Pelajaran dari Simone Scuffet

Simone Scuffet lahir di Udine pada 31 Mei 1996, dia adalah produk akademi Udinese, berposisi sebagai kiper. Seperti lazimnya pemain muda asli didikan akademi, pasti Scuffet sangat ingin sekali bermain untuk klub tempat kelahirannya, Udinese.

Namun seperti kebiasaan klub Serie A memperlakukan pemain muda, umumnya mereka akan melempar-lempar pemain muda untuk dipinjamkan ke klub-klub lain di Serie A atau divisi bawah Italia yang tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman bermain bagi pemain muda tersebut.

Udinese sebelumnya mempunyai kiper yang hebat dalam diri Samir Handanovic, namun karena ketangguhannya di bawah mistar gawang dia kemudian dibeli Intermilan pada pertengahan 2012 dan Udinese mengusung Zeljko Brkic sebagai penggantinya untuk musim 2012-2013.

Simone Scuffet sendiri bukanlah pemain inti, meski sudah masuk skuad Udinese 2012-2013 dia hanya menjadi cadangan dan pilihan kelima setelah Zeljko Brkic, Daniele Padelli, Wojciech Pawlowski, dan Alessandro Favaro.

Di musim itu Brkic sering cedera dan silih berganti mengisi pos kiper utama dengan Padelli. Musim selanjutnya (2013-2014) Daniele Padelli pindah ke Torino, diikuti kepergian Pawlowski dan Favaro, Udinese kemudian kedatangan kiper tim nasional Kroasia , Ivan Kelava dan kiper gaek Francesco Benussi untuk memberikan Brkic pesaing dan sekaligus melapisinya, sementara Scuffet belum pernah sama sekali turun di musim 2012-2013.

Di musim 13/14 Brkic adalah kiper utama, dengan sesekali Ivan Kelava tampil untuk melapisinya, Benussi dan Scuffet hanya menjadi pilihan ketiga dan keempat, mengingat status mereka yang satu kiper tua  biasa saja dan satunya kiper muda nol pengalaman di Serie A.

Namun keajaiban bagi Scuffet datang di Februari 2014, pada laga melawan Bologna, Brkic mendadak cedera dalam sesi pemanasan jelang laga. Dan pelatih Udinese saat itu, Francesco Guidolin bereksperimen dengan menaruh Scuffet sebagai starter pada pertandingan pertandingan tersebut.

Scuffet sendiri terkejut dengan hal tersebut, dan tak disangka bocah 18 tahun mampu bermain sangat baik di laga tersebut, dia membuat clean-sheet. Pasca laga tersebut, dia menjadi portiere numero uno Udinese hingga musim berakhir bahkan meski Brkic sudah sembuh dari cedera, dia tetaplah pilihan utama Francesco Guidolin.

Di musim tersebut penampilannya sangat baik untuk ukuran pemain usia dibawah 20 tahun. Dia beberapa kali terpilih sebagai Man of the Match dalam laga di Serie A, salah satunya adalah saat laga melawan AC Milan dia membuat lima penyelamatan penting bagi tim dan membuat laga di San Siro tersebut berakhir dengan skor 0-0 dan menyelamatkan Udinese dari kekalahan.

Dengan penampilan yang tenang dan refleks yang baik, talenta dia mulai disandingkan dengan legenda hidup Gianluigi Buffon, selain kemiripannya yang membuat debut Serie A ketika masih berusia belasan tahun dan mampu menggeser pemain yang lebih berpengalaman semacam Brkic dan Kelava ke bangku cadangan. Karena penampilannya, pelatih Italia saat itu Cesare Prandelli sempat memanggil Simone untuk berlatih bersama skuad senior Italia, tentu seperti sebuah fairytale karena dia bahkan belum pernah membela tim nasional U-21 dan langsung loncat ke tim senior.

       Perjalanan karir bagaikan dongeng bagi Simone Scuffet, setelah menyita perhatian publik Italia dengan aksi-aksi gemilang dan saves-nya, kemudian pada bursa transfer musim 2014-2015, dia berpeluang menambah halaman cerita dongengnya lebih banyak dan sangat manis dengan pindah ke salah satu raksasa liga Spanyol, Atletico Madrid.

Ya, musim tersebut Rojiblancos membutuhkan kiper pengganti setelah kiper andalannya selama dua musim terakhir, Thibaut Courtois ditarik pulang oleh pemiliknya Chelsea. Dan mereka melirik kiper muda bertalenta karena sekaligus untuk investasi jangka panjang di sektor tersebut, dan salah satu kiper muda yang ditawar adalah kiper Udinese, Simone Scuffet.

Untuk memudahkan dalam perburuan Scuffet, Atleti mengandalkan posisi tawar mereka yang akan tampil di Liga Chmpions dan pelatih Diego Simeone dalam pendekatannya, Simeone paham kultur Italia karena pernah bermain di Seria A dulu, dengan begitu Scuffet tidak akan merasa sendirian dan ada yang membantu selama proses adaptasi dengan sepakbola Spanyol.

