Dua Raksasa

Spanyol sedang dalam masa kejayaan sepakbola, dalam dekade belakangan ini baik itu tim nasional ataupun klub asal Spanyol sama-sama mampu mendominasi Eropa atau bahkan juga dunia.

Tim nasional Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, tidak ada tim nasional lain yang mampu menyamai rekor juara beruntun seperti itu dimanapun. Sejak 2006 hingga 2016 (sudah 10 musim terakhir ini), sudah 6 kali pula Liga Champions dikuasai tim dari Spanyol dengan rincian; Barcelona 4 dan Real Madrid 2 juara.

Begitu juga di kompetisi kasta kedua, Europa League dimana Spanyol terlalu tangguh untuk tim dari negara lain, tercatat sejak musim 2005-2006 hingga 2015-2016, tujuh kali yang menjadi juara adalah klub Spanyol. Atletico Madrid dua kali sementara Sevilla lima kali yang bahkan tiga dari lima trofi tersebut diraih dalam tiga musim akhir ini. Luar biasa, Spanyol benar-benar dalam puncak kejayaan.

Apa yang menjadikan Spanyol begitu menkutkan dalam dunia sepakbola akhir-akhir ini? Jawabannya tidak lain karena duo Clasico, Real Madrid dan Barcelona, persaingan antar rival abadi penuh sejarah ini menjadikan sepakbola Spanyol begitu hebat. Harus diakui, Madrid dan Barca adalah dua tim terbaik dunia, kerja keras dua tim tersebut untuk selalu mendominasi satu sama lain berdampak positif bagi Spanyol.

Pemain berkualitas bintang dunia selalu hadir mengisi skuad kedua tim tersebut, keberadaan pemain Spanyol di dua tim tersebut juga menguntungkan tim nasional Spanyol. Ketika menjuarai Euro 2008, Euro 2012 dan Piala Dunia 2010 juga berkat keberadaan pemain-pemain dari dua tim ini.

Imbas lain adalah meningkatnya level permainan tim lain diluar El Clasico, tim seperti Atletico, Sevilla, Villareal, dan tim-tim lain saling berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu kenyaman Madrid dan Barcelona.

Hal itu justru tidak terasa membuat banyak tim Spanyol lain mengalami kenaikan level kualitas. Bersaing dengan dua tim yang “terbaik dunia” di liga, membuat mereka mau tidak mau harus terus meningkat secara kualitas jika tidak ingin hanya menjadi penonton di liga. Dampaknya begitu terasa, meski di liga hanya Atletico yang mampu juara selain Madrid-Barca dalam kurum 10 tahun ini dan itupun hanya sekali (musim 2013-2014). Tetapi peningkatan level tim Spanyol diluar Madrid-Barca terlihat ketika beraksi di kompetisi Eropa beberapa tahun terakhir.

Atletico bisa muncul dua kali di final Liga Champions dalam tiga tahun terkahir, tentu ini pencapaian luar biasa bagi klub seperti Atletico. Terkurung dalam bayang-bayang El Clasico di La Liga, tak membuat nyali Atleti di Liga Champions ikut menciut. Sevilla juga begitu, meski jarang finis di peringkat empat besar (zona Liga Champions) dalam 10 tahun terakhir, klub Andalusia tersebut sudah menjadi raja Liga Eropa selama tiga musim ini berturut-turut, rekor!

Setidaknya dalam lima musim terakhir, hampir selalu ada wakil Spanyol di semifinal kejuaraan Eropa bahkan hingga ke final, baik itu Liga Champions atau Liga Eropa. Tren ini menjadi bukti, klub dari La Liga memang lebih bagus daripada kompetisi negara lain, bahkan lebih baik dari Premier League yang disebut-sebut sebagai liga dengan klub-klub terbaik di dunia.

Sudah terbukti bahwa klub asal Spanyol paling superior jika bermain di pentas Eropa dan disadari atau tidak kualitas mereka terkerek naik karena mau tidak mau dengan penuh tenaga harus mengimbangi kualitas Madrid-Barca, yang memang tiada tandingnya di liga, jadi ketika klub Spanyol tersebut bertemu klub negara lain yang bahkan secara reputasi lebih besar, mereka mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan.

Musim lalu contohnya, Atletico mampu mengalahkan Munchen yang notabene disebut sudah satu level dengan Madrid-Barca, sedangkan Sevilla mengubur impian Liverpool di Liga Eropa, padahal reputasi Liverpool jauh lebih diatas dari Sevilla.

