Conte yang Dibayangi Ancaman Deja Vu

Chelsea musim 2016-17 adalah jawara Premier League. Puja dan puji dialamatkan untuk Antonio Conte, selaku juru taktik The Blues. Meski sempat tersendat dengan formasi 4-2-3-1, Conte menyulap Chelsea menjadi tim pemenang pasca merubah formasi. Taktik racikan Conte membawa kenyamanan dalam ritme permainan tim semenjak beralih ke formasi tiga bek; 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Disamping taktik, kesuksesan Chelsea juga berkat faktor teknis pemain di lapangan. Conte melakukan pembelian cerdas, N’golo Kante adalah holding midfielder terbaik dunia saat ini. Dia melindungi pertahanan dengan baik dan idem ditto ketika mengalirkan bola. Permainan apik dari Kante itu menuntunnya pada gelar pemain terbaik versi PFA, FWA dan Liga.

Dibawah rezim Antonio Conte, Eden Hazard kembali menjadi sesuatu yang “Hazardous” bagi lawan. Hazard mengkreasi 79 key passes dan lima asis. Performa Hazard meningkat, seakan menuju ke level permainan terbaiknya di dua musim silam. Sementara itu si tukang pukul Diego Costa, menjadi lebih jinak dan kalem dibawah kendali Conte, meski tanpa menghilangkan keberingasannya didepan gawang. Costa cetak 20 gol di Premier league.

Conte tak lupa menciptakan kejutan, yakni dua outsider yang menjadi pilar inti. Marcos Alonso yang awalanya dikritik terlalu lamban dan tidak istimewa, menjadi bek sayap kiri yang begitu menjanjikan. Yang paling tidak disangka tentu bangkitnya Victor Moses. Mantan pemain Wigan yang sebelumnya tak punya kejelasan nasib, mendadak diandalkan sebagai bek sayap kanan. Alonso dan Moses membuat kedua sayap Chelsea hidup, serta seimbang dalam menyerang dan bertahan.

Di belakang, inovasi brilian Conte adalah menggeser Cesar Azpillicueta menjadi bek tengah sebelah kanan dan terbukti permainannya begitu solid. Pemain Spanyol ini sangat diandalkan di lini belakang, dia menyapu bersih seluruh gameweek dan tampil penuh di setiap laga.

Kemudian, Conte sukses “mendewasakan” permainan David Luiz, yang sebenarnya merupakan pembelian agak mengejutkan diawal musim. Selain mendekati uzur, gaya main Luiz juga bisa membuat jantung berdebar bagi fans Chelsea dimanapun.

Dengan bakat Brasil yang mengalir, bukan kendala bagi Luiz untuk bermain stylish meski berposisi bek tengah. Dia tipikal pemain yang berani berlama-lama dengan bola, meski disisi lain itu juga bisa beresiko tinggi bagi pertahanan timnya sendiri. Saat ini memang terkadang Luiz masih membawa bola terlalu lama, namun dibawah Conte, dirinya sedikit berubah. Pria kribo itu tidak lagi gampang blunder serta bermain lebih disiplin, daripada David Luiz yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, Conte jeli memanfaatkan potensi-potensi pemain dari bangku cadangan, meski sebenarnya mereka ini pemain bereputasi besar. Cesc Fabregas memang kalah bersaing dengan N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Meski tidak selalu dimainkan sejak menit pertama, jebolan La Masia ini beberapa kali menjadi pemecah kebutuntuan. 10 asis-nya adalah catatan tertinggi diantar pemain Chelsea lain di liga.

Begitu juga Willian yang harus menjadi back-up bagi Pedro serta Michy Batshuayi, striker 40 juta euro yang menjadi penghangat bangku cadangan. Meski begitu, baik Willian dan Batshuayi tetap punya kontribusi untuk Chelsea. Willian mengemas 8 gol musim ini meski berstatus pemain cadangan. Batshuayi jarang bikin gol, karena toh jarang pula diturunkan. Tetapi golnya di laga melawan West Brom, pekan 37 termasuk vital karena mengunci gelar Premier League untuk Chelsea.

Tetapi yang sedikit mengherankan, kecemerlangan Chelsea bersama Conte musim 2016/17 lalu, tak serta membuat klub yang bermarkas di Stamford Bridge ini kembali dijagokan back to back menjuarai Premier League. Lihatlah kenyataannya beberapa rumah taruhan justru menjagokan Manchester City, yang yang lebih berpeluang besar untuk juara musim 2017/18 nanti, daripada Chelsea.

Kebetulan yang sempurna, Manchester City memang menjadi tim besar Inggris dengan gerakan tercepat untuk urusan transfer. The Citizens saat ini telah resmi mengumumkan akuisisi beberapa pemain muda menjanjikan seperti Bernardo Silva (Monaco) dan Ederson Moraes (Benfica). Selain itu City juga dirumorkan mengincar nama-nama beken lain seperti Leonardo Bonucci, Virgil Van Dijk, Kyle Walker dan Benjamin Mendy.

The Citizens akan belanja besar-besaran demi merombak kerangka tim seperti yang diingikan oleh Pep Guardiola. Dengan komposisi tim yang sesuai pikiran mantan pelatih Barca itu, serta Guardiola sendiri pun sudah punya cukup waktu beradaptasi dengan sepakbola Inggris, inilah yang membuat City diunggulkan oleh banyak pihak.

Disisi lain, salah satu alasan kenapa Chelsea tidak diunggulkan menjuarai liga musim depan, selain karena geliat Manchester City, juga karena bongkar pasang skuad musim ini.

Akibat dari geliat City dan aktivitas transfer mereka sendiri yang cenderung sedang, Chelsea beserta pelatih Conte harus pula waspada dengan ancaman-ancaman deja vu setelah menjuarai Premier League.

* Penurunan performa, semusim pasca juara

Deja Vu pertama yakni, manakala juara Premier League justru langsung babak belur begitu musim berganti. Fenomena ini muncul dalam dua musim belakang. Chelsea yang menjadi juara Premier League musim 2014/15, secara mengejutkan berubah layaknya tim medioker di musim 2015/16. Saat itu ditengarai konflik Mou versus dokter medis Chelsea, Eva Carniero yang menjadi pemicu awal terganggunya konsentrasi para pemain.

Terlebih hobi Mourinho bermain psy-war dengan manajer lain dan gemar mengkritik pemain-pemainnya sendiri, serasa membuat sorotan tajam selalu terarah ke Chelsea saat itu hingga pemain tak mampu jaga konsentrasi. Mereka terlempar dari persaingan juara dan bahkan sempat berada di papan bawah musim itu. Di arena lain seperti Liga Champions, FA Cup dan League Cup, nasib mereka setali tiga uang.

Kemudian, klub kedua yang menurun drastis pasca juara adalah Leicester City. Memang banyak yang memprediksikan performa mereka di 2016/17, tidak akan segalak ketika berhasil juara (2015/16). Tetapi terjembab di papan bawah juga tidak masuk ekspektasi banyak pengamat sebelumnya.

Penjualan N’golo Kante disebut menjadi biang keladi penyebab penampilan Leicester memburuk. Ketika performa tim menurun, pelatih menjadi orang paling bertanggung jawab dan Claudio Ranieri merasakan hal itu (dipecat), meski banyak pihak menyayangkan pemecatan ini.

