Gary Neville: Tong Kosong Berbunyi Nyaring dan Peran Antagonis yang Dibutuhkan

Ketika pesepak bola pensiun, biasanya mereka melanjutkan karir tak jauh dari hingar-bingar olahraga terpopuler sejagad raya ini. Ada yang menjadi seorang pelatih, pemandu bakat, menjadi pengurus klub, menjadi seorang analisator pertandingan atau pandit (dalam bahasa Inggris: pundit), atau komentator pertandingan.

Soal menjadi pandit atau komentator sebuah pertandingan, hal ini jamak terjadi di Inggris. Banyak mantan pemain lapangan hijau tenar yang merambah dunia ini. Sebut saja Thierry Henry, Jamie Carragher dan tentu saja satu yang kontroversial, Gary Neville. Mantan skipper Manchester United dan timnas Inggris tersebut, disamping bekerja sebagai pandit di Skysports untuk menganalisis pertandingan, dia juga seorang pelatih.

Neville pernah menjadi asisten pelatih timnas Inggris sejak era Fabio Capello hingga Roy Hodgson. Dia punya pengalaman sekali melatih profesional ketika menjadi entrenador Valencia pada musim 2015/16. Sebagai seorang pandit sekaligus pelatih sepak bola, tentu kualitas pemikiran dan analisis dari Gary Neville tentang segala hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola, menjadi wujud dari kapabilitas dirinya.

Neville banyak menuai pujian, karena bisa menyajikan analisis yang tajam. Namun tetap saja tak ada gading yang tak retak. Neville juga dikenal sering memerahkan telinga beberapa pihak dengan kritik-kritiknya. Beberapa pemain dan pelatih pernah dijejali kritik oleh jebolan class of 92 tersebut. Bukan hanya dari elemen klub rival-rival dari Manchester United, pemain-pemain dari Setan Merah dan Jose Mourinho juga bisa kena sentilan dari Neville.

Kritik pedas Gary Neville terhadap performa buruk Loris Karius saat Liverpool dikalahakan Bournemouth di pertengahan musim 2016/17 kemarin membuat pelatih The Reds, Jurgen Klopp tak tahan untuk bersuara. “Dia (Neville) kesulitan dalam pekerjaannya ketika melatih Valencia, jadi kenapa kita mendengarkan ucapannya di televisi?”, komentar Klopp membalas kritik Neville untuk Karius seperti dikutip dari dailymail.

Klopp meragukan kapasistas Gary Neville dalam menilai performa seorang pemain, ketika dia sendiri gagal dalam melatih Valencia. Namun bukan Neville namanya jika tak pintar ngeles. Neville menyerang balik Klopp dengan menggunakan analogi bahwa seorang pengamat makanan, tak harus menjadi chef hebat terlebih dahulu untuk bisa merasakan steak yang enak. Beginilah respon Neville:

Tim yang sangat dominan di Liga Primer musim 2017/18 lalu, Manchester City tak luput kena kritik dari Gary Neville. Ketika Manchester City ditahan kuda hitam oleh Burnley, Pep Guardiola hanya menyertakan enam nama dalam daftar pemain cadangan. Neville pun menganggap bahwa slot sisa bangku cadangan bisa diisi pemain dari akademi, sehingga staf pelatih yang bekerja dibalik akademi The Citizens tidak sia-sia dalam pekerjaannya.

Guardiola bereaksi dengan menjuluki Neville sebagai prestigious pundit yang tak memahami bahwa menjadi pelatih adalah perkara serius, dimana ia harusnya belajar dari pengalaman singkatnya (di Valencia).

Ketika Arsenal secara mantap dikalahkan oleh Manchester City di final Piala Liga 2017/18 Neville juga mengkritik tim asuhan Arsene Wenger dengan istilah “spineless” atau tak bertulang. Perumpamaan yang menggambarkan betapa lunaknya pertahanan dan semangat juang The Gunners yang dikoyak-koyak oleh lini depan The Citizens pada laga tersebut.

Antonio Conte, eks bos Chelsea asal Italia itu  menjadi santapan empuk Neville. Saat Chelsea kalah melawan Manchester City musim lalu, Neville mengejek kekalahan The Blues itu sebagai satu hal yang sangat memalukan dengan sebutan taktik bertahan seperti manekin. Conte tentu saja menyatakan bahwa dirinya tak bodoh, dengan menggelar permainan terbuka melawan tim super ofensif seperti Manchester City.

Conte merasa bahwa seorang pandit seperti Neville harusnya beropini dengan pengetahuan taktik mumpuni dan tidak asal dalam berbicara. Mantan klubnya sendiri, Manchester United juga tak lepas dari omongan pedas Gary Neville. Pria 40 tahun yang semasa aktif bermain berposisi sebagai bek kanan itu, berkali-kali memberi komentar negatif terhadap kubu Red Devils.

Gary and Phil
Gary Neville dan Phil Neville (kanan), duet pelatih dan asisten yang gagal di Valencia.

Duet Phil Jones dan Chris Smalling ketika Manchester United kalah di kandang Newcastle, dijuluki Neville sebagai bencana. Lalu, dia juga mengkritisi Romelu Lukaku dan Paul Pogba saat sedang dalam performa buruk. Terlebih Pogba yang dianggap Neville hanya peduli penampilan di “Youtube dan Instagram”.

Pasca United tertatih-tatih mengalahkan Crystal Palace musim lalu, Mourinho mengungkapkan bahwa beberapa opini dari orang-orang (termasuk kritik dari Neville), tidak akan menyelesaikan sebuah masalah ketika mereka sendiri yang menjadi manajer. Mourinho dalam hal ini secara halus menohok kegagalan Neville di Valencia, dibalik ganasnya Neville ketika mengomentari pekerjaan orang lain.

