Musa Barrow: A New African Jewel from the Gambia

One of the most improved club in Italy during the last three seasons, Atalanta failed to pass European League group stages. The Bergamo-based club was defeated by Copenhagen FC in the play-off after penalty shoot-out (4-3) in Parken Stadium, Denmark (30/8/18). This result implied that La Dea failed to retain back to back participation in European football since the previous season. However, the progressive development in Atalanta merely can’t be stopped.

For the last three seasons, Atalanta is being famous for their successful ways to develop young players onto top flight stages. The players like Roberto Gagliardini, Mattia Caldara, Franck Kessie, Andrea Conti, Leonardo Spinazzola or Bryan Cristante has discovered their “proper paths” in Atalanta before signed by the Italian giants like Internazionale, Milan, Juve or Roma.

In the 2018/19 season, Gianpiero Gasperini as the head coach has to sustain their development further. Fortunately, he has plenty of ready talents to explode in Serie A. There are Emiliano Rigoni, who scored two goals in his debut vs AS Roma in Giornata 2, ex-Milan midfielder Mario Pasalic or the Gambian young boy who stole the attention in the last season, Musa Barrow.

Despite the Gambia well-known as a limited power in African football, promising footballer raise up everywhere in Africa, not an exception in the Gambia in the name of Musa Barrow. He has been called up to the Gambia national team’s senior for their African Nation 2019 qualifiers against Algeria at home. From BBC, the Gambia manager Tom Saintfiet had said, “His (Barrow) performance at Atalanta is impressive, and he is better in a strong team.”

Barrow performances last season just show how promising he is. He scored 23 goals in Campionato Primavera 2018, a competition for under-21’s side in Italian football. After that glorious performance at the junior level, Gasperini called him into the senior team and managed 12 appearances, scored 3 goals and created 3 assists.

Musa Barrow’s career journey from an unknown boy to being a top footballer in a big competition like Serie A was so quick. He signed for Atalanta in 2016 and played for the youth team ranks until got called-up to the senior team two years later. His debut in the senior match was Coppa Italia match against Juventus on 30th January 2018.

Barrow was born on November 14th, 1998 and grown up in Kanifing Estate, Banjul the Gambia capital city Before he was scouted by Atalanta, Barrow footballing world began in the street football. His passion only for football. Look at how Barrow described a little story about his love experiences in football.

“Once as a child I was ill, nothing serious, a little fever, but they had brought me to the hospital. And as a gift for my mother, I asked to deliver me a ball. I slept hugged in the ball. When the doctor noticed, he informed me that with that passion I would become a footballer,” Barrow told to the http://www.atalanta.it.

Barrow
New Atalanta wonderkid from The Gambia, Musa Barrow.

After Barrow impressive performances in Atalanta last season, several big clubs like Juventus and Tottenham Hotspurs were rumored to place his name on the list target.

Currently, Barrow market value estimated around € 6 million via transfermarkt.com. Might be increasing up when he continues getting more minute play and demonstrate his excellent performances this season. Though Barrow should be competing with Duvan Zapata for one slot in prima punta, there is a chance because Gasperini would be rotating the team and his preferences on young players.

Barrow only needs consistency and improving his game mentality, because tactically already has settled into the team system since last season. In this early 2018/19 season, Barrow had scored 4 goals and assisted two goals in European League qualifiers, more to come in future especially in Serie A.

Beside his optimistic career in the club level, currently, Musa Barrow is one of the Gambian football future alongside the national team captain Omar Colley (Sampdoria).

From raised up near the Gambian National Stadium and played street football then, now Barrow is living in a dream for a thousand children in his country and remains a hero for them. Well, let us see how this new jewel from Africa shines in the future.

(Writer: Haris Chaebar)

Sources photos from fantamagazine.com and ilmondoldelfantacalcio.it

Advertisements

Tak ada Rotan, Akar pun jadi versi AS Roma

Bagi sebuah klub sepakbola, menggunakan jasa direktur olahraga sudah bukan rahasia lagi. Meski urusan transfer bisa dibebankan kepada pelatih, pos direktur olahraga dirasa semakin penting dalam sepakbola modern kini yang penuh kerumitan dalam birokrasi. Jabatan direktur olahraga (sporting director) dalam struktur manajemen akan diberi tupoksi untuk mengurusi lalu lintas transfer pemain.

Bila berbicara direktur olahraga, salah satu yang disebut-sebut sangat mumpuni adalah sosok yang disebut “Monchi”. Pria asal Spanyol bernama asli Ramon Rodriguez Vardejo itu menjabat direktur olahraga AS Roma kali ini. Pernah santer dirumorkan bakal digamit oleh klub besar seperti Real Madrid dan Liverpool, tentu menunjukan kalau orang ini bukan nama direktur olahraga sembarangan.

Sebelum ke AS Roma, karir Monchi sebagai direktur olahraga mulai benderang di Sevilla sejak 2000. Klub asal wilayah Andalusia inilah klub pertama yang merasakan servis Monchi sebagai direktur olahraga. Kecemerlangan Monchi sudah teruji dengan mendatangkan banyak pemain harga miring namun dijual mahal beberapa tahun kemudian setelah tampil bagus di Sevilla.

Sebut saja Daniel Alves, Adriano, Ivan Rakitic, Carlos Bacca, Gregorz Krychowiak, Geoffrey Kondogbia atau Kevin Gameiro. Nama-nama diatas yang direkrut semasa Monchi menjabat direktur olahraga Sevilla, menghasilkan pundi-pundi euro yang banyak bagi klub. Itu pun masih ditambah kesuksesan Monchi menaikan harga pemain-pemain potensial dari akademi seperti Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos dan Jesus Navas dengan harga yang selangit.

Selain jaringan pemandu bakat yang sangat luas, keberadaan master transfer seperti Monchi sangat krusial bagi Sevilla yang tak punya kondisi finansial hebat seperti klub-klub besar. Monchi adalah jaminan bagi Sevilla untuk tetap kompetitif dengan pemain bagus, namun yang berharga murah. Empat trofi Liga Europa yang Sevilla rengkuh dengan pemain-pemain hasil kerja transfer Monchi adalah bukti tak terbantahkan lagi.

Saat ini kepindahan Monchi ke AS Roma tentu memicu antusiasme tinggi dari fans. Sudah sangat lama trofi scudetto belum singgah lagi ke ibukota Italia, sejak terakhir kali pada tahun 2001 lalu. Kedatangan Monchi memicu gairah baru yang seakan menandakan Roma siap menjadi penantang serius gelar juara.

Bergabungnya sosok yang menjadi kiper sebelum pensiun ini diharapkan mampu memberi kestabilan bagi Roma, terutama dalam usahanya meraih berbagai trofi prestisius dan juga membangun reputasi sebagai klub yang mapan. Tetapi membaca gelagat kedatangan Monchi ke AS Roma, sebenarya harapan menjadi juara dan terutamanya Serie A, belum akan datang dalam beberapa musim kedepan.

Seperti diketahui, AS Roma dibawah presiden orang AS berdarah Italia, James Pallotta, sedang melancarkan proyek pembangunan stadion baru. Tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merampungkan hal itu.

Jika dirunut, maka pertemuan Monchi yang punya rekam jejak pencari pemain murah untuk dijual mahal dengan Roma yang sedang butuh dana pembangunan stadion akan menghasilkan sebuah premis bahwa; Monchi didatangkan untuk menstabilkan keuangan AS Roma terlebih dahulu, bukan langsung menargetkan trofi.

Bukti awal sudah kentara, ketika pilar inti seperti Mohamed Salah dilego ke Liverpool dengan mahar 39 juta pounds. Tak cuma itu, pemain-pemain penting lain juga santer sedang dipertimbangakan untuk dijual. Kostantinos Manolas dan Antonio Ruediger masing-masing diisukan ke Zenit St. Petersburg dan Internzionale dan Chelsea. Yang juga membuat miris, Radja Nainggolan kabarnya akan direkrut Manchester United. Jika kesemua berita itu benar-benar terealisasikan, akan benar-benar menjadi kehilangan besar bagi AS Roma.

Tugas Monchi disinyalir akan meneruskan tradisi direktur olahraga Roma sebelumnya, Walter Sabatini untuk mencari pemain muda yang murah dan kemudian dijual semahal mungkin seperti Erik Lamela, Marquinhos, dan Miralem Pjanic.

Peluang demikian semakin kentara ditambah faktor pelatih baru Roma, Eusebio Di Francesco yang menggantikan Luciano Spalletti, adalah orang yang mengorbitkan talenta-talenta hebat “tak bertuan” semasa di Sassuolo. Nama-nama didikan Di Francesco yaitu Domenico Berardi, Nicola Sansone, Gregoire Defrel, Matteo Politano dan Lorenzo Pellegrini.

