Tamparan untuk Brasil!

Maksud judul diatas bukanlah tamparan dalam arti sebenarnya atau perlakuan fisik seperti tamparan pada umumnya. Yang dimaksud penulis dengan “Tamparan untuk Brasil!” adalah wujud dari rasa kegelisahan, kekhawatiran dan sedikit emosi yang bercampur menjadi satu ketika melihat wajah persepakbolaan Brasil saat ini.

Tersingkirnya Brasil dari Copa America Centenario 2016 ini dengan tidak mampu lolos dari fase grup adalah titik kulminasi mengapa Brasil menjadi bahan untuk diulas kali ini. Brasil sekarang dalam kondisi krisis, Brasil sekarang bukanlah seperti yang dulu lagi.

Jika dulu dalam dunia sepakbola kita mengatakan “Brasil”, maka yang muncul dalam pikiran adalah nama besar para bintang, keindahan permainan, atau skill menawan pemainnya.

Melihat permainan Brasil ibarat seperti melihat orang sedang menari Samba di lapangan, tarian penuh keceriaan namun berwujud teknik olah bola indah di lapangan, wahhh pasti sangat enak ditonton.

Tetapi itu hanyalah masa lalu, sekarang Brasil tidak seperti itu lagi, keindahan permainan, skill hebat dan bahkan nama besar pemain bintang perlahan mulai hilang dari image Brasil saat ini, ada apa dengan negeri sepakbola ini? Mengapa ini bisa terjadi di negeri yang bahkan sepakbola disana dipuja-puja hampir seperti sebuah agama?

Memudarnya kehebatan sepakbola Brasil sangat terasa semenjak akhir tahun 2010-an, banyak faktor yang berpengaruh pada penurunan kualitas sepakbola Brasil dan tim nasional mereka pada khususnya.

Faktor pertama adalah mengenai ide permainan, Brasil dikenal karena filosofi Jogo Bonito atau yang berarti keindahan permainan, kegembiraan, kebebasan dan skill pemain.

Pola bermain ini sangat pas diterapkan, karena perlu kita ketahui pemain-pemain Brasil biasanya mempunyai teknik bagus dalam bermain bola, entah apapun posisi mereka, mulai dari penyerang, pemain tengah dan bahkan kiper sekalipun, jika dia itu adalah pemain yang berasal dari Brasil, pasti mempunyai kelebihan teknik tersendiri.

Deretan pemain depan dari berbagai generasi seperti Pele, Romario, Ronaldo, Rivaldo, dan saat ini Neymar; lalu gelandang hebat seperti Zico, Kaka, Ronaldinho; bek seperti Lucio, Cafu, Dani Alves, Marcelo, David Luiz; kiper seperti Taffarel, Dida, Julio Cesar hingga Rogerio Ceni yang jago tendangan bebas pun ada, betapa hebatnya pemain-pemain Brasil tersebut.

Juara Dunia lima kali (yang terbanyak di dunia) dan 8 juara Copa America direngkuh atas nama Brasil, betapa hebatnya sepakbola negeri yang terkenal dengan tari Samba-nya ini.

Dengan pemain-pemain hebat seperti itu wajar apabila Jogo Bonito dipilih menjadi gaya permainan Brasil, apalagi gaya permainan yang enak ditonton tersebut sesuai dengan kepribadian orang Brasil yang hangat, periang dan sangat bergairah terhadap sepakbola, sangat klop antara filososi permainan dan mentalitas kepribadian khas orang Brasil.

Suatu ketika, tim nasional Brasil datang ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman dengan status juara bertahan karena mereka yang juara di edisi sebelumnya pada 2002 di Korea-Jepang. Brasil 2006 diperkuat oleh pemain yang saat itu sedang hebat-hebatnya, mulai dari Ronaldo Lima, Adriano, Ronaldinho, Kaka, dan Robinho sehingga wajar mereka menjadi favorit utama untuk juara.

Dengan Jogo Bonito dan dilatih oleh pelatih kawakan, Carlos Albeto Parreira, mereka menatap turnamen terbesar dalam sepakbola tersebut dengan optimis, tetapi akhirnya apa daya mereka justru kalah dari Perancis di perempat final. Mereka kalah oleh gaya main Perancis yang tidak hanya mengandalkan skill pemain, tetapi juga kedisiplinan dalam bermain, seperti tim Eropa pada umumnya. Kontras dengan Brasil yang menyuguhkan kebebasan dalam permainan.

