“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Advertisements

Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

“Kultur Sepakbola” (Part-1)

Kemajuan sebuah negara dalam hal ekonomi ternyata berdampak positif dalam banyak sisi kehidupan di sebuah negara tersebut. Dengan mantapnya laju ekonomi, maka masyarakat didalamnya bisa hidup dalam kesejahteraan dan terkecuali dalam hal sepakbola.

Dengan kekuatan ekonomi yang bagus, infrastruktur sepakbola bisa dibangun menyesuaikan kemajuan zaman serta pola pendidikan dan pelatihan yang ditunjang kecanggihan teknologi masa kini. Kita bisa lihat, kemajuan negara-negara Eropa mampu membuat sepakbola yang mereka kembangkan menjadi sepopuler sekarang ini.

Namun Eropa tak beranjak sendirian karena Amerika Serikat dan Cina juga sudah mulai mencoba hal ini, jika Amerika didukung oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi yang oke, maka hasrat Cina untuk memajukan pesepakbolaan dalam negerinya adalah akibat dari pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat kuat belakangan ini.

    Namun jika dilihat dari fakta yang terjadi, ternyata tak menjadi patokan utama bahwa kemajuan negara dalam hal insfrastruktur, teknologi dan ekonomi juga berdampak lurus bagi pesepakbolaannya. Lalu faktor apa yang lebih penting jika kemajuan dari segi infrastruktur, teknologi dan ekonomi belum tentu pula memicu kemajuan sepakbola di negara tersebut?

Seringakali di berbagai media sepakbola, kita disuguhi bacaan mengenai keadaan sepakbola Amerika Latin yang dikatakan bahwa di benua tersebut, sepakbola sudah sangat mendarah daging, menjadi kultur atau budaya masyarakat dan bahkan banyak yang menganggap, disana sepakbola sangat penting dalam hidup, bahkan sudah setara dengan agama.

Ya, jawaban dari itu adalah sebuah kultur, karena meski sebuah negara mempunyai infrastruktur dan teknologi yang maju dibidang sepakbola atau serta punya banyak uang untuk mengembangkan sepakbola, tetapi tanpa kultur sepakbola yang  “hidup” di dalam bangsanya, maka akan sulit membuat sepakbola menjadi kebanggan dan mengharumkan nama bangsa tersebut.

Seringkali kita melihat negara-negara dari benua Afrika tampil memukau di pentas internasional, padahal mayoritas negara Afrika adalah negara berkembang yang tertinggal dari segi ekonomi, apalagi infrastruktur dan teknologinya.

Lantas apa yang membuat banyak pesepakbola hebat dilahirkan dari benua tersebut? Tak lain adalah kultur masyarakatnya terhadap sepakbola.

Sebagai olahraga yang paling digemari dan dimainkan dibelahan dunia manapun, maka tak heran sepakbola bisa ada dimanapun baik itu di pegunungan, kebun, sawah, pantai, jalanan kota, pedesaan, lapangan hingga stadion.

Karena sepakbola adalah olahraga paling “merakyat”, maka banyak masyarakat Afrika yang menggemari ini. Untuk bermain sepakbola, terkadang hanya dengan bola usang yang yang digunakan ramai-ramai dan gawang imajinasi dari sandal atau kayu pun, sepakbola sudah bisa dimainkan.

Kecintaan pada sepakbola membuat masyarakat Afrika senang memainkan si kulit bundar ini dimanapun. Bermain bola sudah menjadi kesenangan orang Afrika apalagi bagi anak-anak disana.

Karena kecintaan pada sepakbola ini maka tidak heran sepakbola sudah menjadi kebiasaan yang ditemui sehari-hari yang juga sudah menjadi kultur atau budaya yang menyatu dalam masyarakatnya.

Menjadi kultur yang hidup dalam masyarakat, sepakbola sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan disana. Sepakbola juga tidak jarang menjadi batu loncatan bagi seseorang untuk mengubah nasib hidupnya kearah yang lebih baik.

Yang terjadi di Amerika Latin lebih dahsyat, kultur sepakbola mereka sangat kental, mirip seperti di Eropa. Sepakbola sudah menjadi menu obrolan sehari-hari bagi Gaucho, sebutan untuk orang yang berasal dari orang Latin.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, bahkan saking gilanya terhadap sepakbola, terkadang agama pun disejajarkan dengan sepakbola. Contohnya saja kita bisa lihat di Argentina, disana ada gereja bernama Iglesia Maradoiana, gereja yang menjadikan Maradona sebagai Tuhan, dan bahkan kabarnya gereja ini sudah punya 200 ribu pengikut.

Sepakbola menjadi prestise bagi orang Latin, menjadi pesepakbola terkenal akan populer seperti selebritis atau politisi. Semua ini karena cinta orang Amerika Latin pada sepakbola itulah yang menjadikan olahraga ini sebagai budaya yang tidak akan lekang oleh waktu.

Barangkali kultur sepakbola yang kuat ini menjadi faktor dan sebab, kenapa sepakbola dari Afrika dan Amerika Latin selalu berkembang kearah yang baik hingga menelurkan pemain-pemain dengan kualitas jempolan.

Pemain terbaik dunia pernah datang dari Afrika, George Weah seorang legenda AC Milan dari Liberia ini pernah menyabet Ballon D’Or, belum lagi deretan pemain yang sukses besar seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, dan Yaya Toure.

Amerika Latin jauh lebih hebat, talenta dari sana bahkan bisa mengungguli talenta-talenta dari kiblat sepakbola seperti Eropa. Mulai dari Pele, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Lima, Ronaldinho, hingga Lionel Messi mampu menguasai jagad sepakbola dunia.

Kualitas pemain yang mumpuni berdampak positif bagi tim nasional dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Negara-negara dari kedua benua tersebut mampu berbicara banyak di konstelasi ajang internasional seperti Piala Dunia.

Bisa diatarik kesimpulan, ketika sepakbola menjadi sebuah kecintaan pada masyarakat tertentu maka sepakbola akan menjadi hal penting dalam hidup dan akan ada dimana-mana.

Hal ini tentu membentuk kebiasaan yang pada akhirnya dengan sendirinya membentuk sebuah kultur bahwa “sepakbola adalah bagian penting dari kehidupan”. Meski keadaan ekonomi atau infrastruktur tidak memadai untuk memainkan sepakbola secara “layak”, namun berkat budaya sepakbola yang ada ini maka kekuarangan tersebut seakan hilang dan tidak menjadi faktor penghambat.

Sedikit menoleh ke negara sendiri, Indonesia yang secara ekonomi masih terhitung negara berkembang dan dengan infrastruktur sepakbola yang “ala kadarnya” apakah sudah mempunyai budaya sepakbola seperti di Amerika Latin atau Afrika?

