Image

Menjadi Pelatih Bola? Mudah.

Bagi yang benar-benar suka dengan sepakbola, pastilah tau game bernama Football Manager. Dalam permainan virtual yang umumnya di PC ini, anda akan merasakan sensasi seakan-akan anda menjadi pelatih sepakbola sesungguhnya. Ya, dalam game yang dikembangkan oleh SEGA ini anda tidak hanya mengurusi taktik bermain atau menggonta-ganti pemain saja.

Lebih dari itu anda bisa melakukan transfer pemain, mengembangkan pemain akademi, dan merekut staf kepelatihan termasuk fisioterapi, juga mengontrak scout (pemandu bakat) pun bisa anda lakukan sendiri. Masih kurang?

Anda bisa juga berkomunikasi dengan manajemen klub perihal meminta budget transfer dinaikkan, mengubah pola perekrutan pemain junior, sampai mengajukan renovasi dan bahkan membuat stadion baru! Anda benar-benar menjadi super manager di Football Manager.

Football Manager memang memuaskan hasrat, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan menjadi manajer di sebuah klub, apalagi anda bisa melatih klub besar secara langsung dari awal ketika memulai game ini.

Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan strategi permainan, memonitor player’s development, atau memantau harga pemain yang diincar rasanya tetap senang-senang saja.

Tetapi lebih menyenangkan lagi apabila kita memulai dengan berjuang menggunakan klub kecil dan mampu membawa klub itu juara dimana-mana, kepuasan dan kebanggan sudah pasti bercampur jadi satu.

Dalam FM, interaksi dibuat seperti kenyataan. Terdapatnya emosi-emosi yang berbeda tiap individu akan menentukan keberlangsungan permainan, ketika itu terjadi interaksi antar pelatih dengan pemain, dengan agen, dengan sesama pelatih ataupun dengan manajemen. Game ini begitu realistis menampilkan hal-hal yang seperti pada kenyataan. Segalanya yang anda inginkan sebagai pelatih sepakbola ada di dalam game Football Manager atau yang biasa disebut dengan FM ini.

Meski sudah dibuat senyata mungkin seperti kenyataan, pada akhirnya yang namanya permainan tetap saja permainan, bukan kenyataan. Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah yang dilakukan di FM. Tekanan yang dirasakan pasti berbeda, interaksi yang terjadi antar elemen dalam sepakbola juga berbeda.

Menghadapi pemain dalam kenyataan tentu berbeda dari sekedar permainan. Persiapan dan intensitas dalam latihan juga berbeda jauh antara game dan kenyataan. Menjadi pelatih betulan, kita belum tentu bisa meminta ini itu segampang seperti di FM.

Berarti kesimpulannya, menjadi pelatih bola itu sangat mudah, tetapi dalam game. Sedangkan pada kenyataan, menjadi pelatih itu gampang-gampang susah atau mungkin lebih banyak susahnya daripada yang mudah-mudah.

Football Manager
Kini semua orang bisa jadi “pelatih”, bahkan “manajer”.

Di sisi lain ketika kita berbicara game, maka tidak lupa pula bahwa game itu mudah dimanipulasi alias bisa dimainkan dengan cara yang tidak fair. Dalam FM, pasti semua sudah tau ketika akan menjalani pertandingan kita akan save dulu. Jika menang kita lanjutkan game, dan jika imbang apalagi kalah, kadang-kadang kita loading ulang kan?

Nah, hal inilah yang tidak mungkin dalam kejadian nyata dunia kepelatihan yang memang riil. Satu pertandingan bisa sangat krusial dalam dunia nyata, sementara dalam permainan PC hal ini bisa diutak-atik untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah dalam permainan seperti FM. Namun setidaknya game ini bisa menjadi pelepas dahaga bagi orang yang sangat ingin merasakan sensasi “memberi instruksi” bagi para pemain dari pinggir lapangan. Meski itu hanya dari dimensi virtual game, yang bernama Football Manager.

Foto: CNN.com dan Football Manager

Advertisements

Dua Raksasa

Spanyol sedang dalam masa kejayaan sepakbola, dalam dekade belakangan ini baik itu tim nasional ataupun klub asal Spanyol sama-sama mampu mendominasi Eropa atau bahkan juga dunia.

Tim nasional Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, tidak ada tim nasional lain yang mampu menyamai rekor juara beruntun seperti itu dimanapun. Sejak 2006 hingga 2016 (sudah 10 musim terakhir ini), sudah 6 kali pula Liga Champions dikuasai tim dari Spanyol dengan rincian; Barcelona 4 dan Real Madrid 2 juara.

Begitu juga di kompetisi kasta kedua, Europa League dimana Spanyol terlalu tangguh untuk tim dari negara lain, tercatat sejak musim 2005-2006 hingga 2015-2016, tujuh kali yang menjadi juara adalah klub Spanyol. Atletico Madrid dua kali sementara Sevilla lima kali yang bahkan tiga dari lima trofi tersebut diraih dalam tiga musim akhir ini. Luar biasa, Spanyol benar-benar dalam puncak kejayaan.

