Tak ada Rotan, Akar pun jadi versi AS Roma

Bagi sebuah klub sepakbola, menggunakan jasa direktur olahraga sudah bukan rahasia lagi. Meski urusan transfer bisa dibebankan kepada pelatih, pos direktur olahraga dirasa semakin penting dalam sepakbola modern kini yang penuh kerumitan dalam birokrasi. Jabatan direktur olahraga (sporting director) dalam struktur manajemen akan diberi tupoksi untuk mengurusi lalu lintas transfer pemain.

Bila berbicara direktur olahraga, salah satu yang disebut-sebut sangat mumpuni adalah sosok yang disebut “Monchi”. Pria asal Spanyol bernama asli Ramon Rodriguez Vardejo itu menjabat direktur olahraga AS Roma kali ini. Pernah santer dirumorkan bakal digamit oleh klub besar seperti Real Madrid dan Liverpool, tentu menunjukan kalau orang ini bukan nama direktur olahraga sembarangan.

Sebelum ke AS Roma, karir Monchi sebagai direktur olahraga mulai benderang di Sevilla sejak 2000. Klub asal wilayah Andalusia inilah klub pertama yang merasakan servis Monchi sebagai direktur olahraga. Kecemerlangan Monchi sudah teruji dengan mendatangkan banyak pemain harga miring namun dijual mahal beberapa tahun kemudian setelah tampil bagus di Sevilla.

Sebut saja Daniel Alves, Adriano, Ivan Rakitic, Carlos Bacca, Gregorz Krychowiak, Geoffrey Kondogbia atau Kevin Gameiro. Nama-nama diatas yang direkrut semasa Monchi menjabat direktur olahraga Sevilla, menghasilkan pundi-pundi euro yang banyak bagi klub. Itu pun masih ditambah kesuksesan Monchi menaikan harga pemain-pemain potensial dari akademi seperti Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos dan Jesus Navas dengan harga yang selangit.

Selain jaringan pemandu bakat yang sangat luas, keberadaan master transfer seperti Monchi sangat krusial bagi Sevilla yang tak punya kondisi finansial hebat seperti klub-klub besar. Monchi adalah jaminan bagi Sevilla untuk tetap kompetitif dengan pemain bagus, namun yang berharga murah. Empat trofi Liga Europa yang Sevilla rengkuh dengan pemain-pemain hasil kerja transfer Monchi adalah bukti tak terbantahkan lagi.

Saat ini kepindahan Monchi ke AS Roma tentu memicu antusiasme tinggi dari fans. Sudah sangat lama trofi scudetto belum singgah lagi ke ibukota Italia, sejak terakhir kali pada tahun 2001 lalu. Kedatangan Monchi memicu gairah baru yang seakan menandakan Roma siap menjadi penantang serius gelar juara.

Bergabungnya sosok yang menjadi kiper sebelum pensiun ini diharapkan mampu memberi kestabilan bagi Roma, terutama dalam usahanya meraih berbagai trofi prestisius dan juga membangun reputasi sebagai klub yang mapan. Tetapi membaca gelagat kedatangan Monchi ke AS Roma, sebenarya harapan menjadi juara dan terutamanya Serie A, belum akan datang dalam beberapa musim kedepan.

Seperti diketahui, AS Roma dibawah presiden orang AS berdarah Italia, James Pallotta, sedang melancarkan proyek pembangunan stadion baru. Tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merampungkan hal itu.

Jika dirunut, maka pertemuan Monchi yang punya rekam jejak pencari pemain murah untuk dijual mahal dengan Roma yang sedang butuh dana pembangunan stadion akan menghasilkan sebuah premis bahwa; Monchi didatangkan untuk menstabilkan keuangan AS Roma terlebih dahulu, bukan langsung menargetkan trofi.

Bukti awal sudah kentara, ketika pilar inti seperti Mohamed Salah dilego ke Liverpool dengan mahar 39 juta pounds. Tak cuma itu, pemain-pemain penting lain juga santer sedang dipertimbangakan untuk dijual. Kostantinos Manolas dan Antonio Ruediger masing-masing diisukan ke Zenit St. Petersburg dan Internzionale dan Chelsea. Yang juga membuat miris, Radja Nainggolan kabarnya akan direkrut Manchester United. Jika kesemua berita itu benar-benar terealisasikan, akan benar-benar menjadi kehilangan besar bagi AS Roma.

Tugas Monchi disinyalir akan meneruskan tradisi direktur olahraga Roma sebelumnya, Walter Sabatini untuk mencari pemain muda yang murah dan kemudian dijual semahal mungkin seperti Erik Lamela, Marquinhos, dan Miralem Pjanic.