Mungkin bisa dikatakan belum, meski pemandangan anak-anak bersepakbola ria di lapangan, jalanan atau gang-gang rumah masih kita jumpai di negeri ini dan semangat orang Indonesia terhadap sepakbola juga lumayan tinggi, namun kenapa pemain hebat nan potensial kelas dunia tak juga kunjung muncul?

Mari kita kupas lebih dalam. Untuk menjadi pesepakbola hebat, berkarir lah di Eropa, dalam hal ini orang Afrika dan Amerika Selatan diuntungkan. Sebagai negara bekas kolonial dari negara-negara Eropa, maka bahasa yang mereka gunakan, punya banyak kesamaan seperti warga Afrika yang berbahasa Perancis karena mayoritas negara-negara Afrika adalah bekas pendudukan Perancis.

Amerika Latin yang warganya terbiasa berbahasa Spanyol, Portugis dan juga Italia juga sangat terbantu manakala ada pesepakbola dari sana yang akan hijrah ke Eropa, bahkan budaya masyarakat antara Amerika Latin dan Eropa terkhususnya negara Latin Eropa pun banyak kesamaan. (Bersambung..)

Berani Bersaing

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana. Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana.

Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Dua Raksasa

Spanyol sedang dalam masa kejayaan sepakbola, dalam dekade belakangan ini baik itu tim nasional ataupun klub asal Spanyol sama-sama mampu mendominasi Eropa atau bahkan juga dunia.

Tim nasional Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, tidak ada tim nasional lain yang mampu menyamai rekor juara beruntun seperti itu dimanapun. Sejak 2006 hingga 2016 (sudah 10 musim terakhir ini), sudah 6 kali pula Liga Champions dikuasai tim dari Spanyol dengan rincian; Barcelona 4 dan Real Madrid 2 juara.

Begitu juga di kompetisi kasta kedua, Europa League dimana Spanyol terlalu tangguh untuk tim dari negara lain, tercatat sejak musim 2005-2006 hingga 2015-2016, tujuh kali yang menjadi juara adalah klub Spanyol. Atletico Madrid dua kali sementara Sevilla lima kali yang bahkan tiga dari lima trofi tersebut diraih dalam tiga musim akhir ini. Luar biasa, Spanyol benar-benar dalam puncak kejayaan.

Apa yang menjadikan Spanyol begitu menkutkan dalam dunia sepakbola akhir-akhir ini? Jawabannya tidak lain karena duo Clasico, Real Madrid dan Barcelona, persaingan antar rival abadi penuh sejarah ini menjadikan sepakbola Spanyol begitu hebat. Harus diakui, Madrid dan Barca adalah dua tim terbaik dunia, kerja keras dua tim tersebut untuk selalu mendominasi satu sama lain berdampak positif bagi Spanyol.

Pemain berkualitas bintang dunia selalu hadir mengisi skuad kedua tim tersebut, keberadaan pemain Spanyol di dua tim tersebut juga menguntungkan tim nasional Spanyol. Ketika menjuarai Euro 2008, Euro 2012 dan Piala Dunia 2010 juga berkat keberadaan pemain-pemain dari dua tim ini.

Imbas lain adalah meningkatnya level permainan tim lain diluar El Clasico, tim seperti Atletico, Sevilla, Villareal, dan tim-tim lain saling berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu kenyaman Madrid dan Barcelona.

Hal itu justru tidak terasa membuat banyak tim Spanyol lain mengalami kenaikan level kualitas. Bersaing dengan dua tim yang “terbaik dunia” di liga, membuat mereka mau tidak mau harus terus meningkat secara kualitas jika tidak ingin hanya menjadi penonton di liga. Dampaknya begitu terasa, meski di liga hanya Atletico yang mampu juara selain Madrid-Barca dalam kurum 10 tahun ini dan itupun hanya sekali (musim 2013-2014). Tetapi peningkatan level tim Spanyol diluar Madrid-Barca terlihat ketika beraksi di kompetisi Eropa beberapa tahun terakhir.

Atletico bisa muncul dua kali di final Liga Champions dalam tiga tahun terkahir, tentu ini pencapaian luar biasa bagi klub seperti Atletico. Terkurung dalam bayang-bayang El Clasico di La Liga, tak membuat nyali Atleti di Liga Champions ikut menciut. Sevilla juga begitu, meski jarang finis di peringkat empat besar (zona Liga Champions) dalam 10 tahun terakhir, klub Andalusia tersebut sudah menjadi raja Liga Eropa selama tiga musim ini berturut-turut, rekor!

Setidaknya dalam lima musim terakhir, hampir selalu ada wakil Spanyol di semifinal kejuaraan Eropa bahkan hingga ke final, baik itu Liga Champions atau Liga Eropa. Tren ini menjadi bukti, klub dari La Liga memang lebih bagus daripada kompetisi negara lain, bahkan lebih baik dari Premier League yang disebut-sebut sebagai liga dengan klub-klub terbaik di dunia.

Sudah terbukti bahwa klub asal Spanyol paling superior jika bermain di pentas Eropa dan disadari atau tidak kualitas mereka terkerek naik karena mau tidak mau dengan penuh tenaga harus mengimbangi kualitas Madrid-Barca, yang memang tiada tandingnya di liga, jadi ketika klub Spanyol tersebut bertemu klub negara lain yang bahkan secara reputasi lebih besar, mereka mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan.

Musim lalu contohnya, Atletico mampu mengalahkan Munchen yang notabene disebut sudah satu level dengan Madrid-Barca, sedangkan Sevilla mengubur impian Liverpool di Liga Eropa, padahal reputasi Liverpool jauh lebih diatas dari Sevilla.

Efek persaingan di liga dengan Madrid-Barca terbukti berdampak signifikan bagi klub Spanyol lain, meski mereka babak belur di liga ternyata ketika bertanding di Eropa, kualitas dan mentalitas mereka mampu menandingi dan bahkan mengalahkan tim-tim kuat di Eropa karena “sudah terbiasa” berjibaku melawan dua tim terbaik dunia di liga sendiri.

Bahkan efek dua klub ini benar-benar meresap di Spanyol, jika ada klub mempunyai nama “real” dan atau mempunyai lambang mahkota di logo-nya, dapat dipastikan klub itu adalah klub pendukung kerajaan seperti Real Madrid. Jika ada klub berlogo “belang-belang” maka itu adalah klub yang berideologi pada kemerdekaan suku-suku dari kerajaan, klub dari Basque, Valencia, dan paling vokal dalam hal ini tentu klub asal Catalan paling sukses dekade ini, Barcelona.

Kembali ke persaingan juara, keberadaan Madrid-Barca membuat La Liga terasa lumayan membosankan. Namun hal ini dapat dimaklumi karena kesenjangan tersebut bukan karena blunder, inkonsistensi atau atau kemalasan klub lain berbenah, hal ini lebih karena perbedaan kualitas yang terlalu jauh antara Madrid-Barca dengan klub Spanyol lain.

