Menjiwai Kampanye Support Your Local Club dengan Bijak

Ketimpangan pembangunan antara pusat-pusat pemerintahan dan daerah begitu terasa. Terlebih ketika sebuah negara dikelola dengan sistem yang sentralistik, zaman Orba bisa dikatakan seperti itu. Dahulu kala daerah tidak memiliki banyak ruang untuk mengekspolarasi diri mereka karena semua dikendalikan oleh pusat.

Namun seiring bergantinya rezim dan munculnya era baru, reformasi, arah pembangunan nasional mengalami semacam “deflected”. Daerah pun kini menjadi tumpuan dalam pembangunan bangsa Indonesia ini.

Diberlakukanya otonomi daerah dengan payung hukum UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta UU nomor 11 tahun 2014 tentang Desa, setidaknya menjadi semacam katalis bagi daerah agar dapat mengelola “dirinya sendiri”, begitu juga desa dengan besarnya gelontoran dana desa saat ini.

Bagai terilhami, semangat reformasi bernuasa demokratis dan menjadikan daerah sebagai pilar pembangunan bangsa ini, juga sepertinya meresap dalam relung dunia sepakbola tanah air. Munculnya kampanye “Support Your Local Club” barangkali dijadikan padanan-nya.

Seruan “Support Your Local Club”, begitu nyaring terdengar akhir-akhir ini. Tidak lain berujuan demi membangun dan menyemarakkan sepakbola Indonesia di level nasional, maka sepakbola juga harus dibangun, disadari, dirasakan dan dinikmati eksistensinya di tingkat daerah-daerah.

Meski, terkadang orang mengekspresikan jiwa sepakbolanya, bukan dengan jalan mendukung klub daerahnya. Bahkan ada yang cenderung lebih memilih bereuforia dengan membanggakan klub-klub luar negeri, tidak mengapa karena itu pilihan. Lagipula seperti apa kata Bob Marley,  football is freedom.

Terkait kampanye ini, maka sepakbola wajarnya diinisiasi dari daerah, karena seperti apa bentuk dan wajah sepakbola (nasional) Indonesia ini, juga sangat bergantung dari bagaimana-nya perkembangan sepakbola di daerah. Linier, seperti konsepsi atau wacana tentang pembangunan nasional yang berorientasi daerah, bukan?

“Support Your Local Club” atau bahasa Indonesia-nya, dukunglah klub daerah/asal mu, kini memantik masyarakat di daerah untuk antusias pada klub asal daerahnya sendiri.

Dengan menjadikan klub daerahnya sebagai apa yang sering dinamai “kebanggan”, membuat orang saat ini hari demi hari, makin peduli pada identitas klub kebanggaan daerahnya sendiri.

Seruan untuk mendukung klub asalmu itu muncul dikalangan suporter. Harapan yang diapungkan dari hal ini yaitu dengan mengkonstruksikan rasa bangga, cinta dan peduli pada klub (sepakbola) lokal, maka perkembangan sepakbola “dirumah sendiri” bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Dalam hal ini suporter bisa berekspresi dan mengaspirasikan apa yang mereka rasakan dan inginkan untuk kebaikan klub.

Secara positif, disisi lain ada efek domino pula dari seruan ini, yaitu adanya kemungkinan seruan ini yang secara tidak langsung, bisa mengedukasi para suporter untuk juga peduli pada apa saja dinamika yang terjadi di daerahnya sendiri.

Toh, urusan sepakbola pun tidak melulu bersangkut paut hanya dengan olahraga saja. Ada aspek lain seperti kebijakan daerah ataupun perihal sisi ekonomi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat awam.

Kini berkat kampanye yang menyerukan “support your local club”, daerah dengan kultur sepakbola yang sebelumnya tidak begitu kental seperti Wonosobo, misalnya. Secara perlahan mulai bangkit dan bertumbuh komunitas-komunitas lokal disana, untuk menunjukkan dukungannya pada identitas klub kebanggaan daerah tersebut, PSIW Wonosobo.

