Renaisans Fiorentina dengan Anak Legenda dan Darah Muda

Wilayah Florence atau dalam bahasa Italia disebut Florenze atau Firenze, dahulu kala dikenal sebagai salah satu pusat peradaban masa renaisans di Eropa. Istilah renaisans sendiri berasal dari bahasa Prancis; renaissance yang artinya kebangkitan atau kelahiran kembali. Masyarakat Eropa menganggap, renaisans sebagai masa kelahiran kembali atau pencerahan dari masa sebelumnya yang sangat kelam. Masa tersebut bisa disebut juga transisi menuju masa yang lebih modern.

Masa renaisans berlangsung pada abad 14 hingga 17. Di masa tersebut berbagai ilmu pengetahuan, seni dan kebudayan berkembang sangat pesat. Pergaruhnya sangat krusial bagi peradaban manusia saat itu, yang secara tidak langsung juga berefek hingga kehidupan masa kini. Intinya masa renaisans membawa pencerahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

Renaisans yang sebenarnya, telah berlalu ratusan tahun di Florence. Namun, kini telah lahir kembali renaisans dari wilayah tersebut. Pelakunya yakni klub sepak bola disana, Associazione Calcio de Fiorentina atau yang biasa disebut Fiorentina.

Fiorentina seperti sedang melakukan renaisans mengawali musim 2017/18 ini. Reniasans a la Fiorentina yang dimaksud adalah perombakan isi komposisi skuat. Klub yang bermarkas di Stadio Artemio Franchi ini, melakukan peremajaan skuat besar-besaran. Walau minimnya bujet transfer juga menjadi alasan, setidaknya Fiorentina terlihat sangat serius melakukan pembaharuan di dalam tim.

Fiorentina ditinggal beberapa pemain pentingnya di bursa transfer musim panas lalu. Mulai dari Gonzalo Rodriguez, Nenad Tomovic, Nikola Kalinic, Josip Ilicic, Borja Valero, Matias Vecino, Cristian Tello, Ciprian Tatarusanu dan Federico Bernadeschi, tidak lagi berseragam ungu kebanggan Fiorentina.

Gonzalo merupakan kapten musim lalu. Nikola Kalinic adalah sumber gol utama klub berjulukan La Viola itu. Sementara Borja Valero dan Matias Vecino adalah pilar di lini tengah. Tetapi itu tidak seberapa dengan kepergian Federico Bernadeschi. Walau merupakan produk akademi dan idola suporter, Bernadeschi justru menyebrang (secara langsung) ke Juventus, salah satu klub paling dibenci oleh suporter Fiorentina.

Bagi sebuah klub, kehilangan pemain penting ibarat sama dengan bencana. Kualitas tim bisa menurun. Suporter pastinya membayangkan kalau era kegelapan akan segera menghampiri Fiorentina. Padahal sebenarnya, selalu ada hikmah dibalik kepergian pemain-pemain andalan yang lama, yakni lahirnya idola baru.

Stefano Pioli, pelatih baru Fiorentina harusnya tak perlu ambil pusing meski banyak pemain bintang minggat. Karena dia mendapatkan pengganti-pengganti baru yang potensial. Klub barunya itu banyak merekrut pemain muda.

Pasca menghilangnya sebagian besar pemain bintang, kini mereka menjalankan “renaisans jilid II” dengan bertumpu pada pemain-pemain muda. Bahkan dilihat dari daftar skuat, beberapa pemain Fiorentina saat ini merupakan anak-anak dari pesepak bola legendaris.

Anak dari Legenda

Giovanni Simeone, datang musim ini dari Genoa dengan mahar 15 juta euro. Kepergian Kalinic membuka ruang baginya. Giovanni, anak dari Diego Simeone legenda dan pelatih Ateltico Madrid, diandalkan sebagai ujung tombak La Viola.

Simeone tergolong cepat “meledak” di Eropa. Musim lalu adalah debut Simeone di Serie A bareng Genoa, setelah dibeli dari River Plate dengan biaya tiga juta euro. 12 golnya untuk Genoa merupakan catatan gemilang bagi seorang rookie di Italia.

Karakter ngotot khas Diego Simeone juga sedikit menular pada Giovanni. Meski berbeda posisi, etos kerja Simeone muda sangat kentara. Dengan permainan yang spartan itu, Simeone mengembalikan muka lama di Fiorentina, Khouma Babacar ke bangku cadangan.

Diego and Giovanni
Diego Simeone dan Giovanni Simeone.

Namun jika berbicara peluangnya di timnas Argentina, Simeone harus berjuang ekstra keras. Paulo Dybala dan Mauro Icardi sudah siap menanti ketika Messi pensiun nanti. Bermain untuk tim nasional Spanyol pun bukan opsi bijak, meski memungkinkan. Simeone sendiri baru memperkuat Argentina U-20 dan U-23.

Pemuda kedua yang merupakan anak dari pemain legendaris adalah Ianis Hagi. Berpososi sebagai winger, dia adalah anak dari legenda timnas Rumania, Gheorghe Hagi. Hagi senior adalah “Maradona of the Carpathians”, karena mantan gelandang serang Real Madrid dan Barcelona itu memang punya skill istimewa.

Ianis Hagi menjalani debut profesional, ketika Gheorghe Hagi yang jadi pelatih Vitorul Constanta sejak 2012. Hagi sendiri direkrut Fiorentina dari Vitorul dengan harga 1 juta euro pada 2016. Adrian Mutu, eks Fiorentina dan timnas Rumandia ikut berperan dalam proses kepindahan Hagi ke Italia.

Hagi yang kini berusia 18 tahun sudah memperkuat timnas Rumania junior di berbagai tingkatan, mulai dari U-16 hingga U-21. Hagi memang jarang diberi kesempatan merumput di Fiorentina. Persaingan di posisi sayap memang ketat, karena ada nama yang lebih menyita perhatian masyarakat di Firenze. Pemuda itu adalah Federico Chiesa.

Chiesa adalah produk Fiorentina primavera. Sedikit kilas balik bagi anda penggemar Fiorentina atau Serie A secara umumnya. Pada era 90an, Enrico Chiesa sempat berkibar bersama Parma. Dia juga malang melintang di Serie A bersama Sampdoria, Fiorentina, Lazio dan Siena. Pemain yang berposisi striker ini pun beberapa kali memperkuat timnas Italia.

Sosok Enrico Chiesa memang tidak selegendaris Simeone atau Hagi dalam dunia sepakbola. Tetapi bagi pecinta sepakbola Italia sejati, nama orang ini harusnya terpatri dalam ingatan. Kini nama Chiesa diwariskan kepada anaknya, Federico. Bahkan jika melihat prospek pemain yang satu ini, dimungkinkan dia akan lebih bersinar daripada sang ayah.

Enrico and Federico
Federico (kanan) penerus kejayaan nama Chiesa dari ayahnya, Enrico (kiri).

Federico Chiesa merupakan simbol kebanggan baru Fiorentina, pasca kepergian Bernardeschi. Jika dirunut, dua pemain ini punya karakteristik mirip. Selain nama depan sama yang sama (Federico), posisi natural antara Chiesa dan Bernardsechi juga sama-sama sebagai pemain sayap. Dua orang ini bisa bermain di sayap kanan atau kiri, gelandang serang dan bahkan menjadi wing-back.

Berposisi natural sebagai winger, baik Chiesa dan Bernardeschi dibekali langkah kaki yang cepat. Meski Bernardeschi lebih stylish dan tendangan bebasnya lumayan akurat, tetapi Chiesa punya keunggulan berupa kedua kakinya yang sama “hidupnya”, tidak seperti Bernadeschi yang cenderung lebih kuat dengan kaki kirinya saja.

Di level timnas, Chiesa yang masih 19 tahun menjadi bagian dari skuat Italia di Euro U-21 tahun 2017. Kemudian, dia sempat mendapat panggilan timnas senior kala Italia melumat San Marino 0-9 bulan Mei lalu di laga persahabatan, meski urung diturunkan oleh Gian Piero Ventura.

Chiesa menjadi jawaban instan setelah hengkangnya Bernardeschi. Pendukung Fiorentina patutnya tak perlu kecewa. Sebab, hilang satu Federico (Bernardeschi), tumbuhlah Federico (Chiesa) yang baru.

Selain itu ada pula Riccardo Sottil, anak dari mantan pemain Fiorentina tahun 1994 hingga 1996, Andrea Sottil. Riccardo yang masih 18 tahun, berposisi sebagai penyerang, berkebalikan dengan ayahnya yang menjadi bek.

Banyak Darah Muda

Selain anak-anak dari pemain legendaris, Fiorentina juga dipenuhi pemain-pemain yang terhitung muda musim ini. Mereka langsung mengambil beberapa peran penting pasca eksodus pemain penting di Fiorentina.

Kepergian Ciprian Tatarusanu ke Nantes membuka jalan bagi Marco Sportiello. Pemain 25 tahun ini naik tingkat menjadi kiper inti, setelah hanya menjadi pelapis Tatarusanu sejak pertengahan musim 2016/17 lalu. Sportiello akan mendapat tantangan dari Bartolomiej Dragowski (20), kiper muda berprospek cerah asal Polandia.

Gonzalo Rodriguez yang pulang ke Argentina dan pindahnya Nenad Tomovic akan tergantikan oleh dua bek Amerika Latin; German Pezzella (Argentina/26) dan Victor Hugo (Brasil/26). Mereka berdua bersaing menjadi pasangan duet bagi kapten baru, Davide Astori di jantung pertahanan La Viola. Fiorentina juga masih punya stok bek tengah bernama Nikola Milenkovic (Serbia/19) dan Petko Hristov (Bulgaria/18).

Sementara itu, Cristiano Biraghi (25) adalah tenaga baru di sektor bek kiri. Mantan pemain Inter primavera itu menjadi pesaing bagi Maxi Oliviera, pemain asal Uruguay yang seumuran dengan Biraghi. Untuk bek kanan, Bruno Gaspar (24) dari Vitoria Guimaraes didatangkan.

Guna menggantikan Borja Valero dan Matias Vecino, direktur olahraga Fiorentina, Pantaelo Corvino mendatangakan Jordan Veretout (24) dan Marco Benassi (23). Veretout dibeli dari Aston Villa, sedangkan Benassi dari Torino. Veretout adalah bagian penting dari skuat Prancis saat menjuarai Piala Dunia U-20 tahun 2013, dimana ia bermain dengan Paul Pogba kala itu.

