Conte yang Dibayangi Ancaman Deja Vu

Chelsea musim 2016-17 adalah jawara Premier League. Puja dan puji dialamatkan untuk Antonio Conte, selaku juru taktik The Blues. Meski sempat tersendat dengan formasi 4-2-3-1, Conte menyulap Chelsea menjadi tim pemenang pasca merubah formasi. Taktik racikan Conte membawa kenyamanan dalam ritme permainan tim semenjak beralih ke formasi tiga bek; 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Disamping taktik, kesuksesan Chelsea juga berkat faktor teknis pemain di lapangan. Conte melakukan pembelian cerdas, N’golo Kante adalah holding midfielder terbaik dunia saat ini. Dia melindungi pertahanan dengan baik dan idem ditto ketika mengalirkan bola. Permainan apik dari Kante itu menuntunnya pada gelar pemain terbaik versi PFA, FWA dan Liga.

Dibawah rezim Antonio Conte, Eden Hazard kembali menjadi sesuatu yang “Hazardous” bagi lawan. Hazard mengkreasi 79 key passes dan lima asis. Performa Hazard meningkat, seakan menuju ke level permainan terbaiknya di dua musim silam. Sementara itu si tukang pukul Diego Costa, menjadi lebih jinak dan kalem dibawah kendali Conte, meski tanpa menghilangkan keberingasannya didepan gawang. Costa cetak 20 gol di Premier league.

Conte tak lupa menciptakan kejutan, yakni dua outsider yang menjadi pilar inti. Marcos Alonso yang awalanya dikritik terlalu lamban dan tidak istimewa, menjadi bek sayap kiri yang begitu menjanjikan. Yang paling tidak disangka tentu bangkitnya Victor Moses. Mantan pemain Wigan yang sebelumnya tak punya kejelasan nasib, mendadak diandalkan sebagai bek sayap kanan. Alonso dan Moses membuat kedua sayap Chelsea hidup, serta seimbang dalam menyerang dan bertahan.

Di belakang, inovasi brilian Conte adalah menggeser Cesar Azpillicueta menjadi bek tengah sebelah kanan dan terbukti permainannya begitu solid. Pemain Spanyol ini sangat diandalkan di lini belakang, dia menyapu bersih seluruh gameweek dan tampil penuh di setiap laga.

Kemudian, Conte sukses “mendewasakan” permainan David Luiz, yang sebenarnya merupakan pembelian agak mengejutkan diawal musim. Selain mendekati uzur, gaya main Luiz juga bisa membuat jantung berdebar bagi fans Chelsea dimanapun.

Dengan bakat Brasil yang mengalir, bukan kendala bagi Luiz untuk bermain stylish meski berposisi bek tengah. Dia tipikal pemain yang berani berlama-lama dengan bola, meski disisi lain itu juga bisa beresiko tinggi bagi pertahanan timnya sendiri. Saat ini memang terkadang Luiz masih membawa bola terlalu lama, namun dibawah Conte, dirinya sedikit berubah. Pria kribo itu tidak lagi gampang blunder serta bermain lebih disiplin, daripada David Luiz yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, Conte jeli memanfaatkan potensi-potensi pemain dari bangku cadangan, meski sebenarnya mereka ini pemain bereputasi besar. Cesc Fabregas memang kalah bersaing dengan N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Meski tidak selalu dimainkan sejak menit pertama, jebolan La Masia ini beberapa kali menjadi pemecah kebutuntuan. 10 asis-nya adalah catatan tertinggi diantar pemain Chelsea lain di liga.

Begitu juga Willian yang harus menjadi back-up bagi Pedro serta Michy Batshuayi, striker 40 juta euro yang menjadi penghangat bangku cadangan. Meski begitu, baik Willian dan Batshuayi tetap punya kontribusi untuk Chelsea. Willian mengemas 8 gol musim ini meski berstatus pemain cadangan. Batshuayi jarang bikin gol, karena toh jarang pula diturunkan. Tetapi golnya di laga melawan West Brom, pekan 37 termasuk vital karena mengunci gelar Premier League untuk Chelsea.

Tetapi yang sedikit mengherankan, kecemerlangan Chelsea bersama Conte musim 2016/17 lalu, tak serta membuat klub yang bermarkas di Stamford Bridge ini kembali dijagokan back to back menjuarai Premier League. Lihatlah kenyataannya beberapa rumah taruhan justru menjagokan Manchester City, yang yang lebih berpeluang besar untuk juara musim 2017/18 nanti, daripada Chelsea.

Kebetulan yang sempurna, Manchester City memang menjadi tim besar Inggris dengan gerakan tercepat untuk urusan transfer. The Citizens saat ini telah resmi mengumumkan akuisisi beberapa pemain muda menjanjikan seperti Bernardo Silva (Monaco) dan Ederson Moraes (Benfica). Selain itu City juga dirumorkan mengincar nama-nama beken lain seperti Leonardo Bonucci, Virgil Van Dijk, Kyle Walker dan Benjamin Mendy.

The Citizens akan belanja besar-besaran demi merombak kerangka tim seperti yang diingikan oleh Pep Guardiola. Dengan komposisi tim yang sesuai pikiran mantan pelatih Barca itu, serta Guardiola sendiri pun sudah punya cukup waktu beradaptasi dengan sepakbola Inggris, inilah yang membuat City diunggulkan oleh banyak pihak.

Disisi lain, salah satu alasan kenapa Chelsea tidak diunggulkan menjuarai liga musim depan, selain karena geliat Manchester City, juga karena bongkar pasang skuad musim ini.

Akibat dari geliat City dan aktivitas transfer mereka sendiri yang cenderung sedang, Chelsea beserta pelatih Conte harus pula waspada dengan ancaman-ancaman deja vu setelah menjuarai Premier League.

* Penurunan performa, semusim pasca juara

Deja Vu pertama yakni, manakala juara Premier League justru langsung babak belur begitu musim berganti. Fenomena ini muncul dalam dua musim belakang. Chelsea yang menjadi juara Premier League musim 2014/15, secara mengejutkan berubah layaknya tim medioker di musim 2015/16. Saat itu ditengarai konflik Mou versus dokter medis Chelsea, Eva Carniero yang menjadi pemicu awal terganggunya konsentrasi para pemain.

Terlebih hobi Mourinho bermain psy-war dengan manajer lain dan gemar mengkritik pemain-pemainnya sendiri, serasa membuat sorotan tajam selalu terarah ke Chelsea saat itu hingga pemain tak mampu jaga konsentrasi. Mereka terlempar dari persaingan juara dan bahkan sempat berada di papan bawah musim itu. Di arena lain seperti Liga Champions, FA Cup dan League Cup, nasib mereka setali tiga uang.

Kemudian, klub kedua yang menurun drastis pasca juara adalah Leicester City. Memang banyak yang memprediksikan performa mereka di 2016/17, tidak akan segalak ketika berhasil juara (2015/16). Tetapi terjembab di papan bawah juga tidak masuk ekspektasi banyak pengamat sebelumnya.

Penjualan N’golo Kante disebut menjadi biang keladi penyebab penampilan Leicester memburuk. Ketika performa tim menurun, pelatih menjadi orang paling bertanggung jawab dan Claudio Ranieri merasakan hal itu (dipecat), meski banyak pihak menyayangkan pemecatan ini.

* Pelatih Italia yang dipecat, semusim pasca juara

Deja vu bentuk kedua yakni seolah muncul tradisi bahwa pelatih asal Italia yang berhasil membawa timnya juara Premier League, akan terkena PHK musim selanjutya. Hal ini sudah dimulai dari era Carlo Ancelotti, yang kini sedang menangani raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Don Carletto yang dikontrak Chelsea pada musim 2009/10, langsung juara Premier League dan FA Cup di musim perdana itu juga. Dia adalah orang Italia pertama yang sukses menjuarai liga Inggris. Musim selanjutnya, 2010/11, ekspektasi tinggi menggelayuti Chelsea untuk bisa lebih berprestasi, termasuk di Eropa. Sialnya, Ancelotti gagal mempertahankan gelar Premier League dan mereka juga gugur di perempat final Liga Champions. Ancelotti pun disingkirkan Abramovich pada Mei 2011.

Roberto Mancini, yang memanajeri Manchester City sejak 2009, berperan besar atas kisah dramatis klub itu juara Premier League 2011/12. Tetapi mantan pelatih Inter ini juga tidak luput dari pemecatan satu musim kemudian, 2012/13. Beberapa faktor seperti jeblok di Liga Champions serta gagal mempertahankan gelar liga, disinyalir menjadi penyebab kenapa Mancio ditendang oleh manajemen The Citizens.

Italiano ketiga yang didepak semusim pasca juara liga, siapa lagi kalau bukan Claudio Ranieri. Mantan pelatih Valencia ini sebelumnya berhasil menggoreskan sejarah bak cerita dongeng yang legendaris. Claudio membawa tim antah-berantah, Leicester City menjuarai Premier League musim 2015/16. Pujian mengalir begitu deras untuk dirinya. Claudio bahkan dianugerahi Ordo Merit oleh pemerintah Italia, atas jasanya mengharumkan nama negeri itu dibelantika sepakbola.

Musim 2016/17, Ranieri di bebas tugaskan secara resmi oleh Leicester pada 2 Februari 2017, walaupun pada bulan Januari sebelumnya mendapat gelar FIFA Best Men’s Coach. Ranieri didepak atas penurunan performa secara drastis The Foxes di liga. Kekalahan di 16-besar Liga Champions leg pertama melawan Sevilla, seakan hanya jadi penegas hantaman “godam” pemecatan bagi Ranieri.

