Image

Si Nomor Dua yang Buktikan Diri

“Selamat, anda melakukan pekerjaan (bermain) hebat”, itulah kalimat yang meluncur dari mulut Jose Mourinho ketika mendatangi soeroang pemain, sesaat setelah usainya pertandingan. Akan tetapi mourinho bukan memuji pemain Manchester United yang menang di final EFL Cup di Wembley, 26 Februari 2017 tersebut. Melainkan untuk lawan mereka, pemain Southampton yang baru datang di bursa transfer musim dingin terbaru ini, Manolo Gabbiadini.

Gabbiadini sebenarnya bisa lebih spektakuler lagi dengan mencetak hat-trick di final tersebut, apabila hakim garis lebih jeli dalam memantau situasi laga. Andai gol yang dianulir itu disahkan, barangkali jalannya laga akan berbeda, meski pada akhinya Manchester United menang 3-2 atas Southampton, dengan kesemua gol Southampton dicetak oleh Gabbiadini di laga itu.

Gabbiadini memang sedang on fire, dia telah mencetak 6 gol sejauh ini (artikel terbit 15 April 2017) bersama Southampton, sejak bergabung pada Februari lalu dari klub Italia, Napoli. Apa yang ia perbuat di Inggris selama ini memang diluar dugaan, karena Manolo Gabbiadini sebelumnya hanya seorang yang dianggap sebagai striker kacangan dan “nomor dua”.

Kedatangan Gabbiadini ke Southmapton pun sebenarnya diliputi sedikit rasa keraguan di kalangan fans Southampton. Untuk striker yang selalu dinomorduakan (khususnya semenjak di Napoli ), harga 14 juta paun dirasa begitu mahal. Gabbiadini juga dinilai bukan sebuah urgensi, karena di lini depan Soton, sebutan lain untuk Southampton, sudah ada Charlie Austin dan Shane Long.

Walau begitu, sebenarnya Gabbiadini tidaklah terlalu buruk. Dia sudah pernah bermain untuk timnas senior Italia yang bahkan ia sudah mencatat debut pada game Inggris v Italia 2012. Lalu catatan golnya termasuk lumayan impresif di Napoli dengan kemasan 25 gol dari 3.114 menit bermain.

Artinya dia mencetak 1 gol untuk Napoli di setiap 124,56 menitnya Gabbiadini merumput di lapangan. Padahal Selama tiga musim di Napoli, statistik yang ia bukukan itu dijalani Gabbiadini ketika menjadi striker nomor dua. Ya, memang Gabbiadini selama di Napoli akrab dengan perlakuan yang dinomorduakan.

Alasan kenapa pemain kelahiran Calcinate dan berpostur 186 cm ini sering menjadi pilihan kedua pun rumornya beragam. Mulai dari kompetitor yang lebih baik, taktik pelatih di Napoli yang tidak mengakomodir talenta dia hingga persepsi tentang karakter Gabbiadini yang tidak punya karisma dan mentalitas yang tak mampu memikul beban tinggi.

Cerita berawal ketika Napoli membeli Gabbiadini pada musim dingin 2015, akibat permainan apiknya di Sampdoria. Gabbiadini direkrut untuk menjadi pesaing sekaligus pelapis Gonzalo Higuaín, yang sudah mapan sebagai prima punta Napoli sejak musim 2013-2014. Pada dasarnya Gabbiadini itu serba bisa, selain penyerang tengah dia bisa juga dimainkan sebagai winger kanan dan striker bayangan.

Versatilitas Gabbiadini jelas terbukti sejak ia di Sampdoria, yang kala itu lini depan Il Samp diisi oleh trio Edér-Okaka-Gabbiadini. Selain sisi kanan, kadang kala Gabbiadini juga diplot di tengah ketika Okaka absen atau cedera. Dia pun sering menjadi second striker, terutama ketika sebelumnya bermain di Bologna.