Efek persaingan di liga dengan Madrid-Barca terbukti berdampak signifikan bagi klub Spanyol lain, meski mereka babak belur di liga ternyata ketika bertanding di Eropa, kualitas dan mentalitas mereka mampu menandingi dan bahkan mengalahkan tim-tim kuat di Eropa karena “sudah terbiasa” berjibaku melawan dua tim terbaik dunia di liga sendiri.

Bahkan efek dua klub ini benar-benar meresap di Spanyol, jika ada klub mempunyai nama “real” dan atau mempunyai lambang mahkota di logo-nya, dapat dipastikan klub itu adalah klub pendukung kerajaan seperti Real Madrid. Jika ada klub berlogo “belang-belang” maka itu adalah klub yang berideologi pada kemerdekaan suku-suku dari kerajaan, klub dari Basque, Valencia, dan paling vokal dalam hal ini tentu klub asal Catalan paling sukses dekade ini, Barcelona.

Kembali ke persaingan juara, keberadaan Madrid-Barca membuat La Liga terasa lumayan membosankan. Namun hal ini dapat dimaklumi karena kesenjangan tersebut bukan karena blunder, inkonsistensi atau atau kemalasan klub lain berbenah, hal ini lebih karena perbedaan kualitas yang terlalu jauh antara Madrid-Barca dengan klub Spanyol lain.

Selain mempunyai tradisi kuat, pendapatan kedua klub tersebut juga sangat tinggi dibandingkan klub lain, maka dari tahun ke tahun makin kuat sajalah materi pemain Madrid-Barca karena kekuatan ekonomi duo ini tidak tertandingi klub Spanyol lain.

Setiap musim yang muncul dalam prediksi berbagai media adalah siapa yang akan juara, Madrid atau Barca? Klub lain seperti hanya ditakdirkan maksimal hanya untuk merebut jatah tiket ke Eropa dan tidak untuk juara liga, paling hanya Atletico yang punya potensi mengejutkan, namun kekuatan mereka sering digerus, karena seringnya Atletico tergoda menjual pemain bintangnya.

Musim ini juga tidak banyak berubah, Madrid-Barca masih terlalu kuat bagi klub lain, hal itu dapat dilihat dari Atlas-Bajas (lalu lintas transfer pemain) musim panas ini. Barcelona sangat jor-joran membelanjakan uang-nya, kedatangan Paco Alcacer, Andre Gomes, Denis Suarez, Lucas Digne, Samuel Umtiti, dan Jasper Cillessen menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Yang menjadi pertanyaan, tetaspi apakah terlalu mahal untuk hanya sekedar dijadikan pelapis bagi pemain inti? Alcacer bermain ketika salah satu dari trio MSN tidak bermain, Denis Suarez dan Gomes akan bermain ketika Iniesta atau Rakitic tidak dapat merumput dan juga masih ada Arda Turan yang bisa menjadi pelapis MSN dan Iniesta-Rakitic, Digne sebagai pelapis Jordi Alba, Umtiti menjadi pelapis duet bek tengah Mascherano-Pique dan Cillessen pilihan nomor dua dibawah mistar setelah Marc-Andre Ter Stegen. Memang mahal bagi pemain yang diproyeksikan sebagai pelapis tim utama, namun  ini menunjukkan bahwa Barca ingin mempunyai skuad yang dalam dengan materi tidak terlalu jauh jarak kualitasnya antara pemain inti dan cadangan.

Madrid musim ini tidak seperti biasa, uang yang mereka keluarkan sangat sedikit, 30 juta euro saja. Ada apa dengan Madrid? Padahal mereka biasanya boros dalam bursa transfer, tetapi musim ini mereka terhitung irit sekali. Uang 30 juta euro praktis sekali habis digunakan untuk mengaktifkan klausul pembelian mantan alumni cantera Madrid yang dijual ke Juventus dua tahun lalu, Alvaro Morata. Transfer lain adalah Marco Asensio, pemain muda yang musim lalu dipinjamkan ke Espanyol, sebelumnya dia dibeli dari Mallorca pada 2014.

Apakah gejala aneh Madrid di bursa transfer mungkin terkait dengan embargo transfer yang menghukum mereka? Namun itu sebenarnya bukan alasan, karena musim panas ini hukuman tersebut belum dilaksanakan, dan efektif baru akan terjadi pada dua periode transfer mendatang, seharusnya musim panas ini Madrid masih bisa belanja banyak, namun ternyata tidak.