* Pelatih Italia yang dipecat, semusim pasca juara

Deja vu bentuk kedua yakni seolah muncul tradisi bahwa pelatih asal Italia yang berhasil membawa timnya juara Premier League, akan terkena PHK musim selanjutya. Hal ini sudah dimulai dari era Carlo Ancelotti, yang kini sedang menangani raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Don Carletto yang dikontrak Chelsea pada musim 2009/10, langsung juara Premier League dan FA Cup di musim perdana itu juga. Dia adalah orang Italia pertama yang sukses menjuarai liga Inggris. Musim selanjutnya, 2010/11, ekspektasi tinggi menggelayuti Chelsea untuk bisa lebih berprestasi, termasuk di Eropa. Sialnya, Ancelotti gagal mempertahankan gelar Premier League dan mereka juga gugur di perempat final Liga Champions. Ancelotti pun disingkirkan Abramovich pada Mei 2011.

Roberto Mancini, yang memanajeri Manchester City sejak 2009, berperan besar atas kisah dramatis klub itu juara Premier League 2011/12. Tetapi mantan pelatih Inter ini juga tidak luput dari pemecatan satu musim kemudian, 2012/13. Beberapa faktor seperti jeblok di Liga Champions serta gagal mempertahankan gelar liga, disinyalir menjadi penyebab kenapa Mancio ditendang oleh manajemen The Citizens.

Italiano ketiga yang didepak semusim pasca juara liga, siapa lagi kalau bukan Claudio Ranieri. Mantan pelatih Valencia ini sebelumnya berhasil menggoreskan sejarah bak cerita dongeng yang legendaris. Claudio membawa tim antah-berantah, Leicester City menjuarai Premier League musim 2015/16. Pujian mengalir begitu deras untuk dirinya. Claudio bahkan dianugerahi Ordo Merit oleh pemerintah Italia, atas jasanya mengharumkan nama negeri itu dibelantika sepakbola.

Musim 2016/17, Ranieri di bebas tugaskan secara resmi oleh Leicester pada 2 Februari 2017, walaupun pada bulan Januari sebelumnya mendapat gelar FIFA Best Men’s Coach. Ranieri didepak atas penurunan performa secara drastis The Foxes di liga. Kekalahan di 16-besar Liga Champions leg pertama melawan Sevilla, seakan hanya jadi penegas hantaman “godam” pemecatan bagi Ranieri.

* Musim Mourinho

Antonio Conte sendiri mengatakan tidak ingin merasakan deja vu “musim Mourinho”, yang ia anaolgikan sendiri sebagai penurunan tajam performa setelah juara. Apakah ia sendiri merasa khawatir kejadian yang menimpa Mourinho di musim terakhirnya bersama Chelsea akan menjangkitinya juga?

Kalau dilihat dari awal musim, kejadian itu bisa jadi akan terulang. Mereka kalah di ajang Community Shield 2017 dari Arsenal, yang dipandang sebagai tanda-tanda awal menurunnya performa Chelsea.

Mourinho juga merasakan suasana tidak nyaman di musim 2015/16 lalu. Mereka kalah dari Arsenal di Community Shield dan di pekan pertama mereka ditahan Swansea 2-2 beserta konflik Mourinho versus Eva Carneiro yang menambah runyam hari-hari di awal musim Chelsea sebagai juara bertahan kala itu. dia akhir musim 2015/16 itu, Chelsea babak belur.

* Menghindari Deja Vu

Musim 17/18 ini Conte wajib menghindari tiga deja vu sekaligus. Pertama, dalam dua musim terakhir, juara Premier League selalu amburadul di musim selanjutnya (saat berstatus juara bertahan). Lalu, dia juga harus menghindari kutukan deja vu lain, berupa manajer Italia yang dipecat, hanya semusim pasca membawa timnya memenangi Premier League.

Celakanya sebagai tim besar yang haus akan trofi, maka tak cukup puas bagi sang bos, Roman Abramovich jika Chelsea hanya jago kandang (di kompetisi Inggris) saja. Conte harus mendorong Chelsea untuk berbuat banyak di Liga Champions Eropa, sebisa mungkin juara.

Ini yang menjadi tanda tanya. Sebagai pelatih di level klub, Conte memiliki riwayat bagus untuk kompetisi lokal, namun tidak ketika mentas di Eropa. Juventus dibawah kendalinya tidak memuaskan selama di Liga Champions. Pernah sampai semifinal kompetisi Eropa, tetapi bukan di Liga Champions, mekainkan Liga Europa tepatnya musim 2013/14.

Identik dengan tiga bek adalah momen dimana Juve a la Conte yang jago di kandang (di Serie A), namun loyo di kompetisi Eropa. Kebetulan Chelsea-nya Conte juga mengandalkan skema tiga bek.

Sedikit kolotnya Conte dengan skema tiga bek menjadi salah satu faktor kenapa Juve tak berdaya di Eropa. Terbukti ketika beralih ke Allegri, yang sering menggunakan formasi empat bek untuk mengarungi Liga Champions, Juve sampai dua kali masuk final dalam tiga musim terakhir. Conte kali ini sudah seharusnya belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelum ini.

Roberto Di Matteo, pelatih Italia kelahiran Swiss ini saja didepak, walau belum genap semusim pasca membawa Chelsea merengkuh trofi Liga Champions (pertama dalam sejarah klub) dan FA Cup 2011/12.

Dipecatnya pelatih asal Italia seperti Ancelotti, Mancini atau Ranieri selain karena gagal mempertahankan trofi Premier League, juga disebabkan pula oleh buruknya performa tim-tim asuhan mereka di Liga Champions. Sepakbola modern memang kejam, sedikit saja kurang memuaskan, maka pemecatan pelatih bukan menjadi barang langka lagi.

Conte seharusnya bisa menghapus dua deja vu laten di Chelsea tersebut beserta deja vu musim Mourinho, yang bisa setiap saat membuat dirinya kehilangan jabatan manajer Chelsea. Memperkuat lini belakang menjadi langkah pertama Conte. Trio Azpillicueta-Luiz-Cahill perlu diberi saingan pemain berkualitas, setelah Kurt Zouma, Nathan Ake dan John Terry meninggalkan klub.

Wing-back dikedua sisi juga perlu pelapis yang sepadan dengan Alonso dan Moses, mengingat dua posisi ini juga vital bagi permainan Chelsea. Dengan berharap Abramovich mengucurkan dana besar untuk operasi pasar transfer.

Pemain baru seperti Alvaro Morata, Antonio Ruediger dan Timoue Bagayoko belum cukup meningkatkan kualitas Chelsea. Lihat saja daftar yang pergi; Diego Costa, Nemanja Matic, Nathan Ake, Kurt Zouma dan John Terry. Kedatangan pemain baru hanya menambal lubang saja, belum meningkatatkan kualitas Chelsea secara signifikan.

Selain memperdalam skuad, memperkaya pilihan taktik juga perlu direncanakan Conte. Sukses mereka musim 2016-17 lalu, sudah jelas membuat lawan yang menghadapi mereka akan menyiapkan segenap tenaga untuk mengalahkan juara bertahan.

Tugas Conte tambah berat di musim 2017/18. Selain Premier League semakin kompetitif, konsentrasi Chelsea terbagi di empat ajang sekaligus. The Blues akan menjajal jadwal super padat karena berlaga di Premier League, Liga Champions, Piala FA dan Piala Liga.

Kini tinggal bagaimana pintar-pintarnya Conte saja dalam mengelola Chelsea di musim 2017-18 depan. Sepertinya, prestasi minimal Conte musim depan adalah mempertahankan status juara liga, demi menghindari pemecatan. Untuk langsung juara Liga Champions, terhitung sulit mengingat sudah satu musim Chelsea absen dari serunya pertarungan di Eropa.

