Masalah Tak Berujung adalah Chelsea dan Seorang Penyerang

Dagelan sempat terjadi ketika Chelsea dikaitkan dengan para penyerang memble semacam Andy Caroll, Peter Crouch atau seorang tak dikenal seperti Ashley Barnes. Pada akhirnya, tengah musim 2017/18 ini The Blues merekrut penyerang rival, Olivier Giroud dari Arsenal.

Satu hal yang disayangkan, yakni Chelsea melepas Mitchy Batshuayi ke Dortmund. Bukan karena kualitasnya yang buruk, melainkan lebih karena ketidaksukaan Conte terhadap gaya bermain pemain timnas Belgia tersebut. 

Padahal sosok Giroud juga bukan penyerang yang diidamkan Conte. Giroud bukanlah penyerang kelas dunia. Namun apa daya, hanya pemain Prancis itulah yang mampu mereka datangkan untuk menjadi kompetitor bagi Alvaro Morata, yang sebenarnya juga tak menunjukkan konsistensi sejak awal musim.

Chelsea dalam beberapa musim terakhir cukup sering berganti wajah di lini depan. Seakan mereka selalu punya masalah disana. Dan kalau dirunut, masalah Chelsea tentang penyerang bukan hanya musim ini saja, hal itu ternyata sudah menjadi “tradisi” mereka sejak lama.

Akuisisi Abramovich dan Era Mourinho

Kedatangan juragan minyak Rusia, Roman Abramovich pada 2004, membuat Chelsea menjelma jadi kekuatan baru di Inggris. Dengan uang mereka melakukan revolusi besar-besaran. Jose Mourinho dijadikan pelatih untuk meramu skuat mahal mereka. Dan salah satu perombakan di tubuh Chelsea adalah dengan membeli dua penyerang sekaligus pada musim 2004/05; Didier Drogba dan Mateja Kežman. Padahal mereka sudah memiliki Eidur Gudjohnsen kala itu.

Chelsea sejak era itu identik dengan satu penyerang tengah. Di antara tiga penyerang itu, Kežman tersisihkan karena Mourinho memilih Drogba sebagai pemain inti dan Gudjohnsen cadangannya. Kemudain musim 2005/06, pulanglah Hernán Crespo dari masa peminjaman di AC Milan selama semusim.

Drogba.
Berbagai penyerang didatangkan Abramovich untuk mereplikasi kualitas Drogba, namun hasilnya belum terlihat nyata.

Idem ditto, nasib Crespo tidak menyenangkan. Jelang musim 2006/07 dimulai, pemain asal Argentina itu dipinjamkan ke Inter selama dua musim serta kepergian penyerang asal Argentina itu diikuti Gudjohnsen yang juga hengkang. Penyerang Islandia itu memilih Barcelona.

Datanglah pemenang Ballon d’Or tahun 2004, Andriy Shevchenko dari Milan pada musim 2006/07. Dia dibeli dengan harga 30 juta pounsterling. Namun seolah kutukan atau bagaimana, Chelsea seolah tak bisa punya dua penyerang tengah top secara bersamaan. Nasib Sheva sangat mengenaskan. Hanya mencetak 9 gol liga selama dua musim di Chelsea.

Pada Januari 2008, Nicolas Anelka datang. Hal itu membuat Sheva diretur ke Milan untuk musim 2008/09, sebagai pemain pinjaman dan gagal total untuk bangkit. Sementara karir Anelka terhitung awet di Chelsea. Dia bertahan selama empat musim. Bahkan dia menjadi top skor liga Inggris dan Piala FA musim 2008/09.

Selain faktor cederanya Drogba, kenapa Anelka bisa survive di Chelsea adalah adaptasinya ketika dipasang sebagai pemain sayap. Ketika Drogba berhalangan, dia menjadi center forward dan ketika Drogba siap kembali, mantan pemain Madrid itu tetap bermain apik di sayap kanan.

Banter Era: Torres

Sepeninggal Mourinho pada periode pertama dan adanya Anelka sebenarnya membuat Chelsea tak punya masalah besar di lini depan. Namun hasrat ingin juara di Inggris dan Liga Champions membuat rekening Abramovich senilai 50 juta pounsterling terkucurkan demi satu nama: Fernando Torres.

El Nino berganti seragam biru sejak tengah musim 2010/11. Meski bersama Chelsea dia juara Liga Primer dan Liga Champions, namun kita semua tahu, performanya di Liverpool dan Chelsea sangat kontradiktif.

