Nestapa Messi

Nama lengkapnya adalah Lionel Andres Messi, orang Argentina kelahiran 24 Juni 1987 di Rosario ini disebut-sebut sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Deretan gelar bergengsi pernah dia raih dan lima trofi Ballon D’Or adalah menjadi bukti penegas bahwa Messi adalah pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Benar dan tidak salah memang jika Messi disebut sebagai yang terbaik, namun ternyata kehebatan Messi baru muncul di level klub saja, karena semua gelar juara dan tambahan gelar individu yang ia raih adalah karena permainannya di Barcelona, sementara di level negara prestasi pemain yang dijuluki La Pulga Atomica ini adalah minim untuk Argentina.

Ya, Messi belum pernah mengantar Argentina menjadi juara di turnamen besar antar negara, baik itu Copa America atau Piala Dunia, Messi selalu gagal membantu negaranya menjadi juara. Padahal jika melihat materi pemain, Argentina tidak kering kualitas, lihat saja berjejal world class players disekeliling Messi.

Ada Angel di Maria, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, Javier Mascherano dan masih banyak pemain lagi yang seharusnya menjadikan Argentina, yang juga dikapteni oleh Messi saat ini, setidaknya bisa sekali saja menjadi juara di turnamen besar antar negara.

Namun fakta tidak demikian, semenjak Messi melakukan debut di Piala Dunia 2006 (turnamen besar pertama Messi bersama tim nasional Argentina dan dia berstatus wonder kid saat itu) hingga yang terakhir di gelaran Copa America Centenario 2016, prestasi paling maksimal yang dia sumbangkan ke Argentina hanyalah membawa Argentina menjadi runner-up seperti di Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014.

Messi yang sangat bersinar bersama Barcelona, namun seketika melempem kala bermain di skuat Albiceleste, ada apa dengan Messi di Argentina?

Banyak spekulasi yang bermunculan, pertama adalah perbedaan jauh dari segi kualitas antara skuad Barcelona dan Argentina, memang bisa diasumsikan seperti itu karena kita tahu Barcelona selalu diperkuat pemain-pemain yang masuk kategori terbaik dunia, sedangkan di Argentina kualitasnya tidak merata karena disetiap lini belum tentu ada pemain bintang dunia.

Namun yang menjadi pertanyaan, bukankah seharusnya Messi mampu menjadi pembeda dan penyelamat bagi Argentina?

Maradona sukses bukan karena dia saja yang membawa Argentina ditakuti dalam sepakbola, namun ada bantuan dari rekan hebat lain dalam tim.

Argentina saat ini sebenarnya juga seperti itu, Messi ditemani pemain berkualitas di timnas, dan seharusnya juga di lapangan tidak selalu Messi yang meminta dirinya “dibawa” ke permainan terbaik oleh pemain sekelilingnya.

Tetapi dia juga harus mampu “membawa” pemain-pemain lain untuk mencapai bentuk terbaiknya, sehingga dia mampu meraih apa yang Maradona juga raih dulu.

Kegelisahan terhadap Messi pernah menjadi perbincangan serius di tubuh skuat Argentina pada medio 2007 hingga 2010-an, ketika itu banyak orang yang sangat terkesima dengan Messi di Barelona, namun permainan dia di timnas berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan bersama klub Catalan itu. Beberapa pihak menyebut faktor suplai bola menjadi kendala bagi Messi di timnas Argentina.

Benar, karena di Barca Messi ditemani dua kreator permainan hebat dalam diri Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, belum lagi pola permainan ticqui-taka ala Barcelona yang mengandalkan umpan satu-dua dan penguasaan bola menjadikan Messi sangat nyaman. Hal itu berbeda jauh, karena di Argentina tidak tersedia playmaker jempolan yang selevel Xavi dan Iniesta antara 2007 hingga 2010-an.

Juan Roman Riquelme seharusnya bisa dikedepankan, diapun bahkan sudah menjadi pengatur serangan utama Argentina sejak Piala Dunia 2006 hingga Copa America 2007.

Namun meski gaya mainnya lumayan klop dengan Messi, Riquelme belum bisa menjadi “Xavi” bagi Messi di Argentina, menjelang Piala Dunia 2010 dia tidak dipanggil, selain alasan teknis dia juga punya masalah pribadi dengan Diego Maradona, legenda hidup yang menjadi pelatih tim Tango saat itu.

