Menjiwai Kampanye Support Your Local Club dengan Bijak

Ketimpangan pembangunan antara pusat-pusat pemerintahan dan daerah begitu terasa. Terlebih ketika sebuah negara dikelola dengan sistem yang sentralistik, zaman Orba bisa dikatakan seperti itu. Dahulu kala daerah tidak memiliki banyak ruang untuk mengekspolarasi diri mereka karena semua dikendalikan oleh pusat.

Namun seiring bergantinya rezim dan munculnya era baru, reformasi, arah pembangunan nasional mengalami semacam “deflected”. Daerah pun kini menjadi tumpuan dalam pembangunan bangsa Indonesia ini.

Diberlakukanya otonomi daerah dengan payung hukum UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta UU nomor 11 tahun 2014 tentang Desa, setidaknya menjadi semacam katalis bagi daerah agar dapat mengelola “dirinya sendiri”, begitu juga desa dengan besarnya gelontoran dana desa saat ini.

Bagai terilhami, semangat reformasi bernuasa demokratis dan menjadikan daerah sebagai pilar pembangunan bangsa ini, juga sepertinya meresap dalam relung dunia sepakbola tanah air. Munculnya kampanye “Support Your Local Club” barangkali dijadikan padanan-nya.

Seruan “Support Your Local Club”, begitu nyaring terdengar akhir-akhir ini. Tidak lain berujuan demi membangun dan menyemarakkan sepakbola Indonesia di level nasional, maka sepakbola juga harus dibangun, disadari, dirasakan dan dinikmati eksistensinya di tingkat daerah-daerah.

Meski, terkadang orang mengekspresikan jiwa sepakbolanya, bukan dengan jalan mendukung klub daerahnya. Bahkan ada yang cenderung lebih memilih bereuforia dengan membanggakan klub-klub luar negeri, tidak mengapa karena itu pilihan. Lagipula seperti apa kata Bob Marley,  football is freedom.

Terkait kampanye ini, maka sepakbola wajarnya diinisiasi dari daerah, karena seperti apa bentuk dan wajah sepakbola (nasional) Indonesia ini, juga sangat bergantung dari bagaimana-nya perkembangan sepakbola di daerah. Linier, seperti konsepsi atau wacana tentang pembangunan nasional yang berorientasi daerah, bukan?

“Support Your Local Club” atau bahasa Indonesia-nya, dukunglah klub daerah/asal mu, kini memantik masyarakat di daerah untuk antusias pada klub asal daerahnya sendiri.

Dengan menjadikan klub daerahnya sebagai apa yang sering dinamai “kebanggan”, membuat orang saat ini hari demi hari, makin peduli pada identitas klub kebanggaan daerahnya sendiri.

Seruan untuk mendukung klub asalmu itu muncul dikalangan suporter. Harapan yang diapungkan dari hal ini yaitu dengan mengkonstruksikan rasa bangga, cinta dan peduli pada klub (sepakbola) lokal, maka perkembangan sepakbola “dirumah sendiri” bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Dalam hal ini suporter bisa berekspresi dan mengaspirasikan apa yang mereka rasakan dan inginkan untuk kebaikan klub.

Secara positif, disisi lain ada efek domino pula dari seruan ini, yaitu adanya kemungkinan seruan ini yang secara tidak langsung, bisa mengedukasi para suporter untuk juga peduli pada apa saja dinamika yang terjadi di daerahnya sendiri.

Toh, urusan sepakbola pun tidak melulu bersangkut paut hanya dengan olahraga saja. Ada aspek lain seperti kebijakan daerah ataupun perihal sisi ekonomi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat awam.

Kini berkat kampanye yang menyerukan “support your local club”, daerah dengan kultur sepakbola yang sebelumnya tidak begitu kental seperti Wonosobo, misalnya. Secara perlahan mulai bangkit dan bertumbuh komunitas-komunitas lokal disana, untuk menunjukkan dukungannya pada identitas klub kebanggaan daerah tersebut, PSIW Wonosobo.

Meski sangat bagus untuk perkembangan sepakbola di keseluruhan wilayah yang ada di republik ini, untuk menjiwai seruan kampanye itu, harus pula dengan bijak. Jangan sampai dalam menjiwai dan memaknai seruan kampanye tersebut, kita justru terjerumus pada tribalisme kedaerahan yang bisa bersifat ultra-ekslusif ataupun membentuk sikap primordialitas (kedaerahan) yang berlebihan.