Fernando Torres
Meski performa tak sebaik di Liverpool, Torres bergelimang gelar juara bersama Chelsea.

Selepas juara Liga Champions, Chelsea berturut-turut mencari pengganti untuk Drogba akibat Torres tetap mandul. Mulai dari Romelu Lukaku, Daniel Sturridge, Demba Ba, Samuel Eto’o, Loic Remy, Radamel Falcao hingga Alexandre Pato gagal menggantikan sosok penyerang tajam seperti Drogba. Obat penawar mulai datang kala Diego Costa hadir pada periode kedua Jose Mourinho melatih di Chelsea.

Dia terlihat mampu menjadi pemain yang diandalkan menggedor jala lawan baik di masa Mourinho dan juga Antonio Conte.  Namun, perangai buruknya membuat dia tak disukai Conte, dan disisihkan pada awal musim ini hingga dijual ke Atletico Madrid.

*****

Selepas Costa pergi, Alvaro Morata sempat membuat Chelsea tak bermasalah lagi di lini depan pada awal musim. Namun, masalah tak kunjung lekang. Morata angin-anginan, sedangkan Batshuayi tak kunjung dipercayai oleh Conte. Giroud datang, Batshuayi pergi. Dengan deretan masalah tentang penyerang, memang benar Chelsea dan penyerang seperti masalah tak pernah berujung sejak kepergian Drogba.

Lalu, apakah Giroud adalah jawaban konkret? Hanya di akhir musim 2017/18 inilah kita akan tahu jawabannya, apakah dia jadi penyelesai masalah antara Chelsea dan penyerang selama ini, atau justru dia merupakan penambah masalah yang baru bagi tim London biru.

Sumber gambar: expresss.co.uk.

Advertisements

Conte yang Dibayangi Ancaman Deja Vu

Chelsea musim 2016-17 adalah jawara Premier League. Puja dan puji dialamatkan untuk Antonio Conte, selaku juru taktik The Blues. Meski sempat tersendat dengan formasi 4-2-3-1, Conte menyulap Chelsea menjadi tim pemenang pasca merubah formasi. Taktik racikan Conte membawa kenyamanan dalam ritme permainan tim semenjak beralih ke formasi tiga bek; 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Disamping taktik, kesuksesan Chelsea juga berkat faktor teknis pemain di lapangan. Conte melakukan pembelian cerdas, N’golo Kante adalah holding midfielder terbaik dunia saat ini. Dia melindungi pertahanan dengan baik dan idem ditto ketika mengalirkan bola. Permainan apik dari Kante itu menuntunnya pada gelar pemain terbaik versi PFA, FWA dan Liga.

Dibawah rezim Antonio Conte, Eden Hazard kembali menjadi sesuatu yang “Hazardous” bagi lawan. Hazard mengkreasi 79 key passes dan lima asis. Performa Hazard meningkat, seakan menuju ke level permainan terbaiknya di dua musim silam. Sementara itu si tukang pukul Diego Costa, menjadi lebih jinak dan kalem dibawah kendali Conte, meski tanpa menghilangkan keberingasannya didepan gawang. Costa cetak 20 gol di Premier league.

Conte tak lupa menciptakan kejutan, yakni dua outsider yang menjadi pilar inti. Marcos Alonso yang awalanya dikritik terlalu lamban dan tidak istimewa, menjadi bek sayap kiri yang begitu menjanjikan. Yang paling tidak disangka tentu bangkitnya Victor Moses. Mantan pemain Wigan yang sebelumnya tak punya kejelasan nasib, mendadak diandalkan sebagai bek sayap kanan. Alonso dan Moses membuat kedua sayap Chelsea hidup, serta seimbang dalam menyerang dan bertahan.

Di belakang, inovasi brilian Conte adalah menggeser Cesar Azpillicueta menjadi bek tengah sebelah kanan dan terbukti permainannya begitu solid. Pemain Spanyol ini sangat diandalkan di lini belakang, dia menyapu bersih seluruh gameweek dan tampil penuh di setiap laga.

Kemudian, Conte sukses “mendewasakan” permainan David Luiz, yang sebenarnya merupakan pembelian agak mengejutkan diawal musim. Selain mendekati uzur, gaya main Luiz juga bisa membuat jantung berdebar bagi fans Chelsea dimanapun.