Apa yang menjadikan Spanyol begitu menkutkan dalam dunia sepakbola akhir-akhir ini? Jawabannya tidak lain karena duo Clasico, Real Madrid dan Barcelona, persaingan antar rival abadi penuh sejarah ini menjadikan sepakbola Spanyol begitu hebat. Harus diakui, Madrid dan Barca adalah dua tim terbaik dunia, kerja keras dua tim tersebut untuk selalu mendominasi satu sama lain berdampak positif bagi Spanyol.

Pemain berkualitas bintang dunia selalu hadir mengisi skuad kedua tim tersebut, keberadaan pemain Spanyol di dua tim tersebut juga menguntungkan tim nasional Spanyol. Ketika menjuarai Euro 2008, Euro 2012 dan Piala Dunia 2010 juga berkat keberadaan pemain-pemain dari dua tim ini.

Imbas lain adalah meningkatnya level permainan tim lain diluar El Clasico, tim seperti Atletico, Sevilla, Villareal, dan tim-tim lain saling berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu kenyaman Madrid dan Barcelona.

Hal itu justru tidak terasa membuat banyak tim Spanyol lain mengalami kenaikan level kualitas. Bersaing dengan dua tim yang “terbaik dunia” di liga, membuat mereka mau tidak mau harus terus meningkat secara kualitas jika tidak ingin hanya menjadi penonton di liga. Dampaknya begitu terasa, meski di liga hanya Atletico yang mampu juara selain Madrid-Barca dalam kurum 10 tahun ini dan itupun hanya sekali (musim 2013-2014). Tetapi peningkatan level tim Spanyol diluar Madrid-Barca terlihat ketika beraksi di kompetisi Eropa beberapa tahun terakhir.

Atletico bisa muncul dua kali di final Liga Champions dalam tiga tahun terkahir, tentu ini pencapaian luar biasa bagi klub seperti Atletico. Terkurung dalam bayang-bayang El Clasico di La Liga, tak membuat nyali Atleti di Liga Champions ikut menciut. Sevilla juga begitu, meski jarang finis di peringkat empat besar (zona Liga Champions) dalam 10 tahun terakhir, klub Andalusia tersebut sudah menjadi raja Liga Eropa selama tiga musim ini berturut-turut, rekor!

Setidaknya dalam lima musim terakhir, hampir selalu ada wakil Spanyol di semifinal kejuaraan Eropa bahkan hingga ke final, baik itu Liga Champions atau Liga Eropa. Tren ini menjadi bukti, klub dari La Liga memang lebih bagus daripada kompetisi negara lain, bahkan lebih baik dari Premier League yang disebut-sebut sebagai liga dengan klub-klub terbaik di dunia.

Sudah terbukti bahwa klub asal Spanyol paling superior jika bermain di pentas Eropa dan disadari atau tidak kualitas mereka terkerek naik karena mau tidak mau dengan penuh tenaga harus mengimbangi kualitas Madrid-Barca, yang memang tiada tandingnya di liga, jadi ketika klub Spanyol tersebut bertemu klub negara lain yang bahkan secara reputasi lebih besar, mereka mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan.

Musim lalu contohnya, Atletico mampu mengalahkan Munchen yang notabene disebut sudah satu level dengan Madrid-Barca, sedangkan Sevilla mengubur impian Liverpool di Liga Eropa, padahal reputasi Liverpool jauh lebih diatas dari Sevilla.

Efek persaingan di liga dengan Madrid-Barca terbukti berdampak signifikan bagi klub Spanyol lain, meski mereka babak belur di liga ternyata ketika bertanding di Eropa, kualitas dan mentalitas mereka mampu menandingi dan bahkan mengalahkan tim-tim kuat di Eropa karena “sudah terbiasa” berjibaku melawan dua tim terbaik dunia di liga sendiri.

Bahkan efek dua klub ini benar-benar meresap di Spanyol, jika ada klub mempunyai nama “real” dan atau mempunyai lambang mahkota di logo-nya, dapat dipastikan klub itu adalah klub pendukung kerajaan seperti Real Madrid. Jika ada klub berlogo “belang-belang” maka itu adalah klub yang berideologi pada kemerdekaan suku-suku dari kerajaan, klub dari Basque, Valencia, dan paling vokal dalam hal ini tentu klub asal Catalan paling sukses dekade ini, Barcelona.

Kembali ke persaingan juara, keberadaan Madrid-Barca membuat La Liga terasa lumayan membosankan. Namun hal ini dapat dimaklumi karena kesenjangan tersebut bukan karena blunder, inkonsistensi atau atau kemalasan klub lain berbenah, hal ini lebih karena perbedaan kualitas yang terlalu jauh antara Madrid-Barca dengan klub Spanyol lain.

Selain mempunyai tradisi kuat, pendapatan kedua klub tersebut juga sangat tinggi dibandingkan klub lain, maka dari tahun ke tahun makin kuat sajalah materi pemain Madrid-Barca karena kekuatan ekonomi duo ini tidak tertandingi klub Spanyol lain.