Sedangkan Benassi walau masih muda, dia punya jiwa kepemimpinan. Musim lalu dia adalah kapten kedua di Torino dan juga memimpin timnas Italia di Euro U-21 2017. Selain Veretout dan Benassi untuk mengganti Valero dan Vecino, ada juga nama Sebastian Cristoforo. Pemain 23 tahun asal Uruguay itu sudah bermain di Fioentina sejak musim lalu.

Formasi 4-2-3-1 yang digemari Pioli tentu membutuhkan sosok gelandang serang pengatur serangan. Selain punya Riccardo Saponara, Pioli juga bisa memaksimalkan pemain baru, Valentin Eysseric. Saponara dan Eysseric sama-sama bisa menjalankan peran “nomor 10”. Kedua pemain ini sama-sama berusia 25 tahun.

Saponara pernah menjadi pemain Milan selama dua tahun (2013-2015). Namun talenta pemain yang gaya mainnya disebut mirip Ricardo Kaka ini, tidak dimanfaatkan I Rossonerri. Saponara justru mengkilap di Empoli dan karena itulah dia direkrut Fiorentina pada awal 2017. Sementara Eysseric adalah bagian penting dari tim kejutan di Ligue 1 musim lalu, OGC Nice.

Untuk posisi sayap, Fiorentina juga punya Rafik Zekhnini, wonderkid asal Norwegia. Fiorentina membeli pemain berusia 19 tahun itu dari Odds Ballklub seharga 1, 5 euro. Selain Zekhnini, Fiorentina juga punya beberapa stok sayap muda. Gil Dias pemain asal Portugal, berusia 20 tahun dari AS Monaco dan Simone Lo Faso (19) yang juga bisa dimainkan sebagai striker, dari Palermo. Kedua pemain ini datang dengan skema pinjaman.

Untuk lini depan, ada nama si anak hilang Khouma Babacar (24). Dia sudah menjalani debut di Fiorentina sejak musim 2009/10, tetapi dia tak pernah benar-benar menjadi andalan. Padahal ketajaman pemain asal Senegal ini tidak buruk. Contohnya, dia mencetak 10 gol hanya dari 20 penampilan di Serie A musim lalu.

***

Di Fiorentina, pemuda-pemuda seperti Simeone, Chiesa, Benassi, Veretout, Babacar dan lain-lainnya akan akan mendapat bimbingan dari para seniornya. Mereka pemain-pemain senior itu adalah Davide Astori (kapten), Milan Badelj, Carlos Sanchez atau rekrutan baru dari Udinese, Cyril Thereau.

Berdasarkan situs transfermarkt.com, rataan usia pemain-pemain Fiorentina adalah 24,2 tahun. Angka tersebut menjadikan mereka sebagai skuat termuda di Serie A musim 2017/18 ini. Dengan kompsisi dan formasi 4-2-3-1: Marco Sportiello (kiper); Bruno Gaspar, German Pezzella, Davide Astori (kapten), Cristiano Biraghi; Milan Badelj, Jordan Veretout; Marco Benassi, Riccardo Saponara/Cyril Thereau, Federico Chiesa; Giovanni Simeone.

Pada akhirnya dengan skuat muda yang menjanjikani ini, sudah tepat bahwasannya kita menyebut Fiorentina sedang mewujudkan renaisans-nya kembali. Kita tunggu saja akhir musim nanti, akan seperti apa perjalanan tim termuda ini liga yang katanya kompetisi cap orang tua semacam Serie A.

florence view missouri.edu
Florence atau dalam bahasa Italia, Florenze. Tempat dengan pemandangan indah, sebagai awal mula renaisans Eropa. Kini salah satu klub dari wilayah itu, Fiorentina juga sedang melakukan “renaisans’.

Sumber-sumber foto: violanation.com, express.co.uk, missouri.edu dan goal.com.

Advertisements

Mengenal Massimiliano Allegri: Sosok yang Progresif

Tiga pelatih asal Italia merajai tiga liga top Eropa di musim 2016/17 lalu. Antonio Conte di Chelsea (Inggris), Carlo Ancelotti bersama Bayern Muenchen (Jerman) dan Massimiliano Allegri, Juventus (Italia) berhasil juarai liga masing-masing. Untuk Allegri, mungkin keberhasilannya dipandang suatu hal yang biasa saja. Selain berada di tanah sendiri, lagipula Juventus pun begitu mendominasi Serie A beberapa musim terakhir.

Namun tetap saja sosok ini Allegri patut diberi apresiasi tersendiri. Selama tiga musim melatih Juventus, dirinya dua kali hampir membawa Juventus memenangi Liga Champions, jika tidak ditumbangkan oleh dua klub terhebat dunia di final, Barcelona dan Real Madrid.

Koleksi gelar bergengsi pelatih kelahiran Livorno 49 tahun lalu ini pun, terhitung banyak selama karirnya menjadi allenatore. Empat scudetti, tiga Coppa Italia dan dua Supercopa Italia menjadi bukti kapasitasnya sebagai pelatih jempolan di Italia.

Bicara lebih jauh tentang Allegri dengan melihat dari rekam jejaknya, barangkali catatan gemilangnya selama sampai sekarang ini merupakan cerminan dari “progresifitas” yang ada pada dirinya. Allegri ternyata merupakan pelatih yang berpikiran maju (progresif) dalam merumuskan taktik dan strategi bermain untuk timnya. Rekam jejak semenjak melatih klub-klub Serie A, akan jadi bukti bahwa Allegri memang demikian.

Debut melatih di Serie A bersama Cagliari

Massimiliano Allegri memulai petualangan di Serie A, dengan menukangi Cagliari pada musim 2008/09. Melatih klub medioker tak membuat nyali Allergi kecut dengan memainkan sepakbola bertahan. Jiwa dan pemikiran progresif ia iwujudkan melalui permainan menyerang nan atraktif, hingga membuat Cagliari finis di posisi sembilan.

Permainan menyerang di Italia terhitung suatu yang langka. Sebagai pusatnya Cattenaccio, tentu Italia tidak jauh-jauh kesannya dari sepakbola bertahan (terkadang membosankan), efisien dan efektif.

Jikapun ada tim yang bermain menyerang, hal ini lebih sering dilakukan oleh kesebelasan yang besar. Kesebelasan semenjana pada umumnya bermain defensif agar aman dari degradasi. Menggunakan strategi menyerang, bagi kesebelasan kecil di Italia, meski kadang membahayakan bagi diri mereka sendiri, tetapi disisi lain hal ini bisa dikatakan sebagai langkah yang progresif atau “berkemajuan” dibelantika sepakbola negeri asalnya pizza tersebut.

Cagliari bermain ofensif plus enak disaksikan. Meski tidak menyamai kegilaan Zemanlandia, permainan menyerang bagi tim asal pulau Sardinia itu patut diapresiasi. Berkat prestasi membawa Cagliari menembus 10-besar melalui permainan ofensif, Allegri diganjar Panchina d’Oro musim 2008/09. Gelar itu adalah penghargaan pelatih terbaik di Italia versi asosiasi pelatih sepakbola Italia.

Allegri di Cagliari
Bakat Allegri sebagai pelatih hebat mulai terbukti, ketika pernah dinobatkan menjadi pelatih terbaik di Italia walau hanya melatih klub kecil seperti Cagliari.

Merubah Milan

Sesudah di Cagliari beberapa musim, Allegri naik pangkat melatih di klub sebesar AC Milan, pada musim 2010/11. Melatih tim merah hitam, Allegri kembali melakukan langkah yang sangat progresif. Menyadari bahwa AC Milan saat itu dihuni pemain-pemain “tua” dan tidak tangguh secara fisik, Allegri melakukan perubahan yang bisa dikatakan “radikal”.

Milan yang sebelumnya sangat ofensif dengan racikan fantasia (4-2-4) ditangan pelatih Leonardo (Brasil), dikembalikan ke 4-3-1-2, seperti zaman Ancelotti. Namun bedanya Allegri tidak mengharapkan Pirlo sebagai deep-lying playmaker. Lain daripada itu, satu pemain dibelakang dua stiker, ternyata bukanlah trequrtista sungguhan.

Milan ala Allegri di musim 2010/11 bermain lebih mengutamakan keseimbangan dan tentu lebih psychical, alih-alih berteknik tinggi. Sesuatu yang sudah pasti akan mereduksi atraktifitas permainan dan menjadikan mereka kesebelasan yang pragmatis.

Allegri kala itu gemar memainkan Kevin-Prince Boateng di pos penyerang lubang atau trequartista dibelakang duet striker. Yang menarik, pemikiran progesif Allegri membawa khasanah taktikal baru bagi sepakbola Italia, terutama terkait penempatan dan peran Boateng. Pemian Ghana ini dari segi struktrur formasi dan posisi memang bermain dibelakang dua penyerang, akan tetapi di lapangan dia juga berfungsi sebagai “tameng serangan”.

Ketika Milan menyusun serangan, Boateng menjadi attacking midfileder, namun ketika Milan diserang, Boateng melakukan fungsi defensifnya guna memberi pressing dan merebut bola dari lawan, sedari lini pertahanan lawan itu sendiri.

Terkait peran unik Boateng ini, pada 2012 sepmat muncul istilah “Finto Trequartista” atau gelandang serang palsu. Saat itu media gazzeta.it melabeli peran khas Boateng dengan nama tersebut dan sekaligus juga merekomendasikan itu ke timnas Italia sebagai ekstra strategi yang bisa digunakan pada laga kontra Inggris di Euro 2012.

Gaya main Boateng pada dasarnya berbeda dari trequartista yang penuh tekhnik bermain. Walau bisa menggocek, namun harus disadari bahwa skill olah bola Ricardo Kaka atau Wesley Sneidjer, jelas lebih hebat dari Boateng. Dengan determinasi tinggi, bertenaga dan tentu unggul secara fisik, Boateng sukses jalankan peran ganda dalam satu posisi, yakni satu peran ofensif dan satu peran defensif.

