“Matahari Baru” dari Timur

Sepakbola memang olahraga untuk seluruh manusia di bumi ini. Disetiap negara yang ada, pasti didalamnya ada masyarakat yang bermain bola, sungguh sepakbola adalah olahraga-nya umat manusia. Namun harus kita akui bahwa sepakbola mempunyai pusat tersendiri yaitu di Eropa (tanpa bermaksud merendahkan benua lain). Fakta membuktikan bahwa sepakbola dari Eropa dinikmati orang di seluruh belahan dunia ini.

Di Eropa, sepakbola bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja namun juga menjadi seperti “agama” dan terlebih sudah jadi industri tersendiri hingga kini. Hiruk-pikuk sepakbola termegah ada disana dan bagi yang bercita-cita menjadi pesepakbola, sudah pasti sangat ingin sekali bermain di Eropa. Apalagi bermain di klub-klub besar berbagai negara seperti Inggris, Italia, atau Spanyol pasti menjadi impian banyak pesepakbola.

Kompetisi di daratan Eropa terkenal high-class, sangat profesional, ketat dan bertaraf penghasilan baik. Ini membuat berbagai pemain dari segala penjuru dunia ingin bermain di benua biru sana. Kenapa mereka berjaya? Banyak orang berpendapat bahwa Eropa berjaya dalam urusan sepakbola, karena keberadaan Inggris sebagai perumus sepakbola modern saat ini. Adapula katanya saking hebatnya pemain-pemain dari negeri Latin Eropa seperti Italia, Perancis ataupun Spanyol.

Lalu ditambah industrialisasi ekonomi yang berdampak pada sepakbola, membuat Eropa menjadi pusat peradaban bidang sepakbola. Jadi wajar apabila Eropa menjadi magnet bagi seluruh pemain. Karena hebatnya kompetisi di Eropa itulah, maka jika ada pemain “hebat” namun belum mencoba tantangan kompetisi di Eropa, mereka belumlah merasakan kompetisi yang “sesungguhnya”.

Semua itu benar adanya, namun kini Eropa tidak melaju sendirian. Untuk ukuran kehebatan pemain sepakbola, Amerika Latin juga mampu menjadi produsen yang hebat karena kompetisi disana juga menghasilkan pemain-pemain dengan penuh bakat. Untuk urusan ekonomi, saat ini Eropa bukanlah satu-satunya zona yang terkuat karena ada negara dan benua lain yang menjadi pesaing yaitu Amerika Serikat dan benua Asia.

Sejak dua dekade terakhir sudah tidak aneh lagi pemain dari liga-liga di Eropa (meski berasal dari benua lain seperti Amerika Latin) pindah ke liga di Amerika Serikat atau Asia. Dulu kebanyakan mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia pensiun. Meski sudah tidak bertenaga lagi, namun kehadiran pemain-pemain hebat dari liga top Eropa tentu bertujuan untuk mendongkrak popularitas klub dan liga setempat.

Dengan tawaran gaji yang cukup menggiurkan, membuat pemain-pemain di liga Eropa tak segan menanti atau bahkan mengakhiri masa senja karirnya di Amerika Serikat dan Asia. Lazimnya adalah pemain uzur, namun itu dulu karena sekarang bahkan tidak sedikit lagi pemain yang sedang berada dalam usia “emas” juga pindah ke Amerika dan Asia.

Meski tren perpindahan ke Amerika Serikat pada umumnya masih dari mereka yang sudah uzur, namun beda dengan Asia yang kini juga dibanjiri talenta-talenta pemain yang sebenarnya belum habis atau bahkan bisa dikatakan masih dalam puncak karir.

Tidak bisa dipungkiri pancaran sinar mentari Asia bagi pemain-pemain top Eropa juga berkat roda ekonomi yang sedang baik. Disaat dunia global mengalami kelesuan ekonomi, kini perekonomian negara-negara Asia justru sedang bagus. Ada dua aktor utama yang bermain dibalik berbondongnya bintang liga Eropa pergi ke belahan dunia Timur, mereka adalah negara-negara Timur Tengah dan China.

Timur Tengah, meski selalu berada dalam nuansa konflik, sumber daya alam mereka begitu dahsyat dengan minyak sebagai produk unggulan. Sedangkan China saat ini adalah pelaku dalam perekonomian global yang sangat kuat karena pertumbuhan ekonomi mereka. Maka tidak heran kekuatan uang negara Timur Tengah dan China saat ini mampu menyaingi dan bahkan melebihi negara-negara Eropa.

Dengan kondisi positif tersebut maka tidak heran klub-klub dari Timur Tengah dan China tidak hanya berani menggaji tinggi, namun juga bersaing membayar tinggi biaya transfer pemain-pemain dari klub top Eropa, dengan aliran uang yang sedang superior seperti saat ini. Klub-klub dari Timur Tengah berani mendatangkan pemain-pemain liga di Eropa yang tergolong pemain mumpuni. Beberapa nama adalah Mirko Vucinic, Pablo Hernandez Jeferson Farfan, Nilmar, Ryan Babel, Sulley Muntari dan bahkan legenda Barcelona, Xavi Hernandez juga merumput di liga Timur Tengah.

