Inspirative’s Story: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Tidak semua orang terlahir dengan kondisi “beruntung”. Ada yang berada di keluarga kaya ada pula yang berada dalam keluarga yang hanya berkecukupan atau bahkan dikategorikan miskin.

Manusia terlahir di lingkungan keluarga kaya atau miskin itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan, namun merubah situasi dan keadaan hidup atas sebuah nasib diri sendiri, keluarga dan lingkungannya adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung dengan kemauan dan usaha  dari manusia itu sendiri.

Tak terkecuali dalam ranah sepakbola, beberapa pemain ada yang ditakdirkan lahir dikeluarga kurang mampu, namun berkat usaha pantang menyerah dan doa, mereka mampu merubah nasib hidup melalui sepakbola.

Beberapa bintang sepakbola dunia pernah dalam kondisi kesusahan pada masa lalunya. Kisah perjalanan hidup tersebut sangatlah menginspirasi dan mengajarkan kita akan sebuah makna perjuangan hidup dan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, berikut adalah beberapa pemain tersebut.

Terlahir dengan nama lengkap Carlos Alberto Bacca Ahumada di Puerto Colombia, Bacca terhitung telat muncul sebagai pemain bola profesional. Baru pada usia 20 tahun dia merasakan atmosfer sepakbola “sesungguhnya” ketika bergabung dengan klub divisi utama liga Kolombia, Atletico Junior.

Setelah bargabung ke Junior pada 2006, dia  pun tidak langsung merasakan debut di liga teratas Kolombia tersebut, melainkan harus dipinjamkan ke klub kasta bawah seperti Barranquilla (divisi 2 Kolombia) dan bahkan sempat dipinjamkan ke Minerven, klub kasta kedua di liga Venezuela. Jadi selama 2006 hingga 2008 dia belum atmosfer sepakbola yang benar-benar kompetitif karena berada di kompetisi level bawah. Peruntungan Carlitos mulai berubah pada 2009 ketika kembali ke Atletico Junior.

Setelah sukses merengkuh status top skor Copa Colombia 2009, lalu pada 2010 dan 2011 dia sukses mengantar Atletico Junior menjadi juara liga teratas Kolombia, Categoria A dengan sekaligus menjadi top skor liga di kedua tahun tersebut. Pada awal tahun 2012, dia direkrut oleh klub Belgia, Club Brugge dan impian bermain di Eropa menjadi kenyataan bagi pria religius ini.

Setengah musim tidak terlalu cemerlang, namun pemain yang dibeli dengan harga 1,5 juta euro ini meledak di musim 2012-2013. Dia menjadi top skor Jupiler Pro League dan sekaligus terpilih menjadi pemain terbaik di Belgia pada musim itu. Sejak datang pada awal 2012 hingga akhir musim 2012-2013 dia telah mengemas total 28 gol dari 45 penampilan di liga dan 3 gol di ajang Europa League.

Performa yang bagus dalam waktu singkat di Belgia membuat klub Spanyol, Sevilla mentransfer Bacca dengan biaya 7 juta euro untuk musim 2013-2014. Musim pertama di Spanyol dilalui dengan gemilang. Sukses menjuarai Liga Eropa, kemudian dilabeli transfer terbaik 2013-2014 dan diberi penghargaan sebagai pemain Amerika Latin terbaik di Spanyol oleh asosiasi pengelola liga, LFP.

Musim selanjutnya pada 14/15 Bacca tetap mempesona, dengan koleksi 28 gol disemua ajang. Pada musim itu pula lagi-lagi dia mengantarkan Sevilla mempertahankan status juara Europa League, dimana dia mencetak dua gol dalam final melawan Dnipro Dniproprtrovsk yang berakhir 3-2.

Kemudian raksasa Italia, AC Milan memenuhi klausul pelepasan kontrak Carlos Bacca senilai 30 juta euro, demi memulai sebuah proyek baru untuk kebangkitan mereka pada 2015-2016. Meski I Rossonerri gagal memenuhi ekspektasi lolos ke Liga Champions, performa Bacca tetap oke dengan menjadi top skor Milan di Serie A (18 gol), dan hingga kini tetap menjadi andalan Milan dilini depan.

Di tim nasional Kolombia dia juga mulai diandalkan, seiring penurunan performa Radamel Falcao dan Jackson Martinez, ruang untuk Bacca selalu terbuka asal dia mampu menjaga konsistensi permainan. Dia ada dalam daftar skuad Kolombia di Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016.

Bacca sekarang beda dengan yang dulu, Bacca memang terlahir dari keluarga yang miskin, dia pernah nyambi kerja paruh waktu sebagai penjual tiket bus dan juga kernet atau biasa disebut kondektur bus ketika di Barranquilla. Kehidupan dia sangat susah, dia juga sempat menjadi nelayan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bermain sepakbola awalnya sekedar hobi, meski dia pada dasarnya sangat ingin dan bermimpi merubah nasib dengan menjadi pemain sepakbola. Namun tanpa disangka, tekad yang begitu kuat merubah nasib hidupnya jauh lebih baik. Berkat kemauan mencoba “cari hidup” lewat bola, kerja keras dan keberuntungan yang menghinggapi dirinya, saat ini dia menjadi menjadi salah satu striker tajam yang berharga mahal di Eropa.