Meski sangat bagus untuk perkembangan sepakbola di keseluruhan wilayah yang ada di republik ini, untuk menjiwai seruan kampanye itu, harus pula dengan bijak. Jangan sampai dalam menjiwai dan memaknai seruan kampanye tersebut, kita justru terjerumus pada tribalisme kedaerahan yang bisa bersifat ultra-ekslusif ataupun membentuk sikap primordialitas (kedaerahan) yang berlebihan.

Tribalisme adalah paham yang mendewakan kesukuan/kedaerahan/primordialitas, serta disisi lain menganggap rendah etnis atau identitas daerah lain.

Sepakbola, dengan perubahan yang begitu cepatnya ini sedari dulu juga tidak lepas dari tribalisme dan nilai-nilai primoridalistik yang berkelindan bersamanya. Sepakbola di tanah Eropa (kiblatnya sepakbola) yang jauh disana juga sedikit banyak berkembang dengan identitas tribal atau primordialitasnya.

Sebagai contoh, bagaimana Bilbao adalah cerminan eksklusifitas Basque, Barcelona dengan identitas Catalonia atau Liverpool FC yang merupakan klubnya scouser -orang yang bicara medok (dialeg) khas Liverpool-.

Hal ini karena tidak lepas sepakbola itu sendiri yang banyak berkembang dengan membawa identitas kedaerahan pada awal mula evolusinya. Maka tidak heran, sekalipun menyebar lewat globalisasi, sepakbola tetap terkunci dengan “khitoh-nya” sebagai identitas yang bersifat kedaerahan masing-masing.

Sepakbola memang menjadi materi pergaulan global, tetapi juga menumbuhkan solidaritas di tingkat nasional maupun daerah-daerah.

Terkhusus di Indonesia pun, bahkan terbentuknya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga tidak lepas dari peranan sepakbola yang bersifat kedaerahan. Bagaimana dulu sepakbola dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta bersatu padu menamamkan benih perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan membentuk PSSI pada 1930 lalu.

Kembali ke pembahasan awal, kampanye Support Your Local Club harus dimaknai dengan bijak. Saat identitas sepakbola daerah harus dijunjung tinggi, namun disatu sisi merealisasikan seruan kampanye ini juga tidak berarti harus menganggap sepakbola daerah lain itu rendah, hina dan harus dimusuhi.

Tribalisme negatif telah muncul dalam sepakbola, manakala memuja identitas sepakbola lokal dan disisi lain begitu merendahkan/menjelek-jelekkan rival sepakbola dari daerah lain, entah apapun yang terjadi.

Kasus oknum suporter di Indonesia yang menghina-hina pemain timnas hanya karena dia merupakan pemain dari klub rival harus menjadi perhatian bersama. Meski saya yakin, kasus semacam ini bisa terjadi dibelahan dunia manapun. Selain itu, tribalisme mengakar dapat memicu situasi tegang antar daerah yang suporter klub sepakbolanya bertentangan.

Sepakbola tanpa rivalitas bagaimana? Pada dasarnya rivalitas dalam sepakbola itu bagus, karena sepakbola tidak akan sampai menarik seperti ini kalau tidak ada rivalitas didalamnya. Tetapi kalau rivalitas itu sudah berubah wujud menjadi permusuhan, maka perpecahan menjadi takdir yang tak bisa dihindarkan.

Mewabahnya tribalisme atau juga prasangka primordial, kalau tidak dimenejemen dengan baik bisa berubah menjadi musibah. Kalau-kalau hal itu muncul dikalangan suporter, sudah tidak asing lagi. Toh, perbedaan-perbedaan itu sudah menjadi keniscayaan kenapa suporter berdiri untuk mendukung klub kebanggaannya masing-masing.

Akantetapi jika tribalisme sepakbola, yang didalamnya membawa rivalitas dan sering kebablasan menjadi permusuhan secara sosio-kultural itu telah menular secara kronis hingga menyebar ke elemen seperti pemain di klub-klub, alarm bahaya bagi sebuah tim nasional.

