“Kultur Sepakbola” (Part-1)

Kemajuan sebuah negara dalam hal ekonomi ternyata berdampak positif dalam banyak sisi kehidupan di sebuah negara tersebut. Dengan mantapnya laju ekonomi, maka masyarakat didalamnya bisa hidup dalam kesejahteraan dan terkecuali dalam hal sepakbola.

Dengan kekuatan ekonomi yang bagus, infrastruktur sepakbola bisa dibangun menyesuaikan kemajuan zaman serta pola pendidikan dan pelatihan yang ditunjang kecanggihan teknologi masa kini. Kita bisa lihat, kemajuan negara-negara Eropa mampu membuat sepakbola yang mereka kembangkan menjadi sepopuler sekarang ini.

Namun Eropa tak beranjak sendirian karena Amerika Serikat dan Cina juga sudah mulai mencoba hal ini, jika Amerika didukung oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi yang oke, maka hasrat Cina untuk memajukan pesepakbolaan dalam negerinya adalah akibat dari pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat kuat belakangan ini.

    Namun jika dilihat dari fakta yang terjadi, ternyata tak menjadi patokan utama bahwa kemajuan negara dalam hal insfrastruktur, teknologi dan ekonomi juga berdampak lurus bagi pesepakbolaannya. Lalu faktor apa yang lebih penting jika kemajuan dari segi infrastruktur, teknologi dan ekonomi belum tentu pula memicu kemajuan sepakbola di negara tersebut?

Seringakali di berbagai media sepakbola, kita disuguhi bacaan mengenai keadaan sepakbola Amerika Latin yang dikatakan bahwa di benua tersebut, sepakbola sudah sangat mendarah daging, menjadi kultur atau budaya masyarakat dan bahkan banyak yang menganggap, disana sepakbola sangat penting dalam hidup, bahkan sudah setara dengan agama.

Ya, jawaban dari itu adalah sebuah kultur, karena meski sebuah negara mempunyai infrastruktur dan teknologi yang maju dibidang sepakbola atau serta punya banyak uang untuk mengembangkan sepakbola, tetapi tanpa kultur sepakbola yang  “hidup” di dalam bangsanya, maka akan sulit membuat sepakbola menjadi kebanggan dan mengharumkan nama bangsa tersebut.

Seringkali kita melihat negara-negara dari benua Afrika tampil memukau di pentas internasional, padahal mayoritas negara Afrika adalah negara berkembang yang tertinggal dari segi ekonomi, apalagi infrastruktur dan teknologinya.

Lantas apa yang membuat banyak pesepakbola hebat dilahirkan dari benua tersebut? Tak lain adalah kultur masyarakatnya terhadap sepakbola.

Sebagai olahraga yang paling digemari dan dimainkan dibelahan dunia manapun, maka tak heran sepakbola bisa ada dimanapun baik itu di pegunungan, kebun, sawah, pantai, jalanan kota, pedesaan, lapangan hingga stadion.

Karena sepakbola adalah olahraga paling “merakyat”, maka banyak masyarakat Afrika yang menggemari ini. Untuk bermain sepakbola, terkadang hanya dengan bola usang yang yang digunakan ramai-ramai dan gawang imajinasi dari sandal atau kayu pun, sepakbola sudah bisa dimainkan.

Kecintaan pada sepakbola membuat masyarakat Afrika senang memainkan si kulit bundar ini dimanapun. Bermain bola sudah menjadi kesenangan orang Afrika apalagi bagi anak-anak disana.

Karena kecintaan pada sepakbola ini maka tidak heran sepakbola sudah menjadi kebiasaan yang ditemui sehari-hari yang juga sudah menjadi kultur atau budaya yang menyatu dalam masyarakatnya.

Menjadi kultur yang hidup dalam masyarakat, sepakbola sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan disana. Sepakbola juga tidak jarang menjadi batu loncatan bagi seseorang untuk mengubah nasib hidupnya kearah yang lebih baik.

