Image

Menjadi Pelatih Bola? Mudah.

Bagi yang benar-benar suka dengan sepakbola, pastilah tau game bernama Football Manager. Dalam permainan virtual yang umumnya di PC ini, anda akan merasakan sensasi seakan-akan anda menjadi pelatih sepakbola sesungguhnya. Ya, dalam game yang dikembangkan oleh SEGA ini anda tidak hanya mengurusi taktik bermain atau menggonta-ganti pemain saja.

Lebih dari itu anda bisa melakukan transfer pemain, mengembangkan pemain akademi, dan merekut staf kepelatihan termasuk fisioterapi, juga mengontrak scout (pemandu bakat) pun bisa anda lakukan sendiri. Masih kurang?

Anda bisa juga berkomunikasi dengan manajemen klub perihal meminta budget transfer dinaikkan, mengubah pola perekrutan pemain junior, sampai mengajukan renovasi dan bahkan membuat stadion baru! Anda benar-benar menjadi super manager di Football Manager.

Football Manager memang memuaskan hasrat, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan menjadi manajer di sebuah klub, apalagi anda bisa melatih klub besar secara langsung dari awal ketika memulai game ini.

Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan strategi permainan, memonitor player’s development, atau memantau harga pemain yang diincar rasanya tetap senang-senang saja.

Tetapi lebih menyenangkan lagi apabila kita memulai dengan berjuang menggunakan klub kecil dan mampu membawa klub itu juara dimana-mana, kepuasan dan kebanggan sudah pasti bercampur jadi satu.

Dalam FM, interaksi dibuat seperti kenyataan. Terdapatnya emosi-emosi yang berbeda tiap individu akan menentukan keberlangsungan permainan, ketika itu terjadi interaksi antar pelatih dengan pemain, dengan agen, dengan sesama pelatih ataupun dengan manajemen. Game ini begitu realistis menampilkan hal-hal yang seperti pada kenyataan. Segalanya yang anda inginkan sebagai pelatih sepakbola ada di dalam game Football Manager atau yang biasa disebut dengan FM ini.

Meski sudah dibuat senyata mungkin seperti kenyataan, pada akhirnya yang namanya permainan tetap saja permainan, bukan kenyataan. Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah yang dilakukan di FM. Tekanan yang dirasakan pasti berbeda, interaksi yang terjadi antar elemen dalam sepakbola juga berbeda.

Menghadapi pemain dalam kenyataan tentu berbeda dari sekedar permainan. Persiapan dan intensitas dalam latihan juga berbeda jauh antara game dan kenyataan. Menjadi pelatih betulan, kita belum tentu bisa meminta ini itu segampang seperti di FM.

Berarti kesimpulannya, menjadi pelatih bola itu sangat mudah, tetapi dalam game. Sedangkan pada kenyataan, menjadi pelatih itu gampang-gampang susah atau mungkin lebih banyak susahnya daripada yang mudah-mudah.

Football Manager
Kini semua orang bisa jadi “pelatih”, bahkan “manajer”.

Di sisi lain ketika kita berbicara game, maka tidak lupa pula bahwa game itu mudah dimanipulasi alias bisa dimainkan dengan cara yang tidak fair. Dalam FM, pasti semua sudah tau ketika akan menjalani pertandingan kita akan save dulu. Jika menang kita lanjutkan game, dan jika imbang apalagi kalah, kadang-kadang kita loading ulang kan?

Nah, hal inilah yang tidak mungkin dalam kejadian nyata dunia kepelatihan yang memang riil. Satu pertandingan bisa sangat krusial dalam dunia nyata, sementara dalam permainan PC hal ini bisa diutak-atik untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah dalam permainan seperti FM. Namun setidaknya game ini bisa menjadi pelepas dahaga bagi orang yang sangat ingin merasakan sensasi “memberi instruksi” bagi para pemain dari pinggir lapangan. Meski itu hanya dari dimensi virtual game, yang bernama Football Manager.

Foto: CNN.com dan Football Manager

Advertisements

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

Image

Sukses? Tergantung Pelatih

Ketika kita menonton sebuah pertandingan sepakbola, maka kita akan memuji penampilan bagus yang ditunjukkan oleh pemain. Ada pula gol, dribel pemain maupun penyelamatan kiper yang membuat decak kagum dan seakan tujuan kita menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai tontonan namun juga kesenangan dalam hidup.

Apalagi sepakbola juga membawa identitas daerah ataupun nasional yang membuat kita semakin semangat dalam menikmati cerita-cerita dari si kulit bundar, lalu ditambah intrik-intrik baik didalam maupun luar lapangan hijau membuat sepakbola begitu digemari diseluruh dunia.

Jika kita mengatakan sepakbola maka itu tidak lepas dari permainan sebuah tim, namun tidak hanya itu saja karena ada sosok lain dalam sepakbola yang sangat menentukan jalannya pertandingan sepakbola, tak lain dia adalah seorang pelatih.