Walau tanpa banyak pemain baru, kekuatan Madrid masih tetap besar, trio BBC masih dalam usia emas, Modric, Kroos, dan Ramos juga masih menampilkan performa terbaik, tambahan pemain muda macam Morata dan Asensio akan memperdalam kekuatan tim.

Klub Spanyol lain juga ikut memperkuat tim masing-masing, Atletico sibuk dalam hal ini. Kevin Gameiro, Nico Gaitan dan Sime Vrsaljko menjadi transfer mahal ke Vicente Calderon, Villareal membeli mantan wonderkid Alexandre Pato, dua pemain muda potensial Italia; Roberto Soriano dan Nicola Sansone akan menjajal petualangan baru di El Madrigal.

Sevilla yang meski kehilangan banyak pemain penting, melalui kecermatan direktur olahraga Monchi, bisa menghasilkan transfer bagus untuk dimaksimalkan pelatih baru, Jorge Sampaoli. Franco Vazquez, Luciano Vietto, Pablo Sarabia, Paulo Ganso, Wissam Ben Yadder, Hiroshi Kiyotake, Samir Nasri, dan Salvatore Sirigu menjadi beberapa transfer brilian Sevilla musim ini.

Valencia yang terpuruk musim lalu mencoba kembali bangkit dengan meminjam Eliaquim Mangala, Mario Suarez, Ezequiel Garay, dan Munir El Haddadi, tak lupa mereka juga telah meyakinkan deputi Cristiano Ronaldo di tim nasional Portugal, Luis Carlos Almeida da Cunha “Nani” untuk bergabung musim ini.

Klub kecil juga ikut bergeliat, seperti dua nama besar seperti Giuseppe Rossi dan Kevin-Prince Boateng yang mau bermain di Spanyol. Rossi kembali ke La Liga dengan menerima tawaran dari Celta Vigo, sementara Boateng memiliki destinasi karir baru di klub asal kepulauan Canaria, UD Las Palmas. Semakin gemerlap La Liga musim ini, ya setidaknya dari dimensi transfer pemain menunjukkan hal tersebut.

Tetapi jika berbicara juara liga, jangan jauh-jauh dari Madrid-Barca, namun patut ditunggu apakah ada kejutan musim ini? Semoga saja ada, Atletico atau mungkin klub lain, siapa tahu hal itu benar-benar terjadi diakhir musim nanti, hanya keajaiban yang akan membantu itu terwujud.

Advertisements

Pelajaran dari Simone Scuffet

Simone Scuffet lahir di Udine pada 31 Mei 1996, dia adalah produk akademi Udinese, berposisi sebagai kiper. Seperti lazimnya pemain muda asli didikan akademi, pasti Scuffet sangat ingin sekali bermain untuk klub tempat kelahirannya, Udinese.

Namun seperti kebiasaan klub Serie A memperlakukan pemain muda, umumnya mereka akan melempar-lempar pemain muda untuk dipinjamkan ke klub-klub lain di Serie A atau divisi bawah Italia yang tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman bermain bagi pemain muda tersebut.

Udinese sebelumnya mempunyai kiper yang hebat dalam diri Samir Handanovic, namun karena ketangguhannya di bawah mistar gawang dia kemudian dibeli Intermilan pada pertengahan 2012 dan Udinese mengusung Zeljko Brkic sebagai penggantinya untuk musim 2012-2013.

Simone Scuffet sendiri bukanlah pemain inti, meski sudah masuk skuad Udinese 2012-2013 dia hanya menjadi cadangan dan pilihan kelima setelah Zeljko Brkic, Daniele Padelli, Wojciech Pawlowski, dan Alessandro Favaro.

Di musim itu Brkic sering cedera dan silih berganti mengisi pos kiper utama dengan Padelli. Musim selanjutnya (2013-2014) Daniele Padelli pindah ke Torino, diikuti kepergian Pawlowski dan Favaro, Udinese kemudian kedatangan kiper tim nasional Kroasia , Ivan Kelava dan kiper gaek Francesco Benussi untuk memberikan Brkic pesaing dan sekaligus melapisinya, sementara Scuffet belum pernah sama sekali turun di musim 2012-2013.

Di musim 13/14 Brkic adalah kiper utama, dengan sesekali Ivan Kelava tampil untuk melapisinya, Benussi dan Scuffet hanya menjadi pilihan ketiga dan keempat, mengingat status mereka yang satu kiper tua  biasa saja dan satunya kiper muda nol pengalaman di Serie A.

