Image

Wayne Rooney; Rekor, Kehampaan dan Berkurangnya Loyalitas Sepakbola Kini

Bagi pendukung Manchester United, nama Wayne Rooney sudah tentu masuk daftar idola yang dielu-elukan. Pemain kelahiran Liverpool, 24 Oktober 1985 ini juga menyandang status kapten klub sejak beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di United, Rooney juga masih didaulat sebagai kapten tim nasional Inggris hingga kini.

Terkait Rooney, sudah pasti kalau ban kapten yang melingkar di lengannya adalah bukti bahwa dia, bukan pemain sembarangan. Rekor dari catatan gol fantastis sukses dia bukukan baik itu bersama Manchester United atau pun The Three Lions.

Gol penyama kedudukan di menit-menit akhir ke gawang Stoke City, 21 Januari lalu tak hanya menyelamatkan timnya dari kekalahan, namun sekaligus menjadikan Rooney sebagai top skor sepanjang masa Manchester United dengan 250 gol.

Golnya itu sudah cukup untuk melampaui 249 gol milik legenda Sir Bobby Charlton. Di timnas Inggris idem ditto, jumlah 53 gol miliknya adalah yang tertinggi dari semua pemain yang pernah bermain bagi skuad The Three Lions.

Dia sendiri sudah mulai sering menjadi andalan MU dan Inggris sejak tahun 2004. Kenapa Rooney mencetak gol yang banyak, hal ini tidak lepas dari posisinya sebagai penyerang utama Manchester United dan Inggris dalam satu dekade terkahir. Lain daripada itu, memecahkan rekor gol terbanyak di klub sekelas MU dan timnas seperti Inggris bukanlah perkara yang setiap pemain bisa lakukan.

Ditambah banyak gelar yang ia raih bersama klubnya seperti Liga Champions, Premier League atau FA Cup, maka dari itu bisalah kita sebut bahwa Wayne Rooney, sudah pantas dikatakan sebagai “legenda”, walau belum pensiun. Meski ditataran negaranya sendiri, dia belum memberi gelar apa-apa untuk The Jack Union, julukan timnas Inggris.

Pujian mengalir deras tidak hanya dari orang yang terkait dengan Manchester United, bahkan dari Jack Wilshere, pemain Arsenal yang kini dipinjam Bournemouth itu menyampaikan selamat atas rekor Rooney melalui sosial media Instagram. Pecahnya rekor yang telah lama dipegang legenda Bobby Charlton oleh kapten Rooney, tentu menjadi suka cita tersendiri bagi fans MU dimanapun mereka berada.

Namun, disisi lain walau ada rekor baru yang tercipta, justru sebenarnya hal itu datang di waktu yang kurang tepat. Rooney tengah disorot karena performa inkonsisten yang ia sajikan beberapa tahun terakhir. Sehingga meski rekor baru ini tercipta, ada sedikit kehampaan akibat performa Rooney yang tidak stabil, khususnya dalam hal mencetak gol, apalagi standar kehebatan striker dilihat dari kemampuannya menjebol jala lawan.

Performa labil Rooney dalam mencetak gol bisa dilihat dari statistik, yang berdasarkan situs whoscored.com, Rooney di Premier League hanya mengemas masing-masing 12 dan 8 gol di dua musim terakhir. Musim ini pun dia baru dua kali menjebol gawang tim lawan di Premier League, termasuk gol ke gawang Stoke.

Penurunan ketajaman Rooney, mungkin sedikit dipengaruhi pergeseran posisi yang lebih kebelakang. Terlebih dua musim sebelum ini, ketika Van Gaal menduduki kursi pelatih United, Rooney seringkali ditarik kedalam. Tidak cuma menjadi gelandang serang atau gelandang tengah, bahkan hingga gelandang bertahan pernah diperankan oleh pemain dengan panggilan Wazza ini.

Apakah merosotnya Rooney memang benar akibat ulah Van Gaal yang menjadikannya gelandang atau memang dia sendiri sudah mengalami penurunan performa? Karena sering menjadi gelandang, bahkan hingga berposisi yang sangat defensif tentu akan mengurangi insting ketajaman Rooney merobek gawang lawan.

Tetapi statistik menjadi bukti, Rooney tidak menurun, hanya performa dia menyesuaikan dengan posisi yang ia emban ketika di lapangan. Kalau parameter yang dipakai yaitu performa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Ketika sering menjadi gelandang (dua tahun era Van Gaal), Rooney punya presentase akurasi umpan 83,9% dan tekel 1,05 perlaga. Rooney juga punya catatan stabil 5 dan 6 dalam hal assist di dua musim terkahir ini di Premier League.

Bisa dibilang kualitas Rooney belum habis, hanya dia menyesuaikan performa sesuai dengan posisi yang dijalani. Jika ia masih dipercaya menjadi juru gedor utama, barangkali merayakan rekor sebagai all-time goalscorer untuk Manchester United akan terasa lebih spesial bagi dirinya, apabila dia tetap konsisten tajam dalam mencetak gol.