Meski serba bisa, pemain berkaki kidal yang juga adik dari pesepakbola timnas Italia wanita, Melania Gabbiadini ini harus terima nasib karena allenatore Napoli kala itu, Rafa Benítez tidak mungkin mencadangkan Higuaín dan mengganti José Callejón dari pos sayap kanan dalam formasi 4-2-3-1 hanya untuk memberi ruang untuk Gabbiadini.

Dua musim itu telah berlalu sejak awal Gabbiadini datang dan tepat di musim ini menjadi momentum dirinya untuk bangkit, karena Gonzalo Higuaín pindah ke Juventus. Tetapi entah apakah Napoli, dengan pelatihnya saat ini, Maurizio Sarri yang kurang percaya pada kemampuan Gabbiadini atau karena ingin mencari pengganti sepadan untuk Higuaín, hingga mereka membeli Arkadiusz Milik dari Ajax Amsterdam dengan biaya 35 juta euro.

Kedatangan Milik pun otomatis mengembalikan Gabbiadini menjadi pilihan kedua sebagai penyerang utama. Milik memang terbukti moncer diawal musim ini sebelum cedera lutut parah, Anterior Cruciate Ligament (ACL) memaksanya absen hingga baru bisa kembali bermain awal Maret. Cederanya Milik justru disisi lain kembali membuka kesempatan kedua untuk Gabbiadini.

Namun meski terbantu absensi Milik akibat cedera, Gabbiadini yang sering mengisi slot penyerang tengah selama dua-tiga bulan lalu gagal membuktikan diri hingga Sarri menyingkirkan Gabbiaini, lalu bereksperimen tanpa menempatkan striker tengah murni dalam balutan formasi 4-3-3. Hasil eksperimen itu adalah memindahkan winger kiri, Dries Mertens menjadi false nine dan ternyata dia mampu mencetak gol-gol yang sangat dibutuhkan Napoli pasca kepergian Higuaín.

Situasi bagi Gabbiadini makin suram saja, karena Napoli mendapatkan tanda tangan Leonardo Pavoletti dari Genoa pada bursa transfer musim dingin lalu. Kalau dulu hanya menjadi nomor dua ketika masih ada Higuaín, kelanjutnya Gabbiadini saat itu malahan turun pangkat jadi opsi keempat setelah Mertens, Milik dan Pavoletti untuk menjadi ujung tombak I Partenopei.

Padahal dengan adanya Higuaín dulu dan Milik, Mertens atau Pavoletti kini, mencoba duetkan dengan Gabbiadini yang bisa main lebih kedalam dan melebar pun tidak mengapa. Tapi sayang hal itu jarang atau hampir tidak pernah dilakukan oleh Benítez atau Sarri hingga Gabbiadini pergi.

Sadar tidak ada tempat lagi di klub yang pernah menjadi tempat berjayanya legenda sepakbola Diego Maradona itu, Gabbiadini pindah ke Southampton mendekati window transfer 2016-2017 berakhir. Lagipula bagaimanapun Maurizio Sarri juga sudah tidak lagi percaya kemampuan dia, lebih-lebih setelah mendapat penyerang baru dalam diri Leonardo Pavoletti.

Seakan ingin membuktikan diri bahwa Napoli dan Sarri telah salah menilai dirinya, Gabbiadini menjelma jadi sosok striker tajam begitu hijrah dari Stadio San Paolo ke Saint Merry’s Stadium.

Gabbiadini berubah bak penyerang oportunis yang kerap kali pas dalam menempatkan diri di dalam kotak penalti lawan. Sesuatu yang sebenarnya Napoli juga rindukan layaknya penampilan Higuaín dulu hingga beroleh capocannoniere atau top skor Serie A musim kemarin.

Musim lalu Higuaín bisa menggila dan mencetak banyak gol ketika di awal musim 2015-2016 itu karena mendapat sentilan. Pipita, julukan Higuaín, dimotivasi oleh Sarri dengan sindiran keras yang maksud intinya; “Higuaín sebenarnya bisa menjadi penyerang tengah terbaik di dunia, jika bisa merubah sikap dan tidak lagi malas”.