Setiap musim yang muncul dalam prediksi berbagai media adalah siapa yang akan juara, Madrid atau Barca? Klub lain seperti hanya ditakdirkan maksimal hanya untuk merebut jatah tiket ke Eropa dan tidak untuk juara liga, paling hanya Atletico yang punya potensi mengejutkan, namun kekuatan mereka sering digerus, karena seringnya Atletico tergoda menjual pemain bintangnya.

Musim ini juga tidak banyak berubah, Madrid-Barca masih terlalu kuat bagi klub lain, hal itu dapat dilihat dari Atlas-Bajas (lalu lintas transfer pemain) musim panas ini. Barcelona sangat jor-joran membelanjakan uang-nya, kedatangan Paco Alcacer, Andre Gomes, Denis Suarez, Lucas Digne, Samuel Umtiti, dan Jasper Cillessen menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Yang menjadi pertanyaan, tetaspi apakah terlalu mahal untuk hanya sekedar dijadikan pelapis bagi pemain inti? Alcacer bermain ketika salah satu dari trio MSN tidak bermain, Denis Suarez dan Gomes akan bermain ketika Iniesta atau Rakitic tidak dapat merumput dan juga masih ada Arda Turan yang bisa menjadi pelapis MSN dan Iniesta-Rakitic, Digne sebagai pelapis Jordi Alba, Umtiti menjadi pelapis duet bek tengah Mascherano-Pique dan Cillessen pilihan nomor dua dibawah mistar setelah Marc-Andre Ter Stegen. Memang mahal bagi pemain yang diproyeksikan sebagai pelapis tim utama, namun  ini menunjukkan bahwa Barca ingin mempunyai skuad yang dalam dengan materi tidak terlalu jauh jarak kualitasnya antara pemain inti dan cadangan.

Madrid musim ini tidak seperti biasa, uang yang mereka keluarkan sangat sedikit, 30 juta euro saja. Ada apa dengan Madrid? Padahal mereka biasanya boros dalam bursa transfer, tetapi musim ini mereka terhitung irit sekali. Uang 30 juta euro praktis sekali habis digunakan untuk mengaktifkan klausul pembelian mantan alumni cantera Madrid yang dijual ke Juventus dua tahun lalu, Alvaro Morata. Transfer lain adalah Marco Asensio, pemain muda yang musim lalu dipinjamkan ke Espanyol, sebelumnya dia dibeli dari Mallorca pada 2014.

Apakah gejala aneh Madrid di bursa transfer mungkin terkait dengan embargo transfer yang menghukum mereka? Namun itu sebenarnya bukan alasan, karena musim panas ini hukuman tersebut belum dilaksanakan, dan efektif baru akan terjadi pada dua periode transfer mendatang, seharusnya musim panas ini Madrid masih bisa belanja banyak, namun ternyata tidak.

Walau tanpa banyak pemain baru, kekuatan Madrid masih tetap besar, trio BBC masih dalam usia emas, Modric, Kroos, dan Ramos juga masih menampilkan performa terbaik, tambahan pemain muda macam Morata dan Asensio akan memperdalam kekuatan tim.

Klub Spanyol lain juga ikut memperkuat tim masing-masing, Atletico sibuk dalam hal ini. Kevin Gameiro, Nico Gaitan dan Sime Vrsaljko menjadi transfer mahal ke Vicente Calderon, Villareal membeli mantan wonderkid Alexandre Pato, dua pemain muda potensial Italia; Roberto Soriano dan Nicola Sansone akan menjajal petualangan baru di El Madrigal.

Sevilla yang meski kehilangan banyak pemain penting, melalui kecermatan direktur olahraga Monchi, bisa menghasilkan transfer bagus untuk dimaksimalkan pelatih baru, Jorge Sampaoli. Franco Vazquez, Luciano Vietto, Pablo Sarabia, Paulo Ganso, Wissam Ben Yadder, Hiroshi Kiyotake, Samir Nasri, dan Salvatore Sirigu menjadi beberapa transfer brilian Sevilla musim ini.

Valencia yang terpuruk musim lalu mencoba kembali bangkit dengan meminjam Eliaquim Mangala, Mario Suarez, Ezequiel Garay, dan Munir El Haddadi, tak lupa mereka juga telah meyakinkan deputi Cristiano Ronaldo di tim nasional Portugal, Luis Carlos Almeida da Cunha “Nani” untuk bergabung musim ini.

Klub kecil juga ikut bergeliat, seperti dua nama besar seperti Giuseppe Rossi dan Kevin-Prince Boateng yang mau bermain di Spanyol. Rossi kembali ke La Liga dengan menerima tawaran dari Celta Vigo, sementara Boateng memiliki destinasi karir baru di klub asal kepulauan Canaria, UD Las Palmas. Semakin gemerlap La Liga musim ini, ya setidaknya dari dimensi transfer pemain menunjukkan hal tersebut.