* Musim Mourinho

Antonio Conte sendiri mengatakan tidak ingin merasakan deja vu “musim Mourinho”, yang ia anaolgikan sendiri sebagai penurunan tajam performa setelah juara. Apakah ia sendiri merasa khawatir kejadian yang menimpa Mourinho di musim terakhirnya bersama Chelsea akan menjangkitinya juga?

Kalau dilihat dari awal musim, kejadian itu bisa jadi akan terulang. Mereka kalah di ajang Community Shield 2017 dari Arsenal, yang dipandang sebagai tanda-tanda awal menurunnya performa Chelsea.

Mourinho juga merasakan suasana tidak nyaman di musim 2015/16 lalu. Mereka kalah dari Arsenal di Community Shield dan di pekan pertama mereka ditahan Swansea 2-2 beserta konflik Mourinho versus Eva Carneiro yang menambah runyam hari-hari di awal musim Chelsea sebagai juara bertahan kala itu. dia akhir musim 2015/16 itu, Chelsea babak belur.

* Menghindari Deja Vu

Musim 17/18 ini Conte wajib menghindari tiga deja vu sekaligus. Pertama, dalam dua musim terakhir, juara Premier League selalu amburadul di musim selanjutnya (saat berstatus juara bertahan). Lalu, dia juga harus menghindari kutukan deja vu lain, berupa manajer Italia yang dipecat, hanya semusim pasca membawa timnya memenangi Premier League.

Celakanya sebagai tim besar yang haus akan trofi, maka tak cukup puas bagi sang bos, Roman Abramovich jika Chelsea hanya jago kandang (di kompetisi Inggris) saja. Conte harus mendorong Chelsea untuk berbuat banyak di Liga Champions Eropa, sebisa mungkin juara.

Ini yang menjadi tanda tanya. Sebagai pelatih di level klub, Conte memiliki riwayat bagus untuk kompetisi lokal, namun tidak ketika mentas di Eropa. Juventus dibawah kendalinya tidak memuaskan selama di Liga Champions. Pernah sampai semifinal kompetisi Eropa, tetapi bukan di Liga Champions, mekainkan Liga Europa tepatnya musim 2013/14.

Identik dengan tiga bek adalah momen dimana Juve a la Conte yang jago di kandang (di Serie A), namun loyo di kompetisi Eropa. Kebetulan Chelsea-nya Conte juga mengandalkan skema tiga bek.

Sedikit kolotnya Conte dengan skema tiga bek menjadi salah satu faktor kenapa Juve tak berdaya di Eropa. Terbukti ketika beralih ke Allegri, yang sering menggunakan formasi empat bek untuk mengarungi Liga Champions, Juve sampai dua kali masuk final dalam tiga musim terakhir. Conte kali ini sudah seharusnya belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelum ini.

Roberto Di Matteo, pelatih Italia kelahiran Swiss ini saja didepak, walau belum genap semusim pasca membawa Chelsea merengkuh trofi Liga Champions (pertama dalam sejarah klub) dan FA Cup 2011/12.

Dipecatnya pelatih asal Italia seperti Ancelotti, Mancini atau Ranieri selain karena gagal mempertahankan trofi Premier League, juga disebabkan pula oleh buruknya performa tim-tim asuhan mereka di Liga Champions. Sepakbola modern memang kejam, sedikit saja kurang memuaskan, maka pemecatan pelatih bukan menjadi barang langka lagi.

Conte seharusnya bisa menghapus dua deja vu laten di Chelsea tersebut beserta deja vu musim Mourinho, yang bisa setiap saat membuat dirinya kehilangan jabatan manajer Chelsea. Memperkuat lini belakang menjadi langkah pertama Conte. Trio Azpillicueta-Luiz-Cahill perlu diberi saingan pemain berkualitas, setelah Kurt Zouma, Nathan Ake dan John Terry meninggalkan klub.

Wing-back dikedua sisi juga perlu pelapis yang sepadan dengan Alonso dan Moses, mengingat dua posisi ini juga vital bagi permainan Chelsea. Dengan berharap Abramovich mengucurkan dana besar untuk operasi pasar transfer.

Pemain baru seperti Alvaro Morata, Antonio Ruediger dan Timoue Bagayoko belum cukup meningkatkan kualitas Chelsea. Lihat saja daftar yang pergi; Diego Costa, Nemanja Matic, Nathan Ake, Kurt Zouma dan John Terry. Kedatangan pemain baru hanya menambal lubang saja, belum meningkatatkan kualitas Chelsea secara signifikan.

Selain memperdalam skuad, memperkaya pilihan taktik juga perlu direncanakan Conte. Sukses mereka musim 2016-17 lalu, sudah jelas membuat lawan yang menghadapi mereka akan menyiapkan segenap tenaga untuk mengalahkan juara bertahan.

Tugas Conte tambah berat di musim 2017/18. Selain Premier League semakin kompetitif, konsentrasi Chelsea terbagi di empat ajang sekaligus. The Blues akan menjajal jadwal super padat karena berlaga di Premier League, Liga Champions, Piala FA dan Piala Liga.

Kini tinggal bagaimana pintar-pintarnya Conte saja dalam mengelola Chelsea di musim 2017-18 depan. Sepertinya, prestasi minimal Conte musim depan adalah mempertahankan status juara liga, demi menghindari pemecatan. Untuk langsung juara Liga Champions, terhitung sulit mengingat sudah satu musim Chelsea absen dari serunya pertarungan di Eropa.

Sebagai orang yang kenyang asam garam di dunia kepelatihan, terlebih juga pernah menangani sebuah timnas, tentu pengalaman dan kekayaan taktik Conte saat ini jauh lebih baik sedari ketika masih di Juventus dahulu. Jadi, sudah siapkah menghapus deja vu dan musim Mourinho itu, Antonio?

Sumber foto: express.co.uk

Advertisements
Image

Si Nomor Dua yang Buktikan Diri

“Selamat, anda melakukan pekerjaan (bermain) hebat”, itulah kalimat yang meluncur dari mulut Jose Mourinho ketika mendatangi soeroang pemain, sesaat setelah usainya pertandingan. Akan tetapi mourinho bukan memuji pemain Manchester United yang menang di final EFL Cup di Wembley, 26 Februari 2017 tersebut. Melainkan untuk lawan mereka, pemain Southampton yang baru datang di bursa transfer musim dingin terbaru ini, Manolo Gabbiadini.

Gabbiadini sebenarnya bisa lebih spektakuler lagi dengan mencetak hat-trick di final tersebut, apabila hakim garis lebih jeli dalam memantau situasi laga. Andai gol yang dianulir itu disahkan, barangkali jalannya laga akan berbeda, meski pada akhinya Manchester United menang 3-2 atas Southampton, dengan kesemua gol Southampton dicetak oleh Gabbiadini di laga itu.

Gabbiadini memang sedang on fire, dia telah mencetak 6 gol sejauh ini (artikel terbit 15 April 2017) bersama Southampton, sejak bergabung pada Februari lalu dari klub Italia, Napoli. Apa yang ia perbuat di Inggris selama ini memang diluar dugaan, karena Manolo Gabbiadini sebelumnya hanya seorang yang dianggap sebagai striker kacangan dan “nomor dua”.

Kedatangan Gabbiadini ke Southmapton pun sebenarnya diliputi sedikit rasa keraguan di kalangan fans Southampton. Untuk striker yang selalu dinomorduakan (khususnya semenjak di Napoli ), harga 14 juta paun dirasa begitu mahal. Gabbiadini juga dinilai bukan sebuah urgensi, karena di lini depan Soton, sebutan lain untuk Southampton, sudah ada Charlie Austin dan Shane Long.

Walau begitu, sebenarnya Gabbiadini tidaklah terlalu buruk. Dia sudah pernah bermain untuk timnas senior Italia yang bahkan ia sudah mencatat debut pada game Inggris v Italia 2012. Lalu catatan golnya termasuk lumayan impresif di Napoli dengan kemasan 25 gol dari 3.114 menit bermain.

Artinya dia mencetak 1 gol untuk Napoli di setiap 124,56 menitnya Gabbiadini merumput di lapangan. Padahal Selama tiga musim di Napoli, statistik yang ia bukukan itu dijalani Gabbiadini ketika menjadi striker nomor dua. Ya, memang Gabbiadini selama di Napoli akrab dengan perlakuan yang dinomorduakan.

Alasan kenapa pemain kelahiran Calcinate dan berpostur 186 cm ini sering menjadi pilihan kedua pun rumornya beragam. Mulai dari kompetitor yang lebih baik, taktik pelatih di Napoli yang tidak mengakomodir talenta dia hingga persepsi tentang karakter Gabbiadini yang tidak punya karisma dan mentalitas yang tak mampu memikul beban tinggi.

Cerita berawal ketika Napoli membeli Gabbiadini pada musim dingin 2015, akibat permainan apiknya di Sampdoria. Gabbiadini direkrut untuk menjadi pesaing sekaligus pelapis Gonzalo Higuaín, yang sudah mapan sebagai prima punta Napoli sejak musim 2013-2014. Pada dasarnya Gabbiadini itu serba bisa, selain penyerang tengah dia bisa juga dimainkan sebagai winger kanan dan striker bayangan.

Versatilitas Gabbiadini jelas terbukti sejak ia di Sampdoria, yang kala itu lini depan Il Samp diisi oleh trio Edér-Okaka-Gabbiadini. Selain sisi kanan, kadang kala Gabbiadini juga diplot di tengah ketika Okaka absen atau cedera. Dia pun sering menjadi second striker, terutama ketika sebelumnya bermain di Bologna.

Meski serba bisa, pemain berkaki kidal yang juga adik dari pesepakbola timnas Italia wanita, Melania Gabbiadini ini harus terima nasib karena allenatore Napoli kala itu, Rafa Benítez tidak mungkin mencadangkan Higuaín dan mengganti José Callejón dari pos sayap kanan dalam formasi 4-2-3-1 hanya untuk memberi ruang untuk Gabbiadini.

