Superga, Muenchen dan Chapecoense Tragedi; Tangisan Duka Masa Kejayaan

Dunia sepakbola kembali berduka, rombongan klub Serie A Brasil, Chapecoense mengalami kecelakaan tragis dengan crash-nya pesawat mereka di wilayah Medellin, Colombia. Klub dari kota Chapeco, negara bagian Santa Catarina, Brasil ini akan bertandang ke klub Kolombia, Atletico Nacional dalam rangka leg pertama final Copa Sudamericana 2016.

Menurut sumber berita Elpais, pesawat membawa 77 orang yang 21 diantaranya para jurnalis, 9 kru pesawat dan sisa seluruhnya adalah tim, staf kepelatihan dan rombongan Chapecoense lainnya.

Sebenarnya pesawat berisikan 81 orang, namun empat diantaranya tidak jadi ikut terbang yang salah satunya anak dari pelatih Caio Junior, Matheus Saroli karena lupa membawa visa. Walikota Chapeco dan senat Santa Catarina juga rencana ikut berangkat bersama rombongan Chapecoense, namun batal karena agenda kerja masing-masing.

Pesawat charteran khusus dari Lamia itu mengalami crash pada Senin, 28 November 2016. Dikabarkan penyebab kecelakaan pesawat karena kehabisan bahan bakar dan gangguan arus listrik.

Hanya enam orang yang selamat dari peristiwa kelam tersebut, yaitu tiga pemain Chapecoense, 1 jurnalis dan 2 kru pesawat. Kiper utama Chape, Danilo sebenarnya selamat namun dia meninggal beberapa jam setelah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat. Berita duka mendalam ini tak pelak membuat banyak pihak terpukul.

Mulai dari rakyat Brasil, tokoh dunia, pebola, suporter dan hampir seluruh masyarakat dunia ikut menyampaikan belasungkawa kepada para korban, keluarga, dan orang-orang terdekat korban pesawat jatuh tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita terhadap beberapa kecelakaan tragis berkaitan dengan jatuhnya pesawat yang didalamnya mengangkut tim sepakbola. Kejadian pertama adalah Tragedi Superga 1949 yang membawa tim Torino, kedua adalah peristiwa Muenchen yang didalamnya ada pemain dan staf Manchester United pada 1958.

Kejadian ketiga pada 1987 yang menimpa klub asal Peru, Alianza Lima dan kejadian terkahir sebelum Chapecoense yaitu jatuhnya pesawat pembawa tim nasional Zambia di lautan samudra Atlantik tahun 1993.

Penyebab peristiwa tersebut ada berbagai macam, ada yang karena kesalahan pilot, kondisi mesin yang buruk, hingga cuaca yang tidak baik. Namun apapun itu, harapan dari seluruh setiap insan manusia dimanapun pasti sangat tidak menginginkan peristiwa seperti itu terulang kembali, entah dimanapun dan kapanpun.

Peristiwa Chape jelas membuat kita bersedih, apalagi jika kita tahu kalau Chapecoense sebenarnya akan menorehkan sejarah hebat dalam catatan sepakbola Brasil dan Amerika Selatan. Klub yang berdiri pada 1973 ini akan bermain di final Copa Sudamerica 2016, final ini adalah yang pertama bagi klub berjuluk Verdao (Big Green) ini di turnamen klub antar negara Amerika Selatan.

Melihat sepak terjang Chape selama 8 tahun terkahir, mereka memang sensasional. Pada 2009 mereka masih di kasta Serie D, tapi 2014 untuk pertama kali dalam sejarah klub, mereka promosi ke Serie A Brasil, divisi tertinggi di negeri Samba tersebut.

Chape terhitung klub yang sedang menanjak, meski dalam tataran sepakbola Brasil nama mereka jelas kalah tenar dengan Internacional, Sao Paulo, atau Santos FC. Berkat pekembangan yang positif tersebut, beberapa media-media di Amerika Latin bahkan tidak segan menyematkan julukan “Leicester City dari Brasil” untuk Chapecoense.

Tentu hal ini tidak sembarangan dan menjadi bukti bahwa geliat Chape bisa mengejutkan seperti apa yang dilakukan Leicester City, yakni klub kecil yang mampu juara di ajang besar.

Akan tetapi takdir berkata lain, peristiwa menyedihkan ini datang justru menjelang hari yang paling ditunggu suporter Chape. Mengenai kelanjutan final Copa Sudamericana 2016, Atletico Nacional yang menjadi lawan Chape di final telah meminta CONMEBOL (UEFA-nya Amerika Selatan) untuk memberikan gelar juara ke Chapecoense.

Tidak hanya itu, klub-klub di Brasil juga meminta Chapecoense untuk diberikan imunitas khusus oleh Asosiasi Sepakbola Brasil agar tidak terdegradasi selama tiga musim. Tidak cukup disitu, bahkan klub-klub di Brasil juga menawarkan pemain-pemainnya untuk dipinjamkan ke Chape secara gratis dan gaji mereka ditanggung klub yang yang meminjamkan.

Tragedi pesawat jatuh mengangkut tim sepakbola yang sedang naik daun bukan kali ini saja, sudah dua kali peristiwa macam ini tercatat dalam sejarah pedih sepakbola. Peristiwa yang dimaksud adalah Superga dan Muenchen. Dua kejadian masa lampau ini juga melibatkan tim yang memang sedang berada dalam masa keemasan.