Tetapi jika berbicara juara liga, jangan jauh-jauh dari Madrid-Barca, namun patut ditunggu apakah ada kejutan musim ini? Semoga saja ada, Atletico atau mungkin klub lain, siapa tahu hal itu benar-benar terjadi diakhir musim nanti, hanya keajaiban yang akan membantu itu terwujud.

Satu Yang Sempurna

Siapa tidak tahu Cristiano Ronaldo, nama pemain ini di internet bahkan menjadi kata yang paling banyak dicari di mesin pencarian ternama, Google. Peraih tiga Ballon D’Or, dan tiga trofi Liga Champions ini sedang menikmati masa dimana dia bisa disebut sempurna, sebagai pemain terbaik dunia.

Kenapa bisa disebut seperti itu? Karena Ronaldo baru saja menjuarai Euro 2016 bersama Portugal, memang bukan dirinya saja yang berperan terhadap kesuksesan Portugal itu, namun peran Ronaldo tetaplah vital dalam perjalanan Portugal menuju final Euro.

Dia menjadi penyelamat yang membuat Portugal lolos dari grup H dengan mencetak dua gol ke gawang Hungaria dan  satu gol-nya saat lawan Wales di semifinal juga penting karena mampu melepaskan beban pada kubu Portugal ketika melawan Wales.

Ronaldo yang sudah meraih segalanya di level klub bersama Real Madrid pun akhirnya bisa melengkapi koleksi gelarnya di level tim national, sempurna lah apabila dia sah disebut sebagai pemain terbaik dunia.

Banyak pemain hebat di dunia, namun jarang yang mampu meraih gelar baik itu di klub dan tim nasional. Karena pemain terbaik dunia adalah mereka yang dianugerahi trofi Ballon D’Or, maka pertanyaan yang timbul apakah penerima Ballon D’Or itu berprestasi di klub dan tim nasional?

Ternyata belum tentu. Untuk meraih Bola Emas memang tidak harus secara bersamaan punya prestasi di klub dan tim nasional, namun peraih Ballon D’Or atau Bola Emas ini setidaknya mampu berprestasi di klub dan tim nasional meski tidak secara bersamaan.

Ronaldinho dan Zidane adalah contohnya, dua pemain ini pernah meraih Ballon d’Or, Liga Champions di level klub dan Piala Dunia untuk tim nasional masing-masing. Zinedine Zidane, legenda sepakbola Perancis meraih Liga Champions (Madrid 2002), bersama Perancis sukses dengan Piala Dunia (1998) dan bahkan Piala Eropa (2000).

Zidane sendiri memenangi Ballon d’Or di tahun 1998 berkat performanya di Piala Dunia 1998 yang digelar di tanah kelahiran, Perancis. Ronaldinho pernah mengantarkan Brazil juara Piala Dunia 2002 Korea & Jepang, dan dia pun juara Liga Champions 2006 bersama Barcelona. Sementara Ballon d’Or diperoleh pemain yang terkenal penuh senyuman ini juga pada tahun 2006.

Maka tak heran sebutan pemain terbaik dunia benar-benar pantas disematkan untuk mereka, selain mampu memberikan gelar juara terbaik untuk klub, juga mampu melakukan hal yang sama untuk tim nasional negara-nya.

Dalam hal ini Cristiano Ronaldo sudah membuktikannya, pemenang Ballon d’Or tiga kali ini sudah meraih tiga trofi Liga Champions (satu bersama Manchester United dan dua bersama Real Madrid) dan baru saja meraih gelar juara pertama di level tim nasional ketika mengantar Portugal menjadi juara Euro 2016.

Maka sebutan pemain terbaik dunia, sempurna jika diberikan untuk Ronaldo dengan perolehannya selama ini. Hal ini bukan berarti merendahkan capaian pemain lain yang juga pernah meraih Ballon d’Or, tetapi karena mampu berprestasi di klub dan tim nasional merupakan bukti pemain tersebut ialah pemain spesial dan benar-benar “best player in the world”. Semoga saja Ronaldo mampu menjaga performanya dan terus menorehkan rekor, Vamos CR7!!

Foto dari independent.co.uk

Nestapa Messi

Nama lengkapnya adalah Lionel Andres Messi, orang Argentina kelahiran 24 Juni 1987 di Rosario ini disebut-sebut sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Deretan gelar bergengsi pernah dia raih dan lima trofi Ballon D’Or adalah menjadi bukti penegas bahwa Messi adalah pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Benar dan tidak salah memang jika Messi disebut sebagai yang terbaik, namun ternyata kehebatan Messi baru muncul di level klub saja, karena semua gelar juara dan tambahan gelar individu yang ia raih adalah karena permainannya di Barcelona, sementara di level negara prestasi pemain yang dijuluki La Pulga Atomica ini adalah minim untuk Argentina.

Ya, Messi belum pernah mengantar Argentina menjadi juara di turnamen besar antar negara, baik itu Copa America atau Piala Dunia, Messi selalu gagal membantu negaranya menjadi juara. Padahal jika melihat materi pemain, Argentina tidak kering kualitas, lihat saja berjejal world class players disekeliling Messi.