Dua musim itu telah berlalu sejak awal Gabbiadini datang dan tepat di musim ini menjadi momentum dirinya untuk bangkit, karena Gonzalo Higuaín pindah ke Juventus. Tetapi entah apakah Napoli, dengan pelatihnya saat ini, Maurizio Sarri yang kurang percaya pada kemampuan Gabbiadini atau karena ingin mencari pengganti sepadan untuk Higuaín, hingga mereka membeli Arkadiusz Milik dari Ajax Amsterdam dengan biaya 35 juta euro.

Kedatangan Milik pun otomatis mengembalikan Gabbiadini menjadi pilihan kedua sebagai penyerang utama. Milik memang terbukti moncer diawal musim ini sebelum cedera lutut parah, Anterior Cruciate Ligament (ACL) memaksanya absen hingga baru bisa kembali bermain awal Maret. Cederanya Milik justru disisi lain kembali membuka kesempatan kedua untuk Gabbiadini.

Namun meski terbantu absensi Milik akibat cedera, Gabbiadini yang sering mengisi slot penyerang tengah selama dua-tiga bulan lalu gagal membuktikan diri hingga Sarri menyingkirkan Gabbiaini, lalu bereksperimen tanpa menempatkan striker tengah murni dalam balutan formasi 4-3-3. Hasil eksperimen itu adalah memindahkan winger kiri, Dries Mertens menjadi false nine dan ternyata dia mampu mencetak gol-gol yang sangat dibutuhkan Napoli pasca kepergian Higuaín.

Situasi bagi Gabbiadini makin suram saja, karena Napoli mendapatkan tanda tangan Leonardo Pavoletti dari Genoa pada bursa transfer musim dingin lalu. Kalau dulu hanya menjadi nomor dua ketika masih ada Higuaín, kelanjutnya Gabbiadini saat itu malahan turun pangkat jadi opsi keempat setelah Mertens, Milik dan Pavoletti untuk menjadi ujung tombak I Partenopei.

Padahal dengan adanya Higuaín dulu dan Milik, Mertens atau Pavoletti kini, mencoba duetkan dengan Gabbiadini yang bisa main lebih kedalam dan melebar pun tidak mengapa. Tapi sayang hal itu jarang atau hampir tidak pernah dilakukan oleh Benítez atau Sarri hingga Gabbiadini pergi.

Sadar tidak ada tempat lagi di klub yang pernah menjadi tempat berjayanya legenda sepakbola Diego Maradona itu, Gabbiadini pindah ke Southampton mendekati window transfer 2016-2017 berakhir. Lagipula bagaimanapun Maurizio Sarri juga sudah tidak lagi percaya kemampuan dia, lebih-lebih setelah mendapat penyerang baru dalam diri Leonardo Pavoletti.

Seakan ingin membuktikan diri bahwa Napoli dan Sarri telah salah menilai dirinya, Gabbiadini menjelma jadi sosok striker tajam begitu hijrah dari Stadio San Paolo ke Saint Merry’s Stadium.

Gabbiadini berubah bak penyerang oportunis yang kerap kali pas dalam menempatkan diri di dalam kotak penalti lawan. Sesuatu yang sebenarnya Napoli juga rindukan layaknya penampilan Higuaín dulu hingga beroleh capocannoniere atau top skor Serie A musim kemarin.

Musim lalu Higuaín bisa menggila dan mencetak banyak gol ketika di awal musim 2015-2016 itu karena mendapat sentilan. Pipita, julukan Higuaín, dimotivasi oleh Sarri dengan sindiran keras yang maksud intinya; “Higuaín sebenarnya bisa menjadi penyerang tengah terbaik di dunia, jika bisa merubah sikap dan tidak lagi malas”.

Hasilnya? Higuaín mencetak 36 gol dari 35 kali dia bermain di Serie A musim lalu dan sang pemain sendiri berterimakasih atas “motivasi” awal musim dari Sarri tersebut. Andai untuk Higuaín saja bisa, kenapa Gabbiadini tidak bisa “dibegitukan” oleh Maurizio Sarri?

Sepertinya Napoli, baik itu dari rezim Benítez hingga Sarri tak pernah benar-benar percaya pada kemampuan Gabbiadini, pemain yang juga merupakan produk akademi Atalanta ini.

Mungkin Sarri berageming dengan sembuhnya Milik, makin tajamnya Mertens sebagai false nine dan kedatangan Pavoletti sudah cukup untuk mengarungi seluruh sisa laga musim ini dan tidak perlu lagi tenaga pria bernama Manolo Gabbiadini dan lalu menjualnya. Entahlah apa yang terjadi sebenarnya dibelakang layar, namun melihat performa Gabbiadini sampai saat ini, sepertinya “intuisi” Sarri terbukti kurang tepat.

Bocah yang sebenarnya punya talenta namun terabaikan dulu kala, kini sedang berusaha keras buat mantan klubnya, Napoli menepuk jidat karena telah melepas dirinya dan hanya memberi sedikit waktu untuk buktikan diri.

Kali ini dia malahan tampil apik dengan gol-golnya justru ketika berada di tim (Southampton) yang secara teknis masih kalah kualitas dari Napoli dan berada di Premier League, liga yang jauh lebih kompetitif dibanding Serie A.

Gabbiadini sedang memulai karir bagus di klub barunya, Southampton. Semoga, lesakan gol-gol belum akan berhenti diukir oleh sosok tinggi agak kerempeng dan berwajah sedikit pucat yang pernah tercampa dan dinomorduakan oleh Napoli ini. Dialah Manolo Gabbiadini, yang tidak menyerah untuk membuktikan kualitas sesungguhnya.

*data angka dari Opta

Foto: telegraph.co.uk

Paradoks Saint Totteringham’s Day

Di babak 16 besar Liga Champions, Bayern München menghadapi Arsenal. Sudah ditebak, Meriam London kembali melempem sumbunya ketika bersua The Bavarian di panggung Eropa. Kali ini dengan agregat telak 10-2, meski Arsenal gugur di 16 besar adalah pemandangan yang sebenarnya tak aneh dalam beberapa tahun terkahir.

Rival sekota mereka, Tottenham Hotspurs juga terjungkal dihadapan klub Belgia, KAA Gent dengan agregat 1-2. Bedanya Spurs melakoni laga itu di babak 32-besar Liga Europa, kasta Eropa yang lebih rendah.

Bagi setiap elemen yang ada di Arsenal, pasti sangat berat hati apabila melihat klub-klub pesaing berat, finis lebih tinggi dari mereka di setiap akhir musim atau melangkah lebih jauh di sebuah cup competitions.

Apalagi jika posisi rival satu kota seperti Chelsea atau terlebih-lebih Tottenham, yang lebih tinggi dari Arsenal di akhir sebuah musim Liga Inggris atau melaju lebih jauh di gelaran turnamen. Tapi musim ini Arsenal terseok-seok masuk empat besar, sedangkan Tottenham sangat stabil aman di zona tersebut.

Khusus terhadap sesama klub London Utara, Tottenham Hotspurs, Arsenal selalu finis diatas mereka sejak 1994/95 hingga musim 2015/16 lalu. Sudah dua dekade ini mereka selalu lebih superior terhadap tetangga terdekatnya tersebut hingga melahirkan istilah unik, Saint Totteringham’s Day.

Saint Totteringham’s Day adalah hari dimana pendukung Arsenal atau yang biasa disebut Gooners, bersuka cita mana kala tau bahwa tim idola mereka dipastikan finis diatas Spurs. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh situs Arseneweb.com pada 2002.

Musim lalu Saint Totteringham’s Day sangatlah epik. Di gameweek terkahir, Tottenham dilumat 5-1 oleh Newcastle sedangkan disisi lain Arsenal menang 4-0 atas Aston Villa.

Arsenal yang hampir selalu dibawah Tottenham (terutama paruh kedua musim lalu), secara dramatis mendahului Tottenham pada pekan terkahir tersebut. Meski gagal juara dan hanya nangkring di posisi dua, hasil itu setidaknya masih menyisakan senyum di bibir para pendukung setia Arsenal.

Tidak hanya suporter, dari pemain hingga mantan pemain Arsenal juga tidak luput ikut merayakan Saint Totteringham’s Day lewat sosial media musim lalu itu. Saint Totteringham’s Day sendiri biasa diperingati Mei atau April, waktu dimana kompetisi biasanya mendekati pekan-pekan akhir.

Tapi itu hal yang paradoks, Saint Totteringham’s Day ibarat “prestasi” namun disaat bersamaan juga tak berarti apa-apa, rasanya semu sekali. Lagian, semisal mengungguli Tottenham di Premier League, itu tidak berarti spesial. Toh selama ini Tottenham juga tidak pernah juara Liga Inggris sejak 1961. Ya, kan?

Arsenal sendiri, terakhir juara yakni musim 2003/2004, dimana saat itu Arsenal masih jadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Inggris. Selanjutnya, tak pernah ada lagi kapten Arsenal yang angkat trofi liga diakhir tiap musim sampai saat ini.

Okelah, mungkin berkilah Arsenal terlalu sering menjual pemain bintang, yang dijadikan kambing hitam surutnya prestasi Arsenal. Hal ini karena kebutuhan uang untuk mengimbangi hutang pembangunan stadion. Tetapi itu sudah berlalu, pembangunan stadion sudah selesai sejak lama dan keuangan klub sudah membaik.

Saat ini bahkan Arsenal bukan lagi klub penjual, melainkan pembeli pemain-pemain bintang harga mahal. Mesut Özil dibeli seharga 42 juta poundsterling dari Real Madrid pada 2013, Alexis Sanchez diboyong dari Barcelona musim 2014-2015 dengan banderol 31 juta pounds.