Pencapaian hebat Rooney juga menjadi pertanda berakhirnya era pemain besi Premier League. Dalam bahasa penulis, besi adalah suatu yang bisa awet dan bertahan lama. Maka diibaratkan “pemain besi” itu adalah dia yang bertahan lama di sebuah klub, tak lain karena loyalitas yang tinggi. Steven Gerrard yang pergi dari Liverpool atau Frank Lampard yang merantau keluar dari Chelsea, beberapa contoh pemain besi yang sudah pergi dari Premier League.

Lampard, Gerrard atau Rooney disamping menjadi ikon Premier League medio 2000an, mereka juga menjadi perlambang kesetiaan pemain terhadap klubnya. Hal inilah yang semakin susah dicari di zaman ini. Sepakbola yang sudah tidak ada bedanya dengan ajang cari uang saja, membuat loyalitas pemain dipertanyakan. Semakin sulit mencari pemain hebat dengan loyalitas tinggi belakangan ini. John Terry yang sudah melekat sebagai salah satu ikon The Blues pun akan meninggalkan Chelsea musim panas 2017 ini.

Loyalitas pemain bintang bisa tergadaikan apabila ada uang yang menjadi iming-iming. Terlebih adanya Tiongkok, yang berani jor-joran mengeluarkan uang. Pergi ke Tiongkok pun kini seakan sudah mulai menjadi tren pemain-pemain dari liga-liga besar di Eropa.

Masih betahnya Rooney di Teathre of Dreams, setidaknya hingga kini patut diapresiasi. Meski Rooney sedang tidak bagus, menuju senja karir dan di kritik habis-habisan, dia tetap mampu mengkir rekor hebat. Lalu dia pun menjadi lambang loyalitas pemain bintang, yang kini seakan sudah jadi barang langka.

Setidaknya masih ada nama besar seperti Rooney ditambah Michael Carrick di MU dan John Terry (Chelsea) musim ini, dapat menunjukkan sepakbola tidak selamanya bisa dimainkan uang, masih ada rasa kesetiaan tinggi, khususnya di Premier League. Jika pemain-pemain ini tidak loyal, barangkali mereka sudah hijrah ke China dengan gaji yang berlipat-lipat dari yang mereka dapat di Inggris.

Itulah sedikit tentang Rooney, andai dia sedang ganas-ganasnya mencetak gol, mungkin terciptanya rekor gol terbanyak di Manchester United akan terasa lebih indah. Namun meski ada sedikit kehampaan dari rekor tersebut, menuanya Rooney bisa jadi menjadi pertanda pamungkas, akan berkahirnya sebuah era “pemain besi” di Premier League.

Foto dari The Guardian

*Statistik angka dari Opta

 

Advertisements

Alergi Klub Premier League Diawal Tahun Ganjil

Sejatinya, klub ataupun suporter tentu akan bangga apabila pemain kesayangannya tidak hanya mampu untuk unjuk gigi di klub, namun hingga ke tim nasional. Ketika para pemainnya dipanggil tim nasional dan bermain baik, terlebih lagi di pertandingan turnamen besar, ada beberapa keuntungan.

Bagi klub, ketika pemain semakin terkenal akan kualitasnya, maka harganya bisa naik tajam. Lalu jika makin banyak pemain yang berkualitas, tenar dan populer, maka sponsor-sponsor akan mulai berdatangan. Dan jikapun ingin dijual, patokan harga tinggi bisa dikenakan karena performa bagus si pemain di sebuah turnamen besar.

Bagi suporter, mungkin mereka tidak merasakan impak secara wujud nyata. Namun dari sisi emosional dan psikologis, ketika pemain idolanya di klub tersebut juga bermain bagus bersama timnasnya di ajang besar, tetap ada rasa kebanggaan tersendiri.

Tetapi apakah selamanya klub dan suporter senang, jika pemain andalan mereka mendapat panggilan bermain di tim nasional masing-masing untuk turnamen antar negara? Ternyata tidak selamanya begitu, apalagi bagi klub Premier League jika sudah memasuki Januari di tahun ganjil.

Ya, tahun ganjil identik dengan turnamen sepakbola kontinental benua Afrika. Edisi kali ini adalah Piala Afrika 2017 di negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Piala Afrika, dimainkan di bulan Januari tahun ganjil. Itulah, penyebab klub-klub Premier League tidak suka dengan hal ini.

Kok tidak suka? Meski begutu, ketidaksenangan mereka wajar apabila melihat kompetisi liga tahun ini yang begitu ketat. Sudah pasti keberadaan pemain-pemain asal benua Afrika yang menjadi andalan di klub-klub Inggris tersebut sangat dibutuhkan, terlebih pada awal tahun ini dimana jadwal padat menggentayangi klub-klub Inggris.

