Jekyll dan Hyde seorang Allegri

Jekyll dan Hyde adalah dua nama tokoh dalam novel karya Robert Louis Stevenson dari Skotlandia, dengan judul Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang diterbitkan pada 1886.

Gambaran umum cerita novel ini adalah tentang kepribadian ganda seseorang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya. Dampak dari film tersebut sangatlah kuat hingga dalam bahasa psikologi frasa “Jekyll” dan “Hyde” menjadi penyebutan untuk karakter orang yang sangat berbeda karakter-nya dari satu situasi ke situasi lainnya.

Lalu apa kaitanya dengan Massimiliano Allegri, manajer Juventus saat ini? Disini Allegri bisa digambarkan karakternya seperti frasa “Jekyll” dan “Hyde” dalam karir kepelatihannya, terutama ketika berada di dua tim terakhir yang dia tangani, AC Milan dan Juventus.

Massimiliano Allegri, pria kelahiran Livorno 48 tahun silam adalah pelatih Italia yang berbakat, bagaimana tidak dia dianugrahi gelar Panchina d’Oro (Golden Bench) di musim 2008-2009 saat mengarsiteki Cagliari, klub yang terhitung medioker, pemain yang standar, minim bintang, dan dana transfer kecil.

Meski begitu dia mampu menyulap I Rossoblu berubah menjadi tim menyerang yang atraktif dan menjadi kerikil bagi tim-tim besar Serie-A.

Tak hanya itu, dibawah kendalinya Cagliari mampu menjadi produsen pemain berbakat bagi tim nasional Italia seperti kiper Federico Marchetti, bek muda Davide Astori, trequartista Andrea Cossu, dan striker Alessandro Matri dan karena itulah nama Cagliari dan Sardinia mulai akrab di telinga tifosi Serie A pada sekitar tahun 2008 hingga 2010.

Namun layaknya klub kecil yang sedang berkembang, pemain-pemain Cagliari pun mulai dilirik klub besar, ditambah ketidaksabaran manajemen terhadap tim yang tak kunjung lolos ke zona Eropa, Allegri justru berpisah dengan Cagliari di tahun 2010 meski mampu mempertahankan tim di Serie A.

Kepergiannya disusul dengan beberapa perpindahan bintang dari stadion Sant’Elia, Marchetti pindah ke Lazio dan disusul Matri yang hijrah ke Juventus pada 2011. Sekarang ini malang justru menimpa Cagliari yang bermain di Serie B karena terdegradasi dari Serie A musim lalu.

Karir Massimiliano Allegri semakin naik ketika dia ditunjuk menjadi pelatih AC Milan pada 2010 pasca dipecat oleh Cagliari. Dimusim pertamanya menangani I Rossoneri, dia langsung sukses tancap gas dengan memperoleh scudetto.

Allegri mulai dipandang sebagai pelatih hebat, karena mampu meramu komposisi tim dengan isi pemain-pemain macam; pemain atas yang terkadang mempunyai ego tersendiri seperti Zlatan Ibrahimovic dan Antonio Cassano, pemain senior yang menjadi legenda klub seperti Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Fillipo Inzaghi, Clarence Seedorf, dan Massimo Ambrosini.

Tak ketinggalan pemain bertalenta seperti bek tangguh Thiago Silva, wonderkid Alexandre Pato, striker lincah Robinho hingga gelandang energik seperti Kevin-Prince Boateng, mereka semua bermain padu dengan skema yang diterapkan Allegri yang berbuah gelar juara liga diakhir musim.

Namun selepas kehebatan di musim 2010-2011, dimusim selanjutnya AC Milan dibawah kendali Allegri seperti kapal yang terombang-ambing di lautan, performa Milan menurun di musim kedua dan gelar juara terpaksa direbut oleh Juventus, disamping karena kelalaian Allegri membiarkan Pirlo ke Juventus.

Di bursa transfer musim panas 2012-2013, kegagalan dia memaksa manajemen Milan agar tak menjual Ibrahimovic dan Thiago Silva menghasilkan petaka dan ditambah perginya sejumlah legenda klub seperti Nesta, Seedorf dan Gattuso membuat Milan dimusim tersebut hancur lebur. Allegri sebagai pelatih tidak mampu mengatur siasat transfer sesuai kehendak dia sendiri, dia tunduk pada manajemen Milan.

Dan hasilnya Allegri hanya terima nasib pemain sekaliber Thiago Silva digantikan bek raja blunder dari Villareal, Cristian Zapata yang jelas saja membuat pertahanan Milan amburadul, ditambah perginya Nesta, duet Zapata dan Phillipe Mexes (free transfer dari Roma sejak musim 2011-2012) dijantung pertahanan sangat rentan ditembus penyerang lawan.

Lini tengah juga kurang dari kualitas yang sepadan, kedatangan kapten Fiorentina, Riccardo Montolivo, Andrea Poli dari Sampdoria, Nigel De jong dari Manchester City, dan dua pemain medioker Bakaye Traore dari Nancy dan Kevin Constant dari Chievo untuk menggantikan pemain berkelas seperti Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf dan Mark van Bommel.

