Satu Yang Sempurna

Siapa tidak tahu Cristiano Ronaldo, nama pemain ini di internet bahkan menjadi kata yang paling banyak dicari di mesin pencarian ternama, Google. Peraih tiga Ballon D’Or, dan tiga trofi Liga Champions ini sedang menikmati masa dimana dia bisa disebut sempurna, sebagai pemain terbaik dunia.

Kenapa bisa disebut seperti itu? Karena Ronaldo baru saja menjuarai Euro 2016 bersama Portugal, memang bukan dirinya saja yang berperan terhadap kesuksesan Portugal itu, namun peran Ronaldo tetaplah vital dalam perjalanan Portugal menuju final Euro.

Dia menjadi penyelamat yang membuat Portugal lolos dari grup H dengan mencetak dua gol ke gawang Hungaria dan  satu gol-nya saat lawan Wales di semifinal juga penting karena mampu melepaskan beban pada kubu Portugal ketika melawan Wales.

Ronaldo yang sudah meraih segalanya di level klub bersama Real Madrid pun akhirnya bisa melengkapi koleksi gelarnya di level tim national, sempurna lah apabila dia sah disebut sebagai pemain terbaik dunia.

Banyak pemain hebat di dunia, namun jarang yang mampu meraih gelar baik itu di klub dan tim nasional. Karena pemain terbaik dunia adalah mereka yang dianugerahi trofi Ballon D’Or, maka pertanyaan yang timbul apakah penerima Ballon D’Or itu berprestasi di klub dan tim nasional?

Ternyata belum tentu. Untuk meraih Bola Emas memang tidak harus secara bersamaan punya prestasi di klub dan tim nasional, namun peraih Ballon D’Or atau Bola Emas ini setidaknya mampu berprestasi di klub dan tim nasional meski tidak secara bersamaan.

Ronaldinho dan Zidane adalah contohnya, dua pemain ini pernah meraih Ballon d’Or, Liga Champions di level klub dan Piala Dunia untuk tim nasional masing-masing. Zinedine Zidane, legenda sepakbola Perancis meraih Liga Champions (Madrid 2002), bersama Perancis sukses dengan Piala Dunia (1998) dan bahkan Piala Eropa (2000).

Zidane sendiri memenangi Ballon d’Or di tahun 1998 berkat performanya di Piala Dunia 1998 yang digelar di tanah kelahiran, Perancis. Ronaldinho pernah mengantarkan Brazil juara Piala Dunia 2002 Korea & Jepang, dan dia pun juara Liga Champions 2006 bersama Barcelona. Sementara Ballon d’Or diperoleh pemain yang terkenal penuh senyuman ini juga pada tahun 2006.

Maka tak heran sebutan pemain terbaik dunia benar-benar pantas disematkan untuk mereka, selain mampu memberikan gelar juara terbaik untuk klub, juga mampu melakukan hal yang sama untuk tim nasional negara-nya.

Dalam hal ini Cristiano Ronaldo sudah membuktikannya, pemenang Ballon d’Or tiga kali ini sudah meraih tiga trofi Liga Champions (satu bersama Manchester United dan dua bersama Real Madrid) dan baru saja meraih gelar juara pertama di level tim nasional ketika mengantar Portugal menjadi juara Euro 2016.

Maka sebutan pemain terbaik dunia, sempurna jika diberikan untuk Ronaldo dengan perolehannya selama ini. Hal ini bukan berarti merendahkan capaian pemain lain yang juga pernah meraih Ballon d’Or, tetapi karena mampu berprestasi di klub dan tim nasional merupakan bukti pemain tersebut ialah pemain spesial dan benar-benar “best player in the world”. Semoga saja Ronaldo mampu menjaga performanya dan terus menorehkan rekor, Vamos CR7!!

Foto dari independent.co.uk

Advertisements

Brexit Jilid 2.0

Brexit adalah istilah yang populer di Inggris dan Britania Raya untuk penamaan dari pihak yang ingin agar seluruh Britania Raya dan khususnya Inggris keluar dari Uni Eropa, penamaan ini “Brexit” adalah singkatan dari Britain Exit.

Singkatan ini berdengung di seantero Britania Raya manakala adanya peristiwa politik kenegaraan, yaitu referendum masyarakat Britania Raya untuk menentukan apakah Britania Raya tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar pada tanggal 23 Juni 2016 ini.

Hasilnya kita ketahui bersama, Brexit menang dan mengharuskan Britania Raya menyudahi hubungannya dan resmi keluar dari Uni Eropa. Mengejutkan sekali hasil yang didapat dalam referendum ini, dan menurut berbagai analisis dari pengamat politik internasional, Brexit bisa menimbulkan efek domino bagi negara-negara lain yang tergabung di Uni Eropa.

Namun tidak hanya sampai disitu, diluar urusan politik pun Britania Raya juga sedang dikejutkan dengan “Brexit Jilid 2” yang tak lain aktornya adalah tim nasional sepakbola Inggris.

Inggris sebagai pemimpin Britania Raya adalah negara paling dominan dalam persemakmuran Britania Raya, begitu juga dalam hal sepakbola Inggris sudah lama dikenal sebagai yang terbaik diantara negara-negara lain di Britania Raya.

