Image

Wayne Rooney; Rekor, Kehampaan dan Berkurangnya Loyalitas Sepakbola Kini

Bagi pendukung Manchester United, nama Wayne Rooney sudah tentu masuk daftar idola yang dielu-elukan. Pemain kelahiran Liverpool, 24 Oktober 1985 ini juga menyandang status kapten klub sejak beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di United, Rooney juga masih didaulat sebagai kapten tim nasional Inggris hingga kini.

Terkait Rooney, sudah pasti kalau ban kapten yang melingkar di lengannya adalah bukti bahwa dia, bukan pemain sembarangan. Rekor dari catatan gol fantastis sukses dia bukukan baik itu bersama Manchester United atau pun The Three Lions.

Gol penyama kedudukan di menit-menit akhir ke gawang Stoke City, 21 Januari lalu tak hanya menyelamatkan timnya dari kekalahan, namun sekaligus menjadikan Rooney sebagai top skor sepanjang masa Manchester United dengan 250 gol.

Golnya itu sudah cukup untuk melampaui 249 gol milik legenda Sir Bobby Charlton. Di timnas Inggris idem ditto, jumlah 53 gol miliknya adalah yang tertinggi dari semua pemain yang pernah bermain bagi skuad The Three Lions.

Dia sendiri sudah mulai sering menjadi andalan MU dan Inggris sejak tahun 2004. Kenapa Rooney mencetak gol yang banyak, hal ini tidak lepas dari posisinya sebagai penyerang utama Manchester United dan Inggris dalam satu dekade terkahir. Lain daripada itu, memecahkan rekor gol terbanyak di klub sekelas MU dan timnas seperti Inggris bukanlah perkara yang setiap pemain bisa lakukan.

Ditambah banyak gelar yang ia raih bersama klubnya seperti Liga Champions, Premier League atau FA Cup, maka dari itu bisalah kita sebut bahwa Wayne Rooney, sudah pantas dikatakan sebagai “legenda”, walau belum pensiun. Meski ditataran negaranya sendiri, dia belum memberi gelar apa-apa untuk The Jack Union, julukan timnas Inggris.

Pujian mengalir deras tidak hanya dari orang yang terkait dengan Manchester United, bahkan dari Jack Wilshere, pemain Arsenal yang kini dipinjam Bournemouth itu menyampaikan selamat atas rekor Rooney melalui sosial media Instagram. Pecahnya rekor yang telah lama dipegang legenda Bobby Charlton oleh kapten Rooney, tentu menjadi suka cita tersendiri bagi fans MU dimanapun mereka berada.

Namun, disisi lain walau ada rekor baru yang tercipta, justru sebenarnya hal itu datang di waktu yang kurang tepat. Rooney tengah disorot karena performa inkonsisten yang ia sajikan beberapa tahun terakhir. Sehingga meski rekor baru ini tercipta, ada sedikit kehampaan akibat performa Rooney yang tidak stabil, khususnya dalam hal mencetak gol, apalagi standar kehebatan striker dilihat dari kemampuannya menjebol jala lawan.

Performa labil Rooney dalam mencetak gol bisa dilihat dari statistik, yang berdasarkan situs whoscored.com, Rooney di Premier League hanya mengemas masing-masing 12 dan 8 gol di dua musim terakhir. Musim ini pun dia baru dua kali menjebol gawang tim lawan di Premier League, termasuk gol ke gawang Stoke.

Penurunan ketajaman Rooney, mungkin sedikit dipengaruhi pergeseran posisi yang lebih kebelakang. Terlebih dua musim sebelum ini, ketika Van Gaal menduduki kursi pelatih United, Rooney seringkali ditarik kedalam. Tidak cuma menjadi gelandang serang atau gelandang tengah, bahkan hingga gelandang bertahan pernah diperankan oleh pemain dengan panggilan Wazza ini.