Melihat kabar mercato sejauh ini (6 Juli 2017), pemain-pemain yang sudah didatangkan ke Roma juga bukan nama besar. Perjudian besar Monchi lakukan jika Hector Moreno (PSV) dan Rick Karsdrop dari Feyenoord jadi menggantikan Manolas dan Ruediger, yang sudah sangat nyetel di Serie A. Kontrak Wojciech Szczesny juga belum punya kepastian karena Roma masih punya kiper internasional Polandia yang lain, Lukasz Skorupski (dipinjamkan ke Empoli).

Untuk menggantikan Mohamed Salah, Roma dikabarkan menghubungi sayap andalan Stoke City, Xherdan Shaqiri. Tetapi melihat reputasinya, Shaqiri bukanlah pengganti sepadan Salah, lagipula Shaqiri pernah gagal ketika di Italia bersama Internazionale.

Selain itu Roma dikabarkan memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo. Calon gelandang masa depan Italia ini merupakan produk akademi AS Roma. Kedatangan Pellegrini terhitung penting disamping penambahan kualitas tim. Pellegrini akan mengguatkan kembali komposisi putra asli Roma, yang saat ini hanya ada dua di tim; Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi pasca kepergian il capitano Francesco Totti.

Cenderung adem ayem tidak mengincar nama besar di bursa transfer dan justru akan menjual aset-aset terbaiknya, menjadi bukti bagaimana kejelasan rencana Roma bersama Monchi; menuai profit dari pasar transfer. Pembangunan stadion yang memakan dana besar menjadi alasan kuat AS Roma membutuhkan seorang juru transfer seperti Monchi. Diharapkan orang ini mencari bakat yang tidak terlalu terekspos (harga murah) kemudian menjual mahal beberapa tahun kemudian.

Bagi fans AS Roma, tentu muncul rasa kecewa dengan langkah klub dalam bursa transfer di pertengahan tahun 2017 ini. Bukannya memperkuat tim yang sudah mulai stabil, justru kembali bongkar pasang susunan pemain yang terjadi.

Sulit bagi Roma mengulang prestasi musim lalu (runner-up), belum lagi musim depan Roma kembali berlaga di Liga Champions. Dengan langkah transfer yang sangat jauh dari memuaskan sampai saat ini, apakah Roma akan tetap bertaji di Serie A sekaligus di Eropa? Sepertinya sulit terjadi, walau sekedar hanya membayangkan.

Kalau hanya mencari pemain murah yang kemudian dijual mahal, tak perlu repot mengkontrak Monchi sebagai direktur olahraga, Walter Sabatini saja sudah cukup bagi Roma. Erik Lamela, Marquinhos, Pablo Osvaldo dan Miralem Pjanic bukan primadona transfer kala didatangkan Sabatini, namun nyatanya kemudian berhasil dijual dengan harga yang terhitung mahal.

Kevin Strootman, Radja Nainggolan, Kostantinos Manolas, dan Antonio Ruediger “belum pemain jadi” ketika didatangkan, namun yang pasti saat ini, untuk merekrut mereka dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu Sabatini juga berhasil menemukan bibit-bibit muda menjanjikan semacam Leandro Paredes dan Emerson Palmieri.

Pada akhirnya, antusiasme yang muncul ketika awal kedatangan Monchi akan menguap begitu saja dengan melihat gelagat Roma di pasar transfer saat ini. Impian untuk menyaingi Juve dalam perburuan scudetto harus kembali dipendam oleh tifosi Roma, apalagi berbuat banyak di Liga Champions.

Scudetto sepertinya belum akan bertambah di lemari trofi AS Roma, meski baru saja kedatangan direktur olahraga baru yang sangat mumpuni. Pertautan antara si jenius Monchi dalam mencari pemain murah untuk dijual mahal, dengan Roma yang butuh dana pembangunan stadion dalam jangka waktu panjang, menjadi argumentasi logis untuk meragukan Roma bakal scudetti dalam beberapa musim kedepan.

Setidaknya jika tifosi Roma sukar untuk berharap pada cita-cita scudetto, masih ada trofi lain yang sering mantan klubnya Monchi dapatkan, yakni Liga Europa. Sevilla pernah empat kali menyabet gelar juara Liga Europa dengan pemain-pemain rekrutan Monchi dahulu kala. Bagi Roma barangkali peribahasa “tak ada rotan, akar pun jadi” dengan keberadaan Monchi seharusnya berarti “tak ada scudetto, Liga Europa pun jadi”.

Sumber foto dari Gazzetta.it

Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

Apakah Anda Gila, Mister Presiden?

Setiap klub pasti menginginkan dilatih oleh orang yang tepat. Yang dimaksud tepat adalah pelatih yang bisa membawa klub itu mencapai target yang diinginkan oleh klub. Maka sebuah kewajaran apabila pelatih gagal memenuhi keinginan klub apalagi berselisih paham dengan manajemen, maka dia akan diberhentikan.

Untuk urusan ini, banyak klub yang terkenal akan pemberhentian atau biasa disebut pemecatan pelatih. Klub seperti Real Madrid, Chelsea, Manchester City, Inter, dan AC Milan sering berganti pelatih dalam kurun 10 tahun terakhir.

Klub-klub besar seakan mendominasi “tren” pemecatan pelatih yang dianggap gagal. Tetapi pada fakta sebenarnya bukan hanya klub besar, klub-klub kecil atau semenjana juga sering gonta-ganti pelatih. Untuk klub kecil, biasanya mereka berganti pelatih karena tidak bisa menghindarkan mereka dari zona degradasi, selain juga konflik dengan manajemen klub.

Kabar berita pemecatan pelatih klub medikoer seperti ini relatif tidak seheboh dengan apa yang terjadi di klub besar. Maka wajar saja kabar pemecatan tersebut tidak terlalu menjadi perhatian utama bagi publik pecinta sepakbola. Namun tetap ada saja sensasi jika kita cermati seksama dalam dua tahun belakangan, pelakunya adalah klub Serie A, Palermo.

Klub asal pulau Sisilia, di wilayah selatan Italia ini sangat gemar memecat pelatih akhir-akhir ini. Aktor dibalik ini tentu saja sosok super kontroversial, Maurizio Zamparini. Sosok “gila” sebagai preseiden klub Palermo ini lah yang memegang kendali utama roda kebijakan klub berjuluk Rosaneri itu.

Maurizio Zamparini, berlatar belakang sebagai pebisnis di berbagai bidang dengan bisnis retail supermarket, Emmezata yang menjadi andalan pria asal provinsi Udine ini. Sukses menjadi pebisnis, Zamparini masuk ke dunia sepakbola pada 1987 dengan membeli klub dari kota air, Venezia. Saat itu Venezia hampir bangkut dan berada di Serie C, lalu meski lama, Venezia berhasil promosi ke Serie A musim 1998-1999.

Kecewa lantaran keinginannya merenovasi stadion Pierluigi Penzo ditolak pemerintah lokal, Zamparini menjual Venezia dan lalu membeli Palermo pada tahun 2002. Dibawah komando presiden Zamparini, Palermo melakukan evolusi dalam tubuhnya. Pada saat Zamparini datang, Palermo masih berkubang di Serie B.

Hanya butuh dua tahun bagi Rosaneri komando Zamparini untuk kembali ke Serie A pada 2004/2005. Mereka kembali ke kasta tertinggi pertama kali sejak 1973 sebagai juara Serie B musim 2003/2004. Zamparini jelas sangat berjasa dan tentu nama Zamparini sangat dicintai oleh publik Palermo berkat uluran tangannya memoles Palermo hingga kini.

Meski jasa Zamparini banyak, dia juga termasuk orang kontroversial apalagi jika berurusan dengan pelatih. Zamparini mungkin disebut sebagai presiden klub yang paling tega memecat pelatih di dunia ini. Selama menjabat sebagai pemilik sekaligus presiden Palermo, sudah banyak nama yang keluar masuk stadion Renzo Barbera sebagai pelatih.

Selama dipimpin Zamparini, total 29 nama pelatih (termasuk yang bolak-balik ditunjuk pelatih) yang pernah menangani Palermo hanya sejak 2002 hingga 2016! Angka itu lebih banyak dari jumlah musim Palermo dibawah kepemilikan Zamparini sejak awal hingga kini. Dua puluh sembilan nama pelatih berbeda selama 14 tahun terkahir, menunjukkan betapa entengnya palu pemecatan dari Zamparini dilayangkan kepada pelatih-pelatih Palermo tersebut.

Pelatih pertama yang pergi pada zaman Zamparini adalah Roberto Pruzzo. Legenda AS Roma ini bahkan hanya bertahan lima hari di Palermo. Setelah itu hilir mudik pelatih masuk dan dipecat seringkali terjadi di Palermo. Bahkan Francesco Guidolin, yang membawa Palermo naik ke Serie A 2004 juga tidak bisa mengelak dari pemecatan Zamparini.