Untuk meraih prestasi setinggi mungkin, sebuah timnas harus berisikan pemain yang menyatu dan saling bekerjasama dengan baik. Permusuhan yang muncul akibat rivalitas terlalu mendalam di level klub, bisa merusak harmonisasi sebuah timnas.

Spanyol dan Inggris pernah merasakan hal ini. Jika Spanyol punya Iker Casillas-Xavi yang mampu mempersatukan pemain-pemain Madrid dan Barcelona di skuad La Furia Roja, kapten-kapten Inggris tidak mampu meredam perbedaan itu di skuad The Jack Union. Intensitas sepakbola yang begitu tinggi bergairah-nya di Inggris seperti bukan hanya dialami suporter saja, hal itu pun telah dirasakan pemain yang memperkuat timnas Inggris.

Dikatakan oleh Paul Scholes, “ada rivalitas yang sangat besar diantara klub di negara ini (Inggris) dan itu tidak sehat untuk timnas”. Dia pun menambahkan “bahwa kami tidak sekedar bermain sepakbola, kami mencintai klub masing-masing kami berada dan rivalitas itu selalu ada bersamanya”, dilansir dari telegraph.co.uk

Masih menurut Scholes, rivalitas kental antara Manchester United dan Liverpool pernah membuat retak persatuan timnas Inggris dizamannya, yang saat itu masih diperkuat banyak pemain asli lokal dari akademi. Itu pun belum menghitung tambahan rivalitas dengan klub-klub lain.

Inilah salah satu faktor kenapa Inggris selalu kesulitan bermain apik di level internasional. Mencintai identitas klub daerahnya dan justru terlalu larut pada rivalitas sengit antar daerah yang melebar ke permusuhan, buat mereka tidak padu saat berada di timnas.

Disini dapat dikatakan, kebanggan pada sepakbola daerah (klub) sendiri, justru disisi lain memunculkan sentimen negatif pada rival yang tak mampu diredam, padahal kepentingan timnas butuh diutamakan prioritasnya.

Di Indonesia untung saja sentimen itu belum merambah dan masuk ranah pemain yang berada di timnas. Kemunculan berita tentang sentimen ini baru di level suporter, ketika ada oknum suporter dari sebuah klub yang mencaci pemain timnas hanya karena dia bermain bagi klub rivalnya.

Bagaimana jadinya kalau pemain timnas Indonesia kita, tidak akur karena rivalitas klub masing-masing. Sementara dengan situasi adem ayem antar pemain saat ini pun, prestasi timnas kita masih begini-begini saja?

Mungkin banyak pihak berkilah, apa yang dilakukan supoter itu wajar dan merupakan bagian dari kehidupan sepakbola. Tetapi sekali lagi, menjiwai support your local club juga harus dengan dengan prasangka yang objektif dan bijak.

Jangan sampai karena terlalu gegap gempita dalam menjiwai kampanye ini, lalu mengaburkan rasionalitas berpikir dan perasaan kita pada timnas. Menjiwai kampanye yang sangat positif ini hanya akan terlihat elegan apabila di lokasi, waktu dan momen/suasana yang tepat.

Lagipula sepakbola kita yang masih jalan ditempat dengan kekerasan suporter yang masih sering terjadi, timnasnya tak mampu berprestasi dengan gemilang, klub tak mampu gaji pemain, profesionalitas federasi (PSSI) yang masih tanda tanya.

Hal-hal diatas itu yang seharusnya juga, menjadi problem yang tak boleh dilupakan para suporter dan coba untuk diaspirasikan suaranya dengan solusi konstruktif. Disamping hanya mengutamakan urusan rivalitas antar klub, padahal saya yakin, harusnya para suporterlah yang menjadi kunci penggerak untuk perbaikan sepakbola Indonesia ini.

Melalui kampanye Support Your Local Club, besar harapannya suporter akan peduli pada dunia sepakbola yang ada di daerah masing-masing, selain juga teredukasi untuk lebih dewasa dan berpikir kritis mengenai perkembangan sepakbola kita pada umumnya.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan atau mendukung klub X atau klub Y, tetapi untuk kesadaran bersama saja. Rivalitas antar klub memang alamiah dalam sebuah kompetisi/persaingan dan itu justru yang menarik dalam sepakbola.

