Berani Bersaing

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana. Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana.

Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Advertisements

Satu Yang Sempurna

Siapa tidak tahu Cristiano Ronaldo, nama pemain ini di internet bahkan menjadi kata yang paling banyak dicari di mesin pencarian ternama, Google. Peraih tiga Ballon D’Or, dan tiga trofi Liga Champions ini sedang menikmati masa dimana dia bisa disebut sempurna, sebagai pemain terbaik dunia.

Kenapa bisa disebut seperti itu? Karena Ronaldo baru saja menjuarai Euro 2016 bersama Portugal, memang bukan dirinya saja yang berperan terhadap kesuksesan Portugal itu, namun peran Ronaldo tetaplah vital dalam perjalanan Portugal menuju final Euro.

Dia menjadi penyelamat yang membuat Portugal lolos dari grup H dengan mencetak dua gol ke gawang Hungaria dan  satu gol-nya saat lawan Wales di semifinal juga penting karena mampu melepaskan beban pada kubu Portugal ketika melawan Wales.

Ronaldo yang sudah meraih segalanya di level klub bersama Real Madrid pun akhirnya bisa melengkapi koleksi gelarnya di level tim national, sempurna lah apabila dia sah disebut sebagai pemain terbaik dunia.

Banyak pemain hebat di dunia, namun jarang yang mampu meraih gelar baik itu di klub dan tim nasional. Karena pemain terbaik dunia adalah mereka yang dianugerahi trofi Ballon D’Or, maka pertanyaan yang timbul apakah penerima Ballon D’Or itu berprestasi di klub dan tim nasional?

Ternyata belum tentu. Untuk meraih Bola Emas memang tidak harus secara bersamaan punya prestasi di klub dan tim nasional, namun peraih Ballon D’Or atau Bola Emas ini setidaknya mampu berprestasi di klub dan tim nasional meski tidak secara bersamaan.

Ronaldinho dan Zidane adalah contohnya, dua pemain ini pernah meraih Ballon d’Or, Liga Champions di level klub dan Piala Dunia untuk tim nasional masing-masing. Zinedine Zidane, legenda sepakbola Perancis meraih Liga Champions (Madrid 2002), bersama Perancis sukses dengan Piala Dunia (1998) dan bahkan Piala Eropa (2000).

Zidane sendiri memenangi Ballon d’Or di tahun 1998 berkat performanya di Piala Dunia 1998 yang digelar di tanah kelahiran, Perancis. Ronaldinho pernah mengantarkan Brazil juara Piala Dunia 2002 Korea & Jepang, dan dia pun juara Liga Champions 2006 bersama Barcelona. Sementara Ballon d’Or diperoleh pemain yang terkenal penuh senyuman ini juga pada tahun 2006.

Maka tak heran sebutan pemain terbaik dunia benar-benar pantas disematkan untuk mereka, selain mampu memberikan gelar juara terbaik untuk klub, juga mampu melakukan hal yang sama untuk tim nasional negara-nya.

Dalam hal ini Cristiano Ronaldo sudah membuktikannya, pemenang Ballon d’Or tiga kali ini sudah meraih tiga trofi Liga Champions (satu bersama Manchester United dan dua bersama Real Madrid) dan baru saja meraih gelar juara pertama di level tim nasional ketika mengantar Portugal menjadi juara Euro 2016.

Maka sebutan pemain terbaik dunia, sempurna jika diberikan untuk Ronaldo dengan perolehannya selama ini. Hal ini bukan berarti merendahkan capaian pemain lain yang juga pernah meraih Ballon d’Or, tetapi karena mampu berprestasi di klub dan tim nasional merupakan bukti pemain tersebut ialah pemain spesial dan benar-benar “best player in the world”. Semoga saja Ronaldo mampu menjaga performanya dan terus menorehkan rekor, Vamos CR7!!