Seperti yang disebutkan di buku Sepakbola Seribu Tafsir karya Edward S. Kennedy, Boateng cenderung bermain seperti gelandang serang Inggris yang punya determinasi tinggi, semacam Steven Gerrard dan Frank Lampard, diibaratkan seperti powerful dart. Kebetulan baik Gerrard dan Lampard, memang tipe pemain yang demikian. Mereka bisa menjalankan tugas bertahan dengan baik meski naluri menyerang dan power kedua pemain ini sangat diandalkan timnya.

Selain gelandang serangnya adalah “tukang rebut bola”, tiga gelandang tengah dibelakang Boateng juga diisi oleh gelandang pekerja keras seperti Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, Clarence Seedorf atau Mathieu Flamini. Maka dari itu Andrea Pirlo kian tersisihkan di musim pertama Allegri. Terlebih Milan merekrut Mark Van Bommel yang lebih berkarakter petarung, pada pertengahan musim 2010/11 itu juga.

Untuk menanggulangi ketiadaan kreator permainan ulung seperti Pirlo, selain berharap pada Seedorf atau Boateng ketika memulai permainan, Allegri juga membebankan kreativitas serangan pada duet striker yang salah satunya diisi Ibrahimovic.

Progresifitas Allegri yang lain saat itu, juga nampak pada pemanfaatan Ibrahimovic sebagai “papan pantul”. Bola usaha Ibra di udara bisa dimanfaatkan oleh striker tandemnya dan juga Boateng ketika melancarkan serangan. Milan dengan Allegri di musim pertama sukses juara Serie A 2010/2011, setelah terakhir kali scudetti pada 2003/04. Penantian panjang tentunya bagi klub besar sekelas Milan.

Tetapi bulan madu Allegri hanya sesaat. Musim kedua (11/12), disamping telah menepikan Pirlo dari skema permainan, Allegri juga telah melakukan dosa besar lain. Dosa itu adalah “menyerahkan” Pirlo ke Juventus.

Dibawah komando Antonio Conte, Juve langsung juara Serie A di musim 2011/12 dan yang unik justru Andrea Pirlo menjadi salah satu kunci kebangkitan Juve. Lucunya ketika Juventus kembali merajai Serie A berkat andil besar Pirlo, disisi lain Milan justru “kolaps” bagai kapal terombang ambing yang tenggelam di tengah samudera.

Ternyata setelah Pirlo pergi dan diikuti veteran lain seperti Nesta, Seedorf, Inzaghi, Gattuso, Oddo dan Zambrotta musim-musim berikutnya, Milan memasuki periode kelam. Diperparah krisis finansial yang mendera, mereka pun terpaksa menjual dua aset paling berharga saat itu, Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic.

Setelah gemilang hanya di musim perdana, Milan dibawah naungan Allegri perlahan menjauh dari persaingan juara di musim-musim selanjutnya. Klimaksnya yakni pertengahan musim 2013/2014, setelah serangkain hasil buruk, Allegri dipecat oleh Milan pada bulan Januari 2014.

Memberi Kestabilan di Juventus

Ibarat ketiban durian runtuh, hanya sampai di pertengahan tahun 2014 dirinya didapuk menjadi allenatore Juventus. Allegri ditunjuk menggantikan Conte, yang melatih timnas Italia. Publik sepakbola, khususnya fans Juventus mengernyitkan dahi, terlebih melihat track record Allegri yang kurang mulus selama di Milan.

Juventuni pun dibikin khawatir dengan nasib Pirlo, yang kadung menjadi pemain krusial bagi La Vecchia Signora. Semua orang tahu, yang menjadi penyebab Pirlo minggat dari Milan, adalah salah satunya akibat “ulah” dari Allegri.

Tetapi di klub asal Turin itu, Allegri kembali berpikir secara progresif. Sadar Pirlo masihlah metronom permainan Juve, Allegri tidak gegabah dengan kembali membuangnya. Saat itu peran Pirlo justru semakin kuat di musim 2014/15, musim perdana Allegri membesut Juventus.

Selain tetap mengandalkan Pirlo, Allegri yang lebih “kalem” dalam melakukan pendekatan psikologi daripada Conte yang berapi-api, juga memberlakukan fleksibilitas dalam skema permainan tim. Formasi tiga bek (biasanya 3-5-2) warisan Conte masih digunakan, tetapi Allegri juga memainkan 4-3-1-2 sebagai variasi.

Dengan preferensi formasi sama (4-3-1-2), jelas “Boateng role” tetap ada. Arturo Vidal menjadi Boateng-nya Juventus. Lalu, tiga gelandang dibelakang Vidal adalah Pirlo, sebagai pengatur tempo permainan serta Pogba dan Marchisio, yang saling bergantian dalam menyerang dan bertahan. Sementara pos depan diisi duet Carlos Tevez dan Alvaro Morata atau Fernando Llorente.

Meski tiga gelandang tengah dalam formasi 4-3-1-2, tidak semuanya bertipe gelandang petarung murni, pertahan Juve tetaplah kuat dan rapat karena diisi oleh bek-bek top timnas Italia seperti Barzagli, Bonucci dan Chiellini. Hal inilah yang sangat memembedakan Milan dan Juve dibawah Allegri. Dengan kuatnya pertahanan Juve, membuat Allegri bisa menyediakan ruang depan garis pertahan agar Pirlo bebas “menari-nari” dan berkreasi di lapangan.

Permainan Juve meningkat dan Allegri hampir bawa Juve raih treble-winners musim 2014/15, andai tidak kalah dari Barca di final Berlin. Di musim kedua Allegri, meski Juventus sempat menurun karena gugur di fase 16-besar Liga Champions, mereka tetap merajai Serie A dan Coppa Italia 2015/16.

Musim kemarin (2016/17), mereka kembali bangkit dan hampir saja meriah tri gelar andai tidak dikandaskan Real Madrid. Pencapaian Juve musim lalu juga tidak lepas salah satunya berkat progresifitas Allegri. Setelah kehilangan Pirlo, Vidal dan Pogba secara berturut-turut, akhirnya Allegri membagi-bagi tugas playmaking ke beberapa pemain.

Dengan formasi andalan baru: 4-2-3-1, tugas membagi dan mengalirkan bola diamanahkan ke pivot ganda yang diisi oleh Miralem Pjanic dan Claudio Marchisio/Sami Khedira. Pjanic sejatinya adalah mezzala atau gelandang yang berkarakter lebih aktif menyerang .

Tetapi oleh Allegri dia ditarik kebelakang dan menjalani peran “Pirlo”, yakni pengalir bola dari belakang ke tengah atau langsung ke depan, tergantung situasi permainan. Selain dibantu oleh duetnya (Khedira/Marchisio), Pjanic juga dibantu oleh Leonardo Bonucci, bek tengah yang punya visi bermain dan akurasi umpan layaknya seorang gelandang.

Dalam 4-2-3-1, untuk mengisi tiga gelandang dibelakang satu penyerang, maka dibutuhkan dua sayap dan satu gelandang serang. Sadar hanya ada satu pemain yang kompatibel menjadi winger (Cuadrado di kanan), Allegri kembali melakukan langkah progresif dengan menempatkan striker tengah, Mario Mandzukic di pos sayap kiri. Meski ditempatkan di posisi itu, bukan berarti Mandzukic harus meliuk-liuk melewati lawan seperti pemain sayap pada umumnya.

Mandzukic justru menjadi alternatif dalam kekayaan taktik Juve. Seperti Ibra di Milan, Mandzukic sang Mister No Good, disamping menjadi penyelesai peluang selain Higuain, dia juga dijadikan “papan pemantul” untuk pemain Juve yang lain.

Dengan postur 190 cm, dia akan sering menerima umpan dari belakang dan sayap Juve guna menanduk bola ke gawang dan/atau memantulkan ke pemain-pemain Juve disekelilingnya. Dia adalah wide target man seperti yang disebutkan pada permainan Football Manager.

Selain itu, Mandzukic juga melakukan peran bagi penyerang yang di sepakbola modern saat ini makin ditekankan, bertahan. Peran tambahan bagi Mandzukic yaitu menjadi “pemain bertahan kiri”, ketika lawan melancarkan serangan dari sisi kanan Juve.

Untuk posisi gelandang serang, karena Pjanic yang harusnya menjalankan peran itu sudah dimainkan di pos lain, maka Allegri memilih Paulo Dybala. Meski posisi aslinya adalah penyeran dan bukan gelandang serang, namun Dybala bisa mengkreasi serangan layaknya trequartista.

Dybala bergerak dinamis, fluid serta menjadi senjata gol selain Gonzalo Higuain. Selain itu kadang La Joya pun muncul dari lini kedua untuk mencetak gol, karena posisinya yang agak kebelakang. Ditambah kemampuan long range shoot yang keras nan akurat, ini lah kenapa Dybala sering beroperasi sedikit diluar kotak penalti demi mencoba tendangan jarak jauh.

Formasi 4-2-3-1 juga punya varian lain. Alves menggantikan Cuadrado, bek kanan diisi Barzagli. Ketika bertahan, formasi ini bisa menjadi 4-4-1-1, Mandzukic juga turun menjadi gelandang kiri, melapisi Alex Sandro di sisi kiri pertahanan dan Alves sebagai gelandang kanan akan melapisi Barzagli.

Hasilnya kita tahu, meski kembali gagal menjuarai Liga Champions, Juve setidaknya sudah sangat diperhitungkan di Eropa. Kini, Juventus sedikit demi sedikit menjelma dan menyejajarkan diri untuk menyamakan level dengan Real Madrid dan Barcelona.

Kelemahan dari Allegri

Meski sosok yang progesif, Allegri tetap mempunyai kelemahan yakni terlalu lunak terhadap manajemen bilamana urusan transfer datang. Ketika di Milan, kepergian Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic hanya dikompensasi Cristian Zapata dan Mario Balotelli atau Giampaolo Pazzini.

Setali tiga uang, kepergian beberapa gelandang senior seperti Seedorf, Ambrosini atau Gattuso kurang dari cukup jika hanya diganti oleh Nocerino, Montolivo atau Poli. Terlebih untuk menggantikan legenda-legenda itu, didatangakan pula pemain antah berantah seperti Bakaye Traore, Kevin Constant, Valter Birsa atau sesama old crack macam Michael Essien dan Sulley Muntari.