Namun yang terjadi adalah penolakan dari Udinese, tawaran sebesar 5 juta euro yang dapat melonjak hingga 10 juta dengan berbagai klausul dari Atletico Madrid mereka tolak.

Udinese tidak ingin kehilangan Scuffet dengan harga semurah itu, karena mereka berencana meminjamkannya ke Spanyol namun bukan ke Atletico melainkan Granada (yang juga dimiliki oleh pemilik Udinese) untuk memberinya banyak menit bermain dan menungu hingga harga Scuffet naik beberapa tahun kedepan.

Penolakan oleh Udinese juga didukung oleh Scuffet dan keluarga yang menginginkan karir Scuffet berjalan setahap demi setahap. Mulai dari bermain regular dulu di Serie A, menembus tim nasional senior lalu pindah ke klub besar Italia atau klub besar kelak suatu saat jika sudah waktunya.

Selain itu posisi Atletico di liga yang statusnya adalah tim pengejar gelar juara dan bermain di Liga Champions Eropa ditakutkan membuat Scuffet yang usianya masih muda dan pengalamannya belum seberapa akan membuatnya terbebani jika bermain di Spanyol bersama Atletico yang penuh tekanan akan sebuah prestasi.

Usaha Atletico gagal, apalagi Scuffet sudah diberi kontrak hingga 2019 oleh Udinese setelah penampilan hebatnya disetengah musim lalu. Kemudian Atletico mengarahkan bidikannya kearah semenanjung Iberia dan targetnya adalah Jan Oblak, kiper Benfica yang kemudian memcahkan rekor sebagai kiper termahal La Liga dengan banderol 16 juta euro.

Saat ini Oblak menjadi pemain inti Los Rojiblancos, aksi-aksinya menawan di bawah mistar dan para pendukung Atletico dapat dengan segera melupakan kepergian Courtois yang kembali ke Chelsea. Lalu bagaimana dengan Simone Scuffet saat ini? Apakah dia tetap mengawal gawang Udinese dan sudah naik level membela tim senior Gli Azzurri?

Karir seorang pemuda bernama Simone Scuffet memang seperti cerita dongeng, setelah dengan tiba-tiba karirnya menanjak tajam dan mengejutkan publik Italia sekarang karirnya menurun dan terhitung menukik tajam.

Jika dahulu setelah penampilan impresifnya selama setengah musim bersama Udinese, dia digadang-gadang sebagai “the next Buffon”, dipuji oleh berbagai kalangan bahkan kiper legendaris Italia, Dino Zoff sampai-sampai ikut mengeluarkan pujian kepadanya, dan banyak klub besar menginginkannya, salah satunya Atletico Madrid. Namun saat ini dia hanya menjadi kiper di klub medioker, Como yang hanya berlaga di Serie B.

Musim 2014-2015 seharusnya menjadi musim penegasannya sebagai kiper hebat dan masa depan Italia, tetapi dia justru melempem di Udinese. Pergantian pelatih, cedera dan kedatangan kiper Yunani dari Granada, Orestis Karnezis dan ditambah kegagalannya menampilkan performa seperti musim sebelumnya membuat posisinya tidak aman dan harus rela digusur oleh Karnezis.

Dan sialnya Karnezis justru menampilkan performa yang sepertinya tidak kalah hebatnya dengan Scuffet musim lalu, jadilah pelatih baru Andrea Stramaccioni memplot Karnezis sebagai kiper utama Il Zebrette dan Scuffet harus menerima nasib sebagai cadangan.

Awal tahun 2015, demi mencari menit bermain lebih dia memilih untuk pindah ke tim Serie B, Como dan bahkan masih tetap disana hingga musim 2015-2016 sebagai pemain pinjaman, tentu ini adalah penurunan yang signifikan bagi karirnya selama ini.

           Karir Scuffet masih sangat panjang, masih ada kesempatan baginya untuk comeback dan meraih impiannya menjadi kiper tangguh nan hebat dimasa depan.

Akan tetapi perjalanan karir Simone Scuffet yang sebelumnya melesat cepat layaknya pesawat yang mengudara lalu seketika menukik tajam dalam rentang waktu yang singkat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa andai kita menemukan kesempatan untuk bersinar. Ambil lah dan janganlah takut terhadap resiko yang akan diterima karena kesempatan menjadi yang “terbaik” belum tentu datang dua atau berkali-kali seperti apa yang kita inginkan.

Foto: getty images

Image

Apakah Benar Belgia Pantas?

Juni 2009 mereka masih terpaku di posisi 71, akan tetapi saat ini Belgia secara mengejutkan menjadi tim teratas dalam ranking tim nasional yang dirilis FIFA berdasarkan tanggal 5 november 2015.

Pencapaian ini berkat performa stabil mereka selama menjalani kualifikasi Euro 2016, ditambah selama Piala Dunia 2014 mereka bermain baik.