Ada Angel di Maria, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, Javier Mascherano dan masih banyak pemain lagi yang seharusnya menjadikan Argentina, yang juga dikapteni oleh Messi saat ini, setidaknya bisa sekali saja menjadi juara di turnamen besar antar negara.

Namun fakta tidak demikian, semenjak Messi melakukan debut di Piala Dunia 2006 (turnamen besar pertama Messi bersama tim nasional Argentina dan dia berstatus wonder kid saat itu) hingga yang terakhir di gelaran Copa America Centenario 2016, prestasi paling maksimal yang dia sumbangkan ke Argentina hanyalah membawa Argentina menjadi runner-up seperti di Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014.

Messi yang sangat bersinar bersama Barcelona, namun seketika melempem kala bermain di skuat Albiceleste, ada apa dengan Messi di Argentina?

Banyak spekulasi yang bermunculan, pertama adalah perbedaan jauh dari segi kualitas antara skuad Barcelona dan Argentina, memang bisa diasumsikan seperti itu karena kita tahu Barcelona selalu diperkuat pemain-pemain yang masuk kategori terbaik dunia, sedangkan di Argentina kualitasnya tidak merata karena disetiap lini belum tentu ada pemain bintang dunia.

Namun yang menjadi pertanyaan, bukankah seharusnya Messi mampu menjadi pembeda dan penyelamat bagi Argentina?

Maradona sukses bukan karena dia saja yang membawa Argentina ditakuti dalam sepakbola, namun ada bantuan dari rekan hebat lain dalam tim.

Argentina saat ini sebenarnya juga seperti itu, Messi ditemani pemain berkualitas di timnas, dan seharusnya juga di lapangan tidak selalu Messi yang meminta dirinya “dibawa” ke permainan terbaik oleh pemain sekelilingnya.

Tetapi dia juga harus mampu “membawa” pemain-pemain lain untuk mencapai bentuk terbaiknya, sehingga dia mampu meraih apa yang Maradona juga raih dulu.

Kegelisahan terhadap Messi pernah menjadi perbincangan serius di tubuh skuat Argentina pada medio 2007 hingga 2010-an, ketika itu banyak orang yang sangat terkesima dengan Messi di Barelona, namun permainan dia di timnas berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan bersama klub Catalan itu. Beberapa pihak menyebut faktor suplai bola menjadi kendala bagi Messi di timnas Argentina.

Benar, karena di Barca Messi ditemani dua kreator permainan hebat dalam diri Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, belum lagi pola permainan ticqui-taka ala Barcelona yang mengandalkan umpan satu-dua dan penguasaan bola menjadikan Messi sangat nyaman. Hal itu berbeda jauh, karena di Argentina tidak tersedia playmaker jempolan yang selevel Xavi dan Iniesta antara 2007 hingga 2010-an.

Juan Roman Riquelme seharusnya bisa dikedepankan, diapun bahkan sudah menjadi pengatur serangan utama Argentina sejak Piala Dunia 2006 hingga Copa America 2007.

Namun meski gaya mainnya lumayan klop dengan Messi, Riquelme belum bisa menjadi “Xavi” bagi Messi di Argentina, menjelang Piala Dunia 2010 dia tidak dipanggil, selain alasan teknis dia juga punya masalah pribadi dengan Diego Maradona, legenda hidup yang menjadi pelatih tim Tango saat itu.

Juan Sebastian Veron dipilih sebagai pengganti Riquelme, meski sudah uzur dia tetap dipilih karena tiada lagi stok playmaker handal. Veron yang pada 2010 bermain di Estudiantes diharapkan mampu menjadi “Xavi” untuk Argentina, apalagi dia berpengalaman memperkuat sejumlah tim besar seperti Manchester United, Inter, dan Lazio.

Namun hasilnya sama saja, potensi Messi tetap redup di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Faktor gaya permainan juga menjadi problem tambahan, Argentina tidak mampu bermain seperti ticqui-taka ala Barca dan Messi pun redup juga karenanya.

Namun sebagai pemain terbaik dunia, gaya main seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Messi untuk bermain baik, kalau dia memang pantas disebut pemain terbaik dunia, seharusnya dia cocok bermain dengan sistem permainan apapun, tidak harus melulu dengan ticqui-taka.

Mulai sejak saat akhirnya publik tau bahwa permainan Messi belum tentu optimal jika tidak bermain dengan ticqui-taka, hal ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Messi dan Argentina yang menggantungkan asa pada dirinya.

Era berganti dari Riquelme dan Veron, menjadi Angel Di Maria dan Javier Pastore. Beruntung bagi Messi karena dua pemain kreatif ini muncul dan mulai menjadi andalan hampir bersamaan sehingga menambah variasi penyuplai bola yang tidak hanya pada satu orang. Argentina hampir berhasil menjadi jawara Copa America 2011 di kandang sendiri sebelum dikalahkan negara tetangga, Uruguay di semifinal.

Tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut Argentina menjadi finalis di Piala Dunia dan Copa America, meski begitu walau sudah nyetel-nya Messi di timnas, seharusnya minimal sekali saja dia mampu membawa Argentina juara, namun kenyataannya sangat pahit. Selepas laga final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan berujar akan pensiun dari tim nasional Argentina!

Ternyata pemain terbaik dunia pun bisa mengalami frustasi hebat, Messi adalah contohnya. Pernyataan Messi untuk pensiun juga dirumorkan menular ke pemain Argentina lain; Sergio Aguero, Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, dan Gonzalo Higuain dikabarkan mempunyai keinginan yang sama seperti La Pulga.

Hattrick kegagalan menjadi juara dalam tiga turnamen besar terakhir membuat perhatian dunia tertuju pada Lionel Messi, ketidakmampuan membawa Argentina juara di pentas besar internasional adalah salah satu borok yang ada pada diri pemain terbaik dunia empat kali ini.

Kritik juga mulai sering dilayangkan kepada dirinya, dia dinilai hanya bisa bermain dalam skema ticqui-taka dan tidak bisa bermain dengan skema lain, perbandingan saat di Barcelona dan Argentina adalah bukti nyata.

Legenda hidup Argentina yang juga mantan pemain Barcelona, Diego Maradona pun juga mengkritik Messi karena tidak punya personalitas, tidak ada aura kepemimpinan pada dirinya.

Sepertinya segala hal yang sedang terjadi di Argentina justru berujung antiklimaks bagi Messi, disaat usianya menuju akhir keemasan (29 tahun), dia belum sekalipun mempersembahkan gelar juara bagi Argentina di turnamen besar, medali emas Olimpiade 2008 tidak termasuk karena dalam hal ini gema kejuaraan olahraga tersebut jelas tidak sebanding dengan Copa America dan terlebih Piala Dunia.

Messi benar-benar frustasi hingga berkeinginan pensiun dari timnas, hal ini juga menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo pun berpendapat belum saatnya Messi mundur dari Argentina, karena dia masih dibutuhkan oleh Albiceleste.

Malang sekali nasib Messi, disaat dia gagal juara dan frustasi hingga berucap ingin pensiun, Cristiano Ronaldo justru sukses bersama Real Madrid dan Portugal. Juara Liga Champions dan Piala Eropa membuat Ronaldo “semakin sempurna” disebut sebagai yang terbaik di dunia, karena dia sukses bersama klub dan juga tim nasional.

Messi belum mampu melakukan ini meski punya kesempatan besar untuk juara dengan Argentina, sehingga dia belum layak dikatakan “sempurna” karena belum pernah berjaya bersama Argentina di kejuaraan besar.

Apalagi pasca gelaran Copa America  yang lalu, dia dihukum dengan vonis 21 bulan penjara oleh pengadilan Spanyol atas kasus penggelapan pajak yang melibatkan dia dan ayah yang sekaligus agennya, Jorge Messi. Nestapa untuk Messi, begitulah kiranya apa yang dialami oleh pemain terbaik dunia ini.

Foto: dailymotion.com

Image

Aneh dan Anomali-nya Madridistas

Suporter sepakbola adalah sekelompok orang yang menyatakan, menyuarakan, menunjukkan identitasnya sebagai orang-orang yang mendukung dan mencintai klub sepakbola tertentu.

Keberadaan suporter itu penting bagi klub sepakbola, karena tanpa suporter maka stadion akan sepi dan tidak ada pemberi semangat bagi pemain yang berlaga di lapangan.

Mereka pun selain dibutuhkan untuk mendukung pemain agar performa mereka di lapangan selalu baik, mereka juga menjadi “pengawas”  performa tim dengan sering melemparkan kritik kepada klub sendiri ketika tim bermain buruk.

Hal ini sudah wajar dimana-mana, ketika tim bermain baik suporter memuji, ketika bermain buruk suporter mencela tim mereka, namun akhir-akhir ini ada kumpulan suporter yang dikategorikan terlalu “tega” terhadap tim dan pemain klub yang mereka dukung  dan suporter tersebut adalah Madridistas, pendukung setia Real Madrid ini justru menjadi kendala bagi beberapa pemain penting di Real Madrid beberapa tahun terkahir.

Madridistas suporter yang sangat mencintai Real, sudah menjadi kodrat mereka mendukung Madrid kapan pun dan dimana pun, tidak hanya itu kenginan mereka untuk melihat Madrid berjaya disemua kompetisi yang diikuti juga membuat pemain Real Madrid tidak akan pernah kehabisan tambahan semangat di setiap pertandingan yang dilalui, loyalitas mereka salah satu yang terbaik.

Tetapi keinginan melihat Madrid untuk selalu berjaya memunculkan obsesi tersendiri, apalagi rivalitas abadi dengan Barcelona membuat Madridistas terobsesi melihat Madrid selalu diatas Barcelona dari segi prestasi disetiap musim.

Selain itu Madridistas juga ingin melihat Cristiano Ronaldo dan rekan bermain dengan indah yang tidak kalah dengan gaya ticqui-taka khas Barcelona, kesimpulannya sudah tentu bahwa Madridistas membenci Barcelona.

