Gianluigi Buffon; Diantara Dependensi dan Bête Noire

Semenjak rutin berstatus kiper inti timnas Italia dari awal medio 2000an, keberadaan Gialuigi Buffon ternyata, dibarengi pula dengan situasi dimana sepakbola Italia berhenti memroduksi penjaga gawang berkualitas tinggi. Padahal sebelum Buffon awet sebagai pilihan nomor satu, timnas Italia tak pernah kekurangan kiper-kiper hebat.

Sebut saja nama-nama seperti Gianluca Pagliuca, Angelo Peruzzi dan Francesco Toldo. Pagliuca, terkenal sebagai pionir kiper yang berani menghalau bola dengan kaki ini adalah kiper utama timnas Italia di Piala Dunia 1994. Pagliuca membawa Italia sampai ke final dan kalah secara dramatis dari Brasil pada babak adu pinalti.

Nama Gianluca Paglica sebelumnya meroket pasca sukses menjuarai Serie A musim 90/91 bersama Sampdoria (titel pertama mereka). Disaat bersamaan Pagliuca diperkuat satu tim dengan pemain tenar seperti Roberto Mancini, Gianuca Vialli dan Srečko Katanec.

Setelah Pagliuaca ada nama Angelo Peruzzi, yang mempersembahkan Juventus trofi Liga Champions pada musim 1995-96. Peruzzi merupakan kiper yang diandalkan Italia dalam ajang Piala Eropa 1996 kala.

Kemudian ada Francesco Toldo yang pernah menjadi tembok tangguh buat Internazionale Milan. Toldo adalah goalie utama timnas Italia di Piala Dunia 1998, serta di Euro 2000 ketika Italia menjadi runner-up turnamen itu.

Akan tetapi, setelah kiper-kiper hebat ini menua dan pensiun dari lapangan hijau, muncul Buffon dan kemudian ia seperti tidak tersentuh lagi. Allentore timnas Italia boleh saja silih berganti mulai dari Marcello Lippi, Cesare Prandelli, Antonio Conte hingga Giampiero Ventura, namun selalu saja Gigi Buffon-lah kiper utama.

Italia, dalam beberapa rezim pelatihnya selama ini kadang punya kesan sangat bergantung pada Buffon di pos bawah mistar.

Yang menjadi pertanyaan, apa sebab Buffon selalu nomor satu di timnas? Ternyata jika melihat dinamika sepakbola Italia, eksistensi Buffon di timnas selama ini ada karena dua hal. Pertama, kualitas tinggi dan konsistensi Buffon sebagai penjaga gawang yang tidak perlu dipertanyakan lagi, serta yang kedua karena diakibatkan ketiadaan nama lain yang muncul sebagai pesaing Buffon.

Buffon and Wolrd Cup 2006
Buffon merengkuh Piala Dunia 2006, bersama generasi emas di timnas Italia.

Kiper-kiper yang keluar masuk timnas seperti Federico Marchetti, Morgan De Sanctis atau Salvatore Sirigu, tidak mampu bersaing dengan Gigi Buffon. Meski sering kali dipanggil timnas Italia, mereka silih berganti hanya menjadi cadangan “abadi” untuk Buffon. Kesempatan mereka berlaga datang andai Buffon cedera, terkena hukuman, ketika Italia hanya berjumpa tim kecil atau pada laga persahabatan.

Yang kedua, penyebabnya tak lain yakni karena minimnya klub di Serie A, terutama klub besar yang mengandalkan penjaga gawang lokal.

Kira-kira ulai dari tahun 2000 hingga satu dekade kemudian, klub-klub besar Serie A memang akrab dengan stranieri (pemain asing), termasuk untuk pos penjaga gawang. Sebut Nelson Dida (AC Milan/Brasil), Julio Cesar (Inter/Brasil), Alexandre Doni (Roma/Brasil), Fernando Muslera (Lazio/Uruguay) atau Sébastien Frey (Fiorentina/Perancis).

Tidak heran dalam rentang medio itu (terlebih setelah Francesco Toldo pensiun dari timnas pada 2004) hingga setidaknya Piala Eropa 2016 lalu, tidak ada kiper yang sanggup menggeser atau minimal setidaknya secara kualitas menyandingi Buffon di Gli Azzurri.

Alhasil para pesaing Buffon hanya Federico Marchetti atau Morgan De Sanctis. Lebih -lebih Marco Amelia, yang cuma benar-benar main reguler di Livorno dan menjadi ban serep di klub-klub lain meski masuk dalam skuad Italia di Piala Dunia 2006.

Kemunculan Salvatore Sirigu yang sejak 2011 hingga 2015 menjadi penjaga gawang andalan Paris Saint-Germain, tetap belum mampu menggoyang posisi nyaman Buffon di timnas Italia.

***

Kini seiring usia Buffon yang hampir kepala empat (39), dipastikan dia akan pensiun dari timnas Italia usai gelaran Piala Dunia 2018 nanti. Maka regenerasi kiper sudah pasti akan terjadi dan tidak akan ada nama Buffon sebagai kiper Italia di Euro 2020 kelak.

Kesempatan ini terbuka lebar, namun bukan untuk muka-muka lama macam Marchetti atau Sirigu. Melainkan untuk kiper-kiper muda potensial yang kini terhitung lumayan banyak di Italia.

Kandidat awal adalah kiper Genoa, Mattia Perin (24). Kiper berambut gondrong ini bahkan sudah masuk daftar skuad Italia di Piala Dunia 2014 Brasil. Tetapi sial, cedera parah seperti anterior cruciate ligament (ACL) telah dua kali mengahantamnya.

Pertama di akhir musim 2015-2016, dimana ia kehilangan tempat ke Piala Eropa 2016 dan kemudian cedera parah kembali pada pertengahan musim 16/17. Cedera itu membuatnya harus absen berbulan-bulan. Penampilan Perin, paling stabil muncul pada musim 2013/2014 dimana ia hanya absen sekali dalam 38 laga Genoa di Serie A. Inilah itulah membuatnya masuk skuad Italia di Brasil 2014.

Reflek yang bagus menangkal bola jarak dekat dan kepiawaian dalam mematahkan penalti menjadi kelebihan seorang Mattia Perin. Tetapi disatu sisi, rentan cedera juga menjadi handicap tersendiri bagi mantan pemain Pescara ini. Kini Perin semakin diandalkan oleh Genoa dalam misi mereka untuk selamat dari degradasi.

Calon penerus Buffo yang kedua dan tentunya paling dijagokan adalah Gianluigi Donnarumma. Pemain ini memulai debut profesional di AC Milan pada usia 16 tahun dan debut timnas Italia senior pada 18 tahun, sungguh sangat fenomenal.

Sekedar info, Buffon sendiri memulai debut profesional klub pada usia 18 tahun dan timnas usia 19 tahun. Kesamaan melesat pada usia muda inilah yang membuat media-media di Italia menyematkan Donnarumma sebagai titisan Buffon.

Young Buffon
Gianluigi Buffon, debut bersama timnas Italia di usia 19 tahun.

Sebagai gambaran kualitas, Gigio punya catatan 3,55 save perlaga ketika mentas di seluruh laga di Serie A bersama Milan musim 2016/17 yang lalu. Angka itu bahkan mengungguli Buffon yang hanya memperoleh angka 2,03 dalam 30 laga bareng Juve.

Meski harus disadari kalau angka save Donnarumma yang tinggi karena berjuang ekstra mengamankan gawang Milan yang rentan bobol musim lalu. Tetapi, bayangkan kalau bukan Donnarumma yang menjadi goalie, mungkin gawang AC Milan akan lebih sering kemasukan bola.

Selain Perin dan Donnarumma, di Italia kini berlimpah stok kiper muda lain yang berprospek cerah. Nama seorang Alex Meret ialah salah satunya. Pemain ini tentu masih asing ditelinga bagi penggemar sepakbola, maklum kiper ini hanya main di klub kecil, SPAL.

Tetapi ketika mendapat panggilan timnas senior pada jeda pertandingan internasional Maret 2017, tentu menjadi isyarat kalau dia sesungguhnya pemain berkualitas. Kalau tidak, mana mungkin Giampiero Ventura sampai rela memanggil pemain berusia 19 tahun tersebut.

Meret terlihat menjanjikan ketika menjalani masa peminjaman di SPAL. Pemian yang dimiliki oleh Udinese ini bahkan sempat digosipkan menjadi target transfer dari klub besar seperti Liverpool.

Masih ada beberapa nama lagi kandidat pengganti Buffon. Ingatkah dengan Simone Scuffet? Kiper belia yang juga dimiliki oleh Udinese ini pernah menjadi buah bibir kala tampil sensasional pada musim 2014-2015 silam.

Sayangnya beberapa kali cedera dan pergantian pelatih di Stadio Friulli, membuat pemain yang sempat menolak pinangan Atletico Madrid ini harus terima nasib “disekolahkan” ke Como musim 15/16.

Musim lalu dia harus rela menanti peluang bermain karena ada Orestis Karnezis yang menjabat kiper inti Il Zebrettte. Untungnya, untuk musim 2017/18 ini kesempatan kedua sebagai kiper utama datang bagi Scuffet, setelah Karnezis hijrah ke Watford.

Diluar nama yang sudah dibahas, ada pula Alessio Cragno (Cagliari), Pierluigi Gollini; eks akademi Manchester United yang kini di Atalanta dan juga tak boleh lupa pada kiper muda Juventus kelahiran Indonesia, Emil Audero Mulyadi. Daftar pengantre “mahkota” Buffon juga masih bisa membengkak, andai Marco Sportiello (Fiorentina) kembali menunjukkan performa yang memikat.

