Dilly-Ding Dilly-Dong!, Kunci Leicester City Juara : Passion Bermain

Seringkali kita mengatakan bahwa kualitas pemain dan nama besar menentukan prestasi sebuah klub, memang benar adanya beberapa klub dengan pemain berkualitas membuktikannya.

Kita dapat melihat contoh pada Barcelona, Madrid, Bayern, Chelsea ataupun Juventus dan klub besar lain yang mampu bersaing dalam percaturan sepakbola Eropa. Gelar juara dan menapaki tingkat tinggi dalam sebuah kompetisi bergengsi menjadi hal yang lumrah bagi klub-klub besar dan ditambah dengan dukungan keuangan yang besar pula hal tersebut dapat dipertahankan bahkan untuk bertahun-tahun.

Tetapi sebenarnya tidak hanya; kualitas pemain, nama besar klub dan uang saja yang membuat mereka mampu mencapkan dominasi terhadap klub-klub lain, ternyata diluar faktor tersebut ada satu hal yang mampu membuat dominasi mereka awet yaitu “gairah” atau passion bermain.

Gairah dalam bermain sepakbola sangatlah penting dalam menjaga hasrat pemain-pemain yang bisa menjaga performa dan tetap selalu berusaha untuk bersaing dalam perburuan gelar juara.

Ya, gairah bermain sepakbola sangat fundamental bagi kestabilan tim meraih kemenangan demi kemenangan setiap pertandingan yang dapat berujung raihan gelar juara.

Gairah begitu penting, analoginya adalah ketika sebuah klub memperoleh gelar juara yang ditargetkan, mereka bisa mengalami rasa puas terhadap pencapaian, sehingga di musim-musim selanjutnya gairah dalam bermain tersebut akan mampu menjaga “rasa lapar” untuk selalu meraih prestasi demi prestasi.

Setiap tim memiliki target masing-masing entah dengan status juara bertahan, pengejar titel juara ataupun tim dengan tujuan lain, pasti mereka akan berusaha sekuat tenaga demi mencapai target-target tersebut.

Gairah untuk mencapai target-target tersebut haruslah selalu ada, karena logikanya bagaimana mungkin sebuah klub akan terus berjuang demi target mereka, jika mereka sendiri tidak punya gairah untuk mewujudkan target tersebut?

Disini jelas bahwa gairah bermain sepakbola tersebut akan menjaga “api” semangat dalam jiwa pemain  untuk tetap berjuang tanpa lelah dalam arena pertarungan di lapangan demi menggapai target yang diinginkan.

Kenyataan tersebut menjadi fenomena di berbagai liga musim ini, gairah bermain yang sebenarnya adalah faktor non-teknis malah menjadi pembeda dalam perjalan berbagai klub musim ini.

Yang paling menjadi sorotan adalah Liga Inggris 2015-2016 ini, beberapa tim mengalami periode yang tidak biasa dan ada tim “asing” yang tidak hanya sekedar bersaing memperebutkan tiket Eropa, namun dengan luar biasanya justru menjadi kandidat juara.

Tim yang dimaksud adalah Leicester City dan Tottenham Hotspur, ketika nama besar seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal dan bahkan juara bertahan Chelsea mengalami musim yang dikatakan buruk, The Foxes dan Lily Whites mengambil kesempatan untuk menguasai peta persaingan menjadi nomor satu di Inggris.

Padahal jika dilihat dari kualitas pemain, dua tim ini bukanlah “tempatnya” berada di papan atas apalagi untuk Leicester, kualitas pemain mereka dibawah rata-rata mengingat mereka musim lalu adalah kandidat degradasi, namun sangat mengejutkan ketika mereka menjadi kandidat juara musim yang baru saja berakhir ini.

Kalau yang berada di puncak adalah Tottenham mungkin banyak yang menganggap “sedikit wajar”, ketika tim-tim besar berada dalam situasi paceklik dan dengan kualitas yang terhitung tidak beda jauh dengan tim besar, membuat Tottenham mampu berbuat banyak dengan pemain-pemain berkualitas seperti Harry Kane, Bamidele Alli, Christian Eriksen, Jan Vertonghen, dan Hugo Lloris.

Namun yang berada di puncak bukanlah mereka tetapi justru tim yang kualitasnya berada jauh dibawah mereka, Leicester City, yang sebenarnya kualitas tim ini tidak lebih baik dari tim-tim pejuang jeratan degradasi macam Newcastle atau Aston Villa.

Tetapi dengan berbagai hasil yang diraih selama ini menunjukkan bahwa kualitas pemain bukanlah faktor utama yang menjadikan Leicester City seperti ini, dan hal tersebut adalah gairah atau passion yang besar dalam bermain sepakbola yang dimiliki pemain-pemain yang dimanejeri oleh pelatih kaya pengalaman asal Italia, Claudio Ranieri.