Sebagai orang yang kenyang asam garam di dunia kepelatihan, terlebih juga pernah menangani sebuah timnas, tentu pengalaman dan kekayaan taktik Conte saat ini jauh lebih baik sedari ketika masih di Juventus dahulu. Jadi, sudah siapkah menghapus deja vu dan musim Mourinho itu, Antonio?

Sumber foto: express.co.uk

Advertisements

Paradoks Saint Totteringham’s Day

Di babak 16 besar Liga Champions, Bayern München menghadapi Arsenal. Sudah ditebak, Meriam London kembali melempem sumbunya ketika bersua The Bavarian di panggung Eropa. Kali ini dengan agregat telak 10-2, meski Arsenal gugur di 16 besar adalah pemandangan yang sebenarnya tak aneh dalam beberapa tahun terkahir.

Rival sekota mereka, Tottenham Hotspurs juga terjungkal dihadapan klub Belgia, KAA Gent dengan agregat 1-2. Bedanya Spurs melakoni laga itu di babak 32-besar Liga Europa, kasta Eropa yang lebih rendah.

Bagi setiap elemen yang ada di Arsenal, pasti sangat berat hati apabila melihat klub-klub pesaing berat, finis lebih tinggi dari mereka di setiap akhir musim atau melangkah lebih jauh di sebuah cup competitions.

Apalagi jika posisi rival satu kota seperti Chelsea atau terlebih-lebih Tottenham, yang lebih tinggi dari Arsenal di akhir sebuah musim Liga Inggris atau melaju lebih jauh di gelaran turnamen. Tapi musim ini Arsenal terseok-seok masuk empat besar, sedangkan Tottenham sangat stabil aman di zona tersebut.

Khusus terhadap sesama klub London Utara, Tottenham Hotspurs, Arsenal selalu finis diatas mereka sejak 1994/95 hingga musim 2015/16 lalu. Sudah dua dekade ini mereka selalu lebih superior terhadap tetangga terdekatnya tersebut hingga melahirkan istilah unik, Saint Totteringham’s Day.

Saint Totteringham’s Day adalah hari dimana pendukung Arsenal atau yang biasa disebut Gooners, bersuka cita mana kala tau bahwa tim idola mereka dipastikan finis diatas Spurs. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh situs Arseneweb.com pada 2002.

Musim lalu Saint Totteringham’s Day sangatlah epik. Di gameweek terkahir, Tottenham dilumat 5-1 oleh Newcastle sedangkan disisi lain Arsenal menang 4-0 atas Aston Villa.

Arsenal yang hampir selalu dibawah Tottenham (terutama paruh kedua musim lalu), secara dramatis mendahului Tottenham pada pekan terkahir tersebut. Meski gagal juara dan hanya nangkring di posisi dua, hasil itu setidaknya masih menyisakan senyum di bibir para pendukung setia Arsenal.

Tidak hanya suporter, dari pemain hingga mantan pemain Arsenal juga tidak luput ikut merayakan Saint Totteringham’s Day lewat sosial media musim lalu itu. Saint Totteringham’s Day sendiri biasa diperingati Mei atau April, waktu dimana kompetisi biasanya mendekati pekan-pekan akhir.

Tapi itu hal yang paradoks, Saint Totteringham’s Day ibarat “prestasi” namun disaat bersamaan juga tak berarti apa-apa, rasanya semu sekali. Lagian, semisal mengungguli Tottenham di Premier League, itu tidak berarti spesial. Toh selama ini Tottenham juga tidak pernah juara Liga Inggris sejak 1961. Ya, kan?

Arsenal sendiri, terakhir juara yakni musim 2003/2004, dimana saat itu Arsenal masih jadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Inggris. Selanjutnya, tak pernah ada lagi kapten Arsenal yang angkat trofi liga diakhir tiap musim sampai saat ini.

Okelah, mungkin berkilah Arsenal terlalu sering menjual pemain bintang, yang dijadikan kambing hitam surutnya prestasi Arsenal. Hal ini karena kebutuhan uang untuk mengimbangi hutang pembangunan stadion. Tetapi itu sudah berlalu, pembangunan stadion sudah selesai sejak lama dan keuangan klub sudah membaik.

Saat ini bahkan Arsenal bukan lagi klub penjual, melainkan pembeli pemain-pemain bintang harga mahal. Mesut Özil dibeli seharga 42 juta poundsterling dari Real Madrid pada 2013, Alexis Sanchez diboyong dari Barcelona musim 2014-2015 dengan banderol 31 juta pounds.

Musim ini Arsenal juga royal membelanjakan dana di bursa transfer. Total, perekrutan Granit Xhaka, Skhodran Mustafi dan Lucas Perez menghabiskan kas Arsenal sebanyak 82 juta poundsterling. Disamping itu, kualitas skuad makin mengkilap dengan munculnya pemain muda seperti Alex Iwobi dan semakin matangnya Hector Bellerin atau Aaron Ramsey.

Kalau begitu muncul pertanyaan, kenapa dengan skuad yang sudah bagus, Arsenal tetap begini-begini saja? Lalu apa? Banyak yang mengatakan, Arsenal bermain indah dan sedap dipandang mata, tetapi lemah dari agresifitas dan kurang punya mentalitas yang kuat.

Soal gaya permainan, Arsenal mengandalkan umpan pendek dan kombinasi satu-dua guna membongkar pertahanan lawan. Sekilas menyerupai ticqui-taka, namun karena bermain di Inggris, Arsenal wajib memiliki gelandang bertahan yang “kejam” seperti Patrick Vieira.

Permainan keras khas seperti Vieira tentu dibutuhkan guna melindungi lini tengah dan belakang, terutama dari serangan balik yang rentan menghantui tim seperti Arsenal, yang gemar menguasai bola dan terapkan garis pertahanan tinggi.

Vieira tidak hanya garang dalam menghentikan serangan atau jago merebut bola, namun juga lihai mengalirkan bola kedepan, sehingga tetap cocok dengan The Arsenal Way yang memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki. Dia punya agresifitas baik ketika bertahan atau juga saat menyerang.

Di skuad musim ini ada Francis Coquelin, Granit Xhaka dan Mohammed Elneny yang bisa berperan sebagai gelandang jangkar. Antara ketiga pemain ini, berdasar data situs whoscored.com, Coquelin dari 21 kali tampil di Premier League, dia menonjol dari sisi defensif dengan rerata 2,9 tekel sukses dan 2,3 intersep di setiap laga.

Coquelin pun tidak buruk dalam mengoper bola karena punya catatan akurasi 88%. Sedangkan angka untuk Xhaka yaitu catatan 2,7 tekel, 1,7 intersep, akurasi umpan 89,4 %. Lalu Elneny punya 1,5 tekel, 0,5 intersep dan pass succes percentage 92,6 perlaga.

Bahkan menurut Squawka, Coquelin punya jumlah umpan sukses sebanyak 298 kali di final-third area atau area dalam pertahanan lawan, angka tersebut lebih unggul dari gelandang top dunia semacam Toni Kroos atau Marco Verratti sekalipun.

Coquelin tinggal mengasah teknik agar lebih komplit dan menjaga kebugaran, karena dia seringkali terlilit cedera yang tentu akan menyulitkan kinerja lini tengah Arsenal bila dia tidak bermain. Bermain keras pun harus dia praktekan, agar semakin mendekati atribut yang dimiliki Patrick Vieira.