Di Juve, Allegri masih diuntungkan ketika kepergian Pirlo, Vidal dan Pogba disubtitusi oleh Khedira dan Pjanic. Bahkan perginya Tevez dan Morata diganti pemain yang tidak kalah berkualitas, Higuain dan Dybala. Di Juve pun, Allegri mendapat bonus tambahan berkat popularitas Juve makin naik hingga berhasil menarik minat pemain sarat akan “DNA” Eropa, seperti Patrice Evra dan Daniel Alves.

Progresif dalam sepakbola modern

Progresifitas Allegri dalam menyiasati taktik yang tepat dan sesuai dengan ketersediaan pemain, sangat menguntungkan Juventus. Meski hampir selalu ditinggal pemain-pemain penting di setiap musimnya, Juve tetap mampu juara Serie A, Coppa Italia dan bahkan dua kali menjadi runner-up Liga Champions selama tiga musim terakhir dibawah kendali Allegri.

Mungkin ada semacam “norma” bahwa sepakbola yang terbaik adalah yang mempertahankan idealisme (seperti istiqomah-nya Barcelona dengan tiki-taka). Tetapi Barca kini pun tak bulat dalam menjaga idealismenya. Terkadang mereka juga “berkhianat”, dengan sesekali memainkan operan-operan panjang langsung ke depan saat bermain.

Dalam sepakbola modern yang didalamnya memunculkan banyak kompleksitas, berpikir progresif seperti Allegri terkadang sangat diperlukan. Mencerna berbagai ide dan merangkum segala posibilitas demi menuai target yang diinginkan, kenapa tidak?

Sumber foto: goal.com dan zimbio.net

Conte yang Dibayangi Ancaman Deja Vu

Chelsea musim 2016-17 adalah jawara Premier League. Puja dan puji dialamatkan untuk Antonio Conte, selaku juru taktik The Blues. Meski sempat tersendat dengan formasi 4-2-3-1, Conte menyulap Chelsea menjadi tim pemenang pasca merubah formasi. Taktik racikan Conte membawa kenyamanan dalam ritme permainan tim semenjak beralih ke formasi tiga bek; 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Disamping taktik, kesuksesan Chelsea juga berkat faktor teknis pemain di lapangan. Conte melakukan pembelian cerdas, N’golo Kante adalah holding midfielder terbaik dunia saat ini. Dia melindungi pertahanan dengan baik dan idem ditto ketika mengalirkan bola. Permainan apik dari Kante itu menuntunnya pada gelar pemain terbaik versi PFA, FWA dan Liga.

Dibawah rezim Antonio Conte, Eden Hazard kembali menjadi sesuatu yang “Hazardous” bagi lawan. Hazard mengkreasi 79 key passes dan lima asis. Performa Hazard meningkat, seakan menuju ke level permainan terbaiknya di dua musim silam. Sementara itu si tukang pukul Diego Costa, menjadi lebih jinak dan kalem dibawah kendali Conte, meski tanpa menghilangkan keberingasannya didepan gawang. Costa cetak 20 gol di Premier league.

Conte tak lupa menciptakan kejutan, yakni dua outsider yang menjadi pilar inti. Marcos Alonso yang awalanya dikritik terlalu lamban dan tidak istimewa, menjadi bek sayap kiri yang begitu menjanjikan. Yang paling tidak disangka tentu bangkitnya Victor Moses. Mantan pemain Wigan yang sebelumnya tak punya kejelasan nasib, mendadak diandalkan sebagai bek sayap kanan. Alonso dan Moses membuat kedua sayap Chelsea hidup, serta seimbang dalam menyerang dan bertahan.

Di belakang, inovasi brilian Conte adalah menggeser Cesar Azpillicueta menjadi bek tengah sebelah kanan dan terbukti permainannya begitu solid. Pemain Spanyol ini sangat diandalkan di lini belakang, dia menyapu bersih seluruh gameweek dan tampil penuh di setiap laga.

Kemudian, Conte sukses “mendewasakan” permainan David Luiz, yang sebenarnya merupakan pembelian agak mengejutkan diawal musim. Selain mendekati uzur, gaya main Luiz juga bisa membuat jantung berdebar bagi fans Chelsea dimanapun.

Dengan bakat Brasil yang mengalir, bukan kendala bagi Luiz untuk bermain stylish meski berposisi bek tengah. Dia tipikal pemain yang berani berlama-lama dengan bola, meski disisi lain itu juga bisa beresiko tinggi bagi pertahanan timnya sendiri. Saat ini memang terkadang Luiz masih membawa bola terlalu lama, namun dibawah Conte, dirinya sedikit berubah. Pria kribo itu tidak lagi gampang blunder serta bermain lebih disiplin, daripada David Luiz yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, Conte jeli memanfaatkan potensi-potensi pemain dari bangku cadangan, meski sebenarnya mereka ini pemain bereputasi besar. Cesc Fabregas memang kalah bersaing dengan N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Meski tidak selalu dimainkan sejak menit pertama, jebolan La Masia ini beberapa kali menjadi pemecah kebutuntuan. 10 asis-nya adalah catatan tertinggi diantar pemain Chelsea lain di liga.

Begitu juga Willian yang harus menjadi back-up bagi Pedro serta Michy Batshuayi, striker 40 juta euro yang menjadi penghangat bangku cadangan. Meski begitu, baik Willian dan Batshuayi tetap punya kontribusi untuk Chelsea. Willian mengemas 8 gol musim ini meski berstatus pemain cadangan. Batshuayi jarang bikin gol, karena toh jarang pula diturunkan. Tetapi golnya di laga melawan West Brom, pekan 37 termasuk vital karena mengunci gelar Premier League untuk Chelsea.

Tetapi yang sedikit mengherankan, kecemerlangan Chelsea bersama Conte musim 2016/17 lalu, tak serta membuat klub yang bermarkas di Stamford Bridge ini kembali dijagokan back to back menjuarai Premier League. Lihatlah kenyataannya beberapa rumah taruhan justru menjagokan Manchester City, yang yang lebih berpeluang besar untuk juara musim 2017/18 nanti, daripada Chelsea.

Kebetulan yang sempurna, Manchester City memang menjadi tim besar Inggris dengan gerakan tercepat untuk urusan transfer. The Citizens saat ini telah resmi mengumumkan akuisisi beberapa pemain muda menjanjikan seperti Bernardo Silva (Monaco) dan Ederson Moraes (Benfica). Selain itu City juga dirumorkan mengincar nama-nama beken lain seperti Leonardo Bonucci, Virgil Van Dijk, Kyle Walker dan Benjamin Mendy.

The Citizens akan belanja besar-besaran demi merombak kerangka tim seperti yang diingikan oleh Pep Guardiola. Dengan komposisi tim yang sesuai pikiran mantan pelatih Barca itu, serta Guardiola sendiri pun sudah punya cukup waktu beradaptasi dengan sepakbola Inggris, inilah yang membuat City diunggulkan oleh banyak pihak.

Disisi lain, salah satu alasan kenapa Chelsea tidak diunggulkan menjuarai liga musim depan, selain karena geliat Manchester City, juga karena bongkar pasang skuad musim ini.

Akibat dari geliat City dan aktivitas transfer mereka sendiri yang cenderung sedang, Chelsea beserta pelatih Conte harus pula waspada dengan ancaman-ancaman deja vu setelah menjuarai Premier League.

* Penurunan performa, semusim pasca juara

Deja Vu pertama yakni, manakala juara Premier League justru langsung babak belur begitu musim berganti. Fenomena ini muncul dalam dua musim belakang. Chelsea yang menjadi juara Premier League musim 2014/15, secara mengejutkan berubah layaknya tim medioker di musim 2015/16. Saat itu ditengarai konflik Mou versus dokter medis Chelsea, Eva Carniero yang menjadi pemicu awal terganggunya konsentrasi para pemain.

Terlebih hobi Mourinho bermain psy-war dengan manajer lain dan gemar mengkritik pemain-pemainnya sendiri, serasa membuat sorotan tajam selalu terarah ke Chelsea saat itu hingga pemain tak mampu jaga konsentrasi. Mereka terlempar dari persaingan juara dan bahkan sempat berada di papan bawah musim itu. Di arena lain seperti Liga Champions, FA Cup dan League Cup, nasib mereka setali tiga uang.

Kemudian, klub kedua yang menurun drastis pasca juara adalah Leicester City. Memang banyak yang memprediksikan performa mereka di 2016/17, tidak akan segalak ketika berhasil juara (2015/16). Tetapi terjembab di papan bawah juga tidak masuk ekspektasi banyak pengamat sebelumnya.

Penjualan N’golo Kante disebut menjadi biang keladi penyebab penampilan Leicester memburuk. Ketika performa tim menurun, pelatih menjadi orang paling bertanggung jawab dan Claudio Ranieri merasakan hal itu (dipecat), meski banyak pihak menyayangkan pemecatan ini.

* Pelatih Italia yang dipecat, semusim pasca juara

Deja vu bentuk kedua yakni seolah muncul tradisi bahwa pelatih asal Italia yang berhasil membawa timnya juara Premier League, akan terkena PHK musim selanjutya. Hal ini sudah dimulai dari era Carlo Ancelotti, yang kini sedang menangani raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Don Carletto yang dikontrak Chelsea pada musim 2009/10, langsung juara Premier League dan FA Cup di musim perdana itu juga. Dia adalah orang Italia pertama yang sukses menjuarai liga Inggris. Musim selanjutnya, 2010/11, ekspektasi tinggi menggelayuti Chelsea untuk bisa lebih berprestasi, termasuk di Eropa. Sialnya, Ancelotti gagal mempertahankan gelar Premier League dan mereka juga gugur di perempat final Liga Champions. Ancelotti pun disingkirkan Abramovich pada Mei 2011.

Roberto Mancini, yang memanajeri Manchester City sejak 2009, berperan besar atas kisah dramatis klub itu juara Premier League 2011/12. Tetapi mantan pelatih Inter ini juga tidak luput dari pemecatan satu musim kemudian, 2012/13. Beberapa faktor seperti jeblok di Liga Champions serta gagal mempertahankan gelar liga, disinyalir menjadi penyebab kenapa Mancio ditendang oleh manajemen The Citizens.

Italiano ketiga yang didepak semusim pasca juara liga, siapa lagi kalau bukan Claudio Ranieri. Mantan pelatih Valencia ini sebelumnya berhasil menggoreskan sejarah bak cerita dongeng yang legendaris. Claudio membawa tim antah-berantah, Leicester City menjuarai Premier League musim 2015/16. Pujian mengalir begitu deras untuk dirinya. Claudio bahkan dianugerahi Ordo Merit oleh pemerintah Italia, atas jasanya mengharumkan nama negeri itu dibelantika sepakbola.