Namun peristiwa tak menyenangkan terjadi dan kali ini ketika sepakbola Inggris sedang berjuang di Euro 2016 di Perancis. Mereka untuk kedua kalinya “keluar” dari Eropa, ya mereka  gugur di fase 16 besar dan gagal mencapai target awal yakni menjadi juara Euro. Mereka terdepak setelah secara mengejutkan dikalahkan oleh tim non-unggulan, Islandia dengan skor 1-2.

Padahal materi pemain antara Inggris vs Islandia jelas seperti langit dan bumi, Inggris diperkuat oleh pemain-pemain kelas atas di Premier League sedangkan Islandia hanya diperkuat oleh pemain biasa saja. Tersingkirnya Inggris dari Euro 2016 memunculkan kredo baru “Brexit Jilid 2” bagi kalangan pemerhati sepakbola diseluruh dunia, karena untuk kedua kalinya Inggris keluar dari zona Eropa (dalam hal ini adalah turnamen sepakbola antar negara se-Eropa atau Euro).

Pasti kekalahan ini membuat seluruh warga Inggris kecewa berat, apalagi tim nasional negara tetangga yang berada dibawah persemakmuran Britania, Wales berhasil melaju hingga perempat final dan sudah pasti hal ini membuat luka hati orang Inggris semakin dalam ketika persaingan antar dua tim ini sedang panas-panasnya namun justru harus melihat Inggris tersingkir dan Wales lebih hebat dari mereka.

Hasil ini semakin menegaskan bahwa sepakbola Inggris hanya bagus di level klub saja, prestasi tim nasional-nya kita tahu sendiri hanya pernah sekali juara turnamen besar, Piala Dunia 1966 dan itupun diselenggarakan di negara mereka sendiri.

Sebenarnya ada apa dengan Inggris? Padahal dari segi materi pemain mereka salah satu yang terbaik di dunia tetapi mengapa hasilnya selalu saja sama; mengecewakan. Kompetisi sepakbola mereka adalah yang terbaik di dunia, English Premier League menjadi pusat perhatian dunia dengan keberadaan pemain-pemain hebat-nya, tetapi mengapa prestasi tim nasional Inggris selalu saja begini? Jangankan menjuarai turnamen besar, lolos semifinal saja sepertinya sulit sekali mereka capai.

Banyak pengamat sepakbola mengatakan, problem tim nasional Inggris ada banyak, yang pertama adalah kurangnya pelatih berkualitas asli Inggris, karena kebanyakan tim di Liga Inggris juga menggunakan jasa pelatih asing.

Kedua karena banyaknya pemain asing di Liga sehingga menghambat perkembangan pemain muda lokal, memang sudah menjadi fakta sangat banyak sekali pemain asing di Liga Inggris.

Ketiga,ekspektasi yang sangat tinggi untuk selalu berprestasi di turnamen besar, memang demikian mengingat mereka bermaterikan pemain-pemain bintang, banyak yang berekspektasi seperti itu yang justru menjadi beban berat tersendiri tim nasional Inggris untuk menyuguhkan yang terbaik di panggung internasional.

Terakhir yang keempat adalah sentimen antar klub di Inggris yang berakibat pada ketidakkompakan pemain-pemainnya saat bermain bersama di tim nasional.

Dari segi pelatih memang sangat kurang, untuk mencari pelatih asli Inggris yang punya kualitas apalagi masih muda sangatlah sulit. Pengganti Roy Hodgson yang mundur pasca kalah dari Islandia pun sepertinya sudah tua, Alan Pardew.

Namun pengalaman melatihnya sangat minim berada di tim besar, mungkin akan lebih baik Harry Redknapp saja yang menjadi pengganti Hodgson meski juga sama tua dan berpengalaman, namun dia pernah berada di tim besar seperti Tottenham dan membawa mereka mentas di Liga Champions.

Kurangnya pelatih berkualitas sebenarnya pernah disiasati FA dengan mengontrak pelatih asing hebat seperti Sven-Goran Eriksson (Swedia) dan Fabio Capello (Italia), namun hasilnya sama saja.

Kalau melihat pemain asing sebagai faktor penghalang kemunculan pemain lokal berkualitas yang membuat tim nasional sulit berprestasi juga kurang tepat, FA telah mengakali banyaknya pemain asing dengan peraturan home-grown players yang membuat pemain lokal tetap punya tempat di Liga Inggris.

Ekspektasi yang besar sudah pasti menjadi beban bagi Inggris, namun tidak hanya Inggris saja yang punya beban itu. Negara lain yang punya tradisi hebat dalam sepakbola juga punya ekspektasi yang tidak kalah besarnya seperti; tim nasional Spanyol, Italia, Brasil, Jerman atau Argentina juga merasakan hal yang sama dengan Inggris ketika bermain di turnamen besar internasional, mereka dibebani untuk memperoleh prestasi setinggi-tingginya.

Faktor terakhir adalah sentimen antar klub, hal ini terjadi karena atmosfer sepakbola Inggris yang begitu bergelora. Hampir setiap kota meski itu adalah kota kecil pasti mempunyai klub sepakbola dan bahkan kadang lebih dari satu.

Atmosfer sepakbola disana begitu besar, no football no party, seluruh wilayah mempunyai tim andalan masing-masing dan tak heran ini membuat animo rakyat Inggris terhadap sepakbola begitu besar, namun dari sini muncul masalah yang berdampak besar skuad The Three Lions.

