Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s