Jelas itu tidak cukup dari segi kualitas, apalagi mengingat lini tengah Milan hanya tinggal diisi oleh Sulley Muntari, Michael Essien, Massimo Ambrosini, dan Antonio Nocerino. Untuk pos striker, meski ada nama Giampaolo Pazzini, Alexandre Pato, Robinho, youngster Stephan El Shaarawy dan Mbaye Niang, dirasa kurang mengingat kepergian Ibrahimovic terasa berpengaruh bagi ketajaman lini depan Rossoneri, kedatangan Mario Balotelli di paruh kedua musim itu pun dirasa terlambat untuk menyelamatkan peluang AC Milan bersaing merebut scudetto.

Sebelum musim 2012-2013 berakhir, Allegri dipecat oleh manajemen AC Milan setelah kekalahan 4-3 di kandang Sassuolo dan serangkaian hasil buruk sebelum laga tersebut, Milan hancur dimusim itu.

Performa yang berbanding terbalik dari saat juara di musim debutnya lalu melempem di dua musim selanjutnya membuat reputasi Allegri sebagai pelatih hebat mulai dipertanyakan.

Performa Milan yang bagus dimusim pertama lalu jelek dimusim-musim selanjutnya memperlihatkan Allegri bukanlah pelatih yang mampu menjaga konsistensi tim-nya untuk bersaing dipapan atas, Allegri pun menganggur setelah dipecat Milan hingga peristiwa summer 2014-2015 pun terjadi.

Musim panas 2014, adalah Antonio Conte legenda dan mantan kapten Juventus yang melatih I Bianconeri sejak musim 2011-2012 hingga pertengahan tahun 2014 yang sukses menyuntikkan kembali aura Lo Spirito Juve kedalam setiap hati pemain dan membuat Juventus meraih hattrick scudetto dari 2011 hingga 2014.

Tiba-tiba Conte secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih Juventus yang kemudian menjadi pelatih tim nasional Italia menggantikan Cesare Prandelli.

Namun tidak hanya Conte saja yang membuat kejutan, manajemen Juventus pun tak kalah hebohnya dengan mendatangkan pelatih yang reputasinya tidak terlalu cemerlang dan terhitung gagal, Massimiliano Allegri.

Ya, Allegri pun datang melatih Juventus pada musim 2014-2015, dan inilah kejutan terbesar di sepakbola Italia setelah pengunduran diri Antonio Conte atau bahkan mungkin lebih heboh dari berita pengunduran diri Conte tersebut.

Sontak saja keberadaan Allegri sebagai pelatih membuat peluang Juventus mempertahankan gelar juara dipertanyakan, apalagi Juventus dikomandoi oleh Andrea Pirlo, yang dulu semasa di AC Milan Pirlo tidak terlalu diandalkan Allegri yang membuat dia dibuang ke Juventus musim 2011-2012.

Dengan segala hal itu membuat publik ragu Juventus dibawah kendali Allegri mampu berprestasi baik di Italia maupun Eropa. Namun Allegri seperti mengalami deja vu ketika menjadi pelatih tim besar, sama seperti ketika debutnya sebagai pelatih AC Milan, dia sukses bersama Juventus pada musim pertamanya.

Tidak tanggung-tanggung, Juventus dibawanya hampir meraih treble winners di musim pertamanya! Di Serie-A Juventus mantap meraih scudetto dengan unggul jauh dari AS Roma diposisi dua, lalu di Coppa Italia dengan mengalahkan Lazio 2-1 di partai final, dan di final Liga Champions mereka memang kurang beruntung karena dikalahkan Barcelona dengan skor 3-1.

Tentu saja segudang prestasi di musim pertama sebagai pelatih Juventus membuat dia dipuja-puji oleh publik Italia, reputasinya sebagai pelatih hebat kembali pulih dengan cepat.

Di musim tersebut Allegri memang sangat brilian, allenatore berani mencoba varian taktik baru dan tidak hanya mengandalkan formasi 3-5-2 ala Conte, dia bereksperimen dengan 4-3-1-2 yang terbukti jitu diterapkan bagi pemain Juventus.

Di lini belakang, kapten Gianluigi Buffon masihlah sebagai kiper andalan, Gigi yang merupakan pembelian termahal Juventus (52 juta euro), tidak tergantikan posisinya dan hal itu pun sama dengan apa yang terjadi di tim nasional Italia.

Posisi empat pemain belakang ditempati Stephan Lichtsteiner sebagai bek kanan, jantung pertahanan La Vecchia Signora dikawal oleh Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang memang menjadi bek terbaik di Italia, lalu ada Patrice Evra disebelah kiri, sebenarnya pembelian Evra diragukan, mengingat masih ada Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie.