Tragedi Superga, yang terjadi pada tahun 1949 menyebabkan seluruh orang didalam pesawat tewas. Kecelakaan nahas ini terjadi akibat cuaca buruk dan rendahnya ketinggian pesawat terbang dari Avio Linee Italiane hingga menabrak bagian belakang gereja Superga di Turin.

Yang tidak beruntung adalah Torino, karena hampir seluruh pemain mereka berada di pesawat yang jatuh tersebut. Padahal dikala itu Torino sedang mencapai puncak kegemilangan dengan merajai Liga Italia.

Tidak hanya itu, sebagian besar pemain Torino juga menjadi andalan tim nasional Italia, saking hebatnya mereka waktu itu maka julukan Grande Torino dilabelkan. Mereka hattrick juara Liga Italia sejak 1945 hingga 1948, dan gelar juara 1949 diberikan meski Torino harus bermain dengan pemain junior di 5 laga sisa musim itu.

Torino saat itu mirip dengan kondisi Juve saat ini, yakni sangat dominan di Italia. Andai peristiwa itu tidak terjadi, bisa jadi Torino akan lebih banyak menorehkan sejarah di Italia hingga kini dan bisa menjadi klub besar setara Juve, Milan, atau Inter.

Selanjutnya adalah tragedi Muenchen 1958. Rombongan skuad Manchester United ini sedang dalam perjalanan ke Belgrad untuk bertanding melawan Red Star Belgrade di lanjutan Piala Eropa (saat ini Liga Champions) 1957-1958.

Pesawat Airspeed Ambrassador yang mereka tumpangi, terpaksa mendarat di Muenchen karena bahan bakar yang tak cukup jika perjalanan tanpa henti Manchster ke Belgrade tetap dilanjutkan. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat coba untuk lepas landas dengan dua kali percobaan, itupun juga karena terhambat oleh gangguan mesin.

Pada percobaan ketiga, pesawat menyentuh lumpur yang bercampur dengan salju yang juga turun pada waktu yang hampir sama, hal ini menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan. Pesawat milik British European Aisways tersebut lantas menabrak pembatas diujung landasan Bandara Munich-Riem dan juga menabrak rumah dekat bandara.

Sebanyak 23 orang tewas dalam kejadian tersebut, dan banyak pemain United yang menjadi korban. Padahal pada zaman tersebut, skuad Manchster United tengah dalam masa jaya.

Skuad Red Devils kala itu dihuni oleh sebagian anak didikan pelatih legendaris, Sir Matt Busby, pemain-pemain itu dijuluki “Busby Babes” oleh para jurnalis. Meski banyak yang tertimpa musibah, beberapa dari mereka beruntung selamat. Sir Matt Busby sendiri selamat dari kecelakaan tersebut dan tentunya Bobby Charlton, legenda di Old Trafford dan tim nasional Inggris ini termasuk salah satu orang yang selamat.

Takdir baik masih mengiringi Sir Matt Busby dan Bobby Charlton, yang membuat nama mereka sangat besar dan melegenda hingga kini meski mengalami tragedi tersebut.

Tragedi Chapecoense mengingatkan kita juga tentu dengan peristiwa kelam Superga dan Muenchen. Tim yang sedang dalam masa kejayaan namun harus merasakan pahit seketika itu juga dalam masa kejayaan tersebut.

Rasa simpati dan ikut merasakan duka kemanusiaan akan terus diberikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga, rekan dan pihak-pihak yang kehilangan akibat peristiwa tersebut. Meski rasa pedih yang mendalam justru datang ketika sedang dalam masa terbaik, mereka terus bersemangat untuk melajutkan cita-cita dan cerita kehidupan terutama dalam sepakbola. Força Chapecoense.

Sumber foto BBC.com

Perbedaan Gary Neville di Pinggir Lapangan dan Layar Kaca

Sepakbola seperti halnya cabang olahraga lain, juga bisa dipelajari bagaimana cara untuk memainkan olahraga ini dengan baik. Termasuk menentukan strategi bermain dalam sepakbola, juga bisa kita pelajari. Pada umumnya mereka yang mempelajari strategi permainan tidak jauh kaitannya dengan dimensi kepelatihan dalam sepakbola. Ya, dalam hal ini melatih sebuah tim dapat dipelajari, hal ini bisa didapatkan apabila seseorang ingin belajar.

Datanglah ke asosiasi sepakbola setempat untuk mendaftar pendidikan kepelatihan, anda bisa dapat sertifikat atau lisensi untuk melatih klub bola, tetapi harus memulai dari bawah karena pemberian lisensi dimulai dari yang terendah sebelum mencapai lisensi tertinggi. Kini melatih klub sepakbola bisa dilakukan siapa saja, tak perduli dia pernah bermian sepakbola profesional atau belum, semua punya kesempatan yang sama.

Dasar-dasar dalam pola strategi jika menjadi seorang pelatih bisa kita pelajari dengan baik dan itu akan berguna ketika menjadi pelatih sesungguhnya. Selain itu kemampuan analisis permainan, menilai performa pemain, membaca strategi lawan, hingga menakar kemampuan dan kelemahan baik itu dari tim sendiri dan juga tim lawan akan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih.