Setiap klub beserta para suporter, intinya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik daripada yang lain. Sehingga dalam sebuah kompetisi akan muncul rivalitas, hal yang wajar. Namun artian dari kata rival yaitu pesaing, bukan musuh. Karena toh semua elemen sepakbola kita pada akhirnya akan menjunjung panji-panji yang sama, Indonesia.

Bangkitnya suporter, bangkitnya sepakbola Indonesia!

Sumber foto: Redbubble.net

Advertisements

Nestapa Messi

Nama lengkapnya adalah Lionel Andres Messi, orang Argentina kelahiran 24 Juni 1987 di Rosario ini disebut-sebut sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Deretan gelar bergengsi pernah dia raih dan lima trofi Ballon D’Or adalah menjadi bukti penegas bahwa Messi adalah pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Benar dan tidak salah memang jika Messi disebut sebagai yang terbaik, namun ternyata kehebatan Messi baru muncul di level klub saja, karena semua gelar juara dan tambahan gelar individu yang ia raih adalah karena permainannya di Barcelona, sementara di level negara prestasi pemain yang dijuluki La Pulga Atomica ini adalah minim untuk Argentina.

Ya, Messi belum pernah mengantar Argentina menjadi juara di turnamen besar antar negara, baik itu Copa America atau Piala Dunia, Messi selalu gagal membantu negaranya menjadi juara. Padahal jika melihat materi pemain, Argentina tidak kering kualitas, lihat saja berjejal world class players disekeliling Messi.

Ada Angel di Maria, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, Javier Mascherano dan masih banyak pemain lagi yang seharusnya menjadikan Argentina, yang juga dikapteni oleh Messi saat ini, setidaknya bisa sekali saja menjadi juara di turnamen besar antar negara.

Namun fakta tidak demikian, semenjak Messi melakukan debut di Piala Dunia 2006 (turnamen besar pertama Messi bersama tim nasional Argentina dan dia berstatus wonder kid saat itu) hingga yang terakhir di gelaran Copa America Centenario 2016, prestasi paling maksimal yang dia sumbangkan ke Argentina hanyalah membawa Argentina menjadi runner-up seperti di Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014.

Messi yang sangat bersinar bersama Barcelona, namun seketika melempem kala bermain di skuat Albiceleste, ada apa dengan Messi di Argentina?

Banyak spekulasi yang bermunculan, pertama adalah perbedaan jauh dari segi kualitas antara skuad Barcelona dan Argentina, memang bisa diasumsikan seperti itu karena kita tahu Barcelona selalu diperkuat pemain-pemain yang masuk kategori terbaik dunia, sedangkan di Argentina kualitasnya tidak merata karena disetiap lini belum tentu ada pemain bintang dunia.

Namun yang menjadi pertanyaan, bukankah seharusnya Messi mampu menjadi pembeda dan penyelamat bagi Argentina?

Maradona sukses bukan karena dia saja yang membawa Argentina ditakuti dalam sepakbola, namun ada bantuan dari rekan hebat lain dalam tim.

Argentina saat ini sebenarnya juga seperti itu, Messi ditemani pemain berkualitas di timnas, dan seharusnya juga di lapangan tidak selalu Messi yang meminta dirinya “dibawa” ke permainan terbaik oleh pemain sekelilingnya.

Tetapi dia juga harus mampu “membawa” pemain-pemain lain untuk mencapai bentuk terbaiknya, sehingga dia mampu meraih apa yang Maradona juga raih dulu.

Kegelisahan terhadap Messi pernah menjadi perbincangan serius di tubuh skuat Argentina pada medio 2007 hingga 2010-an, ketika itu banyak orang yang sangat terkesima dengan Messi di Barelona, namun permainan dia di timnas berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan bersama klub Catalan itu. Beberapa pihak menyebut faktor suplai bola menjadi kendala bagi Messi di timnas Argentina.