Musim ini Arsenal juga royal membelanjakan dana di bursa transfer. Total, perekrutan Granit Xhaka, Skhodran Mustafi dan Lucas Perez menghabiskan kas Arsenal sebanyak 82 juta poundsterling. Disamping itu, kualitas skuad makin mengkilap dengan munculnya pemain muda seperti Alex Iwobi dan semakin matangnya Hector Bellerin atau Aaron Ramsey.

Kalau begitu muncul pertanyaan, kenapa dengan skuad yang sudah bagus, Arsenal tetap begini-begini saja? Lalu apa? Banyak yang mengatakan, Arsenal bermain indah dan sedap dipandang mata, tetapi lemah dari agresifitas dan kurang punya mentalitas yang kuat.

Soal gaya permainan, Arsenal mengandalkan umpan pendek dan kombinasi satu-dua guna membongkar pertahanan lawan. Sekilas menyerupai ticqui-taka, namun karena bermain di Inggris, Arsenal wajib memiliki gelandang bertahan yang “kejam” seperti Patrick Vieira.

Permainan keras khas seperti Vieira tentu dibutuhkan guna melindungi lini tengah dan belakang, terutama dari serangan balik yang rentan menghantui tim seperti Arsenal, yang gemar menguasai bola dan terapkan garis pertahanan tinggi.

Vieira tidak hanya garang dalam menghentikan serangan atau jago merebut bola, namun juga lihai mengalirkan bola kedepan, sehingga tetap cocok dengan The Arsenal Way yang memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki. Dia punya agresifitas baik ketika bertahan atau juga saat menyerang.

Di skuad musim ini ada Francis Coquelin, Granit Xhaka dan Mohammed Elneny yang bisa berperan sebagai gelandang jangkar. Antara ketiga pemain ini, berdasar data situs whoscored.com, Coquelin dari 21 kali tampil di Premier League, dia menonjol dari sisi defensif dengan rerata 2,9 tekel sukses dan 2,3 intersep di setiap laga.

Coquelin pun tidak buruk dalam mengoper bola karena punya catatan akurasi 88%. Sedangkan angka untuk Xhaka yaitu catatan 2,7 tekel, 1,7 intersep, akurasi umpan 89,4 %. Lalu Elneny punya 1,5 tekel, 0,5 intersep dan pass succes percentage 92,6 perlaga.

Bahkan menurut Squawka, Coquelin punya jumlah umpan sukses sebanyak 298 kali di final-third area atau area dalam pertahanan lawan, angka tersebut lebih unggul dari gelandang top dunia semacam Toni Kroos atau Marco Verratti sekalipun.

Coquelin tinggal mengasah teknik agar lebih komplit dan menjaga kebugaran, karena dia seringkali terlilit cedera yang tentu akan menyulitkan kinerja lini tengah Arsenal bila dia tidak bermain. Bermain keras pun harus dia praktekan, agar semakin mendekati atribut yang dimiliki Patrick Vieira.

Selain urusan agresifitas, hal penting lain yang juga dibutuhkan oleh pasukan Arsene Wenger yaitu pemain dengan aura kepemimpinan berkarisma juara. Pemimpin yang karismatik, besar kemungkinan mampu memotivasi dan mengangkat mental rekan-rekannya, terutama di saat-saat genting atau dalam pertandingan besar.

Sepeninggal Vieira atau Henry, belum ada lagi kapten Arsenal yang melebihi atau bahkan sekedar menyamai aura karismatik duo Perancis ini. Maka dari itulah, Arsenal sering melempem di situasi-situasi penting atau di laga bertensi besar akibat kurangnya pemain-pemain berkaratker juara dan bermental baja.

Kapten saat ini, Laurent Koscielny memang tidak punya aura besar seperi Henry dan Vieira. Namun gaya main yang anti kompromi dalam menghalau bola atau menjegal pemain, menjadi gambaran kepada lawan bahwa Arsenal masih punya nyali yang kuat dalam bertanding, meski levelnya belum seperti zaman The Invicible sedia kala.

Pemain seperti Vieira memang dibutuhkan, karakter permainannya penting sebagai pelindung lini tengah yang bisa melapis lini belakang, selain juga jiwa kepemimpinan tinggi yang sangat dibutuhkan di tim seperti Arsenal.

Dengan skuad yang penuh kualiatas teknik seperti sekarang ini, andai ditambah keberadaan holding midfielder tangguh serta adanya pemimpin berkarakter, mungkin Arsenal bisa melaju lebih dari yang saat ini.

Contoh tersaji pada leg pertama kemarin lawan Bayern, ketika Laurent Koscielny ditarik diawal babak kedua akibat cedera, pertahanan Arsenal langsung kelimpungan. Gabriel mudah sekali dieksploitasi Lewandowski dan Thiago Alcantara. Ditambah, duet Coquelin-Xhaka kurang begitu baik melapisi pertahanan.

Agresifitas menyerang juga sangat kurang, saking menggelikannya, bahkan umpan yang dibuat oleh playmaker seperti Mesut Özil tidak lebih banyak dari apa yang dibuat kiper lawan, Manuel Neuer. Özil hanya buat 24 umpan, angka yang sama dengan yang Neuer buat.

Keluarnya kapten Koscielny juga barangkali ikut sedikit banyak mereduksi kekuatan mental pemain Arsenal di laga super penting tersebut. Terlebih lagi ban kapten justru dililitkan ke Kieran Gibbs, yang jangankan jadi panutan pemain lain akan karisma darinya, rutin bermain pun jarang ia dapati musim ini.

Arsenal jelas membawa misi hampir mustahil lolos 16 besar Liga Champions 2016/2017 kali ini. Di liga juga sama, inkonsistensi Wenger Boys di setiap pekan makin menjauhkan mereka dari Chelsea, plus persaingan peringat dua hingga enam juga sangat ketat musim ini.

Di percaturan liga Inggris musim ini, Arsenal sebenarnya sudah menunjukan mental lebih baik ketika partai besar, namun sering tiba-tiba terjungkal seperti kalah 1-2 dari Watford di Emirates Stadium. Hal semacam inilah yang menjadi duri kenapa Arsenal gagal juara musim lalu dan tetap kesulitan bersaing di Premier League musim ini.

Flash back musim lalu, disaat klub-klub besar lain loyo seharusnya kesempatan Arsenal juara terbuka lebar, namun apa daya Arsenal justru ikut-ikutan lembek dan gelar juara pun diserobot Leicester City. Setali tiga uang di Liga Champions, mereka dilumat Barcelona, juga di babak 16 besar yang memang kramat bagi Arsenal beberapa tahun ini.

Musim ini Arsenal harus selalu solid, karena klub besar lain juga menunjukkan perbaikan demi perbaikan. Seharusnya dengan skuad yang sudah bagus kali ini, Arsenal mampu berbuat sesuatu yang lebih daripada musim-musim sebelumnya, setidaknya di Premier League, jika asa untuk mengalahkan Bayern memang sudah sirna.

Saint Totteringham’s Day. Berpesta karena lebih hebat dari arch-rival, namun sang rival itu sendiri sebenarnya bukan klub yang benar-benar hebat, paradoks. Kalau Madrid berpesta karena unggul dari Barcelona, itu wajar, karena baik itu Barca atau Madrid selalu bersaing mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia.

Lagipula inikan Tottenham? Trofi terakhir kali yang didapatkan tim ini pun sekedar League Cup 2007-2008, yang bahkan tak lebih bergengsi dari trofi FA Cup, yang Arsenal raih 2014-2015 lalu.

Sah-sah saja musim ini tradisi Saint Totteringham’s Day bisa tetap diwujudkan, tetapi sungguh semu sekali rasa jika bisa menunjukan superioritas dari Tottenham, namun tetap saja Arsenal tidak mampu untuk jadi juara Inggris, apalagi Liga Champions. Ditambah musim ini, bisa jadi puncak saga dari pertanyaan besar, apakah Wenger akan bertahan atau angkat kaki dari Arsenal? Hanya waktulah yang akan menjawabnya.

Foto; independet.co.uk

 

Image

Wayne Rooney; Rekor, Kehampaan dan Berkurangnya Loyalitas Sepakbola Kini

Bagi pendukung Manchester United, nama Wayne Rooney sudah tentu masuk daftar idola yang dielu-elukan. Pemain kelahiran Liverpool, 24 Oktober 1985 ini juga menyandang status kapten klub sejak beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di United, Rooney juga masih didaulat sebagai kapten tim nasional Inggris hingga kini.

Terkait Rooney, sudah pasti kalau ban kapten yang melingkar di lengannya adalah bukti bahwa dia, bukan pemain sembarangan. Rekor dari catatan gol fantastis sukses dia bukukan baik itu bersama Manchester United atau pun The Three Lions.

Gol penyama kedudukan di menit-menit akhir ke gawang Stoke City, 21 Januari lalu tak hanya menyelamatkan timnya dari kekalahan, namun sekaligus menjadikan Rooney sebagai top skor sepanjang masa Manchester United dengan 250 gol.

Golnya itu sudah cukup untuk melampaui 249 gol milik legenda Sir Bobby Charlton. Di timnas Inggris idem ditto, jumlah 53 gol miliknya adalah yang tertinggi dari semua pemain yang pernah bermain bagi skuad The Three Lions.

Dia sendiri sudah mulai sering menjadi andalan MU dan Inggris sejak tahun 2004. Kenapa Rooney mencetak gol yang banyak, hal ini tidak lepas dari posisinya sebagai penyerang utama Manchester United dan Inggris dalam satu dekade terkahir. Lain daripada itu, memecahkan rekor gol terbanyak di klub sekelas MU dan timnas seperti Inggris bukanlah perkara yang setiap pemain bisa lakukan.

