangat enak ditonton.

Tetapi itu hanyalah masa lalu, sekarang Brasil tidak seperti itu lagi, keindahan permainan, skill hebat dan bahkan nama besar pemain bintang perlahan mulai hilang dari image Brasil saat ini, ada apa dengan negeri sepakbola ini? Mengapa ini bisa terjadi di negeri yang bahkan sepakbola disana dipuja-puja hampir seperti sebuah agama?

Memudarnya kehebatan sepakbola Brasil sangat terasa semenjak akhir tahun 2010-an, banyak faktor yang berpengaruh pada penurunan kualitas sepakbola Brasil dan tim nasional mereka pada khususnya.

Faktor pertama adalah mengenai ide permainan, Brasil dikenal karena filosofi Jogo Bonito atau yang berarti keindahan permainan, kegembiraan, kebebasan dan skill pemain.

Pola bermain ini sangat pas diterapkan, karena perlu kita ketahui pemain-pemain Brasil biasanya mempunyai teknik bagus dalam bermain bola, entah apapun posisi mereka, mulai dari penyerang, pemain tengah dan bahkan kiper sekalipun, jika dia itu adalah pemain yang berasal dari Brasil, pasti mempunyai kelebihan teknik tersendiri.

Deretan pemain depan dari berbagai generasi seperti Pele, Romario, Ronaldo, Rivaldo, dan saat ini Neymar; lalu gelandang hebat seperti Zico, Kaka, Ronaldinho; bek seperti Lucio, Cafu, Dani Alves, Marcelo, David Luiz; kiper seperti Taffarel, Dida, Julio Cesar hingga Rogerio Ceni yang jago tendangan bebas pun ada, betapa hebatnya pemain-pemain Brasil tersebut.

Juara Dunia lima kali (yang terbanyak di dunia) dan 8 juara Copa America direngkuh atas nama Brasil, betapa hebatnya sepakbola negeri yang terkenal dengan tari Samba-nya ini.

Dengan pemain-pemain hebat seperti itu wajar apabila Jogo Bonito dipilih menjadi gaya permainan Brasil, apalagi gaya permainan yang enak ditonton tersebut sesuai dengan kepribadian orang Brasil yang hangat, periang dan sangat bergairah terhadap sepakbola, sangat klop antara filososi permainan dan mentalitas kepribadian khas orang Brasil.

Suatu ketika, tim nasional Brasil datang ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman dengan status juara bertahan karena mereka yang juara di edisi sebelumnya pada 2002 di Korea-Jepang. Brasil 2006 diperkuat oleh pemain yang saat itu sedang hebat-hebatnya, mulai dari Ronaldo Lima, Adriano, Ronaldinho, Kaka, dan Robinho sehingga wajar mereka menjadi favorit utama untuk juara.

Dengan Jogo Bonito dan dilatih oleh pelatih kawakan, Carlos Albeto Parreira, mereka menatap turnamen terbesar dalam sepakbola tersebut dengan optimis, tetapi akhirnya apa daya mereka justru kalah dari Perancis di perempat final. Mereka kalah oleh gaya main Perancis yang tidak hanya mengandalkan skill pemain, tetapi juga kedisiplinan dalam bermain, seperti tim Eropa pada umumnya. Kontras dengan Brasil yang menyuguhkan kebebasan dalam permainan.

         Menyadari “kebebasan telah kalah dengan kedisplinan”, untuk menghadapi Copa America 2007 di Venezuela, Brasil menunjuk Carlos Dunga sebagai pelatih. Orang ini berbeda dari Carlos Parreira atau Scolari dalam hal gaya permainan, Dunga menyukai sepakbola disiplin ala Eropa, sepertinya CBF atau PSSI-nya Brasil menyadari betul bahwa sudah saatnya Brasil berevolusi dan mengikuti perkembangan sepakbola dunia.

Dunga akhirnya sukses dengan membawa Brasil juaramelalui permainan disiplin seperti gaya Eropa pada Copa America 2007, dan bahkan Brasil tidak segan bermain sangat hati-hati karena sering menggunakan serangan balik sebagai strategi utama, Brasil era Dunga terasa “sangat Eropa”.