Benar, karena di Barca Messi ditemani dua kreator permainan hebat dalam diri Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, belum lagi pola permainan ticqui-taka ala Barcelona yang mengandalkan umpan satu-dua dan penguasaan bola menjadikan Messi sangat nyaman. Hal itu berbeda jauh, karena di Argentina tidak tersedia playmaker jempolan yang selevel Xavi dan Iniesta antara 2007 hingga 2010-an.

Juan Roman Riquelme seharusnya bisa dikedepankan, diapun bahkan sudah menjadi pengatur serangan utama Argentina sejak Piala Dunia 2006 hingga Copa America 2007.

Namun meski gaya mainnya lumayan klop dengan Messi, Riquelme belum bisa menjadi “Xavi” bagi Messi di Argentina, menjelang Piala Dunia 2010 dia tidak dipanggil, selain alasan teknis dia juga punya masalah pribadi dengan Diego Maradona, legenda hidup yang menjadi pelatih tim Tango saat itu.

Juan Sebastian Veron dipilih sebagai pengganti Riquelme, meski sudah uzur dia tetap dipilih karena tiada lagi stok playmaker handal. Veron yang pada 2010 bermain di Estudiantes diharapkan mampu menjadi “Xavi” untuk Argentina, apalagi dia berpengalaman memperkuat sejumlah tim besar seperti Manchester United, Inter, dan Lazio.

Namun hasilnya sama saja, potensi Messi tetap redup di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Faktor gaya permainan juga menjadi problem tambahan, Argentina tidak mampu bermain seperti ticqui-taka ala Barca dan Messi pun redup juga karenanya.

Namun sebagai pemain terbaik dunia, gaya main seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Messi untuk bermain baik, kalau dia memang pantas disebut pemain terbaik dunia, seharusnya dia cocok bermain dengan sistem permainan apapun, tidak harus melulu dengan ticqui-taka.

Mulai sejak saat akhirnya publik tau bahwa permainan Messi belum tentu optimal jika tidak bermain dengan ticqui-taka, hal ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Messi dan Argentina yang menggantungkan asa pada dirinya.

Era berganti dari Riquelme dan Veron, menjadi Angel Di Maria dan Javier Pastore. Beruntung bagi Messi karena dua pemain kreatif ini muncul dan mulai menjadi andalan hampir bersamaan sehingga menambah variasi penyuplai bola yang tidak hanya pada satu orang. Argentina hampir berhasil menjadi jawara Copa America 2011 di kandang sendiri sebelum dikalahkan negara tetangga, Uruguay di semifinal.

Tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut Argentina menjadi finalis di Piala Dunia dan Copa America, meski begitu walau sudah nyetel-nya Messi di timnas, seharusnya minimal sekali saja dia mampu membawa Argentina juara, namun kenyataannya sangat pahit. Selepas laga final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan berujar akan pensiun dari tim nasional Argentina!

Ternyata pemain terbaik dunia pun bisa mengalami frustasi hebat, Messi adalah contohnya. Pernyataan Messi untuk pensiun juga dirumorkan menular ke pemain Argentina lain; Sergio Aguero, Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, dan Gonzalo Higuain dikabarkan mempunyai keinginan yang sama seperti La Pulga.

Hattrick kegagalan menjadi juara dalam tiga turnamen besar terakhir membuat perhatian dunia tertuju pada Lionel Messi, ketidakmampuan membawa Argentina juara di pentas besar internasional adalah salah satu borok yang ada pada diri pemain terbaik dunia empat kali ini.

Kritik juga mulai sering dilayangkan kepada dirinya, dia dinilai hanya bisa bermain dalam skema ticqui-taka dan tidak bisa bermain dengan skema lain, perbandingan saat di Barcelona dan Argentina adalah bukti nyata.

Legenda hidup Argentina yang juga mantan pemain Barcelona, Diego Maradona pun juga mengkritik Messi karena tidak punya personalitas, tidak ada aura kepemimpinan pada dirinya.

Sepertinya segala hal yang sedang terjadi di Argentina justru berujung antiklimaks bagi Messi, disaat usianya menuju akhir keemasan (29 tahun), dia belum sekalipun mempersembahkan gelar juara bagi Argentina di turnamen besar, medali emas Olimpiade 2008 tidak termasuk karena dalam hal ini gema kejuaraan olahraga tersebut jelas tidak sebanding dengan Copa America dan terlebih Piala Dunia.