Hasilnya? Higuaín mencetak 36 gol dari 35 kali dia bermain di Serie A musim lalu dan sang pemain sendiri berterimakasih atas “motivasi” awal musim dari Sarri tersebut. Andai untuk Higuaín saja bisa, kenapa Gabbiadini tidak bisa “dibegitukan” oleh Maurizio Sarri?

Sepertinya Napoli, baik itu dari rezim Benítez hingga Sarri tak pernah benar-benar percaya pada kemampuan Gabbiadini, pemain yang juga merupakan produk akademi Atalanta ini.

Mungkin Sarri berageming dengan sembuhnya Milik, makin tajamnya Mertens sebagai false nine dan kedatangan Pavoletti sudah cukup untuk mengarungi seluruh sisa laga musim ini dan tidak perlu lagi tenaga pria bernama Manolo Gabbiadini dan lalu menjualnya. Entahlah apa yang terjadi sebenarnya dibelakang layar, namun melihat performa Gabbiadini sampai saat ini, sepertinya “intuisi” Sarri terbukti kurang tepat.

Bocah yang sebenarnya punya talenta namun terabaikan dulu kala, kini sedang berusaha keras buat mantan klubnya, Napoli menepuk jidat karena telah melepas dirinya dan hanya memberi sedikit waktu untuk buktikan diri.

Kali ini dia malahan tampil apik dengan gol-golnya justru ketika berada di tim (Southampton) yang secara teknis masih kalah kualitas dari Napoli dan berada di Premier League, liga yang jauh lebih kompetitif dibanding Serie A.

Gabbiadini sedang memulai karir bagus di klub barunya, Southampton. Semoga, lesakan gol-gol belum akan berhenti diukir oleh sosok tinggi agak kerempeng dan berwajah sedikit pucat yang pernah tercampa dan dinomorduakan oleh Napoli ini. Dialah Manolo Gabbiadini, yang tidak menyerah untuk membuktikan kualitas sesungguhnya.

*data angka dari Opta

Foto: telegraph.co.uk

Advertisements

Solo Run Zebra

      Serie A, kompetisi sepakbola tertinggi di Italia ini masih seperti dulu saja rasanya, masih tetap hitam putih jadi topik utama, ya siapa lagi kalau bukan Juventus. Sudah lima musim Juventus selalu menjadi scudetti, dan tim lain seperti Roma, Napoli, Milan dan Inter seakan merelakan diri hanya menjadi penonton dalam kompetisi ini, dengan mudahnya Juventus juara.

     Pertanyaanya apakah Serie A mengalami kemunduran? Jawabannya sudah pasti iya, saat ini pamor sepakbola Italia tengah menurun, beberapa faktor ikut berpengaruh seperti kriris ekonomi juga dijadikan kambing hitam atas keterpurukan Serie A belakangan ini.

    Namun menyalahkan faktor krisis ekonomi global apakah bijak? Ternyata bukan hanya itu, karena ada faktor lain yang jelas berdampak signifikan bagi Calcio, tidak lain adalah dari dalam diri mereka sendiri.

        Italia seperti menutup mata pada perkembangan zaman, mereka seakan masih terbuai romantisme masa lalu dimana mereka yang dulu adalah terbaik di dunia, Serie A memang berjaya pada era 90an hingga 2000an, namun saat ini jelas tidak mungkin.

     Jangankan bersaing dengan Premier League, bersaing dengan Liga Jerman saja kini tidak mampu, apa “penyakit” yang selama ini mendera Italia? Pertama adalah dari sisi manajemen klub, di Italia pada umumnya setiap klub tidak mempunyai stadion alias menyewa kepada pemerintah kota jika akan berlaga, dan hanya Juventus yang saat ini mempunyai stadion sendiri.