Selain mempunyai tradisi kuat, pendapatan kedua klub tersebut juga sangat tinggi dibandingkan klub lain, maka dari tahun ke tahun makin kuat sajalah materi pemain Madrid-Barca karena kekuatan ekonomi duo ini tidak tertandingi klub Spanyol lain.

Setiap musim yang muncul dalam prediksi berbagai media adalah siapa yang akan juara, Madrid atau Barca? Klub lain seperti hanya ditakdirkan maksimal hanya untuk merebut jatah tiket ke Eropa dan tidak untuk juara liga, paling hanya Atletico yang punya potensi mengejutkan, namun kekuatan mereka sering digerus, karena seringnya Atletico tergoda menjual pemain bintangnya.

Musim ini juga tidak banyak berubah, Madrid-Barca masih terlalu kuat bagi klub lain, hal itu dapat dilihat dari Atlas-Bajas (lalu lintas transfer pemain) musim panas ini. Barcelona sangat jor-joran membelanjakan uang-nya, kedatangan Paco Alcacer, Andre Gomes, Denis Suarez, Lucas Digne, Samuel Umtiti, dan Jasper Cillessen menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Yang menjadi pertanyaan, tetaspi apakah terlalu mahal untuk hanya sekedar dijadikan pelapis bagi pemain inti? Alcacer bermain ketika salah satu dari trio MSN tidak bermain, Denis Suarez dan Gomes akan bermain ketika Iniesta atau Rakitic tidak dapat merumput dan juga masih ada Arda Turan yang bisa menjadi pelapis MSN dan Iniesta-Rakitic, Digne sebagai pelapis Jordi Alba, Umtiti menjadi pelapis duet bek tengah Mascherano-Pique dan Cillessen pilihan nomor dua dibawah mistar setelah Marc-Andre Ter Stegen. Memang mahal bagi pemain yang diproyeksikan sebagai pelapis tim utama, namun  ini menunjukkan bahwa Barca ingin mempunyai skuad yang dalam dengan materi tidak terlalu jauh jarak kualitasnya antara pemain inti dan cadangan.

Madrid musim ini tidak seperti biasa, uang yang mereka keluarkan sangat sedikit, 30 juta euro saja. Ada apa dengan Madrid? Padahal mereka biasanya boros dalam bursa transfer, tetapi musim ini mereka terhitung irit sekali. Uang 30 juta euro praktis sekali habis digunakan untuk mengaktifkan klausul pembelian mantan alumni cantera Madrid yang dijual ke Juventus dua tahun lalu, Alvaro Morata. Transfer lain adalah Marco Asensio, pemain muda yang musim lalu dipinjamkan ke Espanyol, sebelumnya dia dibeli dari Mallorca pada 2014.

Apakah gejala aneh Madrid di bursa transfer mungkin terkait dengan embargo transfer yang menghukum mereka? Namun itu sebenarnya bukan alasan, karena musim panas ini hukuman tersebut belum dilaksanakan, dan efektif baru akan terjadi pada dua periode transfer mendatang, seharusnya musim panas ini Madrid masih bisa belanja banyak, namun ternyata tidak.

Walau tanpa banyak pemain baru, kekuatan Madrid masih tetap besar, trio BBC masih dalam usia emas, Modric, Kroos, dan Ramos juga masih menampilkan performa terbaik, tambahan pemain muda macam Morata dan Asensio akan memperdalam kekuatan tim.

Klub Spanyol lain juga ikut memperkuat tim masing-masing, Atletico sibuk dalam hal ini. Kevin Gameiro, Nico Gaitan dan Sime Vrsaljko menjadi transfer mahal ke Vicente Calderon, Villareal membeli mantan wonderkid Alexandre Pato, dua pemain muda potensial Italia; Roberto Soriano dan Nicola Sansone akan menjajal petualangan baru di El Madrigal.

Sevilla yang meski kehilangan banyak pemain penting, melalui kecermatan direktur olahraga Monchi, bisa menghasilkan transfer bagus untuk dimaksimalkan pelatih baru, Jorge Sampaoli. Franco Vazquez, Luciano Vietto, Pablo Sarabia, Paulo Ganso, Wissam Ben Yadder, Hiroshi Kiyotake, Samir Nasri, dan Salvatore Sirigu menjadi beberapa transfer brilian Sevilla musim ini.

Valencia yang terpuruk musim lalu mencoba kembali bangkit dengan meminjam Eliaquim Mangala, Mario Suarez, Ezequiel Garay, dan Munir El Haddadi, tak lupa mereka juga telah meyakinkan deputi Cristiano Ronaldo di tim nasional Portugal, Luis Carlos Almeida da Cunha “Nani” untuk bergabung musim ini.

Klub kecil juga ikut bergeliat, seperti dua nama besar seperti Giuseppe Rossi dan Kevin-Prince Boateng yang mau bermain di Spanyol. Rossi kembali ke La Liga dengan menerima tawaran dari Celta Vigo, sementara Boateng memiliki destinasi karir baru di klub asal kepulauan Canaria, UD Las Palmas. Semakin gemerlap La Liga musim ini, ya setidaknya dari dimensi transfer pemain menunjukkan hal tersebut.

Tetapi jika berbicara juara liga, jangan jauh-jauh dari Madrid-Barca, namun patut ditunggu apakah ada kejutan musim ini? Semoga saja ada, Atletico atau mungkin klub lain, siapa tahu hal itu benar-benar terjadi diakhir musim nanti, hanya keajaiban yang akan membantu itu terwujud.

Solo Run Zebra

      Serie A, kompetisi sepakbola tertinggi di Italia ini masih seperti dulu saja rasanya, masih tetap hitam putih jadi topik utama, ya siapa lagi kalau bukan Juventus. Sudah lima musim Juventus selalu menjadi scudetti, dan tim lain seperti Roma, Napoli, Milan dan Inter seakan merelakan diri hanya menjadi penonton dalam kompetisi ini, dengan mudahnya Juventus juara.

     Pertanyaanya apakah Serie A mengalami kemunduran? Jawabannya sudah pasti iya, saat ini pamor sepakbola Italia tengah menurun, beberapa faktor ikut berpengaruh seperti kriris ekonomi juga dijadikan kambing hitam atas keterpurukan Serie A belakangan ini.

    Namun menyalahkan faktor krisis ekonomi global apakah bijak? Ternyata bukan hanya itu, karena ada faktor lain yang jelas berdampak signifikan bagi Calcio, tidak lain adalah dari dalam diri mereka sendiri.

        Italia seperti menutup mata pada perkembangan zaman, mereka seakan masih terbuai romantisme masa lalu dimana mereka yang dulu adalah terbaik di dunia, Serie A memang berjaya pada era 90an hingga 2000an, namun saat ini jelas tidak mungkin.