Akantetapi, kemampuan seseorang dalam membaca strategi, menganalisis sebuah pertandingan hingga menemukan kekurangan dalam sebuah tim belum tentu bisa diaplikasikan langsung dilapangan ketika menjadi pelatih beneran. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Gary Neville ketika melatih Valencia pada musim 2015-2016. Gary Neville, siapa yang tidak tahu kalau dia adalah legenda Manchester United yang merupakan jebolan class of 92 atau pemain akademi United angkatan 1992, bersama David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville (adiknya), Paul Scholes dan Nicky Butt.

Gary mengkapteni Red Devils sejak 2005 semenjak kepergian Roy Keane, dia menjabat kapten hingga pensiun di 2011. Bersama United, Neville mengkoleksi banyak gelar, diantaranya; 8 Premier League, 2 Liga Champions dan 3 Piala FA. Dia melahap 400 laga selama berkostum Merah, dan 85 bersama skuad timnas Inggris. Pensiun pada 2011, dia kemudian pernah melanjutkan karir dengan menjadi asisten pelatih timnas Inggris selain juga menjadi pundit (analis pertandingan) dan komentator di stasiun TV olahraga, Sky Sports.

Neville mulai menjadi pundit sejak 2011. Ketajaman Gary dalam menganalisis pertandingan dipuji berbagai pihak, diantaranya Gary Lineker dan Des Lynam. Dia dianggap sebagai pundit terbaik di Inggris karena analisisnya yang objektif dan tajam. Namun, tetap saja banyak kalangan berpendapat analisis Neville terkadang menjurus pada kritik pedas dan memerahkan telinga orang atau pihak yang dikritik tersebut. Salah satunya ketika mengkritisi kinerja Andre Villas-Boas semasa menukangi Chelsea.

Tidak hanya itu, dia juga sering memberi kritik pedas pada Arsenal, Liverpool, dan Manchester City, tetapi untuk Manchester United dia jarang memberi kritik yang pedas seperti untuk tim lain. Dalam hal inilah, mulai banyak kalangan setuju bahwa Neville tidak selalu objektif dan terkadang bias dalam memberikan kritik karena latar belakang dia yang merupakan orang-nya Manchester United.

Dipecatnya Nuno Espirito Santo dari kursi manajer Valencia pada akhir November 2015, membuka jalan bagi Neville untuk membuktikan bahwa dia juga hebat ketika menangani sebuah klub dan tidak hanya jago nyinyir dari layar kaca televisi. Di Valencia dia akan bekerja bareng adiknya, Phil yang sudah sejak awal musim 2015-2016 menjadi asisten bagi Nuno Santo. Duet kakak-adik Gary dan Phil sangatlah ditunggu kebolehannya, berkat reputasi hebat mereka di MU pada masa lampau ketika jadi pemain.

Meski begitu, Gary masih nir pengalaman melatih klub profesional, paling banter dia hanya menjadi asisten pelatih di skuad Three Lions sejak 2012, dimana jabatan ini tidak ia lepas meski telah menjadi pelatih Los Che. Selain belum pernah melatih tim pro, dia juga melatih klub Spanyol tanpa modal bisa berbahasa Spanyol dengan fasih. Bisa dibilang keputusan Valencia merekrut Gary Neville ibarat sebuah perjudian besar.

Valencia bakal menjadi bukti perbandingan, seberapa hebatnya kemampuan analisis Gary Neville antara di layar kaca dan dipinggir lapangan. Disini terbukti bahwa Neville ternyata hanya omong doang. Gary gagal total bersama Valencia. Gugur dari fase grup Liga Champions dan juga gugur Europa League, menghuni zona bawah klasemen liga, dan tersingkir dari Copa Del Rey dengan dibantai 7-0 oleh Barcelona. Analisis tajam melihat pertandingan ternyata tidak mampu Neville terapkan pada tim yang ia latih. Apakah perbedaan bahasa berpengaruh? Seharusnya tidak terlalu, karena hal ini bisa diminimalisir oleh Phil yang terlebih dulu mengenal tim dan lebih fasih berbahasa Spanyol.

Hasil jelek memaksa Neville dipecat pada Maret 2016 lalu. Setelah mengakhiri ikatan sebagai asisten pelatih Inggris pada Euro 2016, awal musim 2016/2017 dia kembali ke Sky Sports untuk kembali menjadi pundit.

Terkait kegegalan Neville, ternyata ada beberapa pihak senang dengan kegagalan Neville, salah satunya adalah mantan pemain Chelsea, Hernan Crespo. Dia senang dengan kegagalan Neville, ketika Crespo berujar bahwa melihat pertandingan dari TV  dengan dari bangku cadangan itu sangatlah berbeda. maksud dari Crespo, anda bisa berkata apa saja karena tidak merasakan langsung tekanan pertandingan, namun ketika anda berada langsung dari pinggir lapangan, membuat satu keputusan kecilpun terkadang sangat sulit untuk dilakukan.

Sesuatu yang diingat dari Neville setelah pensuin mungkin adalah ketika menjadi komentator, bukan pelatih bola. Salah satu yang fenomenal tentunya teriakan Gary saat Fernando Torres mencetak gol di Camp Nou pada semifinal Liga Champions 2011/2012, sangatlah khas dan melahirkan istilah tersendiri “goalgasm”.

Dari perjalanan karir Gary Neville yang sangat pintar menganalisis pertandingan dan memberi kritik, namun gagal total ketika terjun langsung sebagai pelatih, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa kita tidak akan pernah tau seberapa sulit sesauatu hal, jika kita tidak terjun langsung dan ikut terlibat di dalamnya. Karena menjadi pelatih sepakbola itu sangat susah dan 100 persen lebih sulit daripada sekedar duduk manis, mengkomentari dan mengkritisi jalannya sebuah pertandingan. Iya kan, Neville?

