Brexit Jilid 2.0

Brexit adalah istilah yang populer di Inggris dan Britania Raya untuk penamaan dari pihak yang ingin agar seluruh Britania Raya dan khususnya Inggris keluar dari Uni Eropa, penamaan ini “Brexit” adalah singkatan dari Britain Exit.

Singkatan ini berdengung di seantero Britania Raya manakala adanya peristiwa politik kenegaraan, yaitu referendum masyarakat Britania Raya untuk menentukan apakah Britania Raya tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar pada tanggal 23 Juni 2016 ini.

Hasilnya kita ketahui bersama, Brexit menang dan mengharuskan Britania Raya menyudahi hubungannya dan resmi keluar dari Uni Eropa. Mengejutkan sekali hasil yang didapat dalam referendum ini, dan menurut berbagai analisis dari pengamat politik internasional, Brexit bisa menimbulkan efek domino bagi negara-negara lain yang tergabung di Uni Eropa.

Namun tidak hanya sampai disitu, diluar urusan politik pun Britania Raya juga sedang dikejutkan dengan “Brexit Jilid 2” yang tak lain aktornya adalah tim nasional sepakbola Inggris.

Inggris sebagai pemimpin Britania Raya adalah negara paling dominan dalam persemakmuran Britania Raya, begitu juga dalam hal sepakbola Inggris sudah lama dikenal sebagai yang terbaik diantara negara-negara lain di Britania Raya.

Namun peristiwa tak menyenangkan terjadi dan kali ini ketika sepakbola Inggris sedang berjuang di Euro 2016 di Perancis. Mereka untuk kedua kalinya “keluar” dari Eropa, ya mereka  gugur di fase 16 besar dan gagal mencapai target awal yakni menjadi juara Euro. Mereka terdepak setelah secara mengejutkan dikalahkan oleh tim non-unggulan, Islandia dengan skor 1-2.

Padahal materi pemain antara Inggris vs Islandia jelas seperti langit dan bumi, Inggris diperkuat oleh pemain-pemain kelas atas di Premier League sedangkan Islandia hanya diperkuat oleh pemain biasa saja. Tersingkirnya Inggris dari Euro 2016 memunculkan kredo baru “Brexit Jilid 2” bagi kalangan pemerhati sepakbola diseluruh dunia, karena untuk kedua kalinya Inggris keluar dari zona Eropa (dalam hal ini adalah turnamen sepakbola antar negara se-Eropa atau Euro).

Pasti kekalahan ini membuat seluruh warga Inggris kecewa berat, apalagi tim nasional negara tetangga yang berada dibawah persemakmuran Britania, Wales berhasil melaju hingga perempat final dan sudah pasti hal ini membuat luka hati orang Inggris semakin dalam ketika persaingan antar dua tim ini sedang panas-panasnya namun justru harus melihat Inggris tersingkir dan Wales lebih hebat dari mereka.

Hasil ini semakin menegaskan bahwa sepakbola Inggris hanya bagus di level klub saja, prestasi tim nasional-nya kita tahu sendiri hanya pernah sekali juara turnamen besar, Piala Dunia 1966 dan itupun diselenggarakan di negara mereka sendiri.

Sebenarnya ada apa dengan Inggris? Padahal dari segi materi pemain mereka salah satu yang terbaik di dunia tetapi mengapa hasilnya selalu saja sama; mengecewakan. Kompetisi sepakbola mereka adalah yang terbaik di dunia, English Premier League menjadi pusat perhatian dunia dengan keberadaan pemain-pemain hebat-nya, tetapi mengapa prestasi tim nasional Inggris selalu saja begini? Jangankan menjuarai turnamen besar, lolos semifinal saja sepertinya sulit sekali mereka capai.

Banyak pengamat sepakbola mengatakan, problem tim nasional Inggris ada banyak, yang pertama adalah kurangnya pelatih berkualitas asli Inggris, karena kebanyakan tim di Liga Inggris juga menggunakan jasa pelatih asing.

Kedua karena banyaknya pemain asing di Liga sehingga menghambat perkembangan pemain muda lokal, memang sudah menjadi fakta sangat banyak sekali pemain asing di Liga Inggris.