Juan Sebastian Veron dipilih sebagai pengganti Riquelme, meski sudah uzur dia tetap dipilih karena tiada lagi stok playmaker handal. Veron yang pada 2010 bermain di Estudiantes diharapkan mampu menjadi “Xavi” untuk Argentina, apalagi dia berpengalaman memperkuat sejumlah tim besar seperti Manchester United, Inter, dan Lazio.

Namun hasilnya sama saja, potensi Messi tetap redup di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Faktor gaya permainan juga menjadi problem tambahan, Argentina tidak mampu bermain seperti ticqui-taka ala Barca dan Messi pun redup juga karenanya.

Namun sebagai pemain terbaik dunia, gaya main seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Messi untuk bermain baik, kalau dia memang pantas disebut pemain terbaik dunia, seharusnya dia cocok bermain dengan sistem permainan apapun, tidak harus melulu dengan ticqui-taka.

Mulai sejak saat akhirnya publik tau bahwa permainan Messi belum tentu optimal jika tidak bermain dengan ticqui-taka, hal ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Messi dan Argentina yang menggantungkan asa pada dirinya.

Era berganti dari Riquelme dan Veron, menjadi Angel Di Maria dan Javier Pastore. Beruntung bagi Messi karena dua pemain kreatif ini muncul dan mulai menjadi andalan hampir bersamaan sehingga menambah variasi penyuplai bola yang tidak hanya pada satu orang. Argentina hampir berhasil menjadi jawara Copa America 2011 di kandang sendiri sebelum dikalahkan negara tetangga, Uruguay di semifinal.

Tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut Argentina menjadi finalis di Piala Dunia dan Copa America, meski begitu walau sudah nyetel-nya Messi di timnas, seharusnya minimal sekali saja dia mampu membawa Argentina juara, namun kenyataannya sangat pahit. Selepas laga final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan berujar akan pensiun dari tim nasional Argentina!

Ternyata pemain terbaik dunia pun bisa mengalami frustasi hebat, Messi adalah contohnya. Pernyataan Messi untuk pensiun juga dirumorkan menular ke pemain Argentina lain; Sergio Aguero, Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, dan Gonzalo Higuain dikabarkan mempunyai keinginan yang sama seperti La Pulga.

Hattrick kegagalan menjadi juara dalam tiga turnamen besar terakhir membuat perhatian dunia tertuju pada Lionel Messi, ketidakmampuan membawa Argentina juara di pentas besar internasional adalah salah satu borok yang ada pada diri pemain terbaik dunia empat kali ini.

Kritik juga mulai sering dilayangkan kepada dirinya, dia dinilai hanya bisa bermain dalam skema ticqui-taka dan tidak bisa bermain dengan skema lain, perbandingan saat di Barcelona dan Argentina adalah bukti nyata.

Legenda hidup Argentina yang juga mantan pemain Barcelona, Diego Maradona pun juga mengkritik Messi karena tidak punya personalitas, tidak ada aura kepemimpinan pada dirinya.

Sepertinya segala hal yang sedang terjadi di Argentina justru berujung antiklimaks bagi Messi, disaat usianya menuju akhir keemasan (29 tahun), dia belum sekalipun mempersembahkan gelar juara bagi Argentina di turnamen besar, medali emas Olimpiade 2008 tidak termasuk karena dalam hal ini gema kejuaraan olahraga tersebut jelas tidak sebanding dengan Copa America dan terlebih Piala Dunia.

Messi benar-benar frustasi hingga berkeinginan pensiun dari timnas, hal ini juga menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo pun berpendapat belum saatnya Messi mundur dari Argentina, karena dia masih dibutuhkan oleh Albiceleste.

Malang sekali nasib Messi, disaat dia gagal juara dan frustasi hingga berucap ingin pensiun, Cristiano Ronaldo justru sukses bersama Real Madrid dan Portugal. Juara Liga Champions dan Piala Eropa membuat Ronaldo “semakin sempurna” disebut sebagai yang terbaik di dunia, karena dia sukses bersama klub dan juga tim nasional.

Messi belum mampu melakukan ini meski punya kesempatan besar untuk juara dengan Argentina, sehingga dia belum layak dikatakan “sempurna” karena belum pernah berjaya bersama Argentina di kejuaraan besar.

Apalagi pasca gelaran Copa America  yang lalu, dia dihukum dengan vonis 21 bulan penjara oleh pengadilan Spanyol atas kasus penggelapan pajak yang melibatkan dia dan ayah yang sekaligus agennya, Jorge Messi. Nestapa untuk Messi, begitulah kiranya apa yang dialami oleh pemain terbaik dunia ini.

Foto: dailymotion.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s