     Jangankan bersaing dengan Premier League, bersaing dengan Liga Jerman saja kini tidak mampu, apa “penyakit” yang selama ini mendera Italia? Pertama adalah dari sisi manajemen klub, di Italia pada umumnya setiap klub tidak mempunyai stadion alias menyewa kepada pemerintah kota jika akan berlaga, dan hanya Juventus yang saat ini mempunyai stadion sendiri.

    Hal ini jelas berimbas pada pendapatan klub yang minim, dengan menyewa stadion maka pendapatan dari tiket penonton tidak sepenuhnya menjadi kas untuk klub, melainkan juga akan dibayarkan ke pemilik stadion sehingga keuangan klub tidak sebanyak yang dibayangkan.

       Dengan hanya Juventus, Udinese dan Sassuolo yang mempunyai stadion sendiri, maka wajar apabila Serie A selalu dikuasai Nyonya Tua tersebut karena sehatnya ekonomi mereka, sedangkan Sassuolo mulai berkembang secara positif dari klub kecil hingga menjadi lebih baik dari musim ke musim.

     Sekarang jika ditinjau dari sisi hiburan, permainan tim-tim di Italia memang bisa dikatakan “membosankan” dan tidak menghibur, karena Italia sudah melekat dengan strategi defensif sejak dahulu kala, apalagi kalau bukan Cattenaccio.

    Kultur di Italia memang mengutamakan kemenangan, disana hasil lebih diutamakan daripada keindahan bermain bola, bertahan dan menggunakan serangan balik menjadi kebiasaan, tak heran kini apabila kita menonton Serie A, maka rasa kantuk akan menyergap kita dan mungkin hanya seorang tifosi sejati saja lah yang akan tetap betah menikmati kemonotonan permainan tim Italia.

   Namun karena tren taktik berubah, tim di Italia juga sudah mulai berani mencoba perubahan, tidak hanya klub besar saja, melainkan klub kecil pun berani tampil agresif dan menyerang, Sassuolo dibawah komando Eusebio Di Francesco bermain dengan pressing dan intensitas tinggi adalah contoh nyata. Setidaknya sudah ada beberapa tim yang memberikan warna berbeda di Serie A.

      Faktor lain adalah banjirnya pemain asing yang menumpuk di Italia, tidak hanya di Serie A, bahkan Serie B hingga Lega Pro juga mulai banyak stranieri (pemain asing) bertebaran. Memang boleh saja stranieri datang, namun hal ini justru akan mempersempit ruang bagi pemain muda Italia dan dampak tersebut akan terasa bagi tim nasional.

       Kalau stranieri yang datang adalah pemain berkualitas itu justru bagus untuk Serie A, tetapi kalau yang datang adalah pemain dengan kualitas pas-pasan untuk apa?. Saat ini kebiasaan mendatangkan stranieri tidak hanya dilakukan oleh tim besar, bahkan tim kecil seperti Udinese dan Bologna pun sudi memboyong banyak pemain asing.

     Dampak dari mudahnya pemain asing masuk Italia sudah terasa jelas didepan mata, pada akhirnya tim nasional Gli Azzurri kena getahnya, Euro 2016 di Perancis yang lalu merupakan cerminan, ketika skuat Italia disebut sebagai “skuat terburuk Italia sepanjang masa” dan hasilnya pun kita tahu Italia tersingkir di perempat final.

      Keputusan FIGC (asosiasi sepakbola Italia) menerapkan aturan home-grown players yang baru dilaksanakan musim ini dirasa terlambat, karena kebijakan ini baru akan berdampak setidaknya 5 tahun kemudian, maka tidak heran di Piala Dunia 2018 nanti Italia akan bernasib sama seperti yang selama ini terjadi.

    Untuk saat ini berjubelnya pemain asing berkualitas dibawah rata-rata jelas punya pengaruh negatif bagi kualitas sepakbola Italia secara keseluruhan, apalagi ini diperparah dengan tingkat kepercayaan pelatih Serie A untuk pemain lokal ternyata begitu rendah, sudah menjadi rahasia umum pemain akademi tidak dipersiapkan untuk berada tim utama tetapi dipinjamkan kesana kemari hingga potensi mereka meredup.

    Kepercayaan klub Italia pada telenta muda lokal mereka sendiri seakan menjadi petunjuk bahwa kompetisi di Italia tidak ramah bagi pemain muda, kepercayaan yang rendah dan infrastruktur yang juga tertinggal, sudah pasti wajar jika mulai dari Marcello Lippi, Cesare Prandelli hingga Antonio Conte mengeluh tentang minimnya stok pemain bagus di negeri mereka sendiri.

      Kembali ke persaingan merengkuh scudetto, saat ini Juventus masihlah kandidat terkuat untuk juara, apalagi mereka berhasil “menggembosi” kekuatan inti darilawan terkuat dengan membeli Miralem Pjanic dari Roma dan Gonzalo Higuan dari Napoli, transfer Higuan bahkan menjadi rekor termahal di Serie A (90 juta euro).

     Selain melemahkan rival domestik, si Nyonya Tua juga menambah kualitas dengan membeli pemain dari luar Serie-A. Daniel Alves yang sangat kaya pengalaman hebat bersama Barcelona berhasil didatangkan, walau sudah uzur namun kualitasnya masih bisa diandalkan, tambahan youngster Marko Pjaca, Mehdi Benatia (pinjam dari Bayern), dan Juan Cuadrado sebagai pinjaman dari Chelsea menjadikan skuad Juventus makin kuat.

    Sepertinya Juve ingin naik kelas dan bukan hanya jagoan kancah lokal, namun juga merajai Eropa seperti Real Madrid, Barcelona dan Bayern Munchen, skuad Juve pun bisa jadi tambah mantap saja apabila transfer Axel Witsel tidak gagal.

        Sementara Juve bertambah sangat kuat, tim lain seperti Napoli, Roma, Inter dan Milan meski ada peningkatan namun tidak secara drastis. Napoli mengkompensasi loncat-nya Higuain ke Turin dengan pengganti bernama Arkadiusz Milik, meski punya potensi untuk bersinar mantan pemain Ajax ini belum teruji benar sebagai bomber kelas atas dan belum sebanding dengan Higuain, ujung tombak akan diperebutkan antara Milik dan Manolo Gabbiadini.

      Untuk lini tengah dan belakang, I Partenopei menambah pilihan dengan mengkontrak dua pemain yang musim lalu bermain bagus di Empoli, Piotr Zielinski dan Lorenzo Tonelli, Napoli memang gemar mengambil pemain dari Empoli mengingat Maurizio Sarri punya koneksi di Empoli, karena dulu dia melatih disana.

      Sementara manuver AS Roma bahkan dikatakan lebih jelek dari Napoli, kehilangan Miralem Pjanic tidak diganti dengan pemain yang sepadan. Roma justru memilih untuk memaksimalkan Kevin Strootman dan Leandro Paredes.