Ya, peran pelatih begitu penting dalam sepakbola, karena dialah yang akan meramu dan menentukan skema permainan timnya. Bagaimana sebuah tim bermain akan tergantung dari pola yang diterapkan pelatih, dialah yang menyatukan bakat-bakat pemain dengan berbagai macam sifat dan karakter itu menjadi suatu bentuk kerjasama di lapangan hijau yang tujuannya adalah untuk memenangi pertandingan.

Saat ini pelatih yang berkualitas adalah faktor penting dalam tim apabila ingin meraih prestasi, karena sehebat apapun pemainnya jika si pelatih tak mampu meramu strategi permainan yang pas dan menyatukan pemain dengan sifat dan karakter yang berbeda maka tim tersebut tidak akan tampil maksimal.

Contohnya adalah Steve Mclaren yang gagal meloloskan Inggris ke Euro 2008, padahal semua lini tim nasional Inggris dihuni pemain berkualitas, namun Mclaren gagal memanfaatkan potensi pemain-pemain yang ada.

Disatu sisi meski pemain di dalam tim tersebut kualitasnya biasa saja, namun apabila pelatihnya dapat merancang strategi permainan dengan baik dan memanfaatkan talenta pemain dengan kekayaan strateginya, tim tersebut bisa berbuat sesuatu yang lebih walaupun kualitas pemain-pemain itu biasa saja.

Bahkan tak jarang performa dan potensi pemain yang standar tersebut akan ikut terdongkrak berkat kejeniusan pelatih dalam meracik taktik permainan dalam sebuah tim.

Contohnya adalah fenomena Leicester City musim 2015-2016, dilatih oleh pelatih yang kaya pengalaman dalam dunia sepakbola, Claudio Ranieri.

Leicester menjelma menjadi tim kuda hitam dan mampu bersaing di papan atas English Premier League, padahal jika menilik kualitas tim, The Fox diprediksi hanya akan bersaing di papan bawah. Namun ternyata tangan dingin pelatih asal Italia tersebut mampu mengangkat performa tim.

Dan hasil dari kejeniusan Ranieri tidak hanya mengangkat posisi Leicester ke papan atas, beberapa performa pemain mereka juga ikut terangkat karena permainan tim yang bagus, contohnya adalah Riyad Mahrez, N’Golo Kante Jamie Vardy.

Bahkan Jamie Vardy membuat rekor dengan mencetak gol dalam sebelas laga tanpa putus di Premier League, dan memecahkan rekor milik mantan bomber United, Ruud van Nistelrooy yang cetak gol dalam 10 laga beruntun.

Pelatih berkualitas adalah dia yang mampu membuat timnya berprestasi, jika tim yang dilatih adalah Barcelona, Madrid, Bayern, atau Juventus wajar apabila mampu berprestasi karena keberadaan pemain yang secara kualitas diatas rata-rata daripada klub lain.

Tapi apabila yang dilatih adalah tim seperti Atletico, Dortmund, Porto, atau bahkan tim yang lebih kecil lagi seperti Leicester namun bisa memperoleh prestasi, kredit positif pantas diberi untuk pelatih tersebut mengingat kualitas dan reputasi yang belum satu level dengan klub besar Eropa lain.

Itu menunjukkan bahwa peran pelatih adalah krusial bagi sebuah tim, meski materi pemain dan reputasi tidak terlalu mentereng, namun dengan kemampuan mengelola tim yang baik seorang pelatih mampu mengangkat timnya untuk bersaing di jajaran atas Eropa.

Contohnya adalah Jose Mourinho semasa di Porto, dengan materi yang bukan kelas atas, dia mampu menghadirkan gelar Piala UEFA (Liga Eropa) dan Liga Champions. Sudah jelas bahwa skill dia dalam melatih klub sepakbola tidaklah sembarangan, memberikan tim seperti FC Porto dengan gelar bergengsi macam Liga Champions adalah hal yang sangat luar biasa.

Karena itu pula kualitas Porto diakui dan pemain-pemainnya menjadi komoditi laris bagi klub besar, beberapa anak didik Mourinho yang dibeli tim besar adalah Ricardo Carvalho, Paulo Ferreira, dan Deco.

Maka tak heran dia pun menjadi incaran beberapa klub untuk dilatihnya akhirnya yang beruntung adalah Chelsea dan ditambah dengan semangat baru pasca kehadiran Roman Abramovich yang membawa banyak uang, berevolusilah Chelsea menjadi klub papan atas Eropa sejak saat itu. Beberapa tahun terakhir juga muncul beberapa pelatih hebat yang mampu menghancurkan dominasi tim mapan, yang pertama adalah Jurgen Klopp.

Dibawah asuhan dia, Borussia Dortmund yang sebelumnya adalah tim biasa saja disulap dengan gaya khas Gegen pressing menjadi tim yang mampu menjungkalkan raksasa Bundesliga, Bayern Munich dan menjadi juara Liga Jerman pada musim 2010-2011 dan 2011-2012.