Foto dari theguardian.com

Inspirative’s Story: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Tidak semua orang terlahir dengan kondisi “beruntung”. Ada yang berada di keluarga kaya ada pula yang berada dalam keluarga yang hanya berkecukupan atau bahkan dikategorikan miskin.

Manusia terlahir di lingkungan keluarga kaya atau miskin itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan, namun merubah situasi dan keadaan hidup atas sebuah nasib diri sendiri, keluarga dan lingkungannya adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung dengan kemauan dan usaha  dari manusia itu sendiri.

Tak terkecuali dalam ranah sepakbola, beberapa pemain ada yang ditakdirkan lahir dikeluarga kurang mampu, namun berkat usaha pantang menyerah dan doa, mereka mampu merubah nasib hidup melalui sepakbola.

Beberapa bintang sepakbola dunia pernah dalam kondisi kesusahan pada masa lalunya. Kisah perjalanan hidup tersebut sangatlah menginspirasi dan mengajarkan kita akan sebuah makna perjuangan hidup dan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, berikut adalah beberapa pemain tersebut.

Terlahir dengan nama lengkap Carlos Alberto Bacca Ahumada di Puerto Colombia, Bacca terhitung telat muncul sebagai pemain bola profesional. Baru pada usia 20 tahun dia merasakan atmosfer sepakbola “sesungguhnya” ketika bergabung dengan klub divisi utama liga Kolombia, Atletico Junior.

Setelah bargabung ke Junior pada 2006, dia  pun tidak langsung merasakan debut di liga teratas Kolombia tersebut, melainkan harus dipinjamkan ke klub kasta bawah seperti Barranquilla (divisi 2 Kolombia) dan bahkan sempat dipinjamkan ke Minerven, klub kasta kedua di liga Venezuela. Jadi selama 2006 hingga 2008 dia belum atmosfer sepakbola yang benar-benar kompetitif karena berada di kompetisi level bawah. Peruntungan Carlitos mulai berubah pada 2009 ketika kembali ke Atletico Junior.

Setelah sukses merengkuh status top skor Copa Colombia 2009, lalu pada 2010 dan 2011 dia sukses mengantar Atletico Junior menjadi juara liga teratas Kolombia, Categoria A dengan sekaligus menjadi top skor liga di kedua tahun tersebut. Pada awal tahun 2012, dia direkrut oleh klub Belgia, Club Brugge dan impian bermain di Eropa menjadi kenyataan bagi pria religius ini.

Setengah musim tidak terlalu cemerlang, namun pemain yang dibeli dengan harga 1,5 juta euro ini meledak di musim 2012-2013. Dia menjadi top skor Jupiler Pro League dan sekaligus terpilih menjadi pemain terbaik di Belgia pada musim itu. Sejak datang pada awal 2012 hingga akhir musim 2012-2013 dia telah mengemas total 28 gol dari 45 penampilan di liga dan 3 gol di ajang Europa League.

Performa yang bagus dalam waktu singkat di Belgia membuat klub Spanyol, Sevilla mentransfer Bacca dengan biaya 7 juta euro untuk musim 2013-2014. Musim pertama di Spanyol dilalui dengan gemilang. Sukses menjuarai Liga Eropa, kemudian dilabeli transfer terbaik 2013-2014 dan diberi penghargaan sebagai pemain Amerika Latin terbaik di Spanyol oleh asosiasi pengelola liga, LFP.

Musim selanjutnya pada 14/15 Bacca tetap mempesona, dengan koleksi 28 gol disemua ajang. Pada musim itu pula lagi-lagi dia mengantarkan Sevilla mempertahankan status juara Europa League, dimana dia mencetak dua gol dalam final melawan Dnipro Dniproprtrovsk yang berakhir 3-2.

Kemudian raksasa Italia, AC Milan memenuhi klausul pelepasan kontrak Carlos Bacca senilai 30 juta euro, demi memulai sebuah proyek baru untuk kebangkitan mereka pada 2015-2016. Meski I Rossonerri gagal memenuhi ekspektasi lolos ke Liga Champions, performa Bacca tetap oke dengan menjadi top skor Milan di Serie A (18 gol), dan hingga kini tetap menjadi andalan Milan dilini depan.

Di tim nasional Kolombia dia juga mulai diandalkan, seiring penurunan performa Radamel Falcao dan Jackson Martinez, ruang untuk Bacca selalu terbuka asal dia mampu menjaga konsistensi permainan. Dia ada dalam daftar skuad Kolombia di Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016.

Bacca sekarang beda dengan yang dulu, Bacca memang terlahir dari keluarga yang miskin, dia pernah nyambi kerja paruh waktu sebagai penjual tiket bus dan juga kernet atau biasa disebut kondektur bus ketika di Barranquilla. Kehidupan dia sangat susah, dia juga sempat menjadi nelayan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bermain sepakbola awalnya sekedar hobi, meski dia pada dasarnya sangat ingin dan bermimpi merubah nasib dengan menjadi pemain sepakbola. Namun tanpa disangka, tekad yang begitu kuat merubah nasib hidupnya jauh lebih baik. Berkat kemauan mencoba “cari hidup” lewat bola, kerja keras dan keberuntungan yang menghinggapi dirinya, saat ini dia menjadi menjadi salah satu striker tajam yang berharga mahal di Eropa.