Orang Inggris fanatik terhadap sepakbola dan otomatis terhadap masing-masing klub kesukaannya, selain kepada tim nasional juga dan hal ini rupanya juga terjadi pada pemain-pemain di klub-klub tersebut, fanatisme mereka kepada klub sangat kuat.

Dengan atmosfer dan animo sepakbola yang tinggi membuat fanatisme terhadap klub tumbuh tidak hanya di lingkungan suporter saja tetapi juga merembet ke pemain dan memunculkan sentimen antar klub.

Maka tak heran di di Liga Inggris sering terjadi psy-war antar pemain, dan friksi di lapangan juga sering terjadi, biasanya hal ini muncul ketika pertandingan derbi satu kota atau antar klub yang mempunyai tradisi kuat dan saling bermusuhan.

Mantan pemain Manchester United dan tim nasional Inggris, Paul Scholes membenarkan bahwa ketidakmampuan Inggris berprestasi di level tim intenasional adalah salah satunya karena sentimen antar klub yang begitu kuat diantara pemain-pemain di tim nasional Inggris.

Dia menggambarkan seperti ini “ketika berada di tim nasional pasti semua pemain yang tergabung akan bekerja sama satu sama lain, namun sejatinya dalam hati tidak mungkin seorang Manchester mau bekerja sama dengan Scouse (Liverpool), begitu juga sebaliknya.

Hal ini juga berlaku bagi pemain-pemain lain dalam tim”. Terbongkar sudah rahasia kenapa Inggris selalu kandas dalam turnamen besar, tidak ada rasa persatuan antar pemain!.

Sentimen tersebut menjadi masalah akut bagi Inggris, mengingat pemain-pemain andalan mereka pasti mayoritas berada di klub besar yang sudah tentu saling menjadi rival. Jika sudah begini bagaimana solusinya? Mungkin kali ini, Inggris sebagai si “penemu sepakbola” harus belajar hal terkait sepakbola dari tempat lain untuk meredakan sentimentalitas antar pemain Inggris.

Mereka bisa belajar dari Spanyol, dulu disana Iker Casillas sebagai kapten tim nasional berani mengambil sikap untuk menjalin hubungan dekat dengan Carles Puyol dan Xavi Hernandez. Casillas melakukan itu guna meredakan sentimen el clasiso dan tidak membawa semua hal tentang itu ketika berada di tim nasional.

Hasilnya kita tahu, 2 gelar Piala Eropa dan satu Piala Dunia diraih Spanyol dalam rentang waktu 2008 hingga 2012. Sama seperti Inggris, pemain Spanyol juga sangat berkualitas namun tanpa adanya kompromi seperti itu rasanya sulit bagi mereka mampu meraih Piala Eropa dan Piala Dunia, karena sentimen antar pemain Spanyol juga sangat tinggi mengingat mayoritas diperkuat pemain Madrid dan Barcelona.

Melihat Inggris saat ini apakah mereka bisa mencontoh Spanyol? Sebenarnya bisa, apalagi Rooney sebagai kapten juga orang yang inklusif (bahkan dia berteman baik dengan Joe Hart, kiper City) dan terkesan mengesampingkan kepentingan klub demi tim nasional.

Namun kedepannya masih perlu pendekatan yang komprehensif dari sang skipper untuk menyatukan seluruh elemen dalam tim nasional Inggris, apalagi saat ini bukan hanya United dan City saja yang menyumbangkan pemain ke tim nasional, ada pula pemain dari Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham.

Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati dari orang yang berpengaruh di ruang ganti (kapten) untuk menurunkan ego dan sentimen klub yang dibawa dan berusaha merangkul untuk dekat semua yang ada didalam tim.

Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan Casillas juga harus ditiru Rooney atau kapten Inggris dimasa depan, karena ini lah salah satu cara jitu untuk menyatukan tim nasional; menjalin kedekatan dengan seluruh pemain meski mereka adalah rival di level klub.

Jika dalam hati sudah mau bersatu di tim nasional (meski saling bermusuhan di level klub), semua akan lebih mudah bagi Inggris, inilah cara yang harus dicoba ditengah kondisi atmosfer dan animo tinggi yang memang berujung pada sentimen antar klub. Segera mencoba Inggris, semoga beruntung di turnamen selanjutnya.

dailymail1-2 Iceland

Foto dari dailymail.co.uk

Image

Apakah Benar Belgia Pantas?

Juni 2009 mereka masih terpaku di posisi 71, akan tetapi saat ini Belgia secara mengejutkan menjadi tim teratas dalam ranking tim nasional yang dirilis FIFA berdasarkan tanggal 5 november 2015.

Pencapaian ini berkat performa stabil mereka selama menjalani kualifikasi Euro 2016, ditambah selama Piala Dunia 2014 mereka bermain baik.

Peringkat pertama dalam rangking FIFA adalah sejarah tersendiri yang sangat hebat bagi Belgia, apalagi mereka juga belum pernah memenangi gelar internasional, prestasi mereka pun belum secemerlang negeri sepakbola lain seperti Inggris, Argentina, Spanyol, Perancis atau Brazil. Jadi naiknya Belgia ke posisi puncak daftar rangking FIFA adalah suatu hal yang sangat menyita perhatian dunia sepakbola saat ini.