Dengan bakat Brasil yang mengalir, bukan kendala bagi Luiz untuk bermain stylish meski berposisi bek tengah. Dia tipikal pemain yang berani berlama-lama dengan bola, meski disisi lain itu juga bisa beresiko tinggi bagi pertahanan timnya sendiri. Saat ini memang terkadang Luiz masih membawa bola terlalu lama, namun dibawah Conte, dirinya sedikit berubah. Pria kribo itu tidak lagi gampang blunder serta bermain lebih disiplin, daripada David Luiz yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, Conte jeli memanfaatkan potensi-potensi pemain dari bangku cadangan, meski sebenarnya mereka ini pemain bereputasi besar. Cesc Fabregas memang kalah bersaing dengan N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Meski tidak selalu dimainkan sejak menit pertama, jebolan La Masia ini beberapa kali menjadi pemecah kebutuntuan. 10 asis-nya adalah catatan tertinggi diantar pemain Chelsea lain di liga.

Begitu juga Willian yang harus menjadi back-up bagi Pedro serta Michy Batshuayi, striker 40 juta euro yang menjadi penghangat bangku cadangan. Meski begitu, baik Willian dan Batshuayi tetap punya kontribusi untuk Chelsea. Willian mengemas 8 gol musim ini meski berstatus pemain cadangan. Batshuayi jarang bikin gol, karena toh jarang pula diturunkan. Tetapi golnya di laga melawan West Brom, pekan 37 termasuk vital karena mengunci gelar Premier League untuk Chelsea.

Tetapi yang sedikit mengherankan, kecemerlangan Chelsea bersama Conte musim 2016/17 lalu, tak serta membuat klub yang bermarkas di Stamford Bridge ini kembali dijagokan back to back menjuarai Premier League. Lihatlah kenyataannya beberapa rumah taruhan justru menjagokan Manchester City, yang yang lebih berpeluang besar untuk juara musim 2017/18 nanti, daripada Chelsea.

Kebetulan yang sempurna, Manchester City memang menjadi tim besar Inggris dengan gerakan tercepat untuk urusan transfer. The Citizens saat ini telah resmi mengumumkan akuisisi beberapa pemain muda menjanjikan seperti Bernardo Silva (Monaco) dan Ederson Moraes (Benfica). Selain itu City juga dirumorkan mengincar nama-nama beken lain seperti Leonardo Bonucci, Virgil Van Dijk, Kyle Walker dan Benjamin Mendy.

The Citizens akan belanja besar-besaran demi merombak kerangka tim seperti yang diingikan oleh Pep Guardiola. Dengan komposisi tim yang sesuai pikiran mantan pelatih Barca itu, serta Guardiola sendiri pun sudah punya cukup waktu beradaptasi dengan sepakbola Inggris, inilah yang membuat City diunggulkan oleh banyak pihak.

Disisi lain, salah satu alasan kenapa Chelsea tidak diunggulkan menjuarai liga musim depan, selain karena geliat Manchester City, juga karena bongkar pasang skuad musim ini.

Akibat dari geliat City dan aktivitas transfer mereka sendiri yang cenderung sedang, Chelsea beserta pelatih Conte harus pula waspada dengan ancaman-ancaman deja vu setelah menjuarai Premier League.

* Penurunan performa, semusim pasca juara

Deja Vu pertama yakni, manakala juara Premier League justru langsung babak belur begitu musim berganti. Fenomena ini muncul dalam dua musim belakang. Chelsea yang menjadi juara Premier League musim 2014/15, secara mengejutkan berubah layaknya tim medioker di musim 2015/16. Saat itu ditengarai konflik Mou versus dokter medis Chelsea, Eva Carniero yang menjadi pemicu awal terganggunya konsentrasi para pemain.

Terlebih hobi Mourinho bermain psy-war dengan manajer lain dan gemar mengkritik pemain-pemainnya sendiri, serasa membuat sorotan tajam selalu terarah ke Chelsea saat itu hingga pemain tak mampu jaga konsentrasi. Mereka terlempar dari persaingan juara dan bahkan sempat berada di papan bawah musim itu. Di arena lain seperti Liga Champions, FA Cup dan League Cup, nasib mereka setali tiga uang.