Keberadaan Buffon memang paradoks tersendiri bagi Italia. Disatu sisi ada sebuah dependensi, karena mereka membutuhkan sosok berkelas seperti Buffon. Italia pun tertolong dengan minimnya kemunculan kiper berkelas dunia pada awal tahun medio 2000 hingga 2010an karena masih adanya seorang Gianluigi Buffon.

Namun disisi lain Buffon justru ibarat bête noire atau sesuatu yang sangat “menggangu” bagi regenerasi kiper di tubuh timnas Italia selama ini. Sirigu, Marchetti atau De Sanctis sebenarnya punya kualitas yang tidak jelek. Jika diberi kesemempatan di timnas, barangkali kualitas mereka akan membaik.

Kini keputusan sudah dibuat dan Italia harus bersiap ketika Buffon mengucapkan salam perpisahan diakhir musim 2017/18 ini atau setidaknya pasca Piala Dunia 2018 usai. Kita tunggu saja apa yang terjadi setelah Buffon pensiun nanti. Siapakah diantara Donnarumma, Perin, Meret atau justru nama lain yang akan memegang status maha sakral: Portiere Numero Uno de Italia.

Foto daridailymail/AP/Getty dan zimbio.

*statistik dari squawka

Advertisements

Upin & Ipin dan Tsubasa; Otokritik Tayangan Bola Anak di Indonesia

Serial animasi anak-anak Upin & Ipin populer tidak hanya di tempat asalnya, Malaysia tetapi juga di negeri kita, Indonesia. Cerita dalam Upin & Ipin ini pun tidak terlalu berat, karena hanya berkutat latar kehidupan sehari-hari seperti bersekolah, beribadah ataupun anak-anak yang bermain.

Upin & Ipin mudah digemari karena cerita yang kontekstual dengan kegiatan sehari-hari anak-anak dan juga hal-hal jenaka didalamnya. Animasi garapan rumah produksi Les’ Copaque yang mulai dirilis pada 2007 ini bernuansa pedesaan dan menggunakan bahasa Melayu serta menonjolkan berbagai kebudayaan khas Malaysia.

Demi menembus pangsa Asia Tenggara dan salah satunya untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak Indonesia, dimasukkan lah karakter anak asal Jakarta, Susanti yang sering berbahasa Indoesia dan menonjolkan hal yang identik ke-Indonesia-an. Maka jadilah Upin & Ipin semakin mendapatkan tempatnya dalam benak pikiran orang, terutama anak-anak Indonesia.

Selain bahasa Melayu yang membuat Upin & Ipin ini unik dimata orang Indonesia, serial kartun ini juga tidak ketinggalan menyisipkan nilai budi pekerti dan semangat mengejar cita-cita. Padahal, hal-hal seperti itu sudah jarang dirasakan, terutama tontonan untuk anak-anak Indonesia. Tergerusnya tontonan khusus anak secara gradual beberapa tahun ini, harus menjadi catatan penting untuk kita semua. Anak-anak di Indonesia pada saat ini, sebenarya kurang tontonan berkualitas yang sarat akan nilai positif dalam membentuk karakter.

Demi mengejar rating televisi, banyak tontonan anak di Indonesia yang dikurangi serta tergantikan tontonan berkonten dewasa. Terkait dengan dunia sepakbola, serial anime anak-anak seperti Upin & Ipin pun bisa dijadikan sebagai otokritik (kritik atau refleksi diri) untuk tayangan anak-anak di Indonesia, khususnya yang bertema sepakbola.

Dalam sebuah serial season 4 pada salah satu bagian di episode “Anak Harimau” bagian pertama, ada cerita dimana karakter-karakter dalam Upin & Ipin itu heboh membicarakan tentang sepakbola, khususnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang mengena dari cerita tersebut adalah bagaimana animasi Upin & Ipin, mengkonstruksi rasa nasionalisme untuk sepakbola Malaysia (beserta kritiknya). Kemudian tayangan itu mengedukasi anak untuk bercita-cita menjadi pemain timnas Malaysia. Tak lupa di episode ditampilkan cerita lain yang berkaitan dengan hal-hal berbau sepakbola yang bertujuan menyambut event olahraga empat tahunan tersebut.

Ceritanya di episode tersebut, ketika para orang-orang dewasa bertemu di warung Paman Mutu, mereka membicarakan Piala Dunia di Afrika Selatan yang hampir dimulai. Ketika berdialog tentang siapa yang akan menjuarai Piala Dunia, Upin & Ipin kompak menyebut Malaysia. Sontak saja kelakar mereka ditertawai oleh Wak Dalang, kakeknya Upin & Ipin sendiri. Wak mengatakan bahwa timnas sepakbola Malaysia belum mampu masuk Piala Dunia, mentok hanya sampai Olimpiade saja, kata dia.

Akibat pernyataan sang kakek itu, Upin & Ipin jadi bingung dan penasaran kenapa Malaysia tidak mampu masuk Piala Dunia. Kemudian hal itu begitu terngiang dikepala mereka, hingga kemudian diceritakan begitu sampai di sekolah, yang sampai-sampai membuat heboh suasana kelas.

Apa yang Upin & Ipin dkk bicarakan lalu didengar oleh Cek Gu (guru kelas), sesaat ketika dia akan datang guna mentertibkan kelas. Cek Gu mengatakan bahwa anak-anak tak perlu kecewa karena tak dapat ke Afrika Selatan, toh bisa nonton Piala Dunia di tv tanpa harus kesana.

Kemudian Cek Gu berujar bahwa jika anak-anak tekun belajar dan bersungguh-sungguh menjadi pemain bola, mereka bisa bermain untuk timnas Malaysia suatu kelak. Anak-anak pun berteriak penuh semangat dan bergumam ingin menjadi pebola hebat kelak suatu hari nanti. Ini adalah bentuk penanaman nilai bagi penonton (anak-anak) bila mereka rajin belajar dan serius menggapai cita-cita, masa depan (sebagai pebola akan cerah dikemudian hari). Kemudian bergantilah scene ketika Upin & Ipin cs bermain sepakbola dengan kertas.

Apa yang diceritakan di Upin & Ipin pada season 4 “Anak Harimau” bagian pertama seharusnya dijadikan otokritik untuk indoktrinasi cinta sepakbola bagi anak-anak di Indonesia. Daripada Indonesia hanya tertegun akan kelucuan dan keunikan Upin & Ipin, seharusnya bangsa ini (melalui film, kartun atau animasi anak-anak) juga bisa melakukan hal yang sama untuk sepakbola Indonesia, sepeti apa yang Upin & Ipin lakukan terhadap sepakbola Malaysia; mengedukasi anak-anak dengan sepakbola sejak dini.

Dalam episode 4 “Anak Harimau” itu, anak-anak diajak oleh Upin & Ipin untuk menyadari fakta tentang ketertinggalan sepakbola mereka (sebuah kritik sosial tentunya) dan berusaha membangkitkan kecintaan akan sepakbola dengan sembari menanamkan rasa nasionalisme terhadap negaranya, Malaysia. Upaya Upin & Ipin untuk membentuk kesadaran dan kecintaan anak-anak pada sepakbola, pun ditambahi dengan menampilkan adegan anak-anak bermain sepakbola kertas di kelas akibat demam Piala Dunia.

Otokritik bagi kita adalah menyadari bahwa hal-hal semacam yang ada di Upin & Ipin episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu sudah jarang muncul di Indonesia. Sekalipun ada beberapa tontonan anak bertema “sepakbola” seperti Ronaldowati dan Si Madun. Penanaman cinta pada sepakbola yang dibalutkan nasionalisme melalui tontonan anak hampir mustahil ditemui akhir-akhir ini.

Untuk membentuk karakter generasi bangsa yang sadar jiwa nasionalisme dan cinta sepakbola, seyogyanya dimulai sejak di usia dini. Toh, patut disadari dalam membentuk kepribadian seorang anak, harus pula dimulai ketika seseorang masih kecil sehingga proses indoktrinasi lebih kuat.

Melihat kondisi terkini, tontonan bertema sepakbola untuk anak-anak sangat jarang ada. Ronaldowati dan Si Madun sudah tidak ada dan Tsubasa sudah jarang muncul di layar kaca. Itupun kalau boleh jujur, tontonan seperti Ronaldowati atau Si Madun hanya menonjolkan kesan action semata, kurang maknawi akan penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta sepakbola, seperti apa yang ditunjukkan Upin & Ipin dan juga Captain Tsubasa.

Upin & Ipin, meski adalah tontonan anak-anak yang sangat ringan, tetapi melalui tayangan dalam episode 4 “Anak Harimau” bagian pertama itu, jelas menjadi gambaran bagaimana Malaysia punya keinginan kuat membangkitkan sepakbola. Caranya? Dimuali dengan mengedukasi anak-anak agar peduli dan cinta sepakbola sekaligus negaranya dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian beralih ke anime Jepang dengan simulasi karakter Captain Tsubasa Ozora yang begitu semangat nan gigih meniti karir sepakbola setinggi langit. Hal ini juga mencerminkan besarnya semangat bangsa Jepang (seperti Tsubasa) untuk menunjukan kekuatan sepakbola mereka pada dunia.

Dalam tontonan sepakbola anak Indonesia seperti Ronaldowati dan Si Madun, sebenarnya tetap ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran penting. Namun itu tidak sebanding dan sering tertutupi dengan aksi-aksi tak logis dalam cerita (yang konon lebih penting untuk rating tv semata).

Selain terkadang valueless, Ronaldowati dan Si Madun dalam ceritanya juga lebih sering memainkan sepakbola “antar kampung” (tarkam). Berbeda dengan Tsubasa yang menampilkan gambaran kenyataan nan alami dalam sepakbola seperti; bermain di sekolah, kemudian di tingkat klub, pindah ke luar negeri, main di timnas Jepang dan masuk Piala Dunia. Tsubasa mengajarkan untuk berani bercita-cita melanglang buana ke dunia, karena sepakbola itu global.