    Strootman memang pemain bagus, namun cedera panjang menjadikan kualitasnya diragukan untuk berkembang, sementara Paredes masih pemain muda yang perlu pembuktian. Lini belakang terbilang lumayan, Maicon yang sudah uzur digantikan Bruno Peres yang merupakan salah satu bek kanan terbaik Serie A, kepergian Lucas Digne ke Barcelona diganti oleh Mario Rui, namun pemain ini langsung cedera 4 bulan setelah bergabung.

    Untuk melapis duet bek tengah Kostas Manolas dan Antonio Rudiger, direktur olahraga Roma, Walter Sabatini berhasil meminjam tiga pemain sekaligus; Federico Fazio (Tottenham), Juan Jesus (Inter) dan Thomas Vermaelen (Barcelona), tidak buruk dari segi kualitas namun masih kurang karena tiga pemain ini rentan cedera dan Wojciech Szcsezny berhasil dipermanenkan meski harus meminjamkan Lukasz Skorupski lagi, sementara lini depan tidak ada perubahan sama sekali.

      Milan lebih parah, meski kini ada pelatih muda potensial dalam diri Vincenzo Montella, tetapi transfer yang dilakukan Milan jauh dari kesan berkualitas atau bisa dikatakan medioker. Menuanya Alex, Gabriel Paletta, Phillippe Mexes, inkonsistensi Cristian Zapata dan masih hijaunya Rodrigo Ely, membuat Alessio Romagnoli menjadi satu-satunya bek tengah yang pantas bermain reguler.

       Mateo Musacchio menjadi incaran namun yang datang adalah Gustavo Gomez, dibeli dari Lanus dengan angka 8 juta euro dan meski sudah menjadi andalan tim nasional Paraguay, kualitasnya masih perlu pembuktian. Piotr Zielinski diinginkan Montella untuk memperkuat sektor tengah, tetapi yang datang justru dua pemain pinjaman Mario Pasalic (Chelsea), Matias Fernandez (Fiorentina) dan membeli Jose Sosa (Besiktas), jelas kurang untuk bersaing di zona Liga Champions.

     Untuk lini depan hanya ditambah stok peraih top skor Serie B musim lalu, Gianluca Lapadula, bahkan Milan hampir melego Carlos Bacca ke West Ham, entah apa yang dipikirkan Adriano Galliani. Daripada sia-sia membeli dan meminjam pemain berkualitas standar seperti itu, seharusnya Milan mempromosikan pemain Primavera, siapa tau muncul pemuda berbakat lagi seperti Donnarumma dan De Sciglio di musim ini.

        Inter terlihat lebih bersemangat musim ini, nama-nama besar berhasil dibujuk untuk menjadi bagian skuad di Giuseppe Meazza. Ever Banega yang menemukan kembali bentuk permainan terbaik di Sevilla bahkan berhasil direkrut bebas transfer, padahal pemain ini yang menjadi kunci permainan Sevilla kala meraih trofi Europa League di dua musim terkahir.

     Pemain sayap tim nasional Italia, Antonio Candreva berhasil didaratkan dari Lazio, Joao Mario yang bermain bagus di Euro 2016 bersama tim nasional Portugal juga dibeli seharga 40 juta euro dari Sporting Lisbon. Paling sensasional adalah kemenangan Inter atas Barcelona untuk mendapatkan wonderkid Brasil, Gabriel Barbosa atau biasa disebut Gabigol. Yang tidak ada perubahan adalah lini belakang, padahal sektor ini seharusnya butuh tenaga baru.

     Setelah Juventus, Inter paling giat mencari pemain bagus, akantetapi hal ini tidak dibarengi dengan harmonisasi manajemen dengan staf pelatih, Roberto Mancini pergi karena terlibat konflik dengan manajemen. Frank De Boer yang ditunjuk sebagai pengganti adalah orang yang tidak punya pengalaman di Italia, jangankan sebagai pelatih, sebagai pemain saja tidak sekalipun main negeri Pizza ini.

     Mercato musim panas ini sudah membuktikan, Juve masih yang terdepan meski kehilangan Paul Pogba, kekuatan Juve tidak berkurang dan justru bertambah besar.

     Banyak pihak memprediksi Juve akan mudah mempertahankan scudetto seperti musim-musim sebelumnya, yang menjadi perhatian publik Italia kali ini bukan siapa yang juara liga tetapi adalah seberapa jauh Juve melangkah di Liga Champions dan siapa yang akan berpotensi mengganggu perjalanan Juventus menuju tangga juara di musim.

    Ya, Serie A masih seperti ini saja, persaingan yang monoton, minim pemain muda, membanjirnya stranieri, dan rendahnya daya saing klub Italia di level Eropa, seakan menutupi keindahan calcio yang pernah berjaya di era 90an hingga awal milenium 2000an ini. Kuda Zebra masih akan berlari sendirian kali ini atau dalam istilah sepakbola disebut solo run. Serigala, Partenopei maupun si Ular hanya akan mampu menjadi pengganggu bagi Zebra, namun apapun itu Liga Italia tetaplah kompetisi yang sangat ingin dinikmati oleh para tifosi setia, Forza Ragazzi.

Selamat Datang di Premier League

        English Premier League adalah liga yang paling dinantikan di dunia, liga tertinggi dalam kasta sepakbola Inggris ini menjadi atensi utama penikmat sepakbola dimanapun. Gegap gempita Liga Inggris selalu menarik untuk disaksikan, mulai dari banyaknya pemain bintang dari berbagai penjuru dunia, kompetisi yang ketat dan sulit diprediksi, hingga manajemen liga yang profesional, semua faktor itu menjadikan Liga Inggris yang paling “sexy” dibandingkan liga-liga lain di Eropa.

      Musim ini pun masih tetap seperti itu, dan bahkan bisa dikatakan liga ini semakin menarik untuk dinikmati perjalanannya. Tidak hanya pemain-pemain bintang dari luar Inggris yang datang, beberapa manajer terbaik dunia juga menjadikan Liga Inggris sebagai ajang pembuktian diri.

        Dari level pemain, rekor transfer termahal dunia baru saja dipecahkan oleh Manchester United dengan menggelontorkan 89 juta poundsterling untuk membawa pulang anak yang mereka buang 4 tahun lalu, Paul Pogba. United juga mendatangkan bomber kelas wahid bernama Zlatan Ibrahimovic, meski sudah 34 tahun namun ketajaman dan reputasi Zlatan masih hebat.

      Pogba dan Ibra dilengkapi oleh rekrutan bagus lain seperti Heinrikh Mkhitaryan dan Eric Bailly. Tetangga berisik United, Manchester City juga tidak kalah banyak menghabiskan uang, 47 juta poundsterling menjadikan John Stones sebagai bek termahal dunia ketika pindah dari Goodison Park, markas Everton menuju Etihad Stadium, adapula Leroy Sane, Nolito, Ilkay Gundogan dan Claudio Bravo yang akan menyingkirkan Joe Hart sebagai kiper utama The Citizens.

