Alergi Klub Premier League Diawal Tahun Ganjil

Sejatinya, klub ataupun suporter tentu akan bangga apabila pemain kesayangannya tidak hanya mampu untuk unjuk gigi di klub, namun hingga ke tim nasional. Ketika para pemainnya dipanggil tim nasional dan bermain baik, terlebih lagi di pertandingan turnamen besar, ada beberapa keuntungan.

Bagi klub, ketika pemain semakin terkenal akan kualitasnya, maka harganya bisa naik tajam. Lalu jika makin banyak pemain yang berkualitas, tenar dan populer, maka sponsor-sponsor akan mulai berdatangan. Dan jikapun ingin dijual, patokan harga tinggi bisa dikenakan karena performa bagus si pemain di sebuah turnamen besar.

Bagi suporter, mungkin mereka tidak merasakan impak secara wujud nyata. Namun dari sisi emosional dan psikologis, ketika pemain idolanya di klub tersebut juga bermain bagus bersama timnasnya di ajang besar, tetap ada rasa kebanggaan tersendiri.

Tetapi apakah selamanya klub dan suporter senang, jika pemain andalan mereka mendapat panggilan bermain di tim nasional masing-masing untuk turnamen antar negara? Ternyata tidak selamanya begitu, apalagi bagi klub Premier League jika sudah memasuki Januari di tahun ganjil.

Ya, tahun ganjil identik dengan turnamen sepakbola kontinental benua Afrika. Edisi kali ini adalah Piala Afrika 2017 di negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Piala Afrika, dimainkan di bulan Januari tahun ganjil. Itulah, penyebab klub-klub Premier League tidak suka dengan hal ini.

Kok tidak suka? Meski begutu, ketidaksenangan mereka wajar apabila melihat kompetisi liga tahun ini yang begitu ketat. Sudah pasti keberadaan pemain-pemain asal benua Afrika yang menjadi andalan di klub-klub Inggris tersebut sangat dibutuhkan, terlebih pada awal tahun ini dimana jadwal padat menggentayangi klub-klub Inggris.

Berkaitan dengan Piala Afrika pada bulan Januari 2017 ini, kebetulan ada beberapa klub besar yang akan kehilangan pemain andalan selama Januari hingga awal Februari ini. Pertama adalah Liverpool, kepergian Sadio Mane untuk memperkuat timnas Senegal akan menjadi beban pikiran lebih dalam laig untuk arsitek The Reds, Jürgen Klopp.

Mane salah satu pemain kunci Liverpool musim ini. Dia menjadi top skor sementara Liverpool dengan mengemas 9 gol dan juga mengukir 4 assist dalam kurun 19 partai liga yang ia lakoni. Tidak sebatas itu, Mane juga sudah mulai klop dan membentuk trisula padu bersama Coutinho dan Firmino di lini depan The Anfield Gang’s.

Pergerakan yang dinamis, cepat, membuka ruang untuk rekan serta ketajaman mencetak gol dari Mane, untuk ementara tidak akan dirasakan Liverpool Januari ini, dan bertambah lagi hingga Februari jika Senegal sampai masuk final Piala Afrika. Sedangkan Joël Matip, andalan lini belakang Liverpool yang satu ini tidak ikut ke Piala Afrika karena menolak panggilan dari timnas Kamerun.

Chelsea, sang pucuk klasemen hingga gameweek 20 ini tidak terdampak Piala Afrika. Victor Moses sebagai wing-back kanan utama andalan tim racikan Antonio Conte, akan tetap di Inggris karena Nigeria gagal lolos kualifikasi Piala Afrika 2017. Tottenham, yang ikut meramaikan zona 6-besar liga musim ini juga tidak akan terganggu Piala Afrika. Itu karena Kenya, negara gelandang bertahan Victor Wanyama, gagal lolos ke putaran final.

Sementara rival sekota Chelsea, Arsenal akan kehilangan Mohammed Elneny yang tampil bersama timnas Mesir. Nasib Arsenal lebih baik dari Liverpool, karena pemain yang dipanggil (Elneny) hanya sebatas pemain pelapis Arsenal dan bukan pemain penting seperti Mane di Liverpool. Untung pula Nigeria tidak lolos kali ini, jika iya maka Alex Iwobi yang sering bermain akhir-akhir ini akan membuat Arsenal kekurangan pilihan di lini tengah akibat tugas negara bagi sang pemain.

Nasib baik juga mengiringi Manchester City, Yaya Toure sudah pensiun dari tim nasional Pantai Gading. Lalu, Kelechi Iheanacho terhindar karena Nigeria gagal lolos ke Piala Afrika 2017 di Gabon tersebut. Sementara itu, Manchester United akan kehilangan Eric Bailly yang senegara dengan Toure. Bailly akan bahu-membahu rekannya hingga Pantai Gading melangkah sejauh mungkin di turnamen dua tahunan tersebut.

Klub lain diluar zona enam besar juga tak luput ikut kena efek Piala Afrika ditegah berjalannya liga. Contohnya, juara bertahan Leicester City, yang harus kehilangan beberapa pemain penting seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani (Aljazair) dan Daniel Amartey bermain untuk Ghana. Tentu makin menyulitkan langkah The Foxes yang terseok-seok sejak awal musim ini.

Lalu kenapa bisa dikatakan klub Premier League seakan “alergi” dengan Piala Afrika? Pertama, kepergian pemain ketika musim liga sedang berlangsung dan ditengah jadwal yang padat. Sepakbola di Inggris memang terkenal padat jadwal dan keberadaan Piala Afrika diawal tahun sangat tidak menguntungkan klub, apalagi mereka yang sedang bersaing dipapan atas dan kompetisi Eropa.

Kedua, terkait kemungkinan cederanya pemain dalam turnamen tersebut. Arsene Wenger, ketika Arsenal masih diperkuat pemain-pemain dari benua Afrika seperti Kolo Toure, Emmanuel Adebayor aaau Alex Song pernah mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Piala Afrika yang digelar pada awal tahun dan “menggangu” liga.

Tidak dipungkiri memang, bahwa pemain yang membela timnas dalam ajang tersebut punya kemungkinan pulang ke klub dengan membawa cedera. Jika sudah begini, maka klub lah yang kebakaran jenggot dan mengalami kerugian dari sisi materi pemain.

Apalagi jika melihat kompetisi Liga Inggris musim ini. Banyak klub punya ambisi untuk juara. Musim 2016/17, Premier League bisa disebut lebih mewah dari musim sebelumnya.

Pelatih-pelatih top dunia mewarnai Premier League musim ini. Mulai dari yang berpengalaman lama di Inggris seperti Arsene Wenger atau Jose Mourinho hingga pelatih jempolan yang lebih muda macam Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp atau Mauricio Pochettino.

Tak lupa, pemain-pemain dengan reputasi besar juga datang untuk memanaskan persaingan disana. Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba menjadi komoditi berita utama dalam bursa transfer musim panas 2016 lalu. Mereka akan menambah gemerlap Premier League, yang memang jadi liga paling mendapat sorotan dalam 10 tahun terakhir.

Foto: thesun.co.uk

statistik dari Opta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s