Alexis Sanchez, anda seharusnya tahu siapa dia. Bisa bermain diposisi mana saja di lini depan, dribel bola yang ciamik, dan cepat serta dibekali insting mencetak gol yang baik. Memulai karir profesional di Cobreloa, 18 Maret 2005 sudah melakukan debut di tim senior meski usia masih 16 tahun.

Aksi impresif pada musim pertama di Cobreloa membuat salah satu klub Italia paling ekonomis, Udinese membelinya seharga 1,7 juta poundsterling. Tidak langsung bergabung dengan Udinese, Sanchez muda berturut-turut dipinjamkan ke Colo-Colo (2006-2007) dan River Plate (2007-2008), baru pada pertengahan 2008 dia terbang ke Italia untuk memulai petualangan bersama klub asal kota Udine tersebut.

Disini dia sukses menjelma sebagai pemain spesial dan berduet bersama pemain senior, Antonio Di Natale. Di kota Udine reputasinya mulai meroket seiring kemampuan yang sering dikomparasikan dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Meski hanya mencetak 21 gol dari 112 total pertandingan, gaya bermain dia sukses membuat salah satu klub terbaik dunia, Barcelona merekrutnya dengan harga 26 juta euro pada pertengahan 2011.

Menjadi andalan Barcelona selama tiga musim, dia terhitung lumayan sukses dengan lima trofi selama di Barcelona. Akan tetapi bursa transfer musim panas 2014 terhitung pelik bagi pemain berjuluk El Nino Maravilla (The Wonder Kid) ini.

Arsenal-Barcelona tertarik pada Luis Suarez yang bermain fantastis di Liverpool dahulu. Rencana awal, Arsenal akan merekrut Suarez dan jika gagal maka Sanchez adalah penggantinya. Barcelona juga punya rencana yang berkaitan, bila berhasil mendatangkan Suarez maka Sanchez akan pergi, tetapi jika Suarez gagal ke Camp Nou maka Sanchez akan tetap di Barcelona.

Suarez akhirnya pindah ke Barcelona, dipengaruhi faktor ingin juara Liga Champions dia juga tidak tahan dengan media-media di Inggris yang selalu memberi stigma negatif pada dia. Meski menjadi rencana cadangan dalam strategi transfer atas Suarez, Sanchez menbuktikan diri kualitasnya memang mumpuni, dia bermain bagus di Chile, Argentina, Italia, Spanyol dan kini di Inggris bersama Arsenal.

Dia menjadi tulang punggung Arsenal dengan Mesut Ozil sebagai partner dia. Ketajaman dia justru meningkat, dengan mencetak 25 gol pada musim perdana, lalu 17 gol di musim keduanya bersama Arsenal.

Musim ini tidak berbeda, dan justru peran dia semakin krusial karena dipasang sebagai penyerang di depan. Arsenal kini sangat menjadikan Sanchez sebagai sumber inspirasi untuk mendulang kemenangan. Mengenai nasib hidup, Sanchez saat ini menerima gaji setidaknya 130 ribu poundsterling tiap pekan, tentu nominal yang sangat tinggi.

Tetapi dia tidak mendaptakan ini dengan mudah, perjuangan yang keras adalah jawaban mengapa dia bisa sampai pada level ini. Dia lahir di daerah Tocopilla, 19 Desember 1988 dimana tempat kelahiran Alexis merupakan salah satu daerah yang miskin di Chile. Kehidupan dia dahulu kala serba susah, apalagi sudah ditinggal ayah sejak kecil.

Alexis pernah bekerja serabutan seperti menjadi pencuci mobil. Kakaknya Humberto pun menceritakan jika Sanchez tidak menjadi pesepakbola, dia hanya akan menjadi pekerja tambang seperti dirinya. Dulu jangankan hidup mewah, sekedar untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja dia tidak mampu.

Bahkan sepatu bola pertama yang dia punya adalah pemberian walikota setempat, setelah ibunya meminta hal itu secara langsung kepada sang walikota Tocopilla. Tetapi pemberian walikota terhadap Sanchez kecil tidak sia-sia. Karena hingga sekarang dia tidak cuma membanggakan kota kelahiran saja namun juga tanah airnya, Chile yaitu dengan sukses dua kali juara Copa America. Sekarang dia menjadi idola publik La Roja dan termasuk salah satu penyerang terbaik dunia.

Banyak pesepakbola yang mempunyai kisah hidup memilukan seperti Bacca dan Sanchez. Seperti Luis Suarez kecil, yang tidak mampu membeli sepatu sepakbola dan bermain bola selalu di jalanan, itulah masa lalu El Pistollero. Ramires mantan pemain Chelsea yang kini bermain di Liga China, bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan akibat kesulitan dari segi ekonomi.

Bahkan pemain terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo, juga tergolong hidup dalam keluarga kurang mampu semasa kecilnya. Para pesepakbola tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa tiada yang tidak mungkin jika ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Syarat yang wajib dipenuhi jika ingin merubah nasib hidup adalah kerja keras tiada henti, tidak lelah untuk menaruh harapan dan berdoa semoga keberuntungan menaungi.

Pahitnya pengalaman hidup membentuk mental para bintang dunia tersebut hingga sekuat sekarang ini. Jika sudah begini, benar adanya seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa andai kita benar-benar berusaha keras maka usaha tersebut tidak akan mengkhianati hasil dikemudian hari.