Yang terjadi di Amerika Latin lebih dahsyat, kultur sepakbola mereka sangat kental, mirip seperti di Eropa. Sepakbola sudah menjadi menu obrolan sehari-hari bagi Gaucho, sebutan untuk orang yang berasal dari orang Latin.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, bahkan saking gilanya terhadap sepakbola, terkadang agama pun disejajarkan dengan sepakbola. Contohnya saja kita bisa lihat di Argentina, disana ada gereja bernama Iglesia Maradoiana, gereja yang menjadikan Maradona sebagai Tuhan, dan bahkan kabarnya gereja ini sudah punya 200 ribu pengikut.

Sepakbola menjadi prestise bagi orang Latin, menjadi pesepakbola terkenal akan populer seperti selebritis atau politisi. Semua ini karena cinta orang Amerika Latin pada sepakbola itulah yang menjadikan olahraga ini sebagai budaya yang tidak akan lekang oleh waktu.

Barangkali kultur sepakbola yang kuat ini menjadi faktor dan sebab, kenapa sepakbola dari Afrika dan Amerika Latin selalu berkembang kearah yang baik hingga menelurkan pemain-pemain dengan kualitas jempolan.

Pemain terbaik dunia pernah datang dari Afrika, George Weah seorang legenda AC Milan dari Liberia ini pernah menyabet Ballon D’Or, belum lagi deretan pemain yang sukses besar seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, dan Yaya Toure.

Amerika Latin jauh lebih hebat, talenta dari sana bahkan bisa mengungguli talenta-talenta dari kiblat sepakbola seperti Eropa. Mulai dari Pele, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Lima, Ronaldinho, hingga Lionel Messi mampu menguasai jagad sepakbola dunia.

Kualitas pemain yang mumpuni berdampak positif bagi tim nasional dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Negara-negara dari kedua benua tersebut mampu berbicara banyak di konstelasi ajang internasional seperti Piala Dunia.

Bisa diatarik kesimpulan, ketika sepakbola menjadi sebuah kecintaan pada masyarakat tertentu maka sepakbola akan menjadi hal penting dalam hidup dan akan ada dimana-mana.

Hal ini tentu membentuk kebiasaan yang pada akhirnya dengan sendirinya membentuk sebuah kultur bahwa “sepakbola adalah bagian penting dari kehidupan”. Meski keadaan ekonomi atau infrastruktur tidak memadai untuk memainkan sepakbola secara “layak”, namun berkat budaya sepakbola yang ada ini maka kekuarangan tersebut seakan hilang dan tidak menjadi faktor penghambat.

Sedikit menoleh ke negara sendiri, Indonesia yang secara ekonomi masih terhitung negara berkembang dan dengan infrastruktur sepakbola yang “ala kadarnya” apakah sudah mempunyai budaya sepakbola seperti di Amerika Latin atau Afrika?

Mungkin bisa dikatakan belum, meski pemandangan anak-anak bersepakbola ria di lapangan, jalanan atau gang-gang rumah masih kita jumpai di negeri ini dan semangat orang Indonesia terhadap sepakbola juga lumayan tinggi, namun kenapa pemain hebat nan potensial kelas dunia tak juga kunjung muncul?

Mari kita kupas lebih dalam. Untuk menjadi pesepakbola hebat, berkarir lah di Eropa, dalam hal ini orang Afrika dan Amerika Selatan diuntungkan. Sebagai negara bekas kolonial dari negara-negara Eropa, maka bahasa yang mereka gunakan, punya banyak kesamaan seperti warga Afrika yang berbahasa Perancis karena mayoritas negara-negara Afrika adalah bekas pendudukan Perancis.

Amerika Latin yang warganya terbiasa berbahasa Spanyol, Portugis dan juga Italia juga sangat terbantu manakala ada pesepakbola dari sana yang akan hijrah ke Eropa, bahkan budaya masyarakat antara Amerika Latin dan Eropa terkhususnya negara Latin Eropa pun banyak kesamaan. (Bersambung..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s