Derbi Klub “Panas” di Dunia

Makna pertandingan derbi bukan berarti hanya antar tim satu wilayah atau negara saja. Bahkan sudah mengalami peluasan hingga antar negara.

Derbi adalah pertadingan sepakbola yang bertensi tinggi dan pada umumnya disisipi faktor historis masa lalu. Intinya pertandingan antar tim yang punya sisi rivalitas tersendiri.

Pertandingan mana yang pantas disebut sebagai “derbi” paling panas di dunia ini? Mungkin dengan mudah orang akan menjawab El Clasico. Memang tidak salah, laga pertandingan yang mempertemukan Real Madrid v Barcelona memang yang paling dinantikan oleh dunia.

Maka setiap kali dua tim ini bertemu, tensi tinggi pertandingan pasti selalu muncul entah itu sebelum, saat dan sesudah laga.

Madrid selalu ingin unggul dari Barcelona dimana sebagai isyarat kerajaan Spanyol berjaya atas separatis, sedangkan Barcelona ingin selalu mengungguli Madrid sebagai wujud kemerdekaan atas tirani kerajaan.

Sebenarnya jika berbicara derbi, El Clasico bukan satu-satunya yang bersuhu “tinggi”. Di berbagai negara lain juga muncul rivalitas yang sebetulnya tidak kalah menegangkan dari El Clasico.

Namun tidak menyedot terlalu banyak perhatian, karena pemian-pemain yang ada tidak sementereng El Clasico, yang selalu menampilkan pertarungan antar pemain-pemain terbaik dunia.

Derbi hampir selalu berlangsung panas, keras dan tempo tinggi. Di Spanyol, selain El Clasico ada banyak derbi yang berlangsung.

Derbi Madrileno, mempertemukan Real v Atletico Madrid, Catalonia derbi antara Barcelona v Espanyol, derbi Andalusia yang menjadi ajang unjuk diri antar Sevilla v Real Betis dan masih banyak lagi.

Dibawah El Clasico, derbi Madrileno mungkin yang paling sengit di Spanyol, apalagi Real dan Atletico saling bersaing di level Spanyol hingga Eropa akhir-akhir ini.

Derbi Catalan tidak terlalu bergensi karena Espanyol selalu medioker beberapa tahun belakangan, Andalusia, meksi tidak melibatkan dua klub sebesar Madrid atau Barca, pasti laga Sevilla vs Betis selalu berjalan alot dan keras.

Pindah ke Inggris, disana ada banyak sekali derbi. North-West (Manchester United v Liverpool), Manchester Derby, London (Arsenal v Chelsea), North-London (Tottenham v Arsenal), Merseyside Derby, Tyne-Wear Derby (Sunderland vs Newcastle) dan masih banyak lagi derbi di Inggris, yang memang terkenal akan fanatisme masyarakatnya terhadap sepakbola.

Di Inggris, saking banyaknya derbi yang bergengsi, akan memanjakan para penikmat sepakbola. Tapi mungkin derbi yang paling menjadi sorotan di musim 2016/2017 adalah Manchester Derby.

Laga antara United v City ini menjadi yang paling ditunggu karena juga melibatkan rivalitas Mourinho dan Pep Guardiola. Selain itu, kedua tim juga sangat royal dalam menghabiskan uang untuk memecahkan rekor transfer pemain.

City membeli John Stones, lebih dari 50 juta poundsterling dan menjadi bek termahal dunia. United mengembalikan anak hilangnya, Paul Pogba dari Juventus sebesar 110 juta euro dan menjadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah. Selain Manchester, Merseyside juga tergolong derbi yang panas, apalagi letak stadion punya Liverpool dan Everton yang sangat berdekatan.

Sementara di Italia, ada derbi D’Italia antara Juve v Inter, derbi Della Madoninna (Milan v Inter), derbi Della Capitale (Roma v Lazio), derbi Della Mole yang mempertemukan Juve v Torino, derbi Della Lanterna (Genoa v Sampdoria) dan masih banyak lagi.

Diantara derbi tersebut, paling menarik minat adalah Milan v Inter. Meski gaungnya tidak seperti dahulu kala akibat Milan dan Inter yang tidak terlalu bagus beberapa tahun ini.

Jika melihat persaingang juara, laga Juve-Roma adalah yang paling prestise belakangan ini, namun belum ada julukan spesifik mengenai laga antar dua tim ini. Yang sering berjalan dengan keras dan panas justru antara Roma v Lazio.

Hampir disetiap derbi tim ibukota tersebut, pasti banyak kartu yang dicabut dari saku sang pengadil lapangan. Apalagi derbi Della Capitale dibumbui perbedaan pandangan ideologi kiri dan kanan antara Romanisti dan Laziale.