      Klub lain juga tidak ketinggalan dalam membeli pemain bagus, Chelsea mentransfer striker Marseille yaitu Michy Batshuayi seharga 40 juta euro, N’golo Kante 35 juta euro dari Leicester City dan Arsenal memboyong Granit Xhaka dengan tebusan 30 juta pounds dari Borussia Moenchengladbach. Tottenham mencoba menambah daya serang dengan mendatangkan top skor Eredivisie musim lalu, Vincent Janssen (18 juta euro) dan Victor Wanyama dihargai 10 juta euro dari Southampton.

     Liverpool juga tidak lupa mewujudkan keinginan Jurgen Klopp membangun skuat dari awal musim dengan mengangkut Sadio Mane sebesar 35 juta euro, sementara itu juara bertahan Leicester City menambal kepergian Kante dengan Nampalys Mendy (13 juta pounds) dari Nice serta juga menambah pilihan penyerang untuk Ranieri dengan membayar 18 juta euro ke CSKA Moskow demi Ahmed Musa.

     Tim-tim lain juga tidak kalah garangnya dalam bursa trasfer pemain, West Ham meminjam Simone Zaza dan 20 juta pounds untuk Andre Ayew (rekor transfer The Hammers) dan banyak merekrut pemain baru, Everton menggunakan uang hasil penjualan Stones untuk mengamankan servis Yannick Bolasie dari Crystal Palace (25 juta pounds).

    Southampton yang kehilangan Mane dan Wanyama menggantikan mereka dengan Nathan Redmond (10 juta pounds) dan Pierre-Emile Hojbjerg (13 juta pounds). Bahkan klub sekecil Burnley memecahkan rekor transfer klub ketika mengambil kapten Anderlecht, Steven Defour dengan uang 8 juta poundsterling, kebetulan Defour yang memang ingin pindah karena alasan kenyamanan. Betapa banyaknya uang yang dimilik klub-klub liga Inggris ini adalah juga imbas dari pengelolaan liga yang profesional dan hak siar yang merata bagi seluruh tim.

       Yang juga menjadi perhatian khalayak luas adalah keberadaan manajer-manajer hebat di Premier League musim ini. Jose Mourinho yang musim lalu mengalami masa-masa terburuknya di Inggris bersama Chelsea telah resmi menjadikan Manchester United sebagai klub baru yang dia latih musim ini, reputasi Mourinho tentu akan membuat United kembali disegani di Inggris.

     Tak kalah dengan saudara tua-nya, Manchester City juga mendatangkan pelatih dengan reputasi yang jelas cemerlang, Pep Guardiola. Kehadiran dua pelatih ini sedikit banyak akan menghadirkan rivalitas panas dalam derbi Manchester, apalagi dulu mereka terlibat perseteruan bentrok antar dua klub terbaik sejagad raya Madrid vs Barcelona, El Clasico. Selain mereka berdua, Liga Inggris juga disinggahi mantan pelatih Italia, Antonio Conte.

      Orang paling ekspresif dipinggir lapangan, passion Conte ketika memberi instruksi untuk pemain sangat menarik ditonton, mungkin dalam hal ini Conte lebih dari Jurgen Klopp dan bahkan hampir seperti Diego Simeone.

      Klub lain yang relatif lebih kecil juga ikut berbenah disektor manajerial, ada yang mengganti pelatih dari sesama klub di liga ada juga yang mengambil pelatih dari luar Inggris. Sunderland memanggil pulang orang tersial pasca Sir Alex Ferguson pensiun, David Moyes untuk memperbaiki reputasi yang dahulu hancur lebur di MU dan Real Sociedad, dan akan mengisi pos yang ditinggal Sam Alladyce karena jabatan di tim nasional.

     Sementara itu posisi Ronald Koeman yang pergi dari Southampton akan digantikan Claude Puel, pelatih berpaspor Perancis yang dulu pernah sukses dengan Lyon. Sementara Watford akan dikendalikan oleh Walter Mazzari yang berpengalaman menangani Napoli dan Inter, keberadaan Mazzari akan membuat 1/5 komposisi pelatih di Premier League berasal dari Italia dari keseluruhan 20 orang, mereka adalah Claudio Ranieri, Antonio Conte, Francesco Guidolin dan Walter Mazzari itu sendiri.

    Kedatangan Mou, Pep, Conte dan beberapa nama lain akan menjadikan musim ini sebagai musim penuh pertarungan strategi. Karena mereka juga akan bertarung dengan pelatih yang sudah berada di Liga Inggris sejak musim lalu seperti Arsene Wenger, Mauricio Pochettino, Claudio Ranieri, Ronald Koeman, Alan Pardew dan lainnya.

       Musim yang sangat luar biasa bagi Liga Inggris, semakin banyak pemain bintang pindah ke negeri Ratu Elizabeth, banyaknya pelatih populer, ditambah lagi gaya permainan klub-klub di Inggris yang terkenal doyan menggeber serangan menjadikan liga ini paling menarik dibanding liga lain di Eropa.

    Selain karena permainan tim yang menghibur, atmosfer stadion yang luar biasa, pemain bintang dan pelatih dengan reputasi kelas atas, persaingan menjadi juara, tim mana yang akan masuk zona Eropa dan siapa yang akan terdegradasi juga sulit ditebak. Dalam empat tahun terakhir ini saja juara liga selalu berbeda, bergiliran Manchester United, City, Chelsea dan musim lalu secara mengejutkan tim medioker, Leicester City mampu menjungkalkan prediksi semua pihak dengan menjadi kampiun, Wow!.

    Inilah yang membuat Premier League sulit diprediksi, dilain sisi bahkan tim yang terhitung besar seperti Aston Villa dan Newcastle malah terdegradasi ke Championship Division, benar-benar mengejutkan bukan?.

      Untuk saat ini Inggris boleh berbangga dengan kompetisi sepakbola tertinggi mereka menjadi yang terbaik di dunia, hal-hal menarik diatas mampu membuat Premier League diminati seluruh di dunia. Apalagi ditambah fakta bahwa aturan home-grown players yang mengharuskan klub memberikan ruang bagi pemain akademi ternyata mampu menghasilkan pemain berkualitas tanpa mengecilkan rasio kedatangan pemain asing ke Inggris.

     Harry Kane, Delle Ali, Danny Rose, Luke Shaw, Marcus Rashford, Raheem Sterling, John Stones, Kyle Walker, Nathaniel Clyne dan masih banyak lagi pemain muda Inggris yang saat ini memperkuat tim besar, pada akhirnya kesempatan pemain lokal pun tidak tergerus dengan serbuan bintang-bintang asing yang menjadi magnet utama di liga.