Musim pemecatan pelatih paling parah terjadi di musim 2015/2016 lalu. Total ada delapan pergantian pelatih pada musim tersebut, gila? Namun hal itu biasa saja bagi orang anti mainstream seperti Zamparini. Di musim lalu, Palermo mengawali kompetisi dibawah pelatih Giuseppe Iachini, namun didepak pada November 2015 karena konflik dengan Zamparini.

Davide Ballardini masuk sebagai pengganti, namun performa Palermo justru merosot hingga Ballardini juga didepak pada Januari 2016. Tugas Ballardini untuk sementara dilanjutkan oleh pelatih teknik, Fabio Viviani. Dia akan menjadi caretaker guna mengisi kekosongan pelatih, sembari Palermo mencari pelatih yang baru.

Disinilah kontroversi kembali muncul. Untuk menggantikan Ballardini, Zamparini tunjuk mantan pemain timnas Argentina, Guillermo Barros Schelotto guna menjadi arsitek tim yang baru. Tetapi ternyata, Barros Schelotto dicekal oleh untuk melatih di Italia. Alasan UEFA, karena lisensi kepelatihan Barros Schelotto belum memenuhi kualifikasi untuk menjadi pelatih profesional di liga-liga Eropa semacam Serie A.

Tak kehilangan akal, Palermo menyiasati ini dengan mengembalikan Viviani (yang bertahan tidak sampai 2 minggu) ke posisi staf teknik dan menunjuk Giovanni Tedesco sebagai pelatih. Tedesco mempunyai lisensi UEFA, jadi dia bisa melatih tim Serie A. Barros Schelotto akan menjadi pelatih sesungguhnya meski “dari tribun” penonton.

Sedangkan Tedesco yang akan berada di area teknik pinggir lapangan, tapi sebagai pelatih formalitas saja. Hal ini dilakukan sambil menunggu upaya Palermo untuk mengurus perizinan Schelotto di birokrasi sepakbola Eropa yang memang sedikit banyak memakan waktu.

Lisensi ditolak UEFA, Barros Schelotto pun mengundurkan diri sebagai “pelatih” Palermo. Hal sama juga terjadi pada Giovanni Tedesco, namun kemudian dia ditarik ke posisi staf teknik Palermo. Barros Schelotto secara de facto melatih Palermo sejak 11 Januari hingga 10 Februari 2016. Begitu juga Tedesco yang secara de jure tercatat “melatih” Palermo pada saat yang sama. Entah kenapa bisa serumit ini manajemen Palermo dalam menunjuk pelatih.

Setelah kasus Schelotto, Zamparini menunjuk Giovanni Bosi, pelatih tim junior atau Primavera untuk menjadi pelatih tim inti. Tetapi dia hanya bertahan “satu laga” dan langsung dipecat setelahnya. Kekacauan Palermo masih berlanjut, Giuseppe Iachini yang kembali dengan menggantikan Bosi juga dipecat pada bulan Maret, hanya bertahan satu bulan.

Iachini digantikan Walter Novellino, namun hasil yang buruk kembali membuat Zamparini marah dan memecat Novellino pada April. Palermo kembali menunjuk mantan pelatihnya, Davide Ballardini senagai allenatore baru. Dia sukses mengamankan Palermo dari jeratan degradasi ke Serie B. Ballardini tetap melatih Palermo diawal 2016/217

Memasuki musim baru 2016/2017, ternyata Ballardini kembali dipecat. Penyebab dia dipecat adalah konflik dengan manajemen, terutama dengan Zamparini yang memang dimana sang patron ingin pelatih tunduk padanya. September 2016 setelah Ballardini pergi, Palermo menunjuk pelatih muda, Roberto De Zerbi sebagai nahkoda baru.

Namun lagi-lagi sumbu pendek Zamparini memakan korban. De Zerbi, yang semasa dulu pernah bermain di Napoli ini dipecat bulan November lalu. Hasil buruk menjadi preferensi kenapa De Zerbi dipecat dan diganti oleh Eugenio Corini. Corini menjadi orang ke 29 atau pelatih ke 38 kalinya semenjak Zamparini berkuasa di Palermo.

Apa yang dilakukan oleh Zamparini pantas disebut gila. Temperamen dalam diri Zamparini ikut berpengaruh dalam pengambilan keputusan klub, dan parahnya Palermo yang terkena imbas. Sebuah tim jadi tidak stabil dan terlebih psikologis pemain sedikit banyak terganggu akibat dari seringnya pelatih berganti.

Mister Zampa bahkan diberi julukan mangiallenatori atau pemakan pelatih oleh media di Italia. Julukan tersebut diberikan karena ulahnya yang sangat sering memecat pelatih jika tidak puas dengan hasil pertandingan atau tidak tunduk pada dirinya. Meski begitu beberapa pelatih seperti tidak kapok menjadi pelatih Palermo, walau pernah juga pada masa lalunya dipecat oleh Zamparini.

Francesco Guidolin, Giuseppe Iachini, Davide Ballardini, Delio Rossi, atau Stefano Colantuono mereka adalah contoh orang-orang yang pernah di-PHK oleh Zamparini, namun juga tidak kapok untuk melatih Palermo lagi. Guidolin bahkan empat kali merasakan pemecatan ala Zamparini.

Punya nama besar juga tidak berarti disegani oleh Zamparini. Legenda AC Milan dan Italia, Gennaro Gattuso yang memulai karir kepelatihan di Italia pertama kali dengan melatih Palermo, juga tidak bisa mengelak dari pemecatan oleh Zamparini. Gatusso bahkan tidak melatih hingga 2 bulan di Palermo.

Meski berada ditangan orang yang mudah naik pitam layaknya Zamparini, Palermo pernah beberapa kali menjadi perbincangan dari sisi “positif”. La Rosa pernah menyodok hingga ke zona Eropa, meski hanya Europa League. Selain itu dibawah Zamparini, Palermo beberapa kali sukses memoles pemain muda jadi pemain bintang.

Mulai dari pemain yang pernah memperkuat timnas Italia seperti Andrea Barzagli, Marco Amelia, Antonio Nocerino, Federico Balzaretti, Carvalho Amauri, Salvatore Sirigu hingga Franco Vazquez. Selain Italia, ada pemain timnas negara lain seperti Edinson Cavani (Uruguay), Simon Kjaer (Denmark), lalu dua pemain Argentina; Javier Pastore dan Paulo Dybala.

Palermo juga terkenal karena kepintaran mereka menemukan penyerang berpotensi besar, meski dari zona antah berantah yang jarang terekspos. Edinson Cavani (Danubio), Javier Pastore (Huracan), Franco Vazquez (Belgrano) dan Paulo Dybala dari Instituto Cordoba. Musim ini hal itu berlanjut dengan sosok Ilija Nestorovski, striker Makedonia yang dibeli dari klub Kroasia, Inter Zapresic.

Zamparini, sosok nomor satu di tubuh Palermo yang memang sangat temperamental, namun begitulah sepakbola. Dengan adanya karakter super unik layaknya Maurizio Zamparini maka sepakbola semakin menarik untuk dibicarakan, terutama sepakbola Italia. Tinggal kita tunggu saja Palermo hingga akhir musim ini, mau memecat berapa pelatih lagi, Pak Presiden?

Foto: calcio.web.eu

Solo Run Zebra

      Serie A, kompetisi sepakbola tertinggi di Italia ini masih seperti dulu saja rasanya, masih tetap hitam putih jadi topik utama, ya siapa lagi kalau bukan Juventus. Sudah lima musim Juventus selalu menjadi scudetti, dan tim lain seperti Roma, Napoli, Milan dan Inter seakan merelakan diri hanya menjadi penonton dalam kompetisi ini, dengan mudahnya Juventus juara.

     Pertanyaanya apakah Serie A mengalami kemunduran? Jawabannya sudah pasti iya, saat ini pamor sepakbola Italia tengah menurun, beberapa faktor ikut berpengaruh seperti kriris ekonomi juga dijadikan kambing hitam atas keterpurukan Serie A belakangan ini.

    Namun menyalahkan faktor krisis ekonomi global apakah bijak? Ternyata bukan hanya itu, karena ada faktor lain yang jelas berdampak signifikan bagi Calcio, tidak lain adalah dari dalam diri mereka sendiri.

        Italia seperti menutup mata pada perkembangan zaman, mereka seakan masih terbuai romantisme masa lalu dimana mereka yang dulu adalah terbaik di dunia, Serie A memang berjaya pada era 90an hingga 2000an, namun saat ini jelas tidak mungkin.

     Jangankan bersaing dengan Premier League, bersaing dengan Liga Jerman saja kini tidak mampu, apa “penyakit” yang selama ini mendera Italia? Pertama adalah dari sisi manajemen klub, di Italia pada umumnya setiap klub tidak mempunyai stadion alias menyewa kepada pemerintah kota jika akan berlaga, dan hanya Juventus yang saat ini mempunyai stadion sendiri.