Ketiga,ekspektasi yang sangat tinggi untuk selalu berprestasi di turnamen besar, memang demikian mengingat mereka bermaterikan pemain-pemain bintang, banyak yang berekspektasi seperti itu yang justru menjadi beban berat tersendiri tim nasional Inggris untuk menyuguhkan yang terbaik di panggung internasional.

Terakhir yang keempat adalah sentimen antar klub di Inggris yang berakibat pada ketidakkompakan pemain-pemainnya saat bermain bersama di tim nasional.

Dari segi pelatih memang sangat kurang, untuk mencari pelatih asli Inggris yang punya kualitas apalagi masih muda sangatlah sulit. Pengganti Roy Hodgson yang mundur pasca kalah dari Islandia pun sepertinya sudah tua, Alan Pardew.

Namun pengalaman melatihnya sangat minim berada di tim besar, mungkin akan lebih baik Harry Redknapp saja yang menjadi pengganti Hodgson meski juga sama tua dan berpengalaman, namun dia pernah berada di tim besar seperti Tottenham dan membawa mereka mentas di Liga Champions.

Kurangnya pelatih berkualitas sebenarnya pernah disiasati FA dengan mengontrak pelatih asing hebat seperti Sven-Goran Eriksson (Swedia) dan Fabio Capello (Italia), namun hasilnya sama saja.

Kalau melihat pemain asing sebagai faktor penghalang kemunculan pemain lokal berkualitas yang membuat tim nasional sulit berprestasi juga kurang tepat, FA telah mengakali banyaknya pemain asing dengan peraturan home-grown players yang membuat pemain lokal tetap punya tempat di Liga Inggris.

Ekspektasi yang besar sudah pasti menjadi beban bagi Inggris, namun tidak hanya Inggris saja yang punya beban itu. Negara lain yang punya tradisi hebat dalam sepakbola juga punya ekspektasi yang tidak kalah besarnya seperti; tim nasional Spanyol, Italia, Brasil, Jerman atau Argentina juga merasakan hal yang sama dengan Inggris ketika bermain di turnamen besar internasional, mereka dibebani untuk memperoleh prestasi setinggi-tingginya.

Faktor terakhir adalah sentimen antar klub, hal ini terjadi karena atmosfer sepakbola Inggris yang begitu bergelora. Hampir setiap kota meski itu adalah kota kecil pasti mempunyai klub sepakbola dan bahkan kadang lebih dari satu.

Atmosfer sepakbola disana begitu besar, no football no party, seluruh wilayah mempunyai tim andalan masing-masing dan tak heran ini membuat animo rakyat Inggris terhadap sepakbola begitu besar, namun dari sini muncul masalah yang berdampak besar skuad The Three Lions.

Orang Inggris fanatik terhadap sepakbola dan otomatis terhadap masing-masing klub kesukaannya, selain kepada tim nasional juga dan hal ini rupanya juga terjadi pada pemain-pemain di klub-klub tersebut, fanatisme mereka kepada klub sangat kuat.

Dengan atmosfer dan animo sepakbola yang tinggi membuat fanatisme terhadap klub tumbuh tidak hanya di lingkungan suporter saja tetapi juga merembet ke pemain dan memunculkan sentimen antar klub.

Maka tak heran di di Liga Inggris sering terjadi psy-war antar pemain, dan friksi di lapangan juga sering terjadi, biasanya hal ini muncul ketika pertandingan derbi satu kota atau antar klub yang mempunyai tradisi kuat dan saling bermusuhan.

Mantan pemain Manchester United dan tim nasional Inggris, Paul Scholes membenarkan bahwa ketidakmampuan Inggris berprestasi di level tim intenasional adalah salah satunya karena sentimen antar klub yang begitu kuat diantara pemain-pemain di tim nasional Inggris.

Dia menggambarkan seperti ini “ketika berada di tim nasional pasti semua pemain yang tergabung akan bekerja sama satu sama lain, namun sejatinya dalam hati tidak mungkin seorang Manchester mau bekerja sama dengan Scouse (Liverpool), begitu juga sebaliknya.

Hal ini juga berlaku bagi pemain-pemain lain dalam tim”. Terbongkar sudah rahasia kenapa Inggris selalu kandas dalam turnamen besar, tidak ada rasa persatuan antar pemain!.