Ketika anak-anak Jepang diinspirasi oleh “karir cemerlang” Tsubasa sebagai pebola yang mendunia, disatu sisi layakkah anak-anak di Indonesia (dalam cita-citanya menjadi pesepakbola) terinspirasi juga oleh “karir” Madun yang cuma main sepakbola antar kampung?

Bahkan (parah) sampai-sampai menyelam ke lautan dan membongkar harta karun yang tak ada kaitan dengan kenyataan dalam dunia sepakbola? Apakah mindset yang kurang berani “mengglobal” ini, juga merupakan cerminan khas pemain-pemain Indonesia yang tidak betahan dan terlihat kurang endurabilitas-nya ketika main di luar negeri?

Selain kurang luas dalam mengkesplorasi cakrawala dunia sepakola, adegan-adegan dalam cerita di dua film anak sepakbola Indonesia itu pun terlalu sering mengada-ngada dan terlalu jauh kesannya dengan “sepakbola”. Terkadang fantasi pada tontonan sepakbola anak di Indonesia berlebihan.

Bisa diperbandingkan, ketika Jepang mendidik ingatan dan semangat anak-anak terhadap sepakbola dengan tontonan perjuangan pantang menyerag ala Tsubasa yang bercita-cita main diluar negeri serta membela timnas Jepang, sedangkan Malaysia mengemas propaganda nasionalisme dan sepakbola melalui serial animasi macam Upin & Ipin untuk budak-budak (anak-anak) di negeri jiran itu, bagaimana dengan Indonesia?

Saya bukan tidak suka dengan tayangan (Ronaldowati dan Si Madun) itu, karena saya pun pernah menonton dan terhibur karenanya. Tetapi sebatas terhibur, itu saja. Tak ada nilai-nilai kehidupan yang benar-benar coba disuguhkan pada generasi muda kita, selain aksi sepakbola magis atau sihir (sangat hiperbola) saja didalamya. Pun fakta tak menyenangkannya lagi, sangat jarang ada tontonan bola anak saat ini dari stasiun-stasiun televisi Indonesia.

Gairah sepakbola Indonesia harusnya digerak-bangunkan sejak usia dini melalui tontonan sepakbola anak, untuk membentuk generasi Indonesia yang benar-benar menjiwai sepakbola plus rasa nasionalisme secara disaat yang bersamaan.

Melalui Upin & Ipin dan Captain Tsubasa, sejenak menjadi cerminan kalau bangsa ini perlu membentuk kesadaran dan kecintaan pada sepakbola dan rasa nasionalisme sejak dini melalui tontonan berkualitas. Semoga dengan menyadari antusiasme tinggi bangsa Indonesia akan sepakbola, akan segera muncul tontonan sepakbola anak yang “layak”, bagi generasi baru bangsa ini. Semoga.

Sumber foto: Republika.co.id

Sepakbola Bukan Lagi Olahraga Buruh/Pekerja?

Quote Cantona tentang Working Class
Dukungan Eric Cantona untuk working class atau golongan pekerja/buruh dalam dunia sepakbola.

Hidup kaum buruh! Kita pekikkan bersama atas diperingatinya hari buruh sedunia di setiap tanggal 1 Mei.

Sudah seyogyanya kita perduli nasib kaum buruh/pekerja, walau berkat tangan-tangan mereka ini membuat kebutuhan sehari-hari manusia bisa terpenuhi, terkadang mereka diekspoitasi terlalu dalam oleh kaum pemodal.

Banyak para buruh pun berkeluh kesah tentang apa yang mereka alami, meski tak bisa meninggalkan peraduannya itu, karena hanya dari sana mereka coba gantungkan hidup dirinya atau keluarga selama ini. Sungguh betapa malangnya mereka para buruh di negeri ini.

Saya bukan pecinta gagasan yang bermateri kekirian, atau dikatakan biasa saja. Terlebih, pun belum banyak literatur leftish yang sudah saya baca selama ini. Tetapi memang kita sering mendengar sendiri bagaimana kurang diperhatikannya hak-hak buruh/pekerja kita selama ini.

Apalagi ketika mendengar rekan yang bercerita tentang sutuasi-kondisi pekerjaan, yang kadang tak setimpal dengan beratnya beban kerja serta resiko kerja yang harus dihadapi. Setidaknya muncul rasa simpati dan ikut berempati. Toh, seperti apa yang dikatakan oleh Che Guevara “Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka engkaulah kawanku”.

***

Beribu-ribu mil yang jauh dari Indonesia, pada abad 18 lalu di Inggris raya sana, dimulailah perkembangan sebuah dimensi kehidupan yang kelak akan menyedot atensi banyak umat manusia sejagad, hal itu adalah sepakbola.

Ya, terlepas dari kontreversi siapa yang lebih dahulu menemukan sepakbola, tak bisa dipungkiri kalau sepakbola modern yang kita tonton sampai detik ini berasal dari Inggris. When football were invented in England, demikian orang Inggris dengan bangga ketika menyebut sepakbola “berasal” dari tanah meraka.

Pada masa-masa awal evolusinya, sepakbola identik dengan sebutan working class, apa itu? Bagi yang belum tahu, istilah itu adalah untuk penyebutan golongan kelas pekerja atau buruh di Inggris.

Lapisan masyarakat kelas pekerja itu mulai banyak bermunculan ketika Inggris memasuki era revolusi industri. Definisi dari revolusi industri adalah perubahan corak dari perekonomian berbasis agrikultur/pertanian menjadi pada ekonomi dengan orientasi sektor industri.

Kebetulan, revolusi industri juga dimulai abad 18, dimana sepakbola juga “ditemukan” pada sekitaran abad yang sama. Maka tidak heran, sepakbola yang awal tumbuh kembangnya hampir bersamaan dengan masa revolusi industri, pun bersinggungan dan menghasilkan interkasi budaya dengan kaum pekerja yang populasinya meningkat pesat kala itu.

Meminjam istilah khas milenial; “jadian” atau berpacarannya antara sepakbola dan kaum pekerja dahulu kala inilah, yang menghasilkan kesan bahwa sepakbola adalah olahraga yang dekat dengan kalangan pekerja/buruh.

Memang faktanya banyak klub, lapangan-lapangan bola atau stadion yang didirikan dekat dengan kawasan/kota industri. Maka tidak heran hal itulah yang menyebabkan nuansa kental akan sepakbola begitu menjangkiti wilayah industri di Inggris, seperti contohnya di Liverpool atau Manchester.

Sepakbola pun melekat sebagai olahraganya working class, karena sepakbola sangat lumrah dijadikan sebagai rekreasi atau wahana hiburan oleh kaum pekerja saat itu. Bahwa ada alasan logis dibalik kenapa pertandingan sepakbola sering dimaikan pada akhir pekan, tak lain adalah untuk menarik antusiasme para buruh yang umumnya mendapat waktu libur/rehat pada akhir pekan.

***

Dengan catatan bahwa kaum pekerja dan kelas menengah-bawah jauh lebih banyak populasinya di dalam struktrur masyarakat, maka sepakbola pun perlahan menjadi hal populer nan jamak bagi masyarakat kebanyakan. Bahkan olahraga “si pekerja” ini, gaungnya sampai menembus lapisan masyarakat menengah keatas yang ikut-ikutan pula terhipnotis akan magi olahraga ini.

Namun animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap sepakbola, disamping lebih banyak berdampak positif, ternyata menghasilkan efek negatif pula.

Hal positif adanya sepakbola, selain juga membuka banyak lapangan kerja, dapat pula menjadi perlambang identitas dan entitas harga diri sebuah daerah atau masyarakat dan bahkan kebanggan nasional. Kemudian hiburan yang sangat fantastis ini juga menghasilkan sesuatu yang begitu besar, yakni popularitas.

Sadar bahwa dengan popularitas yang tinggi, sepakbola bisa dikelola sedemikian rupa menjadi pundi-pundi penghasilan, lalu mulailah para pebisnis dengan tumpukan modalnya mengobok-obok sepakbola. Kapitalisme masuk dunia sepakbola, inilah efek buruk akibat animo tinggi masyarakat akan pada sepakbola yang sangat-sangat mudah sekali menghasilkan popularitas ditengah masyarakat.

Dengan popularitasnya, sepakbola diintip oleh para pemodal untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Toh selama sistem perekonomian dunia ini masih kapitalisme, yang dikendalikan oleh permodalan atau kapital sebagai corong utama, maka akan begini juga lah terus sepakbola.

Salah satu faktor pelicin kesuksesan bisnis adalah dengan mendompleng popularitas. Sepakbola dengan popularitasnya, menawarkan sesuatu yang amat berharga dimata para kaum pemilik modal. Meski bisnis di sepakbola tidak selalu untung dari sisi finansial, terkadang adapula yang mencari kepopuleran untuk kepentingan politik atau mungkin sekedar memperoleh pengaruh tertentu saja.

Tetapi yang aneh bahwa selama ini kekerasan akibat sepakbola lebih difokuskan menjadi sasaran kritik terhadap olahraga ini. Seperti juga bagaimana Inggris pernah “sedikit” benci olahraga ini pada tahun 80an akibat hoologanisme yang tak tertahan nan brutal.

Padahal, kapitalisme dalam sepakbola jagu harus mendapat porsi kritik yang sama, atau bahkan harusnya lebih karena kapitalisme itu sendiri telah mengencingi sepakbola, yang ironinya adalah olahraga yang “diciptakan” kaum pekerja.

Harus disadari, semakin modernnya dunia dengan kapitalisme yang menyentuh berbagai sendi kehidupan, termasuk sepakbola, maka kapitalisme telah mengubah pula esensi sepakbola itu sendiri yang pada intinya punya nilai suci sebagai olahraga buruh/pekerja atau wong cilik.