    Mungkin saat ini kekurangan yang ada di Premier League hanya ketersediaan pelatih lokal muda yang berbakat, hal itulah yang sangat sulit diwujudkan dan mungkin inilah yang selalu berdampak negatif bagi tim nasional Inggris, karena keterbatasan stok pelatih muda lokal berkualitas yang punya pengalaman sebagai pelatih utama di Premier League tentu akan mempersulit regenerasi pelatih di negera yang mengklaim sebagai “rumah-nya sepakbola” ini.

       Dengan segala nilai plus yang ada, sangat layak untuk disaksikan keseruan apa saja yang akan hadir disepanjang musim ini, apakah tim besar seperti MU, City dan Chelsea akan juara atau justru kembali muncul kejutan seperti Leicester?

    Intrik dan gosip apa saja yang akan terjadi di dalam dan luar lapangan, lalu bagaimana pula psy-war yang akan saling terlontar diantara keberadaan Mourinho, Pep, Wenger, Conte dan Klopp? Siapa pemain yang akan bersinar, apakah Zlatan, Aguero, Mahrez atau sepasang kaki termahal atas nama Paul Labile Pogba? Yang pasti luangkan lah waktu anda disetiap akhir pekan untuk ini dan nikmatilah; this is it, Welcome to Premier League!!.

Satu Yang Sempurna

Siapa tidak tahu Cristiano Ronaldo, nama pemain ini di internet bahkan menjadi kata yang paling banyak dicari di mesin pencarian ternama, Google. Peraih tiga Ballon D’Or, dan tiga trofi Liga Champions ini sedang menikmati masa dimana dia bisa disebut sempurna, sebagai pemain terbaik dunia.

Kenapa bisa disebut seperti itu? Karena Ronaldo baru saja menjuarai Euro 2016 bersama Portugal, memang bukan dirinya saja yang berperan terhadap kesuksesan Portugal itu, namun peran Ronaldo tetaplah vital dalam perjalanan Portugal menuju final Euro.

Dia menjadi penyelamat yang membuat Portugal lolos dari grup H dengan mencetak dua gol ke gawang Hungaria dan  satu gol-nya saat lawan Wales di semifinal juga penting karena mampu melepaskan beban pada kubu Portugal ketika melawan Wales.

Ronaldo yang sudah meraih segalanya di level klub bersama Real Madrid pun akhirnya bisa melengkapi koleksi gelarnya di level tim national, sempurna lah apabila dia sah disebut sebagai pemain terbaik dunia.

Banyak pemain hebat di dunia, namun jarang yang mampu meraih gelar baik itu di klub dan tim nasional. Karena pemain terbaik dunia adalah mereka yang dianugerahi trofi Ballon D’Or, maka pertanyaan yang timbul apakah penerima Ballon D’Or itu berprestasi di klub dan tim nasional?

Ternyata belum tentu. Untuk meraih Bola Emas memang tidak harus secara bersamaan punya prestasi di klub dan tim nasional, namun peraih Ballon D’Or atau Bola Emas ini setidaknya mampu berprestasi di klub dan tim nasional meski tidak secara bersamaan.

Ronaldinho dan Zidane adalah contohnya, dua pemain ini pernah meraih Ballon d’Or, Liga Champions di level klub dan Piala Dunia untuk tim nasional masing-masing. Zinedine Zidane, legenda sepakbola Perancis meraih Liga Champions (Madrid 2002), bersama Perancis sukses dengan Piala Dunia (1998) dan bahkan Piala Eropa (2000).

Zidane sendiri memenangi Ballon d’Or di tahun 1998 berkat performanya di Piala Dunia 1998 yang digelar di tanah kelahiran, Perancis. Ronaldinho pernah mengantarkan Brazil juara Piala Dunia 2002 Korea & Jepang, dan dia pun juara Liga Champions 2006 bersama Barcelona. Sementara Ballon d’Or diperoleh pemain yang terkenal penuh senyuman ini juga pada tahun 2006.

Maka tak heran sebutan pemain terbaik dunia benar-benar pantas disematkan untuk mereka, selain mampu memberikan gelar juara terbaik untuk klub, juga mampu melakukan hal yang sama untuk tim nasional negara-nya.

Dalam hal ini Cristiano Ronaldo sudah membuktikannya, pemenang Ballon d’Or tiga kali ini sudah meraih tiga trofi Liga Champions (satu bersama Manchester United dan dua bersama Real Madrid) dan baru saja meraih gelar juara pertama di level tim nasional ketika mengantar Portugal menjadi juara Euro 2016.

Maka sebutan pemain terbaik dunia, sempurna jika diberikan untuk Ronaldo dengan perolehannya selama ini. Hal ini bukan berarti merendahkan capaian pemain lain yang juga pernah meraih Ballon d’Or, tetapi karena mampu berprestasi di klub dan tim nasional merupakan bukti pemain tersebut ialah pemain spesial dan benar-benar “best player in the world”. Semoga saja Ronaldo mampu menjaga performanya dan terus menorehkan rekor, Vamos CR7!!

Foto dari independent.co.uk

Nestapa Messi

Nama lengkapnya adalah Lionel Andres Messi, orang Argentina kelahiran 24 Juni 1987 di Rosario ini disebut-sebut sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Deretan gelar bergengsi pernah dia raih dan lima trofi Ballon D’Or adalah menjadi bukti penegas bahwa Messi adalah pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Benar dan tidak salah memang jika Messi disebut sebagai yang terbaik, namun ternyata kehebatan Messi baru muncul di level klub saja, karena semua gelar juara dan tambahan gelar individu yang ia raih adalah karena permainannya di Barcelona, sementara di level negara prestasi pemain yang dijuluki La Pulga Atomica ini adalah minim untuk Argentina.

Ya, Messi belum pernah mengantar Argentina menjadi juara di turnamen besar antar negara, baik itu Copa America atau Piala Dunia, Messi selalu gagal membantu negaranya menjadi juara. Padahal jika melihat materi pemain, Argentina tidak kering kualitas, lihat saja berjejal world class players disekeliling Messi.

Ada Angel di Maria, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, Javier Mascherano dan masih banyak pemain lagi yang seharusnya menjadikan Argentina, yang juga dikapteni oleh Messi saat ini, setidaknya bisa sekali saja menjadi juara di turnamen besar antar negara.

Namun fakta tidak demikian, semenjak Messi melakukan debut di Piala Dunia 2006 (turnamen besar pertama Messi bersama tim nasional Argentina dan dia berstatus wonder kid saat itu) hingga yang terakhir di gelaran Copa America Centenario 2016, prestasi paling maksimal yang dia sumbangkan ke Argentina hanyalah membawa Argentina menjadi runner-up seperti di Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014.

Messi yang sangat bersinar bersama Barcelona, namun seketika melempem kala bermain di skuat Albiceleste, ada apa dengan Messi di Argentina?

Banyak spekulasi yang bermunculan, pertama adalah perbedaan jauh dari segi kualitas antara skuad Barcelona dan Argentina, memang bisa diasumsikan seperti itu karena kita tahu Barcelona selalu diperkuat pemain-pemain yang masuk kategori terbaik dunia, sedangkan di Argentina kualitasnya tidak merata karena disetiap lini belum tentu ada pemain bintang dunia.