Peringkat pertama dalam rangking FIFA adalah sejarah tersendiri yang sangat hebat bagi Belgia, apalagi mereka juga belum pernah memenangi gelar internasional, prestasi mereka pun belum secemerlang negeri sepakbola lain seperti Inggris, Argentina, Spanyol, Perancis atau Brazil. Jadi naiknya Belgia ke posisi puncak daftar rangking FIFA adalah suatu hal yang sangat menyita perhatian dunia sepakbola saat ini.

Jika ditelisik secara prestasi, naiknya Belgia memang bisa dipertanyakan, biasanya tim yang menjadi pemuncak daftar adalah tim yang baru saja menjuarai Piala Dunia atau Piala Eropa, masuk ke babak final, atau minimal stabil meraih prestasi tinggi di tiap kejuaraan internasional yang diikuti.

Meski belum pernah menjadi juara atau prestasi besar di ajang internasional akan tetapi secara kestabilan performa tim, Belgia memang sedang on form. Setelah sukses meraih posisi di perempat final Piala Dunia, keberhasilan mereka lolos ke Euro 2016 juga menjadi faktor yang membuat kenapa Belgia bisa naik ke peringkat satu tersebut.

Apalagi tim nasional Belgia memang sedang dalam “masa keemasan” dengan dihuni oleh pemain-pemain hebat bertalenta yang bermain di berbagai klub besar di Eropa.

Dulu kita memandang tim nasional Belgia hanya dengan sebelah mata, mereka bukanlah tim yang menjanjikan apalaga dikategorikan sebagai tim kuat di daratan Eropa. Pemain yang tenar pun sangat jarang, paling hanya duo Emile dan Mbo Mpenza (era 2000’an) dan itupun tidak terlalu cemerlang.

Bahkan sejak 2004 hingga 2012 mereka tidak pernah lolos ke Piala Eropa ataupun Piala Dunia, dan barulah pada 2014 mereka lolos ke ajang besar seperti Piala Dunia dan sukses mencapai babak perempat final.

Dari segi kualitas pemain, mereka jelas kalah dengan negara tetangga Belanda yang di setiap ajang internasional masuk dalam bursa kandidat juara. Namun itu dulu, saat ini Belgia lebih superior dibanding Belanda dari segi kualitas pemain dan itupun terbukti dengan lolosnya Belgia ke Euro 2016 Perancis, sedangkan Belanda harus terima nasib menonton tetangganya yang dulu inferior, namun sekarang lebih hebat dari mereka sendiri.

         Mulai dari sektor paling belakang, penjaga gawang Belgia saat ini dikuasai oleh Thibaut Courtois. Pemain yang menjadi andalan Chelsea ini memang masih muda akan tetapi kaya pengalaman. Dia pernah menjuarai Liga Spanyol, Copa del Rey, Liga Inggris dan bahkan pernah bermain di final Liga Champions.

Tentu dia adalah aset berharga bagi masa depan Chelsea dan Belgia. Courtois mendapat pesaing terkuat dalam diri Simon Mignolet, kiper nomor satu Liverpool. Dia juga bermain baik untuk The Kop, dan akan membuat Courtois selalu waspada dan menjaga konsistensi permainan demi tetap menjadi andalan di sektor vital ini.

Belum lagi masih ada nama kiper veteran Jean-Francois Gillet (dari Machelen) yang pernah malang melintang di Serie A dan terhitung masih mumpuni meski usianya sudah tidak lagi muda.

         Untuk lini belakang, Belgia dihuni bermacam bek berkualitas. Bek tengah dihuni pemain yang sangat kokoh, yaitu Vincent Kompany. Kapten Manchester City sekaligus kapten tim Belgia adalah batu karang dilini belakang yang akan membuat pemain lawan susah menembus pertahanan Belgia.

Selain Kompany ada sosok duo Tottenham Hotspurs, Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld yang bermain baik disana. Selain itu ada mantan kapten Arsenal yang kini berseragam Barcelona, Thomas Vermaelen, kualitasnya masih ada meski sering cedera beberapa musim akhir ini.

Belum lagi ada nama pemain Dedryck Boyata mantan pemain Manchester City yang sekarang bermain di Glasgow Celtic dan pemain muda Jason Denayer, yang kini bermain di Galatasaray.

Untuk pos bek kanan ada Louis Pedro Cavanda meski hanya bermain di Trabzonspor, dia pernah menjadi andalan Lazio, ditambah Anthony Vanden Borre (Anderlecht) dan Thomas Meunier (Club Brugge), belum lagi Alderweireld juga bisa dimainkan sebagai bek kanan. Untuk posisi bek kiri ada nama pemain West Bromwich Albion, Sebastien Pocognoli dan adik Romelu Lukaku, Jordan Lukaku (Oostende). Untuk bek kiri juga bisa memakai Vermaelen, Alderwiereld dan Vertonghen di posisi ini.

Lini tengah Belgia lah yang menjadi kunci bagaimana mereka bermain baik, disini berjejal pemain berkualitas yang membuat Marc Wilmots tidak kesulitan menerapkan strateginya. Mulai dari gelandang bertahan, ada nama gelandang keturunan Indonesia, Radja Nainggolan.