Peluang demikian semakin kentara ditambah faktor pelatih baru Roma, Eusebio Di Francesco yang menggantikan Luciano Spalletti, adalah orang yang mengorbitkan talenta-talenta hebat “tak bertuan” semasa di Sassuolo. Nama-nama didikan Di Francesco yaitu Domenico Berardi, Nicola Sansone, Gregoire Defrel, Matteo Politano dan Lorenzo Pellegrini.

Melihat kabar mercato sejauh ini (6 Juli 2017), pemain-pemain yang sudah didatangkan ke Roma juga bukan nama besar. Perjudian besar Monchi lakukan jika Hector Moreno (PSV) dan Rick Karsdrop dari Feyenoord jadi menggantikan Manolas dan Ruediger, yang sudah sangat nyetel di Serie A. Kontrak Wojciech Szczesny juga belum punya kepastian karena Roma masih punya kiper internasional Polandia yang lain, Lukasz Skorupski (dipinjamkan ke Empoli).

Untuk menggantikan Mohamed Salah, Roma dikabarkan menghubungi sayap andalan Stoke City, Xherdan Shaqiri. Tetapi melihat reputasinya, Shaqiri bukanlah pengganti sepadan Salah, lagipula Shaqiri pernah gagal ketika di Italia bersama Internazionale.

Selain itu Roma dikabarkan memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo. Calon gelandang masa depan Italia ini merupakan produk akademi AS Roma. Kedatangan Pellegrini terhitung penting disamping penambahan kualitas tim. Pellegrini akan mengguatkan kembali komposisi putra asli Roma, yang saat ini hanya ada dua di tim; Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi pasca kepergian il capitano Francesco Totti.

Cenderung adem ayem tidak mengincar nama besar di bursa transfer dan justru akan menjual aset-aset terbaiknya, menjadi bukti bagaimana kejelasan rencana Roma bersama Monchi; menuai profit dari pasar transfer. Pembangunan stadion yang memakan dana besar menjadi alasan kuat AS Roma membutuhkan seorang juru transfer seperti Monchi. Diharapkan orang ini mencari bakat yang tidak terlalu terekspos (harga murah) kemudian menjual mahal beberapa tahun kemudian.

Bagi fans AS Roma, tentu muncul rasa kecewa dengan langkah klub dalam bursa transfer di pertengahan tahun 2017 ini. Bukannya memperkuat tim yang sudah mulai stabil, justru kembali bongkar pasang susunan pemain yang terjadi.

Sulit bagi Roma mengulang prestasi musim lalu (runner-up), belum lagi musim depan Roma kembali berlaga di Liga Champions. Dengan langkah transfer yang sangat jauh dari memuaskan sampai saat ini, apakah Roma akan tetap bertaji di Serie A sekaligus di Eropa? Sepertinya sulit terjadi, walau sekedar hanya membayangkan.

Kalau hanya mencari pemain murah yang kemudian dijual mahal, tak perlu repot mengkontrak Monchi sebagai direktur olahraga, Walter Sabatini saja sudah cukup bagi Roma. Erik Lamela, Marquinhos, Pablo Osvaldo dan Miralem Pjanic bukan primadona transfer kala didatangkan Sabatini, namun nyatanya kemudian berhasil dijual dengan harga yang terhitung mahal.

Kevin Strootman, Radja Nainggolan, Kostantinos Manolas, dan Antonio Ruediger “belum pemain jadi” ketika didatangkan, namun yang pasti saat ini, untuk merekrut mereka dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu Sabatini juga berhasil menemukan bibit-bibit muda menjanjikan semacam Leandro Paredes dan Emerson Palmieri.

Pada akhirnya, antusiasme yang muncul ketika awal kedatangan Monchi akan menguap begitu saja dengan melihat gelagat Roma di pasar transfer saat ini. Impian untuk menyaingi Juve dalam perburuan scudetto harus kembali dipendam oleh tifosi Roma, apalagi berbuat banyak di Liga Champions.

Scudetto sepertinya belum akan bertambah di lemari trofi AS Roma, meski baru saja kedatangan direktur olahraga baru yang sangat mumpuni. Pertautan antara si jenius Monchi dalam mencari pemain murah untuk dijual mahal, dengan Roma yang butuh dana pembangunan stadion dalam jangka waktu panjang, menjadi argumentasi logis untuk meragukan Roma bakal scudetti dalam beberapa musim kedepan.