Selain urusan agresifitas, hal penting lain yang juga dibutuhkan oleh pasukan Arsene Wenger yaitu pemain dengan aura kepemimpinan berkarisma juara. Pemimpin yang karismatik, besar kemungkinan mampu memotivasi dan mengangkat mental rekan-rekannya, terutama di saat-saat genting atau dalam pertandingan besar.

Sepeninggal Vieira atau Henry, belum ada lagi kapten Arsenal yang melebihi atau bahkan sekedar menyamai aura karismatik duo Perancis ini. Maka dari itulah, Arsenal sering melempem di situasi-situasi penting atau di laga bertensi besar akibat kurangnya pemain-pemain berkaratker juara dan bermental baja.

Kapten saat ini, Laurent Koscielny memang tidak punya aura besar seperi Henry dan Vieira. Namun gaya main yang anti kompromi dalam menghalau bola atau menjegal pemain, menjadi gambaran kepada lawan bahwa Arsenal masih punya nyali yang kuat dalam bertanding, meski levelnya belum seperti zaman The Invicible sedia kala.

Pemain seperti Vieira memang dibutuhkan, karakter permainannya penting sebagai pelindung lini tengah yang bisa melapis lini belakang, selain juga jiwa kepemimpinan tinggi yang sangat dibutuhkan di tim seperti Arsenal.

Dengan skuad yang penuh kualiatas teknik seperti sekarang ini, andai ditambah keberadaan holding midfielder tangguh serta adanya pemimpin berkarakter, mungkin Arsenal bisa melaju lebih dari yang saat ini.

Contoh tersaji pada leg pertama kemarin lawan Bayern, ketika Laurent Koscielny ditarik diawal babak kedua akibat cedera, pertahanan Arsenal langsung kelimpungan. Gabriel mudah sekali dieksploitasi Lewandowski dan Thiago Alcantara. Ditambah, duet Coquelin-Xhaka kurang begitu baik melapisi pertahanan.

Agresifitas menyerang juga sangat kurang, saking menggelikannya, bahkan umpan yang dibuat oleh playmaker seperti Mesut Özil tidak lebih banyak dari apa yang dibuat kiper lawan, Manuel Neuer. Özil hanya buat 24 umpan, angka yang sama dengan yang Neuer buat.

Keluarnya kapten Koscielny juga barangkali ikut sedikit banyak mereduksi kekuatan mental pemain Arsenal di laga super penting tersebut. Terlebih lagi ban kapten justru dililitkan ke Kieran Gibbs, yang jangankan jadi panutan pemain lain akan karisma darinya, rutin bermain pun jarang ia dapati musim ini.

Arsenal jelas membawa misi hampir mustahil lolos 16 besar Liga Champions 2016/2017 kali ini. Di liga juga sama, inkonsistensi Wenger Boys di setiap pekan makin menjauhkan mereka dari Chelsea, plus persaingan peringat dua hingga enam juga sangat ketat musim ini.

Di percaturan liga Inggris musim ini, Arsenal sebenarnya sudah menunjukan mental lebih baik ketika partai besar, namun sering tiba-tiba terjungkal seperti kalah 1-2 dari Watford di Emirates Stadium. Hal semacam inilah yang menjadi duri kenapa Arsenal gagal juara musim lalu dan tetap kesulitan bersaing di Premier League musim ini.

Flash back musim lalu, disaat klub-klub besar lain loyo seharusnya kesempatan Arsenal juara terbuka lebar, namun apa daya Arsenal justru ikut-ikutan lembek dan gelar juara pun diserobot Leicester City. Setali tiga uang di Liga Champions, mereka dilumat Barcelona, juga di babak 16 besar yang memang kramat bagi Arsenal beberapa tahun ini.

Musim ini Arsenal harus selalu solid, karena klub besar lain juga menunjukkan perbaikan demi perbaikan. Seharusnya dengan skuad yang sudah bagus kali ini, Arsenal mampu berbuat sesuatu yang lebih daripada musim-musim sebelumnya, setidaknya di Premier League, jika asa untuk mengalahkan Bayern memang sudah sirna.

Saint Totteringham’s Day. Berpesta karena lebih hebat dari arch-rival, namun sang rival itu sendiri sebenarnya bukan klub yang benar-benar hebat, paradoks. Kalau Madrid berpesta karena unggul dari Barcelona, itu wajar, karena baik itu Barca atau Madrid selalu bersaing mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia.

Lagipula inikan Tottenham? Trofi terakhir kali yang didapatkan tim ini pun sekedar League Cup 2007-2008, yang bahkan tak lebih bergengsi dari trofi FA Cup, yang Arsenal raih 2014-2015 lalu.

Sah-sah saja musim ini tradisi Saint Totteringham’s Day bisa tetap diwujudkan, tetapi sungguh semu sekali rasa jika bisa menunjukan superioritas dari Tottenham, namun tetap saja Arsenal tidak mampu untuk jadi juara Inggris, apalagi Liga Champions. Ditambah musim ini, bisa jadi puncak saga dari pertanyaan besar, apakah Wenger akan bertahan atau angkat kaki dari Arsenal? Hanya waktulah yang akan menjawabnya.

Foto; independet.co.uk

 

Alergi Klub Premier League Diawal Tahun Ganjil

Sejatinya, klub ataupun suporter tentu akan bangga apabila pemain kesayangannya tidak hanya mampu untuk unjuk gigi di klub, namun hingga ke tim nasional. Ketika para pemainnya dipanggil tim nasional dan bermain baik, terlebih lagi di pertandingan turnamen besar, ada beberapa keuntungan.

Bagi klub, ketika pemain semakin terkenal akan kualitasnya, maka harganya bisa naik tajam. Lalu jika makin banyak pemain yang berkualitas, tenar dan populer, maka sponsor-sponsor akan mulai berdatangan. Dan jikapun ingin dijual, patokan harga tinggi bisa dikenakan karena performa bagus si pemain di sebuah turnamen besar.

Bagi suporter, mungkin mereka tidak merasakan impak secara wujud nyata. Namun dari sisi emosional dan psikologis, ketika pemain idolanya di klub tersebut juga bermain bagus bersama timnasnya di ajang besar, tetap ada rasa kebanggaan tersendiri.

Tetapi apakah selamanya klub dan suporter senang, jika pemain andalan mereka mendapat panggilan bermain di tim nasional masing-masing untuk turnamen antar negara? Ternyata tidak selamanya begitu, apalagi bagi klub Premier League jika sudah memasuki Januari di tahun ganjil.

Ya, tahun ganjil identik dengan turnamen sepakbola kontinental benua Afrika. Edisi kali ini adalah Piala Afrika 2017 di negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Piala Afrika, dimainkan di bulan Januari tahun ganjil. Itulah, penyebab klub-klub Premier League tidak suka dengan hal ini.

Kok tidak suka? Meski begutu, ketidaksenangan mereka wajar apabila melihat kompetisi liga tahun ini yang begitu ketat. Sudah pasti keberadaan pemain-pemain asal benua Afrika yang menjadi andalan di klub-klub Inggris tersebut sangat dibutuhkan, terlebih pada awal tahun ini dimana jadwal padat menggentayangi klub-klub Inggris.

Berkaitan dengan Piala Afrika pada bulan Januari 2017 ini, kebetulan ada beberapa klub besar yang akan kehilangan pemain andalan selama Januari hingga awal Februari ini. Pertama adalah Liverpool, kepergian Sadio Mane untuk memperkuat timnas Senegal akan menjadi beban pikiran lebih dalam laig untuk arsitek The Reds, Jürgen Klopp.