    Hal ini jelas berimbas pada pendapatan klub yang minim, dengan menyewa stadion maka pendapatan dari tiket penonton tidak sepenuhnya menjadi kas untuk klub, melainkan juga akan dibayarkan ke pemilik stadion sehingga keuangan klub tidak sebanyak yang dibayangkan.

       Dengan hanya Juventus, Udinese dan Sassuolo yang mempunyai stadion sendiri, maka wajar apabila Serie A selalu dikuasai Nyonya Tua tersebut karena sehatnya ekonomi mereka, sedangkan Sassuolo mulai berkembang secara positif dari klub kecil hingga menjadi lebih baik dari musim ke musim.

     Sekarang jika ditinjau dari sisi hiburan, permainan tim-tim di Italia memang bisa dikatakan “membosankan” dan tidak menghibur, karena Italia sudah melekat dengan strategi defensif sejak dahulu kala, apalagi kalau bukan Cattenaccio.

    Kultur di Italia memang mengutamakan kemenangan, disana hasil lebih diutamakan daripada keindahan bermain bola, bertahan dan menggunakan serangan balik menjadi kebiasaan, tak heran kini apabila kita menonton Serie A, maka rasa kantuk akan menyergap kita dan mungkin hanya seorang tifosi sejati saja lah yang akan tetap betah menikmati kemonotonan permainan tim Italia.

   Namun karena tren taktik berubah, tim di Italia juga sudah mulai berani mencoba perubahan, tidak hanya klub besar saja, melainkan klub kecil pun berani tampil agresif dan menyerang, Sassuolo dibawah komando Eusebio Di Francesco bermain dengan pressing dan intensitas tinggi adalah contoh nyata. Setidaknya sudah ada beberapa tim yang memberikan warna berbeda di Serie A.

      Faktor lain adalah banjirnya pemain asing yang menumpuk di Italia, tidak hanya di Serie A, bahkan Serie B hingga Lega Pro juga mulai banyak stranieri (pemain asing) bertebaran. Memang boleh saja stranieri datang, namun hal ini justru akan mempersempit ruang bagi pemain muda Italia dan dampak tersebut akan terasa bagi tim nasional.

       Kalau stranieri yang datang adalah pemain berkualitas itu justru bagus untuk Serie A, tetapi kalau yang datang adalah pemain dengan kualitas pas-pasan untuk apa?. Saat ini kebiasaan mendatangkan stranieri tidak hanya dilakukan oleh tim besar, bahkan tim kecil seperti Udinese dan Bologna pun sudi memboyong banyak pemain asing.

     Dampak dari mudahnya pemain asing masuk Italia sudah terasa jelas didepan mata, pada akhirnya tim nasional Gli Azzurri kena getahnya, Euro 2016 di Perancis yang lalu merupakan cerminan, ketika skuat Italia disebut sebagai “skuat terburuk Italia sepanjang masa” dan hasilnya pun kita tahu Italia tersingkir di perempat final.

      Keputusan FIGC (asosiasi sepakbola Italia) menerapkan aturan home-grown players yang baru dilaksanakan musim ini dirasa terlambat, karena kebijakan ini baru akan berdampak setidaknya 5 tahun kemudian, maka tidak heran di Piala Dunia 2018 nanti Italia akan bernasib sama seperti yang selama ini terjadi.

    Untuk saat ini berjubelnya pemain asing berkualitas dibawah rata-rata jelas punya pengaruh negatif bagi kualitas sepakbola Italia secara keseluruhan, apalagi ini diperparah dengan tingkat kepercayaan pelatih Serie A untuk pemain lokal ternyata begitu rendah, sudah menjadi rahasia umum pemain akademi tidak dipersiapkan untuk berada tim utama tetapi dipinjamkan kesana kemari hingga potensi mereka meredup.

    Kepercayaan klub Italia pada telenta muda lokal mereka sendiri seakan menjadi petunjuk bahwa kompetisi di Italia tidak ramah bagi pemain muda, kepercayaan yang rendah dan infrastruktur yang juga tertinggal, sudah pasti wajar jika mulai dari Marcello Lippi, Cesare Prandelli hingga Antonio Conte mengeluh tentang minimnya stok pemain bagus di negeri mereka sendiri.

      Kembali ke persaingan merengkuh scudetto, saat ini Juventus masihlah kandidat terkuat untuk juara, apalagi mereka berhasil “menggembosi” kekuatan inti darilawan terkuat dengan membeli Miralem Pjanic dari Roma dan Gonzalo Higuan dari Napoli, transfer Higuan bahkan menjadi rekor termahal di Serie A (90 juta euro).

     Selain melemahkan rival domestik, si Nyonya Tua juga menambah kualitas dengan membeli pemain dari luar Serie-A. Daniel Alves yang sangat kaya pengalaman hebat bersama Barcelona berhasil didatangkan, walau sudah uzur namun kualitasnya masih bisa diandalkan, tambahan youngster Marko Pjaca, Mehdi Benatia (pinjam dari Bayern), dan Juan Cuadrado sebagai pinjaman dari Chelsea menjadikan skuad Juventus makin kuat.

    Sepertinya Juve ingin naik kelas dan bukan hanya jagoan kancah lokal, namun juga merajai Eropa seperti Real Madrid, Barcelona dan Bayern Munchen, skuad Juve pun bisa jadi tambah mantap saja apabila transfer Axel Witsel tidak gagal.

        Sementara Juve bertambah sangat kuat, tim lain seperti Napoli, Roma, Inter dan Milan meski ada peningkatan namun tidak secara drastis. Napoli mengkompensasi loncat-nya Higuain ke Turin dengan pengganti bernama Arkadiusz Milik, meski punya potensi untuk bersinar mantan pemain Ajax ini belum teruji benar sebagai bomber kelas atas dan belum sebanding dengan Higuain, ujung tombak akan diperebutkan antara Milik dan Manolo Gabbiadini.

      Untuk lini tengah dan belakang, I Partenopei menambah pilihan dengan mengkontrak dua pemain yang musim lalu bermain bagus di Empoli, Piotr Zielinski dan Lorenzo Tonelli, Napoli memang gemar mengambil pemain dari Empoli mengingat Maurizio Sarri punya koneksi di Empoli, karena dulu dia melatih disana.

      Sementara manuver AS Roma bahkan dikatakan lebih jelek dari Napoli, kehilangan Miralem Pjanic tidak diganti dengan pemain yang sepadan. Roma justru memilih untuk memaksimalkan Kevin Strootman dan Leandro Paredes.

    Strootman memang pemain bagus, namun cedera panjang menjadikan kualitasnya diragukan untuk berkembang, sementara Paredes masih pemain muda yang perlu pembuktian. Lini belakang terbilang lumayan, Maicon yang sudah uzur digantikan Bruno Peres yang merupakan salah satu bek kanan terbaik Serie A, kepergian Lucas Digne ke Barcelona diganti oleh Mario Rui, namun pemain ini langsung cedera 4 bulan setelah bergabung.

    Untuk melapis duet bek tengah Kostas Manolas dan Antonio Rudiger, direktur olahraga Roma, Walter Sabatini berhasil meminjam tiga pemain sekaligus; Federico Fazio (Tottenham), Juan Jesus (Inter) dan Thomas Vermaelen (Barcelona), tidak buruk dari segi kualitas namun masih kurang karena tiga pemain ini rentan cedera dan Wojciech Szcsezny berhasil dipermanenkan meski harus meminjamkan Lukasz Skorupski lagi, sementara lini depan tidak ada perubahan sama sekali.

      Milan lebih parah, meski kini ada pelatih muda potensial dalam diri Vincenzo Montella, tetapi transfer yang dilakukan Milan jauh dari kesan berkualitas atau bisa dikatakan medioker. Menuanya Alex, Gabriel Paletta, Phillippe Mexes, inkonsistensi Cristian Zapata dan masih hijaunya Rodrigo Ely, membuat Alessio Romagnoli menjadi satu-satunya bek tengah yang pantas bermain reguler.

       Mateo Musacchio menjadi incaran namun yang datang adalah Gustavo Gomez, dibeli dari Lanus dengan angka 8 juta euro dan meski sudah menjadi andalan tim nasional Paraguay, kualitasnya masih perlu pembuktian. Piotr Zielinski diinginkan Montella untuk memperkuat sektor tengah, tetapi yang datang justru dua pemain pinjaman Mario Pasalic (Chelsea), Matias Fernandez (Fiorentina) dan membeli Jose Sosa (Besiktas), jelas kurang untuk bersaing di zona Liga Champions.

     Untuk lini depan hanya ditambah stok peraih top skor Serie B musim lalu, Gianluca Lapadula, bahkan Milan hampir melego Carlos Bacca ke West Ham, entah apa yang dipikirkan Adriano Galliani. Daripada sia-sia membeli dan meminjam pemain berkualitas standar seperti itu, seharusnya Milan mempromosikan pemain Primavera, siapa tau muncul pemuda berbakat lagi seperti Donnarumma dan De Sciglio di musim ini.