Namun keajaiban bagi Scuffet datang di Februari 2014, pada laga melawan Bologna, Brkic mendadak cedera dalam sesi pemanasan jelang laga. Dan pelatih Udinese saat itu, Francesco Guidolin bereksperimen dengan menaruh Scuffet sebagai starter pada pertandingan pertandingan tersebut.

Scuffet sendiri terkejut dengan hal tersebut, dan tak disangka bocah 18 tahun mampu bermain sangat baik di laga tersebut, dia membuat clean-sheet. Pasca laga tersebut, dia menjadi portiere numero uno Udinese hingga musim berakhir bahkan meski Brkic sudah sembuh dari cedera, dia tetaplah pilihan utama Francesco Guidolin.

Di musim tersebut penampilannya sangat baik untuk ukuran pemain usia dibawah 20 tahun. Dia beberapa kali terpilih sebagai Man of the Match dalam laga di Serie A, salah satunya adalah saat laga melawan AC Milan dia membuat lima penyelamatan penting bagi tim dan membuat laga di San Siro tersebut berakhir dengan skor 0-0 dan menyelamatkan Udinese dari kekalahan.

Dengan penampilan yang tenang dan refleks yang baik, talenta dia mulai disandingkan dengan legenda hidup Gianluigi Buffon, selain kemiripannya yang membuat debut Serie A ketika masih berusia belasan tahun dan mampu menggeser pemain yang lebih berpengalaman semacam Brkic dan Kelava ke bangku cadangan. Karena penampilannya, pelatih Italia saat itu Cesare Prandelli sempat memanggil Simone untuk berlatih bersama skuad senior Italia, tentu seperti sebuah fairytale karena dia bahkan belum pernah membela tim nasional U-21 dan langsung loncat ke tim senior.

       Perjalanan karir bagaikan dongeng bagi Simone Scuffet, setelah menyita perhatian publik Italia dengan aksi-aksi gemilang dan saves-nya, kemudian pada bursa transfer musim 2014-2015, dia berpeluang menambah halaman cerita dongengnya lebih banyak dan sangat manis dengan pindah ke salah satu raksasa liga Spanyol, Atletico Madrid.

Ya, musim tersebut Rojiblancos membutuhkan kiper pengganti setelah kiper andalannya selama dua musim terakhir, Thibaut Courtois ditarik pulang oleh pemiliknya Chelsea. Dan mereka melirik kiper muda bertalenta karena sekaligus untuk investasi jangka panjang di sektor tersebut, dan salah satu kiper muda yang ditawar adalah kiper Udinese, Simone Scuffet.

Untuk memudahkan dalam perburuan Scuffet, Atleti mengandalkan posisi tawar mereka yang akan tampil di Liga Chmpions dan pelatih Diego Simeone dalam pendekatannya, Simeone paham kultur Italia karena pernah bermain di Seria A dulu, dengan begitu Scuffet tidak akan merasa sendirian dan ada yang membantu selama proses adaptasi dengan sepakbola Spanyol.

Namun yang terjadi adalah penolakan dari Udinese, tawaran sebesar 5 juta euro yang dapat melonjak hingga 10 juta dengan berbagai klausul dari Atletico Madrid mereka tolak.

Udinese tidak ingin kehilangan Scuffet dengan harga semurah itu, karena mereka berencana meminjamkannya ke Spanyol namun bukan ke Atletico melainkan Granada (yang juga dimiliki oleh pemilik Udinese) untuk memberinya banyak menit bermain dan menungu hingga harga Scuffet naik beberapa tahun kedepan.

Penolakan oleh Udinese juga didukung oleh Scuffet dan keluarga yang menginginkan karir Scuffet berjalan setahap demi setahap. Mulai dari bermain regular dulu di Serie A, menembus tim nasional senior lalu pindah ke klub besar Italia atau klub besar kelak suatu saat jika sudah waktunya.

Selain itu posisi Atletico di liga yang statusnya adalah tim pengejar gelar juara dan bermain di Liga Champions Eropa ditakutkan membuat Scuffet yang usianya masih muda dan pengalamannya belum seberapa akan membuatnya terbebani jika bermain di Spanyol bersama Atletico yang penuh tekanan akan sebuah prestasi.

Usaha Atletico gagal, apalagi Scuffet sudah diberi kontrak hingga 2019 oleh Udinese setelah penampilan hebatnya disetengah musim lalu. Kemudian Atletico mengarahkan bidikannya kearah semenanjung Iberia dan targetnya adalah Jan Oblak, kiper Benfica yang kemudian memcahkan rekor sebagai kiper termahal La Liga dengan banderol 16 juta euro.