Ditambah banyak gelar yang ia raih bersama klubnya seperti Liga Champions, Premier League atau FA Cup, maka dari itu bisalah kita sebut bahwa Wayne Rooney, sudah pantas dikatakan sebagai “legenda”, walau belum pensiun. Meski ditataran negaranya sendiri, dia belum memberi gelar apa-apa untuk The Jack Union, julukan timnas Inggris.

Pujian mengalir deras tidak hanya dari orang yang terkait dengan Manchester United, bahkan dari Jack Wilshere, pemain Arsenal yang kini dipinjam Bournemouth itu menyampaikan selamat atas rekor Rooney melalui sosial media Instagram. Pecahnya rekor yang telah lama dipegang legenda Bobby Charlton oleh kapten Rooney, tentu menjadi suka cita tersendiri bagi fans MU dimanapun mereka berada.

Namun, disisi lain walau ada rekor baru yang tercipta, justru sebenarnya hal itu datang di waktu yang kurang tepat. Rooney tengah disorot karena performa inkonsisten yang ia sajikan beberapa tahun terakhir. Sehingga meski rekor baru ini tercipta, ada sedikit kehampaan akibat performa Rooney yang tidak stabil, khususnya dalam hal mencetak gol, apalagi standar kehebatan striker dilihat dari kemampuannya menjebol jala lawan.

Performa labil Rooney dalam mencetak gol bisa dilihat dari statistik, yang berdasarkan situs whoscored.com, Rooney di Premier League hanya mengemas masing-masing 12 dan 8 gol di dua musim terakhir. Musim ini pun dia baru dua kali menjebol gawang tim lawan di Premier League, termasuk gol ke gawang Stoke.

Penurunan ketajaman Rooney, mungkin sedikit dipengaruhi pergeseran posisi yang lebih kebelakang. Terlebih dua musim sebelum ini, ketika Van Gaal menduduki kursi pelatih United, Rooney seringkali ditarik kedalam. Tidak cuma menjadi gelandang serang atau gelandang tengah, bahkan hingga gelandang bertahan pernah diperankan oleh pemain dengan panggilan Wazza ini.

Apakah merosotnya Rooney memang benar akibat ulah Van Gaal yang menjadikannya gelandang atau memang dia sendiri sudah mengalami penurunan performa? Karena sering menjadi gelandang, bahkan hingga berposisi yang sangat defensif tentu akan mengurangi insting ketajaman Rooney merobek gawang lawan.

Tetapi statistik menjadi bukti, Rooney tidak menurun, hanya performa dia menyesuaikan dengan posisi yang ia emban ketika di lapangan. Kalau parameter yang dipakai yaitu performa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Ketika sering menjadi gelandang (dua tahun era Van Gaal), Rooney punya presentase akurasi umpan 83,9% dan tekel 1,05 perlaga. Rooney juga punya catatan stabil 5 dan 6 dalam hal assist di dua musim terkahir ini di Premier League.

Bisa dibilang kualitas Rooney belum habis, hanya dia menyesuaikan performa sesuai dengan posisi yang dijalani. Jika ia masih dipercaya menjadi juru gedor utama, barangkali merayakan rekor sebagai all-time goalscorer untuk Manchester United akan terasa lebih spesial bagi dirinya, apabila dia tetap konsisten tajam dalam mencetak gol.

Pencapaian hebat Rooney juga menjadi pertanda berakhirnya era pemain besi Premier League. Dalam bahasa penulis, besi adalah suatu yang bisa awet dan bertahan lama. Maka diibaratkan “pemain besi” itu adalah dia yang bertahan lama di sebuah klub, tak lain karena loyalitas yang tinggi. Steven Gerrard yang pergi dari Liverpool atau Frank Lampard yang merantau keluar dari Chelsea, beberapa contoh pemain besi yang sudah pergi dari Premier League.

Lampard, Gerrard atau Rooney disamping menjadi ikon Premier League medio 2000an, mereka juga menjadi perlambang kesetiaan pemain terhadap klubnya. Hal inilah yang semakin susah dicari di zaman ini. Sepakbola yang sudah tidak ada bedanya dengan ajang cari uang saja, membuat loyalitas pemain dipertanyakan. Semakin sulit mencari pemain hebat dengan loyalitas tinggi belakangan ini. John Terry yang sudah melekat sebagai salah satu ikon The Blues pun akan meninggalkan Chelsea musim panas 2017 ini.

Loyalitas pemain bintang bisa tergadaikan apabila ada uang yang menjadi iming-iming. Terlebih adanya Tiongkok, yang berani jor-joran mengeluarkan uang. Pergi ke Tiongkok pun kini seakan sudah mulai menjadi tren pemain-pemain dari liga-liga besar di Eropa.

Masih betahnya Rooney di Teathre of Dreams, setidaknya hingga kini patut diapresiasi. Meski Rooney sedang tidak bagus, menuju senja karir dan di kritik habis-habisan, dia tetap mampu mengkir rekor hebat. Lalu dia pun menjadi lambang loyalitas pemain bintang, yang kini seakan sudah jadi barang langka.

Setidaknya masih ada nama besar seperti Rooney ditambah Michael Carrick di MU dan John Terry (Chelsea) musim ini, dapat menunjukkan sepakbola tidak selamanya bisa dimainkan uang, masih ada rasa kesetiaan tinggi, khususnya di Premier League. Jika pemain-pemain ini tidak loyal, barangkali mereka sudah hijrah ke China dengan gaji yang berlipat-lipat dari yang mereka dapat di Inggris.

Itulah sedikit tentang Rooney, andai dia sedang ganas-ganasnya mencetak gol, mungkin terciptanya rekor gol terbanyak di Manchester United akan terasa lebih indah. Namun meski ada sedikit kehampaan dari rekor tersebut, menuanya Rooney bisa jadi menjadi pertanda pamungkas, akan berkahirnya sebuah era “pemain besi” di Premier League.

Foto dari The Guardian

*Statistik angka dari Opta

 

Gabriel manakah yang lebih baik?

Brasil adalah negerinya sepakbola, tidak berlebihan memang dengan lima trofi Piala Dunia sebagai buktinya. Brasil juga dipenuhi talenta hebat sejak dari dulu. Mulai dari Pele, Zico, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Kaka.

Untuk saat ini, ikon sepakbola Brasil dipegang oleh Neymar, pemain yang kini merumput di Barcelona itu dikategorikan bakat terbaik setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Bicara tentang Neymar, siapa yang tidak tahu kehebatan pemain 24 tahun ini. Neymar memulai debut profesional di klub pertamanya, Santos FC pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Selama lima tahun di Santos, dia mengemas 136 gol disemua ajang dan mempersembahkan tiga gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, satu Copa Libertadores dan sebiji Recopa Sudamericana.

Pada musim panas 2013, Neymar bergabung ke Barcelona dengan biaya transfer 74,9 juta poundsterling (versi Transfermarkt.co.uk). Terlepas dari kasus pajak yang menimpa, Neymar terhitung sukses dengan berhasil mengantar Barcelona diantaranya meraih; 2 gelar juara La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions dan satu kali juara FIFA Club World Cup.

Neymar terkenal pula sebagai tricky-player atau pemain ber skill hebat. Neymar sering mempertontonkan kebolehannya dalam menggocek bola untuk menipu lawan hingga mendribel bola melewati lawan.

Jika dibandingkan dengan Lionel Messi, Neymar justru lebih baik secara teknik. Namun harus diakui kalau bicara ketajaman depan mulut gawang, Messi jelas masih yang terbaik. Dengan begini, baik Barcelona dan terutama Brasil masih akan membutuhkan Neymar untuk jangka waktu panjang.

Walau ada Neymar, Brasil tidak kehabisan sosok-sosok baru. Akhir-akhir ini mencuat dua nama yang sempat menjadi rebutan klub-klub teras Eropa. Kedua nama ini layak jika dijagokan sebagai penerus Neymar di masa depan.

Dua pemain ini sama-sama bernama Gabriel. Gabriel yang pertama adalah Gabriel Barbosa Almeida dan yang kedua yaitu Gabriel Fernando de Jesus. Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki Gabigol, oleh media di Brasil dipreferensikan sebagai Neymar baru karena berasal dari Santos FC, klub yang juga menjadi pencetak Neymar.

Gabigol mulai mentas di tim senior Santos pada tahun 2013. Debut pertama dia bertepatan dengan pertandingan terkahir Neymar sebelum berlabuh ke Barcelona, yaitu laga 0-0 antara Santos vs Flamengo di bulan Mei 2013 lalu. Selama berkarir di Peixe, julukan Santos, Gabigol menorehkan 56 gol dari 154 penampilan diseluruh ajang resmi yang diikuti.

Selama berkiprah di Brasil, Gabigol juga mempersempahkan dua gelar Campeonato Paulista 2015 dan 2016. Untuk level individu, dia mendapat anugerah Bola de Prata (best newcomer) 2015 versi majalah Placar dan masuk tim terbaik Campeonato Paulista 2016. Kini dia menjadi pemain Inter setelah ditransfer dengan uang 25,08 juta pounds (versi transfermarkt.co.uk) pada musim panas tahun ini.

Gabigol terkenal dengan skill yang bagus, menggocek bola melewati lawan sering ia peragakan di lapangan. Selain skill yang sering dibanding-bandingkan dengan Neymar, Gabigol juga berposisi sebagai winger yang sering beroperasi ke kotak penalti lawan. Gabigol bisa bermain di kanan, kiri atau juga penyerang tengah, meski winger kanan adalah posisi naturalnya.

Setelah Gabriel pertama, Gabriel kedua bernama Gabriel Fernando de Jesus atau biasa disebut Gabriel Jesus. Gabriel Jesus berusia 19, setahun lebih muda daripada Gabigol. Gabriel Jesus berasal dari Palmeiras, klub asal Sao Paulo dimana Gabriel juga merupakan bocah asli daerah tersebut.