    Hal ini jelas berimbas pada pendapatan klub yang minim, dengan menyewa stadion maka pendapatan dari tiket penonton tidak sepenuhnya menjadi kas untuk klub, melainkan juga akan dibayarkan ke pemilik stadion sehingga keuangan klub tidak sebanyak yang dibayangkan.

       Dengan hanya Juventus, Udinese dan Sassuolo yang mempunyai stadion sendiri, maka wajar apabila Serie A selalu dikuasai Nyonya Tua tersebut karena sehatnya ekonomi mereka, sedangkan Sassuolo mulai berkembang secara positif dari klub kecil hingga menjadi lebih baik dari musim ke musim.

     Sekarang jika ditinjau dari sisi hiburan, permainan tim-tim di Italia memang bisa dikatakan “membosankan” dan tidak menghibur, karena Italia sudah melekat dengan strategi defensif sejak dahulu kala, apalagi kalau bukan Cattenaccio.

    Kultur di Italia memang mengutamakan kemenangan, disana hasil lebih diutamakan daripada keindahan bermain bola, bertahan dan menggunakan serangan balik menjadi kebiasaan, tak heran kini apabila kita menonton Serie A, maka rasa kantuk akan menyergap kita dan mungkin hanya seorang tifosi sejati saja lah yang akan tetap betah menikmati kemonotonan permainan tim Italia.

   Namun karena tren taktik berubah, tim di Italia juga sudah mulai berani mencoba perubahan, tidak hanya klub besar saja, melainkan klub kecil pun berani tampil agresif dan menyerang, Sassuolo dibawah komando Eusebio Di Francesco bermain dengan pressing dan intensitas tinggi adalah contoh nyata. Setidaknya sudah ada beberapa tim yang memberikan warna berbeda di Serie A.

      Faktor lain adalah banjirnya pemain asing yang menumpuk di Italia, tidak hanya di Serie A, bahkan Serie B hingga Lega Pro juga mulai banyak stranieri (pemain asing) bertebaran. Memang boleh saja stranieri datang, namun hal ini justru akan mempersempit ruang bagi pemain muda Italia dan dampak tersebut akan terasa bagi tim nasional.

       Kalau stranieri yang datang adalah pemain berkualitas itu justru bagus untuk Serie A, tetapi kalau yang datang adalah pemain dengan kualitas pas-pasan untuk apa?. Saat ini kebiasaan mendatangkan stranieri tidak hanya dilakukan oleh tim besar, bahkan tim kecil seperti Udinese dan Bologna pun sudi memboyong banyak pemain asing.

     Dampak dari mudahnya pemain asing masuk Italia sudah terasa jelas didepan mata, pada akhirnya tim nasional Gli Azzurri kena getahnya, Euro 2016 di Perancis yang lalu merupakan cerminan, ketika skuat Italia disebut sebagai “skuat terburuk Italia sepanjang masa” dan hasilnya pun kita tahu Italia tersingkir di perempat final.

      Keputusan FIGC (asosiasi sepakbola Italia) menerapkan aturan home-grown players yang baru dilaksanakan musim ini dirasa terlambat, karena kebijakan ini baru akan berdampak setidaknya 5 tahun kemudian, maka tidak heran di Piala Dunia 2018 nanti Italia akan bernasib sama seperti yang selama ini terjadi.

    Untuk saat ini berjubelnya pemain asing berkualitas dibawah rata-rata jelas punya pengaruh negatif bagi kualitas sepakbola Italia secara keseluruhan, apalagi ini diperparah dengan tingkat kepercayaan pelatih Serie A untuk pemain lokal ternyata begitu rendah, sudah menjadi rahasia umum pemain akademi tidak dipersiapkan untuk berada tim utama tetapi dipinjamkan kesana kemari hingga potensi mereka meredup.