Gelandang berstamina kuda ini mempunyai tugas memotong aliran serangan lawan, namun dia juga dibekali kemampuan memberi umpan yang baik dan agresifitas tinggi, sehingga dia juga bisa bermain sebagai box-to-box midfielder.

Gelandang lain adalah Axel Witsel, naturalnya dia adalah gelandang sentral, namun dia dibekali kreatifitas yang baik sehingga mampu berperan sebagai ­deep-playmaker, sehingga wajar apabila pemain Zenit St. Petersburg diincar klub top Eropa seperti AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid.

Ada juga nama gelandang eksentrik Manchester United, Marouane Fellaini. Fisiknya yang menjulang dan versatilitasnya bermain di pos gelandang bertahan, gelandang tengah, gelandang serang dan bahkan menjadi striker sangat berguna bagi Belgia. Lalu ada nama Steven Defour, mantan pemain FC Porto yang kini berada di Anderlecht yang juga bisa dikedepankan sebagai pilihan di lini tengah.

Untuk posisi attacking midfielder dan winger, Belgia sangat beruntung karena pemain di posisi-posisi tersebut sangat berkualitas. Yang paling menjadi perhatian adalah Eden Hazard, dia lah yang menjadi “metronom” inti permainan The Red Devils, julukan Belgia.

Pemain dengan kualitas terbaik di tim nasional Belgia saat ini adalah Hazard, dengan kecepatan, eksplosifitas, dribble, passing, akselerasi dan kemampuannya mencetak gol, dialah pemimpin Belgia dari segi teknis permainan, apalagi dia bisa dipasang sebagai gelandang serang atau pun sayap.

Pemain yang kemampuannya mendekati Hazard adalah Kevin De Bruyne, teknik dia bagus apalagi dia tipe gelandang serang yang mampu mengkreasi peluang dengan passing akuratnya, sehingga pemain Manchester City ini juga merupakan bagian penting bagi Belgia.

Lalu ada nama Moussa Dembele dari Tottenham yang bisa bermain disemua posisi lini tengah hingga lini depan yang tentu sangat menguntungkan bagi Marc Wilmots. Selain itu ada nama sayap-sayap eksplosif lain seperti Yannick Ferreira-Carrasco (Atletico Madrid), Kevin Mirallas (Everton), Nacer Chadli (Tottenham), Dries Martens (Napoli), tiga youngster; Adnan Januzaj (Manchester United), Youri Tielemans dan Dennis Praet (Anderlecht) yang bisa diandalkan sebagai sayap dan gelandang serang.

Posisi penggedor gawang lawan juga dahsyat, ada duo ujung tombak Merseyside; Romelu Lukaku dan Christian Benteke. Mereka berdua adalah penyerang yang bertubuh besar dan jago dalam duel udara.

Mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi pilihan utama di tim nasional Belgia, apalagi mereka membela dua kubu yang berseberangan dan menjadi rival abadi, Lukaku di Everton dan Benteke di Liverpool.

Jadilah persaingan mereka untuk merebut posisi sebagai striker utama Belgia akan semakin panas karena mereka juga membela klub yang saling bermusuhan satu sama lain. Untuk opsi lain di lini depan ada nama Divock Origi (Liverpool), namun dia tidak terlalu menonjol dan hanya menjadi pelapis di Liverpool. Selain itu, pos depan juga bisa diisi oleh Marouane Fellaini atau Mousa Dembele, yang mempunyai versatilitas tinggi.

Membludaknya talenta hebat di tim nasional Belgia juga tak bisa dilepaskan dari peran klub-klub Liga Belanda.

Memang wajar apabila banyak klub Belanda mengambil pemain muda dari Belgia, mengingat dua negara itu bersebelahan dan orang-orang Belgia juga bisa berbahasa Belanda, sehingga adaptasi bisa lebih cepat karena kultur dua negara itu pun tidak jauh berbeda.

Akan tetapi ini menjadi blunder bagi sepakbola Belanda itu sendiri, apalagi ketika pemain-pemain Belgia mampu menunjukkan penampilan yang memikat dan dibeli klub besar Eropa.

Contohnya adalah Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, Thomas Vermaelen, Nacer Chadli, Mousa Dembele, dan Dries Martens, nama mereka diminati klub besar Eropa sejak menapaki karir di Belanda.

 Sehingga kualitas tim nasional Belgia akan naik meski Liga di Belgia itu sendiri tidak terlalu bagus dibanding Eredivisie.

Artinya klub-klub Belanda seperti Ajax, PSV, Twente dan Feyenoord justru berperan dalam peningkatan kualitas tim nasional Belgia dengan banyak mengambil pemain dari negara tetangga mereka tersebut dan popularitas Belgia sebagai negeri penghasil pemain muda berkualitas pun semakin terdongkrak.

Dengan semakin terkenalnya Belgia sebagai negeri pemain muda berkualitas, membuat klub-klub Eropa juga tak jarang untuk langsung mengarahkan pandangannya ke Liga Belgia tanpa harus melalui Liga Belanda, sehingga saat ini banyak juga pemain muda dari Liga Belgia yang direkrut oleh klub-klub Eropa.