Foto dari independent.co.uk

Nestapa Messi

Nama lengkapnya adalah Lionel Andres Messi, orang Argentina kelahiran 24 Juni 1987 di Rosario ini disebut-sebut sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Deretan gelar bergengsi pernah dia raih dan lima trofi Ballon D’Or adalah menjadi bukti penegas bahwa Messi adalah pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Benar dan tidak salah memang jika Messi disebut sebagai yang terbaik, namun ternyata kehebatan Messi baru muncul di level klub saja, karena semua gelar juara dan tambahan gelar individu yang ia raih adalah karena permainannya di Barcelona, sementara di level negara prestasi pemain yang dijuluki La Pulga Atomica ini adalah minim untuk Argentina.

Ya, Messi belum pernah mengantar Argentina menjadi juara di turnamen besar antar negara, baik itu Copa America atau Piala Dunia, Messi selalu gagal membantu negaranya menjadi juara. Padahal jika melihat materi pemain, Argentina tidak kering kualitas, lihat saja berjejal world class players disekeliling Messi.

Ada Angel di Maria, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, Javier Mascherano dan masih banyak pemain lagi yang seharusnya menjadikan Argentina, yang juga dikapteni oleh Messi saat ini, setidaknya bisa sekali saja menjadi juara di turnamen besar antar negara.

Namun fakta tidak demikian, semenjak Messi melakukan debut di Piala Dunia 2006 (turnamen besar pertama Messi bersama tim nasional Argentina dan dia berstatus wonder kid saat itu) hingga yang terakhir di gelaran Copa America Centenario 2016, prestasi paling maksimal yang dia sumbangkan ke Argentina hanyalah membawa Argentina menjadi runner-up seperti di Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014.

Messi yang sangat bersinar bersama Barcelona, namun seketika melempem kala bermain di skuat Albiceleste, ada apa dengan Messi di Argentina?

Banyak spekulasi yang bermunculan, pertama adalah perbedaan jauh dari segi kualitas antara skuad Barcelona dan Argentina, memang bisa diasumsikan seperti itu karena kita tahu Barcelona selalu diperkuat pemain-pemain yang masuk kategori terbaik dunia, sedangkan di Argentina kualitasnya tidak merata karena disetiap lini belum tentu ada pemain bintang dunia.

Namun yang menjadi pertanyaan, bukankah seharusnya Messi mampu menjadi pembeda dan penyelamat bagi Argentina?

Maradona sukses bukan karena dia saja yang membawa Argentina ditakuti dalam sepakbola, namun ada bantuan dari rekan hebat lain dalam tim.

Argentina saat ini sebenarnya juga seperti itu, Messi ditemani pemain berkualitas di timnas, dan seharusnya juga di lapangan tidak selalu Messi yang meminta dirinya “dibawa” ke permainan terbaik oleh pemain sekelilingnya.

Tetapi dia juga harus mampu “membawa” pemain-pemain lain untuk mencapai bentuk terbaiknya, sehingga dia mampu meraih apa yang Maradona juga raih dulu.

Kegelisahan terhadap Messi pernah menjadi perbincangan serius di tubuh skuat Argentina pada medio 2007 hingga 2010-an, ketika itu banyak orang yang sangat terkesima dengan Messi di Barelona, namun permainan dia di timnas berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan bersama klub Catalan itu. Beberapa pihak menyebut faktor suplai bola menjadi kendala bagi Messi di timnas Argentina.

Benar, karena di Barca Messi ditemani dua kreator permainan hebat dalam diri Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, belum lagi pola permainan ticqui-taka ala Barcelona yang mengandalkan umpan satu-dua dan penguasaan bola menjadikan Messi sangat nyaman. Hal itu berbeda jauh, karena di Argentina tidak tersedia playmaker jempolan yang selevel Xavi dan Iniesta antara 2007 hingga 2010-an.

Juan Roman Riquelme seharusnya bisa dikedepankan, diapun bahkan sudah menjadi pengatur serangan utama Argentina sejak Piala Dunia 2006 hingga Copa America 2007.