Namun Juventus pintar membeli Evra, dilihat dari segi permainan, Evra sudah tua dan tidak terlalu cepat lagi sebagai bek sayap, namun dari sisi kepemimpinan dan pengalamannya di Liga Champions lah yang memang diincar Juventus pada diri Evra.

Apalagi dia bisa berbicara dengan semua bahasa Latin, sehingga transfer ilmu dan sharing pengalaman dari dirinya berjalan mulus terutama kepada pemain yang masih minim pengalaman di Liga Champions Eropa.

Untuk pelapis bek, diposisi kanan ada nama Romulo, pinjaman dari Hellas Verona yang bermain baik disana sebelumnya, lalu di posisi bek tengah ada bek senior Andrea Barzagli (sebagai pelapis utama Bonucci dan Chiellini), adapula bek keturunan Nigeria; Angelo Ogbonna serta bek serba bisa Martin Caceres, di pos bek kiri dilapisi oleh Kwadwo Asamoah dan Paolo De Ceglie, dan bahkan Simone Padoin pun bisa bermain di posisi ini.

Di lini tengah Andrea Pirlo masih sebagai regista atau deep-lying playmaker, umpan-umpan terukur dan visi bermainnya adalah yang terbaik di Italia dan bahkan dunia.

Dia sangat nyaman sekali bermain Juventus saat itu, tidak seperti saat di Milan ketika dia dipaksa bermain sebagai gelandang kiri, Claudio Marchisio dan Paul Pogba menjadi gelandang penyeimbang dimana mereka saling bergantian dalam menyerang dan membantu pertahanan.

Marchisio adalah gelandang yang seimbang dalam bertahan dan menyerang, teknik dan umpannya juga bagus, dia adalah jenderal kedua di lini tengah setelah Pirlo dan menjadi partner ideal bagi Pirlo sementara itu Pogba bermain dengan agresifitas, daya jelajah tinggi dan teknik-nya yang terasa dampaknya dengan sesekali membuat gol maupun assist yang penting bagi tim.

Selain itu dengan postur tubuh yang kokoh juga membuat Pogba mudah memenangi duel merebut bola dari lawan ketika membantu pertahanan dan menyerang.

Sementara itu posisi gelandang yang tepat berada di belakang penyerang diisi oleh Arturo Vidal, dia tidak berperan sebagai playmaker, akan tetapi dia adalah mediano (gelandang yang tugas utamanya merebut bola dari lawan) yang menyaring serangan lawan sejak di pertahanan lawan, mirip seperti peran Boateng di AC Milan saat Allegri disana.

Namun meski begitu Vidal juga dibekali dengan kemampuan melepas umpan yang baik, sehingga tak jarang dia membuat assist bagi pemain lainnya. Sementara untuk pelapis lini tengah juga tak bisa diremehkan, ada dua pemain dengan versatilitas tinggi Simone Padoin dan Roberto Pereyra yang berguna disaat gelandang inti cedera atau skorsing, pemain muda berprospek cerah seperti Stefano Sturaro, hingga pemain gaek Simone Pepe.

 Untuk penyerang ada empat pemain, yang pertama dan utama adalah Carlos Tevez. Dia adalah pemain inti entah bermain melawan klub mana pun, skill dan kengototan Tevez memang berguna bagi tim, dia sering menjadi pemecah kebuntuan dengan gol-golnya, dan dia cocok dipasangkan dengan siapapun di depan.

Setelah Tevez ada striker jangkung dari Spanyol, Fernando Llorente yang sangat unggul dalam duel bola udara, gol-gol dari sundulan pun sering hadir dari dia, namun penurunan konsistensinya dalam mencetak gol di paruh musim kedua membuatnya rela digusur sebagai pendamping utama Tevez.

Penggusur posisinya tidak lain adalah sesama pemain Spanyol, Alvaro Morata yang ditransfer dari Real Madrid dengan harga 20 juta euro, meski masih muda pengalamannya bermain di Madrid sangatlah berguna apalagi ketika berhadapan dengan El Real di semifinal Liga Champions, Morata dua kali membobol gawang mantan klubnya tersebut.

Morata adalah striker dengan kemampuan lengkap, selain tubuh tinggi yang membuatnya jago di udara dia juga dibekali positioning yang baik, dribel yang lumayan dan mampu menahan bola dengan lama, mirip seperti permainan mantan striker Spanyol, Fernando Morientes.

Striker cadangan lain adalah Alessandro Matri, andalan Allegri saat masih melatih Cagliari dulu, meski jarang diturunkan namun golnya di final Coppa Italia adalah penentu kemenangan di laga tersebut yang mungkin masih banyak diingat oleh Juventini hingga saat ini. Dan diakhir musim tersebut Juventus meraih gelar juara di Serie A dan Piala Italia plus mampu lolos ke final Liga Champions, nama Allegri pun kembali populer di Italia, prestasi Allegri segera dengan cepat menghapus tangis dan kekecewaan Juventini akan kepergian Antonio Conte, namun musim selanjutnya nuansa akan déjà vu Allegri seperti ketika menangani Milan, kembali muncul.