Sentimen tersebut menjadi masalah akut bagi Inggris, mengingat pemain-pemain andalan mereka pasti mayoritas berada di klub besar yang sudah tentu saling menjadi rival. Jika sudah begini bagaimana solusinya? Mungkin kali ini, Inggris sebagai si “penemu sepakbola” harus belajar hal terkait sepakbola dari tempat lain untuk meredakan sentimentalitas antar pemain Inggris.

Mereka bisa belajar dari Spanyol, dulu disana Iker Casillas sebagai kapten tim nasional berani mengambil sikap untuk menjalin hubungan dekat dengan Carles Puyol dan Xavi Hernandez. Casillas melakukan itu guna meredakan sentimen el clasiso dan tidak membawa semua hal tentang itu ketika berada di tim nasional.

Hasilnya kita tahu, 2 gelar Piala Eropa dan satu Piala Dunia diraih Spanyol dalam rentang waktu 2008 hingga 2012. Sama seperti Inggris, pemain Spanyol juga sangat berkualitas namun tanpa adanya kompromi seperti itu rasanya sulit bagi mereka mampu meraih Piala Eropa dan Piala Dunia, karena sentimen antar pemain Spanyol juga sangat tinggi mengingat mayoritas diperkuat pemain Madrid dan Barcelona.

Melihat Inggris saat ini apakah mereka bisa mencontoh Spanyol? Sebenarnya bisa, apalagi Rooney sebagai kapten juga orang yang inklusif (bahkan dia berteman baik dengan Joe Hart, kiper City) dan terkesan mengesampingkan kepentingan klub demi tim nasional.

Namun kedepannya masih perlu pendekatan yang komprehensif dari sang skipper untuk menyatukan seluruh elemen dalam tim nasional Inggris, apalagi saat ini bukan hanya United dan City saja yang menyumbangkan pemain ke tim nasional, ada pula pemain dari Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham.

Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati dari orang yang berpengaruh di ruang ganti (kapten) untuk menurunkan ego dan sentimen klub yang dibawa dan berusaha merangkul untuk dekat semua yang ada didalam tim.

Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan Casillas juga harus ditiru Rooney atau kapten Inggris dimasa depan, karena ini lah salah satu cara jitu untuk menyatukan tim nasional; menjalin kedekatan dengan seluruh pemain meski mereka adalah rival di level klub.

Jika dalam hati sudah mau bersatu di tim nasional (meski saling bermusuhan di level klub), semua akan lebih mudah bagi Inggris, inilah cara yang harus dicoba ditengah kondisi atmosfer dan animo tinggi yang memang berujung pada sentimen antar klub. Segera mencoba Inggris, semoga beruntung di turnamen selanjutnya.

dailymail1-2 Iceland

Foto dari dailymail.co.uk

Advertisements

Tamparan untuk Brasil!

Maksud judul diatas bukanlah tamparan dalam arti sebenarnya atau perlakuan fisik seperti tamparan pada umumnya. Yang dimaksud penulis dengan “Tamparan untuk Brasil!” adalah wujud dari rasa kegelisahan, kekhawatiran dan sedikit emosi yang bercampur menjadi satu ketika melihat wajah persepakbolaan Brasil saat ini.

Tersingkirnya Brasil dari Copa America Centenario 2016 ini dengan tidak mampu lolos dari fase grup adalah titik kulminasi mengapa Brasil menjadi bahan untuk diulas kali ini. Brasil sekarang dalam kondisi krisis, Brasil sekarang bukanlah seperti yang dulu lagi.

Jika dulu dalam dunia sepakbola kita mengatakan “Brasil”, maka yang muncul dalam pikiran adalah nama besar para bintang, keindahan permainan, atau skill menawan pemainnya.

Melihat permainan Brasil ibarat seperti melihat orang sedang menari Samba di lapangan, tarian penuh keceriaan namun berwujud teknik olah bola indah di lapangan, wahhh pasti sangat enak ditonton.

Tetapi itu hanyalah masa lalu, sekarang Brasil tidak seperti itu lagi, keindahan permainan, skill hebat dan bahkan nama besar pemain bintang perlahan mulai hilang dari image Brasil saat ini, ada apa dengan negeri sepakbola ini? Mengapa ini bisa terjadi di negeri yang bahkan sepakbola disana dipuja-puja hampir seperti sebuah agama?