        Inter terlihat lebih bersemangat musim ini, nama-nama besar berhasil dibujuk untuk menjadi bagian skuad di Giuseppe Meazza. Ever Banega yang menemukan kembali bentuk permainan terbaik di Sevilla bahkan berhasil direkrut bebas transfer, padahal pemain ini yang menjadi kunci permainan Sevilla kala meraih trofi Europa League di dua musim terkahir.

     Pemain sayap tim nasional Italia, Antonio Candreva berhasil didaratkan dari Lazio, Joao Mario yang bermain bagus di Euro 2016 bersama tim nasional Portugal juga dibeli seharga 40 juta euro dari Sporting Lisbon. Paling sensasional adalah kemenangan Inter atas Barcelona untuk mendapatkan wonderkid Brasil, Gabriel Barbosa atau biasa disebut Gabigol. Yang tidak ada perubahan adalah lini belakang, padahal sektor ini seharusnya butuh tenaga baru.

     Setelah Juventus, Inter paling giat mencari pemain bagus, akantetapi hal ini tidak dibarengi dengan harmonisasi manajemen dengan staf pelatih, Roberto Mancini pergi karena terlibat konflik dengan manajemen. Frank De Boer yang ditunjuk sebagai pengganti adalah orang yang tidak punya pengalaman di Italia, jangankan sebagai pelatih, sebagai pemain saja tidak sekalipun main negeri Pizza ini.

     Mercato musim panas ini sudah membuktikan, Juve masih yang terdepan meski kehilangan Paul Pogba, kekuatan Juve tidak berkurang dan justru bertambah besar.

     Banyak pihak memprediksi Juve akan mudah mempertahankan scudetto seperti musim-musim sebelumnya, yang menjadi perhatian publik Italia kali ini bukan siapa yang juara liga tetapi adalah seberapa jauh Juve melangkah di Liga Champions dan siapa yang akan berpotensi mengganggu perjalanan Juventus menuju tangga juara di musim.

    Ya, Serie A masih seperti ini saja, persaingan yang monoton, minim pemain muda, membanjirnya stranieri, dan rendahnya daya saing klub Italia di level Eropa, seakan menutupi keindahan calcio yang pernah berjaya di era 90an hingga awal milenium 2000an ini. Kuda Zebra masih akan berlari sendirian kali ini atau dalam istilah sepakbola disebut solo run. Serigala, Partenopei maupun si Ular hanya akan mampu menjadi pengganggu bagi Zebra, namun apapun itu Liga Italia tetaplah kompetisi yang sangat ingin dinikmati oleh para tifosi setia, Forza Ragazzi.

Pelajaran dari Simone Scuffet

Simone Scuffet lahir di Udine pada 31 Mei 1996, dia adalah produk akademi Udinese, berposisi sebagai kiper. Seperti lazimnya pemain muda asli didikan akademi, pasti Scuffet sangat ingin sekali bermain untuk klub tempat kelahirannya, Udinese.

Namun seperti kebiasaan klub Serie A memperlakukan pemain muda, umumnya mereka akan melempar-lempar pemain muda untuk dipinjamkan ke klub-klub lain di Serie A atau divisi bawah Italia yang tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman bermain bagi pemain muda tersebut.

Udinese sebelumnya mempunyai kiper yang hebat dalam diri Samir Handanovic, namun karena ketangguhannya di bawah mistar gawang dia kemudian dibeli Intermilan pada pertengahan 2012 dan Udinese mengusung Zeljko Brkic sebagai penggantinya untuk musim 2012-2013.

Simone Scuffet sendiri bukanlah pemain inti, meski sudah masuk skuad Udinese 2012-2013 dia hanya menjadi cadangan dan pilihan kelima setelah Zeljko Brkic, Daniele Padelli, Wojciech Pawlowski, dan Alessandro Favaro.

Di musim itu Brkic sering cedera dan silih berganti mengisi pos kiper utama dengan Padelli. Musim selanjutnya (2013-2014) Daniele Padelli pindah ke Torino, diikuti kepergian Pawlowski dan Favaro, Udinese kemudian kedatangan kiper tim nasional Kroasia , Ivan Kelava dan kiper gaek Francesco Benussi untuk memberikan Brkic pesaing dan sekaligus melapisinya, sementara Scuffet belum pernah sama sekali turun di musim 2012-2013.

Di musim 13/14 Brkic adalah kiper utama, dengan sesekali Ivan Kelava tampil untuk melapisinya, Benussi dan Scuffet hanya menjadi pilihan ketiga dan keempat, mengingat status mereka yang satu kiper tua  biasa saja dan satunya kiper muda nol pengalaman di Serie A.

Namun keajaiban bagi Scuffet datang di Februari 2014, pada laga melawan Bologna, Brkic mendadak cedera dalam sesi pemanasan jelang laga. Dan pelatih Udinese saat itu, Francesco Guidolin bereksperimen dengan menaruh Scuffet sebagai starter pada pertandingan pertandingan tersebut.

Scuffet sendiri terkejut dengan hal tersebut, dan tak disangka bocah 18 tahun mampu bermain sangat baik di laga tersebut, dia membuat clean-sheet. Pasca laga tersebut, dia menjadi portiere numero uno Udinese hingga musim berakhir bahkan meski Brkic sudah sembuh dari cedera, dia tetaplah pilihan utama Francesco Guidolin.

Di musim tersebut penampilannya sangat baik untuk ukuran pemain usia dibawah 20 tahun. Dia beberapa kali terpilih sebagai Man of the Match dalam laga di Serie A, salah satunya adalah saat laga melawan AC Milan dia membuat lima penyelamatan penting bagi tim dan membuat laga di San Siro tersebut berakhir dengan skor 0-0 dan menyelamatkan Udinese dari kekalahan.

Dengan penampilan yang tenang dan refleks yang baik, talenta dia mulai disandingkan dengan legenda hidup Gianluigi Buffon, selain kemiripannya yang membuat debut Serie A ketika masih berusia belasan tahun dan mampu menggeser pemain yang lebih berpengalaman semacam Brkic dan Kelava ke bangku cadangan. Karena penampilannya, pelatih Italia saat itu Cesare Prandelli sempat memanggil Simone untuk berlatih bersama skuad senior Italia, tentu seperti sebuah fairytale karena dia bahkan belum pernah membela tim nasional U-21 dan langsung loncat ke tim senior.

       Perjalanan karir bagaikan dongeng bagi Simone Scuffet, setelah menyita perhatian publik Italia dengan aksi-aksi gemilang dan saves-nya, kemudian pada bursa transfer musim 2014-2015, dia berpeluang menambah halaman cerita dongengnya lebih banyak dan sangat manis dengan pindah ke salah satu raksasa liga Spanyol, Atletico Madrid.

Ya, musim tersebut Rojiblancos membutuhkan kiper pengganti setelah kiper andalannya selama dua musim terakhir, Thibaut Courtois ditarik pulang oleh pemiliknya Chelsea. Dan mereka melirik kiper muda bertalenta karena sekaligus untuk investasi jangka panjang di sektor tersebut, dan salah satu kiper muda yang ditawar adalah kiper Udinese, Simone Scuffet.

Untuk memudahkan dalam perburuan Scuffet, Atleti mengandalkan posisi tawar mereka yang akan tampil di Liga Chmpions dan pelatih Diego Simeone dalam pendekatannya, Simeone paham kultur Italia karena pernah bermain di Seria A dulu, dengan begitu Scuffet tidak akan merasa sendirian dan ada yang membantu selama proses adaptasi dengan sepakbola Spanyol.

Namun yang terjadi adalah penolakan dari Udinese, tawaran sebesar 5 juta euro yang dapat melonjak hingga 10 juta dengan berbagai klausul dari Atletico Madrid mereka tolak.

Udinese tidak ingin kehilangan Scuffet dengan harga semurah itu, karena mereka berencana meminjamkannya ke Spanyol namun bukan ke Atletico melainkan Granada (yang juga dimiliki oleh pemilik Udinese) untuk memberinya banyak menit bermain dan menungu hingga harga Scuffet naik beberapa tahun kedepan.

Penolakan oleh Udinese juga didukung oleh Scuffet dan keluarga yang menginginkan karir Scuffet berjalan setahap demi setahap. Mulai dari bermain regular dulu di Serie A, menembus tim nasional senior lalu pindah ke klub besar Italia atau klub besar kelak suatu saat jika sudah waktunya.

Selain itu posisi Atletico di liga yang statusnya adalah tim pengejar gelar juara dan bermain di Liga Champions Eropa ditakutkan membuat Scuffet yang usianya masih muda dan pengalamannya belum seberapa akan membuatnya terbebani jika bermain di Spanyol bersama Atletico yang penuh tekanan akan sebuah prestasi.