Saat ini Oblak menjadi pemain inti Los Rojiblancos, aksi-aksinya menawan di bawah mistar dan para pendukung Atletico dapat dengan segera melupakan kepergian Courtois yang kembali ke Chelsea. Lalu bagaimana dengan Simone Scuffet saat ini? Apakah dia tetap mengawal gawang Udinese dan sudah naik level membela tim senior Gli Azzurri?

Karir seorang pemuda bernama Simone Scuffet memang seperti cerita dongeng, setelah dengan tiba-tiba karirnya menanjak tajam dan mengejutkan publik Italia sekarang karirnya menurun dan terhitung menukik tajam.

Jika dahulu setelah penampilan impresifnya selama setengah musim bersama Udinese, dia digadang-gadang sebagai “the next Buffon”, dipuji oleh berbagai kalangan bahkan kiper legendaris Italia, Dino Zoff sampai-sampai ikut mengeluarkan pujian kepadanya, dan banyak klub besar menginginkannya, salah satunya Atletico Madrid. Namun saat ini dia hanya menjadi kiper di klub medioker, Como yang hanya berlaga di Serie B.

Musim 2014-2015 seharusnya menjadi musim penegasannya sebagai kiper hebat dan masa depan Italia, tetapi dia justru melempem di Udinese. Pergantian pelatih, cedera dan kedatangan kiper Yunani dari Granada, Orestis Karnezis dan ditambah kegagalannya menampilkan performa seperti musim sebelumnya membuat posisinya tidak aman dan harus rela digusur oleh Karnezis.

Dan sialnya Karnezis justru menampilkan performa yang sepertinya tidak kalah hebatnya dengan Scuffet musim lalu, jadilah pelatih baru Andrea Stramaccioni memplot Karnezis sebagai kiper utama Il Zebrette dan Scuffet harus menerima nasib sebagai cadangan.

Awal tahun 2015, demi mencari menit bermain lebih dia memilih untuk pindah ke tim Serie B, Como dan bahkan masih tetap disana hingga musim 2015-2016 sebagai pemain pinjaman, tentu ini adalah penurunan yang signifikan bagi karirnya selama ini.

           Karir Scuffet masih sangat panjang, masih ada kesempatan baginya untuk comeback dan meraih impiannya menjadi kiper tangguh nan hebat dimasa depan.

Akan tetapi perjalanan karir Simone Scuffet yang sebelumnya melesat cepat layaknya pesawat yang mengudara lalu seketika menukik tajam dalam rentang waktu yang singkat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa andai kita menemukan kesempatan untuk bersinar. Ambil lah dan janganlah takut terhadap resiko yang akan diterima karena kesempatan menjadi yang “terbaik” belum tentu datang dua atau berkali-kali seperti apa yang kita inginkan.

Foto: getty images

Dutchman yang “Tenggelam” Menuju Prancis

Siapa yang tidak tahu akan kehebatan “The Flying Dutchman”?, cerita legendaris tentang kapal laut yang melegenda di seantero benua Eropa sebagai kapal penguasa lautan, dan julukan inilah yang disematkan kepada tim nasional sepakbola Belanda, disamping julukan De Oranje.

Julukan The Flying Dutchmen pantas diberikan kepada Belanda, selain karena kehebatan orang-orangnya dalam mengarungi lautan, dalam hal sepakbola kehebatan Belanda juga sudah menjadi rahasia umum, apalagi jika melihat rekam jejak tim nasional-nya.

Dahulu kala tim nasional Belanda begitu disegani di level dunia, kemunculan gaya permainan Totaal Voetbal karya pelatih legendaris, Rinus Michels dan Johan Cruyff sebagai playmaker-nya di era 70’an sukses dengan menjadi finalis Piala Dunia 1974. Lalu di era 80’an ada trio pemain AC Milan (yang juga berjaya dilevel klub); Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang sukses memberikan gelar juara Piala Eropa 1988 kepada Belanda.

Pada masa 90’an berlanjut dengan kemunculan “generasi” Ajax Amsterdam seperti Edwin Van Der Sar, Clarence Seedorf, Marc Overmars, Phillip Cocu, Frank dan Ronald De Boer, Patrick Kluivert, dan Edgar Davids, lalu berlanjut di era dekade 2000’an dengan pemain-pemain tenar seperti Givanni Van Bronckhorst, Arjen Robben, Mark Van Bommel, Wesley Sneijder, dan Robin Van Persie yang sukses dengan gelar runner-up di Piala Dunia 2010.