Memudarnya kehebatan sepakbola Brasil sangat terasa semenjak akhir tahun 2010-an, banyak faktor yang berpengaruh pada penurunan kualitas sepakbola Brasil dan tim nasional mereka pada khususnya.

Faktor pertama adalah mengenai ide permainan, Brasil dikenal karena filosofi Jogo Bonito atau yang berarti keindahan permainan, kegembiraan, kebebasan dan skill pemain.

Pola bermain ini sangat pas diterapkan, karena perlu kita ketahui pemain-pemain Brasil biasanya mempunyai teknik bagus dalam bermain bola, entah apapun posisi mereka, mulai dari penyerang, pemain tengah dan bahkan kiper sekalipun, jika dia itu adalah pemain yang berasal dari Brasil, pasti mempunyai kelebihan teknik tersendiri.

Deretan pemain depan dari berbagai generasi seperti Pele, Romario, Ronaldo, Rivaldo, dan saat ini Neymar; lalu gelandang hebat seperti Zico, Kaka, Ronaldinho; bek seperti Lucio, Cafu, Dani Alves, Marcelo, David Luiz; kiper seperti Taffarel, Dida, Julio Cesar hingga Rogerio Ceni yang jago tendangan bebas pun ada, betapa hebatnya pemain-pemain Brasil tersebut.

Juara Dunia lima kali (yang terbanyak di dunia) dan 8 juara Copa America direngkuh atas nama Brasil, betapa hebatnya sepakbola negeri yang terkenal dengan tari Samba-nya ini.

Dengan pemain-pemain hebat seperti itu wajar apabila Jogo Bonito dipilih menjadi gaya permainan Brasil, apalagi gaya permainan yang enak ditonton tersebut sesuai dengan kepribadian orang Brasil yang hangat, periang dan sangat bergairah terhadap sepakbola, sangat klop antara filososi permainan dan mentalitas kepribadian khas orang Brasil.

Suatu ketika, tim nasional Brasil datang ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman dengan status juara bertahan karena mereka yang juara di edisi sebelumnya pada 2002 di Korea-Jepang. Brasil 2006 diperkuat oleh pemain yang saat itu sedang hebat-hebatnya, mulai dari Ronaldo Lima, Adriano, Ronaldinho, Kaka, dan Robinho sehingga wajar mereka menjadi favorit utama untuk juara.

Dengan Jogo Bonito dan dilatih oleh pelatih kawakan, Carlos Albeto Parreira, mereka menatap turnamen terbesar dalam sepakbola tersebut dengan optimis, tetapi akhirnya apa daya mereka justru kalah dari Perancis di perempat final. Mereka kalah oleh gaya main Perancis yang tidak hanya mengandalkan skill pemain, tetapi juga kedisiplinan dalam bermain, seperti tim Eropa pada umumnya. Kontras dengan Brasil yang menyuguhkan kebebasan dalam permainan.

         Menyadari “kebebasan telah kalah dengan kedisplinan”, untuk menghadapi Copa America 2007 di Venezuela, Brasil menunjuk Carlos Dunga sebagai pelatih. Orang ini berbeda dari Carlos Parreira atau Scolari dalam hal gaya permainan, Dunga menyukai sepakbola disiplin ala Eropa, sepertinya CBF atau PSSI-nya Brasil menyadari betul bahwa sudah saatnya Brasil berevolusi dan mengikuti perkembangan sepakbola dunia.

Dunga akhirnya sukses dengan membawa Brasil juaramelalui permainan disiplin seperti gaya Eropa pada Copa America 2007, dan bahkan Brasil tidak segan bermain sangat hati-hati karena sering menggunakan serangan balik sebagai strategi utama, Brasil era Dunga terasa “sangat Eropa”.

Namun pemikiran ini justru berbuah menjadi blunder fatal bagi pesepakbolaan Brasil dan prestasi tim nasional mereka pada khusunya. Karena mereka melupakan jati diri mereka sendiri (Jogo Bonito, bermain dengan gairah, semangat, dan kebebasan) dan justru meniru gaya Eropa.