Jika ditelisik secara prestasi, naiknya Belgia memang bisa dipertanyakan, biasanya tim yang menjadi pemuncak daftar adalah tim yang baru saja menjuarai Piala Dunia atau Piala Eropa, masuk ke babak final, atau minimal stabil meraih prestasi tinggi di tiap kejuaraan internasional yang diikuti.

Meski belum pernah menjadi juara atau prestasi besar di ajang internasional akan tetapi secara kestabilan performa tim, Belgia memang sedang on form. Setelah sukses meraih posisi di perempat final Piala Dunia, keberhasilan mereka lolos ke Euro 2016 juga menjadi faktor yang membuat kenapa Belgia bisa naik ke peringkat satu tersebut.

Apalagi tim nasional Belgia memang sedang dalam “masa keemasan” dengan dihuni oleh pemain-pemain hebat bertalenta yang bermain di berbagai klub besar di Eropa.

Dulu kita memandang tim nasional Belgia hanya dengan sebelah mata, mereka bukanlah tim yang menjanjikan apalaga dikategorikan sebagai tim kuat di daratan Eropa. Pemain yang tenar pun sangat jarang, paling hanya duo Emile dan Mbo Mpenza (era 2000’an) dan itupun tidak terlalu cemerlang.

Bahkan sejak 2004 hingga 2012 mereka tidak pernah lolos ke Piala Eropa ataupun Piala Dunia, dan barulah pada 2014 mereka lolos ke ajang besar seperti Piala Dunia dan sukses mencapai babak perempat final.

Dari segi kualitas pemain, mereka jelas kalah dengan negara tetangga Belanda yang di setiap ajang internasional masuk dalam bursa kandidat juara. Namun itu dulu, saat ini Belgia lebih superior dibanding Belanda dari segi kualitas pemain dan itupun terbukti dengan lolosnya Belgia ke Euro 2016 Perancis, sedangkan Belanda harus terima nasib menonton tetangganya yang dulu inferior, namun sekarang lebih hebat dari mereka sendiri.

         Mulai dari sektor paling belakang, penjaga gawang Belgia saat ini dikuasai oleh Thibaut Courtois. Pemain yang menjadi andalan Chelsea ini memang masih muda akan tetapi kaya pengalaman. Dia pernah menjuarai Liga Spanyol, Copa del Rey, Liga Inggris dan bahkan pernah bermain di final Liga Champions.

Tentu dia adalah aset berharga bagi masa depan Chelsea dan Belgia. Courtois mendapat pesaing terkuat dalam diri Simon Mignolet, kiper nomor satu Liverpool. Dia juga bermain baik untuk The Kop, dan akan membuat Courtois selalu waspada dan menjaga konsistensi permainan demi tetap menjadi andalan di sektor vital ini.

Belum lagi masih ada nama kiper veteran Jean-Francois Gillet (dari Machelen) yang pernah malang melintang di Serie A dan terhitung masih mumpuni meski usianya sudah tidak lagi muda.

         Untuk lini belakang, Belgia dihuni bermacam bek berkualitas. Bek tengah dihuni pemain yang sangat kokoh, yaitu Vincent Kompany. Kapten Manchester City sekaligus kapten tim Belgia adalah batu karang dilini belakang yang akan membuat pemain lawan susah menembus pertahanan Belgia.

Selain Kompany ada sosok duo Tottenham Hotspurs, Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld yang bermain baik disana. Selain itu ada mantan kapten Arsenal yang kini berseragam Barcelona, Thomas Vermaelen, kualitasnya masih ada meski sering cedera beberapa musim akhir ini.

Belum lagi ada nama pemain Dedryck Boyata mantan pemain Manchester City yang sekarang bermain di Glasgow Celtic dan pemain muda Jason Denayer, yang kini bermain di Galatasaray.

Untuk pos bek kanan ada Louis Pedro Cavanda meski hanya bermain di Trabzonspor, dia pernah menjadi andalan Lazio, ditambah Anthony Vanden Borre (Anderlecht) dan Thomas Meunier (Club Brugge), belum lagi Alderweireld juga bisa dimainkan sebagai bek kanan. Untuk posisi bek kiri ada nama pemain West Bromwich Albion, Sebastien Pocognoli dan adik Romelu Lukaku, Jordan Lukaku (Oostende). Untuk bek kiri juga bisa memakai Vermaelen, Alderwiereld dan Vertonghen di posisi ini.

Lini tengah Belgia lah yang menjadi kunci bagaimana mereka bermain baik, disini berjejal pemain berkualitas yang membuat Marc Wilmots tidak kesulitan menerapkan strateginya. Mulai dari gelandang bertahan, ada nama gelandang keturunan Indonesia, Radja Nainggolan.

Gelandang berstamina kuda ini mempunyai tugas memotong aliran serangan lawan, namun dia juga dibekali kemampuan memberi umpan yang baik dan agresifitas tinggi, sehingga dia juga bisa bermain sebagai box-to-box midfielder.

Gelandang lain adalah Axel Witsel, naturalnya dia adalah gelandang sentral, namun dia dibekali kreatifitas yang baik sehingga mampu berperan sebagai ­deep-playmaker, sehingga wajar apabila pemain Zenit St. Petersburg diincar klub top Eropa seperti AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid.