Belanda juga terkenal sebagai negeri sepakbola bagi para pemain muda meski liga tertinggi di negara tersebut yaitu Eredevisie, bukan termasuk liga terbaik di Eropa.

Meski begitu talenta muda tiada hentinya lahir di negeri kincir angin tersebut, mulai dari kiper handal seperti Edwin Van Der Sar, bek tangguh Jaap Stam, gelandang yang kokoh seperti Nigel De Jong, gelandang kreatif Rafael Van Der Vaart, bahkan striker tajam seperti Ruud Van Nistelrooy.

Belanda seperti tidak pernah kehabisan stok pemain bagi tim nasional-nya, apalagi pemain Belanda terkenal adaptif dengan berbagai macam bentuk permainan sehingga kran transfer pemain dari Belanda ke klub-klub diluar Belanda pun terus saja terjadi disetiap jendela bursa transfer dibuka.

Disetiap ajang turnamen internasional, baik di level benua maupun dunia, Belanda selalu masuk dalam kontender calon kuat juara, tak terkecuali di Euro 2016 Perancis yang akan datang.

Dengan modal sebagai peringkat ketiga di World Cup 2014 dan berada di Grup A dengan “hanya” menghadapi tantangan paling berat dari Turki dan Republik Ceko, banyak kalangan menganggap Belanda akan melaju mulus di kualifikasi dan juga menjagokan Belanda akan berbuat banyak di Euro 2016 nanti.

Namun jauh panggang dari api, yang terjadi justru sebaliknya, Belanda gagal lolos dari grup dengan hanya mampu finis di posisi 4 dan tidak akan ikut serta dalam Euro 2016!!!.

Sungguh ibarat sebuah “obituari” bagi penggemar De Oranje maupun orang yang mendambakan persaingan ketat di Euro 2016 Perancis nanti.

Akan tetapi sebenarnya tanda-tanda kerapuhan Belanda sudah terlihat sejak dikalahkan Islandia 0-1 di kandang sendiri, lalu ditambah dengan hasil buruk kalah 3-0 dari Turki dan 2-3 dari Republik Ceko di akhir-akhir jadwal kalifikasi membuat mimpi pasukan pelatih Danny Blind harus dikubur total.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Belanda? Apakah permainan mereka itu buruk? Atau regenerasi yang tak berjalan dengan baik? Tentu ini terasa aneh, Belanda adalah pemilik gaya permainan totaal voetbal, lalu mereka juga terkenal dengan bakat-bakat pemain mudanya yang tak pernah habis.

Anomali terjadi jelang akhir kualifikasi mereka seperti kehabisan nafas, disamping peningkatan kualitas tim para pesaing di grup, sebenarnya mereka tak bergitu buruk selama kualifikasi, hanya saja ada satu hal yang kurang dalam skuad arahan Danny Blind yang mungkin ini faktor penting berpengaruh menjelang akhir sebuah kompetisi seperti kualifikasi Euro 2016 yang tentunya banyak tekanan.

Faktor itu adalah mentalitas pemain dalam skuad tim nasional Belanda. Memang soal regenerasi tak perlu disangkal, melimpahnya stok pemain bertalenta membuat siapapun pelatih Belanda tidak akan bingung dalam membentuk skuad yang bagus, akan tetapi mental pemain adalah faktor yang “tak kalah” penting disamping faktor teknik dan bakat pemain.

Mentalitas pemain akan teruji apabila para pemain tersebut sering bermain dalam pertandingan penting dan bertensi tinggi ataupun bermain untuk tim besar yang penuh tekanan.

Apabila para pemain terbiasa menghadapi pertandingan penting bertensi tinggi atau berada di klub besar dan mereka mampu bermain baik, tentu hal itu akan berdampak baik di waktu yang akan datang, mental mereka akan terbiasa ketika menghadapi tekanan besar di pertandingan-pertandingan selanjutnya dan bermain dengan baik.

Faktor mentalitas inilah yang kurang dalam timnas Belanda, mulai dari sektor penjaga gawang. Kiper utama saat ini Jasper Cillessen tidaklah bermain di tim besar Eropa karena hanya bermain bagi Ajax Amsterdam, meski Ajax pernah juara Liga Champions, namun saat ini Ajax hanyalah sebuah tim yang jago di kancah lokal Belanda, begitu juga dengan kiper kedua, Tim Krul yang hanya bermain bagi tim papan tengah Liga Inggris, Newcastle.