Tentu hal itu sangat mengejutkan selain karena Bayern adalah penguasa Jerman dan mempunyai dana berlimpah, Dortmund pun hanya diperkuat pemain-pemain muda seperti Mats Hummels, Neven Subotic, Shinji Kagawa, Mario Goetze, Lucas Barrios, Robert Lewandowski dan Nuri Sahin.

Apalagi dengan skuad muda tersebut, Klopp mampu membawa Dortmund main di Final Liga Champions musim 2012-2013. Sungguh itu adalah pencapaian luar biasa bagi tim seperti Dortmund yang secara finansial dan kualitas kalah dari Bayern, namun dengan kecerdikan Klopp, Dortmund mampu meraih berbagai prestasi membanggakan.

Tidak hanya itu, berkat kejelian Klopp memaksimalkan potensi pemain pula, muncul nama-nama pemain berkualitas di Dortmund, sebut Kagawa, Sahin, Hummels, Goetze, dan Lewandowski.

Contoh selanjutnya adalah pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Pria asal Argentina ini melatih Los Rojiblancos sejak 2011. Meski sebelum mengambil alih kuasa sebagai komando di Vicente Calderon dia bukanlah pelatih dengan prestasi yang mencolok. Sebelum datang, pengalaman dia paling banyak ketika di Argentina, dan satu-satunya pengalamannya melatih klub Eropa adalah kala menjadi pelatih klub semenjana Italia, Catania pada 2011.

Rekam jejaknya di Eropa dulu hanya bertahan setengah musim sebelum kembali ke mantan klub yang dulu ia latih, Racing Club pada pertengahan tahun 2011 itu. Dan baru pada Desember 2011 dia ditunjuk oleh Atletico untuk menggantikan Gregorio Manzano yang dianggap gagal oleh manajemen setelah serangkaian hasil buruk Atleti dibawah kendali Manzano.

Dia pun ditunjuk bukan karena track record selama karirnya menjadi pelatih, namun lebih karena kedekatan sebagai mantan pemain Atletico, namun tak disangka justru dibawah asuhannya itulah Atletico berubah tidak hanya menjadi batu sandungan, namun menjadi pembunuh dua kutub utama sepakbola Spanyol, Madrid dan Barcelona.

Jika Dortmund mampu melumpuhkan salah satu klub terbaik dunia, Bayern Munich maka Atletico lebih hebat lagi dengan sekaligus membuat dua klub megabintang dan terbaik dunia sekelas Madrid dan Barcelona kelimpungan.

Di musim pertama dia raih gelar Europa League dengan mengalahkan sesama klub Spanyol, Athletic Bilbao 3-0 di final. Lalu musim selanjutnya (2012-2013) dia sukses mengantar Atletico kampiun Piala Super Eropa (mengalahkan juara Liga Champions 2011-2012, Chelsea) dan gelar Copa del Rey dengan membekuk rival sekota, Real Madrid.

Dan sudah tentu yang paling fenomenal adalah pada musim 2013-2014, Diego Simeone berhasil memimpin pasukannya merebut title juara La Liga dan secara mengejutkan berhasil melaju hingga partai Final Liga Champions sebelum kalah secara dramatis oleh Madrid.

Keberhasilan menjuarai liga dan melaju ke final kompetisi tertinggi Eropa adalah sesuatu yang sangat spesial bagi Atletico, apalagi jika melihat kualitas pemain dan reputasi mereka yang berada dibawah bayang-bayang Madrid dan Barcelona.

Namun kejelian Simeone meramu strategi dan karakter kerja keras yang dia terapkan sangat berpengaruh bagi skuadnya, dan itulah salah satu faktor yang membuat Atletico bermain luar biasa dan pantang menyerah sepanjang laga.

Dan dibawah sentuhan tangan dingin dia pula potensi pemain-pemain Atletico yang dulunya adalah pemain biasa saja dan tak terlalu menonjol berubah menjadi pemain papan atas seperti; Thibaut Courtois, Diego Godin, Joao Miranda, Juanfran, Koke, Arda Turan, Adrian, Raul Garcia, Filipe Luis hingga Diego Costa.

Jose Mourinho (saat di FC Porto), Jurgen Klopp saat melatih Dortmund dan Diego Simeone yang mampu mengangkat reputasi Atletico adalah bukti bahwa keberadaan manajer atau pelatih adalah penting bagi sebuah tim yang ingin meraih prestasi meski materi pemain tidaklah sehebat klub-klub besar Eropa lainnya.

Mereka memberi kita contoh; uang, reputasi, dan kualitas pemain saja belum tentu menjadi jaminan akan sebuah prestasi.

Diperlukan pula kejeniusan taktik strategi dan skill kepemimpinan yang hebat dari seorang pelatih agar bisa menjadikan sebuah tim  sebagai pemenang dan juara, dan ini lah yang membuat sepakbola menjadi permainan yang unpredictable game, karena tak selamanya kualitas pemain, reputasi dan uang selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan.

Sumber foto, mirror.co.uk