Mane salah satu pemain kunci Liverpool musim ini. Dia menjadi top skor sementara Liverpool dengan mengemas 9 gol dan juga mengukir 4 assist dalam kurun 19 partai liga yang ia lakoni. Tidak sebatas itu, Mane juga sudah mulai klop dan membentuk trisula padu bersama Coutinho dan Firmino di lini depan The Anfield Gang’s.

Pergerakan yang dinamis, cepat, membuka ruang untuk rekan serta ketajaman mencetak gol dari Mane, untuk ementara tidak akan dirasakan Liverpool Januari ini, dan bertambah lagi hingga Februari jika Senegal sampai masuk final Piala Afrika. Sedangkan Joël Matip, andalan lini belakang Liverpool yang satu ini tidak ikut ke Piala Afrika karena menolak panggilan dari timnas Kamerun.

Chelsea, sang pucuk klasemen hingga gameweek 20 ini tidak terdampak Piala Afrika. Victor Moses sebagai wing-back kanan utama andalan tim racikan Antonio Conte, akan tetap di Inggris karena Nigeria gagal lolos kualifikasi Piala Afrika 2017. Tottenham, yang ikut meramaikan zona 6-besar liga musim ini juga tidak akan terganggu Piala Afrika. Itu karena Kenya, negara gelandang bertahan Victor Wanyama, gagal lolos ke putaran final.

Sementara rival sekota Chelsea, Arsenal akan kehilangan Mohammed Elneny yang tampil bersama timnas Mesir. Nasib Arsenal lebih baik dari Liverpool, karena pemain yang dipanggil (Elneny) hanya sebatas pemain pelapis Arsenal dan bukan pemain penting seperti Mane di Liverpool. Untung pula Nigeria tidak lolos kali ini, jika iya maka Alex Iwobi yang sering bermain akhir-akhir ini akan membuat Arsenal kekurangan pilihan di lini tengah akibat tugas negara bagi sang pemain.

Nasib baik juga mengiringi Manchester City, Yaya Toure sudah pensiun dari tim nasional Pantai Gading. Lalu, Kelechi Iheanacho terhindar karena Nigeria gagal lolos ke Piala Afrika 2017 di Gabon tersebut. Sementara itu, Manchester United akan kehilangan Eric Bailly yang senegara dengan Toure. Bailly akan bahu-membahu rekannya hingga Pantai Gading melangkah sejauh mungkin di turnamen dua tahunan tersebut.

Klub lain diluar zona enam besar juga tak luput ikut kena efek Piala Afrika ditegah berjalannya liga. Contohnya, juara bertahan Leicester City, yang harus kehilangan beberapa pemain penting seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani (Aljazair) dan Daniel Amartey bermain untuk Ghana. Tentu makin menyulitkan langkah The Foxes yang terseok-seok sejak awal musim ini.

Lalu kenapa bisa dikatakan klub Premier League seakan “alergi” dengan Piala Afrika? Pertama, kepergian pemain ketika musim liga sedang berlangsung dan ditengah jadwal yang padat. Sepakbola di Inggris memang terkenal padat jadwal dan keberadaan Piala Afrika diawal tahun sangat tidak menguntungkan klub, apalagi mereka yang sedang bersaing dipapan atas dan kompetisi Eropa.

Kedua, terkait kemungkinan cederanya pemain dalam turnamen tersebut. Arsene Wenger, ketika Arsenal masih diperkuat pemain-pemain dari benua Afrika seperti Kolo Toure, Emmanuel Adebayor aaau Alex Song pernah mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Piala Afrika yang digelar pada awal tahun dan “menggangu” liga.

Tidak dipungkiri memang, bahwa pemain yang membela timnas dalam ajang tersebut punya kemungkinan pulang ke klub dengan membawa cedera. Jika sudah begini, maka klub lah yang kebakaran jenggot dan mengalami kerugian dari sisi materi pemain.

Apalagi jika melihat kompetisi Liga Inggris musim ini. Banyak klub punya ambisi untuk juara. Musim 2016/17, Premier League bisa disebut lebih mewah dari musim sebelumnya.

Pelatih-pelatih top dunia mewarnai Premier League musim ini. Mulai dari yang berpengalaman lama di Inggris seperti Arsene Wenger atau Jose Mourinho hingga pelatih jempolan yang lebih muda macam Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp atau Mauricio Pochettino.

Tak lupa, pemain-pemain dengan reputasi besar juga datang untuk memanaskan persaingan disana. Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba menjadi komoditi berita utama dalam bursa transfer musim panas 2016 lalu. Mereka akan menambah gemerlap Premier League, yang memang jadi liga paling mendapat sorotan dalam 10 tahun terakhir.

Foto: thesun.co.uk

statistik dari Opta

 

Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

“Kultur Sepakbola” (Part-1)

Kemajuan sebuah negara dalam hal ekonomi ternyata berdampak positif dalam banyak sisi kehidupan di sebuah negara tersebut. Dengan mantapnya laju ekonomi, maka masyarakat didalamnya bisa hidup dalam kesejahteraan dan terkecuali dalam hal sepakbola.

Dengan kekuatan ekonomi yang bagus, infrastruktur sepakbola bisa dibangun menyesuaikan kemajuan zaman serta pola pendidikan dan pelatihan yang ditunjang kecanggihan teknologi masa kini. Kita bisa lihat, kemajuan negara-negara Eropa mampu membuat sepakbola yang mereka kembangkan menjadi sepopuler sekarang ini.

Namun Eropa tak beranjak sendirian karena Amerika Serikat dan Cina juga sudah mulai mencoba hal ini, jika Amerika didukung oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi yang oke, maka hasrat Cina untuk memajukan pesepakbolaan dalam negerinya adalah akibat dari pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat kuat belakangan ini.

    Namun jika dilihat dari fakta yang terjadi, ternyata tak menjadi patokan utama bahwa kemajuan negara dalam hal insfrastruktur, teknologi dan ekonomi juga berdampak lurus bagi pesepakbolaannya. Lalu faktor apa yang lebih penting jika kemajuan dari segi infrastruktur, teknologi dan ekonomi belum tentu pula memicu kemajuan sepakbola di negara tersebut?

Seringakali di berbagai media sepakbola, kita disuguhi bacaan mengenai keadaan sepakbola Amerika Latin yang dikatakan bahwa di benua tersebut, sepakbola sudah sangat mendarah daging, menjadi kultur atau budaya masyarakat dan bahkan banyak yang menganggap, disana sepakbola sangat penting dalam hidup, bahkan sudah setara dengan agama.

Ya, jawaban dari itu adalah sebuah kultur, karena meski sebuah negara mempunyai infrastruktur dan teknologi yang maju dibidang sepakbola atau serta punya banyak uang untuk mengembangkan sepakbola, tetapi tanpa kultur sepakbola yang  “hidup” di dalam bangsanya, maka akan sulit membuat sepakbola menjadi kebanggan dan mengharumkan nama bangsa tersebut.

Seringkali kita melihat negara-negara dari benua Afrika tampil memukau di pentas internasional, padahal mayoritas negara Afrika adalah negara berkembang yang tertinggal dari segi ekonomi, apalagi infrastruktur dan teknologinya.

Lantas apa yang membuat banyak pesepakbola hebat dilahirkan dari benua tersebut? Tak lain adalah kultur masyarakatnya terhadap sepakbola.

Sebagai olahraga yang paling digemari dan dimainkan dibelahan dunia manapun, maka tak heran sepakbola bisa ada dimanapun baik itu di pegunungan, kebun, sawah, pantai, jalanan kota, pedesaan, lapangan hingga stadion.