Selain di tiga negara sepakbola besar diatas, di Eropa banyak sekali derbi-derbi bertensi tinggi. Di Skotlandia ada Old Firm Derby, laga klasik antara Glasgow Celtic v Glasgow Rangers. Jerman menyajikan laga Der Klassiker antara Bayern vs Dortmund, di Belanda ada istilah de Grote Drie dalam sepakbola yang menggambarkan rivalitas segitiga: Ajax, PSV dan Feyenoord.

Di Portugal ada sebutan Os Três Grandes atau derbi tiga klub besar yang paling sukses yaitu FC Porto, Benfica dan Sporting CP. Sementara di negeri Napoleon, Perancis ada Le Classique dimana PSG vs Marseille bertemu.

PSG sebagai klubnya “aristokrat”, sedangkan Marseille mewakili “proletarian”. Dan masih banyak lagi derbi-derbi di Eropa yang tidak terhitung jumlahnya.

Amerika Selatan, di Argentina ada laga Superclasicos antara tim sekota Buenos Aires, River Plate v Boca Juniors yang selalu ketat dan sengit tiap kali mentas. Derbi ini memang begitu sengit, lantaran pemicu perselisihan sosio-kulturanya juga disertai perbedaan antara klubnya orang menengah keatas dan berbahasa sehari-hari Spanyol (River Plate) melawan klub kelas menengah kebawah dan berbahasa Italia (Boca Juniors).

Brasil punya banyak derbi, contohnya derbi Paulista; Corinthians v Palmeiras, San-São derby antara Santos v São Paulo, Choque-Rei antara Palmeiras v São Paulo, derbi Grenal; Gremio v Internacional dan masih banyak lagi.

Bahkan di Indonesia, juga ada laga derbi yang sangat menarik untuk ditonton. Contohnya derbi klasik Persija v Persib atau juga derbi Jawa Timur antara Persebaya v Arema.

Pertandingan derbi, dimanapun berada pasti akan sangat menarik sekali ditonton. Atmosfer dalam laga tersebut akan sangat berbeda dengan yang biasanya, karena mempertemukan dua tim yang punya rivalitas tersendiri.

Dengan keberadaan laga derbi-derbi tersebut, sepakbola menjadi semakin bergelora untuk dinikmati. Pertandingan yang berjalan keras dan bahkan cenderung kasar memang tak bisa dihindari dalam derbi karena setiap tim sangat bernafsu menagalahkan rivalnya. Namun, disitulah justru kenikmatan menikmati pertandingan yang sangat menguras fisik, mental dan emosi para pemain tersebut.

Friksi-friksi sering terjadi, baik sebelum, ketika ataupun sesudah laga. Tak hanya pemain, official dan suporter juga kadang ikut-ikutan terpancing suasana derbi.

Tetapi meski begitu, kita berharap bahwa apa yang ada di sepakbola ya tetaplah itu di sepakbola. Karena sepakbola itu sejatinya menyatukan, bukan memecah-belah. Because in football, rivals are rivals till the end, but not an enemies.

Foto dari forzaitalianfootball.com

Advertisements

“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Dua Raksasa

Spanyol sedang dalam masa kejayaan sepakbola, dalam dekade belakangan ini baik itu tim nasional ataupun klub asal Spanyol sama-sama mampu mendominasi Eropa atau bahkan juga dunia.

Tim nasional Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, tidak ada tim nasional lain yang mampu menyamai rekor juara beruntun seperti itu dimanapun. Sejak 2006 hingga 2016 (sudah 10 musim terakhir ini), sudah 6 kali pula Liga Champions dikuasai tim dari Spanyol dengan rincian; Barcelona 4 dan Real Madrid 2 juara.

Begitu juga di kompetisi kasta kedua, Europa League dimana Spanyol terlalu tangguh untuk tim dari negara lain, tercatat sejak musim 2005-2006 hingga 2015-2016, tujuh kali yang menjadi juara adalah klub Spanyol. Atletico Madrid dua kali sementara Sevilla lima kali yang bahkan tiga dari lima trofi tersebut diraih dalam tiga musim akhir ini. Luar biasa, Spanyol benar-benar dalam puncak kejayaan.

Apa yang menjadikan Spanyol begitu menkutkan dalam dunia sepakbola akhir-akhir ini? Jawabannya tidak lain karena duo Clasico, Real Madrid dan Barcelona, persaingan antar rival abadi penuh sejarah ini menjadikan sepakbola Spanyol begitu hebat. Harus diakui, Madrid dan Barca adalah dua tim terbaik dunia, kerja keras dua tim tersebut untuk selalu mendominasi satu sama lain berdampak positif bagi Spanyol.

Pemain berkualitas bintang dunia selalu hadir mengisi skuad kedua tim tersebut, keberadaan pemain Spanyol di dua tim tersebut juga menguntungkan tim nasional Spanyol. Ketika menjuarai Euro 2008, Euro 2012 dan Piala Dunia 2010 juga berkat keberadaan pemain-pemain dari dua tim ini.