Lanjut ke lini belakang, diposisi bek kanan ada Gregory van der Wiel yang bermain baik di World Cup 2010 dan kemudian dibeli Paris Saint-Germain dari Ajax, namun sekarang dia hanya menjadi penghangat bangku cadangan karena kalah bersaing dengan Serge Aurier. Bek kanan lain, Daryl Janmaat hanya bermain untuk Newcastle.

Lalu untuk posisi bek sentral ada nama Bruno Martins Indi yang sangat menjanjikan di FC Porto, namun Porto bukanlah tim jagoan di benua biru meski dulu pernah menjuarai Liga Champions.

Ada juga nama Stefan De Vrij, bek tengah Lazio tetapi jangankan bersinar di kancah Eropa, di Italia saja Lazio bukan unggulan juara Serie-A. Ada juga nama bek Southampton, Virgil van Dijk namun Southampton pun hanya klub menengah di arena Premier League.

Mungkin sektor bek kiri lah yang dapat dikatakan mumpuni untuk lini belakang, ada Daley Blind anak dari Danny Blind, yang bermain bagus di Manchester United.

Ditambah keberadaan Louis van Gaal, sepertinya posisi dia di Manchester United aman untuk beberapa tahun kedepan, namun di tim nasional Belanda, sektor bek kiri hanya dilapisi oleh Jetro Willems dari PSV Eindhoven ataupun bek kiri Ajax, Jairo Riedewald. Tentu sangat riskan apabila Blind cedera atau terkena skorsing, lubang yang ditinggalkan akan sangat terbuka.

Blind Euro mirror
Blind, seperti arti namanya dalam bahasa Inggris. Dia tidak dapat melihat kemana kapal Flying Dutchman harus disandarkan.

Lini tengah Belanda mempunyai segudang pemain bagus namun mereka sedang tidak dalam performa terbaik, entah faktor cedera, permainan klubnya yang buruk ataupun kualitas tim yang tidak terlalu baik.

Posisi gelandang bertahan ada nama Nigel de Jong, jangkar pekerja keras ini adalah karang bagi pemain lawan, namun flop-nya performa AC Milan juga berpengaruh bagi kualitas De Jong tak sebagus dulu, cadangannya Vurnon Anita dari Newcastle dan dan Leroy Fer dari Queens Park Rangers tak sepadan dengan kemampuan De Jong.

Untuk posisi central midfielder, sebenarnya asa muncul pada diri Kevin Strootman, sempat bermain bagus bagi AS Roma, namun cedera panjang menghambat karirnya, lalu ada juga nama talenta muda Marco van Ginkel, ketika baru bergabung ke Chelsea dia sempat menunjukkan prospek cerah sebagai gelandang hebat di masa depan.

Namun sama dengan Strootman, cedera panjang membuat dia kesulitan kembali ke bentuk performa terbaiknya dan saat ini hanya bermain di Stoke City, selain itu ada nama Jonathan De Guzman dan Jordie Clasie, namun mereka berdua hanya pemain cadangan; yang satu Napoli dan satunya di Southampton.

Sektor gelandang serang atau playmaker masih ada gelandang kreatif berkualitas tinggi, Wesley Sneijder namun meski bermain baik bagi Galatasaray, usia yang menua tentu sedikit banyak mengurangi kualitas dan pengaruhnya bagi permainan tim nasional Belanda.

Pelapisnya ada kapten Ajax saat ini, Davy Klaassen akantetapi performanya di tim nasional belum mencapai performa terbaiknya seperti di Ajax. Sebenarnya sebelum kemunculan Klaassen, ada nama kapten Ajax sebelum Klaassen dan Niklas Moisander yang juga berposisi sebagai playmaker, yaitu Siem De Jong, namun pemain yang kini main di Newcastle United ini tenggelam karena cedera parah yang pernah dialaminya.

Untuk posisi lini depan, tenaga Arjen Robben masih “ada” namun sudah tidak maksimal mengingat di Bayern Munchen dia juga sudah tidak lagi menjadi prioritas sebagai winger utama.

Harapan publik Belanda ada pada pundak Memphis Depay, dengan bermain di Manchester United dan menjadi bintang disana tentu hal ini akan mengkikis secara perlahan dambaan mereka pada aksi Robben, namun performanya sampai saat ini masih jauh dari ekspektasi.

Nama-nama seperti Luciano Narsingh (PSV) atau Jeremain Lens dari Sunderland tidaklah cukup mumpuni, adapun Giorginio Wijnaldum di Newecastle yang alaminya sebagai pemain sayap malah dimainkan sebagai central midfielder.