Kini sepakbola menjadi olahraga yang mahal dan tidak mudah untuk menikmatinya. Mungkin bisa melalui piranti teknologi seperti tv atau internet, tetapi jauh berbeda dan akan seribu kali lipat lebih bermakna jika menikmatinya secara langsung. Apalagi menikmati sepakbola dengan teknologi mutakhir juga terkadang harus merogoh kocek yang dalam.

Tak hanya kenikmatan menyaksikan sepakbola saja, segala hal yang berkaitan dengan sepakbola masa kini juga harus ditebus dengan nominal yang terkadang begitu tinggi bagi masyarakat golongan mengengah-kebawah, seperti kelas pekerja.

Kini untuk masuk ke stadion, bisa mengeluarkan uang mulai dari puluhan, ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah. Kalau pekerja dengan rerata gaji perbulan tak sampai satu juta, bagaimana akan melampiaskan gairah sepakbola mereka disetiap minggunya? Belum tentu setiap saat mereka bisa.

Selain menikmati sepakbola kini harus dengan “uang” yang kadang tidak sedikit, beberapa waktu yang lalu muncul pula resistensi terhadap rencana jadwal pertandingan sebuah liga tingkat kedua di Indonesia yang dimainkan tengah pekan. Demi mengakomodir pertandingan liga yang lebih tinggi kasta (yang lebih menjual), pihak pengelola pun liga memilih menggelar liga kedua itu di midweek bukan pada weekend.

Sontak reaksi negatif bermunculan dari kalangan suporter. Untuk mendukung tim kebanggan, mereka jadi terbebani karena sulit membagi waktu untuk ke stadion dan bekerja jika ada pertandingan pada tengah pekan.

Padahal, kalau melihat antusiasme suporter yang kebanyakan adalah kaum pekerja, harusnya pihak pengelola liga tetap mengkondisikan untuk pertandingan akhir pekan. Jika stadion sepi karena klub main di tengah pekan, pemasukan dari tiket stadion juga akan menipis.

Kalau sebuah klub kesulitan mendapat income akibat stadion sepi karena laga justru digelar ditengah pekan, yang kemudian berdampak juga pada tertunda atau bahkan tidak terbayarnya gaji para pemain, bagaimana? Pihak pengelola liga musti memikirkan segala hal dengan alur yang visioner dan bijak.

Untungnya kini penggemar sepakbola makin cerdas, mereka tak mudah dibohongi dan disetir. Sudah banyak dari mereka yang teredukasi.

Contohnya di Eropa, beberapa kali terjadi aksi protes dari suporter terkait kenaikan harga tiket masuk stadion. Di Indonesia, bermunculan penolakan terhadap jadwal liga yang bergulir ditengah pekan dan tidak akomodatif terhadap suporter. Ini bukti penggemar sepakbola juga sudah mulai kritis dalam berlogika hari ini.

Gerakan AMF atau Against Modern Football, telah bergema akibat salah satunya karena makin mahal saja cara untuk menikmati sepakbola ke stadion. Selain itu gerakan tersebut juga mengkritisi sepakbola saat ini yang terlalu dikekang oleh intensitas bisnis dan kapitalistik. Meski disisi lain, banyak pula muncul suara pro-kontra terhadap progresifitas gerakan ini.

Protes dan resistensi suporter atau penggemar sepakbola (yang kebanyakan pekerja atau kelas menengah kebawah), menunjukan masih ada orang-orang yang ingin menjaga “kesucian” sepakbola sebagai olahraga working class.

Begitu juga refleksi untuk pemerhati sepakbola dengan spanduk bertuliskan “Football create by poor, stolen by rich” di laga ketika sebuah klub di Tunisia menjamu Paris Saint-Germain (yang dikuasai kapital Timur Tengah). Betapa memang sepakbola yang awalnya diciptakan untuk kelas menengah-bawah kini pun dikuasai kaum elit.

Padahal disisi lain pernah muncul berita tentang betapa kurang diperhatikannya hak para pekerja-pekerja kasar dalam proyek pembangunan stadion untuk Piala Dunia di Qatar. Betapa miris, jika dahulu kala sepakbola diciptakan oleh kaum pekerja, kini justru demi apa yang dikatakan “sepakbola”, para pekerja (baca: working class) diperlakukan dengan tidak layak demi sepakbola.

***

Sepakbola kini seakan menjadi wahana pertaruhan harga diri. Apakah sepakbola masih akan menyimpan sisa kesucian sebagai olahraga untuk working class  dan menjadi arena rekreasi mereka atau akan tergerus roda kapitalisme yang menguasai dunia? Hanya waktu yang akan menjawab.

Tetapi pada akhirnya, terimakasih dan rasa hormat pantas disematkan pada buruh dan pekerja. Karena berkat mereka lah kini seluruh umat manusia bisa menikmati olahraga terindah sepanjang masa, sepakbola.

Sumber foto: relatably.com dan detik.net

 

Image

Dua Sisi Berlawanan RB Leipzig

Skuad Leipzig 2016/17
Meski punya potensi untuk bisa menandingi dominasi Muenchen, namun RB Leipzig dibenci oleh hampir seantero Jerman.

Rassen Ballsport Leipzig atau biasa disingkat RB Leipzig adalah klub asal Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita belakangan ini. Meski baru pada musim 2016-2017 ini promosi ke Bundesliga 1, tetapi pemberitaan tentang mereka sudah menjamur di berbagai media-media sepakbola.

Setidaknya ada dua hal kenapa RB Leipzig sering menjadi sorotan dalam berita sepakbola, khususnya bagi publik Jerman. Yang pertama, berbagai elemen terutama suporter klub-klub di Jerman menuding RB Leipzig telah merusak “tradisi” dalam sepakbola Jerman. Mereka dicerca karena dianggap hanya sebagai ladang bisnis dari perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull.

Dulu klub ini bernama SSV Markrandstadt. Andai saja di Jerman tidak ada aturan 50+1 menyoal kepemilikan klub sepakbola, mungkin nama mereka suah berganti Red Bull Leipzig. Yang mengingatkan kita akan klub Red Bull lain semacam; Red Bull Salzburg atau New York Red Bull yang juga dikuasai perusahan milik Dietrich Mateschitz tersebut.

Saking dalamnya intervensi bisnis mereka, bahkan tak cukup nama klub saja, nama stadion, sampai-sampai logo klub pun tidak lepas dari embel-embel dua banteng merah yang jadi ciri khas Red Bull.

Kisah RB Leipzig dimulai tatkala SSV Markrandstadt, klub divisi lima asal Leipzig, Saxony, wilayah timur Jerman dibeli oleh Red Bull. Meski RB Leipzig terhitung muda (berdiri pada 19 Mei 2009), hanya dalam kurun waktu tujuh musim, dengan cepat RB Leipzig melesat dari kasta kelima menuju pentas tertinggi Bundesliga 1.

Begitu cepatnya mereka menuai prestasi tentu tidak lepas dari uang yang digelontokan Red Bull. Sokongan mereka membantu klub merenovasi Zentralstadion dan membangun fasilitas latihan modern, selain juga uang mereka yang dimanfaatkan untuk membeli pemain.

Tetapi meroketnyaa RB Leipzig malahan dibenci oleh publik sepakbola Jerman. RB Leipzig dianggap “plastic club” yang tidak punya nilai historis dalam diri mereka dan hanya dijadikan kepentingan bisnis semata.

Fakta yang terjadi di lapangan sungguh mencerminkan tingginya kebencian terhadap RB Leipzig. Kalangan suporter lah yang paling tegas dalam menyatakan kebencian itu. Mulai dari penolakan untuk nonton langsung timnya saat awayday ke kandang Leipzig, aksi bisu 10 menit pertama saat kesebelasan idola mereka jumpa Leipzig, spanduk kecaman/caci-maki untuk Leipzig dan bahkan lemparan “kepala banteng penuh darah” oleh oknum suporter klub-klub yang sangat benci RB Leipzig.

Berbagai aksi-aksi itu mengkonfirmasi betapa besar kebencian publik Jerman terhadap Leipzig yang telah “murtad” dari nilai-nilai, kebiasaan ataupun tradisi klub Jerman pada umumnya. Tradisi di Jerman, klub adalah milik anggota (fans) dengan aturan 50+1. Aturan ini pada intinya mengatakan 51% saham klub harus dipegang oleh anggota dan sisanya kemudian bisa dimilik oleh investor dari luar klub.

Meski aturan itu tidak berlaku secara baku untuk Wolfsburg dan Leverkusen yang telah lama begitu lekat dengan perusahan otomotif VW dan perusahaan farmasi Bayer.

Aturan 50+1 secara cerdik disiasati oleh Red Bull. Meski tidak melanggar aturan itu, tetapi dengan cara yang sedemikian rupa, mereka mengakali aturan karena bertujuan untuk memegang kendali penuh terhadap RB Leipzig.

Memang secara legal Red Bull hanya punya 49% saham di RB Leipzig. Akan tetapi dari sebelas anggota klub yang ada di tubuh RB Leipzig, semuanya adalah orang-orang yang bekerja di Red Bull. Jadilah mereka pasti selalu “menganggukan kepala” dengan apapun yang kebijakan yang diinginkan oleh Red Bull didalam tubuh RB Leipzig.

Akibat ulah Red Bull ini, tentulah suara fans akan klub kesayangannya akan tereduksi atau bahkan mungkin saja hilang. Dengan kongkalikong dibelakang layar ini, tentu sulit mengharapkan ada suara anggota atau fans yang bisa berdampak secara langsung dalam tubuh kepengurusan sebuah klub. Disamping komersialisasi sepakbola oleh sebuah perusaahan, tertutupnya suara anggota atau fans untuk klubnya itu jua lah yang membuat RB Leipzig sangat dibenci.