Karena sepakbola adalah olahraga paling “merakyat”, maka banyak masyarakat Afrika yang menggemari ini. Untuk bermain sepakbola, terkadang hanya dengan bola usang yang yang digunakan ramai-ramai dan gawang imajinasi dari sandal atau kayu pun, sepakbola sudah bisa dimainkan.

Kecintaan pada sepakbola membuat masyarakat Afrika senang memainkan si kulit bundar ini dimanapun. Bermain bola sudah menjadi kesenangan orang Afrika apalagi bagi anak-anak disana.

Karena kecintaan pada sepakbola ini maka tidak heran sepakbola sudah menjadi kebiasaan yang ditemui sehari-hari yang juga sudah menjadi kultur atau budaya yang menyatu dalam masyarakatnya.

Menjadi kultur yang hidup dalam masyarakat, sepakbola sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan disana. Sepakbola juga tidak jarang menjadi batu loncatan bagi seseorang untuk mengubah nasib hidupnya kearah yang lebih baik.

Yang terjadi di Amerika Latin lebih dahsyat, kultur sepakbola mereka sangat kental, mirip seperti di Eropa. Sepakbola sudah menjadi menu obrolan sehari-hari bagi Gaucho, sebutan untuk orang yang berasal dari orang Latin.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, bahkan saking gilanya terhadap sepakbola, terkadang agama pun disejajarkan dengan sepakbola. Contohnya saja kita bisa lihat di Argentina, disana ada gereja bernama Iglesia Maradoiana, gereja yang menjadikan Maradona sebagai Tuhan, dan bahkan kabarnya gereja ini sudah punya 200 ribu pengikut.

Sepakbola menjadi prestise bagi orang Latin, menjadi pesepakbola terkenal akan populer seperti selebritis atau politisi. Semua ini karena cinta orang Amerika Latin pada sepakbola itulah yang menjadikan olahraga ini sebagai budaya yang tidak akan lekang oleh waktu.

Barangkali kultur sepakbola yang kuat ini menjadi faktor dan sebab, kenapa sepakbola dari Afrika dan Amerika Latin selalu berkembang kearah yang baik hingga menelurkan pemain-pemain dengan kualitas jempolan.

Pemain terbaik dunia pernah datang dari Afrika, George Weah seorang legenda AC Milan dari Liberia ini pernah menyabet Ballon D’Or, belum lagi deretan pemain yang sukses besar seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, dan Yaya Toure.

Amerika Latin jauh lebih hebat, talenta dari sana bahkan bisa mengungguli talenta-talenta dari kiblat sepakbola seperti Eropa. Mulai dari Pele, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Lima, Ronaldinho, hingga Lionel Messi mampu menguasai jagad sepakbola dunia.

Kualitas pemain yang mumpuni berdampak positif bagi tim nasional dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Negara-negara dari kedua benua tersebut mampu berbicara banyak di konstelasi ajang internasional seperti Piala Dunia.

Bisa diatarik kesimpulan, ketika sepakbola menjadi sebuah kecintaan pada masyarakat tertentu maka sepakbola akan menjadi hal penting dalam hidup dan akan ada dimana-mana.

Hal ini tentu membentuk kebiasaan yang pada akhirnya dengan sendirinya membentuk sebuah kultur bahwa “sepakbola adalah bagian penting dari kehidupan”. Meski keadaan ekonomi atau infrastruktur tidak memadai untuk memainkan sepakbola secara “layak”, namun berkat budaya sepakbola yang ada ini maka kekuarangan tersebut seakan hilang dan tidak menjadi faktor penghambat.

Sedikit menoleh ke negara sendiri, Indonesia yang secara ekonomi masih terhitung negara berkembang dan dengan infrastruktur sepakbola yang “ala kadarnya” apakah sudah mempunyai budaya sepakbola seperti di Amerika Latin atau Afrika?

Mungkin bisa dikatakan belum, meski pemandangan anak-anak bersepakbola ria di lapangan, jalanan atau gang-gang rumah masih kita jumpai di negeri ini dan semangat orang Indonesia terhadap sepakbola juga lumayan tinggi, namun kenapa pemain hebat nan potensial kelas dunia tak juga kunjung muncul?

Mari kita kupas lebih dalam. Untuk menjadi pesepakbola hebat, berkarir lah di Eropa, dalam hal ini orang Afrika dan Amerika Selatan diuntungkan. Sebagai negara bekas kolonial dari negara-negara Eropa, maka bahasa yang mereka gunakan, punya banyak kesamaan seperti warga Afrika yang berbahasa Perancis karena mayoritas negara-negara Afrika adalah bekas pendudukan Perancis.

Amerika Latin yang warganya terbiasa berbahasa Spanyol, Portugis dan juga Italia juga sangat terbantu manakala ada pesepakbola dari sana yang akan hijrah ke Eropa, bahkan budaya masyarakat antara Amerika Latin dan Eropa terkhususnya negara Latin Eropa pun banyak kesamaan. (Bersambung..)

Berani Bersaing

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana. Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Jika kita memandang sepakbola Eropa, pasti yang akan sering kita pantau adalah liga besar di Inggris, Italia dan Spanyol. Sejarah, tradisi, popularitas dan banyaknya penggemar menjadikan tiga liga teratas di tiga negara tersebut; Premier League, Serie A dan La Liga paling diminati.

Tetapi kenyamanan trio liga teratas itu kini mulai terusik, liga lain seperti Bundesliga dari Jerman, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan Liga Primeira Portugal semakin berbenah untuk menjadi yang terbaik, namun dari semua liga diluar Inggris, Spanyol dan Italia yang paling patut dicermati adalah progres dari Bundesliga.

Kemajuan kompetisi liga teratas Jerman ini semakin terlihat, dan contoh nyata kemajuan itu bisa dilihat dari koefisien ranking liga-liga di Eropa. Jerman nangkring di posisi 2 dengan menggusur Inggris dan Italia ke posisi 3 dan 4, apa yang menjadi kunci hingga sepakbola Jerman menjadi sedemikian kuatnya? Manajemen klub yang profesional dan pengembangan pemain muda yang baik adalah jawaban dari semua ini.

Manajemen yang profesional menjadikan klub-klub Jerman mampu mengelola klub dengan baik, tidak hanya soal keuangan saja, stadion dan suporter juga menjadi basis yang dikelola dengan baik oleh klub di Jerman.

Pada umumnya klub di Jerman punya stadion sendiri, selain itu klub juga sering mengenakan tarif murah untuk tiket stadion sehingga tidak heran jumlah penonton langsung di stadion sepakbola begitu banyak disana.

Hal ini juga ditambah oleh kebijkan tepat DFB (asosiasi sepakbola Jerman) yang mendirikan ribuan sekolah sepakbola di seantero wilayah Jerman.

Sadar bahwa tim nasional selalu butuh regenerasi, DFB melontarkan ide untuk mendirikan banyak sekolah sepakbola yang juga ditunjang dengan banyaknya kompetisi dan turnamen untuk pemain muda, selain itu untuk menambah daya pikat dan semangat pemain muda juga diselenggarakan penghargaan Fritz-Walter medal untuk kategori pemain muda terbaik U-19 dan U-17.

Beberapa bintang Jerman pernah memperoleh gelar ini, baik di kategori U-19, U-18 (sekarang sudah digabung ke U-19 sejak 2015) dan U-17 dan dengan medali emas, perak atau juga perunggu. Beberapa dari mereka adalah Manuel Neuer, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Andre Schurrle.

Imbasnya adalah konsistensi klub-klub Jerman di kompetisi Eropa, entah di Liga Champions atau Liga Eropa sehingga menaikkan koefisien Jerman ke peringkat 2 hingga kini.