Untuk posisi penyerang tengah keberadaan Robin van Persie sudah seharusnya digantikan, apalagi dia hanya pemain cadangan di Fenerbahce.

Nama lain adalah Klaas Jan Huntelaar yang sudah tak setajam dahulu lagi di Schalke, ataupun Bas Dost yang musim lalu rajin cetak gol bagi Wolfsburg namun kurang diberi kesempatan oleh Danny Blind.

Keberadaan striker lain seperti Eljero Elia (PSV) yang dulu sempat gagal total di Juventus ataupun youngster Ajax, Anwar el Ghazi juga sangatlah kurang bagi Belanda jika ingin berbicara banyak di level internasional seperti Euro.

Faktor mentalitas pemain begitu penting dan hal itulah yang harus dicontoh Belanda dari Spanyol. Spanyol saat ini seperti Belanda, melimpahnya stok pemain bagus membuat siapapun pelatih Spanyol girang namun disini ada faktor pembedanya.

Vicente Del Bosque tidak begitu sering mengutak-atik kompisisi tim nasional Spanyol dengan pemain yang sedang on form. Dia memang tetap memanggil pemain yang sedang dalam performa bagus, entah itu di tim besar ataupun di tim semenjana, namun siapa yang bermain di lapangan adalah mayoritas mereka yang sudah lama berada di timnas.

Del Bosque akan tetap memainkan Sergio Ramos, Cesc Fabregas, ataupun David Silva meski hanya menghadapi Finlandia. Spanyol baru memasukkan pemain “baru” seperti Paco Alcacer, Alvaro Morata, ataupun Mario Gaspar bila memang sudah “saatnya” dan itupun tidak merubah total komposisi pemain karena hanya sebagian kecil yang berubah.

     Mentalitas pemain yang baik membuat regenerasi dan performa timnas Spanyol berjalan dalam keseimbangan, sebagai contoh performa bagus Santi Cazorla selama membela Malaga pun tak serta merta membuatnya menjadi pemain inti di timnas, Del Bosque menilai Santi tidak hanya berdasarkan grafik permainan sesaat, barulah setelah menunjukkan kenaikkan dan konsistensi performa saat pindah ke Arsenal, dia mulai menjadi andalan di La Furia Roja.

Artinya kepantasan seorang pemain menjadi andalan di tim nasional tidak diukur dari performa saja, melainkan konsistensi seorang pemain menjaga performanya hingga akhirnya layak disebut sebagai pemain berkelas dan sudah pasti bermental juara.

Konsistensi menjaga performa turut berpengaruh pada mental para pemain tersebut, kepercayaan diri pemain akan terdongkrak, karena menjadi pemain penting di klub dan sering berlaga dalam game yang penuh tekanan, apalagi jika berada di tim besar mental pemain tersebut semakin kokoh dengan tekanan-tekanan yang ada andai tetap mampu menjaga konsistensi permainan.

Hal inilah yang tidak ada pada Belanda dan yang membedakan dengan Spanyol, masalah inkonsistensi performa pemain bintang di klub, pemain andalan tim nasional yang hanya berada di klub menengah, sampai kegemaran Danny Blind merubah-rubah susunan pemain dengan para “debutan” yang performa-nya terkadang masih angin-anginan membuat permainan mereka justru menurun menjelang akhir kualifikasi.

Pemain dengan performa bagus selalu dicoba oleh Blind, namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa pemain berkelas itu berbeda dengan pemain yang hanya “sedang”dalam performa bagus, rata-rata pemain yang dipakai Blind baru menjadi andalan di klub musim ini atau setahun dua tahun lalu, itu membuat mentalitas pemain kurang teruji dalam laga-laga besar dan krusial.

Padahal keteguhan dan kuatnya mental pemain dibutuhkan disaat-saat genting seperti akhir kualifikasi yang sangat menentukan nasib dan mental kuat inilah yang tidak ada pada pasukan Belanda. Hasilnya adalah pukulan telak bagi “The Flying Dutchman” yang harus menerima nasib menjadi “The Sinking (tenggelam) Dutchmen”.

Sungguh sebuah ironi, melihat tim yang kaya akan pemain bertalenta dan sejarah sepakbola-nya yang begitu mahsyur, dipecundangi oleh tim yang dikatakan kelas dua seperti Turki, Ceko maupun Islandia. Dan akhirnya kegagalan Belanda ini mengingatkan kita pada istilah populer dalam dunia sepakbola bahwa “form is temporary, but class is permanent”.

Foto dari mirror.co.uk