Usaha Atletico gagal, apalagi Scuffet sudah diberi kontrak hingga 2019 oleh Udinese setelah penampilan hebatnya disetengah musim lalu. Kemudian Atletico mengarahkan bidikannya kearah semenanjung Iberia dan targetnya adalah Jan Oblak, kiper Benfica yang kemudian memcahkan rekor sebagai kiper termahal La Liga dengan banderol 16 juta euro.

Saat ini Oblak menjadi pemain inti Los Rojiblancos, aksi-aksinya menawan di bawah mistar dan para pendukung Atletico dapat dengan segera melupakan kepergian Courtois yang kembali ke Chelsea. Lalu bagaimana dengan Simone Scuffet saat ini? Apakah dia tetap mengawal gawang Udinese dan sudah naik level membela tim senior Gli Azzurri?

Karir seorang pemuda bernama Simone Scuffet memang seperti cerita dongeng, setelah dengan tiba-tiba karirnya menanjak tajam dan mengejutkan publik Italia sekarang karirnya menurun dan terhitung menukik tajam.

Jika dahulu setelah penampilan impresifnya selama setengah musim bersama Udinese, dia digadang-gadang sebagai “the next Buffon”, dipuji oleh berbagai kalangan bahkan kiper legendaris Italia, Dino Zoff sampai-sampai ikut mengeluarkan pujian kepadanya, dan banyak klub besar menginginkannya, salah satunya Atletico Madrid. Namun saat ini dia hanya menjadi kiper di klub medioker, Como yang hanya berlaga di Serie B.

Musim 2014-2015 seharusnya menjadi musim penegasannya sebagai kiper hebat dan masa depan Italia, tetapi dia justru melempem di Udinese. Pergantian pelatih, cedera dan kedatangan kiper Yunani dari Granada, Orestis Karnezis dan ditambah kegagalannya menampilkan performa seperti musim sebelumnya membuat posisinya tidak aman dan harus rela digusur oleh Karnezis.

Dan sialnya Karnezis justru menampilkan performa yang sepertinya tidak kalah hebatnya dengan Scuffet musim lalu, jadilah pelatih baru Andrea Stramaccioni memplot Karnezis sebagai kiper utama Il Zebrette dan Scuffet harus menerima nasib sebagai cadangan.

Awal tahun 2015, demi mencari menit bermain lebih dia memilih untuk pindah ke tim Serie B, Como dan bahkan masih tetap disana hingga musim 2015-2016 sebagai pemain pinjaman, tentu ini adalah penurunan yang signifikan bagi karirnya selama ini.

           Karir Scuffet masih sangat panjang, masih ada kesempatan baginya untuk comeback dan meraih impiannya menjadi kiper tangguh nan hebat dimasa depan.

Akan tetapi perjalanan karir Simone Scuffet yang sebelumnya melesat cepat layaknya pesawat yang mengudara lalu seketika menukik tajam dalam rentang waktu yang singkat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa andai kita menemukan kesempatan untuk bersinar. Ambil lah dan janganlah takut terhadap resiko yang akan diterima karena kesempatan menjadi yang “terbaik” belum tentu datang dua atau berkali-kali seperti apa yang kita inginkan.

Foto: getty images

Jekyll dan Hyde seorang Allegri

Jekyll dan Hyde adalah dua nama tokoh dalam novel karya Robert Louis Stevenson dari Skotlandia, dengan judul Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang diterbitkan pada 1886.

Gambaran umum cerita novel ini adalah tentang kepribadian ganda seseorang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya. Dampak dari film tersebut sangatlah kuat hingga dalam bahasa psikologi frasa “Jekyll” dan “Hyde” menjadi penyebutan untuk karakter orang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya.

Lalu apa kaitanya dengan Massimiliano Allegri, manajer Juventus saat ini? Disini Allegri bisa digambarkan karakternya seperti frasa “Jekyll” dan “Hyde” dalam karir kepelatihannya, terutama ketika berada di dua tim terakhir yang dia tangani, AC Milan dan Juventus.

Massimiliano Allegri, pria kelahiran Livorno 48 tahun silam adalah pelatih Italia yang berbakat, bagaimana tidak dia dianugrahi gelar Panchina d’Oro (Golden Bench) di musim 2008-2009 saat mengarsiteki Cagliari, klub yang terhitung medioker, pemain yang standar, minim bintang, dan dana transfer kecil.

Meski begitu dia mampu menyulap I Rossoblu berubah menjadi tim menyerang yang atraktif dan menjadi kerikil bagi tim-tim besar Serie-A.

Tak hanya itu, dibawah kendalinya Cagliari mampu menjadi produsen pemain berbakat bagi tim nasional Italia seperti kiper Federico Marchetti, bek muda Davide Astori, trequartista Andrea Cossu, dan striker Alessandro Matri dan karena itulah nama Cagliari dan Sardinia mulai akrab di telinga tifosi Serie A pada sekitar tahun 2008 hingga 2010.

Namun layaknya klub kecil yang sedang berkembang, pemain-pemain Cagliari pun mulai dilirik klub besar, ditambah ketidaksabaran manajemen terhadap tim yang tak kunjung lolos ke zona Eropa, Allegri justru berpisah dengan Cagliari di tahun 2010 meski mampu mempertahankan tim di Serie A.

Kepergiannya disusul dengan beberapa perpindahan bintang dari stadion Sant’Elia, Marchetti pindah ke Lazio dan disusul Matri yang hijrah ke Juventus pada 2011. Sekarang ini malang justru menimpa Cagliari yang bermain di Serie B karena terdegradasi dari Serie A musim lalu.

Karir Massimiliano Allegri semakin naik ketika dia ditunjuk menjadi pelatih AC Milan pada 2010 pasca dipecat oleh Cagliari. Dimusim pertamanya menangani I Rossoneri, dia langsung sukses tancap gas dengan memperoleh scudetto.

Allegri mulai dipandang sebagai pelatih hebat, karena mampu meramu komposisi tim dengan isi pemain-pemain macam; pemain atas yang terkadang mempunyai ego tersendiri seperti Zlatan Ibrahimovic dan Antonio Cassano, pemain senior yang menjadi legenda klub seperti Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Fillipo Inzaghi, Clarence Seedorf, dan Massimo Ambrosini.

Tak ketinggalan pemain bertalenta seperti bek tangguh Thiago Silva, wonderkid Alexandre Pato, striker lincah Robinho hingga gelandang energik seperti Kevin-Prince Boateng, mereka semua bermain padu dengan skema yang diterapkan Allegri yang berbuah gelar juara liga diakhir musim.

Namun selepas kehebatan di musim 2010-2011, dimusim selanjutnya AC Milan dibawah kendali Allegri seperti kapal yang terombang-ambing di lautan, performa Milan menurun di musim kedua dan gelar juara terpaksa direbut oleh Juventus, disamping karena kelalaian Allegri membiarkan Pirlo ke Juventus.

Di bursa transfer musim panas 2012-2013, kegagalan dia memaksa manajemen Milan agar tak menjual Ibrahimovic dan Thiago Silva menghasilkan petaka dan ditambah perginya sejumlah legenda klub seperti Nesta, Seedorf dan Gattuso membuat Milan dimusim tersebut hancur lebur. Allegri sebagai pelatih tidak mampu mengatur siasat transfer sesuai kehendak dia sendiri, dia tunduk pada manajemen Milan.

Dan hasilnya Allegri hanya terima nasib pemain sekaliber Thiago Silva digantikan bek raja blunder dari Villareal, Cristian Zapata yang jelas saja membuat pertahanan Milan amburadul, ditambah perginya Nesta, duet Zapata dan Phillipe Mexes (free transfer dari Roma sejak musim 2011-2012) dijantung pertahanan sangat rentan ditembus penyerang lawan.

Lini tengah juga kurang dari kualitas yang sepadan, kedatangan kapten Fiorentina, Riccardo Montolivo, Andrea Poli dari Sampdoria, Nigel De jong dari Manchester City, dan dua pemain medioker Bakaye Traore dari Nancy dan Kevin Constant dari Chievo untuk menggantikan pemain berkelas seperti Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf dan Mark van Bommel.

Jelas itu tidak cukup dari segi kualitas, apalagi mengingat lini tengah Milan hanya tinggal diisi oleh Sulley Muntari, Michael Essien, Massimo Ambrosini, dan Antonio Nocerino. Untuk pos striker, meski ada nama Giampaolo Pazzini, Alexandre Pato, Robinho, youngster Stephan El Shaarawy dan Mbaye Niang, dirasa kurang mengingat kepergian Ibrahimovic terasa berpengaruh bagi ketajaman lini depan Rossoneri, kedatangan Mario Balotelli di paruh kedua musim itu pun dirasa terlambat untuk menyelamatkan peluang AC Milan bersaing merebut scudetto.

Sebelum musim 2012-2013 berakhir, Allegri dipecat oleh manajemen AC Milan setelah kekalahan 4-3 di kandang Sassuolo dan serangkaian hasil buruk sebelum laga tersebut, Milan hancur dimusim itu.