             Sama seperti saat di Milan, di Juventus dia mampu berprestasi dimusim pertama, dimusim kedua ini (2015-2016) Juventus dibawah Allegri mengalami penurunan, tidak perkasa seperti Juventus musim-musim sebelumnya, saat ini hingga Giornata ke 9 mereka berada di papan tengah klasemen Serie-A.

Walau di Liga Chammpions mereka meraih hasil baik, penampilan mereka tak begitu meyakinkan, penyebab penurunan performa sama seperti AC Milan-nya Allegri dulu kehilangan pemain kunci dalam tim. Lagi-lagi Allegri tunduk dan patuh pada manajemen klub terkait kebijakan transfer pemain.

Dia tak mampu membuat manajemen Juventus menahan pemain penting seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal hingga Carlos Tevez, padahal mereka adalah pemain yang begitu berpengaruh bagi permainan Juventus dimusim 2014-2015.

Sama seperti di AC Milan, di Juventus pun Allegri seperti hanya terima nasib begitu saja ketika pemain-pemain kunci-nya diganti dengan pemain yang kelasnya berada dibawah mereka. 

Pengganti Andrea Pirlo (yang pindah ke New York City) adalah Hernanes yang terhitung sebagai panic buying karena dibeli dipenghujung bursa transfer setelah manajemen mengetahui tim Allegri minim kreatifitas permainan. Mungkin 2-3 tahun lalu dia adalah playmaker bagus di Serie-A namun performa dia selama di Inter tidak lah begitu menonjol, dan kalah bersaing dengan pemain muda, Mateo Kovacic.

Tentu sangat riskan jika peran sentral Pirlo yang begitu penting dalam permainan digantikan oleh Hernanes, dan itupun terlihat musim ini pada permainan Juventus yang tetap saja kurang kreatifitas dan lebih banyak permainan direct meski sudah ada Hernanes di Juventus, dan sekarang peran Pirlo akhirnya digantikan Claudio Marchisio yang bermain sebagai regista utama bagi Juventus.

Pengganti Arturo Vidal adalah pemain gratisan dari Real Madrid, Sami Khedira yang oleh banyak media dianggap transfer sia-sia karena dia adalah pemain kaki kaca yang sangat rentan cedera, dan itupun terbukti diawal kiprahnya bersama Juventus yang langsung cedera selama satu bulan.

Tentu berbeda jauh dengan Vidal yang kuat secara fisik dan lebih unggul teknik dibanding Khedira, dan transfer lainnya untuk menambal kepergian Vidal adalah pemain pinjaman asal Gabon dari Marseille, Mario Lemina yang mungkin manajemen Juventus berharap Lemina akan bersinar layaknya Paul Pogba, namun permainan Lemina sendiri tak terlalu bagus dan hanya menjadi pelapis gelandang lainnya.

Untuk posisi pengganti Tevez, Allegri lebih beruntung. Tevez digantikan empat pemain sekaligus, Paulo Dybala yang dibeli dari Palermo seharga 32 juta euro, Mario Mandzukic yang diangkut dari Atletico Madrid dengan mahar sebesar 19 juta euro dan Simone Zaza dari Sassuolo dengan biaya 18 juta euro dan pemain pinjaman dari Chelsea, Juan Guillermo Cuadrado. 

Ini adalah bentuk keseriusan manajemen untuk menambal dan memperkuat lini depan pasca kepergian Tevez. Akan tetapi kedatangan Mandzukic lebih tepat sebagai pengganti Fernando Llorente yang pindah ke Sevilla dan dia didatangkan untuk menjadi pesaing yang sepadan bagi Alvaro Morata.

Sementara itu pemain dengan gaya permaiman yang bisa menggantikan peran Tevez adalah Dybala, Zaza dan Cuadrado. Paulo Dybala adalah permata baru Argentina, musim lalu dia bermain sangat baik bagi Palermo dan kombinasinya di depan bersama Franco Vazquez begitu elegan dan mampu membuat Palermo bertahan di Serie-A.

Sedangkan aksi-aksi brilian Zaza membuat Sassuolo menjadi tim yang atraktif untuk ditonton meski Sassuolo bukanlah tim besar, dan berkat performa-nya yang bagus itulah dia dipanggil ke untuk memperkuat Gli Azzurri.

Akan tetapi mereka adalah pemain “baru” dalam tataran sepakbola Eropa, bila dibandingkan dengan Tevez, konsistensi performa dan catatan gol mereka berdua belum teruji, apalagi mereka baru beberapa tahun berkiprah di Serie-A dan bahkan belum pernah sama sekali merasakan atmosfer Liga Champions.