Debut senior Gabriel Jesus terjadi pada Maret 2015 sebagai pemain pengganti. Hingga tulisan ini diterbitkan, perolehan gol Gabriel Jesus bersama Palmeiras mencapai 28 gol dari 83 penampilan di ajang resmi bersama Palmeiras.

Gelar yang ia ikut persembahkan untuk Verdao ada dua, pertama Copa do Brasil 2015 dan yang terkini Campeonato Brasilerao 2016. Prestasi individu, dia dinobatkan sebagai pemain pendatang baru terbaik 2015 versi CBF (asosiasi sepakbola Brasil).

Hal ini membuat Manchester City kesengsem dan rela menggelontorkan dana 27, 20 juta pounds berdasarkan transfermarkt.co.uk, harganya lebih mahal daripada Gabigol. Gabriel Jesus sendiri baru akan bergabung ke Etihad Stadium pada Januari 2017.

Gabriel Jesus berposisi alami sebagai penyerang tengah, namun dengan teknik skill mumpuni yang dimiliki, menjadi penyerang kiri dan juga kanan pun tidak masalah. Dia disebut-sebut sebagai Ronaldo Lima baru karena posisi sebagai penyerang tengah, meski bermain sebagai winger juga bisa ia lakukan. Lalu, jika sudah begini Gabigol atau Gabriel Jesus yang lebih baik dan pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti?

Secara teknik, penulis lebih memilih Gabigol yang kelak bisa menjadi pemain berteknik tinggi layaknya Neymar. Alasan dari ini karena posisi bermain yang berada di sisi lapangan dan menusuk ke kotak penalti, seperti Neymar pada biasanya.

Lalu dari skill, Gabigol lebih sering mempertontonkan trik-trik mengolah bola, ya mungkin ini juga yang membuat media-media menjuluki Gabigol senagai titisan Neymar.

Soal ketajaman mencetak gol, keduanya terhitung lumayan “prolific” dalam membobol gawang lawan. Gabigol mencetak 56 gol dari total 156 penampilan resmi bersama Santos dan Inter, sedangkan Gabriel Jesus mencetak 28 gol dari 83 penampilan resmi di Palmeiras.

Dilevel timnas Brasil, Gabigol terlebih dulu mengecap penampilan, tepatnya pada laga persahabatan melawan Panama, Mei 2016 dan dia pun masuk skuad Brasil untuk Copa America Centenario.

Di turnamen yang diadakan untuk memperingati 100 tahun CONMEBOL itu, dia melesakkan 1 gol di fase grup ketika melawan Haiti. Tetapi debut Gabriel Jesus jelas lebih sensasional, dia mencetak brace alias dua gol dalam satu pertandingan. Dia melakukan itu pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Latin, Ekuador vs Brasil September 2016.

Apapun bisa terjadi di masa depan. Meski Gabigol sebenarnya lebih menjanjikan karena meski bermain di sisi sayap, ketajaman dia dalam merobek gawang lawan bahkan lebih baik dari Gabriel Jesus yang berposisi striker tengah. Akan tetapi jika Gabigol tidak cermat dalam berkarir, bisa saja kelebihan-kelebihan itu hanya tinggal kenangan. Karir Gabigol kini justru terombang-ambing bersama Internazionale.

Kuat dugaan, pembelian Gabigol hanya karena manajemen Inter ikut-ikutan memburu Gabigol ketika mendengar Juve mengincar pemain ini. Sontak saja Inter ngotot membeli Gabigol, padahal sudah ada pemain sayap top di Inter semodel Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Gabigol sangat jarang sekali bermain, bahkan sebagai pengganti sekalipun dia jarang dimainkan. Entah faktor adaptasi atau kebugaran, yang jelas Gabigol datang di Inter disaat yang tidak tepat, karena manajemen Inter kurang harmonis sejak awal musim.

Sedangkan disisi lain, Gabriel Jesus segera merasakan polesan dari pelatih brilian seperti Pep Guardiola di Man City. Jika ia mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris dan cocok dengan skema Guardiola, barangkali dia akan berkembang pesat dibawah polesan Guardiola.

Untuk saat ini, agaknya Gabriel Jesus masih lebih baik. Selain baru saja meraih juar Campeonato Brasilerao 2016 bersama Palmeiras, dia juga sering dipanggil ke timnas Brasil asuhan Tite akhir-akhir ini. Sedangkan Gabigol, karena sangat jarang merumput bersama Inter, harus terima nasib belum dipanggil lagi sejak bulan September silam.

Kita tunggu apa yang akan terjadi, pastinya Gabigol harus melakukan sesuatu agar talenta hebat dalam dirinya tidak “membeku” dibangku cadangan Inter. Januari 2017 nanti Gabigol mungkin akan pindah ke klub lain, dimana saat yang bersamaan Gabriel Jesus akan mengisi lini depan Manchester City. Setelah itu kita akan lihat, siapa Gabriel yang benar-benar pantas memimpin lini depan Brasil setelah Neymar nanti.

Foto: thesun.co.uk

 

Image

Menjadi Pelatih Bola? Mudah.

Bagi yang benar-benar suka dengan sepakbola, pastilah tau game bernama Football Manager. Dalam permainan virtual yang umumnya di PC ini, anda akan merasakan sensasi seakan-akan anda menjadi pelatih sepakbola sesungguhnya. Ya, dalam game yang dikembangkan oleh SEGA ini anda tidak hanya mengurusi taktik bermain atau menggonta-ganti pemain saja.

Lebih dari itu anda bisa melakukan transfer pemain, mengembangkan pemain akademi, dan merekut staf kepelatihan termasuk fisioterapi, juga mengontrak scout (pemandu bakat) pun bisa anda lakukan sendiri. Masih kurang?

Anda bisa juga berkomunikasi dengan manajemen klub perihal meminta budget transfer dinaikkan, mengubah pola perekrutan pemain junior, sampai mengajukan renovasi dan bahkan membuat stadion baru! Anda benar-benar menjadi super manager di Football Manager.

Football Manager memang memuaskan hasrat, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan menjadi manajer di sebuah klub, apalagi anda bisa melatih klub besar secara langsung dari awal ketika memulai game ini.

Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan strategi permainan, memonitor player’s development, atau memantau harga pemain yang diincar rasanya tetap senang-senang saja.

Tetapi lebih menyenangkan lagi apabila kita memulai dengan berjuang menggunakan klub kecil dan mampu membawa klub itu juara dimana-mana, kepuasan dan kebanggan sudah pasti bercampur jadi satu.

Dalam FM, interaksi dibuat seperti kenyataan. Terdapatnya emosi-emosi yang berbeda tiap individu akan menentukan keberlangsungan permainan, ketika itu terjadi interaksi antar pelatih dengan pemain, dengan agen, dengan sesama pelatih ataupun dengan manajemen. Game ini begitu realistis menampilkan hal-hal yang seperti pada kenyataan. Segalanya yang anda inginkan sebagai pelatih sepakbola ada di dalam game Football Manager atau yang biasa disebut dengan FM ini.

Meski sudah dibuat senyata mungkin seperti kenyataan, pada akhirnya yang namanya permainan tetap saja permainan, bukan kenyataan. Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah yang dilakukan di FM. Tekanan yang dirasakan pasti berbeda, interaksi yang terjadi antar elemen dalam sepakbola juga berbeda.

Menghadapi pemain dalam kenyataan tentu berbeda dari sekedar permainan. Persiapan dan intensitas dalam latihan juga berbeda jauh antara game dan kenyataan. Menjadi pelatih betulan, kita belum tentu bisa meminta ini itu segampang seperti di FM.

Berarti kesimpulannya, menjadi pelatih bola itu sangat mudah, tetapi dalam game. Sedangkan pada kenyataan, menjadi pelatih itu gampang-gampang susah atau mungkin lebih banyak susahnya daripada yang mudah-mudah.

Football Manager
Kini semua orang bisa jadi “pelatih”, bahkan “manajer”.

Di sisi lain ketika kita berbicara game, maka tidak lupa pula bahwa game itu mudah dimanipulasi alias bisa dimainkan dengan cara yang tidak fair. Dalam FM, pasti semua sudah tau ketika akan menjalani pertandingan kita akan save dulu. Jika menang kita lanjutkan game, dan jika imbang apalagi kalah, kadang-kadang kita loading ulang kan?

Nah, hal inilah yang tidak mungkin dalam kejadian nyata dunia kepelatihan yang memang riil. Satu pertandingan bisa sangat krusial dalam dunia nyata, sementara dalam permainan PC hal ini bisa diutak-atik untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Menjadi pelatih sesungguhnya itu tidak semudah dalam permainan seperti FM. Namun setidaknya game ini bisa menjadi pelepas dahaga bagi orang yang sangat ingin merasakan sensasi “memberi instruksi” bagi para pemain dari pinggir lapangan. Meski itu hanya dari dimensi virtual game, yang bernama Football Manager.

Foto: CNN.com dan Football Manager

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

Inspirative’s Story: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Tidak semua orang terlahir dengan kondisi “beruntung”. Ada yang berada di keluarga kaya ada pula yang berada dalam keluarga yang hanya berkecukupan atau bahkan dikategorikan miskin.

Manusia terlahir di lingkungan keluarga kaya atau miskin itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan, namun merubah situasi dan keadaan hidup atas sebuah nasib diri sendiri, keluarga dan lingkungannya adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung dengan kemauan dan usaha  dari manusia itu sendiri.

Tak terkecuali dalam ranah sepakbola, beberapa pemain ada yang ditakdirkan lahir dikeluarga kurang mampu, namun berkat usaha pantang menyerah dan doa, mereka mampu merubah nasib hidup melalui sepakbola.