Hasilnya kita ketahui hingga gelaran Copa America terbaru ini mereka hanya mampu meraih tiga gelar, selain Copa America 2007, hanyalah Piala Konfederasi 2009 dan 2013. Dua piala ini tidak terlalu istimewa karena cuma merupakan test tournament sebelum Piala Dunia tahun berikutnya.

Selama dilatih Dunga dengan gaya Eropa-nya, permainan Brasil tidak enak dilihat dan monoton, padahal di Brazil pemain berteknik tinggi berjejal, namun itu disia-siakan Dunga. Contohnya jelas sekali dalam pemilihan pemain, pada Copa America 2007 dia meninggalkan Adriano, Ronaldinho, Ronaldo Lima dan bahkan Kaka.

Meski mampu menjadi juara dengan pemain medioker macam Vagner Love, Fred atau Elano, Dunga tetap mendapat kritik karena pemilihan pemain tersebut apalagi ditambah permainan Brasil yang statis. Pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, turnamen besar kedua Dunga pasca Copa America, lagi-lagi diapun membuat keputusan tidak populer dengan mengesampingkan duo pemain muda terbaik Brasil, Alexandre Pato dan Neymar.

Mengandalkan Luis Fabiano sebagai penyerang utama jelas tidaklah cukup, pemain yang saat itu bermain di Sevilla itu bukanlah bomber kelas atas dunia. Dengan permainan disiplin kaku dan serangan balik, Brasil pun tersingkir setelah kalah 1-2 dari Belanda di perempat final, palu pemecatan pun dilayangkan ke Dunga pasca kekalahan tersebut.

Setelah dalam rentang 2010-2014 permainan Brasil mulai terlihat kembali ke Jogo Bonito (era Mano Menezes dan Luis Scolari), Dunga datang lagi karena ketidakpuasan CBF akan jati diri sepakbola Brasil sendiri dan berusaha lagi dengan gaya Eropa yang dibawa Dunga.

Hasilnya justru semakin parah, selain keengganan Dunga memakai pemain bintang, pemain medioker yang dia bawa pun terbukti tidak pantas berada di tim utama Selecao. Nama-nama semacam Diego Tardelli, Everton Ribeiro, Elias, ataupun Jefferson pada Copa America 2015 dan Gabriel Barbosa, Lucas Lima, Alisson di Copa America 2016 tidak teruji di level atas dan wajar apabila Brasil gagal total di turnamen besar seperti Copa America.

Parahnya gaya disiplin ala Eropa dalam bermain sepertinya tidak hanya berjangkit di level tim nasional dan telah “menular” di Brasil, saat ini pun banyak klub lokal berusaha sekuat tenaga untuk membuat para pemainnya bermain dengan tingkat kedisiplinan seperti apa yang diterapkan di Eropa, disamping untuk memenuhi kriteria pemain yang akan dibeli oleh calon pembeli potensial yaitu klub Eropa itu sendiri.

Memang kedisiplinan bagus, karena mampu menjaga kesetabilan permainan akan tetapi hal ini justru malah mereduksi kebebasan pemain-pemain Brasil dalam berfantasi dengan tekniknya ketika sedang bermain.

Hal ini jelas mengurangi kekhasan pemain Brasil, yaitu teknik alami karena kebebasan dalam bermain yang selama ini melekat pada diri pemain-pemain dari Brasil jika klub disana secara terus-terusan menerapkan gaya Eropa dalam pembentukan gaya main para pemainnya.

Penurunan kualitas ini juga dipengaruhi oleh faktor dari diri pemain Brasil itu sendiri, banyak pemain Brasil jaman sekarang bermain hanya untuk mengejar uang saja, prestasi dan gelar juara bergengsi mulai dilupakan oleh mereka.

Sekarang tidak asing lagi kita temui pemain Brasil yang bahkan berlevel tim nasional utama bermain di liga kelas medioker seperti China ataupun Timur Tengah, mungkin ekonomi adalah alasan utama mereka namun sebenarnya hal ini bisa menurunkan kualitas tim nasional Brasil tersebut.

         Bayangkan saja untuk bersaing di turnamen sekelas Copa America, pemain yang dipanggil adalah pemain yang bermain di China dan Timur Tengah seperti Diego Tardelli dan Everton Ribeiro? Sudah tentu Brasil gagal total!.