Namun meski gaya mainnya lumayan klop dengan Messi, Riquelme belum bisa menjadi “Xavi” bagi Messi di Argentina, menjelang Piala Dunia 2010 dia tidak dipanggil, selain alasan teknis dia juga punya masalah pribadi dengan Diego Maradona, legenda hidup yang menjadi pelatih tim Tango saat itu.

Juan Sebastian Veron dipilih sebagai pengganti Riquelme, meski sudah uzur dia tetap dipilih karena tiada lagi stok playmaker handal. Veron yang pada 2010 bermain di Estudiantes diharapkan mampu menjadi “Xavi” untuk Argentina, apalagi dia berpengalaman memperkuat sejumlah tim besar seperti Manchester United, Inter, dan Lazio.

Namun hasilnya sama saja, potensi Messi tetap redup di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Faktor gaya permainan juga menjadi problem tambahan, Argentina tidak mampu bermain seperti ticqui-taka ala Barca dan Messi pun redup juga karenanya.

Namun sebagai pemain terbaik dunia, gaya main seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Messi untuk bermain baik, kalau dia memang pantas disebut pemain terbaik dunia, seharusnya dia cocok bermain dengan sistem permainan apapun, tidak harus melulu dengan ticqui-taka.

Mulai sejak saat akhirnya publik tau bahwa permainan Messi belum tentu optimal jika tidak bermain dengan ticqui-taka, hal ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Messi dan Argentina yang menggantungkan asa pada dirinya.

Era berganti dari Riquelme dan Veron, menjadi Angel Di Maria dan Javier Pastore. Beruntung bagi Messi karena dua pemain kreatif ini muncul dan mulai menjadi andalan hampir bersamaan sehingga menambah variasi penyuplai bola yang tidak hanya pada satu orang. Argentina hampir berhasil menjadi jawara Copa America 2011 di kandang sendiri sebelum dikalahkan negara tetangga, Uruguay di semifinal.

Tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut Argentina menjadi finalis di Piala Dunia dan Copa America, meski begitu walau sudah nyetel-nya Messi di timnas, seharusnya minimal sekali saja dia mampu membawa Argentina juara, namun kenyataannya sangat pahit. Selepas laga final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan berujar akan pensiun dari tim nasional Argentina!

Ternyata pemain terbaik dunia pun bisa mengalami frustasi hebat, Messi adalah contohnya. Pernyataan Messi untuk pensiun juga dirumorkan menular ke pemain Argentina lain; Sergio Aguero, Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, dan Gonzalo Higuain dikabarkan mempunyai keinginan yang sama seperti La Pulga.

Hattrick kegagalan menjadi juara dalam tiga turnamen besar terakhir membuat perhatian dunia tertuju pada Lionel Messi, ketidakmampuan membawa Argentina juara di pentas besar internasional adalah salah satu borok yang ada pada diri pemain terbaik dunia empat kali ini.

Kritik juga mulai sering dilayangkan kepada dirinya, dia dinilai hanya bisa bermain dalam skema ticqui-taka dan tidak bisa bermain dengan skema lain, perbandingan saat di Barcelona dan Argentina adalah bukti nyata.

Legenda hidup Argentina yang juga mantan pemain Barcelona, Diego Maradona pun juga mengkritik Messi karena tidak punya personalitas, tidak ada aura kepemimpinan pada dirinya.

Sepertinya segala hal yang sedang terjadi di Argentina justru berujung antiklimaks bagi Messi, disaat usianya menuju akhir keemasan (29 tahun), dia belum sekalipun mempersembahkan gelar juara bagi Argentina di turnamen besar, medali emas Olimpiade 2008 tidak termasuk karena dalam hal ini gema kejuaraan olahraga tersebut jelas tidak sebanding dengan Copa America dan terlebih Piala Dunia.