Seperti perpindahan Courtois, Fellaini, Witsel, Hazard dan De Bryune yang langsung menuju klub besar Eropa tanpa bermain di Belanda terlebih dahulu.

Sebuah ironi, disaat tim nasional Belgia berprestasi karena ada faktor “bantuan” klub-klub Belanda, tim nasional Belanda sendiri malah mengalami penurunan kualitas, karena pemain-pemainnya yang tidak terlalu kompetitif dan sebagian besar tidak bermain di klub besar Eropa (sudah dibahas di artikel sebelumnya, lihat juga artikel “Dutchman yang “Tenggelam”) dan prestasi Belgia tentu adalah kesegaran tersendiri bagi pecinta sepakbola.

Munculnya tim “baru” yang berkualitas ditataran sepakbola Eropa akan membuat persaingan di Euro 2016 nanti semakin menarik.

Belgia saat ini sedang dalam masa terkuatnya dengan dihuni berbagai pemain andalan di klub-klub besar Eropa, karena memang benar bahwa Belgia sedang dalam masa “keemasan”, mari kita tunggu gebrakan apa yang akan mereka buat di Euro nanti, masuk semifinal? Final? Ataukah mampu menjadi juara? Patut kita saksikan dengan seksama aksi Hazard dan kawan-kawan di Euro 2016 nanti.

Foto dari isportimes.com

Pemain “Kedua Belas”

Dalam sepakbola ada beberapa hal yang sangat menarik terkait perjalanan drama-drama didalamnya. Ada pemain, ada pelatih, dan ada juga suporter. Kehidupan sepakbola tidak dapat dipisahkan dari suporter, karena tanpa mereka sepakbola tidak akan dinamis.

Bayangkan pertandingan sepakbola dari awal musim hingga akhir musim tidak diramaikan oleh bising nyanyian, tepuk tangan, sorak sorai, ekspresi-ekspresi ketika terciptanya sebuah gol.

Bahkan umpatan dan siulan dari suporter tim di dalam stadion, apakah kamu rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi untuk menonton pertandingan bola tersebut?

Tentu jawaban pastinya adalah tidak. Suporter adalah elemen penting dalam pertandingan sepakbola, tanpa keberadaan mereka yang berteriak-teriak dan bernyanyi dalam stadion, sebuah pertandingan sebesar final Piala Dunia pun tentu akan kalah menarik dibanding dengan acara demo memasak ditelevisi.

Suporter jelas menjadi magnet tersendiri, pertama bagi pemain-pemain dalam sebuah klub dukungan dari mereka sepanjang pertandingan menjadi faktor penambah semangat.

Bagi pemain ketika menjalani sebuah pertandingan, para suporter juga bisa menjadi pihak yang memberi tekanan pada pemain klub lawan, siulan, ejekan dan bahkan umpatan mereka pada pemain musuh terkadang mampu merusak mentalitas pemain musuh tersebut sehingga itu akan menguntungkan pemain tuan rumah.

Yang kedua tentu saja bagi klub, mereka adalah sumber pendapatan dengan membeli tiket untuk menonton pertandingan di stadion, selain itu klub juga menjadikan suporter sebagai lahan pemasaran merchandise atau pernak pernik terkait klub seperti jersey, topi, atau pun pernak-pernik lainnya yang dapat memberi keuntungan bagi pihak klub.

Dan masih banyak pihak lainnya baik itu di dalam ataupun luar sepakbola yang terkena dampak positif karena keberadaan suporter sepakbola.

 Penonton sepakbola itu sendiri ada berbagai macam, ada yang menjadikan sepakbola dan menonton langsung ke stadion hanya karena sebagai pemanfaatan waktu luang untuk sekedar hang-out atau karena memang sengaja datang karena punya kepentingan tertentu

Ada yang datang ke stadion hanya karena senang terhadap sepakbola, ada yang datang ke stadion karena memang benar-benar mendukung tim yang diidolainya dan ada berbagai macam lagi niatan seorang datang ke stadion untuk menonton sepakbola.

Jadi munculah istilah tertentu untuk orang yang datang ke stadion untuk menonton sepakbola, untuk orang yang datang hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan menonton sepakbola atau karena punya kepentingan tertentu seperti menonton keluarga, teman atau relasi lainnya yang bermain bola, mereka dapat dikatakan sebagai penonton biasa.

Biasanya mereka kurang tertarik terhadap sepakbola, namun karena punya waktu luang, ingin mencari hiburan/rekreasi atau punya relasi dengan orang yang bermain sepakbola, sehingga mereka pun datang untuk menonton ke stadion.

Yang kedua adalah orang yang senang dengan sepakbola, mereka datang ke stadion karena memang benar-benar suka dengan sepakbola. Mereka bisa jadi mendukung tim tuan rumah atau tim lawan, atau bisa juga karena sepakbola adalah hal yang dia sukai. Mereka yang merupakan jenis kedua ini bisa disebut sebagai fans.

