Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Advertisements

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

Tamparan untuk Brasil!

Maksud judul diatas bukanlah tamparan dalam arti sebenarnya atau perlakuan fisik seperti tamparan pada umumnya. Yang dimaksud penulis dengan “Tamparan untuk Brasil!” adalah wujud dari rasa kegelisahan, kekhawatiran dan sedikit emosi yang bercampur menjadi satu ketika melihat wajah persepakbolaan Brasil saat ini.

Tersingkirnya Brasil dari Copa America Centenario 2016 ini dengan tidak mampu lolos dari fase grup adalah titik kulminasi mengapa Brasil menjadi bahan untuk diulas kali ini. Brasil sekarang dalam kondisi krisis, Brasil sekarang bukanlah seperti yang dulu lagi.

Jika dulu dalam dunia sepakbola kita mengatakan “Brasil”, maka yang muncul dalam pikiran adalah nama besar para bintang, keindahan permainan, atau skill menawan pemainnya.

Melihat permainan Brasil ibarat seperti melihat orang sedang menari Samba di lapangan, tarian penuh keceriaan namun berwujud teknik olah bola indah di lapangan, wahhh pasti sangat enak ditonton.

Tetapi itu hanyalah masa lalu, sekarang Brasil tidak seperti itu lagi, keindahan permainan, skill hebat dan bahkan nama besar pemain bintang perlahan mulai hilang dari image Brasil saat ini, ada apa dengan negeri sepakbola ini? Mengapa ini bisa terjadi di negeri yang bahkan sepakbola disana dipuja-puja hampir seperti sebuah agama?

Memudarnya kehebatan sepakbola Brasil sangat terasa semenjak akhir tahun 2010-an, banyak faktor yang berpengaruh pada penurunan kualitas sepakbola Brasil dan tim nasional mereka pada khususnya.

Faktor pertama adalah mengenai ide permainan, Brasil dikenal karena filosofi Jogo Bonito atau yang berarti keindahan permainan, kegembiraan, kebebasan dan skill pemain.

Pola bermain ini sangat pas diterapkan, karena perlu kita ketahui pemain-pemain Brasil biasanya mempunyai teknik bagus dalam bermain bola, entah apapun posisi mereka, mulai dari penyerang, pemain tengah dan bahkan kiper sekalipun, jika dia itu adalah pemain yang berasal dari Brasil, pasti mempunyai kelebihan teknik tersendiri.

Deretan pemain depan dari berbagai generasi seperti Pele, Romario, Ronaldo, Rivaldo, dan saat ini Neymar; lalu gelandang hebat seperti Zico, Kaka, Ronaldinho; bek seperti Lucio, Cafu, Dani Alves, Marcelo, David Luiz; kiper seperti Taffarel, Dida, Julio Cesar hingga Rogerio Ceni yang jago tendangan bebas pun ada, betapa hebatnya pemain-pemain Brasil tersebut.

Juara Dunia lima kali (yang terbanyak di dunia) dan 8 juara Copa America direngkuh atas nama Brasil, betapa hebatnya sepakbola negeri yang terkenal dengan tari Samba-nya ini.

Dengan pemain-pemain hebat seperti itu wajar apabila Jogo Bonito dipilih menjadi gaya permainan Brasil, apalagi gaya permainan yang enak ditonton tersebut sesuai dengan kepribadian orang Brasil yang hangat, periang dan sangat bergairah terhadap sepakbola, sangat klop antara filososi permainan dan mentalitas kepribadian khas orang Brasil.

Suatu ketika, tim nasional Brasil datang ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman dengan status juara bertahan karena mereka yang juara di edisi sebelumnya pada 2002 di Korea-Jepang. Brasil 2006 diperkuat oleh pemain yang saat itu sedang hebat-hebatnya, mulai dari Ronaldo Lima, Adriano, Ronaldinho, Kaka, dan Robinho sehingga wajar mereka menjadi favorit utama untuk juara.

Dengan Jogo Bonito dan dilatih oleh pelatih kawakan, Carlos Albeto Parreira, mereka menatap turnamen terbesar dalam sepakbola tersebut dengan optimis, tetapi akhirnya apa daya mereka justru kalah dari Perancis di perempat final. Mereka kalah oleh gaya main Perancis yang tidak hanya mengandalkan skill pemain, tetapi juga kedisiplinan dalam bermain, seperti tim Eropa pada umumnya. Kontras dengan Brasil yang menyuguhkan kebebasan dalam permainan.