Setidaknya jika tifosi Roma sukar untuk berharap pada cita-cita scudetto, masih ada trofi lain yang sering mantan klubnya Monchi dapatkan, yakni Liga Europa. Sevilla pernah empat kali menyabet gelar juara Liga Europa dengan pemain-pemain rekrutan Monchi dahulu kala. Bagi Roma barangkali peribahasa “tak ada rotan, akar pun jadi” dengan keberadaan Monchi seharusnya berarti “tak ada scudetto, Liga Europa pun jadi”.

Sumber foto dari Gazzetta.it

Advertisements

Solo Run Zebra

      Serie A, kompetisi sepakbola tertinggi di Italia ini masih seperti dulu saja rasanya, masih tetap hitam putih jadi topik utama, ya siapa lagi kalau bukan Juventus. Sudah lima musim Juventus selalu menjadi scudetti, dan tim lain seperti Roma, Napoli, Milan dan Inter seakan merelakan diri hanya menjadi penonton dalam kompetisi ini, dengan mudahnya Juventus juara.

     Pertanyaanya apakah Serie A mengalami kemunduran? Jawabannya sudah pasti iya, saat ini pamor sepakbola Italia tengah menurun, beberapa faktor ikut berpengaruh seperti kriris ekonomi juga dijadikan kambing hitam atas keterpurukan Serie A belakangan ini.

    Namun menyalahkan faktor krisis ekonomi global apakah bijak? Ternyata bukan hanya itu, karena ada faktor lain yang jelas berdampak signifikan bagi Calcio, tidak lain adalah dari dalam diri mereka sendiri.

        Italia seperti menutup mata pada perkembangan zaman, mereka seakan masih terbuai romantisme masa lalu dimana mereka yang dulu adalah terbaik di dunia, Serie A memang berjaya pada era 90an hingga 2000an, namun saat ini jelas tidak mungkin.

     Jangankan bersaing dengan Premier League, bersaing dengan Liga Jerman saja kini tidak mampu, apa “penyakit” yang selama ini mendera Italia? Pertama adalah dari sisi manajemen klub, di Italia pada umumnya setiap klub tidak mempunyai stadion alias menyewa kepada pemerintah kota jika akan berlaga, dan hanya Juventus yang saat ini mempunyai stadion sendiri.

    Hal ini jelas berimbas pada pendapatan klub yang minim, dengan menyewa stadion maka pendapatan dari tiket penonton tidak sepenuhnya menjadi kas untuk klub, melainkan juga akan dibayarkan ke pemilik stadion sehingga keuangan klub tidak sebanyak yang dibayangkan.

       Dengan hanya Juventus, Udinese dan Sassuolo yang mempunyai stadion sendiri, maka wajar apabila Serie A selalu dikuasai Nyonya Tua tersebut karena sehatnya ekonomi mereka, sedangkan Sassuolo mulai berkembang secara positif dari klub kecil hingga menjadi lebih baik dari musim ke musim.

     Sekarang jika ditinjau dari sisi hiburan, permainan tim-tim di Italia memang bisa dikatakan “membosankan” dan tidak menghibur, karena Italia sudah melekat dengan strategi defensif sejak dahulu kala, apalagi kalau bukan Cattenaccio.

    Kultur di Italia memang mengutamakan kemenangan, disana hasil lebih diutamakan daripada keindahan bermain bola, bertahan dan menggunakan serangan balik menjadi kebiasaan, tak heran kini apabila kita menonton Serie A, maka rasa kantuk akan menyergap kita dan mungkin hanya seorang tifosi sejati saja lah yang akan tetap betah menikmati kemonotonan permainan tim Italia.

   Namun karena tren taktik berubah, tim di Italia juga sudah mulai berani mencoba perubahan, tidak hanya klub besar saja, melainkan klub kecil pun berani tampil agresif dan menyerang, Sassuolo dibawah komando Eusebio Di Francesco bermain dengan pressing dan intensitas tinggi adalah contoh nyata. Setidaknya sudah ada beberapa tim yang memberikan warna berbeda di Serie A.

      Faktor lain adalah banjirnya pemain asing yang menumpuk di Italia, tidak hanya di Serie A, bahkan Serie B hingga Lega Pro juga mulai banyak stranieri (pemain asing) bertebaran. Memang boleh saja stranieri datang, namun hal ini justru akan mempersempit ruang bagi pemain muda Italia dan dampak tersebut akan terasa bagi tim nasional.

       Kalau stranieri yang datang adalah pemain berkualitas itu justru bagus untuk Serie A, tetapi kalau yang datang adalah pemain dengan kualitas pas-pasan untuk apa?. Saat ini kebiasaan mendatangkan stranieri tidak hanya dilakukan oleh tim besar, bahkan tim kecil seperti Udinese dan Bologna pun sudi memboyong banyak pemain asing.

