Brexit Jilid 2.0

Brexit adalah istilah yang populer di Inggris dan Britania Raya untuk penamaan dari pihak yang ingin agar seluruh Britania Raya dan khususnya Inggris keluar dari Uni Eropa, penamaan ini “Brexit” adalah singkatan dari Britain Exit.

Singkatan ini berdengung di seantero Britania Raya manakala adanya peristiwa politik kenegaraan, yaitu referendum masyarakat Britania Raya untuk menentukan apakah Britania Raya tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar pada tanggal 23 Juni 2016 ini.

Hasilnya kita ketahui bersama, Brexit menang dan mengharuskan Britania Raya menyudahi hubungannya dan resmi keluar dari Uni Eropa. Mengejutkan sekali hasil yang didapat dalam referendum ini, dan menurut berbagai analisis dari pengamat politik internasional, Brexit bisa menimbulkan efek domino bagi negara-negara lain yang tergabung di Uni Eropa.

Namun tidak hanya sampai disitu, diluar urusan politik pun Britania Raya juga sedang dikejutkan dengan “Brexit Jilid 2” yang tak lain aktornya adalah tim nasional sepakbola Inggris.

Inggris sebagai pemimpin Britania Raya adalah negara paling dominan dalam persemakmuran Britania Raya, begitu juga dalam hal sepakbola Inggris sudah lama dikenal sebagai yang terbaik diantara negara-negara lain di Britania Raya.

Namun peristiwa tak menyenangkan terjadi dan kali ini ketika sepakbola Inggris sedang berjuang di Euro 2016 di Perancis. Mereka untuk kedua kalinya “keluar” dari Eropa, ya mereka  gugur di fase 16 besar dan gagal mencapai target awal yakni menjadi juara Euro. Mereka terdepak setelah secara mengejutkan dikalahkan oleh tim non-unggulan, Islandia dengan skor 1-2.

Padahal materi pemain antara Inggris vs Islandia jelas seperti langit dan bumi, Inggris diperkuat oleh pemain-pemain kelas atas di Premier League sedangkan Islandia hanya diperkuat oleh pemain biasa saja. Tersingkirnya Inggris dari Euro 2016 memunculkan kredo baru “Brexit Jilid 2” bagi kalangan pemerhati sepakbola diseluruh dunia, karena untuk kedua kalinya Inggris keluar dari zona Eropa (dalam hal ini adalah turnamen sepakbola antar negara se-Eropa atau Euro).

Pasti kekalahan ini membuat seluruh warga Inggris kecewa berat, apalagi tim nasional negara tetangga yang berada dibawah persemakmuran Britania, Wales berhasil melaju hingga perempat final dan sudah pasti hal ini membuat luka hati orang Inggris semakin dalam ketika persaingan antar dua tim ini sedang panas-panasnya namun justru harus melihat Inggris tersingkir dan Wales lebih hebat dari mereka.

Hasil ini semakin menegaskan bahwa sepakbola Inggris hanya bagus di level klub saja, prestasi tim nasional-nya kita tahu sendiri hanya pernah sekali juara turnamen besar, Piala Dunia 1966 dan itupun diselenggarakan di negara mereka sendiri.

Sebenarnya ada apa dengan Inggris? Padahal dari segi materi pemain mereka salah satu yang terbaik di dunia tetapi mengapa hasilnya selalu saja sama; mengecewakan. Kompetisi sepakbola mereka adalah yang terbaik di dunia, English Premier League menjadi pusat perhatian dunia dengan keberadaan pemain-pemain hebat-nya, tetapi mengapa prestasi tim nasional Inggris selalu saja begini? Jangankan menjuarai turnamen besar, lolos semifinal saja sepertinya sulit sekali mereka capai.

Banyak pengamat sepakbola mengatakan, problem tim nasional Inggris ada banyak, yang pertama adalah kurangnya pelatih berkualitas asli Inggris, karena kebanyakan tim di Liga Inggris juga menggunakan jasa pelatih asing.

Kedua karena banyaknya pemain asing di Liga sehingga menghambat perkembangan pemain muda lokal, memang sudah menjadi fakta sangat banyak sekali pemain asing di Liga Inggris.

Ketiga,ekspektasi yang sangat tinggi untuk selalu berprestasi di turnamen besar, memang demikian mengingat mereka bermaterikan pemain-pemain bintang, banyak yang berekspektasi seperti itu yang justru menjadi beban berat tersendiri tim nasional Inggris untuk menyuguhkan yang terbaik di panggung internasional.

Terakhir yang keempat adalah sentimen antar klub di Inggris yang berakibat pada ketidakkompakan pemain-pemainnya saat bermain bersama di tim nasional.

Dari segi pelatih memang sangat kurang, untuk mencari pelatih asli Inggris yang punya kualitas apalagi masih muda sangatlah sulit. Pengganti Roy Hodgson yang mundur pasca kalah dari Islandia pun sepertinya sudah tua, Alan Pardew.

Namun pengalaman melatihnya sangat minim berada di tim besar, mungkin akan lebih baik Harry Redknapp saja yang menjadi pengganti Hodgson meski juga sama tua dan berpengalaman, namun dia pernah berada di tim besar seperti Tottenham dan membawa mereka mentas di Liga Champions.

Kurangnya pelatih berkualitas sebenarnya pernah disiasati FA dengan mengontrak pelatih asing hebat seperti Sven-Goran Eriksson (Swedia) dan Fabio Capello (Italia), namun hasilnya sama saja.