Berkaitan dengan Piala Afrika pada bulan Januari 2017 ini, kebetulan ada beberapa klub besar yang akan kehilangan pemain andalan selama Januari hingga awal Februari ini. Pertama adalah Liverpool, kepergian Sadio Mane untuk memperkuat timnas Senegal akan menjadi beban pikiran lebih dalam laig untuk arsitek The Reds, Jürgen Klopp.

Mane salah satu pemain kunci Liverpool musim ini. Dia menjadi top skor sementara Liverpool dengan mengemas 9 gol dan juga mengukir 4 assist dalam kurun 19 partai liga yang ia lakoni. Tidak sebatas itu, Mane juga sudah mulai klop dan membentuk trisula padu bersama Coutinho dan Firmino di lini depan The Anfield Gang’s.

Pergerakan yang dinamis, cepat, membuka ruang untuk rekan serta ketajaman mencetak gol dari Mane, untuk ementara tidak akan dirasakan Liverpool Januari ini, dan bertambah lagi hingga Februari jika Senegal sampai masuk final Piala Afrika. Sedangkan Joël Matip, andalan lini belakang Liverpool yang satu ini tidak ikut ke Piala Afrika karena menolak panggilan dari timnas Kamerun.

Chelsea, sang pucuk klasemen hingga gameweek 20 ini tidak terdampak Piala Afrika. Victor Moses sebagai wing-back kanan utama andalan tim racikan Antonio Conte, akan tetap di Inggris karena Nigeria gagal lolos kualifikasi Piala Afrika 2017. Tottenham, yang ikut meramaikan zona 6-besar liga musim ini juga tidak akan terganggu Piala Afrika. Itu karena Kenya, negara gelandang bertahan Victor Wanyama, gagal lolos ke putaran final.

Sementara rival sekota Chelsea, Arsenal akan kehilangan Mohammed Elneny yang tampil bersama timnas Mesir. Nasib Arsenal lebih baik dari Liverpool, karena pemain yang dipanggil (Elneny) hanya sebatas pemain pelapis Arsenal dan bukan pemain penting seperti Mane di Liverpool. Untung pula Nigeria tidak lolos kali ini, jika iya maka Alex Iwobi yang sering bermain akhir-akhir ini akan membuat Arsenal kekurangan pilihan di lini tengah akibat tugas negara bagi sang pemain.

Nasib baik juga mengiringi Manchester City, Yaya Toure sudah pensiun dari tim nasional Pantai Gading. Lalu, Kelechi Iheanacho terhindar karena Nigeria gagal lolos ke Piala Afrika 2017 di Gabon tersebut. Sementara itu, Manchester United akan kehilangan Eric Bailly yang senegara dengan Toure. Bailly akan bahu-membahu rekannya hingga Pantai Gading melangkah sejauh mungkin di turnamen dua tahunan tersebut.

Klub lain diluar zona enam besar juga tak luput ikut kena efek Piala Afrika ditegah berjalannya liga. Contohnya, juara bertahan Leicester City, yang harus kehilangan beberapa pemain penting seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani (Aljazair) dan Daniel Amartey bermain untuk Ghana. Tentu makin menyulitkan langkah The Foxes yang terseok-seok sejak awal musim ini.

Lalu kenapa bisa dikatakan klub Premier League seakan “alergi” dengan Piala Afrika? Pertama, kepergian pemain ketika musim liga sedang berlangsung dan ditengah jadwal yang padat. Sepakbola di Inggris memang terkenal padat jadwal dan keberadaan Piala Afrika diawal tahun sangat tidak menguntungkan klub, apalagi mereka yang sedang bersaing dipapan atas dan kompetisi Eropa.

Kedua, terkait kemungkinan cederanya pemain dalam turnamen tersebut. Arsene Wenger, ketika Arsenal masih diperkuat pemain-pemain dari benua Afrika seperti Kolo Toure, Emmanuel Adebayor aaau Alex Song pernah mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Piala Afrika yang digelar pada awal tahun dan “menggangu” liga.

Tidak dipungkiri memang, bahwa pemain yang membela timnas dalam ajang tersebut punya kemungkinan pulang ke klub dengan membawa cedera. Jika sudah begini, maka klub lah yang kebakaran jenggot dan mengalami kerugian dari sisi materi pemain.

Apalagi jika melihat kompetisi Liga Inggris musim ini. Banyak klub punya ambisi untuk juara. Musim 2016/17, Premier League bisa disebut lebih mewah dari musim sebelumnya.

Pelatih-pelatih top dunia mewarnai Premier League musim ini. Mulai dari yang berpengalaman lama di Inggris seperti Arsene Wenger atau Jose Mourinho hingga pelatih jempolan yang lebih muda macam Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp atau Mauricio Pochettino.

Tak lupa, pemain-pemain dengan reputasi besar juga datang untuk memanaskan persaingan disana. Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba menjadi komoditi berita utama dalam bursa transfer musim panas 2016 lalu. Mereka akan menambah gemerlap Premier League, yang memang jadi liga paling mendapat sorotan dalam 10 tahun terakhir.

Foto: thesun.co.uk

statistik dari Opta

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com