Mereka bisa saja mendukung tim tertentu atau juga ke stadion hanya karena senang dengan sepakbola, kedatangan mereka ke stadion juga tak mesti setiap saat ada, tidak seperti jenis ketiga dan yang paling penting keberadaannya di dalam stadion, mereka adalah supporter  bertransformasi dari kata supporting yang artinya mendukung.

Jenis penonton sepakbola yang datang ke stadion dan dinamakan suporter inilah yang membuat kehebohan, semarak, dan keriuahan dalam stadion. Mereka yang dinamakan suporter akan datang ke stadion entah kandang atau tandang demi menonton tim yang kesayangannya.

Dapat dikatakan mereka adalah orang-orang “die hard” diantara seluruh isi stadion. Mereka biasanya membentuk kelompok atau grup yang mencirikan identitas mereka sebagai pendukung tim.

Merekalah yang tiada henti sepanjang pertandingan menyemangati dan menyanyi untuk tim kesayangannya. Mereka juga lah yang selalu berusaha membuat mental pemain lawan jatuh dengan ejekan-ejekan, siulan, dan umpatan-umpatannya.

Yang membuat koreografi unik, menyalakan flare, bernyanyi, berteriak-teriak dan berbagai aksi-aksi lainnya mereka itulah yang disebut sebagai suporter, terkadang suporter juga bisa menjadi perwujudan wajah humanis klub kepada publik.

Dalam berbagai hal seperti perayaan hari penting ataupun ketika ada peristiwa yang dunia yang menyita perhatian, seringkali suporter menjadi garda terdepan dalam menyampaikan hal tersebut ataupun menyampaikan simpati terhadap suatu peristiwa.

Dengan perilaku tersebut, citra sebuah klub di publik dan masyarakat otomatis diuntungkan. Akan tetapi tak jarang mereka juga berani mengkritik kebijakan klub atau pemainan tim melalui spanduk-spanduk atau banner dalam stadion, bisa juga mereka mendatangi dan menekan pemain ketika latihan karena permainan buruk timnya. Intinya suporter adalah elemen penting bagi klub, sebagai penyedia sumber pemasukan bagi klub, pendukung pemain, pengritik klub maupun pemain.

Saat ini penamaan suporter klub berbeda-beda tiap negara, di Inggris orang yang total dalam mendukung klubnya dikatakan Hooligans¸ lalu di Italia suporter disebut dengan Tifosi, bahkan ada penyebutan lain untuk suporter garis keras (yang benar-benar cinta mati kepada klub) dengan sebutan Ultras.

Suporter menjadi bagian tak terpisahkan dari sepakbola, tanpa mereka sepakbola kuranglah sedap untuk dinikmati. Dan apalagi bagi pemain yang sedang berlaga dilapangan, dukungan mereka sangatlah penting.

Bahkan saking pentingnya dukungan suporter bagi permainan sebuah tim sampai-sampai memunculkan julukan baru untuk suporter yaitu “pemain ke dua belas” bagi sebuah tim. Dan juga semoga kerusuhan antar suporter bisa berkurang hari demi hari, amin.

Sumber foto: bola.com

Hazard, “The Next” Juan Mata?

Musim 2014-2015 dilewati Chelsea dengan baik, mereka menjuarai English Premier League dibawah manajer Jose Mourinho, apalagi salah satu pemainnya memperoleh gelar PFA Player’s Player of the Year atau penghargaan pemain terbaik di Inggris oleh asosiasi pemain professional dan Premier League Player of the Season dari FA yang tak lain nama yang meraih gelar itu adalah Eden Hazard.

Ya, permainan spektakuler Hazard di musim itu sangat membantu Chelsea, berposisi sebagai winger ataupun juga bisa sebagai gelandang serang, kecepatan dribel dan akselerasinya ketika bermain sangat berbahaya bagi para bek lawan, apalagi ditambah kelihaian memberi assist dan mampu menjadi pemecah kebuntuan dengan mencetak gol, pantaslah jika penampilannya musim lalu diapresiasi dengan gelar sebagai pemain terbaik.

Lahir dengan nama lengkap Eden Michael Hazard di La Louviere, Belgia 7 januari 1991, darah sepakbola memang sudah mengalir alami menjadi bakatnya. Hazard dibesarkan dari keluarga pesepakbola, ayahnya yang bernama Thierry adalah pemain semi profesional yang bermain sebagai gelandang bertahan di La Louviere, Divisi Dua Liga Belgia.

Sedangkan ibunya bermain sebagai striker yang pernah bermain di Divisi Utama Liga Belgia Wanita, namun dia berhenti bermain bola setelah mengandung Eden kecil tiga bulan. Hazard mempunyai tiga adik yang semuanya adalah pesepakbola, adik pertama adalah Thorgan Hazard, yang sekarang bermain di Jerman bersama Borussia Moenchengladbach, adik kedua Kylian Hazard bermain di klub Hungaria, Ujpest, sedangkan adiknya yang terkahir Ethan Hazard masih berada di akademi Tubize.