    Kepercayaan klub Italia pada telenta muda lokal mereka sendiri seakan menjadi petunjuk bahwa kompetisi di Italia tidak ramah bagi pemain muda, kepercayaan yang rendah dan infrastruktur yang juga tertinggal, sudah pasti wajar jika mulai dari Marcello Lippi, Cesare Prandelli hingga Antonio Conte mengeluh tentang minimnya stok pemain bagus di negeri mereka sendiri.

      Kembali ke persaingan merengkuh scudetto, saat ini Juventus masihlah kandidat terkuat untuk juara, apalagi mereka berhasil “menggembosi” kekuatan inti darilawan terkuat dengan membeli Miralem Pjanic dari Roma dan Gonzalo Higuan dari Napoli, transfer Higuan bahkan menjadi rekor termahal di Serie A (90 juta euro).

     Selain melemahkan rival domestik, si Nyonya Tua juga menambah kualitas dengan membeli pemain dari luar Serie-A. Daniel Alves yang sangat kaya pengalaman hebat bersama Barcelona berhasil didatangkan, walau sudah uzur namun kualitasnya masih bisa diandalkan, tambahan youngster Marko Pjaca, Mehdi Benatia (pinjam dari Bayern), dan Juan Cuadrado sebagai pinjaman dari Chelsea menjadikan skuad Juventus makin kuat.

    Sepertinya Juve ingin naik kelas dan bukan hanya jagoan kancah lokal, namun juga merajai Eropa seperti Real Madrid, Barcelona dan Bayern Munchen, skuad Juve pun bisa jadi tambah mantap saja apabila transfer Axel Witsel tidak gagal.

        Sementara Juve bertambah sangat kuat, tim lain seperti Napoli, Roma, Inter dan Milan meski ada peningkatan namun tidak secara drastis. Napoli mengkompensasi loncat-nya Higuain ke Turin dengan pengganti bernama Arkadiusz Milik, meski punya potensi untuk bersinar mantan pemain Ajax ini belum teruji benar sebagai bomber kelas atas dan belum sebanding dengan Higuain, ujung tombak akan diperebutkan antara Milik dan Manolo Gabbiadini.

      Untuk lini tengah dan belakang, I Partenopei menambah pilihan dengan mengkontrak dua pemain yang musim lalu bermain bagus di Empoli, Piotr Zielinski dan Lorenzo Tonelli, Napoli memang gemar mengambil pemain dari Empoli mengingat Maurizio Sarri punya koneksi di Empoli, karena dulu dia melatih disana.

      Sementara manuver AS Roma bahkan dikatakan lebih jelek dari Napoli, kehilangan Miralem Pjanic tidak diganti dengan pemain yang sepadan. Roma justru memilih untuk memaksimalkan Kevin Strootman dan Leandro Paredes.

    Strootman memang pemain bagus, namun cedera panjang menjadikan kualitasnya diragukan untuk berkembang, sementara Paredes masih pemain muda yang perlu pembuktian. Lini belakang terbilang lumayan, Maicon yang sudah uzur digantikan Bruno Peres yang merupakan salah satu bek kanan terbaik Serie A, kepergian Lucas Digne ke Barcelona diganti oleh Mario Rui, namun pemain ini langsung cedera 4 bulan setelah bergabung.

    Untuk melapis duet bek tengah Kostas Manolas dan Antonio Rudiger, direktur olahraga Roma, Walter Sabatini berhasil meminjam tiga pemain sekaligus; Federico Fazio (Tottenham), Juan Jesus (Inter) dan Thomas Vermaelen (Barcelona), tidak buruk dari segi kualitas namun masih kurang karena tiga pemain ini rentan cedera dan Wojciech Szcsezny berhasil dipermanenkan meski harus meminjamkan Lukasz Skorupski lagi, sementara lini depan tidak ada perubahan sama sekali.