Namun pemikiran ini justru berbuah menjadi blunder fatal bagi pesepakbolaan Brasil dan prestasi tim nasional mereka pada khusunya. Karena mereka melupakan jati diri mereka sendiri (Jogo Bonito, bermain dengan gairah, semangat, dan kebebasan) dan justru meniru gaya Eropa.

Hasilnya kita ketahui hingga gelaran Copa America terbaru ini mereka hanya mampu meraih tiga gelar, selain Copa America 2007, hanyalah Piala Konfederasi 2009 dan 2013. Dua piala ini tidak terlalu istimewa karena cuma merupakan test tournament sebelum Piala Dunia tahun berikutnya.

Selama dilatih Dunga dengan gaya Eropa-nya, permainan Brasil tidak enak dilihat dan monoton, padahal di Brazil pemain berteknik tinggi berjejal, namun itu disia-siakan Dunga. Contohnya jelas sekali dalam pemilihan pemain, pada Copa America 2007 dia meninggalkan Adriano, Ronaldinho, Ronaldo Lima dan bahkan Kaka.

Meski mampu menjadi juara dengan pemain medioker macam Vagner Love, Fred atau Elano, Dunga tetap mendapat kritik karena pemilihan pemain tersebut apalagi ditambah permainan Brasil yang statis. Pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, turnamen besar kedua Dunga pasca Copa America, lagi-lagi diapun membuat keputusan tidak populer dengan mengesampingkan duo pemain muda terbaik Brasil, Alexandre Pato dan Neymar.

Mengandalkan Luis Fabiano sebagai penyerang utama jelas tidaklah cukup, pemain yang saat itu bermain di Sevilla itu bukanlah bomber kelas atas dunia. Dengan permainan disiplin kaku dan serangan balik, Brasil pun tersingkir setelah kalah 1-2 dari Belanda di perempat final, palu pemecatan pun dilayangkan ke Dunga pasca kekalahan tersebut.

Setelah dalam rentang 2010-2014 permainan Brasil mulai terlihat kembali ke Jogo Bonito (era Mano Menezes dan Luis Scolari), Dunga datang lagi karena ketidakpuasan CBF akan jati diri sepakbola Brasil sendiri dan berusaha lagi dengan gaya Eropa yang dibawa Dunga.

Hasilnya justru semakin parah, selain keengganan Dunga memakai pemain bintang, pemain medioker yang dia bawa pun terbukti tidak pantas berada di tim utama Selecao. Nama-nama semacam Diego Tardelli, Everton Ribeiro, Elias, ataupun Jefferson pada Copa America 2015 dan Gabriel Barbosa, Lucas Lima, Alisson di Copa America 2016 tidak teruji di level atas dan wajar apabila Brasil gagal total di turnamen besar seperti Copa America.

Parahnya gaya disiplin ala Eropa dalam bermain sepertinya tidak hanya berjangkit di level tim nasional dan telah “menular” di Brasil, saat ini pun banyak klub lokal berusaha sekuat tenaga untuk membuat para pemainnya bermain dengan tingkat kedisiplinan seperti apa yang diterapkan di Eropa, disamping untuk memenuhi kriteria pemain yang akan dibeli oleh calon pembeli potensial yaitu klub Eropa itu sendiri.

Memang kedisiplinan bagus, karena mampu menjaga kesetabilan permainan akan tetapi hal ini justru malah mereduksi kebebasan pemain-pemain Brasil dalam berfantasi dengan tekniknya ketika sedang bermain.

Hal ini jelas mengurangi kekhasan pemain Brasil, yaitu teknik alami karena kebebasan dalam bermain yang selama ini melekat pada diri pemain-pemain dari Brasil jika klub disana secara terus-terusan menerapkan gaya Eropa dalam pembentukan gaya main para pemainnya.

Penurunan kualitas ini juga dipengaruhi oleh faktor dari diri pemain Brasil itu sendiri, banyak pemain Brasil jaman sekarang bermain hanya untuk mengejar uang saja, prestasi dan gelar juara bergengsi mulai dilupakan oleh mereka.