Imbas lain adalah meningkatnya level permainan tim lain diluar El Clasico, tim seperti Atletico, Sevilla, Villareal, dan tim-tim lain saling berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu kenyaman Madrid dan Barcelona.

Hal itu justru tidak terasa membuat banyak tim Spanyol lain mengalami kenaikan level kualitas. Bersaing dengan dua tim yang “terbaik dunia” di liga, membuat mereka mau tidak mau harus terus meningkat secara kualitas jika tidak ingin hanya menjadi penonton di liga. Dampaknya begitu terasa, meski di liga hanya Atletico yang mampu juara selain Madrid-Barca dalam kurum 10 tahun ini dan itupun hanya sekali (musim 2013-2014). Tetapi peningkatan level tim Spanyol diluar Madrid-Barca terlihat ketika beraksi di kompetisi Eropa beberapa tahun terakhir.

Atletico bisa muncul dua kali di final Liga Champions dalam tiga tahun terkahir, tentu ini pencapaian luar biasa bagi klub seperti Atletico. Terkurung dalam bayang-bayang El Clasico di La Liga, tak membuat nyali Atleti di Liga Champions ikut menciut. Sevilla juga begitu, meski jarang finis di peringkat empat besar (zona Liga Champions) dalam 10 tahun terakhir, klub Andalusia tersebut sudah menjadi raja Liga Eropa selama tiga musim ini berturut-turut, rekor!

Setidaknya dalam lima musim terakhir, hampir selalu ada wakil Spanyol di semifinal kejuaraan Eropa bahkan hingga ke final, baik itu Liga Champions atau Liga Eropa. Tren ini menjadi bukti, klub dari La Liga memang lebih bagus daripada kompetisi negara lain, bahkan lebih baik dari Premier League yang disebut-sebut sebagai liga dengan klub-klub terbaik di dunia.

Sudah terbukti bahwa klub asal Spanyol paling superior jika bermain di pentas Eropa dan disadari atau tidak kualitas mereka terkerek naik karena mau tidak mau dengan penuh tenaga harus mengimbangi kualitas Madrid-Barca, yang memang tiada tandingnya di liga, jadi ketika klub Spanyol tersebut bertemu klub negara lain yang bahkan secara reputasi lebih besar, mereka mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan.

Musim lalu contohnya, Atletico mampu mengalahkan Munchen yang notabene disebut sudah satu level dengan Madrid-Barca, sedangkan Sevilla mengubur impian Liverpool di Liga Eropa, padahal reputasi Liverpool jauh lebih diatas dari Sevilla.

Efek persaingan di liga dengan Madrid-Barca terbukti berdampak signifikan bagi klub Spanyol lain, meski mereka babak belur di liga ternyata ketika bertanding di Eropa, kualitas dan mentalitas mereka mampu menandingi dan bahkan mengalahkan tim-tim kuat di Eropa karena “sudah terbiasa” berjibaku melawan dua tim terbaik dunia di liga sendiri.

Bahkan efek dua klub ini benar-benar meresap di Spanyol, jika ada klub mempunyai nama “real” dan atau mempunyai lambang mahkota di logo-nya, dapat dipastikan klub itu adalah klub pendukung kerajaan seperti Real Madrid. Jika ada klub berlogo “belang-belang” maka itu adalah klub yang berideologi pada kemerdekaan suku-suku dari kerajaan, klub dari Basque, Valencia, dan paling vokal dalam hal ini tentu klub asal Catalan paling sukses dekade ini, Barcelona.

Kembali ke persaingan juara, keberadaan Madrid-Barca membuat La Liga terasa lumayan membosankan. Namun hal ini dapat dimaklumi karena kesenjangan tersebut bukan karena blunder, inkonsistensi atau atau kemalasan klub lain berbenah, hal ini lebih karena perbedaan kualitas yang terlalu jauh antara Madrid-Barca dengan klub Spanyol lain.

Selain mempunyai tradisi kuat, pendapatan kedua klub tersebut juga sangat tinggi dibandingkan klub lain, maka dari tahun ke tahun makin kuat sajalah materi pemain Madrid-Barca karena kekuatan ekonomi duo ini tidak tertandingi klub Spanyol lain.

Setiap musim yang muncul dalam prediksi berbagai media adalah siapa yang akan juara, Madrid atau Barca? Klub lain seperti hanya ditakdirkan maksimal hanya untuk merebut jatah tiket ke Eropa dan tidak untuk juara liga, paling hanya Atletico yang punya potensi mengejutkan, namun kekuatan mereka sering digerus, karena seringnya Atletico tergoda menjual pemain bintangnya.

