Dutchman yang “Tenggelam” Menuju Prancis

Siapa yang tidak tahu akan kehebatan “The Flying Dutchman”?, cerita legendaris tentang kapal laut yang melegenda di seantero benua Eropa sebagai kapal penguasa lautan, dan julukan inilah yang disematkan kepada tim nasional sepakbola Belanda, disamping julukan De Oranje.

Julukan The Flying Dutchmen pantas diberikan kepada Belanda, selain karena kehebatan orang-orangnya dalam mengarungi lautan, dalam hal sepakbola kehebatan Belanda juga sudah menjadi rahasia umum, apalagi jika melihat rekam jejak tim nasional-nya.

Dahulu kala tim nasional Belanda begitu disegani di level dunia, kemunculan gaya permainan Totaal Voetbal karya pelatih legendaris, Rinus Michels dan Johan Cruyff sebagai playmaker-nya di era 70’an sukses dengan menjadi finalis Piala Dunia 1974. Lalu di era 80’an ada trio pemain AC Milan (yang juga berjaya dilevel klub); Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang sukses memberikan gelar juara Piala Eropa 1988 kepada Belanda.

Pada masa 90’an berlanjut dengan kemunculan “generasi” Ajax Amsterdam seperti Edwin Van Der Sar, Clarence Seedorf, Marc Overmars, Phillip Cocu, Frank dan Ronald De Boer, Patrick Kluivert, dan Edgar Davids, lalu berlanjut di era dekade 2000’an dengan pemain-pemain tenar seperti Givanni Van Bronckhorst, Arjen Robben, Mark Van Bommel, Wesley Sneijder, dan Robin Van Persie yang sukses dengan gelar runner-up di Piala Dunia 2010.

Belanda juga terkenal sebagai negeri sepakbola bagi para pemain muda meski liga tertinggi di negara tersebut yaitu Eredevisie, bukan termasuk liga terbaik di Eropa.

Meski begitu talenta muda tiada hentinya lahir di negeri kincir angin tersebut, mulai dari kiper handal seperti Edwin Van Der Sar, bek tangguh Jaap Stam, gelandang yang kokoh seperti Nigel De Jong, gelandang kreatif Rafael Van Der Vaart, bahkan striker tajam seperti Ruud Van Nistelrooy.

Belanda seperti tidak pernah kehabisan stok pemain bagi tim nasional-nya, apalagi pemain Belanda terkenal adaptif dengan berbagai macam bentuk permainan sehingga kran transfer pemain dari Belanda ke klub-klub diluar Belanda pun terus saja terjadi disetiap jendela bursa transfer dibuka.

Disetiap ajang turnamen internasional, baik di level benua maupun dunia, Belanda selalu masuk dalam kontender calon kuat juara, tak terkecuali di Euro 2016 Perancis yang akan datang.

Dengan modal sebagai peringkat ketiga di World Cup 2014 dan berada di Grup A dengan “hanya” menghadapi tantangan paling berat dari Turki dan Republik Ceko, banyak kalangan menganggap Belanda akan melaju mulus di kualifikasi dan juga menjagokan Belanda akan berbuat banyak di Euro 2016 nanti.

Namun jauh panggang dari api, yang terjadi justru sebaliknya, Belanda gagal lolos dari grup dengan hanya mampu finis di posisi 4 dan tidak akan ikut serta dalam Euro 2016!!!.

Sungguh ibarat sebuah “obituari” bagi penggemar De Oranje maupun orang yang mendambakan persaingan ketat di Euro 2016 Perancis nanti.

Akan tetapi sebenarnya tanda-tanda kerapuhan Belanda sudah terlihat sejak dikalahkan Islandia 0-1 di kandang sendiri, lalu ditambah dengan hasil buruk kalah 3-0 dari Turki dan 2-3 dari Republik Ceko di akhir-akhir jadwal kalifikasi membuat mimpi pasukan pelatih Danny Blind harus dikubur total.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Belanda? Apakah permainan mereka itu buruk? Atau regenerasi yang tak berjalan dengan baik? Tentu ini terasa aneh, Belanda adalah pemilik gaya permainan totaal voetbal, lalu mereka juga terkenal dengan bakat-bakat pemain mudanya yang tak pernah habis.

Anomali terjadi jelang akhir kualifikasi mereka seperti kehabisan nafas, disamping peningkatan kualitas tim para pesaing di grup, sebenarnya mereka tak bergitu buruk selama kualifikasi, hanya saja ada satu hal yang kurang dalam skuad arahan Danny Blind yang mungkin ini faktor penting berpengaruh menjelang akhir sebuah kompetisi seperti kualifikasi Euro 2016 yang tentunya banyak tekanan.

Faktor itu adalah mentalitas pemain dalam skuad tim nasional Belanda. Memang soal regenerasi tak perlu disangkal, melimpahnya stok pemain bertalenta membuat siapapun pelatih Belanda tidak akan bingung dalam membentuk skuad yang bagus, akan tetapi mental pemain adalah faktor yang “tak kalah” penting disamping faktor teknik dan bakat pemain.