Foto dari pulse.org

“Kultur Sepakbola” (Part-2, habis)

Bahasa memudahkan bagi mereka orang Afrika dan Amerika Latin ketika berada di Eropa, tetapi apakah pasti dapat membantu? Belum jaminan juga. Bagaimana dengan pemain dari Asia dan Timur Tengah seperti Jepang, Korea atau Timur Tengah? Sama seperti pebola Indonesia, mereka juga kesulitan secara bahasa jika harus berkelana ke Eropa, tetapi kenapa banyak yang sukses disana seperti Park Ji-Sung, Hidetoshi Nakata, atau Mohamed Salah.

Artinya bahasa bukanlah kendala untuk menjadi bintang sepakbola, asalkan pemain tersebut senantiasa belajar dan terus belajar demi karir yang lebih baik, lalu bisa berbahasa Inggris adalah kunci awalnya. Bagaimana kalau iklim, orang Indonesia adalah orang tropis dan tak terbiasa dengan iklim empat musim seperti di Eropa dan itu berdampak besar bagi pesepakbola Indonesia jika berada di Eropa.

Namun lagi-lagi alasan ini terkesan semu, bagaimana dengan orang Afrika dan terlebih Timur Tengah yang biasa hidup dalam nuansa gurun yang begitu panas melebihi Indonesia. Tetapi kenapa banyak pesepakbola Afrika, Timur Tengah yang sukses di Eropa? Lihat juga Brazil yang berhawa tropis seperti Indonesia, namun banyak pesepakbola mereka bersinar di daratan Eropa sana yang berhawa dingin.

Perbedaan bahasa dan iklim tidak berpengaruh, lalu kita bertanya apakah harus ke Eropa dulu, baru pesepakbola Indonesia jadi hebat? Tidak juga, karena Pele yang sangat melegenda itu pun tidak pernah merumput di Eropa.

Namun meski begitu jika kita melihat fakta hari ini dimana sepakbola terkonsentrasi di Eropa sana, maka kini wajar saja apabila ingin menjemput impian sebagai pesepakbola hebat, berkarya lah di benua biru itu.

Lalu apa kunci dari keberhasilan negara lain menjadi hebat dalam bidang sepakbola dengan pemain yang hebat pula, sedangkan Indonesia tertinggal, mungkin kultur sepakbola itulah jawaban dan hal ini yang belum benar-benar hadir di negeri yang katanya kaya akan bakat-bakat pemain bola.

Kultur sepakbola belum benar-benar hadir dana meresap di masyarakat Indonesia meski banyak yang suka dengan sepakbola. Di Indonesia, sepakbola seperti hidup hanya ketika tim nasional sedang berlaga, apalagi jika tim nasional menang maka setiap orang di Indonesia akan merasakan euforia suka cita setinggi-tingginya.

Memang wajar saja, tetapi jika berlebihan juga tidak baik karena harapan yang diberikan terlalu tinggi akan sebanding dengan beban yang juga tinggi. Jadi sebaliknya ketika tim nasional Indonesia kalah, cacian makian pedas yang bahkan terkesan menghina akan dituangakan bertubi-tubi, terlebih di era media sosial seperti sekarang ini.

Saya bingung, yang terjadi di Indonesia ini, kita haus sekali akan prestasi tim nasional yang begitu keringnya atau belum dewasanya kita ini ketika tim nasional merasakan menang dan menderita kekalahan?

Tetapi atmosfer sepakbola di Indonesia kan hidup, lihat saja kan banyak suporter klub sepakbola di negeri ini, oke saya setuju. Dampak positifnya adalah sepakbola “terasa” dimana-mana, tetapi marak pula kebencian dan kerusuhan akibat perselisihan suporter di negeri ini.

Ditambah prestasi klub-klub di negeri ini juga minim jika berlaga di pentas regional, apalagi internasional. Kultur sepakbola di Indonesia belumlah seperti di negara lain, kita terkesan cinta sepakbola namun juga ogah-ogahan dengan sepakbola, paradoks.

Analogi tersaji diatas, sepakbola kita ini “musiman” yang hanya bersemangat ketika ada event tertentu, setelah itu pudar dan sepakbola seakan tenggelam dalam deru waku. Paradigma yang tidak sesuai juga berkembang di Indonesia bahwa cita-cita itu ya harus jadi Polisi, PNS, Tentara atau Dokter, memang sangat mulai bercita-cita seperti itu.

Tetapi dampaknya fundamental, karena pemikiran kita seakan terpatok bahwa “bercita-cita selain ITU, tidak akan menjamin kehidupan kita”. Kalau seperti ini kan kita termasuk close minded, padahal tidak boleh berpikiran takut tidak makan atau tidak terjamin kehidupannya karena sudah ada porsi rejeki dari Tuhan untuk setiap orang di dunia ini.

Akibat salah satunya adalah sepakbola tidak dijadikan sebagai cita-cita karena meski dari kecil suka sepakbola, banyak pertentangan bahwa cari kehidupan dari sepakbola itu gak ngejamin dan yang ngejamin kehidupan itu ya ini atau itu saja.

Pengalaman penulis sendiri, dulu ketika masih di sekolah menengah atas (SMA), banyak teman yang berbakat main sepakbola dan lalu saya beri saran beberapa dari mereka untuk serius dengan sepakbola.