Meski berasal dari Belgia, nama Hazard justru populer ketika berada di Perancis, bersama Lille OSC nama Hazard mulai dikenal banyak orang. Eden sendiri memulai karir sebagai pesepakbola saat usia empat tahun di klub amatir lokal daerahnya, Royal Stade Brainois, setelah itu pada 2003 dia pindah ke Tubize dan disinilah talentanya tercium pemandu bakat Lille ketika berlaga di sebuah turnamen lokal.

Pada 2005 dia diangkut ke Lille, menghabiskan waktu di akademi dua tahun dan meski sudah merasakan debut profesional tahun 2007, namun Hazard baru benar-benar menjadi bagian utama tim Lille pada musim 2008-2009, ketika itu pelatihnya adalah Rudi Garcia.

Musim-musim selanjutnya menit bermain Hazard semakin banyak dan perannya dalam permainan semakin besar, dan performa hebatnya mengakibatkan dia diganjar penghargaan pemain muda terbaik pada 2009 dan 2010.

Dia juga dua kali berturut-turut meraih penghargaan pemain terbaik di Perancis 2010-2011 dan 2011-2012, puncaknya adalah ketika membawa Lille meraih double winners dengan merengkuh juara Ligue 1 Chammpionat dan Coupe de France di musim 2010-2011.

Berdasarkan peningkatan performa dan konsistensi permainan, namanya pun menjadi rebutan banyak klub-klub besar Eropa, hingga akhirnya Chelsea berhasil meyakinkan Hazard untuk pindah ke London dengan biaya transfer sebesar 32 juta poundsterling.

Berada di klub sebesar Chelsea tentu adalah tantangan tersendiri bagi Hazard, beban sebagai pembelian yang mahal dan banyaknya pesaing di tim yang juga berkualitas tentu butuh usaha ekstra keras dari Hazard.

Namun meski begitu harga mahal Hazard memang terbukti dengan kualitasnya, dia mampu bersaing dan menjadi pemain kunci The Blues. Puncak permainan Hazard adalah musim lalu ketika ikut membawa Chelsea meraih gelar juara Liga Inggris dan menjadi pemain terbaik di Inggris musim lalu.

Setelah itu kemampuan dia pun mulai diperbandingkan dengan mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi oleh banyak pelatih dan pengamat sepakbola, jadi andai pada musim selanjutnya (2015-2016) dia mampu menjaga konsistensi atau bahkan menunjukkan peningkatan performa, anggapan banyak pengamat sepakbola bahwa skill Hazard sudah selevel Ronaldo dan Messi pun benar adanya, namun apa yang terjadi adalah kebalikannya.

Performa Hazard musim ini dibilang menurun drastis, entah apa yang terjadi dengan Hazard musim ini, dia seolah-olah tidak lagi menjadi “Hazardous things” bagi pemain lawan, aksi melewati bek musuh jarang sekali kita lihat, dribel dan umpan-umpannya tidak se-magis musim lalu.

Memang yang namanya pemain bagus selalu dikawal ketat oleh lawan dan terbukti dia adalah pemain yang paling sering dilanggar di Premier League, dan hal itu bahkan sudah dialami Hazard musim lalu.

Ini artinya peningkatan kewaspadaan pemain lawan terhadap Hazard semakin meningkat, tentunya Hazard harus lebih ekstra dalam bermain sembari menjaga fisiknya agar lebih kokoh dibanding musim lalu, dan peningkatan pengawasan terhadap kebugaran Hazard juga harus ditingkatkan oleh staf pelatih dan tim medis Chelsea untuk menjaga fisik Hazard.

Namun memang apa yang terjadi diawal musim ini memang tidak terlalu baik bagi Chelsea, mulai dari “hobi” Jose Mourinho yang selalu melakukan psy-war kepada Arsene Wenger, kemarahan The Special One kepada staf medis Eva Carneiro saat Hazard mendapat terjangan dalam laga melawan Swansea, gagalnya Chelsea meregenerasi lini belakang dengan membeli John Stones, transfer panic buying Pedro Rodriguez yang terbukti gagal, dan hasil minor saat Community Shield yang menular diawal musim liga membuat Chelsea berada dibawah tekanan.

Disaat kondisi seperti itu, peran bintang seperti Hazard sangat dibutuhkan, aksi-aksi briliannya dapat menginspirasi rekan setim untuk bereaksi positif terhadap hasil buruk diawal musim, akan tetapi performa Eden justru meredup, entah apa yang membuat performa Hazard seperti itu, padahal perubahan didalam tim tidaklah begitu besar sehingga perubahan permainan Chelsea tidak lah terlalu besar.

Lalu jika melihat faktor eksternal tim, peningkatan level waspada lawan ketika menghadapi Hazard juga pastinya sudah dipahami oleh Mourinho dan Hazard sendiri, sehingga kontra strategi untuk menyiasati hal itu pasti akan dilakukan.

Pertanyaannya adalah apakah ekspektasi yang besar terhadap Hazard begitu membebani mental sang pemain?