Memang sudah menjadi pekerjaan bagi Neville untuk mengomentari tim, performa pemain dan taktik pelatih. Analisis yang ia paparkan dengan gaya kritik pedas membuat publik mudah menaruh atensi pada dirinya, entah dengan asumsi yang buruk atau baik. Tetapi ujung-ujungnya, konglomerasi Sky Sports lah yang paling berbahagia jika omongan Neville didengarkan banyak orang memalui televisi.

Dengan segala komentar yang ia semburkan, hal ini membuat Neville tidak punya reputasi sejuk di mata para pemain atau pelatih klub-klub di Inggris. Tak perduli sedang ambruk atau sedang jayanya sebuah klub, bagaimana performa pemain atau taktik dari seorang pelatih, tak akan menghalangi orang ini untuk mengeluarkan kritiknya.

Gary Neville adalah narasi yang nyata dari peribahasa “tong kosong berbunyi nyaring”. Suaranya yang nyaring ketika mengomentari klub, taktik pelatih atau perfoma seorang pemain, berbanding terbalik dengan catatan buruk karirnya ketika melatih sebuah tim, menggelar taktik dan menangani sekelompok pesepak bola di kehidupan nyata.

Kegagalannya di Valencia jelas membuat siapapun yang dikirtik oleh Neville, terutama pelatih, akan menjadikan peristiwa itu sebagai serangan balik bagi dirinya. Namun, keberadaan pria dengan teriakan legendaris goalgasm, saat Torres menjebol gawang Barcelona di Liga Champions itu, bagaimana pun bisa disyukuri. Yakni, syukur bahwa watak “antagonis” dalam jagad sepak bola tetap ada. Tentu sebuah drama akan kurang menarik tanpa adanya si tokoh jahat bukan?

 Dan selama orang seperti Neville masih tetap dengan eksistensinya, berarti kita masih dapat menikmati seri dari drama-drama selanjutnya. Musim 2018/19 pun sepertinya masih menjadi lahan Gary Neville menebar “teror” di Inggris.

Foto dari dari skysports.

Advertisements

Steven Gerrard dan Perjuangan Mematahkan Mitos-Mitos

Steven Gerrard resmi akan menjadi pelatih salah satu kesebelasan terbesar di Skotlandia, Glasgow Rangers untuk musim 2018/19 . Disana, sang legenda akan head-to-head secara langsung dengan mantan bosnya semasa di Liverpool, Brendan Rogders yang menangani Glasgow Celtic.

Derbi Glasgow musim depan akan lebih semarak dari sebelum-sebelumnya. Selain pertemuan klasik Rangers dan Celtic, menu Gerrard bersua Rodgers juga akan menjadi headline yang diapungkan.

Didapuknya mantan kapten The Reds tersebut sebagai pelatih Rangers, harus diakui membawa optimisme ke klub yang bermarkas di Ibrox Stadium tersebut. Keberadaan nama besar seperti Gerrard diharapkan mengangkat kembali The Gers untuk bersaing di papan atas Liga Primer Skotlandia, yang didominasi Celtic dalam 7 musim terakhir.

Tetapi, skeptisme juga muncul karena Gerrard yang masih nol pengalaman dalam menangani tim profesional. Sebelum menangani Kenny Miller dan kolega musim depan, pengalaman Gerrard hanyalah coach di tim U-18 Liverpool.

Tugas berat akan menanti Gerrard di Ranger. Klub itu dalam misi mengembalikan kejayaan masa lalu mereka pasca problem finansial dan terdemosi ke kasta keempat, Scottish Third Division pada musim 2012/13 lalu.

Meski musim lalu sudah kembali ke Liga Primer Skotlandia, Rangers masih kesulitan bersaing terutama dengan rival abadinya Celtic. Melawan dominasi Celtic di Skotlandia saat ini, bagi Gerrard ibarat lah mematahkan sebuah mitos.

Secara tradisi, Rangers dan Celtic adalah duopoli Skotlandia, mungkin mirip-mirip dengan Real Madrid dan Barcelona di Spanyol. Namun, secara kesiapan tim untuk memberi perlawanan sengit pada Celtic, Rangers masih lah butuh proses lebih lama. Bukti nyata ketika Rangers dibantai 0-5 oleh Celtic pada pertemuan terakhir kedua tim awal Mei lalu. Hasil itu makin melenggangkan Celtic merengkuh juara Liga Primer Skotlandia yang ketujuh berturut-turut.

Merongrong dominasi Celtic saat ini adalah mitos yang berat untuk Gerrard hancurkan. Padahal, kita tahu kisah perjalanan karir Gerrard pun lekat dengan perlawanan terhadap mitos-mitos yang ia hadapi. Paling mengena dan tentu paling membuatnya dilema adalah soal relasi Liverpool dan gelar Liga Inggris.

Semenjak mulai debut di tahun 1998, Gerrard perlahan mulai memanggul tanggung jawab yang besar. Di era Gerard Houllier, dia diangkat sebagai kapten utama pada musim 2003/04 menggantikan Sammy Hyppia. Selain scouser tulen, posisinya yang beredar di lini tengah dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi membuatnya makin elegan mengemban amanah skipper Liverpool.

Gelar juara masing-masing satu Liga Champions, satu Piala FA dan satu Piala Liga sukses direngkuh Liverpool ketika ban kapten terlingkar di lengan Gerrard. Jelas sebuah pencapaian brilian untuk karir seorang pesepak bola.