Namun yang muncul adalah resistensi, karena sepakbola tidak menjamin, akhirnya apa mau dikata itu memang pilihan mereka yang juga harus saya hormati. Miris sekali padahal di negeri ini sebetulnya banyak sekali yang menjadikan sepakbola adalah “it’s my life!”.

Terlebih dengan paradigma itu yang tertanam sejak dini, maka kultur sepakbola yang berkembang juga tidak terlalu semarak, sepakbola hanya hiburan semata dan sekedar hobi, itu saja. Walhasil, kultur sepakbola bisa dikatakan masih setengah-setengah di Indonesia ini.

Kultur sepakbola kita belum akan berubah banyak jika paradigma masyarakat kita juga masih sama seperti ini. Kultur tak akan kunjung muncul apabila pemikiran masyarakat itu juga tidak berubah. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita mengenai jalan hidup, terkhusus dalam bidang olahraga seperti sepakbola karena jika tidak, ya sepakbola kita akan gini-gini aja.

Sudah banyak contoh negara yang harum namanya karena sepakbola, minimal meski negara mereka tertinggal, ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan melalui sepakbola salah satu jalannya. Negara seperti Kamerun, atau Pantai Gading yang masuk kategori miskin, ternyata mampu melahirkan bintang-bintang sepakbola ternama.

Selain dikenal melalui pemain hebatnya, tim nasional Pantai Gading dan Kamerun juga mampu berlaga di Piala Dunia. Contoh lebih dalam, Liberia yang pendapatan perkapita pendukuknya hanya dikisaran 935 USD ini sudah tercatat dalam sejarah bahwa George Weah, pemain asal Liberia pernah merengkuh Ballon D’Or 1995. Weah adalah satu-satunya pemain asal Afrika yang pernah peroleh penghargaan ini.

Brazil itu negara berkembang juga seperti Indonesia, tetapi berkat sepakbola nan hebat dari mereka, maka Brazil dikenal seantero dunia, kehebatan itu tentu tidak akan muncul bila tanpa kultur sepakbola kental yang hidup disana.

Dan yang pasti kultur tersebut hadir berkat paradigma atau pandangan yang pas oleh masyarakat Brazil terhadap sepakbola yang selama ini mereka anggap sebagai kebanggan, sekaligus cita-cita dan juga sebuah gairah dalam hidup.

Andai di Indonesia sepakbola dipersepsikan dan dibentuk paradigma seperti di Brazil, mungkin kultur sepakbola seperti di Brazil juga akan ada di Indonesia. Jika saja kultur sepakbola benar-benar hidup di negeri ini, mungkin saja sepakbola kita tidak akan tertatih-tatih seperti kondisi hari ini.

Semoga saja pandangan kita semua akan berubah terhadap sepakbola, sepakbola bukan lagi sekedar hobi dan hiburan saja namun juga menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jika kita sudah begitu, kultur sepakbola yang bisa mendongkrak pesepakbolaan negeri kearah yang lebih baik diharapkan segera muncul, semoga itu terjadi.

“Kultur Sepakbola” (Part-1)

Kemajuan sebuah negara dalam hal ekonomi ternyata berdampak positif dalam banyak sisi kehidupan di sebuah negara tersebut. Dengan mantapnya laju ekonomi, maka masyarakat didalamnya bisa hidup dalam kesejahteraan dan terkecuali dalam hal sepakbola.

Dengan kekuatan ekonomi yang bagus, infrastruktur sepakbola bisa dibangun menyesuaikan kemajuan zaman serta pola pendidikan dan pelatihan yang ditunjang kecanggihan teknologi masa kini. Kita bisa lihat, kemajuan negara-negara Eropa mampu membuat sepakbola yang mereka kembangkan menjadi sepopuler sekarang ini.

Namun Eropa tak beranjak sendirian karena Amerika Serikat dan Cina juga sudah mulai mencoba hal ini, jika Amerika didukung oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi yang oke, maka hasrat Cina untuk memajukan pesepakbolaan dalam negerinya adalah akibat dari pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat kuat belakangan ini.

    Namun jika dilihat dari fakta yang terjadi, ternyata tak menjadi patokan utama bahwa kemajuan negara dalam hal insfrastruktur, teknologi dan ekonomi juga berdampak lurus bagi pesepakbolaannya. Lalu faktor apa yang lebih penting jika kemajuan dari segi infrastruktur, teknologi dan ekonomi belum tentu pula memicu kemajuan sepakbola di negara tersebut?

Seringakali di berbagai media sepakbola, kita disuguhi bacaan mengenai keadaan sepakbola Amerika Latin yang dikatakan bahwa di benua tersebut, sepakbola sudah sangat mendarah daging, menjadi kultur atau budaya masyarakat dan bahkan banyak yang menganggap, disana sepakbola sangat penting dalam hidup, bahkan sudah setara dengan agama.

Ya, jawaban dari itu adalah sebuah kultur, karena meski sebuah negara mempunyai infrastruktur dan teknologi yang maju dibidang sepakbola atau serta punya banyak uang untuk mengembangkan sepakbola, tetapi tanpa kultur sepakbola yang  “hidup” di dalam bangsanya, maka akan sulit membuat sepakbola menjadi kebanggan dan mengharumkan nama bangsa tersebut.

Seringkali kita melihat negara-negara dari benua Afrika tampil memukau di pentas internasional, padahal mayoritas negara Afrika adalah negara berkembang yang tertinggal dari segi ekonomi, apalagi infrastruktur dan teknologinya.