Messi benar-benar frustasi hingga berkeinginan pensiun dari timnas, hal ini juga menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo pun berpendapat belum saatnya Messi mundur dari Argentina, karena dia masih dibutuhkan oleh Albiceleste.

Malang sekali nasib Messi, disaat dia gagal juara dan frustasi hingga berucap ingin pensiun, Cristiano Ronaldo justru sukses bersama Real Madrid dan Portugal. Juara Liga Champions dan Piala Eropa membuat Ronaldo “semakin sempurna” disebut sebagai yang terbaik di dunia, karena dia sukses bersama klub dan juga tim nasional.

Messi belum mampu melakukan ini meski punya kesempatan besar untuk juara dengan Argentina, sehingga dia belum layak dikatakan “sempurna” karena belum pernah berjaya bersama Argentina di kejuaraan besar.

Apalagi pasca gelaran Copa America  yang lalu, dia dihukum dengan vonis 21 bulan penjara oleh pengadilan Spanyol atas kasus penggelapan pajak yang melibatkan dia dan ayah yang sekaligus agennya, Jorge Messi. Nestapa untuk Messi, begitulah kiranya apa yang dialami oleh pemain terbaik dunia ini.

Foto: dailymotion.com

Pemain “Kedua Belas”

Dalam sepakbola ada beberapa hal yang sangat menarik terkait perjalanan drama-drama didalamnya. Ada pemain, ada pelatih, dan ada juga suporter. Kehidupan sepakbola tidak dapat dipisahkan dari suporter, karena tanpa mereka sepakbola tidak akan dinamis.

Bayangkan pertandingan sepakbola dari awal musim hingga akhir musim tidak diramaikan oleh bising nyanyian, tepuk tangan, sorak sorai, ekspresi-ekspresi ketika terciptanya sebuah gol.

Bahkan umpatan dan siulan dari suporter tim di dalam stadion, apakah kamu rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi untuk menonton pertandingan bola tersebut?

Tentu jawaban pastinya adalah tidak. Suporter adalah elemen penting dalam pertandingan sepakbola, tanpa keberadaan mereka yang berteriak-teriak dan bernyanyi dalam stadion, sebuah pertandingan sebesar final Piala Dunia pun tentu akan kalah menarik dibanding dengan acara demo memasak ditelevisi.

Suporter jelas menjadi magnet tersendiri, pertama bagi pemain-pemain dalam sebuah klub dukungan dari mereka sepanjang pertandingan menjadi faktor penambah semangat.

Bagi pemain ketika menjalani sebuah pertandingan, para suporter juga bisa menjadi pihak yang memberi tekanan pada pemain klub lawan, siulan, ejekan dan bahkan umpatan mereka pada pemain musuh terkadang mampu merusak mentalitas pemain musuh tersebut sehingga itu akan menguntungkan pemain tuan rumah.

Yang kedua tentu saja bagi klub, mereka adalah sumber pendapatan dengan membeli tiket untuk menonton pertandingan di stadion, selain itu klub juga menjadikan suporter sebagai lahan pemasaran merchandise atau pernak pernik terkait klub seperti jersey, topi, atau pun pernak-pernik lainnya yang dapat memberi keuntungan bagi pihak klub.

Dan masih banyak pihak lainnya baik itu di dalam ataupun luar sepakbola yang terkena dampak positif karena keberadaan suporter sepakbola.

 Penonton sepakbola itu sendiri ada berbagai macam, ada yang menjadikan sepakbola dan menonton langsung ke stadion hanya karena sebagai pemanfaatan waktu luang untuk sekedar hang-out atau karena memang sengaja datang karena punya kepentingan tertentu

Ada yang datang ke stadion hanya karena senang terhadap sepakbola, ada yang datang ke stadion karena memang benar-benar mendukung tim yang diidolainya dan ada berbagai macam lagi niatan seorang datang ke stadion untuk menonton sepakbola.