         Menyadari “kebebasan telah kalah dengan kedisplinan”, untuk menghadapi Copa America 2007 di Venezuela, Brasil menunjuk Carlos Dunga sebagai pelatih. Orang ini berbeda dari Carlos Parreira atau Scolari dalam hal gaya permainan, Dunga menyukai sepakbola disiplin ala Eropa, sepertinya CBF atau PSSI-nya Brasil menyadari betul bahwa sudah saatnya Brasil berevolusi dan mengikuti perkembangan sepakbola dunia.

Dunga akhirnya sukses dengan membawa Brasil juaramelalui permainan disiplin seperti gaya Eropa pada Copa America 2007, dan bahkan Brasil tidak segan bermain sangat hati-hati karena sering menggunakan serangan balik sebagai strategi utama, Brasil era Dunga terasa “sangat Eropa”.

Namun pemikiran ini justru berbuah menjadi blunder fatal bagi pesepakbolaan Brasil dan prestasi tim nasional mereka pada khusunya. Karena mereka melupakan jati diri mereka sendiri (Jogo Bonito, bermain dengan gairah, semangat, dan kebebasan) dan justru meniru gaya Eropa.

Hasilnya kita ketahui hingga gelaran Copa America terbaru ini mereka hanya mampu meraih tiga gelar, selain Copa America 2007, hanyalah Piala Konfederasi 2009 dan 2013. Dua piala ini tidak terlalu istimewa karena cuma merupakan test tournament sebelum Piala Dunia tahun berikutnya.

Selama dilatih Dunga dengan gaya Eropa-nya, permainan Brasil tidak enak dilihat dan monoton, padahal di Brazil pemain berteknik tinggi berjejal, namun itu disia-siakan Dunga. Contohnya jelas sekali dalam pemilihan pemain, pada Copa America 2007 dia meninggalkan Adriano, Ronaldinho, Ronaldo Lima dan bahkan Kaka.

Meski mampu menjadi juara dengan pemain medioker macam Vagner Love, Fred atau Elano, Dunga tetap mendapat kritik karena pemilihan pemain tersebut apalagi ditambah permainan Brasil yang statis. Pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, turnamen besar kedua Dunga pasca Copa America, lagi-lagi diapun membuat keputusan tidak populer dengan mengesampingkan duo pemain muda terbaik Brasil, Alexandre Pato dan Neymar.

Mengandalkan Luis Fabiano sebagai penyerang utama jelas tidaklah cukup, pemain yang saat itu bermain di Sevilla itu bukanlah bomber kelas atas dunia. Dengan permainan disiplin kaku dan serangan balik, Brasil pun tersingkir setelah kalah 1-2 dari Belanda di perempat final, palu pemecatan pun dilayangkan ke Dunga pasca kekalahan tersebut.

Setelah dalam rentang 2010-2014 permainan Brasil mulai terlihat kembali ke Jogo Bonito (era Mano Menezes dan Luis Scolari), Dunga datang lagi karena ketidakpuasan CBF akan jati diri sepakbola Brasil sendiri dan berusaha lagi dengan gaya Eropa yang dibawa Dunga.

Hasilnya justru semakin parah, selain keengganan Dunga memakai pemain bintang, pemain medioker yang dia bawa pun terbukti tidak pantas berada di tim utama Selecao. Nama-nama semacam Diego Tardelli, Everton Ribeiro, Elias, ataupun Jefferson pada Copa America 2015 dan Gabriel Barbosa, Lucas Lima, Alisson di Copa America 2016 tidak teruji di level atas dan wajar apabila Brasil gagal total di turnamen besar seperti Copa America.

Parahnya gaya disiplin ala Eropa dalam bermain sepertinya tidak hanya berjangkit di level tim nasional dan telah “menular” di Brasil, saat ini pun banyak klub lokal berusaha sekuat tenaga untuk membuat para pemainnya bermain dengan tingkat kedisiplinan seperti apa yang diterapkan di Eropa, disamping untuk memenuhi kriteria pemain yang akan dibeli oleh calon pembeli potensial yaitu klub Eropa itu sendiri.

Memang kedisiplinan bagus, karena mampu menjaga kesetabilan permainan akan tetapi hal ini justru malah mereduksi kebebasan pemain-pemain Brasil dalam berfantasi dengan tekniknya ketika sedang bermain.