Lantas apa yang membuat banyak pesepakbola hebat dilahirkan dari benua tersebut? Tak lain adalah kultur masyarakatnya terhadap sepakbola.

Sebagai olahraga yang paling digemari dan dimainkan dibelahan dunia manapun, maka tak heran sepakbola bisa ada dimanapun baik itu di pegunungan, kebun, sawah, pantai, jalanan kota, pedesaan, lapangan hingga stadion.

Karena sepakbola adalah olahraga paling “merakyat”, maka banyak masyarakat Afrika yang menggemari ini. Untuk bermain sepakbola, terkadang hanya dengan bola usang yang yang digunakan ramai-ramai dan gawang imajinasi dari sandal atau kayu pun, sepakbola sudah bisa dimainkan.

Kecintaan pada sepakbola membuat masyarakat Afrika senang memainkan si kulit bundar ini dimanapun. Bermain bola sudah menjadi kesenangan orang Afrika apalagi bagi anak-anak disana.

Karena kecintaan pada sepakbola ini maka tidak heran sepakbola sudah menjadi kebiasaan yang ditemui sehari-hari yang juga sudah menjadi kultur atau budaya yang menyatu dalam masyarakatnya.

Menjadi kultur yang hidup dalam masyarakat, sepakbola sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan disana. Sepakbola juga tidak jarang menjadi batu loncatan bagi seseorang untuk mengubah nasib hidupnya kearah yang lebih baik.

Yang terjadi di Amerika Latin lebih dahsyat, kultur sepakbola mereka sangat kental, mirip seperti di Eropa. Sepakbola sudah menjadi menu obrolan sehari-hari bagi Gaucho, sebutan untuk orang yang berasal dari orang Latin.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, bahkan saking gilanya terhadap sepakbola, terkadang agama pun disejajarkan dengan sepakbola. Contohnya saja kita bisa lihat di Argentina, disana ada gereja bernama Iglesia Maradoiana, gereja yang menjadikan Maradona sebagai Tuhan, dan bahkan kabarnya gereja ini sudah punya 200 ribu pengikut.

Sepakbola menjadi prestise bagi orang Latin, menjadi pesepakbola terkenal akan populer seperti selebritis atau politisi. Semua ini karena cinta orang Amerika Latin pada sepakbola itulah yang menjadikan olahraga ini sebagai budaya yang tidak akan lekang oleh waktu.

Barangkali kultur sepakbola yang kuat ini menjadi faktor dan sebab, kenapa sepakbola dari Afrika dan Amerika Latin selalu berkembang kearah yang baik hingga menelurkan pemain-pemain dengan kualitas jempolan.

Pemain terbaik dunia pernah datang dari Afrika, George Weah seorang legenda AC Milan dari Liberia ini pernah menyabet Ballon D’Or, belum lagi deretan pemain yang sukses besar seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, dan Yaya Toure.

Amerika Latin jauh lebih hebat, talenta dari sana bahkan bisa mengungguli talenta-talenta dari kiblat sepakbola seperti Eropa. Mulai dari Pele, Maradona, Rivaldo, Ronaldo Lima, Ronaldinho, hingga Lionel Messi mampu menguasai jagad sepakbola dunia.

Kualitas pemain yang mumpuni berdampak positif bagi tim nasional dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Negara-negara dari kedua benua tersebut mampu berbicara banyak di konstelasi ajang internasional seperti Piala Dunia.

Bisa diatarik kesimpulan, ketika sepakbola menjadi sebuah kecintaan pada masyarakat tertentu maka sepakbola akan menjadi hal penting dalam hidup dan akan ada dimana-mana.

Hal ini tentu membentuk kebiasaan yang pada akhirnya dengan sendirinya membentuk sebuah kultur bahwa “sepakbola adalah bagian penting dari kehidupan”. Meski keadaan ekonomi atau infrastruktur tidak memadai untuk memainkan sepakbola secara “layak”, namun berkat budaya sepakbola yang ada ini maka kekuarangan tersebut seakan hilang dan tidak menjadi faktor penghambat.

Sedikit menoleh ke negara sendiri, Indonesia yang secara ekonomi masih terhitung negara berkembang dan dengan infrastruktur sepakbola yang “ala kadarnya” apakah sudah mempunyai budaya sepakbola seperti di Amerika Latin atau Afrika?

Mungkin bisa dikatakan belum, meski pemandangan anak-anak bersepakbola ria di lapangan, jalanan atau gang-gang rumah masih kita jumpai di negeri ini dan semangat orang Indonesia terhadap sepakbola juga lumayan tinggi, namun kenapa pemain hebat nan potensial kelas dunia tak juga kunjung muncul?

Mari kita kupas lebih dalam. Untuk menjadi pesepakbola hebat, berkarir lah di Eropa, dalam hal ini orang Afrika dan Amerika Selatan diuntungkan. Sebagai negara bekas kolonial dari negara-negara Eropa, maka bahasa yang mereka gunakan, punya banyak kesamaan seperti warga Afrika yang berbahasa Perancis karena mayoritas negara-negara Afrika adalah bekas pendudukan Perancis.

Amerika Latin yang warganya terbiasa berbahasa Spanyol, Portugis dan juga Italia juga sangat terbantu manakala ada pesepakbola dari sana yang akan hijrah ke Eropa, bahkan budaya masyarakat antara Amerika Latin dan Eropa terkhususnya negara Latin Eropa pun banyak kesamaan. (Bersambung..)