Ada juga nama gelandang eksentrik Manchester United, Marouane Fellaini. Fisiknya yang menjulang dan versatilitasnya bermain di pos gelandang bertahan, gelandang tengah, gelandang serang dan bahkan menjadi striker sangat berguna bagi Belgia. Lalu ada nama Steven Defour, mantan pemain FC Porto yang kini berada di Anderlecht yang juga bisa dikedepankan sebagai pilihan di lini tengah.

Untuk posisi attacking midfielder dan winger, Belgia sangat beruntung karena pemain di posisi-posisi tersebut sangat berkualitas. Yang paling menjadi perhatian adalah Eden Hazard, dia lah yang menjadi “metronom” inti permainan The Red Devils, julukan Belgia.

Pemain dengan kualitas terbaik di tim nasional Belgia saat ini adalah Hazard, dengan kecepatan, eksplosifitas, dribble, passing, akselerasi dan kemampuannya mencetak gol, dialah pemimpin Belgia dari segi teknis permainan, apalagi dia bisa dipasang sebagai gelandang serang atau pun sayap.

Pemain yang kemampuannya mendekati Hazard adalah Kevin De Bruyne, teknik dia bagus apalagi dia tipe gelandang serang yang mampu mengkreasi peluang dengan passing akuratnya, sehingga pemain Manchester City ini juga merupakan bagian penting bagi Belgia.

Lalu ada nama Moussa Dembele dari Tottenham yang bisa bermain disemua posisi lini tengah hingga lini depan yang tentu sangat menguntungkan bagi Marc Wilmots. Selain itu ada nama sayap-sayap eksplosif lain seperti Yannick Ferreira-Carrasco (Atletico Madrid), Kevin Mirallas (Everton), Nacer Chadli (Tottenham), Dries Martens (Napoli), tiga youngster; Adnan Januzaj (Manchester United), Youri Tielemans dan Dennis Praet (Anderlecht) yang bisa diandalkan sebagai sayap dan gelandang serang.

Posisi penggedor gawang lawan juga dahsyat, ada duo ujung tombak Merseyside; Romelu Lukaku dan Christian Benteke. Mereka berdua adalah penyerang yang bertubuh besar dan jago dalam duel udara.

Mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi pilihan utama di tim nasional Belgia, apalagi mereka membela dua kubu yang berseberangan dan menjadi rival abadi, Lukaku di Everton dan Benteke di Liverpool.

Jadilah persaingan mereka untuk merebut posisi sebagai striker utama Belgia akan semakin panas karena mereka juga membela klub yang saling bermusuhan satu sama lain. Untuk opsi lain di lini depan ada nama Divock Origi (Liverpool), namun dia tidak terlalu menonjol dan hanya menjadi pelapis di Liverpool. Selain itu, pos depan juga bisa diisi oleh Marouane Fellaini atau Mousa Dembele, yang mempunyai versatilitas tinggi.

Membludaknya talenta hebat di tim nasional Belgia juga tak bisa dilepaskan dari peran klub-klub Liga Belanda.

Memang wajar apabila banyak klub Belanda mengambil pemain muda dari Belgia, mengingat dua negara itu bersebelahan dan orang-orang Belgia juga bisa berbahasa Belanda, sehingga adaptasi bisa lebih cepat karena kultur dua negara itu pun tidak jauh berbeda.

Akan tetapi ini menjadi blunder bagi sepakbola Belanda itu sendiri, apalagi ketika pemain-pemain Belgia mampu menunjukkan penampilan yang memikat dan dibeli klub besar Eropa.

Contohnya adalah Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, Thomas Vermaelen, Nacer Chadli, Mousa Dembele, dan Dries Martens, nama mereka diminati klub besar Eropa sejak menapaki karir di Belanda.

 Sehingga kualitas tim nasional Belgia akan naik meski Liga di Belgia itu sendiri tidak terlalu bagus dibanding Eredivisie.

Artinya klub-klub Belanda seperti Ajax, PSV, Twente dan Feyenoord justru berperan dalam peningkatan kualitas tim nasional Belgia dengan banyak mengambil pemain dari negara tetangga mereka tersebut dan popularitas Belgia sebagai negeri penghasil pemain muda berkualitas pun semakin terdongkrak.

Dengan semakin terkenalnya Belgia sebagai negeri pemain muda berkualitas, membuat klub-klub Eropa juga tak jarang untuk langsung mengarahkan pandangannya ke Liga Belgia tanpa harus melalui Liga Belanda, sehingga saat ini banyak juga pemain muda dari Liga Belgia yang direkrut oleh klub-klub Eropa.

Seperti perpindahan Courtois, Fellaini, Witsel, Hazard dan De Bryune yang langsung menuju klub besar Eropa tanpa bermain di Belanda terlebih dahulu.

Sebuah ironi, disaat tim nasional Belgia berprestasi karena ada faktor “bantuan” klub-klub Belanda, tim nasional Belanda sendiri malah mengalami penurunan kualitas, karena pemain-pemainnya yang tidak terlalu kompetitif dan sebagian besar tidak bermain di klub besar Eropa (sudah dibahas di artikel sebelumnya, lihat juga artikel “Dutchman yang “Tenggelam”) dan prestasi Belgia tentu adalah kesegaran tersendiri bagi pecinta sepakbola.