Beberapa bintang sepakbola dunia pernah dalam kondisi kesusahan pada masa lalunya. Kisah perjalanan hidup tersebut sangatlah menginspirasi dan mengajarkan kita akan sebuah makna perjuangan hidup dan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, berikut adalah beberapa pemain tersebut.

Terlahir dengan nama lengkap Carlos Alberto Bacca Ahumada di Puerto Colombia, Bacca terhitung telat muncul sebagai pemain bola profesional. Baru pada usia 20 tahun dia merasakan atmosfer sepakbola “sesungguhnya” ketika bergabung dengan klub divisi utama liga Kolombia, Atletico Junior.

Setelah bargabung ke Junior pada 2006, dia  pun tidak langsung merasakan debut di liga teratas Kolombia tersebut, melainkan harus dipinjamkan ke klub kasta bawah seperti Barranquilla (divisi 2 Kolombia) dan bahkan sempat dipinjamkan ke Minerven, klub kasta kedua di liga Venezuela. Jadi selama 2006 hingga 2008 dia belum atmosfer sepakbola yang benar-benar kompetitif karena berada di kompetisi level bawah. Peruntungan Carlitos mulai berubah pada 2009 ketika kembali ke Atletico Junior.

Setelah sukses merengkuh status top skor Copa Colombia 2009, lalu pada 2010 dan 2011 dia sukses mengantar Atletico Junior menjadi juara liga teratas Kolombia, Categoria A dengan sekaligus menjadi top skor liga di kedua tahun tersebut. Pada awal tahun 2012, dia direkrut oleh klub Belgia, Club Brugge dan impian bermain di Eropa menjadi kenyataan bagi pria religius ini.

Setengah musim tidak terlalu cemerlang, namun pemain yang dibeli dengan harga 1,5 juta euro ini meledak di musim 2012-2013. Dia menjadi top skor Jupiler Pro League dan sekaligus terpilih menjadi pemain terbaik di Belgia pada musim itu. Sejak datang pada awal 2012 hingga akhir musim 2012-2013 dia telah mengemas total 28 gol dari 45 penampilan di liga dan 3 gol di ajang Europa League.

Performa yang bagus dalam waktu singkat di Belgia membuat klub Spanyol, Sevilla mentransfer Bacca dengan biaya 7 juta euro untuk musim 2013-2014. Musim pertama di Spanyol dilalui dengan gemilang. Sukses menjuarai Liga Eropa, kemudian dilabeli transfer terbaik 2013-2014 dan diberi penghargaan sebagai pemain Amerika Latin terbaik di Spanyol oleh asosiasi pengelola liga, LFP.

Musim selanjutnya pada 14/15 Bacca tetap mempesona, dengan koleksi 28 gol disemua ajang. Pada musim itu pula lagi-lagi dia mengantarkan Sevilla mempertahankan status juara Europa League, dimana dia mencetak dua gol dalam final melawan Dnipro Dniproprtrovsk yang berakhir 3-2.

Kemudian raksasa Italia, AC Milan memenuhi klausul pelepasan kontrak Carlos Bacca senilai 30 juta euro, demi memulai sebuah proyek baru untuk kebangkitan mereka pada 2015-2016. Meski I Rossonerri gagal memenuhi ekspektasi lolos ke Liga Champions, performa Bacca tetap oke dengan menjadi top skor Milan di Serie A (18 gol), dan hingga kini tetap menjadi andalan Milan dilini depan.

Di tim nasional Kolombia dia juga mulai diandalkan, seiring penurunan performa Radamel Falcao dan Jackson Martinez, ruang untuk Bacca selalu terbuka asal dia mampu menjaga konsistensi permainan. Dia ada dalam daftar skuad Kolombia di Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016.

Bacca sekarang beda dengan yang dulu, Bacca memang terlahir dari keluarga yang miskin, dia pernah nyambi kerja paruh waktu sebagai penjual tiket bus dan juga kernet atau biasa disebut kondektur bus ketika di Barranquilla. Kehidupan dia sangat susah, dia juga sempat menjadi nelayan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bermain sepakbola awalnya sekedar hobi, meski dia pada dasarnya sangat ingin dan bermimpi merubah nasib dengan menjadi pemain sepakbola. Namun tanpa disangka, tekad yang begitu kuat merubah nasib hidupnya jauh lebih baik. Berkat kemauan mencoba “cari hidup” lewat bola, kerja keras dan keberuntungan yang menghinggapi dirinya, saat ini dia menjadi menjadi salah satu striker tajam yang berharga mahal di Eropa.

Alexis Sanchez, anda seharusnya tahu siapa dia. Bisa bermain diposisi mana saja di lini depan, dribel bola yang ciamik, dan cepat serta dibekali insting mencetak gol yang baik. Memulai karir profesional di Cobreloa, 18 Maret 2005 sudah melakukan debut di tim senior meski usia masih 16 tahun.

Aksi impresif pada musim pertama di Cobreloa membuat salah satu klub Italia paling ekonomis, Udinese membelinya seharga 1,7 juta poundsterling. Tidak langsung bergabung dengan Udinese, Sanchez muda berturut-turut dipinjamkan ke Colo-Colo (2006-2007) dan River Plate (2007-2008), baru pada pertengahan 2008 dia terbang ke Italia untuk memulai petualangan bersama klub asal kota Udine tersebut.

Disini dia sukses menjelma sebagai pemain spesial dan berduet bersama pemain senior, Antonio Di Natale. Di kota Udine reputasinya mulai meroket seiring kemampuan yang sering dikomparasikan dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Meski hanya mencetak 21 gol dari 112 total pertandingan, gaya bermain dia sukses membuat salah satu klub terbaik dunia, Barcelona merekrutnya dengan harga 26 juta euro pada pertengahan 2011.

Menjadi andalan Barcelona selama tiga musim, dia terhitung lumayan sukses dengan lima trofi selama di Barcelona. Akan tetapi bursa transfer musim panas 2014 terhitung pelik bagi pemain berjuluk El Nino Maravilla (The Wonder Kid) ini.

Arsenal-Barcelona tertarik pada Luis Suarez yang bermain fantastis di Liverpool dahulu. Rencana awal, Arsenal akan merekrut Suarez dan jika gagal maka Sanchez adalah penggantinya. Barcelona juga punya rencana yang berkaitan, bila berhasil mendatangkan Suarez maka Sanchez akan pergi, tetapi jika Suarez gagal ke Camp Nou maka Sanchez akan tetap di Barcelona.

Suarez akhirnya pindah ke Barcelona, dipengaruhi faktor ingin juara Liga Champions dia juga tidak tahan dengan media-media di Inggris yang selalu memberi stigma negatif pada dia. Meski menjadi rencana cadangan dalam strategi transfer atas Suarez, Sanchez menbuktikan diri kualitasnya memang mumpuni, dia bermain bagus di Chile, Argentina, Italia, Spanyol dan kini di Inggris bersama Arsenal.

Dia menjadi tulang punggung Arsenal dengan Mesut Ozil sebagai partner dia. Ketajaman dia justru meningkat, dengan mencetak 25 gol pada musim perdana, lalu 17 gol di musim keduanya bersama Arsenal.

Musim ini tidak berbeda, dan justru peran dia semakin krusial karena dipasang sebagai penyerang di depan. Arsenal kini sangat menjadikan Sanchez sebagai sumber inspirasi untuk mendulang kemenangan. Mengenai nasib hidup, Sanchez saat ini menerima gaji setidaknya 130 ribu poundsterling tiap pekan, tentu nominal yang sangat tinggi.

Tetapi dia tidak mendaptakan ini dengan mudah, perjuangan yang keras adalah jawaban mengapa dia bisa sampai pada level ini. Dia lahir di daerah Tocopilla, 19 Desember 1988 dimana tempat kelahiran Alexis merupakan salah satu daerah yang miskin di Chile. Kehidupan dia dahulu kala serba susah, apalagi sudah ditinggal ayah sejak kecil.

Alexis pernah bekerja serabutan seperti menjadi pencuci mobil. Kakaknya Humberto pun menceritakan jika Sanchez tidak menjadi pesepakbola, dia hanya akan menjadi pekerja tambang seperti dirinya. Dulu jangankan hidup mewah, sekedar untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja dia tidak mampu.

Bahkan sepatu bola pertama yang dia punya adalah pemberian walikota setempat, setelah ibunya meminta hal itu secara langsung kepada sang walikota Tocopilla. Tetapi pemberian walikota terhadap Sanchez kecil tidak sia-sia. Karena hingga sekarang dia tidak cuma membanggakan kota kelahiran saja namun juga tanah airnya, Chile yaitu dengan sukses dua kali juara Copa America. Sekarang dia menjadi idola publik La Roja dan termasuk salah satu penyerang terbaik dunia.

Banyak pesepakbola yang mempunyai kisah hidup memilukan seperti Bacca dan Sanchez. Seperti Luis Suarez kecil, yang tidak mampu membeli sepatu sepakbola dan bermain bola selalu di jalanan, itulah masa lalu El Pistollero. Ramires mantan pemain Chelsea yang kini bermain di Liga China, bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan akibat kesulitan dari segi ekonomi.

Bahkan pemain terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo, juga tergolong hidup dalam keluarga kurang mampu semasa kecilnya. Para pesepakbola tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa tiada yang tidak mungkin jika ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Syarat yang wajib dipenuhi jika ingin merubah nasib hidup adalah kerja keras tiada henti, tidak lelah untuk menaruh harapan dan berdoa semoga keberuntungan menaungi.

Pahitnya pengalaman hidup membentuk mental para bintang dunia tersebut hingga sekuat sekarang ini. Jika sudah begini, benar adanya seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa andai kita benar-benar berusaha keras maka usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil dikemudian hari.