Disatu sisi sepakbola adalah olahraga yang tidak bisa ditebak sehingga tidak selamanya Madrid berprestasi, kadang tidak selamanya juga keinginan Madridistas terpenuhi. Apalagi performa pemain bintang Madrid juga ada pasang-surutnya dan tidak selamanya dalam bentuk terbaik.

Seharusnya suporter seperti Madridistas hadir sebagai “malaikat” bagi tim ataupun pemain yang tengah mengalami masa sulit, namun ternyata tidak selamanya Madridistas berada diposisi itu karena terkadang mereka justru mencaci tim dan pemain-pemain Madrid.

Memang terkadang tidak hanya dukungan yang bisa membuat semangat tim atau pemain naik, kritik dari suporter juga bisa membuat tim dan pemain terlecut untuk menampilkan permainan yang bagus dan Madridistas juga tidak hanya mendukung namun juga mengkritik performa tim dan pemain Madrid yang bermain buruk.

Namun hal “aneh” terjadi beberapa tahun ini, kritik yang diberikan Madridistas untuk tim dan beberapa pemain Madrid bisa dikatakan berlebihan dan begitu kejam, lalu mereka disisi lain juga tidak malu-malu memuji pemain Barcelona padahal semua orang di dunia tahu bahwa rivalitas Madrid-Barca sangat keras dan mereka juga membenci Barcelona.

Sungguh hal itu membuat siapapun yang suka sepakbola dan memperhatikan rivalitas Madrid-Barca menjadi heran dan bingung dengan perilaku Madridistas tersebut.

          Dulu mereka dengan tega membuat legenda hidup sekelas Iker Casillas begitu tertekan dengan perilaku Madridistas itu sendiri. Ada sebuah kronologi yang melatarbelakangi yaitu ditahun terkahir keberadaan Jose Mourinho sebagai pelatih (2012-2013), Casillas disingkirkan sebagai kiper utama Madrid.

Alasan Mourinho adalah penurunan performa Casillas dan sering melakukan blunder sehingga dia dijadikan cadangan yang membuat Diego Lopez menjadi kiper utama, akan tetapi beredar rumor bahwa yang membuat Casillas dicadangkan adalah kedekatan personal dia dengan dua pemain Barca, Carles Puyol dan Xavi Hernandez.

Awalnya Mourinho mengkritik kedekatan tersebut karena demi mewujudkan cita-cita meruntuhkan Barcelona, The Special One ingin semangat anti-Barca juga diresapi oleh seluruh pemain Madrid sehingga kedekatan dengan pemain Barca adalah sesuatu yang haram apalagi itu dilakukan oleh kapten Madrid, Casillas.

Sehingga muncul friksi antar Mou vs Casillas dan sang kapten pun berkilah bahwa kedekatan tersebut demi menjaga harmonisasi tim nasional Spanyol namun tetap saja hal itu tidak disukai Mourinho dan dia pun terpaksa dicadangkan.

Performa buruk Casillas disepanjang musim lalu membuat kritikan dari Madridistas yang sebenarnya sangat sedikit sekali justru menjadi terang-terangan, mereka mulai dengan tega menyiuli Casillas ketika bermain.

Sontak saja simpati Madridisitas untuk Casillas hilang total dan cemoohan untuk Casillas semakin keras dan keras hingga akhir musim. Apalagi ditambah rumor transfer David De Gea ke Madrid membuat Casillas semakin tertekan dan dia terpaksa pindah ke FC Porto di akhir musim.

Awalnya Casillas tetap mendapat simpati Madridistas meski dia dekat dengan Puyol dan Xavi, dan setelah Mourinho pergi, Carlo Ancelotti mengubah status Casillas lebih baik dengan menjadi kiper utama Madrid di Liga Champions, sedangkan di Liga Spanyol tetaplah untuk Diego Lopez.

Di musim tersebut (2013-2014), musim pertama Ancelotti datang) Madrid meraih La Decima atau gelar ke 10 Liga Champions, namun simpati tersebut terhenti di musim berikutnya ketika performa Casillas menurun di Liga Champions 2015-2016 (salah satu contoh ketika leg kedua semifinal Liga Champions versus Juventus) dan di seluruh perjalanan musim tersebut secara keseluruhan.

Apa yang dilakukan Madridistas mungkin dapat dipahami, karena Casillas adalah pemain Madrid yang sudah sewajibnya tidak dekat dengan pemain Barca, meski kedekatan dengan Puyol dan Xavi adalah untuk alasan profesional (Spanyol) dan secara personal tetap saja itu tidak bisa diterima Madridistas, apalagi dia adalah kapten klub.

Namun menghujat secara berlebihan pemain yang sudah masuk kategori legenda seperti Casillas juga merupakan hal yang tidak baik dilakukan oleh suporter sendiri, apalagi tidak ada seremoni perpisahan untuk Casillas dan hanya sebuah press conference yang diiringi tangis sedih dari Santo Iker ketika menyatakan kepindahannya ke Porto.