Munculnya tim “baru” yang berkualitas ditataran sepakbola Eropa akan membuat persaingan di Euro 2016 nanti semakin menarik.

Belgia saat ini sedang dalam masa terkuatnya dengan dihuni berbagai pemain andalan di klub-klub besar Eropa, karena memang benar bahwa Belgia sedang dalam masa “keemasan”, mari kita tunggu gebrakan apa yang akan mereka buat di Euro nanti, masuk semifinal? Final? Ataukah mampu menjadi juara? Patut kita saksikan dengan seksama aksi Hazard dan kawan-kawan di Euro 2016 nanti.

Foto dari isportimes.com

Dutchman yang “Tenggelam” Menuju Prancis

Siapa yang tidak tahu akan kehebatan “The Flying Dutchman”?, cerita legendaris tentang kapal laut yang melegenda di seantero benua Eropa sebagai kapal penguasa lautan, dan julukan inilah yang disematkan kepada tim nasional sepakbola Belanda, disamping julukan De Oranje.

Julukan The Flying Dutchmen pantas diberikan kepada Belanda, selain karena kehebatan orang-orangnya dalam mengarungi lautan, dalam hal sepakbola kehebatan Belanda juga sudah menjadi rahasia umum, apalagi jika melihat rekam jejak tim nasional-nya.

Dahulu kala tim nasional Belanda begitu disegani di level dunia, kemunculan gaya permainan Totaal Voetbal karya pelatih legendaris, Rinus Michels dan Johan Cruyff sebagai playmaker-nya di era 70’an sukses dengan menjadi finalis Piala Dunia 1974. Lalu di era 80’an ada trio pemain AC Milan (yang juga berjaya dilevel klub); Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang sukses memberikan gelar juara Piala Eropa 1988 kepada Belanda.

Pada masa 90’an berlanjut dengan kemunculan “generasi” Ajax Amsterdam seperti Edwin Van Der Sar, Clarence Seedorf, Marc Overmars, Phillip Cocu, Frank dan Ronald De Boer, Patrick Kluivert, dan Edgar Davids, lalu berlanjut di era dekade 2000’an dengan pemain-pemain tenar seperti Givanni Van Bronckhorst, Arjen Robben, Mark Van Bommel, Wesley Sneijder, dan Robin Van Persie yang sukses dengan gelar runner-up di Piala Dunia 2010.

Belanda juga terkenal sebagai negeri sepakbola bagi para pemain muda meski liga tertinggi di negara tersebut yaitu Eredevisie, bukan termasuk liga terbaik di Eropa.

Meski begitu talenta muda tiada hentinya lahir di negeri kincir angin tersebut, mulai dari kiper handal seperti Edwin Van Der Sar, bek tangguh Jaap Stam, gelandang yang kokoh seperti Nigel De Jong, gelandang kreatif Rafael Van Der Vaart, bahkan striker tajam seperti Ruud Van Nistelrooy.

Belanda seperti tidak pernah kehabisan stok pemain bagi tim nasional-nya, apalagi pemain Belanda terkenal adaptif dengan berbagai macam bentuk permainan sehingga kran transfer pemain dari Belanda ke klub-klub diluar Belanda pun terus saja terjadi disetiap jendela bursa transfer dibuka.

Disetiap ajang turnamen internasional, baik di level benua maupun dunia, Belanda selalu masuk dalam kontender calon kuat juara, tak terkecuali di Euro 2016 Perancis yang akan datang.

Dengan modal sebagai peringkat ketiga di World Cup 2014 dan berada di Grup A dengan “hanya” menghadapi tantangan paling berat dari Turki dan Republik Ceko, banyak kalangan menganggap Belanda akan melaju mulus di kualifikasi dan juga menjagokan Belanda akan berbuat banyak di Euro 2016 nanti.

Namun jauh panggang dari api, yang terjadi justru sebaliknya, Belanda gagal lolos dari grup dengan hanya mampu finis di posisi 4 dan tidak akan ikut serta dalam Euro 2016!!!.

Sungguh ibarat sebuah “obituari” bagi penggemar De Oranje maupun orang yang mendambakan persaingan ketat di Euro 2016 Perancis nanti.

Akan tetapi sebenarnya tanda-tanda kerapuhan Belanda sudah terlihat sejak dikalahkan Islandia 0-1 di kandang sendiri, lalu ditambah dengan hasil buruk kalah 3-0 dari Turki dan 2-3 dari Republik Ceko di akhir-akhir jadwal kalifikasi membuat mimpi pasukan pelatih Danny Blind harus dikubur total.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Belanda? Apakah permainan mereka itu buruk? Atau regenerasi yang tak berjalan dengan baik? Tentu ini terasa aneh, Belanda adalah pemilik gaya permainan totaal voetbal, lalu mereka juga terkenal dengan bakat-bakat pemain mudanya yang tak pernah habis.

Anomali terjadi jelang akhir kualifikasi mereka seperti kehabisan nafas, disamping peningkatan kualitas tim para pesaing di grup, sebenarnya mereka tak bergitu buruk selama kualifikasi, hanya saja ada satu hal yang kurang dalam skuad arahan Danny Blind yang mungkin ini faktor penting berpengaruh menjelang akhir sebuah kompetisi seperti kualifikasi Euro 2016 yang tentunya banyak tekanan.