Jurnalis asal Jerman, Christoph Biermann pun menuliskan betapa piciknya mereka mengakali aturan yang ada di media. Katanya “sulit membayangkan bagaimana secara gamblang Leipzig melanggar aturan 50+1 tersebut.” dalam majalah 11 Freunde. Red Bull dalam hal ini memang telah keluar jalur dan tidak lagi berpegang pada tradisi klub-klub Jerman selama ini.

Namun ibarat bilah pisau yang bisa “melukai”, pisau juga punya segi yang bermanfaat. Sisi buruk RB Leipzig tentu karena keberadaan Red Bull dalam klub yang merusak tradisi sepakbola Jerman dan menguasai klub hanya untuk untuk jualan minuman.

Tetapi RB Leipzi pun punya tujuan positif dan tentu hal ini baik karena Bundesliga 1 semakin berwarna, inilah hal kedua yang juga menjadikan nama tetap menjadi sorotan

RB Leipzig sering mengedepankan pemain-pemain muda didalam timnya. Mereka pun menetapkan batas usia yang tidak lebih dari 24 tahun, bagi pemain yang akan mereka beli. Dengan skuad muda itu pun mereka sanggup nangkring di papan atas klasemen Bundesliga 1.

Bahkan dikala Bayern masih linglung diawal musim ini, mereka lah yang memuncaki klasemen liga, padahal status mereka ini hanya klub promosi. Selain itu, mereka pun dari Jerman timur, wilayah yang selama ini tertinggal dari segi sepakbolanya dari Jerman bagian barat. Dengan adanya RB Leipzig, gelora sepakbola Jerman timur sedikit banyak akan kembali bergairah kembali, setelah wakil dari sana terakhir kali untuk Bundesliga 1 adalah Energie Cottbus pada 2009.

Bakat-bakat pemain muda RB Leipzig juga diakui kualitasnya. Musim ini nama-nama seperti Emil Forsberg, Timo Werner atau Naby Keita menjadi buah bibir yang dikait-kaitkan dengan berita transfer ke klub-klub besar Eropa. Mereka juga diperkuat oleh Oliver Burke, wonderkid Skotlandia yang sebelumnya memperkuat Nottingham Forest.

Keberadan tim yang dilatih Ralph Hasenhüttl ini pun semacam penyegaran. Setelah bosancuma disuguhi perlawanan Dortmund terhadap dominasi Bayern, kini keberadaan Leipzig yang menyeruak ke papan atas tentu jadi pemandangan indah bagi para pengidam liga yang kompetitif. Apalagi kalau RB Leipzig sukses juara, tentu makin serulah Bundesliga 1 nanti, terlepas dari “keburukan” yang dilabelkan kepada mereka selama ini.

Kini tinggal bagaimana kita memandang Rassen Ballsport Leipzig. Melihat klub ini bagaikan paradoks karena punya dua sisi berlawanan, ada sisi baik dan buruknya. Dari sisi negatif mereka jelas terkait erat akan kapitalisme Red Bull yang terlalu dalam. Hal positif merek yakni menjadi klub kawah candradimuka pemain muda dan tentu saja perjuangan mendongkel dominasi Bayern Muenchen untuk membuat  makin kompetitifnya liga Jerman.

Kalau sudah begini, bagaimana anda memandang RB Leipzig?

Foto: bundesligafanatic.com dan worldfootbal.net

Inilah Kylian Mbappé, Henry Baru

Kylian Mbappé melesakan gol ke gawang Willy Caballero di babak pertama, skor menjadi 1-2 untuk tim tamu AS Monaco. Meski first leg 16 besar Liga Champions (22 Februari) itu pada akhirnya dimenangkan si empunya Stadion Etihad, Manchester City dengan skor 5-3, aksi Mbappé tetap mendapat sorotan tersendiri, apalagi dia masih terhitung anak bau kencur, 18 tahun.

Kecepatan lah salah satu senjata pemain bernama lengkap Kylian Mbappé Lottin ini. Pada laga versus Manchester City itu dia mencetak gol, setelah menerima sodoran bola panjang dari tengah dan mengungguli sprint duet bek mahal Manchester City, John Stones-Nicolas Otamendi yang kalah cepat. Mbappé pun mencetak gol pada leg kedua yang berakhir denagn skor 3-1 untuk kemenangan Monaco.

Mbappé adalah fenomena terkini dari sepakbola Perancis. Dia memulai debut di Les Monéguesqes, julukan AS Monaco, pada laga Ligue 1 antara Monaco melawan Caen, 2 Desember 2015. Otomatis dia jadi pemain termuda AS Monaco yang tampil di pertandingan profesional dalam usia 16 tahun 347 hari, unggul dari legenda Perancis Thierry “Titi” Henry yang memulai debut senior di Monaco pada usia 17 tahun 14 hari.

Dia juga memecahkan rekor lain Henry dengan menjadi pencetak gol termuda AS Monaco ketika menyumbangkan satu gol melawan Troyes pada musim 2015-2016, saat itu Mbappé masih berumur 17 tahun 25 hari. Henry sendiri baru mencetak gol profesional pertamanya pada pertandingan versus Lens 1995 ketika usianya sudah 17 tahun 245 hari.

Belum cukup, pemain yang lahir di Bondy, wilayah dekat Paris pada tanggal 20 Desember 1998 ini, juga mencuri perhatian berkat mencetak hat-trick pertamanya pada laga 16 besar Coupe de Ligue saat melawan Rennes. Laga pada 14 Desember 2016 itu berakhir manis 7-0 untuk Monaco. Dia adalah kreator hat-trick termuda AS Monaco dalam sejarah dan pemain pertama yang mencetak tiga gol dalam satu laga untuk AS Monaco, sejak terkahir kali hal itu dilakukan Sonny Anderson, tahun 1997.

Masih kurang, Mbappé kembali mencetak trigol kedua sepanjang karirnya ketika Monaco menjamu Metz di Stade Louis II dalam lanjutan Liga Perancis. Pertandingan yang digelar pada 11 Februari 2017 ini menjadi saksi calon striker hebat dunia itu menunjukkan kebolehannya. Selain mencetak tiga gol, dia juga bikin 1 asssit di laga tersebut. Situs Whoscored.com pun memberi memberi nilai 10 untuk penampilan fantastisnya di laga tersebut. Kylian Mbappé pun kini sudah masuk skuad senior Perancis.

Munculnya talenta brilian Kylian Mbappé buat raksasa Spanyol, Real Madrid kepincut. Banyak media merumorkan Madrid sudah melakukan pendekatan dan akan merekrut dia pada akhir musim nanti. Hal ini mengingatkan kita pada usaha El Real dahulu ketika akan mencomot striker muda AS Monaco pada 1996, siapa lagi kalau itu bukan Thierry Henry.

Namun upaya Real Madrid kala itu gagal, mereka mencoba jalin perjanjian pra-kontrak dengan Henry, yang waktu itu dia belum mendapat kontrak profesional karena belum berusia 18 tahun. Henry tetap di Monaco, karena ternyata Madrid mendekati Henry justru melalui agen pemain yang belum resmi terdaftar di FIFA, sehingga perjanjian tersebut batal.

Kembali ke Mbappé, jika mampu menjaga kestabilan performa bukan tidak mungkin kedepannya dia benar-benar menjadi Henry baru. Asal berada ditangan yang tepat dan menemukan tempat yang sesuai, Mbappé akan melesat tajam. Sewajarnya pengalaman Henry berikut ini bisa dijadikan referensi berharga bagi dirinya.

Dulu ketika sedang menanjak bersama Monaco dan tim senior Perancis, Henry menerima pinangan Juventus pada 1999. Tapi sayangnya, Henry gagal bersinar karena tidak mampu menghadapi betapa ketat dan disiplinya bek-bek di Italia. Karakter permainan Henry yang stylish justru buatnya tidak mampu berbuat banyak di negeri sepakbola Catenaccio itu.

Malahan mantan pasangan duetnya di Monaco, David Trezeguet yang lebih cocok dalam skema Juventus dan gaya sepakbola Italia. Tidak lain dan tidak bukan, Trezeguet adalah tipe striker penunggu yang oportunistik di depan gawang, seperti gaya striker Italia pada umumya kala itu macam Inzaghi atau Vieri. Adapun Trezeguet baru pindah ke Juve pada 2000, untuk menggantikan Henry yang pergi ke Arsenal pada 1999.

Henry yang gagal di Juve lalu bereuni dengan orang yang telah mengorbitkannya di AS Monaco, Arsene Wenger, namun kali ini di klub Inggris, Arsenal. Henry yang sebelum-sebelumnya adalah winger, oleh Arsene Wenger digeser menjadi penyerang tengah ketika di Arsenal.

Pergeseran posisi itu berbuah sejarah dalam dunia sepakbola, khususnya bagi Premier League dan timnas Les Blues karena Henry bertransformasi jadi striker tajam haus gol. Henry pun hingga kini dikenal sebagai salah satu striker tajam dan salah satu yang terhebat di dunia (catatan 360 gol di semua klub yang pernah ia singgahi) beserta deretan trofi yang ia raih semasa bermain.

Jika ingin menjadi bintang hebat di masa depan, Kylian Mbappé wajib belajar pula dari karir Thierry Henry. Jangan sampai salah pilih klub kedepannya, karena itu sangat vital bagi jalan masa depan pemain yang bersangkutan itu sendiri. Dan juga harus berada di bawah asuhan pelatih yang tepat.