Tribalisme adalah paham yang mendewakan kesukuan/kedaerahan/primordialitas, serta disisi lain menganggap rendah etnis atau identitas daerah lain.

Sepakbola, dengan perubahan yang begitu cepatnya ini sedari dulu juga tidak lepas dari tribalisme dan nilai-nilai primoridalistik yang berkelindan bersamanya. Sepakbola di tanah Eropa (kiblatnya sepakbola) yang jauh disana juga sedikit banyak berkembang dengan identitas tribal atau primordialitasnya.

Sebagai contoh, bagaimana Bilbao adalah cerminan eksklusifitas Basque, Barcelona dengan identitas Catalonia atau Liverpool FC yang merupakan klubnya scouser -orang yang bicara medok (dialeg) khas Liverpool-.

Hal ini karena tidak lepas sepakbola itu sendiri yang banyak berkembang dengan membawa identitas kedaerahan pada awal mula evolusinya. Maka tidak heran, sekalipun menyebar lewat globalisasi, sepakbola tetap terkunci dengan “khitoh-nya” sebagai identitas yang bersifat kedaerahan masing-masing.

Sepakbola memang menjadi materi pergaulan global, tetapi juga menumbuhkan solidaritas di tingkat nasional maupun daerah-daerah.

Terkhusus di Indonesia pun, bahkan terbentuknya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga tidak lepas dari peranan sepakbola yang bersifat kedaerahan. Bagaimana dulu sepakbola dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta bersatu padu menamamkan benih perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan membentuk PSSI pada 1930 lalu.

Kembali ke pembahasan awal, kampanye Support Your Local Club harus dimaknai dengan bijak. Saat identitas sepakbola daerah harus dijunjung tinggi, namun disatu sisi merealisasikan seruan kampanye ini juga tidak berarti harus menganggap sepakbola daerah lain itu rendah, hina dan harus dimusuhi.

Tribalisme negatif telah muncul dalam sepakbola, manakala memuja identitas sepakbola lokal dan disisi lain begitu merendahkan/menjelek-jelekkan rival sepakbola dari daerah lain, entah apapun yang terjadi.

Kasus oknum suporter di Indonesia yang menghina-hina pemain timnas hanya karena dia merupakan pemain dari klub rival harus menjadi perhatian bersama. Meski saya yakin, kasus semacam ini bisa terjadi dibelahan dunia manapun. Selain itu, tribalisme mengakar dapat memicu situasi tegang antar daerah yang suporter klub sepakbolanya bertentangan.

Sepakbola tanpa rivalitas bagaimana? Pada dasarnya rivalitas dalam sepakbola itu bagus, karena sepakbola tidak akan sampai menarik seperti ini kalau tidak ada rivalitas didalamnya. Tetapi kalau rivalitas itu sudah berubah wujud menjadi permusuhan, maka perpecahan menjadi takdir yang tak bisa dihindarkan.

Mewabahnya tribalisme atau juga prasangka primordial, kalau tidak dimenejemen dengan baik bisa berubah menjadi musibah. Kalau-kalau hal itu muncul dikalangan suporter, sudah tidak asing lagi. Toh, perbedaan-perbedaan itu sudah menjadi keniscayaan kenapa suporter berdiri untuk mendukung klub kebanggaannya masing-masing.

Akantetapi jika tribalisme sepakbola, yang didalamnya membawa rivalitas dan sering kebablasan menjadi permusuhan secara sosio-kultural itu telah menular secara kronis hingga menyebar ke elemen seperti pemain di klub-klub, alarm bahaya bagi sebuah tim nasional.

Untuk meraih prestasi setinggi mungkin, sebuah timnas harus berisikan pemain yang menyatu dan saling bekerjasama dengan baik. Permusuhan yang muncul akibat rivalitas terlalu mendalam di level klub, bisa merusak harmonisasi sebuah timnas.