Tentu mereka berdua dan terlebih lagi untuk Paulo Dybala, masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola permainan Juventus, tentu beban yang ditumpukan kepada mereka untuk menggantikan peran Tevez harus dicermati dengan baik oleh Allegri, mengingat usia mereka berdua yang masih muda dan minim pengalaman Eropa, jangan sampai berpengaruh negatif bagi penampilan mereka karena mereka merupakan aset masa depan Juventus.

Sedangkan Juan Cuadrado lebih alami bermain sebagai winger, dan kedatangannya juga diragukan akan berdampak besar bagi daya serang tim karena performanya yang menurun sejak dibeli Chelsea dari Fiorentina musim lalu.

Momen keterpurukan Allegri pasca bersinar di musim pertamanya bahkan memunculkan kredo baru “Allegri’s Syndrom”, dimana tim yang ditanganinya hebat dimusim pertama dan melempem dimusim selanjutnya.

Namun kali ini Allegri mendapat sedikit keberuntungan, ketika di Milan dia tidak terlalu didukung dana klub yang memadai, sementara Juventus saat ini adalah klub yang sehat secara finansial.

Sehingga keterpurukan karena perbedaan kualitas yang diakibatkan perginya pemain kunci tidak terlalu berdampak karena pengganti yang disediakan oleh manajemen Juventus untuk menggantikan Pirlo, Tevez dan Vidal lebih baik dengan apa yang dulu diberikan manajemen AC Milan untuk menggantikan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alessandro Nesta, Clarence Seedorf yang pergi ketika Allegri menjadi allenatore di San Siro saat itu.

Meski begitu Allegri juga selalu mempunyai “landmark” bagi tim yang ditanganinya yaitu kemampuannya memaksimalkan pemain muda. Saat melatih Cagliari dia mampu memunculkan nama-nama seperti Alessandro Matri, Andrea Cossu, Federico Marchetti, dan Davide Astori kepermukaan.

Saat di AC Milan pun dia sukses membuat youngster Italia seperti Stephan El Sharaawy, dan bahkan pemain Milan primavera seperti Bryan Cristante dan Mattia De Sciglio tampil memikat di tim utama AC Milan.

Begitu juga saat melatih La Fidanza d’Italia, dia mampu memanfaatkan potensi pemain muda yang terbukti mampu memberi pengaruh bagi Juventus, contohnya adalah keberanian Allegri memainkan Stefano Sturaro di semifinal pertama Liga Champions Eropa untuk menggantikan Pogba yang absen dan terbukti Sturaro bermain impresif dilaga tersebut.

Lalu dia juga memberi Roberto Pereyra dan Kingsley Coman menit bermain yang cukup dan dibalas dengan permainan bagus mereka dilapangan ketika diberi kesempatan bermain.

Peristiwa yang dialami oleh Allegri mengingatkan kita pada cerita novel Case Strange of DR. Jekyll and Mr. Hyde.

Komparasi-nya adalah jika dalam novel tersebut “kepribadian” seseorang yang berubah dengan cepat dalam satu situasi ke situasi lainnya, maka apa yang terjadi pada Massimiliano Allegri adalah perubahan yang cepat terkait dengan konsistensi raihan prestasi klub yang dilatihnya (khususnya AC Milan dan Juventus).

Ketika mampu membawa AC Milan scudetti dimusim 2010-2011, dia begitu dipuji kemampuannya namun dua musim selanjutnya dia membawa Milan kedalam masa yang buruk, begitu pula saat menangani Juventus dia begitu hebat dimusim pertamanya ketika nyaris meraih treble winners, namun tanda –tanda kehancuran Juventus terlihat ketika mereka justru terseok-seok diawal Serie-A bergulir musim ini.

Musim 2015-2016 masih panjang dan belumlah berakhir, lalu apakah Allegri mampu melepaskan diri dari cerminan “Jekyll and Hyde” dan kredo “Allegri’s Syndrom” yang melekat pada dirinya dan mampu meraih prestasi secara konsisten? Atau justru déjà vu seperti saat di AC Milan akan kembali terjadi padanya?

Kita tidak tahu akan hal itu, karena sepakbola itu bukan matematika, lagipula “bola itu bundar” sehingga kemungkinan apapun selalu bisa terjadi dalam  dunia sepakbola.

Ya, akan tetapi mungkin hanya waktulah yang akan menjawab pertanyaan itu dan justru ”dinamika sepakbola” tersebut lah membuat publik negeri Spaghetti tertarik dan akan selalu menanti kiprah allenatore Massimiliano Allegri bersama Si Nyonya Tua musim ini.

Foto: skysports.com

 

Dutchman yang “Tenggelam” Menuju Prancis

Siapa yang tidak tahu akan kehebatan “The Flying Dutchman”?, cerita legendaris tentang kapal laut yang melegenda di seantero benua Eropa sebagai kapal penguasa lautan, dan julukan inilah yang disematkan kepada tim nasional sepakbola Belanda, disamping julukan De Oranje.