Untung saja, Mbappé kini ditangani pelatih asal Portugal, Leonardo Jardim. Orang ini memang doyan pakai tenaga muda dalam skuadnya. Lihat saja, musim ini pun Monaco pun dipenuhi bakat-bakat muda macam Bernardo Silva, Fabinho, Djibril Sidibé, Benjamin Mendy, Gabriel Boschilla atau Jemerson.

Melejitnya Mbappé juga seolah pertanda, bahwa Monaco memang pintar memoles striker muda. Selain Henry atau Trezeguet, ada pula nama-nama besar seperti George Weah, Ludovic Giuly, Jeremy Menez, dan juga Anthony Martial yang mempesona setelah bergabung dengan Monaco.

Beberapa waktu lalu tidak lupa Arsene Wenger, orang yang menyulap Henry hingga jadi “orang besar”, juga menyampaikan sesuatu perihal Mbappé. Katanya “Dia mirip seperti Henry, punya talenta besar, bermain di Monaco juga seperti Henry” kata bos The Gunners itu, dikutip dari express.co.uk terbitan 3 Februari 2017. Sanjungan yang berakhir dengan pindahnya Mbappé ke Arsenal? Mari kita tunggu.

Dengan karir melesat sejak muda bersama AS Monaco dan memecahkan rekor-rekor Thierry Henry, Mbappé kini dianggap akan menjadi titisannya Henry dimasa depan. Hal lain yang membuat dia layak dinarasikan bagai titisan Henry, tidak lain karena dia tidak hanya bisa bermain di satu posisi. Kalau Henry mahir bermain sebagai winger kiri dan striker tengah, Mbappé malahan lebih baik karena bisa mengisi semua pos lini depan.

Terakhir, Thierry Henry sendiri mengakui bakat yang ada pada memang Mbappé begitu besar. Lalu Mbappé perlu belajar dari pengalaman yang terjadi pada Henry, jangan sampai salah pilih klub dan harus berada dibawah naungan pelatih yang tepat, agar peristiwa seperti Henry yang Juventus tidak terulang. Dan kini waktu pun akan menjawab, apakah Mbappé akan bersinar terang seperti Thierry Henry sediakala.

Sumber foto: metro.co.uk

*Statistik angka dari Opta

Paradoks Saint Totteringham’s Day

Di babak 16 besar Liga Champions, Bayern München menghadapi Arsenal. Sudah ditebak, Meriam London kembali melempem sumbunya ketika bersua The Bavarian di panggung Eropa. Kali ini dengan agregat telak 10-2, meski Arsenal gugur di 16 besar adalah pemandangan yang sebenarnya tak aneh dalam beberapa tahun terkahir.

Rival sekota mereka, Tottenham Hotspurs juga terjungkal dihadapan klub Belgia, KAA Gent dengan agregat 1-2. Bedanya Spurs melakoni laga itu di babak 32-besar Liga Europa, kasta Eropa yang lebih rendah.

Bagi setiap elemen yang ada di Arsenal, pasti sangat berat hati apabila melihat klub-klub pesaing berat, finis lebih tinggi dari mereka di setiap akhir musim atau melangkah lebih jauh di sebuah cup competitions.

Apalagi jika posisi rival satu kota seperti Chelsea atau terlebih-lebih Tottenham, yang lebih tinggi dari Arsenal di akhir sebuah musim Liga Inggris atau melaju lebih jauh di gelaran turnamen. Tapi musim ini Arsenal terseok-seok masuk empat besar, sedangkan Tottenham sangat stabil aman di zona tersebut.

Khusus terhadap sesama klub London Utara, Tottenham Hotspurs, Arsenal selalu finis diatas mereka sejak 1994/95 hingga musim 2015/16 lalu. Sudah dua dekade ini mereka selalu lebih superior terhadap tetangga terdekatnya tersebut hingga melahirkan istilah unik, Saint Totteringham’s Day.

Saint Totteringham’s Day adalah hari dimana pendukung Arsenal atau yang biasa disebut Gooners, bersuka cita mana kala tau bahwa tim idola mereka dipastikan finis diatas Spurs. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh situs Arseneweb.com pada 2002.

Musim lalu Saint Totteringham’s Day sangatlah epik. Di gameweek terkahir, Tottenham dilumat 5-1 oleh Newcastle sedangkan disisi lain Arsenal menang 4-0 atas Aston Villa.

Arsenal yang hampir selalu dibawah Tottenham (terutama paruh kedua musim lalu), secara dramatis mendahului Tottenham pada pekan terkahir tersebut. Meski gagal juara dan hanya nangkring di posisi dua, hasil itu setidaknya masih menyisakan senyum di bibir para pendukung setia Arsenal.

Tidak hanya suporter, dari pemain hingga mantan pemain Arsenal juga tidak luput ikut merayakan Saint Totteringham’s Day lewat sosial media musim lalu itu. Saint Totteringham’s Day sendiri biasa diperingati Mei atau April, waktu dimana kompetisi biasanya mendekati pekan-pekan akhir.

Tapi itu hal yang paradoks, Saint Totteringham’s Day ibarat “prestasi” namun disaat bersamaan juga tak berarti apa-apa, rasanya semu sekali. Lagian, semisal mengungguli Tottenham di Premier League, itu tidak berarti spesial. Toh selama ini Tottenham juga tidak pernah juara Liga Inggris sejak 1961. Ya, kan?

Arsenal sendiri, terakhir juara yakni musim 2003/2004, dimana saat itu Arsenal masih jadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Inggris. Selanjutnya, tak pernah ada lagi kapten Arsenal yang angkat trofi liga diakhir tiap musim sampai saat ini.

Okelah, mungkin berkilah Arsenal terlalu sering menjual pemain bintang, yang dijadikan kambing hitam surutnya prestasi Arsenal. Hal ini karena kebutuhan uang untuk mengimbangi hutang pembangunan stadion. Tetapi itu sudah berlalu, pembangunan stadion sudah selesai sejak lama dan keuangan klub sudah membaik.

Saat ini bahkan Arsenal bukan lagi klub penjual, melainkan pembeli pemain-pemain bintang harga mahal. Mesut Özil dibeli seharga 42 juta poundsterling dari Real Madrid pada 2013, Alexis Sanchez diboyong dari Barcelona musim 2014-2015 dengan banderol 31 juta pounds.

Musim ini Arsenal juga royal membelanjakan dana di bursa transfer. Total, perekrutan Granit Xhaka, Skhodran Mustafi dan Lucas Perez menghabiskan kas Arsenal sebanyak 82 juta poundsterling. Disamping itu, kualitas skuad makin mengkilap dengan munculnya pemain muda seperti Alex Iwobi dan semakin matangnya Hector Bellerin atau Aaron Ramsey.

Kalau begitu muncul pertanyaan, kenapa dengan skuad yang sudah bagus, Arsenal tetap begini-begini saja? Lalu apa? Banyak yang mengatakan, Arsenal bermain indah dan sedap dipandang mata, tetapi lemah dari agresifitas dan kurang punya mentalitas yang kuat.

Soal gaya permainan, Arsenal mengandalkan umpan pendek dan kombinasi satu-dua guna membongkar pertahanan lawan. Sekilas menyerupai ticqui-taka, namun karena bermain di Inggris, Arsenal wajib memiliki gelandang bertahan yang “kejam” seperti Patrick Vieira.

Permainan keras khas seperti Vieira tentu dibutuhkan guna melindungi lini tengah dan belakang, terutama dari serangan balik yang rentan menghantui tim seperti Arsenal, yang gemar menguasai bola dan terapkan garis pertahanan tinggi.

Vieira tidak hanya garang dalam menghentikan serangan atau jago merebut bola, namun juga lihai mengalirkan bola kedepan, sehingga tetap cocok dengan The Arsenal Way yang memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki. Dia punya agresifitas baik ketika bertahan atau juga saat menyerang.

Di skuad musim ini ada Francis Coquelin, Granit Xhaka dan Mohammed Elneny yang bisa berperan sebagai gelandang jangkar. Antara ketiga pemain ini, berdasar data situs whoscored.com, Coquelin dari 21 kali tampil di Premier League, dia menonjol dari sisi defensif dengan rerata 2,9 tekel sukses dan 2,3 intersep di setiap laga.

Coquelin pun tidak buruk dalam mengoper bola karena punya catatan akurasi 88%. Sedangkan angka untuk Xhaka yaitu catatan 2,7 tekel, 1,7 intersep, akurasi umpan 89,4 %. Lalu Elneny punya 1,5 tekel, 0,5 intersep dan pass succes percentage 92,6 perlaga.

Bahkan menurut Squawka, Coquelin punya jumlah umpan sukses sebanyak 298 kali di final-third area atau area dalam pertahanan lawan, angka tersebut lebih unggul dari gelandang top dunia semacam Toni Kroos atau Marco Verratti sekalipun.

Coquelin tinggal mengasah teknik agar lebih komplit dan menjaga kebugaran, karena dia seringkali terlilit cedera yang tentu akan menyulitkan kinerja lini tengah Arsenal bila dia tidak bermain. Bermain keras pun harus dia praktekan, agar semakin mendekati atribut yang dimiliki Patrick Vieira.

Selain urusan agresifitas, hal penting lain yang juga dibutuhkan oleh pasukan Arsene Wenger yaitu pemain dengan aura kepemimpinan berkarisma juara. Pemimpin yang karismatik, besar kemungkinan mampu memotivasi dan mengangkat mental rekan-rekannya, terutama di saat-saat genting atau dalam pertandingan besar.

Sepeninggal Vieira atau Henry, belum ada lagi kapten Arsenal yang melebihi atau bahkan sekedar menyamai aura karismatik duo Perancis ini. Maka dari itulah, Arsenal sering melempem di situasi-situasi penting atau di laga bertensi besar akibat kurangnya pemain-pemain berkaratker juara dan bermental baja.