      Milan lebih parah, meski kini ada pelatih muda potensial dalam diri Vincenzo Montella, tetapi transfer yang dilakukan Milan jauh dari kesan berkualitas atau bisa dikatakan medioker. Menuanya Alex, Gabriel Paletta, Phillippe Mexes, inkonsistensi Cristian Zapata dan masih hijaunya Rodrigo Ely, membuat Alessio Romagnoli menjadi satu-satunya bek tengah yang pantas bermain reguler.

       Mateo Musacchio menjadi incaran namun yang datang adalah Gustavo Gomez, dibeli dari Lanus dengan angka 8 juta euro dan meski sudah menjadi andalan tim nasional Paraguay, kualitasnya masih perlu pembuktian. Piotr Zielinski diinginkan Montella untuk memperkuat sektor tengah, tetapi yang datang justru dua pemain pinjaman Mario Pasalic (Chelsea), Matias Fernandez (Fiorentina) dan membeli Jose Sosa (Besiktas), jelas kurang untuk bersaing di zona Liga Champions.

     Untuk lini depan hanya ditambah stok peraih top skor Serie B musim lalu, Gianluca Lapadula, bahkan Milan hampir melego Carlos Bacca ke West Ham, entah apa yang dipikirkan Adriano Galliani. Daripada sia-sia membeli dan meminjam pemain berkualitas standar seperti itu, seharusnya Milan mempromosikan pemain Primavera, siapa tau muncul pemuda berbakat lagi seperti Donnarumma dan De Sciglio di musim ini.

        Inter terlihat lebih bersemangat musim ini, nama-nama besar berhasil dibujuk untuk menjadi bagian skuad di Giuseppe Meazza. Ever Banega yang menemukan kembali bentuk permainan terbaik di Sevilla bahkan berhasil direkrut bebas transfer, padahal pemain ini yang menjadi kunci permainan Sevilla kala meraih trofi Europa League di dua musim terkahir.

     Pemain sayap tim nasional Italia, Antonio Candreva berhasil didaratkan dari Lazio, Joao Mario yang bermain bagus di Euro 2016 bersama tim nasional Portugal juga dibeli seharga 40 juta euro dari Sporting Lisbon. Paling sensasional adalah kemenangan Inter atas Barcelona untuk mendapatkan wonderkid Brasil, Gabriel Barbosa atau biasa disebut Gabigol. Yang tidak ada perubahan adalah lini belakang, padahal sektor ini seharusnya butuh tenaga baru.

     Setelah Juventus, Inter paling giat mencari pemain bagus, akantetapi hal ini tidak dibarengi dengan harmonisasi manajemen dengan staf pelatih, Roberto Mancini pergi karena terlibat konflik dengan manajemen. Frank De Boer yang ditunjuk sebagai pengganti adalah orang yang tidak punya pengalaman di Italia, jangankan sebagai pelatih, sebagai pemain saja tidak sekalipun main negeri Pizza ini.

     Mercato musim panas ini sudah membuktikan, Juve masih yang terdepan meski kehilangan Paul Pogba, kekuatan Juve tidak berkurang dan justru bertambah besar.

     Banyak pihak memprediksi Juve akan mudah mempertahankan scudetto seperti musim-musim sebelumnya, yang menjadi perhatian publik Italia kali ini bukan siapa yang juara liga tetapi adalah seberapa jauh Juve melangkah di Liga Champions dan siapa yang akan berpotensi mengganggu perjalanan Juventus menuju tangga juara di musim.

    Ya, Serie A masih seperti ini saja, persaingan yang monoton, minim pemain muda, membanjirnya stranieri, dan rendahnya daya saing klub Italia di level Eropa, seakan menutupi keindahan calcio yang pernah berjaya di era 90an hingga awal milenium 2000an ini. Kuda Zebra masih akan berlari sendirian kali ini atau dalam istilah sepakbola disebut solo run. Serigala, Partenopei maupun si Ular hanya akan mampu menjadi pengganggu bagi Zebra, namun apapun itu Liga Italia tetaplah kompetisi yang sangat ingin dinikmati oleh para tifosi setia, Forza Ragazzi.