         Menyadari “kebebasan telah kalah dengan kedisplinan”, untuk menghadapi Copa America 2007 di Venezuela, Brasil menunjuk Carlos Dunga sebagai pelatih. Orang ini berbeda dari Carlos Parreira atau Scolari dalam hal gaya permainan, Dunga menyukai sepakbola disiplin ala Eropa, sepertinya CBF atau PSSI-nya Brasil menyadari betul bahwa sudah saatnya Brasil berevolusi dan mengikuti perkembangan sepakbola dunia.

Dunga akhirnya sukses dengan membawa Brasil juaramelalui permainan disiplin seperti gaya Eropa pada Copa America 2007, dan bahkan Brasil tidak segan bermain sangat hati-hati karena sering menggunakan serangan balik sebagai strategi utama, Brasil era Dunga terasa “sangat Eropa”.

Namun pemikiran ini justru berbuah menjadi blunder fatal bagi pesepakbolaan Brasil dan prestasi tim nasional mereka pada khusunya. Karena mereka melupakan jati diri mereka sendiri (Jogo Bonito, bermain dengan gairah, semangat, dan kebebasan) dan justru meniru gaya Eropa.

Hasilnya kita ketahui hingga gelaran Copa America terbaru ini mereka hanya mampu meraih tiga gelar, selain Copa America 2007, hanyalah Piala Konfederasi 2009 dan 2013. Dua piala ini tidak terlalu istimewa karena cuma merupakan test tournament sebelum Piala Dunia tahun berikutnya.

Selama dilatih Dunga dengan gaya Eropa-nya, permainan Brasil tidak enak dilihat dan monoton, padahal di Brazil pemain berteknik tinggi berjejal, namun itu disia-siakan Dunga. Contohnya jelas sekali dalam pemilihan pemain, pada Copa America 2007 dia meninggalkan Adriano, Ronaldinho, Ronaldo Lima dan bahkan Kaka.

Meski mampu menjadi juara dengan pemain medioker macam Vagner Love, Fred atau Elano, Dunga tetap mendapat kritik karena pemilihan pemain tersebut apalagi ditambah permainan Brasil yang statis. Pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, turnamen besar kedua Dunga pasca Copa America, lagi-lagi diapun membuat keputusan tidak populer dengan mengesampingkan duo pemain muda terbaik Brasil, Alexandre Pato dan Neymar.

Mengandalkan Luis Fabiano sebagai penyerang utama jelas tidaklah cukup, pemain yang saat itu bermain di Sevilla itu bukanlah bomber kelas atas dunia. Dengan permainan disiplin kaku dan serangan balik, Brasil pun tersingkir setelah kalah 1-2 dari Belanda di perempat final, palu pemecatan pun dilayangkan ke Dunga pasca kekalahan tersebut.

Setelah dalam rentang 2010-2014 permainan Brasil mulai terlihat kembali ke Jogo Bonito (era Mano Menezes dan Luis Scolari), Dunga datang lagi karena ketidakpuasan CBF akan jati diri sepakbola Brasil sendiri dan berusaha lagi dengan gaya Eropa yang dibawa Dunga.

Hasilnya justru semakin parah, selain keengganan Dunga memakai pemain bintang, pemain medioker yang dia bawa pun terbukti tidak pantas berada di tim utama Selecao. Nama-nama semacam Diego Tardelli, Everton Ribeiro, Elias, ataupun Jefferson pada Copa America 2015 dan Gabriel Barbosa, Lucas Lima, Alisson di Copa America 2016 tidak teruji di level atas dan wajar apabila Brasil gagal total di turnamen besar seperti Copa America.

Parahnya gaya disiplin ala Eropa dalam bermain sepertinya tidak hanya berjangkit di level tim nasional dan telah “menular” di Brasil, saat ini pun banyak klub lokal berusaha sekuat tenaga untuk membuat para pemainnya bermain dengan tingkat kedisiplinan seperti apa yang diterapkan di Eropa, disamping untuk memenuhi kriteria pemain yang akan dibeli oleh calon pembeli potensial yaitu klub Eropa itu sendiri.

Memang kedisiplinan bagus, karena mampu menjaga kesetabilan permainan akan tetapi hal ini justru malah mereduksi kebebasan pemain-pemain Brasil dalam berfantasi dengan tekniknya ketika sedang bermain.