Mentalitas pemain akan teruji apabila para pemain tersebut sering bermain dalam pertandingan penting dan bertensi tinggi ataupun bermain untuk tim besar yang penuh tekanan.

Apabila para pemain terbiasa menghadapi pertandingan penting bertensi tinggi atau berada di klub besar dan mereka mampu bermain baik, tentu hal itu akan berdampak baik di waktu yang akan datang, mental mereka akan terbiasa ketika menghadapi tekanan besar di pertandingan-pertandingan selanjutnya dan bermain dengan baik.

Faktor mentalitas inilah yang kurang dalam timnas Belanda, mulai dari sektor penjaga gawang. Kiper utama saat ini Jasper Cillessen tidaklah bermain di tim besar Eropa karena hanya bermain bagi Ajax Amsterdam, meski Ajax pernah juara Liga Champions, namun saat ini Ajax hanyalah sebuah tim yang jago di kancah lokal Belanda, begitu juga dengan kiper kedua, Tim Krul yang hanya bermain bagi tim papan tengah Liga Inggris, Newcastle.

Lanjut ke lini belakang, diposisi bek kanan ada Gregory van der Wiel yang bermain baik di World Cup 2010 dan kemudian dibeli Paris Saint-Germain dari Ajax, namun sekarang dia hanya menjadi penghangat bangku cadangan karena kalah bersaing dengan Serge Aurier. Bek kanan lain, Daryl Janmaat hanya bermain untuk Newcastle.

Lalu untuk posisi bek sentral ada nama Bruno Martins Indi yang sangat menjanjikan di FC Porto, namun Porto bukanlah tim jagoan di benua biru meski dulu pernah menjuarai Liga Champions.

Ada juga nama Stefan De Vrij, bek tengah Lazio tetapi jangankan bersinar di kancah Eropa, di Italia saja Lazio bukan unggulan juara Serie-A. Ada juga nama bek Southampton, Virgil van Dijk namun Southampton pun hanya klub menengah di arena Premier League.

Mungkin sektor bek kiri lah yang dapat dikatakan mumpuni untuk lini belakang, ada Daley Blind anak dari Danny Blind, yang bermain bagus di Manchester United.

Ditambah keberadaan Louis van Gaal, sepertinya posisi dia di Manchester United aman untuk beberapa tahun kedepan, namun di tim nasional Belanda, sektor bek kiri hanya dilapisi oleh Jetro Willems dari PSV Eindhoven ataupun bek kiri Ajax, Jairo Riedewald. Tentu sangat riskan apabila Blind cedera atau terkena skorsing, lubang yang ditinggalkan akan sangat terbuka.

Blind Euro mirror
Blind, seperti arti namanya dalam bahasa Inggris. Dia tidak dapat melihat kemana kapal Flying Dutchman harus disandarkan.

Lini tengah Belanda mempunyai segudang pemain bagus namun mereka sedang tidak dalam performa terbaik, entah faktor cedera, permainan klubnya yang buruk ataupun kualitas tim yang tidak terlalu baik.

Posisi gelandang bertahan ada nama Nigel de Jong, jangkar pekerja keras ini adalah karang bagi pemain lawan, namun flop-nya performa AC Milan juga berpengaruh bagi kualitas De Jong tak sebagus dulu, cadangannya Vurnon Anita dari Newcastle dan dan Leroy Fer dari Queens Park Rangers tak sepadan dengan kemampuan De Jong.

Untuk posisi central midfielder, sebenarnya asa muncul pada diri Kevin Strootman, sempat bermain bagus bagi AS Roma, namun cedera panjang menghambat karirnya, lalu ada juga nama talenta muda Marco van Ginkel, ketika baru bergabung ke Chelsea dia sempat menunjukkan prospek cerah sebagai gelandang hebat di masa depan.

Namun sama dengan Strootman, cedera panjang membuat dia kesulitan kembali ke bentuk performa terbaiknya dan saat ini hanya bermain di Stoke City, selain itu ada nama Jonathan De Guzman dan Jordie Clasie, namun mereka berdua hanya pemain cadangan; yang satu Napoli dan satunya di Southampton.

Sektor gelandang serang atau playmaker masih ada gelandang kreatif berkualitas tinggi, Wesley Sneijder namun meski bermain baik bagi Galatasaray, usia yang menua tentu sedikit banyak mengurangi kualitas dan pengaruhnya bagi permainan tim nasional Belanda.

Pelapisnya ada kapten Ajax saat ini, Davy Klaassen akantetapi performanya di tim nasional belum mencapai performa terbaiknya seperti di Ajax. Sebenarnya sebelum kemunculan Klaassen, ada nama kapten Ajax sebelum Klaassen dan Niklas Moisander yang juga berposisi sebagai playmaker, yaitu Siem De Jong, namun pemain yang kini main di Newcastle United ini tenggelam karena cedera parah yang pernah dialaminya.

Untuk posisi lini depan, tenaga Arjen Robben masih “ada” namun sudah tidak maksimal mengingat di Bayern Munchen dia juga sudah tidak lagi menjadi prioritas sebagai winger utama.