Julukan The Flying Dutchmen pantas diberikan kepada Belanda, selain karena kehebatan orang-orangnya dalam mengarungi lautan, dalam hal sepakbola kehebatan Belanda juga sudah menjadi rahasia umum, apalagi jika melihat rekam jejak tim nasional-nya.

Dahulu kala tim nasional Belanda begitu disegani di level dunia, kemunculan gaya permainan Totaal Voetbal karya pelatih legendaris, Rinus Michels dan Johan Cruyff sebagai playmaker-nya di era 70’an sukses dengan menjadi finalis Piala Dunia 1974. Lalu di era 80’an ada trio pemain AC Milan (yang juga berjaya dilevel klub); Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang sukses memberikan gelar juara Piala Eropa 1988 kepada Belanda.

Pada masa 90’an berlanjut dengan kemunculan “generasi” Ajax Amsterdam seperti Edwin Van Der Sar, Clarence Seedorf, Marc Overmars, Phillip Cocu, Frank dan Ronald De Boer, Patrick Kluivert, dan Edgar Davids, lalu berlanjut di era dekade 2000’an dengan pemain-pemain tenar seperti Givanni Van Bronckhorst, Arjen Robben, Mark Van Bommel, Wesley Sneijder, dan Robin Van Persie yang sukses dengan gelar runner-up di Piala Dunia 2010.

Belanda juga terkenal sebagai negeri sepakbola bagi para pemain muda meski liga tertinggi di negara tersebut yaitu Eredevisie, bukan termasuk liga terbaik di Eropa.

Meski begitu talenta muda tiada hentinya lahir di negeri kincir angin tersebut, mulai dari kiper handal seperti Edwin Van Der Sar, bek tangguh Jaap Stam, gelandang yang kokoh seperti Nigel De Jong, gelandang kreatif Rafael Van Der Vaart, bahkan striker tajam seperti Ruud Van Nistelrooy.

Belanda seperti tidak pernah kehabisan stok pemain bagi tim nasional-nya, apalagi pemain Belanda terkenal adaptif dengan berbagai macam bentuk permainan sehingga kran transfer pemain dari Belanda ke klub-klub diluar Belanda pun terus saja terjadi disetiap jendela bursa transfer dibuka.

Disetiap ajang turnamen internasional, baik di level benua maupun dunia, Belanda selalu masuk dalam kontender calon kuat juara, tak terkecuali di Euro 2016 Perancis yang akan datang.

Dengan modal sebagai peringkat ketiga di World Cup 2014 dan berada di Grup A dengan “hanya” menghadapi tantangan paling berat dari Turki dan Republik Ceko, banyak kalangan menganggap Belanda akan melaju mulus di kualifikasi dan juga menjagokan Belanda akan berbuat banyak di Euro 2016 nanti.

Namun jauh panggang dari api, yang terjadi justru sebaliknya, Belanda gagal lolos dari grup dengan hanya mampu finis di posisi 4 dan tidak akan ikut serta dalam Euro 2016!!!.

Sungguh ibarat sebuah “obituari” bagi penggemar De Oranje maupun orang yang mendambakan persaingan ketat di Euro 2016 Perancis nanti.

Akan tetapi sebenarnya tanda-tanda kerapuhan Belanda sudah terlihat sejak dikalahkan Islandia 0-1 di kandang sendiri, lalu ditambah dengan hasil buruk kalah 3-0 dari Turki dan 2-3 dari Republik Ceko di akhir-akhir jadwal kalifikasi membuat mimpi pasukan pelatih Danny Blind harus dikubur total.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Belanda? Apakah permainan mereka itu buruk? Atau regenerasi yang tak berjalan dengan baik? Tentu ini terasa aneh, Belanda adalah pemilik gaya permainan totaal voetbal, lalu mereka juga terkenal dengan bakat-bakat pemain mudanya yang tak pernah habis.

Anomali terjadi jelang akhir kualifikasi mereka seperti kehabisan nafas, disamping peningkatan kualitas tim para pesaing di grup, sebenarnya mereka tak bergitu buruk selama kualifikasi, hanya saja ada satu hal yang kurang dalam skuad arahan Danny Blind yang mungkin ini faktor penting berpengaruh menjelang akhir sebuah kompetisi seperti kualifikasi Euro 2016 yang tentunya banyak tekanan.

Faktor itu adalah mentalitas pemain dalam skuad tim nasional Belanda. Memang soal regenerasi tak perlu disangkal, melimpahnya stok pemain bertalenta membuat siapapun pelatih Belanda tidak akan bingung dalam membentuk skuad yang bagus, akan tetapi mental pemain adalah faktor yang “tak kalah” penting disamping faktor teknik dan bakat pemain.

Mentalitas pemain akan teruji apabila para pemain tersebut sering bermain dalam pertandingan penting dan bertensi tinggi ataupun bermain untuk tim besar yang penuh tekanan.