Apakah merosotnya Rooney memang benar akibat ulah Van Gaal yang menjadikannya gelandang atau memang dia sendiri sudah mengalami penurunan performa? Karena sering menjadi gelandang, bahkan hingga berposisi yang sangat defensif tentu akan mengurangi insting ketajaman Rooney merobek gawang lawan.

Tetapi statistik menjadi bukti, Rooney tidak menurun, hanya performa dia menyesuaikan dengan posisi yang ia emban ketika di lapangan. Kalau parameter yang dipakai yaitu performa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Ketika sering menjadi gelandang (dua tahun era Van Gaal), Rooney punya presentase akurasi umpan 83,9% dan tekel 1,05 perlaga. Rooney juga punya catatan stabil 5 dan 6 dalam hal assist di dua musim terkahir ini di Premier League.

Bisa dibilang kualitas Rooney belum habis, hanya dia menyesuaikan performa sesuai dengan posisi yang dijalani. Jika ia masih dipercaya menjadi juru gedor utama, barangkali merayakan rekor sebagai all-time goalscorer untuk Manchester United akan terasa lebih spesial bagi dirinya, apabila dia tetap konsisten tajam dalam mencetak gol.

Pencapaian hebat Rooney juga menjadi pertanda berakhirnya era pemain besi Premier League. Dalam bahasa penulis, besi adalah suatu yang bisa awet dan bertahan lama. Maka diibaratkan “pemain besi” itu adalah dia yang bertahan lama di sebuah klub, tak lain karena loyalitas yang tinggi. Steven Gerrard yang pergi dari Liverpool atau Frank Lampard yang merantau keluar dari Chelsea, beberapa contoh pemain besi yang sudah pergi dari Premier League.

Lampard, Gerrard atau Rooney disamping menjadi ikon Premier League medio 2000an, mereka juga menjadi perlambang kesetiaan pemain terhadap klubnya. Hal inilah yang semakin susah dicari di zaman ini. Sepakbola yang sudah tidak ada bedanya dengan ajang cari uang saja, membuat loyalitas pemain dipertanyakan. Semakin sulit mencari pemain hebat dengan loyalitas tinggi belakangan ini. John Terry yang sudah melekat sebagai salah satu ikon The Blues pun akan meninggalkan Chelsea musim panas 2017 ini.

Loyalitas pemain bintang bisa tergadaikan apabila ada uang yang menjadi iming-iming. Terlebih adanya Tiongkok, yang berani jor-joran mengeluarkan uang. Pergi ke Tiongkok pun kini seakan sudah mulai menjadi tren pemain-pemain dari liga-liga besar di Eropa.

Masih betahnya Rooney di Teathre of Dreams, setidaknya hingga kini patut diapresiasi. Meski Rooney sedang tidak bagus, menuju senja karir dan di kritik habis-habisan, dia tetap mampu mengkir rekor hebat. Lalu dia pun menjadi lambang loyalitas pemain bintang, yang kini seakan sudah jadi barang langka.

Setidaknya masih ada nama besar seperti Rooney ditambah Michael Carrick di MU dan John Terry (Chelsea) musim ini, dapat menunjukkan sepakbola tidak selamanya bisa dimainkan uang, masih ada rasa kesetiaan tinggi, khususnya di Premier League. Jika pemain-pemain ini tidak loyal, barangkali mereka sudah hijrah ke China dengan gaji yang berlipat-lipat dari yang mereka dapat di Inggris.

Itulah sedikit tentang Rooney, andai dia sedang ganas-ganasnya mencetak gol, mungkin terciptanya rekor gol terbanyak di Manchester United akan terasa lebih indah. Namun meski ada sedikit kehampaan dari rekor tersebut, menuanya Rooney bisa jadi menjadi pertanda pamungkas, akan berkahirnya sebuah era “pemain besi” di Premier League.

Foto dari The Guardian

*Statistik angka dari Opta

 

Advertisements

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com