Harapan publik Belanda ada pada pundak Memphis Depay, dengan bermain di Manchester United dan menjadi bintang disana tentu hal ini akan mengkikis secara perlahan dambaan mereka pada aksi Robben, namun performanya sampai saat ini masih jauh dari ekspektasi.

Nama-nama seperti Luciano Narsingh (PSV) atau Jeremain Lens dari Sunderland tidaklah cukup mumpuni, adapun Giorginio Wijnaldum di Newecastle yang alaminya sebagai pemain sayap malah dimainkan sebagai central midfielder.

Untuk posisi penyerang tengah keberadaan Robin van Persie sudah seharusnya digantikan, apalagi dia hanya pemain cadangan di Fenerbahce.

Nama lain adalah Klaas Jan Huntelaar yang sudah tak setajam dahulu lagi di Schalke, ataupun Bas Dost yang musim lalu rajin cetak gol bagi Wolfsburg namun kurang diberi kesempatan oleh Danny Blind.

Keberadaan striker lain seperti Eljero Elia (PSV) yang dulu sempat gagal total di Juventus ataupun youngster Ajax, Anwar el Ghazi juga sangatlah kurang bagi Belanda jika ingin berbicara banyak di level internasional seperti Euro.

Faktor mentalitas pemain begitu penting dan hal itulah yang harus dicontoh Belanda dari Spanyol. Spanyol saat ini seperti Belanda, melimpahnya stok pemain bagus membuat siapapun pelatih Spanyol girang namun disini ada faktor pembedanya.

Vicente Del Bosque tidak begitu sering mengutak-atik kompisisi tim nasional Spanyol dengan pemain yang sedang on form. Dia memang tetap memanggil pemain yang sedang dalam performa bagus, entah itu di tim besar ataupun di tim semenjana, namun siapa yang bermain di lapangan adalah mayoritas mereka yang sudah lama berada di timnas.

Del Bosque akan tetap memainkan Sergio Ramos, Cesc Fabregas, ataupun David Silva meski hanya menghadapi Finlandia. Spanyol baru memasukkan pemain “baru” seperti Paco Alcacer, Alvaro Morata, ataupun Mario Gaspar bila memang sudah “saatnya” dan itupun tidak merubah total komposisi pemain karena hanya sebagian kecil yang berubah.

     Mentalitas pemain yang baik membuat regenerasi dan performa timnas Spanyol berjalan dalam keseimbangan, sebagai contoh performa bagus Santi Cazorla selama membela Malaga pun tak serta merta membuatnya menjadi pemain inti di timnas, Del Bosque menilai Santi tidak hanya berdasarkan grafik permainan sesaat, barulah setelah menunjukkan kenaikkan dan konsistensi performa saat pindah ke Arsenal, dia mulai menjadi andalan di La Furia Roja.

Artinya kepantasan seorang pemain menjadi andalan di tim nasional tidak diukur dari performa saja, melainkan konsistensi seorang pemain menjaga performanya hingga akhirnya layak disebut sebagai pemain berkelas dan sudah pasti bermental juara.

Konsistensi menjaga performa turut berpengaruh pada mental para pemain tersebut, kepercayaan diri pemain akan terdongkrak, karena menjadi pemain penting di klub dan sering berlaga dalam game yang penuh tekanan, apalagi jika berada di tim besar mental pemain tersebut semakin kokoh dengan tekanan-tekanan yang ada andai tetap mampu menjaga konsistensi permainan.

Hal inilah yang tidak ada pada Belanda dan yang membedakan dengan Spanyol, masalah inkonsistensi performa pemain bintang di klub, pemain andalan tim nasional yang hanya berada di klub menengah, sampai kegemaran Danny Blind merubah-rubah susunan pemain dengan para “debutan” yang performa-nya terkadang masih angin-anginan membuat permainan mereka justru menurun menjelang akhir kualifikasi.

Pemain dengan performa bagus selalu dicoba oleh Blind, namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa pemain berkelas itu berbeda dengan pemain yang hanya “sedang”dalam performa bagus, rata-rata pemain yang dipakai Blind baru menjadi andalan di klub musim ini atau setahun dua tahun lalu, itu membuat mentalitas pemain kurang teruji dalam laga-laga besar dan krusial.

Padahal keteguhan dan kuatnya mental pemain dibutuhkan disaat-saat genting seperti akhir kualifikasi yang sangat menentukan nasib dan mental kuat inilah yang tidak ada pada pasukan Belanda. Hasilnya adalah pukulan telak bagi “The Flying Dutchman” yang harus menerima nasib menjadi “The Sinking (tenggelam) Dutchmen”.

Sungguh sebuah ironi, melihat tim yang kaya akan pemain bertalenta dan sejarah sepakbola-nya yang begitu mahsyur, dipecundangi oleh tim yang dikatakan kelas dua seperti Turki, Ceko maupun Islandia. Dan akhirnya kegagalan Belanda ini mengingatkan kita pada istilah populer dalam dunia sepakbola bahwa “form is temporary, but class is permanent”.

Foto dari mirror.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s