Apabila para pemain terbiasa menghadapi pertandingan penting bertensi tinggi atau berada di klub besar dan mereka mampu bermain baik, tentu hal itu akan berdampak baik di waktu yang akan datang, mental mereka akan terbiasa ketika menghadapi tekanan besar di pertandingan-pertandingan selanjutnya dan bermain dengan baik.

Faktor mentalitas inilah yang kurang dalam timnas Belanda, mulai dari sektor penjaga gawang. Kiper utama saat ini Jasper Cillessen tidaklah bermain di tim besar Eropa karena hanya bermain bagi Ajax Amsterdam, meski Ajax pernah juara Liga Champions, namun saat ini Ajax hanyalah sebuah tim yang jago di kancah lokal Belanda, begitu juga dengan kiper kedua, Tim Krul yang hanya bermain bagi tim papan tengah Liga Inggris, Newcastle.

Lanjut ke lini belakang, diposisi bek kanan ada Gregory van der Wiel yang bermain baik di World Cup 2010 dan kemudian dibeli Paris Saint-Germain dari Ajax, namun sekarang dia hanya menjadi penghangat bangku cadangan karena kalah bersaing dengan Serge Aurier. Bek kanan lain, Daryl Janmaat hanya bermain untuk Newcastle.

Lalu untuk posisi bek sentral ada nama Bruno Martins Indi yang sangat menjanjikan di FC Porto, namun Porto bukanlah tim jagoan di benua biru meski dulu pernah menjuarai Liga Champions.

Ada juga nama Stefan De Vrij, bek tengah Lazio tetapi jangankan bersinar di kancah Eropa, di Italia saja Lazio bukan unggulan juara Serie-A. Ada juga nama bek Southampton, Virgil van Dijk namun Southampton pun hanya klub menengah di arena Premier League.

Mungkin sektor bek kiri lah yang dapat dikatakan mumpuni untuk lini belakang, ada Daley Blind anak dari Danny Blind, yang bermain bagus di Manchester United.

Ditambah keberadaan Louis van Gaal, sepertinya posisi dia di Manchester United aman untuk beberapa tahun kedepan, namun di tim nasional Belanda, sektor bek kiri hanya dilapisi oleh Jetro Willems dari PSV Eindhoven ataupun bek kiri Ajax, Jairo Riedewald. Tentu sangat riskan apabila Blind cedera atau terkena skorsing, lubang yang ditinggalkan akan sangat terbuka.

Blind Euro mirror
Blind, seperti arti namanya dalam bahasa Inggris. Dia tidak dapat melihat kemana kapal Flying Dutchman harus disandarkan.

Lini tengah Belanda mempunyai segudang pemain bagus namun mereka sedang tidak dalam performa terbaik, entah faktor cedera, permainan klubnya yang buruk ataupun kualitas tim yang tidak terlalu baik.

Posisi gelandang bertahan ada nama Nigel de Jong, jangkar pekerja keras ini adalah karang bagi pemain lawan, namun flop-nya performa AC Milan juga berpengaruh bagi kualitas De Jong tak sebagus dulu, cadangannya Vurnon Anita dari Newcastle dan dan Leroy Fer dari Queens Park Rangers tak sepadan dengan kemampuan De Jong.

Untuk posisi central midfielder, sebenarnya asa muncul pada diri Kevin Strootman, sempat bermain bagus bagi AS Roma, namun cedera panjang menghambat karirnya, lalu ada juga nama talenta muda Marco van Ginkel, ketika baru bergabung ke Chelsea dia sempat menunjukkan prospek cerah sebagai gelandang hebat di masa depan.

Namun sama dengan Strootman, cedera panjang membuat dia kesulitan kembali ke bentuk performa terbaiknya dan saat ini hanya bermain di Stoke City, selain itu ada nama Jonathan De Guzman dan Jordie Clasie, namun mereka berdua hanya pemain cadangan; yang satu Napoli dan satunya di Southampton.

Sektor gelandang serang atau playmaker masih ada gelandang kreatif berkualitas tinggi, Wesley Sneijder namun meski bermain baik bagi Galatasaray, usia yang menua tentu sedikit banyak mengurangi kualitas dan pengaruhnya bagi permainan tim nasional Belanda.

Pelapisnya ada kapten Ajax saat ini, Davy Klaassen akantetapi performanya di tim nasional belum mencapai performa terbaiknya seperti di Ajax. Sebenarnya sebelum kemunculan Klaassen, ada nama kapten Ajax sebelum Klaassen dan Niklas Moisander yang juga berposisi sebagai playmaker, yaitu Siem De Jong, namun pemain yang kini main di Newcastle United ini tenggelam karena cedera parah yang pernah dialaminya.

Untuk posisi lini depan, tenaga Arjen Robben masih “ada” namun sudah tidak maksimal mengingat di Bayern Munchen dia juga sudah tidak lagi menjadi prioritas sebagai winger utama.

Harapan publik Belanda ada pada pundak Memphis Depay, dengan bermain di Manchester United dan menjadi bintang disana tentu hal ini akan mengkikis secara perlahan dambaan mereka pada aksi Robben, namun performanya sampai saat ini masih jauh dari ekspektasi.