Apa yang dilakukan oleh Madridsitas terhitung kejam padahal berbagai gelar yang pernah diraih Madrid juga berkat kontribusi besar dari seorang seperti Casillas. Madridistas menjadi suporter yang tidak menghargai jasa-jasa pemain Madrid itu sendiri, padahal mereka punya begitu banyak jasa selama berada di Santiago Bernabeau.

Musim ini (2015-2016) hal itu berlanjut dan target berikutnya adalah Cristiano Ronaldo, yang mendapat kritik cemooh dari Madridistas. Ronaldo yang sudah berusia 31 tahun tidaklah seperti dulu lagi, tidak ada gerakan eksplosif melewati lawan yang ada hanya penempatan posisi yang oportunis untuk mencetak gol.

Ternyata performa dia yang menurun berdampak bagi Madrid dan ditambah Gareth Bale yang sering cedera, otomatis membuat Madrid hanya bergantung pada Ronaldo.

Apalagi pelatih yang ditunjuk menggantikan Ancelotti adalah Rafa Benitez yang tidak disukai pemain dan Madridistas, sehingga membuat Madrid bermain tidak konsisten dan yang paling parah adalah kekalahan 0-4 dari Barcelona di Santiago Bernabeau.

Selain kelincahannya yang berkurang, koleksi gol dia pun yang umumnya hanya muncul ketika melawan tim kecil disamping itu kestabilan performa Messi yang membantu Barca tetap melaju kencang musim ini membuat cemoohan Madridistas untuk Ronaldo terus bermunculan disetiap pertandingan.

 Ketidakmampuan mengangkat dan menstabilkan performa Los Blancos (selain karena faktor dari Benitez) membuat Ronaldo pun sering diejek dan yang paling mengherankan adalah ketika disebuah laga Copa del Rey, seorang Madridistas membentangkan jersey Real bertuliskan “Messi” dan nomor punggung 10.

Tentu hal tersebut membuat Ronaldo sangat kesal padahal semua tahu bahwa rivalitas Ronaldo vs Messi juga tinggi, sudah pasti CR7 kecewa dengan aksi seorang suporter Madrid tersebut.

Hal ini lah yang membuat rumor ketidakbetahan Ronaldo di Madrid semakin terdengar nyaring dan isu tersebut membuat berbagai spekulasi kepindahan menuju Manchester United atau PSG semakin sering menjadi isi berita berbagai media, apa yang dilakukan Madridistas sungguh terasa berlebihan.

Padahal Ronaldo adalah andalan Madrid dilima musim terakhir dan dia juga berperan besar terhadap raihan La Decima bagi Madrid, tentu hal tersebut adalah “aneh” dilakukan oleh suporter terhadap tim dan pemain sebuah klub yang mereka dukung.

Selain keanehan, anomali atau ketidakbiasaan juga dipertunjukkan Madridistas selama ini, mereka tidak segan untuk memberi pujian bagi pemain Barcelona!. Tercatat beberapa pemain Barcelona pernah mendapat standing ovation (tepuk tangan dengan berdiri) saat pertandingan Madrid vs Barca di Santiago Bernabeau.

Dulu di era 90an iego Maradona pernah mendapatkan itu lalu Ronaldinho juga mendapatkannya ketika menjadi aktor utama dibalik skor Madrid 0-3 Barcelona pada 2006. Dia membuat dua gol spektakuler yang membuat mayoritas Madridistas di Santiago Bernabeau tidak tahan duduk dan memberikan tepuk tangan untuk Ronaldinho, pernah pula seorang Lionel Messi menerima itu pada tahun 2009.

Dan terbaru dari pemain Barca adalah Andres Iniesta, yang menjadi aktor utama kekalahan 0-4 Madrid di Santiago Bernabeau musim ini, dia mendapat standing ovation dari suporter Madrid ketika digantikan menjelang pertandingan usai.

Sebuah anomali karena disatu sisi mereka kejam terhadap pemain dan bahkan legenda sendiri, namun disisi lain mereka tidak malu memberikan salute untuk pemain lain bahkan meskipun itu dari Barcelona.

Mereka juga tercatat pernah memberikan standing ovation kepada pemain non-Barca seperti Alessandro Del Piero, Steven Gerrard, Andrea Pirlo dan Francesco Totti. Apa yang dilakukan Madridistas terhadap pemain Barcelona dan beberapa pemain lain menunjukkan sebuah kesan dan wujud nyata sebagai penghormatan terhadap kualitas pemain yang berkelas dunia dan melegenda.

Tentu sangat aneh dan sebuah anomali bagi nalar kita, bagaimana mungkin Madridistas menghujat keras pemain Madrid sendiri dan memberikan standing ovation kepada pemain-pemain lawan yang bahkan itu pemain Barca?

Namun itu lah Madridistas, suporter dengan tingkah laku diluar dugaan yang menurut saya justru akan membuat cerita pertarungan El Clasico, Madrid vs Barca semakin menarik untuk senantiasa dinikmati hari demi hari.

Foto: republika.co.id