Hal ini jelas mengurangi kekhasan pemain Brasil, yaitu teknik alami karena kebebasan dalam bermain yang selama ini melekat pada diri pemain-pemain dari Brasil jika klub disana secara terus-terusan menerapkan gaya Eropa dalam pembentukan gaya main para pemainnya.

Penurunan kualitas ini juga dipengaruhi oleh faktor dari diri pemain Brasil itu sendiri, banyak pemain Brasil jaman sekarang bermain hanya untuk mengejar uang saja, prestasi dan gelar juara bergengsi mulai dilupakan oleh mereka.

Sekarang tidak asing lagi kita temui pemain Brasil yang bahkan berlevel tim nasional utama bermain di liga kelas medioker seperti China ataupun Timur Tengah, mungkin ekonomi adalah alasan utama mereka namun sebenarnya hal ini bisa menurunkan kualitas tim nasional Brasil tersebut.

         Bayangkan saja untuk bersaing di turnamen sekelas Copa America, pemain yang dipanggil adalah pemain yang bermain di China dan Timur Tengah seperti Diego Tardelli dan Everton Ribeiro? Sudah tentu Brasil gagal total!.

Jangankan untuk bersaing dengan Argentina yang diperkuat Messi, Aguero, Higuain, dan Di Maria, Uruguay yang ditopang Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Godin atau Chile dengan Alexis Sanchez dan Vidal-nya yang menjadi andalan klub-klub besar Eropa yang sudah pasti bersaing di level tertinggi sepakbola.

Bersaing dengan tim seperti Paraguay atau Mexico saja belum tentu mampu jika pemain yang diandalkan adalah pemain medioker tersebut yang hanya beredar di kompetisi rendah seperti China dan Timur Tengah.

Jurang kualitas dan mentalitas yang terlalu jauh antara pemain tim nasional Brasil (sebagian tidak bermain di kompetisi level tertinggi) dengan pemain negara lain yang bertebaran sebagai andalan di berbagai klub besar dunia tentu berpengaruh dalam hasil yang dicapai di tim nasional, dan sudah terbukti saat ini.

Brasil pun saat ini kering pemain bertalenta hebat yang mampu dijadikan andalan, setelah kemunculan Neymar mungkin tidak ada lagi pemain yang benar-benar bisa dikategorikan dan berpotensi untuk menjadi pemain world class.

Meski banyak pemain muda Brasil yang punya “potensi” seperti Neymar, namun sepertinya hal itu akan susah digapai karena tren pemain Brasil saat ini yang justru lebih mengincar uang daripada bermain di klub besar dan merasakan persaingan tertinggi di level klub.

Apalagi di Amerika Selatan, klub-klub Brasil juga dikenal paling gemar membeli pemain dari negara lain seperti Argentina, Uruguay, Chile, Colombia dan negara Latin lain. Sehingga kesempatan pemain muda Brasil pun perlahan bisa berkurang untuk bermain di negeri sendiri, Neymar baru pun sudah pasti akan semakin susah ditemukan dimasa yang akan datang jika kondisi sepakbola Brasil seperti ini terus tanpa ada perubahan.

Saatnya Brasil berbenah, hasil di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Copa America 2011, 2015 dan 2016 hendaknya menjadi “tamparan” keras kepada seluruh elemen di pesepakbolaan Brasil bahwa dengan menghilangkan ciri khas mereka sendiri justru malah menghasilkan malapetaka untuk diri mereka sendiri.

Ingat, tim seperti Barcelona atau tim nasional Spanyol tetap mampu berprestasi karena satu hal; “percaya dan tetap pada ciri khas permainan sendiri entah apapun yang tejadi, tiki-taka”.

golazo dailymail.co.uk
Brasil amburadul di Copa America Centenario 2016.

Pele pun berpendapat sembari dengan perasaan yang iba, kesal dan kecewa ketika ditanya bahwa sepakbola Brasil sedang mengalami krisis identitas.

Sang legenda pun menyerukan perubahan besar dan ingin agar Brasil kembali ke Jogo Bonito karena tidak tega melihat kondisi sepakbola Brasil yang tengah terpuruk beberapa tahun ini, padahal semua orang di dunia tahu Brasil adalah negaranya sepakbola yang telah melegenda dari generasi ke generasi.

Berbenahlah Brasil, sampai kapan kamu begini? Apakah kamu harus menunggu tragedi Maracanazo atau Mineirazo terulang lagi untuk menyadarkanmu??

Foto: Dailymail.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s