Nama-nama diatas jelas masih pantas bermain di Eropa. Mirko Vucinic, jelas penyerang yang familiar bagi pecinta Serie A karena dia pernah bermain bagi AS Roma dan Juventus. Farfan masih layak bermain di kasta tinggi seperti Bundesliga dan permainannya dulu bersama Schalke 04 juga baik. Lalu ada Nilmar yang pernah bermain di Villareal sejak 2009-2012, dia membentuk duet bagus dengan Giuseppe Rossi di lini depan.

Sedangkan nama Ryan Babel sempat mencuat bersama Liverpool, kualitas bermainnya masih layak di Eropa. Sulley Muntari sempat bermain lama di Italia bersama Udinese, Inter dan Milan. Di Inter bahkan ia sempat meraih gelar Liga Champions musim 2009-2010. Nama tenar lain yaitu legenda Barcelona asli Catalonia, Xavi Hernandez yang sebenarnya masih sangat berkualitas jika bermain di klub teras Eropa.

Tetapi nama-nama diatas masih kalah mentereng dengan nama-nama pemain yang didaratkan oleh klub-klub China dari liga di Eropa. Bahkan posisi tawar klub China sampai mengalahkan posisi tawar tim yang berlaga di Premier League atau Liga Champions sekalipun seperti Liverpool, Chelsea, Shaktar Donetsk, Atletico Madrid dan Paris Saint-Germain.

Dulu yang menjadi pionir perpindahan pemain bintang ke China adalah Anelka dan Drogba, yang pindah langsung dari Chelsea. Hal ini sedikit membuat banyak pengamat kaget karena kualitas dua pemain ini tergolong masih oke dalam jajaran top flight striker di Inggris ketika itu. Anelka datang lebih dulu pindah ke Shanghai Shenhua pada tengah musim 2012-2013 dan Drogba menyusul di akhir musim itu setelah mengantar Chelsea juara Liga Champions pertama kali dalam sejarah klub.

Kedua pemain ini ditengarai pindah karena iming-iming gaji yang besar dari Shanghai Shenhua. Setelah kedatangan dua pemain tenar ini reputasi Liga China mulai menggeliat. Musim-musim selanjutnya merubah cerita bersejarah bagi pesepakbolaan China; berbondong-bondong pemain bintang dari liga-liga Eropa hijrah ke negeri panda tersebut.

Hingga musim terbaru ini China kedatangan pemain-pemain papan atas. Pemain tersebut seperti Asamoah Gyan, Demba Ba, Paulinho, Ramires, Gervinho, Gael Kakuta, Stephane Mbia, Jackson Martinez, Fredy Guarin, Alex Teixeira, Jadson, Luis Fabiano, Hulk, Ezequiel Lavezzi dan hingga Graziano Pelle. Kedatangan dengan nama-nama diatas ini tentu membuat pamor Liga China mengkilap terang.

Kedatangan pemain bintang mampu menjadi panutan bagi pemain lokal dan mengangkat derajat sepakbola dan liga China. Dengan ini, sedikit banyak pandangan penikmat sepakbola mulai dialihkan ke sepakbola di China berkat kehadiran bintang-bintang tersebut. Dengan banyak dari mereka yang masih berada di usia emas, juga membuat persaingan antar klub Asia di Liga Champions AFC semakin seru.

Kini juara Liga Champions Asia tidak hanya menjadi milik klub Jepang, Korea, Australia atau Timur Tengah saja. Dengan Bukti tersaji bahwa Guangzhou Evergrande mampu juara di tahun 2013 dan 2015. Sekarang reputasi klub China dalam bidang sepakbola perlahan mulai diakui dilevel Asia.

Banyaknya pemain bintang pindah ke China juga tidak lepas dari uang yang begitu banyak, entah dari biaya trasfer pemain maupun gaji yang diberikan tim China kepada pemain tersebut. Kegilaan klub China membuat beberapa pemain yang sebenarnya masih sangat pantas bermain di Eropa menghilang dari peredaran. Demba Ba yang sempat menjadi andalan Chelsea akhirnya pindah juga ke China pada 2015 setelah sebelumnya bermain di Turki.

Freddy Guarin sebenarnya masih terhitung pemain penting di Inter, meski kedatangan Goeffrey Kondogbia bisa membuat kans Guarin tampil berkurang. Sehingga dia milih berpindah ke Shanghai Shenhua. Namun ada alasan lain, alasan kedua yang sebenarnya menjadi faktor utama adalah besarnya gaji yang diberikan Shenhua daripada saat masih di Inter.

Ramires pindah ke Jiangsu Suning juga berkat tawaran menggiurkan gaji disana, padahal Ramires termasuk pilar penting di Chelsea dalam 4 tahun terakhirnya di Chelsea. Gervinho pindah ke Hebei Fortune disamping karena dipecatnya Rudi Garcia sebagai allenatore AS Roma musim lalu.