Performa yang berbanding terbalik dari saat juara di musim debutnya lalu melempem di dua musim selanjutnya membuat reputasi Allegri sebagai pelatih hebat mulai dipertanyakan.

Performa Milan yang bagus dimusim pertama lalu jelek dimusim-musim selanjutnya memperlihatkan Allegri bukanlah pelatih yang mampu menjaga konsistensi tim-nya untuk bersaing dipapan atas, Allegri pun menganggur setelah dipecat Milan hingga peristiwa summer 2014-2015 pun terjadi.

Musim panas 2014, adalah Antonio Conte legenda dan mantan kapten Juventus yang melatih I Bianconeri sejak musim 2011-2012 hingga pertengahan tahun 2014 yang sukses menyuntikkan kembali aura Lo Spirito Juve kedalam setiap hati pemain dan membuat Juventus meraih hattrick scudetto dari 2011 hingga 2014.

Tiba-tiba Conte secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih Juventus yang kemudian menjadi pelatih tim nasional Italia menggantikan Cesare Prandelli.

Namun tidak hanya Conte saja yang membuat kejutan, manajemen Juventus pun tak kalah hebohnya dengan mendatangkan pelatih yang reputasinya tidak terlalu cemerlang dan terhitung gagal, Massimiliano Allegri.

Ya, Allegri pun datang melatih Juventus pada musim 2014-2015, dan inilah kejutan terbesar di sepakbola Italia setelah pengunduran diri Antonio Conte atau bahkan mungkin lebih heboh dari berita pengunduran diri Conte tersebut.

Sontak saja keberadaan Allegri sebagai pelatih membuat peluang Juventus mempertahankan gelar juara dipertanyakan, apalagi Juventus dikomandoi oleh Andrea Pirlo, yang dulu semasa di AC Milan Pirlo tidak terlalu diandalkan Allegri yang membuat dia dibuang ke Juventus musim 2011-2012.

Dengan segala hal itu membuat publik ragu Juventus dibawah kendali Allegri mampu berprestasi baik di Italia maupun Eropa. Namun Allegri seperti mengalami deja vu ketika menjadi pelatih tim besar, sama seperti ketika debutnya sebagai pelatih AC Milan, dia sukses bersama Juventus pada musim pertamanya.

Tidak tanggung-tanggung, Juventus dibawanya hampir meraih treble winners di musim pertamanya! Di Serie-A Juventus mantap meraih scudetto dengan unggul jauh dari AS Roma diposisi dua, lalu di Coppa Italia dengan mengalahkan Lazio 2-1 di partai final, dan di final Liga Champions mereka memang kurang beruntung karena dikalahkan Barcelona dengan skor 3-1.

Tentu saja segudang prestasi di musim pertama sebagai pelatih Juventus membuat dia dipuja-puji oleh publik Italia, reputasinya sebagai pelatih hebat kembali pulih dengan cepat.

Di musim tersebut Allegri memang sangat brilian, allenatore berani mencoba varian taktik baru dan tidak hanya mengandalkan formasi 3-5-2 ala Conte, dia bereksperimen dengan 4-3-1-2 yang terbukti jitu diterapkan bagi pemain Juventus.

Di lini belakang, kapten Gianluigi Buffon masihlah sebagai kiper andalan, Gigi yang merupakan pembelian termahal Juventus (52 juta euro), tidak tergantikan posisinya dan hal itu pun sama dengan apa yang terjadi di tim nasional Italia.

Posisi empat pemain belakang ditempati Stephan Lichtsteiner sebagai bek kanan, jantung pertahanan La Vecchia Signora dikawal oleh Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang memang menjadi bek terbaik di Italia, lalu ada Patrice Evra disebelah kiri, sebenarnya pembelian Evra diragukan, mengingat masih ada Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie.

Namun Juventus pintar membeli Evra, dilihat dari segi permainan, Evra sudah tua dan tidak terlalu cepat lagi sebagai bek sayap, namun dari sisi kepemimpinan dan pengalamannya di Liga Champions lah yang memang diincar Juventus pada diri Evra.

Apalagi dia bisa berbicara dengan semua bahasa Latin, sehingga transfer ilmu dan sharing pengalaman dari dirinya berjalan mulus terutama kepada pemain yang masih minim pengalaman di Liga Champions Eropa.

Untuk pelapis bek, diposisi kanan ada nama Romulo, pinjaman dari Hellas Verona yang bermain baik disana sebelumnya, lalu di posisi bek tengah ada bek senior Andrea Barzagli (sebagai pelapis utama Bonucci dan Chiellini), adapula bek keturunan Nigeria; Angelo Ogbonna serta bek serba bisa Martin Caceres, di pos bek kiri dilapisi oleh Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie, dan bahkan Simone Padoin pun bisa bermain di posisi ini.

Di lini tengah Andrea Pirlo masih sebagai regista atau deep-lying playmaker, umpan-umpan terukur dan visi bermainnya adalah yang terbaik di Italia dan bahkan dunia.

Dia sangat nyaman sekali bermain Juventus saat itu, tidak seperti saat di Milan ketika dia dipaksa bermain sebagai gelandang kiri, Claudio Marchisio dan Paul Pogba menjadi gelandang penyeimbang dimana mereka saling bergantian dalam menyerang dan membantu pertahanan.

Marchisio adalah gelandang yang seimbang dalam bertahan dan menyerang, teknik dan umpannya juga bagus, dia adalah jenderal kedua di lini tengah setelah Pirlo dan menjadi partner ideal bagi Pirlo sementara itu Pogba bermain dengan agresifitas, daya jelajah tinggi dan teknik-nya yang terasa dampaknya dengan sesekali membuat gol maupun assist yang penting bagi tim.

Selain itu dengan postur tubuh yang kokoh juga membuat Pogba mudah memenangi duel merebut bola dari lawan ketika membantu pertahanan dan menyerang.

Sementara itu posisi gelandang yang tepat berada di belakang penyerang diisi oleh Arturo Vidal, dia tidak berperan sebagai playmaker, akan tetapi dia adalah mediano (gelandang yang tugas utamanya merebut bola dari lawan) yang menyaring serangan lawan sejak di pertahanan lawan, mirip seperti peran Boateng di AC Milan saat Allegri disana.

Namun meski begitu Vidal juga dibekali dengan kemampuan melepas umpan yang baik, sehingga tak jarang dia membuat assist bagi pemain lainnya. Sementara untuk pelapis lini tengah juga tak bisa diremehkan, ada dua pemain dengan versatilitas tinggi Simone Padoin dan Roberto Pereyra yang berguna disaat gelandang inti cedera atau skorsing, pemain muda berprospek cerah seperti Stefano Sturaro, hingga pemain gaek Simone Pepe.

 Untuk penyerang ada empat pemain, yang pertama dan utama adalah Carlos Tevez. Dia adalah pemain inti entah bermain melawan klub mana pun, skill dan kengototan Tevez memang berguna bagi tim, dia sering menjadi pemecah kebuntuan dengan gol-golnya, dan dia cocok dipasangkan dengan siapapun di depan.

Setelah Tevez ada striker jangkung dari Spanyol, Fernando Llorente yang sangat unggul dalam duel bola udara, gol-gol dari sundulan pun sering hadir dari dia, namun penurunan konsistensinya dalam mencetak gol di paruh musim kedua membuatnya rela digusur sebagai pendamping utama Tevez.

Penggusur posisinya tidak lain adalah sesama pemain Spanyol, Alvaro Morata yang ditransfer dari Real Madrid dengan harga 20 juta euro, meski masih muda pengalamannya bermain di Madrid sangatlah berguna apalagi ketika berhadapan dengan El Real di semifinal Liga Champions, Morata dua kali membobol gawang mantan klubnya tersebut.

Morata adalah striker dengan kemampuan lengkap, selain tubuh tinggi yang membuatnya jago di udara dia juga dibekali positioning yang baik, dribel yang lumayan dan mampu menahan bola dengan lama, mirip seperti permainan mantan striker Spanyol, Fernando Morientes.

Striker cadangan lain adalah Alessandro Matri, andalan Allegri saat masih melatih Cagliari dulu, meski jarang diturunkan namun golnya di final Coppa Italia adalah penentu kemenangan di laga tersebut yang mungkin masih banyak diingat oleh Juventini hingga saat ini. Dan diakhir musim tersebut Juventus meraih gelar juara di Serie A dan Piala Italia plus mampu lolos ke final Liga Champions, nama Allegri pun kembali populer di Italia, prestasi Allegri segera dengan cepat menghapus tangis dan kekecewaan Juventini akan kepergian Antonio Conte, namun musim selanjutnya nuansa akan déjà vu Allegri seperti ketika menangani Milan, kembali muncul.

             Sama seperti saat di Milan, di Juventus dia mampu berprestasi dimusim pertama, dimusim kedua ini (2015-2016) Juventus dibawah Allegri mengalami penurunan, tidak perkasa seperti Juventus musim-musim sebelumnya, saat ini hingga Giornata ke 9 mereka berada di papan tengah klasemen Serie-A.