Musim 2016/17, Ranieri di bebas tugaskan secara resmi oleh Leicester pada 2 Februari 2017, walaupun pada bulan Januari sebelumnya mendapat gelar FIFA Best Men’s Coach. Ranieri didepak atas penurunan performa secara drastis The Foxes di liga. Kekalahan di 16-besar Liga Champions leg pertama melawan Sevilla, seakan hanya jadi penegas hantaman “godam” pemecatan bagi Ranieri.

* Musim Mourinho

Antonio Conte sendiri mengatakan tidak ingin merasakan deja vu “musim Mourinho”, yang ia anaolgikan sendiri sebagai penurunan tajam performa setelah juara. Apakah ia sendiri merasa khawatir kejadian yang menimpa Mourinho di musim terakhirnya bersama Chelsea akan menjangkitinya juga?

Kalau dilihat dari awal musim, kejadian itu bisa jadi akan terulang. Mereka kalah di ajang Community Shield 2017 dari Arsenal, yang dipandang sebagai tanda-tanda awal menurunnya performa Chelsea.

Mourinho juga merasakan suasana tidak nyaman di musim 2015/16 lalu. Mereka kalah dari Arsenal di Community Shield dan di pekan pertama mereka ditahan Swansea 2-2 beserta konflik Mourinho versus Eva Carneiro yang menambah runyam hari-hari di awal musim Chelsea sebagai juara bertahan kala itu. dia akhir musim 2015/16 itu, Chelsea babak belur.

* Menghindari Deja Vu

Musim 17/18 ini Conte wajib menghindari tiga deja vu sekaligus. Pertama, dalam dua musim terakhir, juara Premier League selalu amburadul di musim selanjutnya (saat berstatus juara bertahan). Lalu, dia juga harus menghindari kutukan deja vu lain, berupa manajer Italia yang dipecat, hanya semusim pasca membawa timnya memenangi Premier League.

Celakanya sebagai tim besar yang haus akan trofi, maka tak cukup puas bagi sang bos, Roman Abramovich jika Chelsea hanya jago kandang (di kompetisi Inggris) saja. Conte harus mendorong Chelsea untuk berbuat banyak di Liga Champions Eropa, sebisa mungkin juara.

Ini yang menjadi tanda tanya. Sebagai pelatih di level klub, Conte memiliki riwayat bagus untuk kompetisi lokal, namun tidak ketika mentas di Eropa. Juventus dibawah kendalinya tidak memuaskan selama di Liga Champions. Pernah sampai semifinal kompetisi Eropa, tetapi bukan di Liga Champions, mekainkan Liga Europa tepatnya musim 2013/14.

Identik dengan tiga bek adalah momen dimana Juve a la Conte yang jago di kandang (di Serie A), namun loyo di kompetisi Eropa. Kebetulan Chelsea-nya Conte juga mengandalkan skema tiga bek.

Sedikit kolotnya Conte dengan skema tiga bek menjadi salah satu faktor kenapa Juve tak berdaya di Eropa. Terbukti ketika beralih ke Allegri, yang sering menggunakan formasi empat bek untuk mengarungi Liga Champions, Juve sampai dua kali masuk final dalam tiga musim terakhir. Conte kali ini sudah seharusnya belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelum ini.

Roberto Di Matteo, pelatih Italia kelahiran Swiss ini saja didepak, walau belum genap semusim pasca membawa Chelsea merengkuh trofi Liga Champions (pertama dalam sejarah klub) dan FA Cup 2011/12.

Dipecatnya pelatih asal Italia seperti Ancelotti, Mancini atau Ranieri selain karena gagal mempertahankan trofi Premier League, juga disebabkan pula oleh buruknya performa tim-tim asuhan mereka di Liga Champions. Sepakbola modern memang kejam, sedikit saja kurang memuaskan, maka pemecatan pelatih bukan menjadi barang langka lagi.

Conte seharusnya bisa menghapus dua deja vu laten di Chelsea tersebut beserta deja vu musim Mourinho, yang bisa setiap saat membuat dirinya kehilangan jabatan manajer Chelsea. Memperkuat lini belakang menjadi langkah pertama Conte. Trio Azpillicueta-Luiz-Cahill perlu diberi saingan pemain berkualitas, setelah Kurt Zouma, Nathan Ake dan John Terry meninggalkan klub.

Wing-back dikedua sisi juga perlu pelapis yang sepadan dengan Alonso dan Moses, mengingat dua posisi ini juga vital bagi permainan Chelsea. Dengan berharap Abramovich mengucurkan dana besar untuk operasi pasar transfer.

Pemain baru seperti Alvaro Morata, Antonio Ruediger dan Timoue Bagayoko belum cukup meningkatkan kualitas Chelsea. Lihat saja daftar yang pergi; Diego Costa, Nemanja Matic, Nathan Ake, Kurt Zouma dan John Terry. Kedatangan pemain baru hanya menambal lubang saja, belum meningkatatkan kualitas Chelsea secara signifikan.

Selain memperdalam skuad, memperkaya pilihan taktik juga perlu direncanakan Conte. Sukses mereka musim 2016-17 lalu, sudah jelas membuat lawan yang menghadapi mereka akan menyiapkan segenap tenaga untuk mengalahkan juara bertahan.

Tugas Conte tambah berat di musim 2017/18. Selain Premier League semakin kompetitif, konsentrasi Chelsea terbagi di empat ajang sekaligus. The Blues akan menjajal jadwal super padat karena berlaga di Premier League, Liga Champions, Piala FA dan Piala Liga.

Kini tinggal bagaimana pintar-pintarnya Conte saja dalam mengelola Chelsea di musim 2017-18 depan. Sepertinya, prestasi minimal Conte musim depan adalah mempertahankan status juara liga, demi menghindari pemecatan. Untuk langsung juara Liga Champions, terhitung sulit mengingat sudah satu musim Chelsea absen dari serunya pertarungan di Eropa.

Sebagai orang yang kenyang asam garam di dunia kepelatihan, terlebih juga pernah menangani sebuah timnas, tentu pengalaman dan kekayaan taktik Conte saat ini jauh lebih baik sedari ketika masih di Juventus dahulu. Jadi, sudah siapkah menghapus deja vu dan musim Mourinho itu, Antonio?

Sumber foto: express.co.uk

Tak ada Rotan, Akar pun jadi versi AS Roma

Bagi sebuah klub sepakbola, menggunakan jasa direktur olahraga sudah bukan rahasia lagi. Meski urusan transfer bisa dibebankan kepada pelatih, pos direktur olahraga dirasa semakin penting dalam sepakbola modern kini yang penuh kerumitan dalam birokrasi. Jabatan direktur olahraga (sporting director) dalam struktur manajemen akan diberi tupoksi untuk mengurusi lalu lintas transfer pemain.

Bila berbicara direktur olahraga, salah satu yang disebut-sebut sangat mumpuni adalah sosok yang disebut “Monchi”. Pria asal Spanyol bernama asli Ramon Rodriguez Vardejo itu menjabat direktur olahraga AS Roma kali ini. Pernah santer dirumorkan bakal digamit oleh klub besar seperti Real Madrid dan Liverpool, tentu menunjukan kalau orang ini bukan nama direktur olahraga sembarangan.

Sebelum ke AS Roma, karir Monchi sebagai direktur olahraga mulai benderang di Sevilla sejak 2000. Klub asal wilayah Andalusia inilah klub pertama yang merasakan servis Monchi sebagai direktur olahraga. Kecemerlangan Monchi sudah teruji dengan mendatangkan banyak pemain harga miring namun dijual mahal beberapa tahun kemudian setelah tampil bagus di Sevilla.

Sebut saja Daniel Alves, Adriano, Ivan Rakitic, Carlos Bacca, Gregorz Krychowiak, Geoffrey Kondogbia atau Kevin Gameiro. Nama-nama diatas yang direkrut semasa Monchi menjabat direktur olahraga Sevilla, menghasilkan pundi-pundi euro yang banyak bagi klub. Itu pun masih ditambah kesuksesan Monchi menaikan harga pemain-pemain potensial dari akademi seperti Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos dan Jesus Navas dengan harga yang selangit.

Selain jaringan pemandu bakat yang sangat luas, keberadaan master transfer seperti Monchi sangat krusial bagi Sevilla yang tak punya kondisi finansial hebat seperti klub-klub besar. Monchi adalah jaminan bagi Sevilla untuk tetap kompetitif dengan pemain bagus, namun yang berharga murah. Empat trofi Liga Europa yang Sevilla rengkuh dengan pemain-pemain hasil kerja transfer Monchi adalah bukti tak terbantahkan lagi.

Saat ini kepindahan Monchi ke AS Roma tentu memicu antusiasme tinggi dari fans. Sudah sangat lama trofi scudetto belum singgah lagi ke ibukota Italia, sejak terakhir kali pada tahun 2001 lalu. Kedatangan Monchi memicu gairah baru yang seakan menandakan Roma siap menjadi penantang serius gelar juara.

Bergabungnya sosok yang menjadi kiper sebelum pensiun ini diharapkan mampu memberi kestabilan bagi Roma, terutama dalam usahanya meraih berbagai trofi prestisius dan juga membangun reputasi sebagai klub yang mapan. Tetapi membaca gelagat kedatangan Monchi ke AS Roma, sebenarya harapan menjadi juara dan terutamanya Serie A, belum akan datang dalam beberapa musim kedepan.

Seperti diketahui, AS Roma dibawah presiden orang AS berdarah Italia, James Pallotta, sedang melancarkan proyek pembangunan stadion baru. Tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merampungkan hal itu.

Jika dirunut, maka pertemuan Monchi yang punya rekam jejak pencari pemain murah untuk dijual mahal dengan Roma yang sedang butuh dana pembangunan stadion akan menghasilkan sebuah premis bahwa; Monchi didatangkan untuk menstabilkan keuangan AS Roma terlebih dahulu, bukan langsung menargetkan trofi.