Atau konflik antara Mou dan Eva membuat Hazard khawatir terhadap penanganan cederanya tak maksimal andai suatu saat cedera, mengingat selama ini Eva lah yang merawat Hazard karena terjangan kasar pemain-pemain di liga? Atau karena siasat permainan Hazard untuk lebih menghindari terjangan lawan justru membuat keberaniannya berduel menurun dan berdampak dengan permainannya?

Atau karena taktik yang diterapkan Mourinho yang menekankan semua pemain supaya ikut membantu pertahanan berpengaruh besar bagi Hazard? Atau karena kedatangan pemain baru (Pedro)?

Atau justru karena tidak adanya pesaing yang “sepadan” di posisinya membuat permainannya menurun? Atau karena performa pemain lain seperti Cesc Fabregas, Oscar, Diego Costa, dan Nemanja Matic yang menurun ikut berpengaruh pada performa Hazard? Atau karena keinginan Mourinho menurunkan performa Hazard?

Semua hal diatas memang bisa mempengaruhi kinerja Hazard dalam bermain, namun beruntungnya musim ini baru awal bergulir dan kesempatan untuk memperbaiki performa di musim ini masih panjang baginya, kesempatan untuk menyelamatkan muka sebagai pemain terbaik Inggris musim lalu masih terbuka lebar.

Dia harus membalik keterpurukannya diawal musim menjadi penampilan impresif di semua laga musim ini dan sekaligus mengangkat performa Chelsea, jika tidak nasibnya akan seperti mantan rekan setimnya dulu di Chelsea, Juan Mata yang dibuang oleh Mourinho meski menjadi pilar utama yang sangat penting bagi permainan Chelsea.

Juan Mata dibeli dari Valencia (dengan harga 23 juta euro) pada 2011-2012 dan langsung menjadi pemain andalan The Pensioners. Mata bisa bermain sebagai pemain sayap maupun pengatur serangan bagi timnya, total 33 gol dan 58 assist dia sumbangkan selama berada di Chelsea yang menghasilkan gelar bergengsi seperti Piala FA, Liga Champions dan Liga Eropa.

Di Chelsea dia mempunyai peran penting sebagai playmaker tim, alur serangan tim bergantung pada kejeniusan Mata melepas umpan dan mengkreasi peluang, dan karena penampilan hebatnya tersebut dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Chelsea berturut-turut yaitu pada musim 2011-2012 dan 2012-2013, dia juga masuk kedalam Premier League PFA Team of the Year 2012-2013.

          Seharusnya dengan pencapaian seperti itu membuat Mata menjadi andalan siapapun pelatih Chelsea, termasuk ketika Jose Mourinho masuk menggantikan Rafael Benitez musim 2013-2014. Akan tetapi diluar dugaan banyak pihak, alih-alih menjadikan trio Hazard-Oscar-Mata sebagai tumpuan bermain Chelsea, Mourinho justru membuat keputusan aneh membeli Willian Borges dari Shaktar Donetsk.

Dan rupanya pembelian Willian memang bermaksud untuk menggeser Mata dari tim inti dan menjadikan Oscar sebagai playmaker utama di Chelsea, dan Mata pun mulai sering dicadangkan di musim tersebut.

Mourinho berkelit bahwa alasannya mencadangkan Mata karena kemampuan bertahannya yang lebih buruk dari pada pemain depan lain, sehingga dia lebih memilih memainkan Hazard-Oscar-Willian/Schurrle sebagai gelandang penopang striker di musim tersebut, akhirnya Mata tersingkir dari tim utama.

Memang Juan Mata terlihat tidak klop dengan gaya permainan yang diusung Mourinho dimana dia menginstruksikan seluruh pemain mempunyai berkontribusi terhadap pertahanan, tidak ada pemain yang mendapat kebebasan, semua harus membantu pertahanan meskipun itu striker atau gelandang serang.

Gaya main itulah yang mematikan Mata, permainannya menurun, entah memang Mourinho yang menginginkan Mata seperti ini atau karena Mata kesulitan beradaptasi, namun dengan label pemain kelas dunia yang pernah menjuarai Liga Champions dan Piala Eropa serta kaya pengalaman seharusnya merubah gaya permainan dengan menambah sisi defensif tidaklah sulit bagi Mata.

Namun, musim ini “untung” bagi Hazard karena sekarang Chelsea sedang dalam tren yang negatif, jadi performa buruk yang Chelsea tunjukan lebih publik sasarkan kepada kesalahan Mourinho ketimbang individu pemain sehingga peluang Hazard untuk bangkit di musim ini masih sangat terbuka lebar.

Jalan satu-satunya Hazard untuk bangkit dari performa flop-nya adalah “mengangkat” kembali performa Chelsea menjadi stabil seperti musim lalu dengan aksi-aksi briliannya melewati lawan, memberi assist, maupun mencetak gol-gol yang dapat menginspirasi dan membangkitkan moral rekan-rekan tim lainnya. Atau tidak dia akan dibuang seperti Juan Mata meski dia adalah andalan tim.

Sumber gambar: chelseaseason.com