Sebenarnya soal profesionalitas manajemen, klub di Inggris lebih baik daripada Jerman, akan tetapi prestasi klub Inggris tidak seberapa hebat di Eropa akhir-akhir ini, sedangkan terkait pengembangan pemain muda, Inggris tidak memberikan perlakuan khusus selain penerapan kuota home-grown player dan lagipula sudah menjadi hal umum yang menjadi kebiasaan klub Inggris membeli pemain yang sudah “jadi”.

Jerman juga mengalahkan Italia, terlebih Italia dikenal dengan manajemen klub yang buruk dan tidak peduli dengan pengembangan pemain muda, ditambah dengan prestasi klub Italia di level Eropa yang menurun setiap tahun, maka tidak heran mereka disalip Jerman dan tertinggal jauh.

Inkonsistensi klub Inggris di Eropa dan kemunduran sepakbola Italia hanya menjadi faktor tambahan dari melejitnya persepakbolaan Jerman akhir-akhir lima tahun ini.

Setelah kemajuan Jerman, ada sepakbola Perancis yang juga menarik perhatian. Hadirnya Paris Saint-Germain dengan gelontoran uang besar dari investor Timur Tengah yang mampu membuat pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Lucas Moura, Marco Verratti, David Luiz hingga Thiago Silva merapat.

Monaco pernah menyaingi dengan mendatangkan James Rodriguez, Radamel Falcao, dan Joao Moutinho namun sekarang uang dari pebisnis Rusia, Dmitry Rvbolovlev sudah tidak banyak hingga Monaco tidak berani membeli pemain mahal lagi seperti PSG.

Peningkatan sepakbola Perancis seolah terdongkrak karena PSG, namun tidak lebih dari itu karena Perancis tetap saja seperti dulu, dengan liga-liga nya terutama Ligue 1 sebagai pencetak pemain muda berbakat. Belanda juga demikian, klub-klub mereka kini menjadi santapan klub yang lebih besar ketika berlaga di Eropa dan hanya sekedar menjadi liga penghasil pemain muda berbakat, padahal dulu klub seperti Ajax mampu juara Liga Champions.

Prestasi sepakbola Portugal masih lebih baik dari Belanda, disamping menjadi ladang perkembangan pemain muda potensial, klub-klub Portugal juga lumayan sukses di Eropa akhir-akhir ini, meski hanya di Europa League yaitu; Porto (juara musim 2010-2011), Benfica runner-up 2012-2013 dan 2013-2014.

Namun meski tidak diunggulkan, klub-klub dari Jerman, Perancis, Belanda, dan Portugal tidal boleh dianggap enteng oleh klub Spanyol, Inggris dan Italia yang lebih diunggulkan.

Meski secara tradisi, reputasi dan kekuatannya masih belum sepadan (kecuali Muenchen yang memang sudah selevel dengan Madrid-Barca) namun beberapa kali klub diluar trio Inggris-Spanyol-Italia mampu berikan kejutan, hal ini lah yang akan selalu dinanti hingga berakhirnya Liga Champions dan Europa League di bulan Mei 2017 nanti. Kita tunggu dan semoga saja, karena seperti judul artikel ini mereka itu “Berani Bersaing”.

Hazard, “The Next” Juan Mata?

Musim 2014-2015 dilewati Chelsea dengan baik, mereka menjuarai English Premier League dibawah manajer Jose Mourinho, apalagi salah satu pemainnya memperoleh gelar PFA Player’s Player of the Year atau penghargaan pemain terbaik di Inggris oleh asosiasi pemain professional dan Premier League Player of the Season dari FA yang tak lain nama yang meraih gelar itu adalah Eden Hazard.

Ya, permainan spektakuler Hazard di musim itu sangat membantu Chelsea, berposisi sebagai winger ataupun juga bisa sebagai gelandang serang, kecepatan dribel dan akselerasinya ketika bermain sangat berbahaya bagi para bek lawan, apalagi ditambah kelihaian memberi assist dan mampu menjadi pemecah kebuntuan dengan mencetak gol, pantaslah jika penampilannya musim lalu diapresiasi dengan gelar sebagai pemain terbaik.

Lahir dengan nama lengkap Eden Michael Hazard di La Louviere, Belgia 7 januari 1991, darah sepakbola memang sudah mengalir alami menjadi bakatnya. Hazard dibesarkan dari keluarga pesepakbola, ayahnya yang bernama Thierry adalah pemain semi profesional yang bermain sebagai gelandang bertahan di La Louviere, Divisi Dua Liga Belgia.

Sedangkan ibunya bermain sebagai striker yang pernah bermain di Divisi Utama Liga Belgia Wanita, namun dia berhenti bermain bola setelah mengandung Eden kecil tiga bulan. Hazard mempunyai tiga adik yang semuanya adalah pesepakbola, adik pertama adalah Thorgan Hazard, yang sekarang bermain di Jerman bersama Borussia Moenchengladbach, adik kedua Kylian Hazard bermain di klub Hungaria, Ujpest, sedangkan adiknya yang terkahir Ethan Hazard masih berada di akademi Tubize.

Meski berasal dari Belgia, nama Hazard justru populer ketika berada di Perancis, bersama Lille OSC nama Hazard mulai dikenal banyak orang. Eden sendiri memulai karir sebagai pesepakbola saat usia empat tahun di klub amatir lokal daerahnya, Royal Stade Brainois, setelah itu pada 2003 dia pindah ke Tubize dan disinilah talentanya tercium pemandu bakat Lille ketika berlaga di sebuah turnamen lokal.

Pada 2005 dia diangkut ke Lille, menghabiskan waktu di akademi dua tahun dan meski sudah merasakan debut profesional tahun 2007, namun Hazard baru benar-benar menjadi bagian utama tim Lille pada musim 2008-2009, ketika itu pelatihnya adalah Rudi Garcia.

Musim-musim selanjutnya menit bermain Hazard semakin banyak dan perannya dalam permainan semakin besar, dan performa hebatnya mengakibatkan dia diganjar penghargaan pemain muda terbaik pada 2009 dan 2010.

Dia juga dua kali berturut-turut meraih penghargaan pemain terbaik di Perancis 2010-2011 dan 2011-2012, puncaknya adalah ketika membawa Lille meraih double winners dengan merengkuh juara Ligue 1 Chammpionat dan Coupe de France di musim 2010-2011.

Berdasarkan peningkatan performa dan konsistensi permainan, namanya pun menjadi rebutan banyak klub-klub besar Eropa, hingga akhirnya Chelsea berhasil meyakinkan Hazard untuk pindah ke London dengan biaya transfer sebesar 32 juta poundsterling.

Berada di klub sebesar Chelsea tentu adalah tantangan tersendiri bagi Hazard, beban sebagai pembelian yang mahal dan banyaknya pesaing di tim yang juga berkualitas tentu butuh usaha ekstra keras dari Hazard.

Namun meski begitu harga mahal Hazard memang terbukti dengan kualitasnya, dia mampu bersaing dan menjadi pemain kunci The Blues. Puncak permainan Hazard adalah musim lalu ketika ikut membawa Chelsea meraih gelar juara Liga Inggris dan menjadi pemain terbaik di Inggris musim lalu.

Setelah itu kemampuan dia pun mulai diperbandingkan dengan mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi oleh banyak pelatih dan pengamat sepakbola, jadi andai pada musim selanjutnya (2015-2016) dia mampu menjaga konsistensi atau bahkan menunjukkan peningkatan performa, anggapan banyak pengamat sepakbola bahwa skill Hazard sudah selevel Ronaldo dan Messi pun benar adanya, namun apa yang terjadi adalah kebalikannya.