Messi benar-benar frustasi hingga berkeinginan pensiun dari timnas, hal ini juga menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo pun berpendapat belum saatnya Messi mundur dari Argentina, karena dia masih dibutuhkan oleh Albiceleste.

Malang sekali nasib Messi, disaat dia gagal juara dan frustasi hingga berucap ingin pensiun, Cristiano Ronaldo justru sukses bersama Real Madrid dan Portugal. Juara Liga Champions dan Piala Eropa membuat Ronaldo “semakin sempurna” disebut sebagai yang terbaik di dunia, karena dia sukses bersama klub dan juga tim nasional.

Messi belum mampu melakukan ini meski punya kesempatan besar untuk juara dengan Argentina, sehingga dia belum layak dikatakan “sempurna” karena belum pernah berjaya bersama Argentina di kejuaraan besar.

Apalagi pasca gelaran Copa America  yang lalu, dia dihukum dengan vonis 21 bulan penjara oleh pengadilan Spanyol atas kasus penggelapan pajak yang melibatkan dia dan ayah yang sekaligus agennya, Jorge Messi. Nestapa untuk Messi, begitulah kiranya apa yang dialami oleh pemain terbaik dunia ini.

Foto: dailymotion.com

Pemain “Kedua Belas”

Dalam sepakbola ada beberapa hal yang sangat menarik terkait perjalanan drama-drama didalamnya. Ada pemain, ada pelatih, dan ada juga suporter. Kehidupan sepakbola tidak dapat dipisahkan dari suporter, karena tanpa mereka sepakbola tidak akan dinamis.

Bayangkan pertandingan sepakbola dari awal musim hingga akhir musim tidak diramaikan oleh bising nyanyian, tepuk tangan, sorak sorai, ekspresi-ekspresi ketika terciptanya sebuah gol.

Bahkan umpatan dan siulan dari suporter tim di dalam stadion, apakah kamu rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi untuk menonton pertandingan bola tersebut?

Tentu jawaban pastinya adalah tidak. Suporter adalah elemen penting dalam pertandingan sepakbola, tanpa keberadaan mereka yang berteriak-teriak dan bernyanyi dalam stadion, sebuah pertandingan sebesar final Piala Dunia pun tentu akan kalah menarik dibanding dengan acara demo memasak ditelevisi.

Suporter jelas menjadi magnet tersendiri, pertama bagi pemain-pemain dalam sebuah klub dukungan dari mereka sepanjang pertandingan menjadi faktor penambah semangat.

Bagi pemain ketika menjalani sebuah pertandingan, para suporter juga bisa menjadi pihak yang memberi tekanan pada pemain klub lawan, siulan, ejekan dan bahkan umpatan mereka pada pemain musuh terkadang mampu merusak mentalitas pemain musuh tersebut sehingga itu akan menguntungkan pemain tuan rumah.

Yang kedua tentu saja bagi klub, mereka adalah sumber pendapatan dengan membeli tiket untuk menonton pertandingan di stadion, selain itu klub juga menjadikan suporter sebagai lahan pemasaran merchandise atau pernak pernik terkait klub seperti jersey, topi, atau pun pernak-pernik lainnya yang dapat memberi keuntungan bagi pihak klub.

Dan masih banyak pihak lainnya baik itu di dalam ataupun luar sepakbola yang terkena dampak positif karena keberadaan suporter sepakbola.

 Penonton sepakbola itu sendiri ada berbagai macam, ada yang menjadikan sepakbola dan menonton langsung ke stadion hanya karena sebagai pemanfaatan waktu luang untuk sekedar hang-out atau karena memang sengaja datang karena punya kepentingan tertentu

Ada yang datang ke stadion hanya karena senang terhadap sepakbola, ada yang datang ke stadion karena memang benar-benar mendukung tim yang diidolainya dan ada berbagai macam lagi niatan seorang datang ke stadion untuk menonton sepakbola.