Sekarang tidak asing lagi kita temui pemain Brasil yang bahkan berlevel tim nasional utama bermain di liga kelas medioker seperti China ataupun Timur Tengah, mungkin ekonomi adalah alasan utama mereka namun sebenarnya hal ini bisa menurunkan kualitas tim nasional Brasil tersebut.

         Bayangkan saja untuk bersaing di turnamen sekelas Copa America, pemain yang dipanggil adalah pemain yang bermain di China dan Timur Tengah seperti Diego Tardelli dan Everton Ribeiro? Sudah tentu Brasil gagal total!.

Jangankan untuk bersaing dengan Argentina yang diperkuat Messi, Aguero, Higuain, dan Di Maria, Uruguay yang ditopang Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Godin atau Chile dengan Alexis Sanchez dan Vidal-nya yang menjadi andalan klub-klub besar Eropa yang sudah pasti bersaing di level tertinggi sepakbola.

Bersaing dengan tim seperti Paraguay atau Mexico saja belum tentu mampu jika pemain yang diandalkan adalah pemain medioker tersebut yang hanya beredar di kompetisi rendah seperti China dan Timur Tengah.

Jurang kualitas dan mentalitas yang terlalu jauh antara pemain tim nasional Brasil (sebagian tidak bermain di kompetisi level tertinggi) dengan pemain negara lain yang bertebaran sebagai andalan di berbagai klub besar dunia tentu berpengaruh dalam hasil yang dicapai di tim nasional, dan sudah terbukti saat ini.

Brasil pun saat ini kering pemain bertalenta hebat yang mampu dijadikan andalan, setelah kemunculan Neymar mungkin tidak ada lagi pemain yang benar-benar bisa dikategorikan dan berpotensi untuk menjadi pemain world class.

Meski banyak pemain muda Brasil yang punya “potensi” seperti Neymar, namun sepertinya hal itu akan susah digapai karena tren pemain Brasil saat ini yang justru lebih mengincar uang daripada bermain di klub besar dan merasakan persaingan tertinggi di level klub.

Apalagi di Amerika Selatan, klub-klub Brasil juga dikenal paling gemar membeli pemain dari negara lain seperti Argentina, Uruguay, Chile, Colombia dan negara Latin lain. Sehingga kesempatan pemain muda Brasil pun perlahan bisa berkurang untuk bermain di negeri sendiri, Neymar baru pun sudah pasti akan semakin susah ditemukan dimasa yang akan datang jika kondisi sepakbola Brasil seperti ini terus tanpa ada perubahan.

Saatnya Brasil berbenah, hasil di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Copa America 2011, 2015 dan 2016 hendaknya menjadi “tamparan” keras kepada seluruh elemen di pesepakbolaan Brasil bahwa dengan menghilangkan ciri khas mereka sendiri justru malah menghasilkan malapetaka untuk diri mereka sendiri.

Ingat, tim seperti Barcelona atau tim nasional Spanyol tetap mampu berprestasi karena satu hal; “percaya dan tetap pada ciri khas permainan sendiri entah apapun yang tejadi, tiki-taka”.

golazo dailymail.co.uk
Brasil amburadul di Copa America Centenario 2016.

Pele pun berpendapat sembari dengan perasaan yang iba, kesal dan kecewa ketika ditanya bahwa sepakbola Brasil sedang mengalami krisis identitas.

Sang legenda pun menyerukan perubahan besar dan ingin agar Brasil kembali ke Jogo Bonito karena tidak tega melihat kondisi sepakbola Brasil yang tengah terpuruk beberapa tahun ini, padahal semua orang di dunia tahu Brasil adalah negaranya sepakbola yang telah melegenda dari generasi ke generasi.

Berbenahlah Brasil, sampai kapan kamu begini? Apakah kamu harus menunggu tragedi Maracanazo atau Mineirazo terulang lagi untuk menyadarkanmu??

Foto: Dailymail.co.uk