Gerrard tumbuh kembang sedari kecil dengan kenangan akan kejayaan Liverpool di Inggris. Disaat itu The Reds sedang merajai Divisi Pertama dengan capaian 18 kali juara. Terbanyak di Inggris. Namun ketika berubah format menjadi Liga Primer per musim 1992/93, Liverpool sama sekali belum mengecap gelar prestisus itu lagi hingga kini. Miris.

 

Gerrard at Liverpool
Satu-satunya hutang Gerrard saat aktif bermain adalah gelar juara Liga Primer Inggris. Mungkinkah terlunasi, ketika suatu saat nanti melatih Liverpool?

 

Narasi yang beredar ketika kita membicarakan Liverpool adalah tentang gelar juara Liga Inggris yang tak kunjung didekap. Dan hal itu pun seakan termitoskan. Liverpool sangat sulit menjuarai Liga Inggris.

Masa bakti Gerrard selama 17 tahun di Liverpool sebagai pemain profesional, sama sekali tak dihiasi dengan yang namanya gelar juara Liga Inggris. Sesuatu yang pasti juga didambakan seluruh Kopites dimanapun berada.

Mitos Liverpool yang kesulitan menjuarai Liga Primer pun semakin terasa perih ketika status sebagai penguasa Inggris dengan 18 titel liga, diambil alih Manchester United yang bahkan mampu mereka genapkan jadi 20 titel di musim 2012/13. Padahal selama Gerrard memimpin Liverpool, dua kali dia merasakan dekat (menjadi runner-up) dengan gelar juara liga yang didamba. Pertama pada musim 2008/09 dibawah manajer Rafa Benitez dan dan musim 2013/14, di era Brendan Rodgers.

Kesempatan terbaik Gerrard adalah musim 2013/14 lalu. Liverpool bermain luar biasa di Liga Primer kala itu dan rasa-rasanya akan juara. Namun peristiwa fenomenal terpelesetnya Gerrard sendiri, pada laga versus Chelsea musim itu lah disebut-sebut membuyarkan peluang mereka untuk juara.

Mitos yang ia dan segenap elemen di Liverpool dibuat penasaran akan gelar juara Liga Primer, akhirnya gagal terpatahkan. Ditambah peristiwa “Crystanbul”, dari keunggulan 3-0 menjadi 3-3 kala bersua Crystal Palace semakin memperjelas bahwa antara Liverpool dan gelar juara Liga Primer adalah jodoh yang seakan sulit dipertemukan.

Gerrard sendiri pun merasa masih terhantui akan peristiwa terpeleset itu beberapa tahun setelahnya. Betapa ia masih tak bisa melupakan kejadian itu terbukti walau ia sudah pindah ke LA Galaxy pada 2015 lalu. Kepada The Guardian, dia menjelaskan, “Peristiwa terpeleset itu terjadi di waktu yang buruk, dan itu terasa kejam bagiku secara personal”.

Gerrard bergabung dengan LA Galaxy pada Januari 2015, hanya berjarak beberapa bulan pasca kisah memilukan di akhir-akhir musim 2013/14. Apakah Gerrard tak kuat dengan derita yang ia alami ketika gagal membawa Liverpool juara, hingga harus pindah ke LA Galaxy? Entah lah, hanya Gerrard dan Tuhan yang tahu rahasia itu. Tetapi jelas bahwa berat beban dirasakan Gerrard, sebagai legenda Liverpool di era sepak bola modern yang gagal antarkan Liverpool memecahkan mitos menjarai Liga Primer.

Hijrah ke Amerika Serikat, Gerrard juga dihadirkan untuk melawan mitos lain yang ada. Seperti rekan senegaranya, David Beckham, alasan LA Galaxy mendatangkan Gerrard adalah untuk mengdongkrak popularitas sepak bola di negeri Paman Sam tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa mengharapkan rakyat Amerika Serikat menggilai sepak bola selayaknya orang Eropa, hanyalah mitos belaka. Namun, belum terangkatnya sepak bola sebagai olahraga nomor satu disana hingga kini, juga bukan kesalahan Gerrard. Lagipula, mendatangkan mega bintang seperti Beckham atau Ibrahimovic pun belum tentu bisa merubah selera orang disana yang lebih gemar terhadap Basket atau American football.

Kembali ke soal Gerrard dan Rangers. Kedepan, selain mematahakan mitos dengan cepat berupa dominasi Celtic di Skotlandia, Gerrard juga dihadapkan pada persoalan yang paradoks; tentang rivalitas Rangers dan Celtic.

Sejarahnya, dahulu Celtic dibentuk sebagai salah satu wadah persatuan orang-orang Katolik, yang menunjukkan eksistensinya di Skotlandia dengan cara melalui sepak bola. Sebaliknya, propaganda keagamaan Kristen Protestan dikobarkan oleh mereka yang menggemari Rangers. Dan kita tahu, rivalitas dua sekte itu sangat lah tajam di Skotlandia pada masa lampau.

Dan isu sektarian ini kerap dijadikan bumbu bagi rivalitas kedua klub. Bagi orang-orang Skotlandia, Celtic vs Rangers bukan hanya perkara siapa yang lebih baik di kota Glasgow. Namun juga soal persaingan antara Katolik vs Protestan.

Dahulu jajaran klub dan pemain-pemain Celtic haruslah orang Katolik, begitu juga Rangers yang menggariskan elemen di klubnya dari golongan Protestan. Bahkan, tak jarang sebuah perusahaan tak menerima pelamar kerja hanya karena sang bos perusahaan beda preferensi soal klub mana yang dibela.