Gervinho ditengarai tergiur oleh kibasan uang besar dari negeri Tiongkok. Ezequiel “Pocho” Lavezzi juga demikian. Pemain yang mulai tenar ketika membela Napoli ini, pindah ke Hebei Fortune dari PSG. Sebelum ke Hebei, Lavezzi sempat diincar Inter dan Barcelona, meski harus bermain di liga antah berantah dia mendapat gaji yang lebih besar dari PSG.

Gebrakan China semakin terasa ketika Guangzhou Evergrande menggamit Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga diatas 36 juta euro. Sosok Martinez adalah bomber kelas atas Eropa meski mengalami paceklik gol saat bersama Atletico. Harga Martinez dipecahkan oleh rekrutan Jiangsu Suning, Alex Teixeiera dengan mahar 50 juta euro. Dua rekrutan besar ini tiba pada bulan Februari 2016 lalu.

Di musim panas yang lalu, China kembali menggemparkan jagad sepakbola. Pelakunya adalah Shanghai SIPG, yang membeli bomber berpower kuda asal Brasil, Hulk dari Zenit Saint Petersburg. Pemain bernama lengkap Givanildo Vieira de Sousa ini menjadi rekor transfer termahal Asia dengan banderol 55,8 juta euro! Gila? Tetapi ya begitulah sepakbola di era seperti ini.

Untuk Hulk, sebenarnya striker tim nasional Brasil ini diincar beberapa klub top Eropa. Dengan kecepatan, fisik kuat dan tendangan kaki kiri mematikan yang ia miliki, seharusnya bisa menjadikan dia penyerang yang sangat ditakuti apabila bergabung dengan klub besar. Namun apa daya, uang mampu membujuk Hulk untuk mengadu nasib di negeri-nya Jet Li ini.

Penyerang Italia yang bermain apik di Southampton dan Euro 2016, Graziano Pelle juga demikian. Pelle tidak pindah ke Juventus atau ke Chelsea (karena ada Conte), padahal dengan performa dia selama ini seharusnya dia bisa menaikkan karir dengan bermain di klub besar. Namun apa daya, tawaran gaji 250 ribu poundsterling per minggu dari Shandong Luneng meluluhkan hati Pelle untuk merumput di China.

Tidak hanya transfer pemain yang terhitung “jadi”, klub China juga mulai berani membeli pemain muda potensial langsung dari klub Brazil, seperti Geuvanio (Santos ke Tianjin Quanjian) dan Biro Biro (Fluminese ke Shanghai Shenxin). Bahkan klub seperti Tianjin Quanjian yang hanya berlaga di kasta kedua China (China League One) berhasil merekrut mantan bintang Brazil seperti Luis Fabiano dan Jadson.

Kegilaan klub China yang mampu mendatangkan pemain top memang menjadi kewajaran mengingat ekonomi di China sedang baik, tetapi bagi pemain-pemain yang pindah kederajat dengan Eropa membuat mentalitas pemain sedikit-banyak tidak sebaik pemain yang berada di liga besar Eropa.

Hal itu sudah dirasakan oleh tim nasional Brazil di Copa America 2015. Membawa pemain-pemain dari liga Asia seperti Diego Tardelli (Shandong Luneng) dan Everton Ribeiro (Al-Ahli), Brazil menemukan kesulitan saat Neymar tidak bisa bermain karena hukuman kartu. Mereka takluk dari Paraguay di perempat final dalam adu penalti, Tardelli tidak berguna karena tak dimainkan dan Everton berperan dalam kekalahan Brazil dari Paraguay tersebut dengan menjadi salah satu penendang pinalti yang gagal.

Jelas mental pemain ini bukanlah levelnya untuk berada di turnamen bertensi besar layaknya Copa America. Maka dari itu harus diwaspadai pula oleh para pemain, kompetisi yang tidak setingkat dengan Eropa bisa berakibat besar juga pada penurunan kualitas pemain. Jika itu sudah terjadi tidak hanya karir di tim nasional saja yang mandek, karir sebagai pesepakbola pun bisa terancam.

Terlepas dari kebutuhan ekonomi atau apapun, pindah ke liga yang secara kualitas kompetisi lebih rendah dari Eropa harus ditinjau ulang. Mungkin saja uang di China banyak namun bermain disana bisa berdampak bagi mental dan kualitas pemain itu sendiri.

Karena jika anda menjadi pesepakbola “sejati”, uang bukanlah satu-satunya alasan anda berjuang dalam dunia sepakbola. Prestasi hebat tentu jelas sangat lebih membanggakan daripada gepokan uang besar, prestasi bisa dikenang tetapi uang bisa terlupakan begitu saja.

Sebanyak apapun uang yang anda dapat dari sepakbola, jika tidak mampu meenorehkan sejarah hebat dalam dunia sepakbola itu sendir, nama anda pasti akan tenggelam dalam derasnya arus dan hiruk-pikuk dalam sepakbola modern abad ini. Untuk itu, alangkah bijaknya jika pemain dari liga-liga di Eropa bisa selektif dalam berkarir, apalagi ketika melihat terangya cahaya “Matahari Baru” dari dunia Timur, khususnya negeri Tirai Bambu.

Foto: the18.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s