Spanyol dan Inggris pernah merasakan hal ini. Jika Spanyol punya Iker Casillas-Xavi yang mampu mempersatukan pemain-pemain Madrid dan Barcelona di skuad La Furia Roja, kapten-kapten Inggris tidak mampu meredam perbedaan itu di skuad The Jack Union. Intensitas sepakbola yang begitu tinggi bergairah-nya di Inggris seperti bukan hanya dialami suporter saja, hal itu pun telah dirasakan pemain yang memperkuat timnas Inggris.

Dikatakan oleh Paul Scholes, “ada rivalitas yang sangat besar diantara klub di negara ini (Inggris) dan itu tidak sehat untuk timnas”. Dia pun menambahkan “bahwa kami tidak sekedar bermain sepakbola, kami mencintai klub masing-masing kami berada dan rivalitas itu selalu ada bersamanya”, dilansir dari telegraph.co.uk

Masih menurut Scholes, rivalitas kental antara Manchester United dan Liverpool pernah membuat retak persatuan timnas Inggris dizamannya, yang saat itu masih diperkuat banyak pemain asli lokal dari akademi. Itu pun belum menghitung tambahan rivalitas dengan klub-klub lain.

Inilah salah satu faktor kenapa Inggris selalu kesulitan bermain apik di level internasional. Mencintai identitas klub daerahnya dan justru terlalu larut pada rivalitas sengit antar daerah yang melebar ke permusuhan, buat mereka tidak padu saat berada di timnas.

Disini dapat dikatakan, kebanggan pada sepakbola daerah (klub) sendiri, justru disisi lain memunculkan sentimen negatif pada rival yang tak mampu diredam, padahal kepentingan timnas butuh diutamakan prioritasnya.

Di Indonesia untung saja sentimen itu belum merambah dan masuk ranah pemain yang berada di timnas. Kemunculan berita tentang sentimen ini baru di level suporter, ketika ada oknum suporter dari sebuah klub yang mencaci pemain timnas hanya karena dia bermain bagi klub rivalnya.

Bagaimana jadinya kalau pemain timnas Indonesia kita, tidak akur karena rivalitas klub masing-masing. Sementara dengan situasi adem ayem antar pemain saat ini pun, prestasi timnas kita masih begini-begini saja?

Mungkin banyak pihak berkilah, apa yang dilakukan supoter itu wajar dan merupakan bagian dari kehidupan sepakbola. Tetapi sekali lagi, menjiwai support your local club juga harus dengan dengan prasangka yang objektif dan bijak.

Jangan sampai karena terlalu gegap gempita dalam menjiwai kampanye ini, lalu mengaburkan rasionalitas berpikir dan perasaan kita pada timnas. Menjiwai kampanye yang sangat positif ini hanya akan terlihat elegan apabila di lokasi, waktu dan momen/suasana yang tepat.

Lagipula sepakbola kita yang masih jalan ditempat dengan kekerasan suporter yang masih sering terjadi, timnasnya tak mampu berprestasi dengan gemilang, klub tak mampu gaji pemain, profesionalitas federasi (PSSI) yang masih tanda tanya.

Hal-hal diatas itu yang seharusnya juga, menjadi problem yang tak boleh dilupakan para suporter dan coba untuk diaspirasikan suaranya dengan solusi konstruktif. Disamping hanya mengutamakan urusan rivalitas antar klub, padahal saya yakin, harusnya para suporterlah yang menjadi kunci penggerak untuk perbaikan sepakbola Indonesia ini.

Melalui kampanye Support Your Local Club, besar harapannya suporter akan peduli pada dunia sepakbola yang ada di daerah masing-masing, selain juga teredukasi untuk lebih dewasa dan berpikir kritis mengenai perkembangan sepakbola kita pada umumnya.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan atau mendukung klub X atau klub Y, tetapi untuk kesadaran bersama saja. Rivalitas antar klub memang alamiah dalam sebuah kompetisi/persaingan dan itu justru yang menarik dalam sepakbola.

Setiap klub beserta para suporter, intinya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik daripada yang lain. Sehingga dalam sebuah kompetisi akan muncul rivalitas, hal yang wajar. Namun artian dari kata rival yaitu pesaing, bukan musuh. Karena toh semua elemen sepakbola kita pada akhirnya akan menjunjung panji-panji yang sama, Indonesia.

Bangkitnya suporter, bangkitnya sepakbola Indonesia!

Sumber foto: Redbubble.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s