Faktor itu adalah mentalitas pemain dalam skuad tim nasional Belanda. Memang soal regenerasi tak perlu disangkal, melimpahnya stok pemain bertalenta membuat siapapun pelatih Belanda tidak akan bingung dalam membentuk skuad yang bagus, akan tetapi mental pemain adalah faktor yang “tak kalah” penting disamping faktor teknik dan bakat pemain.

Mentalitas pemain akan teruji apabila para pemain tersebut sering bermain dalam pertandingan penting dan bertensi tinggi ataupun bermain untuk tim besar yang penuh tekanan.

Apabila para pemain terbiasa menghadapi pertandingan penting bertensi tinggi atau berada di klub besar dan mereka mampu bermain baik, tentu hal itu akan berdampak baik di waktu yang akan datang, mental mereka akan terbiasa ketika menghadapi tekanan besar di pertandingan-pertandingan selanjutnya dan bermain dengan baik.

Faktor mentalitas inilah yang kurang dalam timnas Belanda, mulai dari sektor penjaga gawang. Kiper utama saat ini Jasper Cillessen tidaklah bermain di tim besar Eropa karena hanya bermain bagi Ajax Amsterdam, meski Ajax pernah juara Liga Champions, namun saat ini Ajax hanyalah sebuah tim yang jago di kancah lokal Belanda, begitu juga dengan kiper kedua, Tim Krul yang hanya bermain bagi tim papan tengah Liga Inggris, Newcastle.

Lanjut ke lini belakang, diposisi bek kanan ada Gregory van der Wiel yang bermain baik di World Cup 2010 dan kemudian dibeli Paris Saint-Germain dari Ajax, namun sekarang dia hanya menjadi penghangat bangku cadangan karena kalah bersaing dengan Serge Aurier. Bek kanan lain, Daryl Janmaat hanya bermain untuk Newcastle.

Lalu untuk posisi bek sentral ada nama Bruno Martins Indi yang sangat menjanjikan di FC Porto, namun Porto bukanlah tim jagoan di benua biru meski dulu pernah menjuarai Liga Champions.

Ada juga nama Stefan De Vrij, bek tengah Lazio tetapi jangankan bersinar di kancah Eropa, di Italia saja Lazio bukan unggulan juara Serie-A. Ada juga nama bek Southampton, Virgil van Dijk namun Southampton pun hanya klub menengah di arena Premier League.

Mungkin sektor bek kiri lah yang dapat dikatakan mumpuni untuk lini belakang, ada Daley Blind anak dari Danny Blind, yang bermain bagus di Manchester United.

Ditambah keberadaan Louis van Gaal, sepertinya posisi dia di Manchester United aman untuk beberapa tahun kedepan, namun di tim nasional Belanda, sektor bek kiri hanya dilapisi oleh Jetro Willems dari PSV Eindhoven ataupun bek kiri Ajax, Jairo Riedewald. Tentu sangat riskan apabila Blind cedera atau terkena skorsing, lubang yang ditinggalkan akan sangat terbuka.

Blind Euro mirror
Blind, seperti arti namanya dalam bahasa Inggris. Dia tidak dapat melihat kemana kapal Flying Dutchman harus disandarkan.

Lini tengah Belanda mempunyai segudang pemain bagus namun mereka sedang tidak dalam performa terbaik, entah faktor cedera, permainan klubnya yang buruk ataupun kualitas tim yang tidak terlalu baik.

Posisi gelandang bertahan ada nama Nigel de Jong, jangkar pekerja keras ini adalah karang bagi pemain lawan, namun flop-nya performa AC Milan juga berpengaruh bagi kualitas De Jong tak sebagus dulu, cadangannya Vurnon Anita dari Newcastle dan dan Leroy Fer dari Queens Park Rangers tak sepadan dengan kemampuan De Jong.

Untuk posisi central midfielder, sebenarnya asa muncul pada diri Kevin Strootman, sempat bermain bagus bagi AS Roma, namun cedera panjang menghambat karirnya, lalu ada juga nama talenta muda Marco van Ginkel, ketika baru bergabung ke Chelsea dia sempat menunjukkan prospek cerah sebagai gelandang hebat di masa depan.

Namun sama dengan Strootman, cedera panjang membuat dia kesulitan kembali ke bentuk performa terbaiknya dan saat ini hanya bermain di Stoke City, selain itu ada nama Jonathan De Guzman dan Jordie Clasie, namun mereka berdua hanya pemain cadangan; yang satu Napoli dan satunya di Southampton.

Sektor gelandang serang atau playmaker masih ada gelandang kreatif berkualitas tinggi, Wesley Sneijder namun meski bermain baik bagi Galatasaray, usia yang menua tentu sedikit banyak mengurangi kualitas dan pengaruhnya bagi permainan tim nasional Belanda.

Pelapisnya ada kapten Ajax saat ini, Davy Klaassen akantetapi performanya di tim nasional belum mencapai performa terbaiknya seperti di Ajax. Sebenarnya sebelum kemunculan Klaassen, ada nama kapten Ajax sebelum Klaassen dan Niklas Moisander yang juga berposisi sebagai playmaker, yaitu Siem De Jong, namun pemain yang kini main di Newcastle United ini tenggelam karena cedera parah yang pernah dialaminya.

