Image

Dua Sisi Berlawanan RB Leipzig

Skuad Leipzig 2016/17
Meski punya potensi untuk bisa menandingi dominasi Muenchen, namun RB Leipzig dibenci oleh hampir seantero Jerman.

Rassen Ballsport Leipzig atau biasa disingkat RB Leipzig adalah klub asal Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita belakangan ini. Meski baru pada musim 2016-2017 ini promosi ke Bundesliga 1, tetapi pemberitaan tentang mereka sudah menjamur di berbagai media-media sepakbola.

Setidaknya ada dua hal kenapa RB Leipzig sering menjadi sorotan dalam berita sepakbola, khususnya bagi publik Jerman. Yang pertama, berbagai elemen terutama suporter klub-klub di Jerman menuding RB Leipzig telah merusak “tradisi” dalam sepakbola Jerman. Mereka dicerca karena dianggap hanya sebagai ladang bisnis dari perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull.

Dulu klub ini bernama SSV Markrandstadt. Andai saja di Jerman tidak ada aturan 50+1 menyoal kepemilikan klub sepakbola, mungkin nama mereka suah berganti Red Bull Leipzig. Yang mengingatkan kita akan klub Red Bull lain semacam; Red Bull Salzburg atau New York Red Bull yang juga dikuasai perusahan milik Dietrich Mateschitz tersebut.

Saking dalamnya intervensi bisnis mereka, bahkan tak cukup nama klub saja, nama stadion, sampai-sampai logo klub pun tidak lepas dari embel-embel dua banteng merah yang jadi ciri khas Red Bull.

Kisah RB Leipzig dimulai tatkala SSV Markrandstadt, klub divisi lima asal Leipzig, Saxony, wilayah timur Jerman dibeli oleh Red Bull. Meski RB Leipzig terhitung muda (berdiri pada 19 Mei 2009), hanya dalam kurun waktu tujuh musim, dengan cepat RB Leipzig melesat dari kasta kelima menuju pentas tertinggi Bundesliga 1.

Begitu cepatnya mereka menuai prestasi tentu tidak lepas dari uang yang digelontokan Red Bull. Sokongan mereka membantu klub merenovasi Zentralstadion dan membangun fasilitas latihan modern, selain juga uang mereka yang dimanfaatkan untuk membeli pemain.

Tetapi meroketnyaa RB Leipzig malahan dibenci oleh publik sepakbola Jerman. RB Leipzig dianggap “plastic club” yang tidak punya nilai historis dalam diri mereka dan hanya dijadikan kepentingan bisnis semata.

Fakta yang terjadi di lapangan sungguh mencerminkan tingginya kebencian terhadap RB Leipzig. Kalangan suporter lah yang paling tegas dalam menyatakan kebencian itu. Mulai dari penolakan untuk nonton langsung timnya saat awayday ke kandang Leipzig, aksi bisu 10 menit pertama saat kesebelasan idola mereka jumpa Leipzig, spanduk kecaman/caci-maki untuk Leipzig dan bahkan lemparan “kepala banteng penuh darah” oleh oknum suporter klub-klub yang sangat benci RB Leipzig.

Berbagai aksi-aksi itu mengkonfirmasi betapa besar kebencian publik Jerman terhadap Leipzig yang telah “murtad” dari nilai-nilai, kebiasaan ataupun tradisi klub Jerman pada umumnya. Tradisi di Jerman, klub adalah milik anggota (fans) dengan aturan 50+1. Aturan ini pada intinya mengatakan 51% saham klub harus dipegang oleh anggota dan sisanya kemudian bisa dimilik oleh investor dari luar klub.

Meski aturan itu tidak berlaku secara baku untuk Wolfsburg dan Leverkusen yang telah lama begitu lekat dengan perusahan otomotif VW dan perusahaan farmasi Bayer.

Aturan 50+1 secara cerdik disiasati oleh Red Bull. Meski tidak melanggar aturan itu, tetapi dengan cara yang sedemikian rupa, mereka mengakali aturan karena bertujuan untuk memegang kendali penuh terhadap RB Leipzig.