Bukti awal sudah kentara, ketika pilar inti seperti Mohamed Salah dilego ke Liverpool dengan mahar 39 juta pounds. Tak cuma itu, pemain-pemain penting lain juga santer sedang dipertimbangakan untuk dijual. Kostantinos Manolas dan Antonio Ruediger masing-masing diisukan ke Zenit St. Petersburg dan Internzionale dan Chelsea. Yang juga membuat miris, Radja Nainggolan kabarnya akan direkrut Manchester United. Jika kesemua berita itu benar-benar terealisasikan, akan benar-benar menjadi kehilangan besar bagi AS Roma.

Tugas Monchi disinyalir akan meneruskan tradisi direktur olahraga Roma sebelumnya, Walter Sabatini untuk mencari pemain muda yang murah dan kemudian dijual semahal mungkin seperti Erik Lamela, Marquinhos, dan Miralem Pjanic.

Peluang demikian semakin kentara ditambah faktor pelatih baru Roma, Eusebio Di Francesco yang menggantikan Luciano Spalletti, adalah orang yang mengorbitkan talenta-talenta hebat “tak bertuan” semasa di Sassuolo. Nama-nama didikan Di Francesco yaitu Domenico Berardi, Nicola Sansone, Gregoire Defrel, Matteo Politano dan Lorenzo Pellegrini.

Melihat kabar mercato sejauh ini (6 Juli 2017), pemain-pemain yang sudah didatangkan ke Roma juga bukan nama besar. Perjudian besar Monchi lakukan jika Hector Moreno (PSV) dan Rick Karsdrop dari Feyenoord jadi menggantikan Manolas dan Ruediger, yang sudah sangat nyetel di Serie A. Kontrak Wojciech Szczesny juga belum punya kepastian karena Roma masih punya kiper internasional Polandia yang lain, Lukasz Skorupski (dipinjamkan ke Empoli).

Untuk menggantikan Mohamed Salah, Roma dikabarkan menghubungi sayap andalan Stoke City, Xherdan Shaqiri. Tetapi melihat reputasinya, Shaqiri bukanlah pengganti sepadan Salah, lagipula Shaqiri pernah gagal ketika di Italia bersama Internazionale.

Selain itu Roma dikabarkan memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo. Calon gelandang masa depan Italia ini merupakan produk akademi AS Roma. Kedatangan Pellegrini terhitung penting disamping penambahan kualitas tim. Pellegrini akan mengguatkan kembali komposisi putra asli Roma, yang saat ini hanya ada dua di tim; Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi pasca kepergian il capitano Francesco Totti.

Cenderung adem ayem tidak mengincar nama besar di bursa transfer dan justru akan menjual aset-aset terbaiknya, menjadi bukti bagaimana kejelasan rencana Roma bersama Monchi; menuai profit dari pasar transfer. Pembangunan stadion yang memakan dana besar menjadi alasan kuat AS Roma membutuhkan seorang juru transfer seperti Monchi. Diharapkan orang ini mencari bakat yang tidak terlalu terekspos (harga murah) kemudian menjual mahal beberapa tahun kemudian.

Bagi fans AS Roma, tentu muncul rasa kecewa dengan langkah klub dalam bursa transfer di pertengahan tahun 2017 ini. Bukannya memperkuat tim yang sudah mulai stabil, justru kembali bongkar pasang susunan pemain yang terjadi.

Sulit bagi Roma mengulang prestasi musim lalu (runner-up), belum lagi musim depan Roma kembali berlaga di Liga Champions. Dengan langkah transfer yang sangat jauh dari memuaskan sampai saat ini, apakah Roma akan tetap bertaji di Serie A sekaligus di Eropa? Sepertinya sulit terjadi, walau sekedar hanya membayangkan.

Kalau hanya mencari pemain murah yang kemudian dijual mahal, tak perlu repot mengkontrak Monchi sebagai direktur olahraga, Walter Sabatini saja sudah cukup bagi Roma. Erik Lamela, Marquinhos, Pablo Osvaldo dan Miralem Pjanic bukan primadona transfer kala didatangkan Sabatini, namun nyatanya kemudian berhasil dijual dengan harga yang terhitung mahal.

Kevin Strootman, Radja Nainggolan, Kostantinos Manolas, dan Antonio Ruediger “belum pemain jadi” ketika didatangkan, namun yang pasti saat ini, untuk merekrut mereka dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu Sabatini juga berhasil menemukan bibit-bibit muda menjanjikan semacam Leandro Paredes dan Emerson Palmieri.

Pada akhirnya, antusiasme yang muncul ketika awal kedatangan Monchi akan menguap begitu saja dengan melihat gelagat Roma di pasar transfer saat ini. Impian untuk menyaingi Juve dalam perburuan scudetto harus kembali dipendam oleh tifosi Roma, apalagi berbuat banyak di Liga Champions.

Scudetto sepertinya belum akan bertambah di lemari trofi AS Roma, meski baru saja kedatangan direktur olahraga baru yang sangat mumpuni. Pertautan antara si jenius Monchi dalam mencari pemain murah untuk dijual mahal, dengan Roma yang butuh dana pembangunan stadion dalam jangka waktu panjang, menjadi argumentasi logis untuk meragukan Roma bakal scudetti dalam beberapa musim kedepan.

Setidaknya jika tifosi Roma sukar untuk berharap pada cita-cita scudetto, masih ada trofi lain yang sering mantan klubnya Monchi dapatkan, yakni Liga Europa. Sevilla pernah empat kali menyabet gelar juara Liga Europa dengan pemain-pemain rekrutan Monchi dahulu kala. Bagi Roma barangkali peribahasa “tak ada rotan, akar pun jadi” dengan keberadaan Monchi seharusnya berarti “tak ada scudetto, Liga Europa pun jadi”.

Sumber foto dari Gazzetta.it

Image

Si Nomor Dua yang Buktikan Diri

“Selamat, anda melakukan pekerjaan (bermain) hebat”, itulah kalimat yang meluncur dari mulut Jose Mourinho ketika mendatangi soeroang pemain, sesaat setelah usainya pertandingan. Akan tetapi mourinho bukan memuji pemain Manchester United yang menang di final EFL Cup di Wembley, 26 Februari 2017 tersebut. Melainkan untuk lawan mereka, pemain Southampton yang baru datang di bursa transfer musim dingin terbaru ini, Manolo Gabbiadini.

Gabbiadini sebenarnya bisa lebih spektakuler lagi dengan mencetak hat-trick di final tersebut, apabila hakim garis lebih jeli dalam memantau situasi laga. Andai gol yang dianulir itu disahkan, barangkali jalannya laga akan berbeda, meski pada akhinya Manchester United menang 3-2 atas Southampton, dengan kesemua gol Southampton dicetak oleh Gabbiadini di laga itu.

Gabbiadini memang sedang on fire, dia telah mencetak 6 gol sejauh ini (artikel terbit 15 April 2017) bersama Southampton, sejak bergabung pada Februari lalu dari klub Italia, Napoli. Apa yang ia perbuat di Inggris selama ini memang diluar dugaan, karena Manolo Gabbiadini sebelumnya hanya seorang yang dianggap sebagai striker kacangan dan “nomor dua”.

Kedatangan Gabbiadini ke Southmapton pun sebenarnya diliputi sedikit rasa keraguan di kalangan fans Southampton. Untuk striker yang selalu dinomorduakan (khususnya semenjak di Napoli ), harga 14 juta paun dirasa begitu mahal. Gabbiadini juga dinilai bukan sebuah urgensi, karena di lini depan Soton, sebutan lain untuk Southampton, sudah ada Charlie Austin dan Shane Long.

Walau begitu, sebenarnya Gabbiadini tidaklah terlalu buruk. Dia sudah pernah bermain untuk timnas senior Italia yang bahkan ia sudah mencatat debut pada game Inggris v Italia 2012. Lalu catatan golnya termasuk lumayan impresif di Napoli dengan kemasan 25 gol dari 3.114 menit bermain.

Artinya dia mencetak 1 gol untuk Napoli di setiap 124,56 menitnya Gabbiadini merumput di lapangan. Padahal Selama tiga musim di Napoli, statistik yang ia bukukan itu dijalani Gabbiadini ketika menjadi striker nomor dua. Ya, memang Gabbiadini selama di Napoli akrab dengan perlakuan yang dinomorduakan.

Alasan kenapa pemain kelahiran Calcinate dan berpostur 186 cm ini sering menjadi pilihan kedua pun rumornya beragam. Mulai dari kompetitor yang lebih baik, taktik pelatih di Napoli yang tidak mengakomodir talenta dia hingga persepsi tentang karakter Gabbiadini yang tidak punya karisma dan mentalitas yang tak mampu memikul beban tinggi.

Cerita berawal ketika Napoli membeli Gabbiadini pada musim dingin 2015, akibat permainan apiknya di Sampdoria. Gabbiadini direkrut untuk menjadi pesaing sekaligus pelapis Gonzalo Higuaín, yang sudah mapan sebagai prima punta Napoli sejak musim 2013-2014. Pada dasarnya Gabbiadini itu serba bisa, selain penyerang tengah dia bisa juga dimainkan sebagai winger kanan dan striker bayangan.

Versatilitas Gabbiadini jelas terbukti sejak ia di Sampdoria, yang kala itu lini depan Il Samp diisi oleh trio Edér-Okaka-Gabbiadini. Selain sisi kanan, kadang kala Gabbiadini juga diplot di tengah ketika Okaka absen atau cedera. Dia pun sering menjadi second striker, terutama ketika sebelumnya bermain di Bologna.

Meski serba bisa, pemain berkaki kidal yang juga adik dari pesepakbola timnas Italia wanita, Melania Gabbiadini ini harus terima nasib karena allenatore Napoli kala itu, Rafa Benítez tidak mungkin mencadangkan Higuaín dan mengganti José Callejón dari pos sayap kanan dalam formasi 4-2-3-1 hanya untuk memberi ruang untuk Gabbiadini.

Dua musim itu telah berlalu sejak awal Gabbiadini datang dan tepat di musim ini menjadi momentum dirinya untuk bangkit, karena Gonzalo Higuaín pindah ke Juventus. Tetapi entah apakah Napoli, dengan pelatihnya saat ini, Maurizio Sarri yang kurang percaya pada kemampuan Gabbiadini atau karena ingin mencari pengganti sepadan untuk Higuaín, hingga mereka membeli Arkadiusz Milik dari Ajax Amsterdam dengan biaya 35 juta euro.