Jangankan untuk bersaing dengan Argentina yang diperkuat Messi, Aguero, Higuain, dan Di Maria, Uruguay yang ditopang Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Godin atau Chile dengan Alexis Sanchez dan Vidal-nya yang menjadi andalan klub-klub besar Eropa yang sudah pasti bersaing di level tertinggi sepakbola.

Bersaing dengan tim seperti Paraguay atau Mexico saja belum tentu mampu jika pemain yang diandalkan adalah pemain medioker tersebut yang hanya beredar di kompetisi rendah seperti China dan Timur Tengah.

Jurang kualitas dan mentalitas yang terlalu jauh antara pemain tim nasional Brasil (sebagian tidak bermain di kompetisi level tertinggi) dengan pemain negara lain yang bertebaran sebagai andalan di berbagai klub besar dunia tentu berpengaruh dalam hasil yang dicapai di tim nasional, dan sudah terbukti saat ini.

Brasil pun saat ini kering pemain bertalenta hebat yang mampu dijadikan andalan, setelah kemunculan Neymar mungkin tidak ada lagi pemain yang benar-benar bisa dikategorikan dan berpotensi untuk menjadi pemain world class.

Meski banyak pemain muda Brasil yang punya “potensi” seperti Neymar, namun sepertinya hal itu akan susah digapai karena tren pemain Brasil saat ini yang justru lebih mengincar uang daripada bermain di klub besar dan merasakan persaingan tertinggi di level klub.

Apalagi di Amerika Selatan, klub-klub Brasil juga dikenal paling gemar membeli pemain dari negara lain seperti Argentina, Uruguay, Chile, Colombia dan negara Latin lain. Sehingga kesempatan pemain muda Brasil pun perlahan bisa berkurang untuk bermain di negeri sendiri, Neymar baru pun sudah pasti akan semakin susah ditemukan dimasa yang akan datang jika kondisi sepakbola Brasil seperti ini terus tanpa ada perubahan.

Saatnya Brasil berbenah, hasil di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Copa America 2011, 2015 dan 2016 hendaknya menjadi “tamparan” keras kepada seluruh elemen di pesepakbolaan Brasil bahwa dengan menghilangkan ciri khas mereka sendiri justru malah menghasilkan malapetaka untuk diri mereka sendiri.

Ingat, tim seperti Barcelona atau tim nasional Spanyol tetap mampu berprestasi karena satu hal; “percaya dan tetap pada ciri khas permainan sendiri entah apapun yang tejadi, tiki-taka”.

golazo dailymail.co.uk
Brasil amburadul di Copa America Centenario 2016.

Pele pun berpendapat sembari dengan perasaan yang iba, kesal dan kecewa ketika ditanya bahwa sepakbola Brasil sedang mengalami krisis identitas.

Sang legenda pun menyerukan perubahan besar dan ingin agar Brasil kembali ke Jogo Bonito karena tidak tega melihat kondisi sepakbola Brasil yang tengah terpuruk beberapa tahun ini, padahal semua orang di dunia tahu Brasil adalah negaranya sepakbola yang telah melegenda dari generasi ke generasi.

Berbenahlah Brasil, sampai kapan kamu begini? Apakah kamu harus menunggu tragedi Maracanazo atau Mineirazo terulang lagi untuk menyadarkanmu??

Foto: Dailymail.co.uk

Dilly-Ding Dilly-Dong!, Kunci Leicester City Juara : Passion Bermain

Seringkali kita mengatakan bahwa kualitas pemain dan nama besar menentukan prestasi sebuah klub, memang benar adanya beberapa klub dengan pemain berkualitas membuktikannya.

Kita dapat melihat contoh pada Barcelona, Madrid, Bayern, Chelsea ataupun Juventus dan klub besar lain yang mampu bersaing dalam percaturan sepakbola Eropa. Gelar juara dan menapaki tingkat tinggi dalam sebuah kompetisi bergengsi menjadi hal yang lumrah bagi klub-klub besar dan ditambah dengan dukungan keuangan yang besar pula hal tersebut dapat dipertahankan bahkan untuk bertahun-tahun.