Kapten saat ini, Laurent Koscielny memang tidak punya aura besar seperi Henry dan Vieira. Namun gaya main yang anti kompromi dalam menghalau bola atau menjegal pemain, menjadi gambaran kepada lawan bahwa Arsenal masih punya nyali yang kuat dalam bertanding, meski levelnya belum seperti zaman The Invicible sedia kala.

Pemain seperti Vieira memang dibutuhkan, karakter permainannya penting sebagai pelindung lini tengah yang bisa melapis lini belakang, selain juga jiwa kepemimpinan tinggi yang sangat dibutuhkan di tim seperti Arsenal.

Dengan skuad yang penuh kualiatas teknik seperti sekarang ini, andai ditambah keberadaan holding midfielder tangguh serta adanya pemimpin berkarakter, mungkin Arsenal bisa melaju lebih dari yang saat ini.

Contoh tersaji pada leg pertama kemarin lawan Bayern, ketika Laurent Koscielny ditarik diawal babak kedua akibat cedera, pertahanan Arsenal langsung kelimpungan. Gabriel mudah sekali dieksploitasi Lewandowski dan Thiago Alcantara. Ditambah, duet Coquelin-Xhaka kurang begitu baik melapisi pertahanan.

Agresifitas menyerang juga sangat kurang, saking menggelikannya, bahkan umpan yang dibuat oleh playmaker seperti Mesut Özil tidak lebih banyak dari apa yang dibuat kiper lawan, Manuel Neuer. Özil hanya buat 24 umpan, angka yang sama dengan yang Neuer buat.

Keluarnya kapten Koscielny juga barangkali ikut sedikit banyak mereduksi kekuatan mental pemain Arsenal di laga super penting tersebut. Terlebih lagi ban kapten justru dililitkan ke Kieran Gibbs, yang jangankan jadi panutan pemain lain akan karisma darinya, rutin bermain pun jarang ia dapati musim ini.

Arsenal jelas membawa misi hampir mustahil lolos 16 besar Liga Champions 2016/2017 kali ini. Di liga juga sama, inkonsistensi Wenger Boys di setiap pekan makin menjauhkan mereka dari Chelsea, plus persaingan peringat dua hingga enam juga sangat ketat musim ini.

Di percaturan liga Inggris musim ini, Arsenal sebenarnya sudah menunjukan mental lebih baik ketika partai besar, namun sering tiba-tiba terjungkal seperti kalah 1-2 dari Watford di Emirates Stadium. Hal semacam inilah yang menjadi duri kenapa Arsenal gagal juara musim lalu dan tetap kesulitan bersaing di Premier League musim ini.

Flash back musim lalu, disaat klub-klub besar lain loyo seharusnya kesempatan Arsenal juara terbuka lebar, namun apa daya Arsenal justru ikut-ikutan lembek dan gelar juara pun diserobot Leicester City. Setali tiga uang di Liga Champions, mereka dilumat Barcelona, juga di babak 16 besar yang memang kramat bagi Arsenal beberapa tahun ini.

Musim ini Arsenal harus selalu solid, karena klub besar lain juga menunjukkan perbaikan demi perbaikan. Seharusnya dengan skuad yang sudah bagus kali ini, Arsenal mampu berbuat sesuatu yang lebih daripada musim-musim sebelumnya, setidaknya di Premier League, jika asa untuk mengalahkan Bayern memang sudah sirna.

Saint Totteringham’s Day. Berpesta karena lebih hebat dari arch-rival, namun sang rival itu sendiri sebenarnya bukan klub yang benar-benar hebat, paradoks. Kalau Madrid berpesta karena unggul dari Barcelona, itu wajar, karena baik itu Barca atau Madrid selalu bersaing mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia.

Lagipula inikan Tottenham? Trofi terakhir kali yang didapatkan tim ini pun sekedar League Cup 2007-2008, yang bahkan tak lebih bergengsi dari trofi FA Cup, yang Arsenal raih 2014-2015 lalu.

Sah-sah saja musim ini tradisi Saint Totteringham’s Day bisa tetap diwujudkan, tetapi sungguh semu sekali rasa jika bisa menunjukan superioritas dari Tottenham, namun tetap saja Arsenal tidak mampu untuk jadi juara Inggris, apalagi Liga Champions. Ditambah musim ini, bisa jadi puncak saga dari pertanyaan besar, apakah Wenger akan bertahan atau angkat kaki dari Arsenal? Hanya waktulah yang akan menjawabnya.

Foto; independet.co.uk

 

Image

Wayne Rooney; Rekor, Kehampaan dan Berkurangnya Loyalitas Sepakbola Kini

Bagi pendukung Manchester United, nama Wayne Rooney sudah tentu masuk daftar idola yang dielu-elukan. Pemain kelahiran Liverpool, 24 Oktober 1985 ini juga menyandang status kapten klub sejak beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di United, Rooney juga masih didaulat sebagai kapten tim nasional Inggris hingga kini.

Terkait Rooney, sudah pasti kalau ban kapten yang melingkar di lengannya adalah bukti bahwa dia, bukan pemain sembarangan. Rekor dari catatan gol fantastis sukses dia bukukan baik itu bersama Manchester United atau pun The Three Lions.

Gol penyama kedudukan di menit-menit akhir ke gawang Stoke City, 21 Januari lalu tak hanya menyelamatkan timnya dari kekalahan, namun sekaligus menjadikan Rooney sebagai top skor sepanjang masa Manchester United dengan 250 gol.

Golnya itu sudah cukup untuk melampaui 249 gol milik legenda Sir Bobby Charlton. Di timnas Inggris idem ditto, jumlah 53 gol miliknya adalah yang tertinggi dari semua pemain yang pernah bermain bagi skuad The Three Lions.

Dia sendiri sudah mulai sering menjadi andalan MU dan Inggris sejak tahun 2004. Kenapa Rooney mencetak gol yang banyak, hal ini tidak lepas dari posisinya sebagai penyerang utama Manchester United dan Inggris dalam satu dekade terkahir. Lain daripada itu, memecahkan rekor gol terbanyak di klub sekelas MU dan timnas seperti Inggris bukanlah perkara yang setiap pemain bisa lakukan.

Ditambah banyak gelar yang ia raih bersama klubnya seperti Liga Champions, Premier League atau FA Cup, maka dari itu bisalah kita sebut bahwa Wayne Rooney, sudah pantas dikatakan sebagai “legenda”, walau belum pensiun. Meski ditataran negaranya sendiri, dia belum memberi gelar apa-apa untuk The Jack Union, julukan timnas Inggris.

Pujian mengalir deras tidak hanya dari orang yang terkait dengan Manchester United, bahkan dari Jack Wilshere, pemain Arsenal yang kini dipinjam Bournemouth itu menyampaikan selamat atas rekor Rooney melalui sosial media Instagram. Pecahnya rekor yang telah lama dipegang legenda Bobby Charlton oleh kapten Rooney, tentu menjadi suka cita tersendiri bagi fans MU dimanapun mereka berada.

Namun, disisi lain walau ada rekor baru yang tercipta, justru sebenarnya hal itu datang di waktu yang kurang tepat. Rooney tengah disorot karena performa inkonsisten yang ia sajikan beberapa tahun terakhir. Sehingga meski rekor baru ini tercipta, ada sedikit kehampaan akibat performa Rooney yang tidak stabil, khususnya dalam hal mencetak gol, apalagi standar kehebatan striker dilihat dari kemampuannya menjebol jala lawan.

Performa labil Rooney dalam mencetak gol bisa dilihat dari statistik, yang berdasarkan situs whoscored.com, Rooney di Premier League hanya mengemas masing-masing 12 dan 8 gol di dua musim terakhir. Musim ini pun dia baru dua kali menjebol gawang tim lawan di Premier League, termasuk gol ke gawang Stoke.

Penurunan ketajaman Rooney, mungkin sedikit dipengaruhi pergeseran posisi yang lebih kebelakang. Terlebih dua musim sebelum ini, ketika Van Gaal menduduki kursi pelatih United, Rooney seringkali ditarik kedalam. Tidak cuma menjadi gelandang serang atau gelandang tengah, bahkan hingga gelandang bertahan pernah diperankan oleh pemain dengan panggilan Wazza ini.

Apakah merosotnya Rooney memang benar akibat ulah Van Gaal yang menjadikannya gelandang atau memang dia sendiri sudah mengalami penurunan performa? Karena sering menjadi gelandang, bahkan hingga berposisi yang sangat defensif tentu akan mengurangi insting ketajaman Rooney merobek gawang lawan.

Tetapi statistik menjadi bukti, Rooney tidak menurun, hanya performa dia menyesuaikan dengan posisi yang ia emban ketika di lapangan. Kalau parameter yang dipakai yaitu performa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Ketika sering menjadi gelandang (dua tahun era Van Gaal), Rooney punya presentase akurasi umpan 83,9% dan tekel 1,05 perlaga. Rooney juga punya catatan stabil 5 dan 6 dalam hal assist di dua musim terkahir ini di Premier League.

Bisa dibilang kualitas Rooney belum habis, hanya dia menyesuaikan performa sesuai dengan posisi yang dijalani. Jika ia masih dipercaya menjadi juru gedor utama, barangkali merayakan rekor sebagai all-time goalscorer untuk Manchester United akan terasa lebih spesial bagi dirinya, apabila dia tetap konsisten tajam dalam mencetak gol.

Pencapaian hebat Rooney juga menjadi pertanda berakhirnya era pemain besi Premier League. Dalam bahasa penulis, besi adalah suatu yang bisa awet dan bertahan lama. Maka diibaratkan “pemain besi” itu adalah dia yang bertahan lama di sebuah klub, tak lain karena loyalitas yang tinggi. Steven Gerrard yang pergi dari Liverpool atau Frank Lampard yang merantau keluar dari Chelsea, beberapa contoh pemain besi yang sudah pergi dari Premier League.