Untuk posisi lini depan, tenaga Arjen Robben masih “ada” namun sudah tidak maksimal mengingat di Bayern Munchen dia juga sudah tidak lagi menjadi prioritas sebagai winger utama.

Harapan publik Belanda ada pada pundak Memphis Depay, dengan bermain di Manchester United dan menjadi bintang disana tentu hal ini akan mengkikis secara perlahan dambaan mereka pada aksi Robben, namun performanya sampai saat ini masih jauh dari ekspektasi.

Nama-nama seperti Luciano Narsingh (PSV) atau Jeremain Lens dari Sunderland tidaklah cukup mumpuni, adapun Giorginio Wijnaldum di Newecastle yang alaminya sebagai pemain sayap malah dimainkan sebagai central midfielder.

Untuk posisi penyerang tengah keberadaan Robin van Persie sudah seharusnya digantikan, apalagi dia hanya pemain cadangan di Fenerbahce.

Nama lain adalah Klaas Jan Huntelaar yang sudah tak setajam dahulu lagi di Schalke, ataupun Bas Dost yang musim lalu rajin cetak gol bagi Wolfsburg namun kurang diberi kesempatan oleh Danny Blind.

Keberadaan striker lain seperti Eljero Elia (PSV) yang dulu sempat gagal total di Juventus ataupun youngster Ajax, Anwar el Ghazi juga sangatlah kurang bagi Belanda jika ingin berbicara banyak di level internasional seperti Euro.

Faktor mentalitas pemain begitu penting dan hal itulah yang harus dicontoh Belanda dari Spanyol. Spanyol saat ini seperti Belanda, melimpahnya stok pemain bagus membuat siapapun pelatih Spanyol girang namun disini ada faktor pembedanya.

Vicente Del Bosque tidak begitu sering mengutak-atik kompisisi tim nasional Spanyol dengan pemain yang sedang on form. Dia memang tetap memanggil pemain yang sedang dalam performa bagus, entah itu di tim besar ataupun di tim semenjana, namun siapa yang bermain di lapangan adalah mayoritas mereka yang sudah lama berada di timnas.

Del Bosque akan tetap memainkan Sergio Ramos, Cesc Fabregas, ataupun David Silva meski hanya menghadapi Finlandia. Spanyol baru memasukkan pemain “baru” seperti Paco Alcacer, Alvaro Morata, ataupun Mario Gaspar bila memang sudah “saatnya” dan itupun tidak merubah total komposisi pemain karena hanya sebagian kecil yang berubah.

     Mentalitas pemain yang baik membuat regenerasi dan performa timnas Spanyol berjalan dalam keseimbangan, sebagai contoh performa bagus Santi Cazorla selama membela Malaga pun tak serta merta membuatnya menjadi pemain inti di timnas, Del Bosque menilai Santi tidak hanya berdasarkan grafik permainan sesaat, barulah setelah menunjukkan kenaikkan dan konsistensi performa saat pindah ke Arsenal, dia mulai menjadi andalan di La Furia Roja.

Artinya kepantasan seorang pemain menjadi andalan di tim nasional tidak diukur dari performa saja, melainkan konsistensi seorang pemain menjaga performanya hingga akhirnya layak disebut sebagai pemain berkelas dan sudah pasti bermental juara.

Konsistensi menjaga performa turut berpengaruh pada mental para pemain tersebut, kepercayaan diri pemain akan terdongkrak, karena menjadi pemain penting di klub dan sering berlaga dalam game yang penuh tekanan, apalagi jika berada di tim besar mental pemain tersebut semakin kokoh dengan tekanan-tekanan yang ada andai tetap mampu menjaga konsistensi permainan.

Hal inilah yang tidak ada pada Belanda dan yang membedakan dengan Spanyol, masalah inkonsistensi performa pemain bintang di klub, pemain andalan tim nasional yang hanya berada di klub menengah, sampai kegemaran Danny Blind merubah-rubah susunan pemain dengan para “debutan” yang performa-nya terkadang masih angin-anginan membuat permainan mereka justru menurun menjelang akhir kualifikasi.

Pemain dengan performa bagus selalu dicoba oleh Blind, namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa pemain berkelas itu berbeda dengan pemain yang hanya “sedang”dalam performa bagus, rata-rata pemain yang dipakai Blind baru menjadi andalan di klub musim ini atau setahun dua tahun lalu, itu membuat mentalitas pemain kurang teruji dalam laga-laga besar dan krusial.

Padahal keteguhan dan kuatnya mental pemain dibutuhkan disaat-saat genting seperti akhir kualifikasi yang sangat menentukan nasib dan mental kuat inilah yang tidak ada pada pasukan Belanda. Hasilnya adalah pukulan telak bagi “The Flying Dutchman” yang harus menerima nasib menjadi “The Sinking (tenggelam) Dutchmen”.

Sungguh sebuah ironi, melihat tim yang kaya akan pemain bertalenta dan sejarah sepakbola-nya yang begitu mahsyur, dipecundangi oleh tim yang dikatakan kelas dua seperti Turki, Ceko maupun Islandia. Dan akhirnya kegagalan Belanda ini mengingatkan kita pada istilah populer dalam dunia sepakbola bahwa “form is temporary, but class is permanent”.

Foto dari mirror.co.uk