Kedatangan Milik pun otomatis mengembalikan Gabbiadini menjadi pilihan kedua sebagai penyerang utama. Milik memang terbukti moncer diawal musim ini sebelum cedera lutut parah, Anterior Cruciate Ligament (ACL) memaksanya absen hingga baru bisa kembali bermain awal Maret. Cederanya Milik justru disisi lain kembali membuka kesempatan kedua untuk Gabbiadini.

Namun meski terbantu absensi Milik akibat cedera, Gabbiadini yang sering mengisi slot penyerang tengah selama dua-tiga bulan lalu gagal membuktikan diri hingga Sarri menyingkirkan Gabbiaini, lalu bereksperimen tanpa menempatkan striker tengah murni dalam balutan formasi 4-3-3. Hasil eksperimen itu adalah memindahkan winger kiri, Dries Mertens menjadi false nine dan ternyata dia mampu mencetak gol-gol yang sangat dibutuhkan Napoli pasca kepergian Higuaín.

Situasi bagi Gabbiadini makin suram saja, karena Napoli mendapatkan tanda tangan Leonardo Pavoletti dari Genoa pada bursa transfer musim dingin lalu. Kalau dulu hanya menjadi nomor dua ketika masih ada Higuaín, kelanjutnya Gabbiadini saat itu malahan turun pangkat jadi opsi keempat setelah Mertens, Milik dan Pavoletti untuk menjadi ujung tombak I Partenopei.

Padahal dengan adanya Higuaín dulu dan Milik, Mertens atau Pavoletti kini, mencoba duetkan dengan Gabbiadini yang bisa main lebih kedalam dan melebar pun tidak mengapa. Tapi sayang hal itu jarang atau hampir tidak pernah dilakukan oleh Benítez atau Sarri hingga Gabbiadini pergi.

Sadar tidak ada tempat lagi di klub yang pernah menjadi tempat berjayanya legenda sepakbola Diego Maradona itu, Gabbiadini pindah ke Southampton mendekati window transfer 2016-2017 berakhir. Lagipula bagaimanapun Maurizio Sarri juga sudah tidak lagi percaya kemampuan dia, lebih-lebih setelah mendapat penyerang baru dalam diri Leonardo Pavoletti.

Seakan ingin membuktikan diri bahwa Napoli dan Sarri telah salah menilai dirinya, Gabbiadini menjelma jadi sosok striker tajam begitu hijrah dari Stadio San Paolo ke Saint Merry’s Stadium.

Gabbiadini berubah bak penyerang oportunis yang kerap kali pas dalam menempatkan diri di dalam kotak penalti lawan. Sesuatu yang sebenarnya Napoli juga rindukan layaknya penampilan Higuaín dulu hingga beroleh capocannoniere atau top skor Serie A musim kemarin.

Musim lalu Higuaín bisa menggila dan mencetak banyak gol ketika di awal musim 2015-2016 itu karena mendapat sentilan. Pipita, julukan Higuaín, dimotivasi oleh Sarri dengan sindiran keras yang maksud intinya; “Higuaín sebenarnya bisa menjadi penyerang tengah terbaik di dunia, jika bisa merubah sikap dan tidak lagi malas”.

Hasilnya? Higuaín mencetak 36 gol dari 35 kali dia bermain di Serie A musim lalu dan sang pemain sendiri berterimakasih atas “motivasi” awal musim dari Sarri tersebut. Andai untuk Higuaín saja bisa, kenapa Gabbiadini tidak bisa “dibegitukan” oleh Maurizio Sarri?

Sepertinya Napoli, baik itu dari rezim Benítez hingga Sarri tak pernah benar-benar percaya pada kemampuan Gabbiadini, pemain yang juga merupakan produk akademi Atalanta ini.

Mungkin Sarri berageming dengan sembuhnya Milik, makin tajamnya Mertens sebagai false nine dan kedatangan Pavoletti sudah cukup untuk mengarungi seluruh sisa laga musim ini dan tidak perlu lagi tenaga pria bernama Manolo Gabbiadini dan lalu menjualnya. Entahlah apa yang terjadi sebenarnya dibelakang layar, namun melihat performa Gabbiadini sampai saat ini, sepertinya “intuisi” Sarri terbukti kurang tepat.

Bocah yang sebenarnya punya talenta namun terabaikan dulu kala, kini sedang berusaha keras buat mantan klubnya, Napoli menepuk jidat karena telah melepas dirinya dan hanya memberi sedikit waktu untuk buktikan diri.

Kali ini dia malahan tampil apik dengan gol-golnya justru ketika berada di tim (Southampton) yang secara teknis masih kalah kualitas dari Napoli dan berada di Premier League, liga yang jauh lebih kompetitif dibanding Serie A.

Gabbiadini sedang memulai karir bagus di klub barunya, Southampton. Semoga, lesakan gol-gol belum akan berhenti diukir oleh sosok tinggi agak kerempeng dan berwajah sedikit pucat yang pernah tercampa dan dinomorduakan oleh Napoli ini. Dialah Manolo Gabbiadini, yang tidak menyerah untuk membuktikan kualitas sesungguhnya.

*data angka dari Opta

Foto: telegraph.co.uk

Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Image

Menjadi Pelatih Bola? Mudah.

Bagi yang benar-benar suka dengan sepakbola, pastilah tau game bernama Football Manager. Dalam permainan virtual yang umumnya di PC ini, anda akan merasakan sensasi seakan-akan anda menjadi pelatih sepakbola sesungguhnya. Ya, dalam game yang dikembangkan oleh SEGA ini anda tidak hanya mengurusi taktik bermain atau menggonta-ganti pemain saja.

Lebih dari itu anda bisa melakukan transfer pemain, mengembangkan pemain akademi, dan merekut staf kepelatihan termasuk fisioterapi, juga mengontrak scout (pemandu bakat) pun bisa anda lakukan sendiri. Masih kurang?

Anda bisa juga berkomunikasi dengan manajemen klub perihal meminta budget transfer dinaikkan, mengubah pola perekrutan pemain junior, sampai mengajukan renovasi dan bahkan membuat stadion baru! Anda benar-benar menjadi super manager di Football Manager.

Football Manager memang memuaskan hasrat, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan menjadi manajer di sebuah klub, apalagi anda bisa melatih klub besar secara langsung dari awal ketika memulai game ini.

Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan strategi permainan, memonitor player’s development, atau memantau harga pemain yang diincar rasanya tetap senang-senang saja.

Tetapi lebih menyenangkan lagi apabila kita memulai dengan berjuang menggunakan klub kecil dan mampu membawa klub itu juara dimana-mana, kepuasan dan kebanggan sudah pasti bercampur jadi satu.

Dalam FM, interaksi dibuat seperti kenyataan. Terdapatnya emosi-emosi yang berbeda tiap individu akan menentukan keberlangsungan permainan, ketika itu terjadi interaksi antar pelatih dengan pemain, dengan agen, dengan sesama pelatih ataupun dengan manajemen. Game ini begitu realistis menampilkan hal-hal yang seperti pada kenyataan. Segalanya yang anda inginkan sebagai pelatih sepakbola ada di dalam game Football Manager atau yang biasa disebut dengan FM ini.

Meski sudah dibuat senyata mungkin seperti kenyataan, pada akhirnya yang namanya permainan tetap saja permainan, bukan kenyataan. Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah yang dilakukan di FM. Tekanan yang dirasakan pasti berbeda, interaksi yang terjadi antar elemen dalam sepakbola juga berbeda.

Menghadapi pemain dalam kenyataan tentu berbeda dari sekedar permainan. Persiapan dan intensitas dalam latihan juga berbeda jauh antara game dan kenyataan. Menjadi pelatih betulan, kita belum tentu bisa meminta ini itu segampang seperti di FM.

Berarti kesimpulannya, menjadi pelatih bola itu sangat mudah, tetapi dalam game. Sedangkan pada kenyataan, menjadi pelatih itu gampang-gampang susah atau mungkin lebih banyak susahnya daripada yang mudah-mudah.

Football Manager
Kini semua orang bisa jadi “pelatih”, bahkan “manajer”.

Di sisi lain ketika kita berbicara game, maka tidak lupa pula bahwa game itu mudah dimanipulasi alias bisa dimainkan dengan cara yang tidak fair. Dalam FM, pasti semua sudah tau ketika akan menjalani pertandingan kita akan save dulu. Jika menang kita lanjutkan game, dan jika imbang apalagi kalah, kadang-kadang kita loading ulang kan?

Nah, hal inilah yang tidak mungkin dalam kejadian nyata dunia kepelatihan yang memang riil. Satu pertandingan bisa sangat krusial dalam dunia nyata, sementara dalam permainan PC hal ini bisa diutak-atik untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah dalam permainan seperti FM. Namun setidaknya game ini bisa menjadi pelepas dahaga bagi orang yang sangat ingin merasakan sensasi “memberi instruksi” bagi para pemain dari pinggir lapangan. Meski itu hanya dari dimensi virtual game, yang bernama Football Manager.

Foto: CNN.com dan Football Manager

Apakah Anda Gila, Mister Presiden?

Setiap klub pasti menginginkan dilatih oleh orang yang tepat. Yang dimaksud tepat adalah pelatih yang bisa membawa klub itu mencapai target yang diinginkan oleh klub. Maka sebuah kewajaran apabila pelatih gagal memenuhi keinginan klub apalagi berselisih paham dengan manajemen, maka dia akan diberhentikan.

Untuk urusan ini, banyak klub yang terkenal akan pemberhentian atau biasa disebut pemecatan pelatih. Klub seperti Real Madrid, Chelsea, Manchester City, Inter, dan AC Milan sering berganti pelatih dalam kurun 10 tahun terakhir.

Klub-klub besar seakan mendominasi “tren” pemecatan pelatih yang dianggap gagal. Tetapi pada fakta sebenarnya bukan hanya klub besar, klub-klub kecil atau semenjana juga sering gonta-ganti pelatih. Untuk klub kecil, biasanya mereka berganti pelatih karena tidak bisa menghindarkan mereka dari zona degradasi, selain juga konflik dengan manajemen klub.

Kabar berita pemecatan pelatih klub medikoer seperti ini relatif tidak seheboh dengan apa yang terjadi di klub besar. Maka wajar saja kabar pemecatan tersebut tidak terlalu menjadi perhatian utama bagi publik pecinta sepakbola. Namun tetap ada saja sensasi jika kita cermati seksama dalam dua tahun belakangan, pelakunya adalah klub Serie A, Palermo.