Alexis Sanchez, anda seharusnya tahu siapa dia. Bisa bermain diposisi mana saja di lini depan, dribel bola yang ciamik, dan cepat serta dibekali insting mencetak gol yang baik. Memulai karir profesional di Cobreloa, 18 Maret 2005 sudah melakukan debut di tim senior meski usia masih 16 tahun.

Aksi impresif pada musim pertama di Cobreloa membuat salah satu klub Italia paling ekonomis, Udinese membelinya seharga 1,7 juta poundsterling. Tidak langsung bergabung dengan Udinese, Sanchez muda berturut-turut dipinjamkan ke Colo-Colo (2006-2007) dan River Plate (2007-2008), baru pada pertengahan 2008 dia terbang ke Italia untuk memulai petualangan bersama klub asal kota Udine tersebut.

Disini dia sukses menjelma sebagai pemain spesial dan berduet bersama pemain senior, Antonio Di Natale. Di kota Udine reputasinya mulai meroket seiring kemampuan yang sering dikomparasikan dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Meski hanya mencetak 21 gol dari 112 total pertandingan, gaya bermain dia sukses membuat salah satu klub terbaik dunia, Barcelona merekrutnya dengan harga 26 juta euro pada pertengahan 2011.

Menjadi andalan Barcelona selama tiga musim, dia terhitung lumayan sukses dengan lima trofi selama di Barcelona. Akan tetapi bursa transfer musim panas 2014 terhitung pelik bagi pemain berjuluk El Nino Maravilla (The Wonder Kid) ini.

Arsenal-Barcelona tertarik pada Luis Suarez yang bermain fantastis di Liverpool dahulu. Rencana awal, Arsenal akan merekrut Suarez dan jika gagal maka Sanchez adalah penggantinya. Barcelona juga punya rencana yang berkaitan, bila berhasil mendatangkan Suarez maka Sanchez akan pergi, tetapi jika Suarez gagal ke Camp Nou maka Sanchez akan tetap di Barcelona.

Suarez akhirnya pindah ke Barcelona, dipengaruhi faktor ingin juara Liga Champions dia juga tidak tahan dengan media-media di Inggris yang selalu memberi stigma negatif pada dia. Meski menjadi rencana cadangan dalam strategi transfer atas Suarez, Sanchez menbuktikan diri kualitasnya memang mumpuni, dia bermain bagus di Chile, Argentina, Italia, Spanyol dan kini di Inggris bersama Arsenal.

Dia menjadi tulang punggung Arsenal dengan Mesut Ozil sebagai partner dia. Ketajaman dia justru meningkat, dengan mencetak 25 gol pada musim perdana, lalu 17 gol di musim keduanya bersama Arsenal.

Musim ini tidak berbeda, dan justru peran dia semakin krusial karena dipasang sebagai penyerang di depan. Arsenal kini sangat menjadikan Sanchez sebagai sumber inspirasi untuk mendulang kemenangan. Mengenai nasib hidup, Sanchez saat ini menerima gaji setidaknya 130 ribu poundsterling tiap pekan, tentu nominal yang sangat tinggi.

Tetapi dia tidak mendaptakan ini dengan mudah, perjuangan yang keras adalah jawaban mengapa dia bisa sampai pada level ini. Dia lahir di daerah Tocopilla, 19 Desember 1988 dimana tempat kelahiran Alexis merupakan salah satu daerah yang miskin di Chile. Kehidupan dia dahulu kala serba susah, apalagi sudah ditinggal ayah sejak kecil.

Alexis pernah bekerja serabutan seperti menjadi pencuci mobil. Kakaknya Humberto pun menceritakan jika Sanchez tidak menjadi pesepakbola, dia hanya akan menjadi pekerja tambang seperti dirinya. Dulu jangankan hidup mewah, sekedar untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja dia tidak mampu.

Bahkan sepatu bola pertama yang dia punya adalah pemberian walikota setempat, setelah ibunya meminta hal itu secara langsung kepada sang walikota Tocopilla. Tetapi pemberian walikota terhadap Sanchez kecil tidak sia-sia. Karena hingga sekarang dia tidak cuma membanggakan kota kelahiran saja namun juga tanah airnya, Chile yaitu dengan sukses dua kali juara Copa America. Sekarang dia menjadi idola publik La Roja dan termasuk salah satu penyerang terbaik dunia.

Banyak pesepakbola yang mempunyai kisah hidup memilukan seperti Bacca dan Sanchez. Seperti Luis Suarez kecil, yang tidak mampu membeli sepatu sepakbola dan bermain bola selalu di jalanan, itulah masa lalu El Pistollero. Ramires mantan pemain Chelsea yang kini bermain di Liga China, bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan akibat kesulitan dari segi ekonomi.

Bahkan pemain terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo, juga tergolong hidup dalam keluarga kurang mampu semasa kecilnya. Para pesepakbola tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa tiada yang tidak mungkin jika ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Syarat yang wajib dipenuhi jika ingin merubah nasib hidup adalah kerja keras tiada henti, tidak lelah untuk menaruh harapan dan berdoa semoga keberuntungan menaungi.

Pahitnya pengalaman hidup membentuk mental para bintang dunia tersebut hingga sekuat sekarang ini. Jika sudah begini, benar adanya seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa andai kita benar-benar berusaha keras maka usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil dikemudian hari.

Foto dari pulse.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s