Gerrard adalah seorang katolik, bahkan ada yang mengabarkan dia Katolik yang taat. Bekerja di klub yang bersentimen negatif dengan kepercayaannya, tentu bisa membuat orang mengalami pergolakan pemikiran dan batin.

Mungkin akan berkebalikan andai Steven Gerrard berperangai semacam Lorenzo Amoruso, mantan pemain Rangers asal Italia. Dia seorang Katolik, namun senang dengan hujatan-hujatan dari fans Rangers terhadap kepercayaannya sendiri, yang sebenarnya ditujukan ke sang rival Celtic.

Namun, untuk saat ini sepertinya situasi cenderung lebih baik. Dari elemen suporter, baik di Celtic atau Rangers mungkin masih mempertahankan sentimen masa lalu tersebut hingga kini. Namun di tingkat klub hal itu sudah tak relevan.

Celtic kini diisi jajaran klub dan pemain-pemain Protestan, begitu juga Rangers yang kini banyak menggunakan tenaga direksi dan pemain Katolik. Sehingga, isu Katolik-Protestan dalam rivalitas Celtic vs Rangers sepertinya tak lagi menjadi mitos atau persoalan pelik bagi Gerrard.

Yang lebih krusial bagi diri Gerrard adalah meruntuhkan mitos akan dominasi Celtic dan membuktikan diri bahwa dia punya kapabilitas sebagai seorang juru taktik.

Apakah di Rangers nanti, perjuangan dari seorang Steven Gerrard untuk mematahkan mitos-mitos yang berkelindan dalam segenap perjalanan karier di dunia sepak bola, akan berujung klimaks? Itulah yang akan kita lihat dengan seksama kedepan, berhasil atau tidaknya Steven Gerrard yang seakan selalu berhadapan dengan mitos-mitos dalam kehidupan sepak bolanya.

Sumber foto irishtimes.com

Alergi Klub Premier League Diawal Tahun Ganjil

Sejatinya, klub ataupun suporter tentu akan bangga apabila pemain kesayangannya tidak hanya mampu untuk unjuk gigi di klub, namun hingga ke tim nasional. Ketika para pemainnya dipanggil tim nasional dan bermain baik, terlebih lagi di pertandingan turnamen besar, ada beberapa keuntungan.

Bagi klub, ketika pemain semakin terkenal akan kualitasnya, maka harganya bisa naik tajam. Lalu jika makin banyak pemain yang berkualitas, tenar dan populer, maka sponsor-sponsor akan mulai berdatangan. Dan jikapun ingin dijual, patokan harga tinggi bisa dikenakan karena performa bagus si pemain di sebuah turnamen besar.

Bagi suporter, mungkin mereka tidak merasakan impak secara wujud nyata. Namun dari sisi emosional dan psikologis, ketika pemain idolanya di klub tersebut juga bermain bagus bersama timnasnya di ajang besar, tetap ada rasa kebanggaan tersendiri.

Tetapi apakah selamanya klub dan suporter senang, jika pemain andalan mereka mendapat panggilan bermain di tim nasional masing-masing untuk turnamen antar negara? Ternyata tidak selamanya begitu, apalagi bagi klub Premier League jika sudah memasuki Januari di tahun ganjil.

Ya, tahun ganjil identik dengan turnamen sepakbola kontinental benua Afrika. Edisi kali ini adalah Piala Afrika 2017 di negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Piala Afrika, dimainkan di bulan Januari tahun ganjil. Itulah, penyebab klub-klub Premier League tidak suka dengan hal ini.

Kok tidak suka? Meski begutu, ketidaksenangan mereka wajar apabila melihat kompetisi liga tahun ini yang begitu ketat. Sudah pasti keberadaan pemain-pemain asal benua Afrika yang menjadi andalan di klub-klub Inggris tersebut sangat dibutuhkan, terlebih pada awal tahun ini dimana jadwal padat menggentayangi klub-klub Inggris.

Berkaitan dengan Piala Afrika pada bulan Januari 2017 ini, kebetulan ada beberapa klub besar yang akan kehilangan pemain andalan selama Januari hingga awal Februari ini. Pertama adalah Liverpool, kepergian Sadio Mane untuk memperkuat timnas Senegal akan menjadi beban pikiran lebih dalam laig untuk arsitek The Reds, Jürgen Klopp.

Mane salah satu pemain kunci Liverpool musim ini. Dia menjadi top skor sementara Liverpool dengan mengemas 9 gol dan juga mengukir 4 assist dalam kurun 19 partai liga yang ia lakoni. Tidak sebatas itu, Mane juga sudah mulai klop dan membentuk trisula padu bersama Coutinho dan Firmino di lini depan The Anfield Gang’s.

Pergerakan yang dinamis, cepat, membuka ruang untuk rekan serta ketajaman mencetak gol dari Mane, untuk ementara tidak akan dirasakan Liverpool Januari ini, dan bertambah lagi hingga Februari jika Senegal sampai masuk final Piala Afrika. Sedangkan Joël Matip, andalan lini belakang Liverpool yang satu ini tidak ikut ke Piala Afrika karena menolak panggilan dari timnas Kamerun.

Chelsea, sang pucuk klasemen hingga gameweek 20 ini tidak terdampak Piala Afrika. Victor Moses sebagai wing-back kanan utama andalan tim racikan Antonio Conte, akan tetap di Inggris karena Nigeria gagal lolos kualifikasi Piala Afrika 2017. Tottenham, yang ikut meramaikan zona 6-besar liga musim ini juga tidak akan terganggu Piala Afrika. Itu karena Kenya, negara gelandang bertahan Victor Wanyama, gagal lolos ke putaran final.