Walau di Liga Chammpions mereka meraih hasil baik, penampilan mereka tak begitu meyakinkan, penyebab penurunan performa sama seperti AC Milan-nya Allegri dulu kehilangan pemain kunci dalam tim. Lagi-lagi Allegri tunduk dan patuh pada manajemen klub terkait kebijakan transfer pemain.

Dia tak mampu membuat manajemen Juventus menahan pemain penting seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal hingga Carlos Tevez, padahal mereka adalah pemain yang begitu berpengaruh bagi permainan Juventus dimusim 2014-2015.

Sama seperti di AC Milan, di Juventus pun Allegri seperti hanya terima nasib begitu saja ketika pemain-pemain kunci-nya diganti dengan pemain yang kelasnya berada dibawah mereka. 

Pengganti Andrea Pirlo (yang pindah ke New York City) adalah Hernanes yang terhitung sebagai panic buying karena dibeli dipenghujung bursa transfer setelah manajemen mengetahui tim Allegri minim kreatifitas permainan. Mungkin 2-3 tahun lalu dia adalah playmaker bagus di Serie-A namun performa dia selama di Inter tidak lah begitu menonjol, dan kalah bersaing dengan pemain muda, Mateo Kovacic.

Tentu sangat riskan jika peran sentral Pirlo yang begitu penting dalam permainan digantikan oleh Hernanes, dan itupun terlihat musim ini pada permainan Juventus yang tetap saja kurang kreatifitas dan lebih banyak permainan direct meski sudah ada Hernanes di Juventus, dan sekarang peran Pirlo akhirnya digantikan Claudio Marchisio yang bermain sebagai regista utama bagi Juventus.

Pengganti Arturo Vidal adalah pemain gratisan dari Real Madrid, Sami Khedira yang oleh banyak media dianggap transfer sia-sia karena dia adalah pemain kaki kaca yang sangat rentan cedera, dan itupun terbukti diawal kiprahnya bersama Juventus yang langsung cedera selama satu bulan.

Tentu berbeda jauh dengan Vidal yang kuat secara fisik dan lebih unggul teknik dibanding Khedira, dan transfer lainnya untuk menambal kepergian Vidal adalah pemain pinjaman asal Gabon dari Marseille, Mario Lemina yang mungkin manajemen Juventus berharap Lemina akan bersinar layaknya Paul Pogba, namun permainan Lemina sendiri tak terlalu bagus dan hanya menjadi pelapis gelandang lainnya.

Untuk posisi pengganti Tevez, Allegri lebih beruntung. Tevez digantikan empat pemain sekaligus, Paulo Dybala yang dibeli dari Palermo seharga 32 juta euro, Mario Mandzukic yang diangkut dari Atletico Madrid dengan mahar sebesar 19 juta euro dan Simone Zaza dari Sassuolo dengan biaya 18 juta euro dan pemain pinjaman dari Chelsea, Juan Guillermo Cuadrado. 

Ini adalah bentuk keseriusan manajemen untuk menambal dan memperkuat lini depan pasca kepergian Tevez. Akan tetapi kedatangan Mandzukic lebih tepat sebagai pengganti Fernando Llorente yang pindah ke Sevilla dan dia didatangkan untuk menjadi pesaing yang sepadan bagi Alvaro Morata.

Sementara itu pemain dengan gaya permaiman yang bisa menggantikan peran Tevez adalah Dybala, Zaza dan Cuadrado. Paulo Dybala adalah permata baru Argentina, musim lalu dia bermain sangat baik bagi Palermo dan kombinasinya di depan bersama Franco Vazquez begitu elegan dan mampu membuat Palermo bertahan di Serie-A.

Sedangkan aksi-aksi brilian Zaza membuat Sassuolo menjadi tim yang atraktif untuk ditonton meski Sassuolo bukanlah tim besar, dan berkat performa-nya yang bagus itulah dia dipanggil ke untuk memperkuat Gli Azzurri.

Akan tetapi mereka adalah pemain “baru” dalam tataran sepakbola Eropa, bila dibandingkan dengan Tevez, konsistensi performa dan catatan gol mereka berdua belum teruji, apalagi mereka baru beberapa tahun berkiprah di Serie-A dan bahkan belum pernah sama sekali merasakan atmosfer Liga Champions.

Tentu mereka berdua dan terlebih lagi untuk Paulo Dybala, masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola permainan Juventus, tentu beban yang ditumpukan kepada mereka untuk menggantikan peran Tevez harus dicermati dengan baik oleh Allegri, mengingat usia mereka berdua yang masih muda dan minim pengalaman Eropa, jangan sampai berpengaruh negatif bagi penampilan mereka karena mereka merupakan aset masa depan Juventus.

Sedangkan Juan Cuadrado lebih alami bermain sebagai winger, dan kedatangannya juga diragukan akan berdampak besar bagi daya serang tim karena performanya yang menurun sejak dibeli Chelsea dari Fiorentina musim lalu.

Momen keterpurukan Allegri pasca bersinar di musim pertamanya bahkan memunculkan kredo baru “Allegri’s Syndrom”, dimana tim yang ditanganinya hebat dimusim pertama dan melempem dimusim selanjutnya.

Namun kali ini Allegri mendapat sedikit keberuntungan, ketika di Milan dia tidak terlalu didukung dana klub yang memadai, sementara Juventus saat ini adalah klub yang sehat secara finansial.

Sehingga keterpurukan karena perbedaan kualitas yang diakibatkan perginya pemain kunci tidak terlalu berdampak karena pengganti yang disediakan oleh manajemen Juventus untuk menggantikan Pirlo, Tevez dan Vidal lebih baik dengan apa yang dulu diberikan manajemen AC Milan untuk menggantikan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alessandro Nesta, Clarence Seedorf yang pergi ketika Allegri menjadi allenatore di San Siro saat itu.

Meski begitu Allegri juga selalu mempunyai “landmark” bagi tim yang ditanganinya yaitu kemampuannya memaksimalkan pemain muda. Saat melatih Cagliari dia mampu memunculkan nama-nama seperti Alessandro Matri, Andrea Cossu, Federico Marchetti, dan Davide Astori kepermukaan.

Saat di AC Milan pun dia sukses membuat youngster Italia seperti Stephan El Sharaawy, dan bahkan pemain Milan primavera seperti Bryan Cristante dan Mattia De Sciglio tampil memikat di tim utama AC Milan.

Begitu juga saat melatih La Fidanza d’Italia, dia mampu memanfaatkan potensi pemain muda yang terbukti mampu memberi pengaruh bagi Juventus, contohnya adalah keberanian Allegri memainkan Stefano Sturaro di semifinal pertama Liga Champions Eropa untuk menggantikan Pogba yang absen dan terbukti Sturaro bermain impresif dilaga tersebut.

Lalu dia juga memberi Roberto Pereyra dan Kingsley Coman menit bermain yang cukup dan dibalas dengan permainan bagus mereka dilapangan ketika diberi kesempatan bermain.

Peristiwa yang dialami oleh Allegri mengingatkan kita pada cerita novel Case Strange of DR. Jekyll and Mr. Hyde.

Komparasi-nya adalah jika dalam novel tersebut “kepribadian” seseorang yang berubah dengan cepat dalam satu situasi ke situasi lainnya, maka apa yang terjadi pada Massimiliano Allegri adalah perubahan yang cepat terkait dengan konsistensi raihan prestasi klub yang dilatihnya (khususnya AC Milan dan Juventus).

Ketika mampu membawa AC Milan scudetti dimusim 2010-2011, dia begitu dipuji kemampuannya namun dua musim selanjutnya dia membawa Milan kedalam masa yang buruk, begitu pula saat menangani Juventus dia begitu hebat dimusim pertamanya ketika nyaris meraih treble winners, namun tanda –tanda kehancuran Juventus terlihat ketika mereka justru terseok-seok diawal Serie-A bergulir musim ini.

Musim 2015-2016 masih panjang dan belumlah berakhir, lalu apakah Allegri mampu melepaskan diri dari cerminan “Jekyll and Hyde” dan kredo “Allegri’s Syndrom” yang melekat pada dirinya dan mampu meraih prestasi secara konsisten? Atau justru déjà vu seperti saat di AC Milan akan kembali terjadi padanya?

Kita tidak tahu akan hal itu, karena sepakbola itu bukan matematika, lagipula “bola itu bundar” sehingga kemungkinan apapun selalu bisa terjadi dalam  dunia sepakbola.

Ya, akan tetapi mungkin hanya waktulah yang akan menjawab pertanyaan itu dan justru ”dinamika sepakbola” tersebut lah membuat publik negeri Spaghetti tertarik dan akan selalu menanti kiprah allenatore Massimiliano Allegri bersama Si Nyonya Tua musim ini.

Foto: skysports.com