Lampard, Gerrard atau Rooney disamping menjadi ikon Premier League medio 2000an, mereka juga menjadi perlambang kesetiaan pemain terhadap klubnya. Hal inilah yang semakin susah dicari di zaman ini. Sepakbola yang sudah tidak ada bedanya dengan ajang cari uang saja, membuat loyalitas pemain dipertanyakan. Semakin sulit mencari pemain hebat dengan loyalitas tinggi belakangan ini. John Terry yang sudah melekat sebagai salah satu ikon The Blues pun akan meninggalkan Chelsea musim panas 2017 ini.

Loyalitas pemain bintang bisa tergadaikan apabila ada uang yang menjadi iming-iming. Terlebih adanya Tiongkok, yang berani jor-joran mengeluarkan uang. Pergi ke Tiongkok pun kini seakan sudah mulai menjadi tren pemain-pemain dari liga-liga besar di Eropa.

Masih betahnya Rooney di Teathre of Dreams, setidaknya hingga kini patut diapresiasi. Meski Rooney sedang tidak bagus, menuju senja karir dan di kritik habis-habisan, dia tetap mampu mengkir rekor hebat. Lalu dia pun menjadi lambang loyalitas pemain bintang, yang kini seakan sudah jadi barang langka.

Setidaknya masih ada nama besar seperti Rooney ditambah Michael Carrick di MU dan John Terry (Chelsea) musim ini, dapat menunjukkan sepakbola tidak selamanya bisa dimainkan uang, masih ada rasa kesetiaan tinggi, khususnya di Premier League. Jika pemain-pemain ini tidak loyal, barangkali mereka sudah hijrah ke China dengan gaji yang berlipat-lipat dari yang mereka dapat di Inggris.

Itulah sedikit tentang Rooney, andai dia sedang ganas-ganasnya mencetak gol, mungkin terciptanya rekor gol terbanyak di Manchester United akan terasa lebih indah. Namun meski ada sedikit kehampaan dari rekor tersebut, menuanya Rooney bisa jadi menjadi pertanda pamungkas, akan berkahirnya sebuah era “pemain besi” di Premier League.

Foto dari The Guardian

*Statistik angka dari Opta

 

Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

Müller vs Dante

Pemain-pemain Bayern München memang sedang dalam top performa pada musim 2012/2013. Thomas Müller, yang merupakan pemain asli didikan München ini termasuk yang berperan besar pada musim penuh sukses tersebut.

Pemain yang dianggap lembek oleh legenda Argnetina,Diego Maradona ini mencetak banyak gol, assist dan memotori permainan The Bavarian. Selain itu Müller juga multifungsi, bisa menjadi penyerang utama, sayap kanan, dan juga gelandang serang, versatilitas Müller itu sangat menguntungkan bagi peracik strategi Bayern kala itu Jupp Heynckes,

Müller tergolong cepat meledak bersama timnas Jerman di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Itu adalah turnamen debutnya di timnas senior dan Muller menjadi top skor di event tersebut dengan lima gol, ditambah dia pula yang dinobatkan pemain muda terbaik di ajang empat tahunan tersebut.

Setelah itu, dia menjadi andalan Jerman dan masih menjadi andalan hingga Piala Dunia 2014 Brasil kemarin, dimana Jerman keluar sebagai juara.

Kembali pada musim 2012-2103, München membeli Dante Bonfim dari Borussia Moenchengladbach. Dante adalah bek asal Brasil yang penampilan yang solidnya menjaga lini belakang Gladbach, membuat München membelinya kala itu

di musim pertamanya itu, Dante langsung jadi bek tengah utama dan ikut berperan besar terhadap treble winners yang dicapai musim tersebut (juara di Liga Champions, Bundesliga dan DFB Pokal). Kini Dante telah pindah dari München sejak awal musim 2015-2014, berlabuh ke VFL Wolfsburg dan sekarang (musim 2016-2017) bermain di OGC Nice, klub Ligue 1 Perancis.

Penampilan impresif bersama Bayern München, membawanya perkuat skuad timnas Brasil. Tetapi meski solid menjaga lini belakang München, tidak membuat Dante menjadi pemain inti karena Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil kala itu lebih menyukai duet Thiago Silva-David Luiz untuk tim Samba. Dante pun termasuk nama pemain yang ada di daftar skuad timnas Brasil untuk Piala Dunia 2014.

Bicara tentang Müller dan Dante, teringat sepenggal kisah unik diantara dua orang  yang pernah bahu-membahu dalam satu tim ini. Kisah tersebut muncul setelah Piala Dunia 2014 Brasil digelar dan Jerman keluar sebagai juara. Berikut kronologi kisah Müller dan Dante yang terjadi pasca turnamen besar tersebut.

World Cup 2014 Brazil, menyisakan cerita yang pedih bagi rakyat Brasil. Harapan juara meninggi seiring ajang 4 tahunan itu digelar di tanah sendiri, rekor pun tercipta. Tetapi rekor yang dimaksud bukanlah yang membanggakan, justru sangat memalukan.

Kalah dengan skor 1-7 dari Jerman sangat menyedihkan bagi Brasil. Pertandingan itu menjadi rekor sebagai semifinal dengan gol terbanyak sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia.

Hasil pertandingan itu ibarat obituari (berita kematian) secara umum di Brasil, meski sudah dua tahun berlalu sepertinya akan jadi kenangan yang begitu lama diingat. Saking pahitnya, bahkan konon di tanah Brasil sana sangat tabu untuk berkata “1-7, 7-1” atau juga mengulik-ngulik lagi peristiwa semifinal tersebut.

Tidak hanya di bumi Brasil saja, sepertinya membicarakan semifinal tersebut dengan orang Brasil dimanapun mereka berada, juga akan melukai hati mereka.

Meski kadang bertujuan sebagai bahan candaan, terkadang hal itu sangat menyentil apalagi terhadap pemain Brasil itu sendiri yang tergabung dalam skuad Piala Dunia 2014 lalu.

Kejadian ini rupanya ada di kubu klub asal Jerman, Bayern München. Sempat tersiar kabar bahwa terjadi ketidakharmonisan ruang ganti Bayern München akibat Thomas Müller sering menggunakan peristiwa “1-7” sebagai joke, bahan candaan.

Sudah tentu yang jadi sangat jengkel akibat ulah Müller adalah Dante Bonfim, mantan bek München yang juga pernah menjadi bek tengah timnas Brasil tersebut.

Kebetulan Dante yang berduet dengan David Luiz di semifinal itu karena Thiago Silva tidak bisa bermain. Dibentengi oleh Dante dan David Luiz, Brasil justru dipermak habis oleh Jerman dengan skor 1-7 kala itu.

Disini Müller yang berperan besar, dirinya memang sosok yang humoris dan menjadi pelawak di ruang ganti dan tentu lawakan dia diterima mayoritas pemain München. Kekalahan terburuk Brasil tersebut sering menjadi bahan lelucon oleh pemain-pemain München yang mayoritas pemain timnas Jerman. Padahal di klub itu ada dua orang Brasil, Dante dan Rafinha.

Entah mungkin hanya bercanda atau memang berniat mengejek, Müller sering berkelakar dengan topik “1-7” ketika sedang berada di ruang ganti pemain. Hal ini membuat Dante, bek tengah yang sangat rapuh kala semifinal itu begitu naik darahnya akibat guyonan Müller.

Pada musim 2014/2015 atau musim setelah Piala Dunia di Brasil, Dante pernah berujar ke media-media bahwa. Kata dia, ada masanya seseorang tidak suka dengan topik candaan yang selalu sama, apalagi bisa membuat sakit hati pihak lain.  Dante pun sempat berkeinginan menjotos Müller, jika ia tidak berhenti dan mengganti topik “1-7” dengan topik bercandaan lain.

Tetapi pada waktu itu jelas saja ruang ganti Munchen santai menanggapi joke dari Thomas Müller. Selain banyak punggawa timnas Jerman disana, Müller memang dikenal orang yang humoris sejak dahulu kala. Jadi pemain-pemain di München dan juga timnas Jerman sudah tahu akan karakter Müller itu.

Namun namanya juga manusia, wajar Dante berhak untuk marah. Secara tidak langsung dia yang menjadi “korban” utama bullying Müller, karena dia sendiri yang menjadi bek pada semifinal Piala Dunia yang paling memalukan bagi Brasil tersebut.

Kabar tidak harmonis tersebut pasti membuat  ruang ganti sedikit terganggu dan benar saja akhirnya pada musim setelah Piala Dunia tersebut (2014/2015), München hanya memperoleh satu gelar juara, yakni Bundesliga. Dante pada akhir musim itu pindah ke Wolfsburg, yang dimungkinkan juga karena hal efek lelucon “1-7” tersebut ditambah media-media Jerman yang sering mempertanyakan performa buruknya di semifinal Piala Dunia 2014 tersebut.

Dante pernah mengatakan seseorang bisa saja “meledak” jika tidak senang dengan lelucon yang diarahkan kepadanya. Meski tidak senang dengan Müller, Dante mengaku ucapan itu hanya sebatas dimulut saja dan tetap menganggap Müller, mantan rekannya di Munchen itu sebagai teman.

Terkadang kita bergurau untuk orang lain, tetapi justru orang tersebut menganggap itu serius. Sebaliknya, terkadang maksud serius kita dianggap sebagai bercandaan oleh orang lain.

Dante mencontohkan perilaku terpuji dengan tetap menganggap Muller sebagai teman, meski pernah menyakiti hatinya akibat lelucon yang Müller lontarkan. Mungkin bagi Dante, prinsip satu musuh sudah terlalu banyak namun 1000 teman terlalu sedikit berlaku bagi dirinya.

Foto dari metro.co.uk