Sementara rival sekota Chelsea, Arsenal akan kehilangan Mohammed Elneny yang tampil bersama timnas Mesir. Nasib Arsenal lebih baik dari Liverpool, karena pemain yang dipanggil (Elneny) hanya sebatas pemain pelapis Arsenal dan bukan pemain penting seperti Mane di Liverpool. Untung pula Nigeria tidak lolos kali ini, jika iya maka Alex Iwobi yang sering bermain akhir-akhir ini akan membuat Arsenal kekurangan pilihan di lini tengah akibat tugas negara bagi sang pemain.

Nasib baik juga mengiringi Manchester City, Yaya Toure sudah pensiun dari tim nasional Pantai Gading. Lalu, Kelechi Iheanacho terhindar karena Nigeria gagal lolos ke Piala Afrika 2017 di Gabon tersebut. Sementara itu, Manchester United akan kehilangan Eric Bailly yang senegara dengan Toure. Bailly akan bahu-membahu rekannya hingga Pantai Gading melangkah sejauh mungkin di turnamen dua tahunan tersebut.

Klub lain diluar zona enam besar juga tak luput ikut kena efek Piala Afrika ditegah berjalannya liga. Contohnya, juara bertahan Leicester City, yang harus kehilangan beberapa pemain penting seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani (Aljazair) dan Daniel Amartey bermain untuk Ghana. Tentu makin menyulitkan langkah The Foxes yang terseok-seok sejak awal musim ini.

Lalu kenapa bisa dikatakan klub Premier League seakan “alergi” dengan Piala Afrika? Pertama, kepergian pemain ketika musim liga sedang berlangsung dan ditengah jadwal yang padat. Sepakbola di Inggris memang terkenal padat jadwal dan keberadaan Piala Afrika diawal tahun sangat tidak menguntungkan klub, apalagi mereka yang sedang bersaing dipapan atas dan kompetisi Eropa.

Kedua, terkait kemungkinan cederanya pemain dalam turnamen tersebut. Arsene Wenger, ketika Arsenal masih diperkuat pemain-pemain dari benua Afrika seperti Kolo Toure, Emmanuel Adebayor aaau Alex Song pernah mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Piala Afrika yang digelar pada awal tahun dan “menggangu” liga.

Tidak dipungkiri memang, bahwa pemain yang membela timnas dalam ajang tersebut punya kemungkinan pulang ke klub dengan membawa cedera. Jika sudah begini, maka klub lah yang kebakaran jenggot dan mengalami kerugian dari sisi materi pemain.

Apalagi jika melihat kompetisi Liga Inggris musim ini. Banyak klub punya ambisi untuk juara. Musim 2016/17, Premier League bisa disebut lebih mewah dari musim sebelumnya.

Pelatih-pelatih top dunia mewarnai Premier League musim ini. Mulai dari yang berpengalaman lama di Inggris seperti Arsene Wenger atau Jose Mourinho hingga pelatih jempolan yang lebih muda macam Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp atau Mauricio Pochettino.

Tak lupa, pemain-pemain dengan reputasi besar juga datang untuk memanaskan persaingan disana. Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba menjadi komoditi berita utama dalam bursa transfer musim panas 2016 lalu. Mereka akan menambah gemerlap Premier League, yang memang jadi liga paling mendapat sorotan dalam 10 tahun terakhir.

Foto: thesun.co.uk

statistik dari Opta

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

Inspirative’s Story: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Tidak semua orang terlahir dengan kondisi “beruntung”. Ada yang berada di keluarga kaya ada pula yang berada dalam keluarga yang hanya berkecukupan atau bahkan dikategorikan miskin.

Manusia terlahir di lingkungan keluarga kaya atau miskin itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan, namun merubah situasi dan keadaan hidup atas sebuah nasib diri sendiri, keluarga dan lingkungannya adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung dengan kemauan dan usaha  dari manusia itu sendiri.

Tak terkecuali dalam ranah sepakbola, beberapa pemain ada yang ditakdirkan lahir dikeluarga kurang mampu, namun berkat usaha pantang menyerah dan doa, mereka mampu merubah nasib hidup melalui sepakbola.

Beberapa bintang sepakbola dunia pernah dalam kondisi kesusahan pada masa lalunya. Kisah perjalanan hidup tersebut sangatlah menginspirasi dan mengajarkan kita akan sebuah makna perjuangan hidup dan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, berikut adalah beberapa pemain tersebut.

Terlahir dengan nama lengkap Carlos Alberto Bacca Ahumada di Puerto Colombia, Bacca terhitung telat muncul sebagai pemain bola profesional. Baru pada usia 20 tahun dia merasakan atmosfer sepakbola “sesungguhnya” ketika bergabung dengan klub divisi utama liga Kolombia, Atletico Junior.

Setelah bargabung ke Junior pada 2006, dia  pun tidak langsung merasakan debut di liga teratas Kolombia tersebut, melainkan harus dipinjamkan ke klub kasta bawah seperti Barranquilla (divisi 2 Kolombia) dan bahkan sempat dipinjamkan ke Minerven, klub kasta kedua di liga Venezuela. Jadi selama 2006 hingga 2008 dia belum atmosfer sepakbola yang benar-benar kompetitif karena berada di kompetisi level bawah. Peruntungan Carlitos mulai berubah pada 2009 ketika kembali ke Atletico Junior.