     Dampak dari mudahnya pemain asing masuk Italia sudah terasa jelas didepan mata, pada akhirnya tim nasional Gli Azzurri kena getahnya, Euro 2016 di Perancis yang lalu merupakan cerminan, ketika skuat Italia disebut sebagai “skuat terburuk Italia sepanjang masa” dan hasilnya pun kita tahu Italia tersingkir di perempat final.

      Keputusan FIGC (asosiasi sepakbola Italia) menerapkan aturan home-grown players yang baru dilaksanakan musim ini dirasa terlambat, karena kebijakan ini baru akan berdampak setidaknya 5 tahun kemudian, maka tidak heran di Piala Dunia 2018 nanti Italia akan bernasib sama seperti yang selama ini terjadi.

    Untuk saat ini berjubelnya pemain asing berkualitas dibawah rata-rata jelas punya pengaruh negatif bagi kualitas sepakbola Italia secara keseluruhan, apalagi ini diperparah dengan tingkat kepercayaan pelatih Serie A untuk pemain lokal ternyata begitu rendah, sudah menjadi rahasia umum pemain akademi tidak dipersiapkan untuk berada tim utama tetapi dipinjamkan kesana kemari hingga potensi mereka meredup.

    Kepercayaan klub Italia pada telenta muda lokal mereka sendiri seakan menjadi petunjuk bahwa kompetisi di Italia tidak ramah bagi pemain muda, kepercayaan yang rendah dan infrastruktur yang juga tertinggal, sudah pasti wajar jika mulai dari Marcello Lippi, Cesare Prandelli hingga Antonio Conte mengeluh tentang minimnya stok pemain bagus di negeri mereka sendiri.

      Kembali ke persaingan merengkuh scudetto, saat ini Juventus masihlah kandidat terkuat untuk juara, apalagi mereka berhasil “menggembosi” kekuatan inti darilawan terkuat dengan membeli Miralem Pjanic dari Roma dan Gonzalo Higuan dari Napoli, transfer Higuan bahkan menjadi rekor termahal di Serie A (90 juta euro).

     Selain melemahkan rival domestik, si Nyonya Tua juga menambah kualitas dengan membeli pemain dari luar Serie-A. Daniel Alves yang sangat kaya pengalaman hebat bersama Barcelona berhasil didatangkan, walau sudah uzur namun kualitasnya masih bisa diandalkan, tambahan youngster Marko Pjaca, Mehdi Benatia (pinjam dari Bayern), dan Juan Cuadrado sebagai pinjaman dari Chelsea menjadikan skuad Juventus makin kuat.

    Sepertinya Juve ingin naik kelas dan bukan hanya jagoan kancah lokal, namun juga merajai Eropa seperti Real Madrid, Barcelona dan Bayern Munchen, skuad Juve pun bisa jadi tambah mantap saja apabila transfer Axel Witsel tidak gagal.

        Sementara Juve bertambah sangat kuat, tim lain seperti Napoli, Roma, Inter dan Milan meski ada peningkatan namun tidak secara drastis. Napoli mengkompensasi loncat-nya Higuain ke Turin dengan pengganti bernama Arkadiusz Milik, meski punya potensi untuk bersinar mantan pemain Ajax ini belum teruji benar sebagai bomber kelas atas dan belum sebanding dengan Higuain, ujung tombak akan diperebutkan antara Milik dan Manolo Gabbiadini.

      Untuk lini tengah dan belakang, I Partenopei menambah pilihan dengan mengkontrak dua pemain yang musim lalu bermain bagus di Empoli, Piotr Zielinski dan Lorenzo Tonelli, Napoli memang gemar mengambil pemain dari Empoli mengingat Maurizio Sarri punya koneksi di Empoli, karena dulu dia melatih disana.

      Sementara manuver AS Roma bahkan dikatakan lebih jelek dari Napoli, kehilangan Miralem Pjanic tidak diganti dengan pemain yang sepadan. Roma justru memilih untuk memaksimalkan Kevin Strootman dan Leandro Paredes.

    Strootman memang pemain bagus, namun cedera panjang menjadikan kualitasnya diragukan untuk berkembang, sementara Paredes masih pemain muda yang perlu pembuktian. Lini belakang terbilang lumayan, Maicon yang sudah uzur digantikan Bruno Peres yang merupakan salah satu bek kanan terbaik Serie A, kepergian Lucas Digne ke Barcelona diganti oleh Mario Rui, namun pemain ini langsung cedera 4 bulan setelah bergabung.