Nama-nama seperti Luciano Narsingh (PSV) atau Jeremain Lens dari Sunderland tidaklah cukup mumpuni, adapun Giorginio Wijnaldum di Newecastle yang alaminya sebagai pemain sayap malah dimainkan sebagai central midfielder.

Untuk posisi penyerang tengah keberadaan Robin van Persie sudah seharusnya digantikan, apalagi dia hanya pemain cadangan di Fenerbahce.

Nama lain adalah Klaas Jan Huntelaar yang sudah tak setajam dahulu lagi di Schalke, ataupun Bas Dost yang musim lalu rajin cetak gol bagi Wolfsburg namun kurang diberi kesempatan oleh Danny Blind.

Keberadaan striker lain seperti Eljero Elia (PSV) yang dulu sempat gagal total di Juventus ataupun youngster Ajax, Anwar el Ghazi juga sangatlah kurang bagi Belanda jika ingin berbicara banyak di level internasional seperti Euro.

Faktor mentalitas pemain begitu penting dan hal itulah yang harus dicontoh Belanda dari Spanyol. Spanyol saat ini seperti Belanda, melimpahnya stok pemain bagus membuat siapapun pelatih Spanyol girang namun disini ada faktor pembedanya.

Vicente Del Bosque tidak begitu sering mengutak-atik kompisisi tim nasional Spanyol dengan pemain yang sedang on form. Dia memang tetap memanggil pemain yang sedang dalam performa bagus, entah itu di tim besar ataupun di tim semenjana, namun siapa yang bermain di lapangan adalah mayoritas mereka yang sudah lama berada di timnas.

Del Bosque akan tetap memainkan Sergio Ramos, Cesc Fabregas, ataupun David Silva meski hanya menghadapi Finlandia. Spanyol baru memasukkan pemain “baru” seperti Paco Alcacer, Alvaro Morata, ataupun Mario Gaspar bila memang sudah “saatnya” dan itupun tidak merubah total komposisi pemain karena hanya sebagian kecil yang berubah.

     Mentalitas pemain yang baik membuat regenerasi dan performa timnas Spanyol berjalan dalam keseimbangan, sebagai contoh performa bagus Santi Cazorla selama membela Malaga pun tak serta merta membuatnya menjadi pemain inti di timnas, Del Bosque menilai Santi tidak hanya berdasarkan grafik permainan sesaat, barulah setelah menunjukkan kenaikkan dan konsistensi performa saat pindah ke Arsenal, dia mulai menjadi andalan di La Furia Roja.

Artinya kepantasan seorang pemain menjadi andalan di tim nasional tidak diukur dari performa saja, melainkan konsistensi seorang pemain menjaga performanya hingga akhirnya layak disebut sebagai pemain berkelas dan sudah pasti bermental juara.

Konsistensi menjaga performa turut berpengaruh pada mental para pemain tersebut, kepercayaan diri pemain akan terdongkrak, karena menjadi pemain penting di klub dan sering berlaga dalam game yang penuh tekanan, apalagi jika berada di tim besar mental pemain tersebut semakin kokoh dengan tekanan-tekanan yang ada andai tetap mampu menjaga konsistensi permainan.

Hal inilah yang tidak ada pada Belanda dan yang membedakan dengan Spanyol, masalah inkonsistensi performa pemain bintang di klub, pemain andalan tim nasional yang hanya berada di klub menengah, sampai kegemaran Danny Blind merubah-rubah susunan pemain dengan para “debutan” yang performa-nya terkadang masih angin-anginan membuat permainan mereka justru menurun menjelang akhir kualifikasi.

Pemain dengan performa bagus selalu dicoba oleh Blind, namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa pemain berkelas itu berbeda dengan pemain yang hanya “sedang”dalam performa bagus, rata-rata pemain yang dipakai Blind baru menjadi andalan di klub musim ini atau setahun dua tahun lalu, itu membuat mentalitas pemain kurang teruji dalam laga-laga besar dan krusial.

Padahal keteguhan dan kuatnya mental pemain dibutuhkan disaat-saat genting seperti akhir kualifikasi yang sangat menentukan nasib dan mental kuat inilah yang tidak ada pada pasukan Belanda. Hasilnya adalah pukulan telak bagi “The Flying Dutchman” yang harus menerima nasib menjadi “The Sinking (tenggelam) Dutchmen”.

Sungguh sebuah ironi, melihat tim yang kaya akan pemain bertalenta dan sejarah sepakbola-nya yang begitu mahsyur, dipecundangi oleh tim yang dikatakan kelas dua seperti Turki, Ceko maupun Islandia. Dan akhirnya kegagalan Belanda ini mengingatkan kita pada istilah populer dalam dunia sepakbola bahwa “form is temporary, but class is permanent”.

Foto dari mirror.co.uk