Kemudian, klub kedua yang menurun drastis pasca juara adalah Leicester City. Memang banyak yang memprediksikan performa mereka di 2016/17, tidak akan segalak ketika berhasil juara (2015/16). Tetapi terjembab di papan bawah juga tidak masuk ekspektasi banyak pengamat sebelumnya.

Penjualan N’golo Kante disebut menjadi biang keladi penyebab penampilan Leicester memburuk. Ketika performa tim menurun, pelatih menjadi orang paling bertanggung jawab dan Claudio Ranieri merasakan hal itu (dipecat), meski banyak pihak menyayangkan pemecatan ini.

* Pelatih Italia yang dipecat, semusim pasca juara

Deja vu bentuk kedua yakni seolah muncul tradisi bahwa pelatih asal Italia yang berhasil membawa timnya juara Premier League, akan terkena PHK musim selanjutya. Hal ini sudah dimulai dari era Carlo Ancelotti, yang kini sedang menangani raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Don Carletto yang dikontrak Chelsea pada musim 2009/10, langsung juara Premier League dan FA Cup di musim perdana itu juga. Dia adalah orang Italia pertama yang sukses menjuarai liga Inggris. Musim selanjutnya, 2010/11, ekspektasi tinggi menggelayuti Chelsea untuk bisa lebih berprestasi, termasuk di Eropa. Sialnya, Ancelotti gagal mempertahankan gelar Premier League dan mereka juga gugur di perempat final Liga Champions. Ancelotti pun disingkirkan Abramovich pada Mei 2011.

Roberto Mancini, yang memanajeri Manchester City sejak 2009, berperan besar atas kisah dramatis klub itu juara Premier League 2011/12. Tetapi mantan pelatih Inter ini juga tidak luput dari pemecatan satu musim kemudian, 2012/13. Beberapa faktor seperti jeblok di Liga Champions serta gagal mempertahankan gelar liga, disinyalir menjadi penyebab kenapa Mancio ditendang oleh manajemen The Citizens.

Italiano ketiga yang didepak semusim pasca juara liga, siapa lagi kalau bukan Claudio Ranieri. Mantan pelatih Valencia ini sebelumnya berhasil menggoreskan sejarah bak cerita dongeng yang legendaris. Claudio membawa tim antah-berantah, Leicester City menjuarai Premier League musim 2015/16. Pujian mengalir begitu deras untuk dirinya. Claudio bahkan dianugerahi Ordo Merit oleh pemerintah Italia, atas jasanya mengharumkan nama negeri itu dibelantika sepakbola.

Musim 2016/17, Ranieri di bebas tugaskan secara resmi oleh Leicester pada 2 Februari 2017, walaupun pada bulan Januari sebelumnya mendapat gelar FIFA Best Men’s Coach. Ranieri didepak atas penurunan performa secara drastis The Foxes di liga. Kekalahan di 16-besar Liga Champions leg pertama melawan Sevilla, seakan hanya jadi penegas hantaman “godam” pemecatan bagi Ranieri.

* Musim Mourinho

Antonio Conte sendiri mengatakan tidak ingin merasakan deja vu “musim Mourinho”, yang ia anaolgikan sendiri sebagai penurunan tajam performa setelah juara. Apakah ia sendiri merasa khawatir kejadian yang menimpa Mourinho di musim terakhirnya bersama Chelsea akan menjangkitinya juga?

Kalau dilihat dari awal musim, kejadian itu bisa jadi akan terulang. Mereka kalah di ajang Community Shield 2017 dari Arsenal, yang dipandang sebagai tanda-tanda awal menurunnya performa Chelsea.

Mourinho juga merasakan suasana tidak nyaman di musim 2015/16 lalu. Mereka kalah dari Arsenal di Community Shield dan di pekan pertama mereka ditahan Swansea 2-2 beserta konflik Mourinho versus Eva Carneiro yang menambah runyam hari-hari di awal musim Chelsea sebagai juara bertahan kala itu. dia akhir musim 2015/16 itu, Chelsea babak belur.

* Menghindari Deja Vu

Musim 17/18 ini Conte wajib menghindari tiga deja vu sekaligus. Pertama, dalam dua musim terakhir, juara Premier League selalu amburadul di musim selanjutnya (saat berstatus juara bertahan). Lalu, dia juga harus menghindari kutukan deja vu lain, berupa manajer Italia yang dipecat, hanya semusim pasca membawa timnya memenangi Premier League.