    Untuk melapis duet bek tengah Kostas Manolas dan Antonio Rudiger, direktur olahraga Roma, Walter Sabatini berhasil meminjam tiga pemain sekaligus; Federico Fazio (Tottenham), Juan Jesus (Inter) dan Thomas Vermaelen (Barcelona), tidak buruk dari segi kualitas namun masih kurang karena tiga pemain ini rentan cedera dan Wojciech Szcsezny berhasil dipermanenkan meski harus meminjamkan Lukasz Skorupski lagi, sementara lini depan tidak ada perubahan sama sekali.

      Milan lebih parah, meski kini ada pelatih muda potensial dalam diri Vincenzo Montella, tetapi transfer yang dilakukan Milan jauh dari kesan berkualitas atau bisa dikatakan medioker. Menuanya Alex, Gabriel Paletta, Phillippe Mexes, inkonsistensi Cristian Zapata dan masih hijaunya Rodrigo Ely, membuat Alessio Romagnoli menjadi satu-satunya bek tengah yang pantas bermain reguler.

       Mateo Musacchio menjadi incaran namun yang datang adalah Gustavo Gomez, dibeli dari Lanus dengan angka 8 juta euro dan meski sudah menjadi andalan tim nasional Paraguay, kualitasnya masih perlu pembuktian. Piotr Zielinski diinginkan Montella untuk memperkuat sektor tengah, tetapi yang datang justru dua pemain pinjaman Mario Pasalic (Chelsea), Matias Fernandez (Fiorentina) dan membeli Jose Sosa (Besiktas), jelas kurang untuk bersaing di zona Liga Champions.

     Untuk lini depan hanya ditambah stok peraih top skor Serie B musim lalu, Gianluca Lapadula, bahkan Milan hampir melego Carlos Bacca ke West Ham, entah apa yang dipikirkan Adriano Galliani. Daripada sia-sia membeli dan meminjam pemain berkualitas standar seperti itu, seharusnya Milan mempromosikan pemain Primavera, siapa tau muncul pemuda berbakat lagi seperti Donnarumma dan De Sciglio di musim ini.

        Inter terlihat lebih bersemangat musim ini, nama-nama besar berhasil dibujuk untuk menjadi bagian skuad di Giuseppe Meazza. Ever Banega yang menemukan kembali bentuk permainan terbaik di Sevilla bahkan berhasil direkrut bebas transfer, padahal pemain ini yang menjadi kunci permainan Sevilla kala meraih trofi Europa League di dua musim terkahir.

     Pemain sayap tim nasional Italia, Antonio Candreva berhasil didaratkan dari Lazio, Joao Mario yang bermain bagus di Euro 2016 bersama tim nasional Portugal juga dibeli seharga 40 juta euro dari Sporting Lisbon. Paling sensasional adalah kemenangan Inter atas Barcelona untuk mendapatkan wonderkid Brasil, Gabriel Barbosa atau biasa disebut Gabigol. Yang tidak ada perubahan adalah lini belakang, padahal sektor ini seharusnya butuh tenaga baru.

     Setelah Juventus, Inter paling giat mencari pemain bagus, akantetapi hal ini tidak dibarengi dengan harmonisasi manajemen dengan staf pelatih, Roberto Mancini pergi karena terlibat konflik dengan manajemen. Frank De Boer yang ditunjuk sebagai pengganti adalah orang yang tidak punya pengalaman di Italia, jangankan sebagai pelatih, sebagai pemain saja tidak sekalipun main negeri Pizza ini.

     Mercato musim panas ini sudah membuktikan, Juve masih yang terdepan meski kehilangan Paul Pogba, kekuatan Juve tidak berkurang dan justru bertambah besar.

     Banyak pihak memprediksi Juve akan mudah mempertahankan scudetto seperti musim-musim sebelumnya, yang menjadi perhatian publik Italia kali ini bukan siapa yang juara liga tetapi adalah seberapa jauh Juve melangkah di Liga Champions dan siapa yang akan berpotensi mengganggu perjalanan Juventus menuju tangga juara di musim.

    Ya, Serie A masih seperti ini saja, persaingan yang monoton, minim pemain muda, membanjirnya stranieri, dan rendahnya daya saing klub Italia di level Eropa, seakan menutupi keindahan calcio yang pernah berjaya di era 90an hingga awal milenium 2000an ini. Kuda Zebra masih akan berlari sendirian kali ini atau dalam istilah sepakbola disebut solo run. Serigala, Partenopei maupun si Ular hanya akan mampu menjadi pengganggu bagi Zebra, namun apapun itu Liga Italia tetaplah kompetisi yang sangat ingin dinikmati oleh para tifosi setia, Forza Ragazzi.