Kalau melihat pemain asing sebagai faktor penghalang kemunculan pemain lokal berkualitas yang membuat tim nasional sulit berprestasi juga kurang tepat, FA telah mengakali banyaknya pemain asing dengan peraturan home-grown players yang membuat pemain lokal tetap punya tempat di Liga Inggris.

Ekspektasi yang besar sudah pasti menjadi beban bagi Inggris, namun tidak hanya Inggris saja yang punya beban itu. Negara lain yang punya tradisi hebat dalam sepakbola juga punya ekspektasi yang tidak kalah besarnya seperti; tim nasional Spanyol, Italia, Brasil, Jerman atau Argentina juga merasakan hal yang sama dengan Inggris ketika bermain di turnamen besar internasional, mereka dibebani untuk memperoleh prestasi setinggi-tingginya.

Faktor terakhir adalah sentimen antar klub, hal ini terjadi karena atmosfer sepakbola Inggris yang begitu bergelora. Hampir setiap kota meski itu adalah kota kecil pasti mempunyai klub sepakbola dan bahkan kadang lebih dari satu.

Atmosfer sepakbola disana begitu besar, no football no party, seluruh wilayah mempunyai tim andalan masing-masing dan tak heran ini membuat animo rakyat Inggris terhadap sepakbola begitu besar, namun dari sini muncul masalah yang berdampak besar skuad The Three Lions.

Orang Inggris fanatik terhadap sepakbola dan otomatis terhadap masing-masing klub kesukaannya, selain kepada tim nasional juga dan hal ini rupanya juga terjadi pada pemain-pemain di klub-klub tersebut, fanatisme mereka kepada klub sangat kuat.

Dengan atmosfer dan animo sepakbola yang tinggi membuat fanatisme terhadap klub tumbuh tidak hanya di lingkungan suporter saja tetapi juga merembet ke pemain dan memunculkan sentimen antar klub.

Maka tak heran di di Liga Inggris sering terjadi psy-war antar pemain, dan friksi di lapangan juga sering terjadi, biasanya hal ini muncul ketika pertandingan derbi satu kota atau antar klub yang mempunyai tradisi kuat dan saling bermusuhan.

Mantan pemain Manchester United dan tim nasional Inggris, Paul Scholes membenarkan bahwa ketidakmampuan Inggris berprestasi di level tim intenasional adalah salah satunya karena sentimen antar klub yang begitu kuat diantara pemain-pemain di tim nasional Inggris.

Dia menggambarkan seperti ini “ketika berada di tim nasional pasti semua pemain yang tergabung akan bekerja sama satu sama lain, namun sejatinya dalam hati tidak mungkin seorang Manchester mau bekerja sama dengan Scouse (Liverpool), begitu juga sebaliknya.

Hal ini juga berlaku bagi pemain-pemain lain dalam tim”. Terbongkar sudah rahasia kenapa Inggris selalu kandas dalam turnamen besar, tidak ada rasa persatuan antar pemain!.

Sentimen tersebut menjadi masalah akut bagi Inggris, mengingat pemain-pemain andalan mereka pasti mayoritas berada di klub besar yang sudah tentu saling menjadi rival. Jika sudah begini bagaimana solusinya? Mungkin kali ini, Inggris sebagai si “penemu sepakbola” harus belajar hal terkait sepakbola dari tempat lain untuk meredakan sentimentalitas antar pemain Inggris.

Mereka bisa belajar dari Spanyol, dulu disana Iker Casillas sebagai kapten tim nasional berani mengambil sikap untuk menjalin hubungan dekat dengan Carles Puyol dan Xavi Hernandez. Casillas melakukan itu guna meredakan sentimen el clasiso dan tidak membawa semua hal tentang itu ketika berada di tim nasional.

Hasilnya kita tahu, 2 gelar Piala Eropa dan satu Piala Dunia diraih Spanyol dalam rentang waktu 2008 hingga 2012. Sama seperti Inggris, pemain Spanyol juga sangat berkualitas namun tanpa adanya kompromi seperti itu rasanya sulit bagi mereka mampu meraih Piala Eropa dan Piala Dunia, karena sentimen antar pemain Spanyol juga sangat tinggi mengingat mayoritas diperkuat pemain Madrid dan Barcelona.

Melihat Inggris saat ini apakah mereka bisa mencontoh Spanyol? Sebenarnya bisa, apalagi Rooney sebagai kapten juga orang yang inklusif (bahkan dia berteman baik dengan Joe Hart, kiper City) dan terkesan mengesampingkan kepentingan klub demi tim nasional.

Namun kedepannya masih perlu pendekatan yang komprehensif dari sang skipper untuk menyatukan seluruh elemen dalam tim nasional Inggris, apalagi saat ini bukan hanya United dan City saja yang menyumbangkan pemain ke tim nasional, ada pula pemain dari Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham.

Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati dari orang yang berpengaruh di ruang ganti (kapten) untuk menurunkan ego dan sentimen klub yang dibawa dan berusaha merangkul untuk dekat semua yang ada didalam tim.

Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan Casillas juga harus ditiru Rooney atau kapten Inggris dimasa depan, karena ini lah salah satu cara jitu untuk menyatukan tim nasional; menjalin kedekatan dengan seluruh pemain meski mereka adalah rival di level klub.

Jika dalam hati sudah mau bersatu di tim nasional (meski saling bermusuhan di level klub), semua akan lebih mudah bagi Inggris, inilah cara yang harus dicoba ditengah kondisi atmosfer dan animo tinggi yang memang berujung pada sentimen antar klub. Segera mencoba Inggris, semoga beruntung di turnamen selanjutnya.

dailymail1-2 Iceland

Foto dari dailymail.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s