Celakanya sebagai tim besar yang haus akan trofi, maka tak cukup puas bagi sang bos, Roman Abramovich jika Chelsea hanya jago kandang (di kompetisi Inggris) saja. Conte harus mendorong Chelsea untuk berbuat banyak di Liga Champions Eropa, sebisa mungkin juara.

Ini yang menjadi tanda tanya. Sebagai pelatih di level klub, Conte memiliki riwayat bagus untuk kompetisi lokal, namun tidak ketika mentas di Eropa. Juventus dibawah kendalinya tidak memuaskan selama di Liga Champions. Pernah sampai semifinal kompetisi Eropa, tetapi bukan di Liga Champions, mekainkan Liga Europa tepatnya musim 2013/14.

Identik dengan tiga bek adalah momen dimana Juve a la Conte yang jago di kandang (di Serie A), namun loyo di kompetisi Eropa. Kebetulan Chelsea-nya Conte juga mengandalkan skema tiga bek.

Sedikit kolotnya Conte dengan skema tiga bek menjadi salah satu faktor kenapa Juve tak berdaya di Eropa. Terbukti ketika beralih ke Allegri, yang sering menggunakan formasi empat bek untuk mengarungi Liga Champions, Juve sampai dua kali masuk final dalam tiga musim terakhir. Conte kali ini sudah seharusnya belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelum ini.

Roberto Di Matteo, pelatih Italia kelahiran Swiss ini saja didepak, walau belum genap semusim pasca membawa Chelsea merengkuh trofi Liga Champions (pertama dalam sejarah klub) dan FA Cup 2011/12.

Dipecatnya pelatih asal Italia seperti Ancelotti, Mancini atau Ranieri selain karena gagal mempertahankan trofi Premier League, juga disebabkan pula oleh buruknya performa tim-tim asuhan mereka di Liga Champions. Sepakbola modern memang kejam, sedikit saja kurang memuaskan, maka pemecatan pelatih bukan menjadi barang langka lagi.

Conte seharusnya bisa menghapus dua deja vu laten di Chelsea tersebut beserta deja vu musim Mourinho, yang bisa setiap saat membuat dirinya kehilangan jabatan manajer Chelsea. Memperkuat lini belakang menjadi langkah pertama Conte. Trio Azpillicueta-Luiz-Cahill perlu diberi saingan pemain berkualitas, setelah Kurt Zouma, Nathan Ake dan John Terry meninggalkan klub.

Wing-back dikedua sisi juga perlu pelapis yang sepadan dengan Alonso dan Moses, mengingat dua posisi ini juga vital bagi permainan Chelsea. Dengan berharap Abramovich mengucurkan dana besar untuk operasi pasar transfer.

Pemain baru seperti Alvaro Morata, Antonio Ruediger dan Timoue Bagayoko belum cukup meningkatkan kualitas Chelsea. Lihat saja daftar yang pergi; Diego Costa, Nemanja Matic, Nathan Ake, Kurt Zouma dan John Terry. Kedatangan pemain baru hanya menambal lubang saja, belum meningkatatkan kualitas Chelsea secara signifikan.

Selain memperdalam skuad, memperkaya pilihan taktik juga perlu direncanakan Conte. Sukses mereka musim 2016-17 lalu, sudah jelas membuat lawan yang menghadapi mereka akan menyiapkan segenap tenaga untuk mengalahkan juara bertahan.

Tugas Conte tambah berat di musim 2017/18. Selain Premier League semakin kompetitif, konsentrasi Chelsea terbagi di empat ajang sekaligus. The Blues akan menjajal jadwal super padat karena berlaga di Premier League, Liga Champions, Piala FA dan Piala Liga.

Kini tinggal bagaimana pintar-pintarnya Conte saja dalam mengelola Chelsea di musim 2017-18 depan. Sepertinya, prestasi minimal Conte musim depan adalah mempertahankan status juara liga, demi menghindari pemecatan. Untuk langsung juara Liga Champions, terhitung sulit mengingat sudah satu musim Chelsea absen dari serunya pertarungan di Eropa.

Sebagai orang yang kenyang asam garam di dunia kepelatihan, terlebih juga pernah menangani sebuah timnas, tentu pengalaman dan kekayaan taktik Conte saat ini jauh lebih baik sedari ketika masih di Juventus dahulu. Jadi, sudah siapkah menghapus deja vu dan musim Mourinho itu, Antonio?

Sumber foto: express.co.uk