Foto dari pulse.org

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

Selamat Datang di Premier League

        English Premier League adalah liga yang paling dinantikan di dunia, liga tertinggi dalam kasta sepakbola Inggris ini menjadi atensi utama penikmat sepakbola dimanapun. Gegap gempita Liga Inggris selalu menarik untuk disaksikan, mulai dari banyaknya pemain bintang dari berbagai penjuru dunia, kompetisi yang ketat dan sulit diprediksi, hingga manajemen liga yang profesional, semua faktor itu menjadikan Liga Inggris yang paling “sexy” dibandingkan liga-liga lain di Eropa.

      Musim ini pun masih tetap seperti itu, dan bahkan bisa dikatakan liga ini semakin menarik untuk dinikmati perjalanannya. Tidak hanya pemain-pemain bintang dari luar Inggris yang datang, beberapa manajer terbaik dunia juga menjadikan Liga Inggris sebagai ajang pembuktian diri.

        Dari level pemain, rekor transfer termahal dunia baru saja dipecahkan oleh Manchester United dengan menggelontorkan 89 juta poundsterling untuk membawa pulang anak yang mereka buang 4 tahun lalu, Paul Pogba. United juga mendatangkan bomber kelas wahid bernama Zlatan Ibrahimovic, meski sudah 34 tahun namun ketajaman dan reputasi Zlatan masih hebat.

      Pogba dan Ibra dilengkapi oleh rekrutan bagus lain seperti Heinrikh Mkhitaryan dan Eric Bailly. Tetangga berisik United, Manchester City juga tidak kalah banyak menghabiskan uang, 47 juta poundsterling menjadikan John Stones sebagai bek termahal dunia ketika pindah dari Goodison Park, markas Everton menuju Etihad Stadium, adapula Leroy Sane, Nolito, Ilkay Gundogan dan Claudio Bravo yang akan menyingkirkan Joe Hart sebagai kiper utama The Citizens.

      Klub lain juga tidak ketinggalan dalam membeli pemain bagus, Chelsea mentransfer striker Marseille yaitu Michy Batshuayi seharga 40 juta euro, N’golo Kante 35 juta euro dari Leicester City dan Arsenal memboyong Granit Xhaka dengan tebusan 30 juta pounds dari Borussia Moenchengladbach. Tottenham mencoba menambah daya serang dengan mendatangkan top skor Eredivisie musim lalu, Vincent Janssen (18 juta euro) dan Victor Wanyama dihargai 10 juta euro dari Southampton.

     Liverpool juga tidak lupa mewujudkan keinginan Jurgen Klopp membangun skuat dari awal musim dengan mengangkut Sadio Mane sebesar 35 juta euro, sementara itu juara bertahan Leicester City menambal kepergian Kante dengan Nampalys Mendy (13 juta pounds) dari Nice serta juga menambah pilihan penyerang untuk Ranieri dengan membayar 18 juta euro ke CSKA Moskow demi Ahmed Musa.

     Tim-tim lain juga tidak kalah garangnya dalam bursa trasfer pemain, West Ham meminjam Simone Zaza dan 20 juta pounds untuk Andre Ayew (rekor transfer The Hammers) dan banyak merekrut pemain baru, Everton menggunakan uang hasil penjualan Stones untuk mengamankan servis Yannick Bolasie dari Crystal Palace (25 juta pounds).

    Southampton yang kehilangan Mane dan Wanyama menggantikan mereka dengan Nathan Redmond (10 juta pounds) dan Pierre-Emile Hojbjerg (13 juta pounds). Bahkan klub sekecil Burnley memecahkan rekor transfer klub ketika mengambil kapten Anderlecht, Steven Defour dengan uang 8 juta poundsterling, kebetulan Defour yang memang ingin pindah karena alasan kenyamanan. Betapa banyaknya uang yang dimilik klub-klub liga Inggris ini adalah juga imbas dari pengelolaan liga yang profesional dan hak siar yang merata bagi seluruh tim.

       Yang juga menjadi perhatian khalayak luas adalah keberadaan manajer-manajer hebat di Premier League musim ini. Jose Mourinho yang musim lalu mengalami masa-masa terburuknya di Inggris bersama Chelsea telah resmi menjadikan Manchester United sebagai klub baru yang dia latih musim ini, reputasi Mourinho tentu akan membuat United kembali disegani di Inggris.

     Tak kalah dengan saudara tua-nya, Manchester City juga mendatangkan pelatih dengan reputasi yang jelas cemerlang, Pep Guardiola. Kehadiran dua pelatih ini sedikit banyak akan menghadirkan rivalitas panas dalam derbi Manchester, apalagi dulu mereka terlibat perseteruan bentrok antar dua klub terbaik sejagad raya Madrid vs Barcelona, El Clasico. Selain mereka berdua, Liga Inggris juga disinggahi mantan pelatih Italia, Antonio Conte.

      Orang paling ekspresif dipinggir lapangan, passion Conte ketika memberi instruksi untuk pemain sangat menarik ditonton, mungkin dalam hal ini Conte lebih dari Jurgen Klopp dan bahkan hampir seperti Diego Simeone.

      Klub lain yang relatif lebih kecil juga ikut berbenah disektor manajerial, ada yang mengganti pelatih dari sesama klub di liga ada juga yang mengambil pelatih dari luar Inggris. Sunderland memanggil pulang orang tersial pasca Sir Alex Ferguson pensiun, David Moyes untuk memperbaiki reputasi yang dahulu hancur lebur di MU dan Real Sociedad, dan akan mengisi pos yang ditinggal Sam Alladyce karena jabatan di tim nasional.

     Sementara itu posisi Ronald Koeman yang pergi dari Southampton akan digantikan Claude Puel, pelatih berpaspor Perancis yang dulu pernah sukses dengan Lyon. Sementara Watford akan dikendalikan oleh Walter Mazzari yang berpengalaman menangani Napoli dan Inter, keberadaan Mazzari akan membuat 1/5 komposisi pelatih di Premier League berasal dari Italia dari keseluruhan 20 orang, mereka adalah Claudio Ranieri, Antonio Conte, Francesco Guidolin dan Walter Mazzari itu sendiri.

    Kedatangan Mou, Pep, Conte dan beberapa nama lain akan menjadikan musim ini sebagai musim penuh pertarungan strategi. Karena mereka juga akan bertarung dengan pelatih yang sudah berada di Liga Inggris sejak musim lalu seperti Arsene Wenger, Mauricio Pochettino, Claudio Ranieri, Ronald Koeman, Alan Pardew dan lainnya.

       Musim yang sangat luar biasa bagi Liga Inggris, semakin banyak pemain bintang pindah ke negeri Ratu Elizabeth, banyaknya pelatih populer, ditambah lagi gaya permainan klub-klub di Inggris yang terkenal doyan menggeber serangan menjadikan liga ini paling menarik dibanding liga lain di Eropa.

    Selain karena permainan tim yang menghibur, atmosfer stadion yang luar biasa, pemain bintang dan pelatih dengan reputasi kelas atas, persaingan menjadi juara, tim mana yang akan masuk zona Eropa dan siapa yang akan terdegradasi juga sulit ditebak. Dalam empat tahun terakhir ini saja juara liga selalu berbeda, bergiliran Manchester United, City, Chelsea dan musim lalu secara mengejutkan tim medioker, Leicester City mampu menjungkalkan prediksi semua pihak dengan menjadi kampiun, Wow!.

    Inilah yang membuat Premier League sulit diprediksi, dilain sisi bahkan tim yang terhitung besar seperti Aston Villa dan Newcastle malah terdegradasi ke Championship Division, benar-benar mengejutkan bukan?.

      Untuk saat ini Inggris boleh berbangga dengan kompetisi sepakbola tertinggi mereka menjadi yang terbaik di dunia, hal-hal menarik diatas mampu membuat Premier League diminati seluruh di dunia. Apalagi ditambah fakta bahwa aturan home-grown players yang mengharuskan klub memberikan ruang bagi pemain akademi ternyata mampu menghasilkan pemain berkualitas tanpa mengecilkan rasio kedatangan pemain asing ke Inggris.

     Harry Kane, Delle Ali, Danny Rose, Luke Shaw, Marcus Rashford, Raheem Sterling, John Stones, Kyle Walker, Nathaniel Clyne dan masih banyak lagi pemain muda Inggris yang saat ini memperkuat tim besar, pada akhirnya kesempatan pemain lokal pun tidak tergerus dengan serbuan bintang-bintang asing yang menjadi magnet utama di liga.

    Mungkin saat ini kekurangan yang ada di Premier League hanya ketersediaan pelatih lokal muda yang berbakat, hal itulah yang sangat sulit diwujudkan dan mungkin inilah yang selalu berdampak negatif bagi tim nasional Inggris, karena keterbatasan stok pelatih muda lokal berkualitas yang punya pengalaman sebagai pelatih utama di Premier League tentu akan mempersulit regenerasi pelatih di negera yang mengklaim sebagai “rumah-nya sepakbola” ini.

       Dengan segala nilai plus yang ada, sangat layak untuk disaksikan keseruan apa saja yang akan hadir disepanjang musim ini, apakah tim besar seperti MU, City dan Chelsea akan juara atau justru kembali muncul kejutan seperti Leicester?

    Intrik dan gosip apa saja yang akan terjadi di dalam dan luar lapangan, lalu bagaimana pula psy-war yang akan saling terlontar diantara keberadaan Mourinho, Pep, Wenger, Conte dan Klopp? Siapa pemain yang akan bersinar, apakah Zlatan, Aguero, Mahrez atau sepasang kaki termahal atas nama Paul Labile Pogba? Yang pasti luangkan lah waktu anda disetiap akhir pekan untuk ini dan nikmatilah; this is it, Welcome to Premier League!!.