Tetapi sebenarnya tidak hanya; kualitas pemain, nama besar klub dan uang saja yang membuat mereka mampu mencapkan dominasi terhadap klub-klub lain, ternyata diluar faktor tersebut ada satu hal yang mampu membuat dominasi mereka awet yaitu “gairah” atau passion bermain.

Gairah dalam bermain sepakbola sangatlah penting dalam menjaga hasrat pemain-pemain yang bisa menjaga performa dan tetap selalu berusaha untuk bersaing dalam perburuan gelar juara.

Ya, gairah bermain sepakbola sangat fundamental bagi kestabilan tim meraih kemenangan demi kemenangan setiap pertandingan yang dapat berujung raihan gelar juara.

Gairah begitu penting, analoginya adalah ketika sebuah klub memperoleh gelar juara yang ditargetkan, mereka bisa mengalami rasa puas terhadap pencapaian, sehingga di musim-musim selanjutnya gairah dalam bermain tersebut akan mampu menjaga “rasa lapar” untuk selalu meraih prestasi demi prestasi.

Setiap tim memiliki target masing-masing entah dengan status juara bertahan, pengejar titel juara ataupun tim dengan tujuan lain, pasti mereka akan berusaha sekuat tenaga demi mencapai target-target tersebut.

Gairah untuk mencapai target-target tersebut haruslah selalu ada, karena logikanya bagaimana mungkin sebuah klub akan terus berjuang demi target mereka, jika mereka sendiri tidak punya gairah untuk mewujudkan target tersebut?

Disini jelas bahwa gairah bermain sepakbola tersebut akan menjaga “api” semangat dalam jiwa pemain  untuk tetap berjuang tanpa lelah dalam arena pertarungan di lapangan demi menggapai target yang diinginkan.

Kenyataan tersebut menjadi fenomena di berbagai liga musim ini, gairah bermain yang sebenarnya adalah faktor non-teknis malah menjadi pembeda dalam perjalan berbagai klub musim ini.

Yang paling menjadi sorotan adalah Liga Inggris 2015-2016 ini, beberapa tim mengalami periode yang tidak biasa dan ada tim “asing” yang tidak hanya sekedar bersaing memperebutkan tiket Eropa, namun dengan luar biasanya justru menjadi kandidat juara.

Tim yang dimaksud adalah Leicester City dan Tottenham Hotspur, ketika nama besar seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal dan bahkan juara bertahan Chelsea mengalami musim yang dikatakan buruk, The Foxes dan Lily Whites mengambil kesempatan untuk menguasai peta persaingan menjadi nomor satu di Inggris.

Padahal jika dilihat dari kualitas pemain, dua tim ini bukanlah “tempatnya” berada di papan atas apalagi untuk Leicester, kualitas pemain mereka dibawah rata-rata mengingat mereka musim lalu adalah kandidat degradasi, namun sangat mengejutkan ketika mereka menjadi kandidat juara musim yang baru saja berakhir ini.

Kalau yang berada di puncak adalah Tottenham mungkin banyak yang menganggap “sedikit wajar”, ketika tim-tim besar berada dalam situasi paceklik dan dengan kualitas yang terhitung tidak beda jauh dengan tim besar, membuat Tottenham mampu berbuat banyak dengan pemain-pemain berkualitas seperti Harry Kane, Bamidele Alli, Christian Eriksen, Jan Vertonghen, dan Hugo Lloris.

Namun yang berada di puncak bukanlah mereka tetapi justru tim yang kualitasnya berada jauh dibawah mereka, Leicester City, yang sebenarnya kualitas tim ini tidak lebih baik dari tim-tim pejuang jeratan degradasi macam Newcastle atau Aston Villa.

Tetapi dengan berbagai hasil yang diraih selama ini menunjukkan bahwa kualitas pemain bukanlah faktor utama yang menjadikan Leicester City seperti ini, dan hal tersebut adalah gairah atau passion yang besar dalam bermain sepakbola yang dimiliki pemain-pemain yang dimanejeri oleh pelatih kaya pengalaman asal Italia, Claudio Ranieri.