Hal ini jelas mengurangi kekhasan pemain Brasil, yaitu teknik alami karena kebebasan dalam bermain yang selama ini melekat pada diri pemain-pemain dari Brasil jika klub disana secara terus-terusan menerapkan gaya Eropa dalam pembentukan gaya main para pemainnya.

Penurunan kualitas ini juga dipengaruhi oleh faktor dari diri pemain Brasil itu sendiri, banyak pemain Brasil jaman sekarang bermain hanya untuk mengejar uang saja, prestasi dan gelar juara bergengsi mulai dilupakan oleh mereka.

Sekarang tidak asing lagi kita temui pemain Brasil yang bahkan berlevel tim nasional utama bermain di liga kelas medioker seperti China ataupun Timur Tengah, mungkin ekonomi adalah alasan utama mereka namun sebenarnya hal ini bisa menurunkan kualitas tim nasional Brasil tersebut.

         Bayangkan saja untuk bersaing di turnamen sekelas Copa America, pemain yang dipanggil adalah pemain yang bermain di China dan Timur Tengah seperti Diego Tardelli dan Everton Ribeiro? Sudah tentu Brasil gagal total!.

Jangankan untuk bersaing dengan Argentina yang diperkuat Messi, Aguero, Higuain, dan Di Maria, Uruguay yang ditopang Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Godin atau Chile dengan Alexis Sanchez dan Vidal-nya yang menjadi andalan klub-klub besar Eropa yang sudah pasti bersaing di level tertinggi sepakbola.

Bersaing dengan tim seperti Paraguay atau Mexico saja belum tentu mampu jika pemain yang diandalkan adalah pemain medioker tersebut yang hanya beredar di kompetisi rendah seperti China dan Timur Tengah.

Jurang kualitas dan mentalitas yang terlalu jauh antara pemain tim nasional Brasil (sebagian tidak bermain di kompetisi level tertinggi) dengan pemain negara lain yang bertebaran sebagai andalan di berbagai klub besar dunia tentu berpengaruh dalam hasil yang dicapai di tim nasional, dan sudah terbukti saat ini.

Brasil pun saat ini kering pemain bertalenta hebat yang mampu dijadikan andalan, setelah kemunculan Neymar mungkin tidak ada lagi pemain yang benar-benar bisa dikategorikan dan berpotensi untuk menjadi pemain world class.

Meski banyak pemain muda Brasil yang punya “potensi” seperti Neymar, namun sepertinya hal itu akan susah digapai karena tren pemain Brasil saat ini yang justru lebih mengincar uang daripada bermain di klub besar dan merasakan persaingan tertinggi di level klub.

Apalagi di Amerika Selatan, klub-klub Brasil juga dikenal paling gemar membeli pemain dari negara lain seperti Argentina, Uruguay, Chile, Colombia dan negara Latin lain. Sehingga kesempatan pemain muda Brasil pun perlahan bisa berkurang untuk bermain di negeri sendiri, Neymar baru pun sudah pasti akan semakin susah ditemukan dimasa yang akan datang jika kondisi sepakbola Brasil seperti ini terus tanpa ada perubahan.

Saatnya Brasil berbenah, hasil di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Copa America 2011, 2015 dan 2016 hendaknya menjadi “tamparan” keras kepada seluruh elemen di pesepakbolaan Brasil bahwa dengan menghilangkan ciri khas mereka sendiri justru malah menghasilkan malapetaka untuk diri mereka sendiri.

Ingat, tim seperti Barcelona atau tim nasional Spanyol tetap mampu berprestasi karena satu hal; “percaya dan tetap pada ciri khas permainan sendiri entah apapun yang tejadi, tiki-taka”.

golazo dailymail.co.uk
Brasil amburadul di Copa America Centenario 2016.

Pele pun berpendapat sembari dengan perasaan yang iba, kesal dan kecewa ketika ditanya bahwa sepakbola Brasil sedang mengalami krisis identitas.

Sang legenda pun menyerukan perubahan besar dan ingin agar Brasil kembali ke Jogo Bonito karena tidak tega melihat kondisi sepakbola Brasil yang tengah terpuruk beberapa tahun ini, padahal semua orang di dunia tahu Brasil adalah negaranya sepakbola yang telah melegenda dari generasi ke generasi.

Berbenahlah Brasil, sampai kapan kamu begini? Apakah kamu harus menunggu tragedi Maracanazo atau Mineirazo terulang lagi untuk menyadarkanmu??

Foto: Dailymail.co.uk