Klub asal pulau Sisilia, di wilayah selatan Italia ini sangat gemar memecat pelatih akhir-akhir ini. Aktor dibalik ini tentu saja sosok super kontroversial, Maurizio Zamparini. Sosok “gila” sebagai preseiden klub Palermo ini lah yang memegang kendali utama roda kebijakan klub berjuluk Rosaneri itu.

Maurizio Zamparini, berlatar belakang sebagai pebisnis di berbagai bidang dengan bisnis retail supermarket, Emmezata yang menjadi andalan pria asal provinsi Udine ini. Sukses menjadi pebisnis, Zamparini masuk ke dunia sepakbola pada 1987 dengan membeli klub dari kota air, Venezia. Saat itu Venezia hampir bangkut dan berada di Serie C, lalu meski lama, Venezia berhasil promosi ke Serie A musim 1998-1999.

Kecewa lantaran keinginannya merenovasi stadion Pierluigi Penzo ditolak pemerintah lokal, Zamparini menjual Venezia dan lalu membeli Palermo pada tahun 2002. Dibawah komando presiden Zamparini, Palermo melakukan evolusi dalam tubuhnya. Pada saat Zamparini datang, Palermo masih berkubang di Serie B.

Hanya butuh dua tahun bagi Rosaneri komando Zamparini untuk kembali ke Serie A pada 2004/2005. Mereka kembali ke kasta tertinggi pertama kali sejak 1973 sebagai juara Serie B musim 2003/2004. Zamparini jelas sangat berjasa dan tentu nama Zamparini sangat dicintai oleh publik Palermo berkat uluran tangannya memoles Palermo hingga kini.

Meski jasa Zamparini banyak, dia juga termasuk orang kontroversial apalagi jika berurusan dengan pelatih. Zamparini mungkin disebut sebagai presiden klub yang paling tega memecat pelatih di dunia ini. Selama menjabat sebagai pemilik sekaligus presiden Palermo, sudah banyak nama yang keluar masuk stadion Renzo Barbera sebagai pelatih.

Selama dipimpin Zamparini, total 29 nama pelatih (termasuk yang bolak-balik ditunjuk pelatih) yang pernah menangani Palermo hanya sejak 2002 hingga 2016! Angka itu lebih banyak dari jumlah musim Palermo dibawah kepemilikan Zamparini sejak awal hingga kini. Dua puluh sembilan nama pelatih berbeda selama 14 tahun terkahir, menunjukkan betapa entengnya palu pemecatan dari Zamparini dilayangkan kepada pelatih-pelatih Palermo tersebut.

Pelatih pertama yang pergi pada zaman Zamparini adalah Roberto Pruzzo. Legenda AS Roma ini bahkan hanya bertahan lima hari di Palermo. Setelah itu hilir mudik pelatih masuk dan dipecat seringkali terjadi di Palermo. Bahkan Francesco Guidolin, yang membawa Palermo naik ke Serie A 2004 juga tidak bisa mengelak dari pemecatan Zamparini.

Musim pemecatan pelatih paling parah terjadi di musim 2015/2016 lalu. Total ada delapan pergantian pelatih pada musim tersebut, gila? Namun hal itu biasa saja bagi orang anti mainstream seperti Zamparini. Di musim lalu, Palermo mengawali kompetisi dibawah pelatih Giuseppe Iachini, namun didepak pada November 2015 karena konflik dengan Zamparini.

Davide Ballardini masuk sebagai pengganti, namun performa Palermo justru merosot hingga Ballardini juga didepak pada Januari 2016. Tugas Ballardini untuk sementara dilanjutkan oleh pelatih teknik, Fabio Viviani. Dia akan menjadi caretaker guna mengisi kekosongan pelatih, sembari Palermo mencari pelatih yang baru.

Disinilah kontroversi kembali muncul. Untuk menggantikan Ballardini, Zamparini tunjuk mantan pemain timnas Argentina, Guillermo Barros Schelotto guna menjadi arsitek tim yang baru. Tetapi ternyata, Barros Schelotto dicekal oleh untuk melatih di Italia. Alasan UEFA, karena lisensi kepelatihan Barros Schelotto belum memenuhi kualifikasi untuk menjadi pelatih profesional di liga-liga Eropa semacam Serie A.

Tak kehilangan akal, Palermo menyiasati ini dengan mengembalikan Viviani (yang bertahan tidak sampai 2 minggu) ke posisi staf teknik dan menunjuk Giovanni Tedesco sebagai pelatih. Tedesco mempunyai lisensi UEFA, jadi dia bisa melatih tim Serie A. Barros Schelotto akan menjadi pelatih sesungguhnya meski “dari tribun” penonton.

Sedangkan Tedesco yang akan berada di area teknik pinggir lapangan, tapi sebagai pelatih formalitas saja. Hal ini dilakukan sambil menunggu upaya Palermo untuk mengurus perizinan Schelotto di birokrasi sepakbola Eropa yang memang sedikit banyak memakan waktu.

Lisensi ditolak UEFA, Barros Schelotto pun mengundurkan diri sebagai “pelatih” Palermo. Hal sama juga terjadi pada Giovanni Tedesco, namun kemudian dia ditarik ke posisi staf teknik Palermo. Barros Schelotto secara de facto melatih Palermo sejak 11 Januari hingga 10 Februari 2016. Begitu juga Tedesco yang secara de jure tercatat “melatih” Palermo pada saat yang sama. Entah kenapa bisa serumit ini manajemen Palermo dalam menunjuk pelatih.

Setelah kasus Schelotto, Zamparini menunjuk Giovanni Bosi, pelatih tim junior atau Primavera untuk menjadi pelatih tim inti. Tetapi dia hanya bertahan “satu laga” dan langsung dipecat setelahnya. Kekacauan Palermo masih berlanjut, Giuseppe Iachini yang kembali dengan menggantikan Bosi juga dipecat pada bulan Maret, hanya bertahan satu bulan.

Iachini digantikan Walter Novellino, namun hasil yang buruk kembali membuat Zamparini marah dan memecat Novellino pada April. Palermo kembali menunjuk mantan pelatihnya, Davide Ballardini senagai allenatore baru. Dia sukses mengamankan Palermo dari jeratan degradasi ke Serie B. Ballardini tetap melatih Palermo diawal 2016/217

Memasuki musim baru 2016/2017, ternyata Ballardini kembali dipecat. Penyebab dia dipecat adalah konflik dengan manajemen, terutama dengan Zamparini yang memang dimana sang patron ingin pelatih tunduk padanya. September 2016 setelah Ballardini pergi, Palermo menunjuk pelatih muda, Roberto De Zerbi sebagai nahkoda baru.

Namun lagi-lagi sumbu pendek Zamparini memakan korban. De Zerbi, yang semasa dulu pernah bermain di Napoli ini dipecat bulan November lalu. Hasil buruk menjadi preferensi kenapa De Zerbi dipecat dan diganti oleh Eugenio Corini. Corini menjadi orang ke 29 atau pelatih ke 38 kalinya semenjak Zamparini berkuasa di Palermo.

Apa yang dilakukan oleh Zamparini pantas disebut gila. Temperamen dalam diri Zamparini ikut berpengaruh dalam pengambilan keputusan klub, dan parahnya Palermo yang terkena imbas. Sebuah tim jadi tidak stabil dan terlebih psikologis pemain sedikit banyak terganggu akibat dari seringnya pelatih berganti.

Mister Zampa bahkan diberi julukan mangiallenatori atau pemakan pelatih oleh media di Italia. Julukan tersebut diberikan karena ulahnya yang sangat sering memecat pelatih jika tidak puas dengan hasil pertandingan atau tidak tunduk pada dirinya. Meski begitu beberapa pelatih seperti tidak kapok menjadi pelatih Palermo, walau pernah juga pada masa lalunya dipecat oleh Zamparini.

Francesco Guidolin, Giuseppe Iachini, Davide Ballardini, Delio Rossi, atau Stefano Colantuono mereka adalah contoh orang-orang yang pernah di-PHK oleh Zamparini, namun juga tidak kapok untuk melatih Palermo lagi. Guidolin bahkan empat kali merasakan pemecatan ala Zamparini.

Punya nama besar juga tidak berarti disegani oleh Zamparini. Legenda AC Milan dan Italia, Gennaro Gattuso yang memulai karir kepelatihan di Italia pertama kali dengan melatih Palermo, juga tidak bisa mengelak dari pemecatan oleh Zamparini. Gatusso bahkan tidak melatih hingga 2 bulan di Palermo.

Meski berada ditangan orang yang mudah naik pitam layaknya Zamparini, Palermo pernah beberapa kali menjadi perbincangan dari sisi “positif”. La Rosa pernah menyodok hingga ke zona Eropa, meski hanya Europa League. Selain itu dibawah Zamparini, Palermo beberapa kali sukses memoles pemain muda jadi pemain bintang.

Mulai dari pemain yang pernah memperkuat timnas Italia seperti Andrea Barzagli, Marco Amelia, Antonio Nocerino, Federico Balzaretti, Carvalho Amauri, Salvatore Sirigu hingga Franco Vazquez. Selain Italia, ada pemain timnas negara lain seperti Edinson Cavani (Uruguay), Simon Kjaer (Denmark), lalu dua pemain Argentina; Javier Pastore dan Paulo Dybala.

Palermo juga terkenal karena kepintaran mereka menemukan penyerang berpotensi besar, meski dari zona antah berantah yang jarang terekspos. Edinson Cavani (Danubio), Javier Pastore (Huracan), Franco Vazquez (Belgrano) dan Paulo Dybala dari Instituto Cordoba. Musim ini hal itu berlanjut dengan sosok Ilija Nestorovski, striker Makedonia yang dibeli dari klub Kroasia, Inter Zapresic.

Zamparini, sosok nomor satu di tubuh Palermo yang memang sangat temperamental, namun begitulah sepakbola. Dengan adanya karakter super unik layaknya Maurizio Zamparini maka sepakbola semakin menarik untuk dibicarakan, terutama sepakbola Italia. Tinggal kita tunggu saja Palermo hingga akhir musim ini, mau memecat berapa pelatih lagi, Pak Presiden?

Foto: calcio.web.eu

“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com