Ranieri yang datang di awal musim setelah pemecatan Nigel Pearson akibat kasus anaknya (James Pearson) berhasil menyuntikkan keceriaan dan semangat bermain bagi tim. Sehingga gairah bermain serdadu Leicester selalu berapi-api disetiap game musim ini, lihat saja permainan Riyadh Mahrez dan rekan di lapangan, meski dari segi teknis mereka kalah namun dengan gairah tersebut semangat mereka tak pernah padam untuk selalu berjuang di lapangan.

Apalagi sitem permainan ramuan The Tinkerman tidaklah muluk-muluk, permainan simpel dengan serangan balik khas Italia dipadu dengan  power and speed ala Inggris membuat Leicester sering menyulitkan tim manapun, entah itu tim besar ataupun kecil mereka bisa dikalahkan.

Ranieri juga menekankan kolektifitas permainan entah siapapun yang diturunkan di lapangan, sehingga berdasar pada skema yang simpel dan kekompakkan bisa membuat kualitas pemain yang biasa akan tertutupi dengan permainan kolektif tim.

Selain itu gairah mereka dalam bermain sepakbola sangatlah tinggi, terbukti banyak hasil bagus pertandingan musim ini yang diraih ketika waktu hampir habis, selain itu mereka juga beberapa kali melakukan comeback untuk mengamankan hasil atau juga mencuri kemenangan.

Tanpa gairah yang tinggi disetiap jiwa pemain Leicester, tentu kemengan dengan late goal maupun membalikkan keadaan akan sulit direalisasikan apalagi jika melawan tim besar yang secara kualitas berbeda jauh dari Leicester.

Gairah tinggi itulah faktor kunci yang mampu menjadikan Leicester melambung kali ini, mereka memanfaatkan momen disaat klub lain seperti Chelsea atau MU sedang lesu dan seperti “kehilangan” gairah bermain bola sehingga tercecer papan tengah klasemen.

Gairah, semangat, kolektifitas dan keriangan bermain bola itulah yang juga membuat Leicester bermain lepas dan tanpa beban disetiap pertandingan, tidak ada target tinggi yang dicapai. Ketika mulai sering berada level atas, Ranieri berujar target timnya hanya 40 poin (aman dari degradasi), ketika Premier League sudah berlangsung lebih dari 20 pekan lebih, dia tetap mengatakan targetnya hanya untuk berada di papan tengah.

Baru setelah menyentuh 30an laga, Ranieri mengatakan suporter Leicester dipersilakan untuk bermimpi lebih jauh dan dalam meski disatu sisi dia tetap mengatakan, Tottenham adalah favorit juara.

Apa yang dikatakan Ranieri dengan tetap merendah meski sedang berada di puncak performa hanyalah bertujuan untuk melepaskan beban disetiap pundak pemain dan tetap memposisikan Leicester sebagai underdog.

Menjaga aura dan pesona underdog memang harus dilakukan Ranieri demi menjauhkan tim dari ekspektasi berlebih yang justru mampu melimpahkan beban dan ekspektasi itu kepada tim-tim dibawah mereka.

Keberadaan Leicester sebagai nomor satu di klasemen hingga musim ini berakhir pasti membuat seluruh penikmat Liga Inggris khususnya dan sepakbola pada umumnya tak bisa mengalihkan pandangan dari hal tersebut.

Yang juara musim ini adalah Leicester, mungkin keberhasilan itu akan membuat seluruh Britania dan “dunia” ikut bahagia, bagaimana mungkin tim yang miskin, pemain yang standar dan reputasi klub yang tidak bersinar sama sekali dan musim kemarin “hampir terdegradasi” justru menjadi juara musim ini?

Ya, sesuai dengan julukan Si Rubah (The Foxes), mengejutkan adalah karakter hewan tersebut yang kini bertransformasi dalam wujud Leicester City, dengan passion yang sangat bergelora mereka terus membuat kejutan demi kejutan. Dan kini hasilnya kita semua tahu bahwa Leicester kampiun Inggris!!!

Tentu merupakan hal yang sangat menarik melihat kapten Wes Morgan (yang baru merasakan Premier League musim lalu) mengangkat trofi Liga dan melihat Mahrez, Vardy, Kante, Drinkwater, dan Schmeichel bertarung di Liga Champions untuk musim depan dengan status  sebagai “JUARA” dari Inggris. Dilly-Ding Dilly-Dong, Come on the Foxes!!

Foto dari theguardian.couk