Performa Hazard musim ini dibilang menurun drastis, entah apa yang terjadi dengan Hazard musim ini, dia seolah-olah tidak lagi menjadi “Hazardous things” bagi pemain lawan, aksi melewati bek musuh jarang sekali kita lihat, dribel dan umpan-umpannya tidak se-magis musim lalu.

Memang yang namanya pemain bagus selalu dikawal ketat oleh lawan dan terbukti dia adalah pemain yang paling sering dilanggar di Premier League, dan hal itu bahkan sudah dialami Hazard musim lalu.

Ini artinya peningkatan kewaspadaan pemain lawan terhadap Hazard semakin meningkat, tentunya Hazard harus lebih ekstra dalam bermain sembari menjaga fisiknya agar lebih kokoh dibanding musim lalu, dan peningkatan pengawasan terhadap kebugaran Hazard juga harus ditingkatkan oleh staf pelatih dan tim medis Chelsea untuk menjaga fisik Hazard.

Namun memang apa yang terjadi diawal musim ini memang tidak terlalu baik bagi Chelsea, mulai dari “hobi” Jose Mourinho yang selalu melakukan psy-war kepada Arsene Wenger, kemarahan The Special One kepada staf medis Eva Carneiro saat Hazard mendapat terjangan dalam laga melawan Swansea, gagalnya Chelsea meregenerasi lini belakang dengan membeli John Stones, transfer panic buying Pedro Rodriguez yang terbukti gagal, dan hasil minor saat Community Shield yang menular diawal musim liga membuat Chelsea berada dibawah tekanan.

Disaat kondisi seperti itu, peran bintang seperti Hazard sangat dibutuhkan, aksi-aksi briliannya dapat menginspirasi rekan setim untuk bereaksi positif terhadap hasil buruk diawal musim, akan tetapi performa Eden justru meredup, entah apa yang membuat performa Hazard seperti itu, padahal perubahan didalam tim tidaklah begitu besar sehingga perubahan permainan Chelsea tidak lah terlalu besar.

Lalu jika melihat faktor eksternal tim, peningkatan level waspada lawan ketika menghadapi Hazard juga pastinya sudah dipahami oleh Mourinho dan Hazard sendiri, sehingga kontra strategi untuk menyiasati hal itu pasti akan dilakukan.

Pertanyaannya adalah apakah ekspektasi yang besar terhadap Hazard begitu membebani mental sang pemain?

Atau konflik antara Mou dan Eva membuat Hazard khawatir terhadap penanganan cederanya tak maksimal andai suatu saat cedera, mengingat selama ini Eva lah yang merawat Hazard karena terjangan kasar pemain-pemain di liga? Atau karena siasat permainan Hazard untuk lebih menghindari terjangan lawan justru membuat keberaniannya berduel menurun dan berdampak dengan permainannya?

Atau karena taktik yang diterapkan Mourinho yang menekankan semua pemain supaya ikut membantu pertahanan berpengaruh besar bagi Hazard? Atau karena kedatangan pemain baru (Pedro)?

Atau justru karena tidak adanya pesaing yang “sepadan” di posisinya membuat permainannya menurun? Atau karena performa pemain lain seperti Cesc Fabregas, Oscar, Diego Costa, dan Nemanja Matic yang menurun ikut berpengaruh pada performa Hazard? Atau karena keinginan Mourinho menurunkan performa Hazard?

Semua hal diatas memang bisa mempengaruhi kinerja Hazard dalam bermain, namun beruntungnya musim ini baru awal bergulir dan kesempatan untuk memperbaiki performa di musim ini masih panjang baginya, kesempatan untuk menyelamatkan muka sebagai pemain terbaik Inggris musim lalu masih terbuka lebar.

Dia harus membalik keterpurukannya diawal musim menjadi penampilan impresif di semua laga musim ini dan sekaligus mengangkat performa Chelsea, jika tidak nasibnya akan seperti mantan rekan setimnya dulu di Chelsea, Juan Mata yang dibuang oleh Mourinho meski menjadi pilar utama yang sangat penting bagi permainan Chelsea.

Juan Mata dibeli dari Valencia (dengan harga 23 juta euro) pada 2011-2012 dan langsung menjadi pemain andalan The Pensioners. Mata bisa bermain sebagai pemain sayap maupun pengatur serangan bagi timnya, total 33 gol dan 58 assist dia sumbangkan selama berada di Chelsea yang menghasilkan gelar bergengsi seperti Piala FA, Liga Champions dan Liga Eropa.

Di Chelsea dia mempunyai peran penting sebagai playmaker tim, alur serangan tim bergantung pada kejeniusan Mata melepas umpan dan mengkreasi peluang, dan karena penampilan hebatnya tersebut dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Chelsea berturut-turut yaitu pada musim 2011-2012 dan 2012-2013, dia juga masuk kedalam Premier League PFA Team of the Year 2012-2013.

          Seharusnya dengan pencapaian seperti itu membuat Mata menjadi andalan siapapun pelatih Chelsea, termasuk ketika Jose Mourinho masuk menggantikan Rafael Benitez musim 2013-2014. Akan tetapi diluar dugaan banyak pihak, alih-alih menjadikan trio Hazard-Oscar-Mata sebagai tumpuan bermain Chelsea, Mourinho justru membuat keputusan aneh membeli Willian Borges dari Shaktar Donetsk.

Dan rupanya pembelian Willian memang bermaksud untuk menggeser Mata dari tim inti dan menjadikan Oscar sebagai playmaker utama di Chelsea, dan Mata pun mulai sering dicadangkan di musim tersebut.

Mourinho berkelit bahwa alasannya mencadangkan Mata karena kemampuan bertahannya yang lebih buruk dari pada pemain depan lain, sehingga dia lebih memilih memainkan Hazard-Oscar-Willian/Schurrle sebagai gelandang penopang striker di musim tersebut, akhirnya Mata tersingkir dari tim utama.

Memang Juan Mata terlihat tidak klop dengan gaya permainan yang diusung Mourinho dimana dia menginstruksikan seluruh pemain mempunyai berkontribusi terhadap pertahanan, tidak ada pemain yang mendapat kebebasan, semua harus membantu pertahanan meskipun itu striker atau gelandang serang.

Gaya main itulah yang mematikan Mata, permainannya menurun, entah memang Mourinho yang menginginkan Mata seperti ini atau karena Mata kesulitan beradaptasi, namun dengan label pemain kelas dunia yang pernah menjuarai Liga Champions dan Piala Eropa serta kaya pengalaman seharusnya merubah gaya permainan dengan menambah sisi defensif tidaklah sulit bagi Mata.

Namun, musim ini “untung” bagi Hazard karena sekarang Chelsea sedang dalam tren yang negatif, jadi performa buruk yang Chelsea tunjukan lebih publik sasarkan kepada kesalahan Mourinho ketimbang individu pemain sehingga peluang Hazard untuk bangkit di musim ini masih sangat terbuka lebar.

Jalan satu-satunya Hazard untuk bangkit dari performa flop-nya adalah “mengangkat” kembali performa Chelsea menjadi stabil seperti musim lalu dengan aksi-aksi briliannya melewati lawan, memberi assist, maupun mencetak gol-gol yang dapat menginspirasi dan membangkitkan moral rekan-rekan tim lainnya. Atau tidak dia akan dibuang seperti Juan Mata meski dia adalah andalan tim.

Sumber gambar: chelseaseason.com