Memang secara legal Red Bull hanya punya 49% saham di RB Leipzig. Akan tetapi dari sebelas anggota klub yang ada di tubuh RB Leipzig, semuanya adalah orang-orang yang bekerja di Red Bull. Jadilah mereka pasti selalu “menganggukan kepala” dengan apapun yang kebijakan yang diinginkan oleh Red Bull didalam tubuh RB Leipzig.

Akibat ulah Red Bull ini, tentulah suara fans akan klub kesayangannya akan tereduksi atau bahkan mungkin saja hilang. Dengan kongkalikong dibelakang layar ini, tentu sulit mengharapkan ada suara anggota atau fans yang bisa berdampak secara langsung dalam tubuh kepengurusan sebuah klub. Disamping komersialisasi sepakbola oleh sebuah perusaahan, tertutupnya suara anggota atau fans untuk klubnya itu jua lah yang membuat RB Leipzig sangat dibenci.

Jurnalis asal Jerman, Christoph Biermann pun menuliskan betapa piciknya mereka mengakali aturan yang ada di media. Katanya “sulit membayangkan bagaimana secara gamblang Leipzig melanggar aturan 50+1 tersebut.” dalam majalah 11 Freunde. Red Bull dalam hal ini memang telah keluar jalur dan tidak lagi berpegang pada tradisi klub-klub Jerman selama ini.

Namun ibarat bilah pisau yang bisa “melukai”, pisau juga punya segi yang bermanfaat. Sisi buruk RB Leipzig tentu karena keberadaan Red Bull dalam klub yang merusak tradisi sepakbola Jerman dan menguasai klub hanya untuk untuk jualan minuman.

Tetapi RB Leipzi pun punya tujuan positif dan tentu hal ini baik karena Bundesliga 1 semakin berwarna, inilah hal kedua yang juga menjadikan nama tetap menjadi sorotan

RB Leipzig sering mengedepankan pemain-pemain muda didalam timnya. Mereka pun menetapkan batas usia yang tidak lebih dari 24 tahun, bagi pemain yang akan mereka beli. Dengan skuad muda itu pun mereka sanggup nangkring di papan atas klasemen Bundesliga 1.

Bahkan dikala Bayern masih linglung diawal musim ini, mereka lah yang memuncaki klasemen liga, padahal status mereka ini hanya klub promosi. Selain itu, mereka pun dari Jerman timur, wilayah yang selama ini tertinggal dari segi sepakbolanya dari Jerman bagian barat. Dengan adanya RB Leipzig, gelora sepakbola Jerman timur sedikit banyak akan kembali bergairah kembali, setelah wakil dari sana terakhir kali untuk Bundesliga 1 adalah Energie Cottbus pada 2009.

Bakat-bakat pemain muda RB Leipzig juga diakui kualitasnya. Musim ini nama-nama seperti Emil Forsberg, Timo Werner atau Naby Keita menjadi buah bibir yang dikait-kaitkan dengan berita transfer ke klub-klub besar Eropa. Mereka juga diperkuat oleh Oliver Burke, wonderkid Skotlandia yang sebelumnya memperkuat Nottingham Forest.

Keberadan tim yang dilatih Ralph Hasenhüttl ini pun semacam penyegaran. Setelah bosancuma disuguhi perlawanan Dortmund terhadap dominasi Bayern, kini keberadaan Leipzig yang menyeruak ke papan atas tentu jadi pemandangan indah bagi para pengidam liga yang kompetitif. Apalagi kalau RB Leipzig sukses juara, tentu makin serulah Bundesliga 1 nanti, terlepas dari “keburukan” yang dilabelkan kepada mereka selama ini.

Kini tinggal bagaimana kita memandang Rassen Ballsport Leipzig. Melihat klub ini bagaikan paradoks karena punya dua sisi berlawanan, ada sisi baik dan buruknya. Dari sisi negatif mereka jelas terkait erat akan kapitalisme Red Bull yang terlalu dalam. Hal positif merek yakni menjadi klub kawah candradimuka pemain muda dan tentu saja perjuangan mendongkel dominasi Bayern Muenchen untuk membuat  makin kompetitifnya liga Jerman.

Kalau sudah begini, bagaimana anda memandang RB Leipzig?

Foto: bundesligafanatic.com dan worldfootbal.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s