Ranieri yang datang di awal musim setelah pemecatan Nigel Pearson akibat kasus anaknya (James Pearson) berhasil menyuntikkan keceriaan dan semangat bermain bagi tim. Sehingga gairah bermain serdadu Leicester selalu berapi-api disetiap game musim ini, lihat saja permainan Riyadh Mahrez dan rekan di lapangan, meski dari segi teknis mereka kalah namun dengan gairah tersebut semangat mereka tak pernah padam untuk selalu berjuang di lapangan.

Apalagi sitem permainan ramuan The Tinkerman tidaklah muluk-muluk, permainan simpel dengan serangan balik khas Italia dipadu dengan  power and speed ala Inggris membuat Leicester sering menyulitkan tim manapun, entah itu tim besar ataupun kecil mereka bisa dikalahkan.

Ranieri juga menekankan kolektifitas permainan entah siapapun yang diturunkan di lapangan, sehingga berdasar pada skema yang simpel dan kekompakkan bisa membuat kualitas pemain yang biasa akan tertutupi dengan permainan kolektif tim.

Selain itu gairah mereka dalam bermain sepakbola sangatlah tinggi, terbukti banyak hasil bagus pertandingan musim ini yang diraih ketika waktu hampir habis, selain itu mereka juga beberapa kali melakukan comeback untuk mengamankan hasil atau juga mencuri kemenangan.

Tanpa gairah yang tinggi disetiap jiwa pemain Leicester, tentu kemengan dengan late goal maupun membalikkan keadaan akan sulit direalisasikan apalagi jika melawan tim besar yang secara kualitas berbeda jauh dari Leicester.

Gairah tinggi itulah faktor kunci yang mampu menjadikan Leicester melambung kali ini, mereka memanfaatkan momen disaat klub lain seperti Chelsea atau MU sedang lesu dan seperti “kehilangan” gairah bermain bola sehingga tercecer papan tengah klasemen.

Gairah, semangat, kolektifitas dan keriangan bermain bola itulah yang juga membuat Leicester bermain lepas dan tanpa beban disetiap pertandingan, tidak ada target tinggi yang dicapai. Ketika mulai sering berada level atas, Ranieri berujar target timnya hanya 40 poin (aman dari degradasi), ketika Premier League sudah berlangsung lebih dari 20 pekan lebih, dia tetap mengatakan targetnya hanya untuk berada di papan tengah.

Baru setelah menyentuh 30an laga, Ranieri mengatakan suporter Leicester dipersilakan untuk bermimpi lebih jauh dan dalam meski disatu sisi dia tetap mengatakan, Tottenham adalah favorit juara.

Apa yang dikatakan Ranieri dengan tetap merendah meski sedang berada di puncak performa hanyalah bertujuan untuk melepaskan beban disetiap pundak pemain dan tetap memposisikan Leicester sebagai underdog.

Menjaga aura dan pesona underdog memang harus dilakukan Ranieri demi menjauhkan tim dari ekspektasi berlebih yang justru mampu melimpahkan beban dan ekspektasi itu kepada tim-tim dibawah mereka.

Keberadaan Leicester sebagai nomor satu di klasemen hingga musim ini berakhir pasti membuat seluruh penikmat Liga Inggris khususnya dan sepakbola pada umumnya tak bisa mengalihkan pandangan dari hal tersebut.

Yang juara musim ini adalah Leicester, mungkin keberhasilan itu akan membuat seluruh Britania dan “dunia” ikut bahagia, bagaimana mungkin tim yang miskin, pemain yang standar dan reputasi klub yang tidak bersinar sama sekali dan musim kemarin “hampir terdegradasi” justru menjadi juara musim ini?

Ya, sesuai dengan julukan Si Rubah (The Foxes), mengejutkan adalah karakter hewan tersebut yang kini bertransformasi dalam wujud Leicester City, dengan passion yang sangat bergelora mereka terus membuat kejutan demi kejutan. Dan kini hasilnya kita semua tahu bahwa Leicester kampiun Inggris!!!

Tentu merupakan hal yang sangat menarik melihat kapten Wes Morgan (yang baru merasakan Premier League musim lalu) mengangkat trofi Liga dan melihat Mahrez, Vardy, Kante, Drinkwater, dan Schmeichel bertarung di Liga Champions untuk musim depan dengan status  sebagai “JUARA” dari Inggris. Dilly-Ding Dilly-Dong, Come on the Foxes!!

Foto dari theguardian.couk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s