Setelah sukses merengkuh status top skor Copa Colombia 2009, lalu pada 2010 dan 2011 dia sukses mengantar Atletico Junior menjadi juara liga teratas Kolombia, Categoria A dengan sekaligus menjadi top skor liga di kedua tahun tersebut. Pada awal tahun 2012, dia direkrut oleh klub Belgia, Club Brugge dan impian bermain di Eropa menjadi kenyataan bagi pria religius ini.

Setengah musim tidak terlalu cemerlang, namun pemain yang dibeli dengan harga 1,5 juta euro ini meledak di musim 2012-2013. Dia menjadi top skor Jupiler Pro League dan sekaligus terpilih menjadi pemain terbaik di Belgia pada musim itu. Sejak datang pada awal 2012 hingga akhir musim 2012-2013 dia telah mengemas total 28 gol dari 45 penampilan di liga dan 3 gol di ajang Europa League.

Performa yang bagus dalam waktu singkat di Belgia membuat klub Spanyol, Sevilla mentransfer Bacca dengan biaya 7 juta euro untuk musim 2013-2014. Musim pertama di Spanyol dilalui dengan gemilang. Sukses menjuarai Liga Eropa, kemudian dilabeli transfer terbaik 2013-2014 dan diberi penghargaan sebagai pemain Amerika Latin terbaik di Spanyol oleh asosiasi pengelola liga, LFP.

Musim selanjutnya pada 14/15 Bacca tetap mempesona, dengan koleksi 28 gol disemua ajang. Pada musim itu pula lagi-lagi dia mengantarkan Sevilla mempertahankan status juara Europa League, dimana dia mencetak dua gol dalam final melawan Dnipro Dniproprtrovsk yang berakhir 3-2.

Kemudian raksasa Italia, AC Milan memenuhi klausul pelepasan kontrak Carlos Bacca senilai 30 juta euro, demi memulai sebuah proyek baru untuk kebangkitan mereka pada 2015-2016. Meski I Rossonerri gagal memenuhi ekspektasi lolos ke Liga Champions, performa Bacca tetap oke dengan menjadi top skor Milan di Serie A (18 gol), dan hingga kini tetap menjadi andalan Milan dilini depan.

Di tim nasional Kolombia dia juga mulai diandalkan, seiring penurunan performa Radamel Falcao dan Jackson Martinez, ruang untuk Bacca selalu terbuka asal dia mampu menjaga konsistensi permainan. Dia ada dalam daftar skuad Kolombia di Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016.

Bacca sekarang beda dengan yang dulu, Bacca memang terlahir dari keluarga yang miskin, dia pernah nyambi kerja paruh waktu sebagai penjual tiket bus dan juga kernet atau biasa disebut kondektur bus ketika di Barranquilla. Kehidupan dia sangat susah, dia juga sempat menjadi nelayan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bermain sepakbola awalnya sekedar hobi, meski dia pada dasarnya sangat ingin dan bermimpi merubah nasib dengan menjadi pemain sepakbola. Namun tanpa disangka, tekad yang begitu kuat merubah nasib hidupnya jauh lebih baik. Berkat kemauan mencoba “cari hidup” lewat bola, kerja keras dan keberuntungan yang menghinggapi dirinya, saat ini dia menjadi menjadi salah satu striker tajam yang berharga mahal di Eropa.

Alexis Sanchez, anda seharusnya tahu siapa dia. Bisa bermain diposisi mana saja di lini depan, dribel bola yang ciamik, dan cepat serta dibekali insting mencetak gol yang baik. Memulai karir profesional di Cobreloa, 18 Maret 2005 sudah melakukan debut di tim senior meski usia masih 16 tahun.

Aksi impresif pada musim pertama di Cobreloa membuat salah satu klub Italia paling ekonomis, Udinese membelinya seharga 1,7 juta poundsterling. Tidak langsung bergabung dengan Udinese, Sanchez muda berturut-turut dipinjamkan ke Colo-Colo (2006-2007) dan River Plate (2007-2008), baru pada pertengahan 2008 dia terbang ke Italia untuk memulai petualangan bersama klub asal kota Udine tersebut.

Disini dia sukses menjelma sebagai pemain spesial dan berduet bersama pemain senior, Antonio Di Natale. Di kota Udine reputasinya mulai meroket seiring kemampuan yang sering dikomparasikan dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Meski hanya mencetak 21 gol dari 112 total pertandingan, gaya bermain dia sukses membuat salah satu klub terbaik dunia, Barcelona merekrutnya dengan harga 26 juta euro pada pertengahan 2011.

Menjadi andalan Barcelona selama tiga musim, dia terhitung lumayan sukses dengan lima trofi selama di Barcelona. Akan tetapi bursa transfer musim panas 2014 terhitung pelik bagi pemain berjuluk El Nino Maravilla (The Wonder Kid) ini.

Arsenal-Barcelona tertarik pada Luis Suarez yang bermain fantastis di Liverpool dahulu. Rencana awal, Arsenal akan merekrut Suarez dan jika gagal maka Sanchez adalah penggantinya. Barcelona juga punya rencana yang berkaitan, bila berhasil mendatangkan Suarez maka Sanchez akan pergi, tetapi jika Suarez gagal ke Camp Nou maka Sanchez akan tetap di Barcelona.

Suarez akhirnya pindah ke Barcelona, dipengaruhi faktor ingin juara Liga Champions dia juga tidak tahan dengan media-media di Inggris yang selalu memberi stigma negatif pada dia. Meski menjadi rencana cadangan dalam strategi transfer atas Suarez, Sanchez menbuktikan diri kualitasnya memang mumpuni, dia bermain bagus di Chile, Argentina, Italia, Spanyol dan kini di Inggris bersama Arsenal.