Jadi munculah istilah tertentu untuk orang yang datang ke stadion untuk menonton sepakbola, untuk orang yang datang hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan menonton sepakbola atau karena punya kepentingan tertentu seperti menonton keluarga, teman atau relasi lainnya yang bermain bola, mereka dapat dikatakan sebagai penonton biasa.

Biasanya mereka kurang tertarik terhadap sepakbola, namun karena punya waktu luang, ingin mencari hiburan/rekreasi atau punya relasi dengan orang yang bermain sepakbola, sehingga mereka pun datang untuk menonton ke stadion.

Yang kedua adalah orang yang senang dengan sepakbola, mereka datang ke stadion karena memang benar-benar suka dengan sepakbola. Mereka bisa jadi mendukung tim tuan rumah atau tim lawan, atau bisa juga karena sepakbola adalah hal yang dia sukai. Mereka yang merupakan jenis kedua ini bisa disebut sebagai fans.

Mereka bisa saja mendukung tim tertentu atau juga ke stadion hanya karena senang dengan sepakbola, kedatangan mereka ke stadion juga tak mesti setiap saat ada, tidak seperti jenis ketiga dan yang paling penting keberadaannya di dalam stadion, mereka adalah supporter  bertransformasi dari kata supporting yang artinya mendukung.

Jenis penonton sepakbola yang datang ke stadion dan dinamakan suporter inilah yang membuat kehebohan, semarak, dan keriuahan dalam stadion. Mereka yang dinamakan suporter akan datang ke stadion entah kandang atau tandang demi menonton tim yang kesayangannya.

Dapat dikatakan mereka adalah orang-orang “die hard” diantara seluruh isi stadion. Mereka biasanya membentuk kelompok atau grup yang mencirikan identitas mereka sebagai pendukung tim.

Merekalah yang tiada henti sepanjang pertandingan menyemangati dan menyanyi untuk tim kesayangannya. Mereka juga lah yang selalu berusaha membuat mental pemain lawan jatuh dengan ejekan-ejekan, siulan, dan umpatan-umpatannya.

Yang membuat koreografi unik, menyalakan flare, bernyanyi, berteriak-teriak dan berbagai aksi-aksi lainnya mereka itulah yang disebut sebagai suporter, terkadang suporter juga bisa menjadi perwujudan wajah humanis klub kepada publik.

Dalam berbagai hal seperti perayaan hari penting ataupun ketika ada peristiwa yang dunia yang menyita perhatian, seringkali suporter menjadi garda terdepan dalam menyampaikan hal tersebut ataupun menyampaikan simpati terhadap suatu peristiwa.

Dengan perilaku tersebut, citra sebuah klub di publik dan masyarakat otomatis diuntungkan. Akan tetapi tak jarang mereka juga berani mengkritik kebijakan klub atau pemainan tim melalui spanduk-spanduk atau banner dalam stadion, bisa juga mereka mendatangi dan menekan pemain ketika latihan karena permainan buruk timnya. Intinya suporter adalah elemen penting bagi klub, sebagai penyedia sumber pemasukan bagi klub, pendukung pemain, pengritik klub maupun pemain.

Saat ini penamaan suporter klub berbeda-beda tiap negara, di Inggris orang yang total dalam mendukung klubnya dikatakan Hooligans¸ lalu di Italia suporter disebut dengan Tifosi, bahkan ada penyebutan lain untuk suporter garis keras (yang benar-benar cinta mati kepada klub) dengan sebutan Ultras.

Suporter menjadi bagian tak terpisahkan dari sepakbola, tanpa mereka sepakbola kuranglah sedap untuk dinikmati. Dan apalagi bagi pemain yang sedang berlaga dilapangan, dukungan mereka sangatlah penting.

Bahkan saking pentingnya dukungan suporter bagi permainan sebuah tim sampai-sampai memunculkan julukan baru untuk suporter yaitu “pemain ke dua belas” bagi sebuah tim. Dan juga semoga kerusuhan antar suporter bisa berkurang hari demi hari, amin.

Sumber foto: bola.com