Jadi munculah istilah tertentu untuk orang yang datang ke stadion untuk menonton sepakbola, untuk orang yang datang hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan menonton sepakbola atau karena punya kepentingan tertentu seperti menonton keluarga, teman atau relasi lainnya yang bermain bola, mereka dapat dikatakan sebagai penonton biasa.

Biasanya mereka kurang tertarik terhadap sepakbola, namun karena punya waktu luang, ingin mencari hiburan/rekreasi atau punya relasi dengan orang yang bermain sepakbola, sehingga mereka pun datang untuk menonton ke stadion.

Yang kedua adalah orang yang senang dengan sepakbola, mereka datang ke stadion karena memang benar-benar suka dengan sepakbola. Mereka bisa jadi mendukung tim tuan rumah atau tim lawan, atau bisa juga karena sepakbola adalah hal yang dia sukai. Mereka yang merupakan jenis kedua ini bisa disebut sebagai fans.

Mereka bisa saja mendukung tim tertentu atau juga ke stadion hanya karena senang dengan sepakbola, kedatangan mereka ke stadion juga tak mesti setiap saat ada, tidak seperti jenis ketiga dan yang paling penting keberadaannya di dalam stadion, mereka adalah supporter  bertransformasi dari kata supporting yang artinya mendukung.

Jenis penonton sepakbola yang datang ke stadion dan dinamakan suporter inilah yang membuat kehebohan, semarak, dan keriuahan dalam stadion. Mereka yang dinamakan suporter akan datang ke stadion entah kandang atau tandang demi menonton tim yang kesayangannya.

Dapat dikatakan mereka adalah orang-orang “die hard” diantara seluruh isi stadion. Mereka biasanya membentuk kelompok atau grup yang mencirikan identitas mereka sebagai pendukung tim.

Merekalah yang tiada henti sepanjang pertandingan menyemangati dan menyanyi untuk tim kesayangannya. Mereka juga lah yang selalu berusaha membuat mental pemain lawan jatuh dengan ejekan-ejekan, siulan, dan umpatan-umpatannya.

Yang membuat koreografi unik, menyalakan flare, bernyanyi, berteriak-teriak dan berbagai aksi-aksi lainnya mereka itulah yang disebut sebagai suporter, terkadang suporter juga bisa menjadi perwujudan wajah humanis klub kepada publik.

Dalam berbagai hal seperti perayaan hari penting ataupun ketika ada peristiwa yang dunia yang menyita perhatian, seringkali suporter menjadi garda terdepan dalam menyampaikan hal tersebut ataupun menyampaikan simpati terhadap suatu peristiwa.

Dengan perilaku tersebut, citra sebuah klub di publik dan masyarakat otomatis diuntungkan. Akan tetapi tak jarang mereka juga berani mengkritik kebijakan klub atau pemainan tim melalui spanduk-spanduk atau banner dalam stadion, bisa juga mereka mendatangi dan menekan pemain ketika latihan karena permainan buruk timnya. Intinya suporter adalah elemen penting bagi klub, sebagai penyedia sumber pemasukan bagi klub, pendukung pemain, pengritik klub maupun pemain.

Saat ini penamaan suporter klub berbeda-beda tiap negara, di Inggris orang yang total dalam mendukung klubnya dikatakan Hooligans¸ lalu di Italia suporter disebut dengan Tifosi, bahkan ada penyebutan lain untuk suporter garis keras (yang benar-benar cinta mati kepada klub) dengan sebutan Ultras.

Suporter menjadi bagian tak terpisahkan dari sepakbola, tanpa mereka sepakbola kuranglah sedap untuk dinikmati. Dan apalagi bagi pemain yang sedang berlaga dilapangan, dukungan mereka sangatlah penting.

Bahkan saking pentingnya dukungan suporter bagi permainan sebuah tim sampai-sampai memunculkan julukan baru untuk suporter yaitu “pemain ke dua belas” bagi sebuah tim. Dan juga semoga kerusuhan antar suporter bisa berkurang hari demi hari, amin.

Sumber foto: bola.com