Dia menjadi tulang punggung Arsenal dengan Mesut Ozil sebagai partner dia. Ketajaman dia justru meningkat, dengan mencetak 25 gol pada musim perdana, lalu 17 gol di musim keduanya bersama Arsenal.

Musim ini tidak berbeda, dan justru peran dia semakin krusial karena dipasang sebagai penyerang di depan. Arsenal kini sangat menjadikan Sanchez sebagai sumber inspirasi untuk mendulang kemenangan. Mengenai nasib hidup, Sanchez saat ini menerima gaji setidaknya 130 ribu poundsterling tiap pekan, tentu nominal yang sangat tinggi.

Tetapi dia tidak mendaptakan ini dengan mudah, perjuangan yang keras adalah jawaban mengapa dia bisa sampai pada level ini. Dia lahir di daerah Tocopilla, 19 Desember 1988 dimana tempat kelahiran Alexis merupakan salah satu daerah yang miskin di Chile. Kehidupan dia dahulu kala serba susah, apalagi sudah ditinggal ayah sejak kecil.

Alexis pernah bekerja serabutan seperti menjadi pencuci mobil. Kakaknya Humberto pun menceritakan jika Sanchez tidak menjadi pesepakbola, dia hanya akan menjadi pekerja tambang seperti dirinya. Dulu jangankan hidup mewah, sekedar untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja dia tidak mampu.

Bahkan sepatu bola pertama yang dia punya adalah pemberian walikota setempat, setelah ibunya meminta hal itu secara langsung kepada sang walikota Tocopilla. Tetapi pemberian walikota terhadap Sanchez kecil tidak sia-sia. Karena hingga sekarang dia tidak cuma membanggakan kota kelahiran saja namun juga tanah airnya, Chile yaitu dengan sukses dua kali juara Copa America. Sekarang dia menjadi idola publik La Roja dan termasuk salah satu penyerang terbaik dunia.

Banyak pesepakbola yang mempunyai kisah hidup memilukan seperti Bacca dan Sanchez. Seperti Luis Suarez kecil, yang tidak mampu membeli sepatu sepakbola dan bermain bola selalu di jalanan, itulah masa lalu El Pistollero. Ramires mantan pemain Chelsea yang kini bermain di Liga China, bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan akibat kesulitan dari segi ekonomi.

Bahkan pemain terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo, juga tergolong hidup dalam keluarga kurang mampu semasa kecilnya. Para pesepakbola tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa tiada yang tidak mungkin jika ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Syarat yang wajib dipenuhi jika ingin merubah nasib hidup adalah kerja keras tiada henti, tidak lelah untuk menaruh harapan dan berdoa semoga keberuntungan menaungi.

Pahitnya pengalaman hidup membentuk mental para bintang dunia tersebut hingga sekuat sekarang ini. Jika sudah begini, benar adanya seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa andai kita benar-benar berusaha keras maka usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil dikemudian hari.

Foto dari pulse.org

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

“Kultur Sepakbola” (Part-1)

Kemajuan sebuah negara dalam hal ekonomi ternyata berdampak positif dalam banyak sisi kehidupan di sebuah negara tersebut. Dengan mantapnya laju ekonomi, maka masyarakat didalamnya bisa hidup dalam kesejahteraan dan terkecuali dalam hal sepakbola.

Dengan kekuatan ekonomi yang bagus, infrastruktur sepakbola bisa dibangun menyesuaikan kemajuan zaman serta pola pendidikan dan pelatihan yang ditunjang kecanggihan teknologi masa kini. Kita bisa lihat, kemajuan negara-negara Eropa mampu membuat sepakbola yang mereka kembangkan menjadi sepopuler sekarang ini.

Namun Eropa tak beranjak sendirian karena Amerika Serikat dan Cina juga sudah mulai mencoba hal ini, jika Amerika didukung oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi yang oke, maka hasrat Cina untuk memajukan pesepakbolaan dalam negerinya adalah akibat dari pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat kuat belakangan ini.

    Namun jika dilihat dari fakta yang terjadi, ternyata tak menjadi patokan utama bahwa kemajuan negara dalam hal insfrastruktur, teknologi dan ekonomi juga berdampak lurus bagi pesepakbolaannya. Lalu faktor apa yang lebih penting jika kemajuan dari segi infrastruktur, teknologi dan ekonomi belum tentu pula memicu kemajuan sepakbola di negara tersebut?

Seringakali di berbagai media sepakbola, kita disuguhi bacaan mengenai keadaan sepakbola Amerika Latin yang dikatakan bahwa di benua tersebut, sepakbola sudah sangat mendarah daging, menjadi kultur atau budaya masyarakat dan bahkan banyak yang menganggap, disana sepakbola sangat penting dalam hidup, bahkan sudah setara dengan agama.

Ya, jawaban dari itu adalah sebuah kultur, karena meski sebuah negara mempunyai infrastruktur dan teknologi yang maju dibidang sepakbola atau serta punya banyak uang untuk mengembangkan sepakbola, tetapi tanpa kultur sepakbola yang  “hidup” di dalam bangsanya, maka akan sulit membuat sepakbola menjadi kebanggan dan mengharumkan nama bangsa tersebut.

Seringkali kita melihat negara-negara dari benua Afrika tampil memukau di pentas internasional, padahal mayoritas negara Afrika adalah negara berkembang yang tertinggal dari segi ekonomi, apalagi infrastruktur dan teknologinya.