Namun yang menjadi pertanyaan, bukankah seharusnya Messi mampu menjadi pembeda dan penyelamat bagi Argentina?

Maradona sukses bukan karena dia saja yang membawa Argentina ditakuti dalam sepakbola, namun ada bantuan dari rekan hebat lain dalam tim.

Argentina saat ini sebenarnya juga seperti itu, Messi ditemani pemain berkualitas di timnas, dan seharusnya juga di lapangan tidak selalu Messi yang meminta dirinya “dibawa” ke permainan terbaik oleh pemain sekelilingnya.

Tetapi dia juga harus mampu “membawa” pemain-pemain lain untuk mencapai bentuk terbaiknya, sehingga dia mampu meraih apa yang Maradona juga raih dulu.

Kegelisahan terhadap Messi pernah menjadi perbincangan serius di tubuh skuat Argentina pada medio 2007 hingga 2010-an, ketika itu banyak orang yang sangat terkesima dengan Messi di Barelona, namun permainan dia di timnas berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan bersama klub Catalan itu. Beberapa pihak menyebut faktor suplai bola menjadi kendala bagi Messi di timnas Argentina.

Benar, karena di Barca Messi ditemani dua kreator permainan hebat dalam diri Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, belum lagi pola permainan ticqui-taka ala Barcelona yang mengandalkan umpan satu-dua dan penguasaan bola menjadikan Messi sangat nyaman. Hal itu berbeda jauh, karena di Argentina tidak tersedia playmaker jempolan yang selevel Xavi dan Iniesta antara 2007 hingga 2010-an.

Juan Roman Riquelme seharusnya bisa dikedepankan, diapun bahkan sudah menjadi pengatur serangan utama Argentina sejak Piala Dunia 2006 hingga Copa America 2007.

Namun meski gaya mainnya lumayan klop dengan Messi, Riquelme belum bisa menjadi “Xavi” bagi Messi di Argentina, menjelang Piala Dunia 2010 dia tidak dipanggil, selain alasan teknis dia juga punya masalah pribadi dengan Diego Maradona, legenda hidup yang menjadi pelatih tim Tango saat itu.

Juan Sebastian Veron dipilih sebagai pengganti Riquelme, meski sudah uzur dia tetap dipilih karena tiada lagi stok playmaker handal. Veron yang pada 2010 bermain di Estudiantes diharapkan mampu menjadi “Xavi” untuk Argentina, apalagi dia berpengalaman memperkuat sejumlah tim besar seperti Manchester United, Inter, dan Lazio.

Namun hasilnya sama saja, potensi Messi tetap redup di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Faktor gaya permainan juga menjadi problem tambahan, Argentina tidak mampu bermain seperti ticqui-taka ala Barca dan Messi pun redup juga karenanya.

Namun sebagai pemain terbaik dunia, gaya main seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Messi untuk bermain baik, kalau dia memang pantas disebut pemain terbaik dunia, seharusnya dia cocok bermain dengan sistem permainan apapun, tidak harus melulu dengan ticqui-taka.

Mulai sejak saat akhirnya publik tau bahwa permainan Messi belum tentu optimal jika tidak bermain dengan ticqui-taka, hal ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Messi dan Argentina yang menggantungkan asa pada dirinya.

Era berganti dari Riquelme dan Veron, menjadi Angel Di Maria dan Javier Pastore. Beruntung bagi Messi karena dua pemain kreatif ini muncul dan mulai menjadi andalan hampir bersamaan sehingga menambah variasi penyuplai bola yang tidak hanya pada satu orang. Argentina hampir berhasil menjadi jawara Copa America 2011 di kandang sendiri sebelum dikalahkan negara tetangga, Uruguay di semifinal.

Tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut Argentina menjadi finalis di Piala Dunia dan Copa America, meski begitu walau sudah nyetel-nya Messi di timnas, seharusnya minimal sekali saja dia mampu membawa Argentina juara, namun kenyataannya sangat pahit. Selepas laga final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan berujar akan pensiun dari tim nasional Argentina!

Ternyata pemain terbaik dunia pun bisa mengalami frustasi hebat, Messi adalah contohnya. Pernyataan Messi untuk pensiun juga dirumorkan menular ke pemain Argentina lain; Sergio Aguero, Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, dan Gonzalo Higuain dikabarkan mempunyai keinginan yang sama seperti La Pulga.

Hattrick kegagalan menjadi juara dalam tiga turnamen besar terakhir membuat perhatian dunia tertuju pada Lionel Messi, ketidakmampuan membawa Argentina juara di pentas besar internasional adalah salah satu borok yang ada pada diri pemain terbaik dunia empat kali ini.

Kritik juga mulai sering dilayangkan kepada dirinya, dia dinilai hanya bisa bermain dalam skema ticqui-taka dan tidak bisa bermain dengan skema lain, perbandingan saat di Barcelona dan Argentina adalah bukti nyata.

Legenda hidup Argentina yang juga mantan pemain Barcelona, Diego Maradona pun juga mengkritik Messi karena tidak punya personalitas, tidak ada aura kepemimpinan pada dirinya.

Sepertinya segala hal yang sedang terjadi di Argentina justru berujung antiklimaks bagi Messi, disaat usianya menuju akhir keemasan (29 tahun), dia belum sekalipun mempersembahkan gelar juara bagi Argentina di turnamen besar, medali emas Olimpiade 2008 tidak termasuk karena dalam hal ini gema kejuaraan olahraga tersebut jelas tidak sebanding dengan Copa America dan terlebih Piala Dunia.

Messi benar-benar frustasi hingga berkeinginan pensiun dari timnas, hal ini juga menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo pun berpendapat belum saatnya Messi mundur dari Argentina, karena dia masih dibutuhkan oleh Albiceleste.

Malang sekali nasib Messi, disaat dia gagal juara dan frustasi hingga berucap ingin pensiun, Cristiano Ronaldo justru sukses bersama Real Madrid dan Portugal. Juara Liga Champions dan Piala Eropa membuat Ronaldo “semakin sempurna” disebut sebagai yang terbaik di dunia, karena dia sukses bersama klub dan juga tim nasional.

Messi belum mampu melakukan ini meski punya kesempatan besar untuk juara dengan Argentina, sehingga dia belum layak dikatakan “sempurna” karena belum pernah berjaya bersama Argentina di kejuaraan besar.

Apalagi pasca gelaran Copa America  yang lalu, dia dihukum dengan vonis 21 bulan penjara oleh pengadilan Spanyol atas kasus penggelapan pajak yang melibatkan dia dan ayah yang sekaligus agennya, Jorge Messi. Nestapa untuk Messi, begitulah kiranya apa yang dialami oleh pemain terbaik dunia ini.

Foto: dailymotion.com