Musim ini juga tidak banyak berubah, Madrid-Barca masih terlalu kuat bagi klub lain, hal itu dapat dilihat dari Atlas-Bajas (lalu lintas transfer pemain) musim panas ini. Barcelona sangat jor-joran membelanjakan uang-nya, kedatangan Paco Alcacer, Andre Gomes, Denis Suarez, Lucas Digne, Samuel Umtiti, dan Jasper Cillessen menghabiskan lebih dari 100 juta euro.

Yang menjadi pertanyaan, tetaspi apakah terlalu mahal untuk hanya sekedar dijadikan pelapis bagi pemain inti? Alcacer bermain ketika salah satu dari trio MSN tidak bermain, Denis Suarez dan Gomes akan bermain ketika Iniesta atau Rakitic tidak dapat merumput dan juga masih ada Arda Turan yang bisa menjadi pelapis MSN dan Iniesta-Rakitic, Digne sebagai pelapis Jordi Alba, Umtiti menjadi pelapis duet bek tengah Mascherano-Pique dan Cillessen pilihan nomor dua dibawah mistar setelah Marc-Andre Ter Stegen. Memang mahal bagi pemain yang diproyeksikan sebagai pelapis tim utama, namun  ini menunjukkan bahwa Barca ingin mempunyai skuad yang dalam dengan materi tidak terlalu jauh jarak kualitasnya antara pemain inti dan cadangan.

Madrid musim ini tidak seperti biasa, uang yang mereka keluarkan sangat sedikit, 30 juta euro saja. Ada apa dengan Madrid? Padahal mereka biasanya boros dalam bursa transfer, tetapi musim ini mereka terhitung irit sekali. Uang 30 juta euro praktis sekali habis digunakan untuk mengaktifkan klausul pembelian mantan alumni cantera Madrid yang dijual ke Juventus dua tahun lalu, Alvaro Morata. Transfer lain adalah Marco Asensio, pemain muda yang musim lalu dipinjamkan ke Espanyol, sebelumnya dia dibeli dari Mallorca pada 2014.

Apakah gejala aneh Madrid di bursa transfer mungkin terkait dengan embargo transfer yang menghukum mereka? Namun itu sebenarnya bukan alasan, karena musim panas ini hukuman tersebut belum dilaksanakan, dan efektif baru akan terjadi pada dua periode transfer mendatang, seharusnya musim panas ini Madrid masih bisa belanja banyak, namun ternyata tidak.

Walau tanpa banyak pemain baru, kekuatan Madrid masih tetap besar, trio BBC masih dalam usia emas, Modric, Kroos, dan Ramos juga masih menampilkan performa terbaik, tambahan pemain muda macam Morata dan Asensio akan memperdalam kekuatan tim.

Klub Spanyol lain juga ikut memperkuat tim masing-masing, Atletico sibuk dalam hal ini. Kevin Gameiro, Nico Gaitan dan Sime Vrsaljko menjadi transfer mahal ke Vicente Calderon, Villareal membeli mantan wonderkid Alexandre Pato, dua pemain muda potensial Italia; Roberto Soriano dan Nicola Sansone akan menjajal petualangan baru di El Madrigal.

Sevilla yang meski kehilangan banyak pemain penting, melalui kecermatan direktur olahraga Monchi, bisa menghasilkan transfer bagus untuk dimaksimalkan pelatih baru, Jorge Sampaoli. Franco Vazquez, Luciano Vietto, Pablo Sarabia, Paulo Ganso, Wissam Ben Yadder, Hiroshi Kiyotake, Samir Nasri, dan Salvatore Sirigu menjadi beberapa transfer brilian Sevilla musim ini.

Valencia yang terpuruk musim lalu mencoba kembali bangkit dengan meminjam Eliaquim Mangala, Mario Suarez, Ezequiel Garay, dan Munir El Haddadi, tak lupa mereka juga telah meyakinkan deputi Cristiano Ronaldo di tim nasional Portugal, Luis Carlos Almeida da Cunha “Nani” untuk bergabung musim ini.

Klub kecil juga ikut bergeliat, seperti dua nama besar seperti Giuseppe Rossi dan Kevin-Prince Boateng yang mau bermain di Spanyol. Rossi kembali ke La Liga dengan menerima tawaran dari Celta Vigo, sementara Boateng memiliki destinasi karir baru di klub asal kepulauan Canaria, UD Las Palmas. Semakin gemerlap La Liga musim ini, ya setidaknya dari dimensi transfer pemain menunjukkan hal tersebut.

Tetapi jika berbicara juara liga, jangan jauh-jauh dari Madrid-Barca, namun patut ditunggu apakah ada kejutan musim ini? Semoga saja ada, Atletico atau mungkin klub lain, siapa tahu hal itu benar-benar terjadi diakhir musim nanti, hanya keajaiban yang akan membantu itu terwujud.