Lantas apa yang membuat banyak pesepakbola hebat dilahirkan dari benua tersebut? Tak lain adalah kultur masyarakatnya terhadap sepakbola.

Sebagai olahraga yang paling digemari dan dimainkan dibelahan dunia manapun, maka tak heran sepakbola bisa ada dimanapun baik itu di pegunungan, kebun, sawah, pantai, jalanan kota, pedesaan, lapangan hingga stadion.

Karena sepakbola adalah olahraga paling “merakyat”, maka banyak masyarakat Afrika yang menggemari ini. Untuk bermain sepakbola, terkadang hanya dengan bola usang yang yang digunakan ramai-ramai dan gawang imajinasi dari sandal atau kayu pun, sepakbola sudah bisa dimainkan.

Kecintaan pada sepakbola membuat masyarakat Afrika senang memainkan si kulit bundar ini dimanapun. Bermain bola sudah menjadi kesenangan orang Afrika apalagi bagi anak-anak disana.

Karena kecintaan pada sepakbola ini maka tidak heran sepakbola sudah menjadi kebiasaan yang ditemui sehari-hari yang juga sudah menjadi kultur atau budaya yang menyatu dalam masyarakatnya.

Menjadi kultur yang hidup dalam masyarakat, sepakbola sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan disana. Sepakbola juga tidak jarang menjadi batu loncatan bagi seseorang untuk mengubah nasib hidupnya kearah yang lebih baik.

Yang terjadi di Amerika Latin lebih dahsyat, kultur sepakbola mereka sangat kental, mirip seperti di Eropa. Sepakbola sudah menjadi menu obrolan sehari-hari bagi Gaucho, sebutan untuk orang yang berasal dari orang Latin.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, bahkan saking gilanya terhadap sepakbola, terkadang agama pun disejajarkan dengan sepakbola. Contohnya saja kita bisa lihat di Argentina, disana ada gereja bernama Iglesia Maradoiana, gereja yang menjadikan Maradona sebagai Tuhan, dan bahkan kabarnya gereja ini sudah punya 200 ribu pengikut.

Sepakbola menjadi prestise bagi orang Latin, menjadi pesepakbola terkenal akan populer seperti selebritis atau politisi. Semua ini karena cinta orang Amerika Latin pada sepakbola itulah yang menjadikan olahraga ini sebagai budaya yang tidak akan lekang oleh waktu.

Barangkali kultur sepakbola yang kuat ini menjadi faktor dan sebab, kenapa sepakbola dari Afrika dan Amerika Latin selalu berkembang kearah yang baik hingga menelurkan pemain-pemain dengan kualitas jempolan.

Pemain terbaik dunia pernah datang dari Afrika, George Weah seorang legenda AC Milan dari Liberia ini pernah menyabet Ballon D’Or, belum lagi deretan pemain yang sukses besar seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, dan Yaya Toure.

Amerika Latin jauh lebih hebat, talenta dari sana bahkan bisa mengungguli talenta-talenta dari kiblat sepakbola seperti Eropa. Mulai dari Pele, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Lima, Ronaldinho, hingga Lionel Messi mampu menguasai jagad sepakbola dunia.

Kualitas pemain yang mumpuni berdampak positif bagi tim nasional dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Negara-negara dari kedua benua tersebut mampu berbicara banyak di konstelasi ajang internasional seperti Piala Dunia.

Bisa diatarik kesimpulan, ketika sepakbola menjadi sebuah kecintaan pada masyarakat tertentu maka sepakbola akan menjadi hal penting dalam hidup dan akan ada dimana-mana.

Hal ini tentu membentuk kebiasaan yang pada akhirnya dengan sendirinya membentuk sebuah kultur bahwa “sepakbola adalah bagian penting dari kehidupan”. Meski keadaan ekonomi atau infrastruktur tidak memadai untuk memainkan sepakbola secara “layak”, namun berkat budaya sepakbola yang ada ini maka kekuarangan tersebut seakan hilang dan tidak menjadi faktor penghambat.

Sedikit menoleh ke negara sendiri, Indonesia yang secara ekonomi masih terhitung negara berkembang dan dengan infrastruktur sepakbola yang “ala kadarnya” apakah sudah mempunyai budaya sepakbola seperti di Amerika Latin atau Afrika?

Mungkin bisa dikatakan belum, meski pemandangan anak-anak bersepakbola ria di lapangan, jalanan atau gang-gang rumah masih kita jumpai di negeri ini dan semangat orang Indonesia terhadap sepakbola juga lumayan tinggi, namun kenapa pemain hebat nan potensial kelas dunia tak juga kunjung muncul?

Mari kita kupas lebih dalam. Untuk menjadi pesepakbola hebat, berkarir lah di Eropa, dalam hal ini orang Afrika dan Amerika Selatan diuntungkan. Sebagai negara bekas kolonial dari negara-negara Eropa, maka bahasa yang mereka gunakan, punya banyak kesamaan seperti warga Afrika yang berbahasa Perancis karena mayoritas negara-negara Afrika adalah bekas pendudukan Perancis.

Amerika Latin yang warganya terbiasa berbahasa Spanyol, Portugis dan juga Italia juga sangat terbantu manakala ada pesepakbola dari sana yang akan hijrah ke Eropa, bahkan budaya masyarakat antara Amerika Latin dan Eropa terkhususnya negara Latin Eropa pun banyak kesamaan. (Bersambung..)

Berani Bersaing

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana. Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana.

Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.